Wednesday, August 4, 2010

Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama

Pendahuluan
Pdt. Denis Green LL.B, B.D. adalah mantan dosen di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara) di kota Malang. Beliau mengajar mata kuliah Pengantar Perjanjian Lama. Buku ini dahulunya disiapkan sebagai buku ajar di SAAT sebelumnya akhirnya diterbitkan oleh Gandum Mas. Buku ini dibagi menjadi menjadi tujuh bab yang memberikan pengantar akan Perjanjian Lama.

Bab I : Latar Belakang
Ada beberapa pendapat mengenai penentuan zaman Adam, yaitu antara tahun 4.000 SM sampai 5.000 SM, sekitar 150.000 tahun SM, sampai 500.000 tahun SM, dan setelah tahun 5.000 SM. Sampai sekarang para sarjana belum mencapai konsensus tentang teori-teori di atas. Demikian juga belum ada kesepakatan bersama mengenai waktu air bah dan menara Babel. Sebuah prinsip yang penting adalah Alkitab bukanlah kitab yang dimaksudkan menjadi kitab sejarah manusia melainkan mencatat kejadian-kejadian penting tindakan Allah terhadap manusia.
Perkiraan waktu zaman para Patriarkh adalah tahun 2000-1400 SM. Sedangkan peristiwa Keluaran terjadi kira-kira tahun 1450 SM, zaman Hakim-Hakim 1400-1050 SM, zaman kerajaan bersatu 1050--931 SM, zaman kerajaan terpisah 930-586 SM, zaman pembuangan di Babel (sesudah tahun 587 SM) dan kembali ke Israel kira-kira tahun 538 SM.
Penulisan Perjanjian Lama mempunyai berbagai jenis sastra, bahasa, dan gaya penulisan yaitu Prosa biasa, termasuk juga silsilah-silsilah, Prosa gaya cerita, kebanyakan catatan/riwayat historis, Puisi, Catatan-catatan hukum, Nasihat, Syair dan Amsal, dan Nubuat.
Perkembangan agama bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama menunjukkan bahwa pada zaman Patriarkh, agama orang Ibrani sudah bercorak monolatri (penyembahan kepada satu Allah). Pada zaman Musa monoteisme ditegakkan (kepercayaan kepada satu Allah). Pada perkembangan berikutnya bangsa Israel mulai dipengaruhi politeisme yang mencapai puncaknya pada zaman kerajaan. Baru setelah masa pembuangan ke Babel, monoteisme menjadi corak agama Yudaisme sampai sekarang. Pada zaman Patriarkh upaca sunat merupakan tanda masuknya manusia dalam hubungan perjanjian dengan Tuhan. Sedangkan pada zaman Musa-lah Tuhan menyatakan nama-Nya (YHWH) kepada bangsa Israel yang dilanjutkan dengan perjanjian di Gunung Sinai.
Hari-hari besar bagi bangsa Israel adalah Hari Raya Paskah dan Roti Tidak Beragi (hari ke-14 bulan pertama selama satu minggu), Hari Raya Menuai (50 hari setelah Paskah), Hari Raya Pondok Daun (September/Oktober), Hari Sabat, Bulan Baru, Tahun Sabat, Hari Raya Pendamaian (hari ke-10 dalam bulan ketujuh), dan Hasil Pertama pada bulan April.

Bab II: Pentateuch
Kitab Pentateukh adalah kitab yang banyak dipermasalahkan penulisannya. Pendapat tradisional bahwa Musa adalah penulisnya mulai diragukan beberapa sarjana. Mereka adalah Spinoza (1650), Asturk (1735), Eichorn (1780-an), Graf (1853, dengan teori JEDP-nya), Wellhausen (1876), dsb. Semua keberatan di atas dapat diselesaikan dengan penafsiran Alkitab secara benar.
Isi Pentateukh secara ringkas adalah sbb:
• Kejadian: Penciptaan dan kejatuhan manusia dan sejarah manusia dari Adam sampai Yusuf.
• Keluaran: Pelepasan dari Mesir.
• Imamat: Penjelasan-penjelasan tentang tata cara ibadah.
• Bilangan: Sejarah perjalanan dari Sinai ke dataran Moab.
• Ulangan: ikhtisar hukum Taurat.

Empat Tema Pokok Pentateukh adalah hal Pemilihan, Perjanjian, Hukum, dan Keluaran.

Kejadian
Nama Kejadian artinya adalah “pada mulanya”. Kitab ini dibagi menjadi dua bagian besar yaitu bagian pendahuluan (pasal 1-11) mengisahkan sejarah manusia secara umum selama beberapa ribu tahun dan bagian biografis (pasal 12--50) yang menyoroti Abraham dan keturunannya.
Ajaran kitab Kejadian adalah Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas alam semesta, penciptaan dunia adalah karya Allah, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dosa membuat hubungan manusia dengan Allah terputus, janji keselamatan diberikan Allah pada pasal 3:15, dan tema pemilihan dan perjanjian.

Keluaran
Kitab Keluaran adalah sambungan kitab kejadian yang menerangkan hal hukum. Keluaran mencatat sejarah perbudakan bangsa Israel di Mesir (pasal 1--12), pelepasan mereka dari Mesir (pasal 13-18), dan orang Israel di gunung Sinai (pasal 19--40).
Peristiwa-peristiwa penting kitab Keluaran adalah penyataan Allah YHWH yang mengikatkan Diri pada manusia, Paskah pertama, pemberian hukum di gunung Sinai, dan pendirian Kemah Suci.

Imamat
Kitab Imamat artinya “Kitab untuk orang Lewi”. Tetapi sebenarnya dimaksudkan bagi mereka yang mengambil bagian aktif dalam pelayanan sebagai imam. Tujuan langsung kitab ini untuk menjelaskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang diwajibkan sebagai pedoman hidup bangsa Israel.
Susunan kitab Imamat adalah sebagai berikut: Peraturan-peraturan tentang persembahan korban (pasal 1—7), Pelantikan Imamat (pasal 8—10), Undang-undang (pasal 11--22), Hari-hari Raya (pasal 23), dan Peraturan lain-lain (pasal 24—27). Sedangkan ajaran kitab ini adalah tentang Allah sebagai Tuhan yang Mahakuasa, hadir di tengah umat-Nya, dan Mahakudus, menekankan sekali upacara-upacara ibadah, mengajarkan persembahan korban sebagai pendamaian dosa, dan undang-undang umum yang menunjukkan segala aspek hidup Israel ada di bawah pengamatan Tuhan.

Bilangan
Kitab Bilangan menggabungkan hal-hal sejarah dengan peraturan-peraturan hukum. Kitab ini mengisahkan persiapan untuk berangkat dari Sinai (pasal 1—10:10), perjalanan bangsa Israel dari Sinai ke perbatasan tanah Kanaan di Kadesy-Barnea (pasal 10:10—14:45). Kemudian kembali mengembara selama kira-kira 40 tahun di padang gurun sampai tiba di dataran Moab (pasal 15—27), dan kejadian-kejadian di dataran Moab di mana sekali lagi mereka bersiap untuk masuk ke Kanaan (pasal 22—36).
Ajaran kitab Bilangan adalah Allah yang mengatur kehidupan umat-Nya, Dia suci ada-Nya, memimpin umat-Nya dengan cara yang jelas, adil, Mahasetia, dosa digambarkan melalui mencobai Tuhan dan tidak percaya kepada-Nya, Tuhan menguji umat-Nya agar bersandar pada-Nya, menunjuk pada Mesias yang akan datang, dan memberikan gambaran kehidupan sebagian orang kristen.

Ulangan
Tujuan kitab Ulangan adalah mempersiapkan bangsa Israel untuk masuk ke Kanaan bersama pemimpin baru, Yosua. Musa mengumpulkan mereka dan menyampaikan beberapa khotbah. Khotbah pertama (pasal 1:1—4:43) mengingatkan apa yang telah diperbuat Allah, khotbah kedua (pasal 4:44—26:19) tentang hukum Allah, khotbah ketiga (pasal 27—30) berupa pembaharuan perjanjian dengan Allah, dan pasal 31—34 menyampaikan kejadian-kejadian akhir sampai meninggalnya Musa.
Ajaran kitab Ulangan adalah tentang Allah, Umat Allah, dan Penyembahan. Allah adalah Yahweh yang membuat perjanjian dengan umat-Nya dan Dia bertindak dalam sejarah bangsa Israel. Umat Allah dipilih karena kasih Allah dan janji-Nya kepada nenek moyang mereka dan dikuduskan (dikhususkan). Walupun demikian, ketaatan pada hukum adalh cara umat membalas kasih Tuhan. penyembahan yang dimaksud di kitab ini adalah berupa penyembahan yang bersifat rohani dan pribadi.

Bab III: Kitab-Kitab Sejarah
Periode sejarah yang dikisahkan dalam kitab-kitab sejarah dimulai pada saat bangsa israel masuk ke Kanaan dan berakhir pada pertengahan masa pembuangan di Babel (kira-kira tahun 1400 s/d 550 SM). Dalam riwayat sejarah dapat dibedakan empat pokok besar yaitu hal kerajaan, Firman yang disampaikan oleh para nabi, Bait Suci di Yerusalem, dan hal ibadah.

Yosua
Menurut tradisi Yahudi, penulis sebagian besar kitab ini adalah Yosua sendiri. kitab ini mengkisahkan sejarah Israel mulai dari kematian Musa, penaklukan Kanaan, sampai kematian Yosua. Perintah Tuhan untuk menaklukan dan melenyapkan bangsa Kanaan merupakan tugas bagi bangsa Israel untuk menghukum bangsa itu (Ul. 9:4) dan untuk menjaga kemurnian iman bangsa Israel.
Susunan kitab Yosua adalah sebagai berikut: Masuk ke Kanaan (pasal 1--5), Penaklukan Kanaan (pasal 6—12), Kanaan di bagi-bagi (pasal 13—22), dan perpisahan dengan Yosua (pasal 23—24). Sedangkan ajaran dalam kitab Yosua adalah tentang kesetiaan Tuhan akan janji-Nya kepada bangsa Israel, kekudusan Tuhan yang ditunjukkan melalui penghukuman-Nya atas penduduk Kanaan, dan keselamatan yang dari Tuhan.

Hakim-Hakim
Hakim adalah seorang yang diangkat oleh Tuhan untuk memimpin umat-Nya agar hidup berpadanan dengan perintah-Nya dan mnelepaskan mereka dari penindasan musuh. Riwayat hakim-hakim meliputi periode setelah kematian Yosua dan pemunculan Samuel (1375 s/d 1050 S.M.). Sejarah ini mempunyai pola tetap yaitu Israel meninggalkan Tuhan untuk mengikuti allah-allah lain sehingga Tuhan membiarkan mereka menderita di bawah penguasaan bangsa-bangsa Kanaan. Israel memohonkan pertolongan Tuhan, Tuhan mengangkat seorang hakim untuk melepaskan mereka dari penjajah, Israel berbuat baik sampai hakim itu mati dan kemudian jatuh lagi dalam ketidak-setiaan.
Susunan kitab Hakim-Hakim terdiri dari pendahuluan (pasal 1:1—2:5), kisah hakim-hakim Israel (pasal 2:6—16:31), dan tambahan yang terdiri dari kemunduran dalam ibadah (pasal 17—18) dan kemunduran moral (pasal 19—21). Sedangkan ajaran dari kitab ini adalah meinggalkan Tuhan mengakibatkan penyembahan berhala, dosa dan kekalahan dan dosa pasti dihukum Tuhan.

Rut
Kitab ini mengisahkan tentang perkawinan Rut, perempuan Moab dan Boas, seorang Israel. Dari keturunan mereka kelak akan lahir raja Daud dan Yesus. Inti ajaran kitab ini adalah Allah tidak membatasi keselamatan pada satu bangsa saja dan penyerahan diri kepada Tuhan menuntut pengorbanan diri.

1 & 2 Samuel
Kitab 1 & 2 Samuel mengisahkan sejarah Israel sejak akhir masa Hakim-hakim sampai tahun-tahun akhir raja Daud (tahun 1075 s/d 970 S.M.). di sini dijelaskan mengapa bangsa Israel memilih pemerintahan kerajaan dari pemerintahan teokrasi sebelumnya. Susunan kitab ini adalah pelayanan nabi Samuel (1 Sam. 1—12), pemerintahan Saul ( 1 Sam. 13—31), dan pemerintahan Daud (2 Sam. 1—24). Tiga tokoh kitab ini adalah Daud, Saul, dan Samuel. Samuel seorang nabi besar yang sangat jujur (12:3-5) dan terbiasa berdoa. Saul adalah raja pertama Israel yang berangsur-angsur mengalami kemunduran sehingga akhirnya ditolak Tuhan. Daud, raja kedua Israel adalah seorang yang berkenan di hadapan Tuhan walaupun pernah berdosa dengan berzinah, akhirnya bertobat.

1 & 2 Raja-Raja
Tujuan kitab ini adalah menceritakan sejarah umat Allah dari akhir pemerintahan Daud (970 S.M.), melalui masa kemakmuran Salomo, perpecahan Israel dari Yehuda, sampai keruntuhan Kerajaan Utara tahun 722 S.M. dan permulaan masa pembuangan. Pembagian pasalnya adalah sbb: Masa pemerintahan Salomo (1—11), Kerajaan terpisah (1 Raj.—2 raj. 17), dan Kerajaan Yehuda sampai pembuangan (2 Raj. 18—25).

1 & 2 Tawarikh
Selain bertujuan untuk mencacat sejarah Israel, kitab ini juga menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan Bait Suci, ibadahnya dan kejadian lain yang meningkatkan kehidupan keagamaan Israel. Kitab ini ditulis berdasarkan titik pandang seorang imam, berbeda dengan kitab samuel dan Raja-Raja yang bertitik tolak dari pandangan seorang nabi. Kitab ini mulai ditulis sesudah masa pembuangan berupa silsilah-silsilah (1 Taw. 1—9), masa pemerintahan Daud (1 Taw. 10—29), masa pemerintahan Salomo ( 2 Taw. 1—9), dan raja-raja Yehuda (2 Taw. 10—36). Penekanan kitab ini adalah tentang ibadah yang sejati dan pembaruan setelah masa kemurtadan yang berujung pada pembuangan.

Ezra—Nehemia
Kerajaan Babel dikalahkan oleh Media-Persia pada tahun 539 S.M. di bawah raja Koresy. Koresy bertindak lunak pada bangsa Israel dengan mengizinkan otonomi lokal dan mengizinkan mereka untuk pulang. Ezra adalah pemimpin bidang moral dan agama, sedangkan Nehemia pemimpin dalam bidang politik. Susunan kitab ini adalah sbb: pemngembalian rombongan yang dipimpin oleh Sesbazar (Ezra 1—4), pengembalian rombongan yang dipimpin oleh Zerubabel (Ezra 5—6), pengembalian rombongan yang dipimpin oleh Ezra (Ezra 7—10), Nehemia kembali ke Yerusalem (Neh. 1—2), pembangunan tembok kota (Neh. 3—7:4), kejadian-kejadian lain waktu kunjungan Nehemia yang pertama (Neh. 7:5—13:3), kunjungan Nehemia yang kedua (Neh. 13:4—31). Beberapa ajaran pokoknya adalah Tuhan selalu menepati janji-Nya, belajar dari kesalahan dan dosa masa lalu, hamba Tuhan yang ingin berhasil harus bersandar pada iman, berdoa, tekun dan bertanggung-jawab dalam pekerjaannya.

Ester
Penulis kitab Ester tidak diketahui sedang waktu penulisannya diperkirakan sekitar tahun 450—400 S.M. Adapun susunan kitab itu terdiri dari dua bagian besar yaitu bahaya yang dahsyat (1—5) dan penyelamatan yang ajaib (6—10). Tujuan penulisan kitab ini untuk menunjukkan Allah berkuasa menyelamatkan bangsa Israel dari kepunahan, manusia mempunyai tanggung jawab untuk melakukan bagiannya, menunjukkan kesia-siaan kepercayaan pada takhayul, dan menjelaskan asal mula hari raya Purim.

Bab IV: Kitab-Kitab Syair
Dari lima kitab syair, hanya Kidung Agung yang tidak mengandung tulisan-tulisan “hikmat”. Tulisan hikmat adalah hasil renungan dan pengalaman penulisnya. Prinsip kebenaran tidak diberikan secara langsung melainkan harus disimpulkan sendiri oleh pembacanya. Salah satu ciri syair Ibrani yang paling menonjol adalah parallelisme (penggabungan ide). Parallelisme dibagi menjadi dua bagian besar:
1. Parallelisme lengkap, di mana setiap kata dalam baris pertama diimbangi oleh kata yang sejajar dalam baris kedua (Yes. 1:3; Maz. 83:15).
2. Parallelisme tidak lengkap, yang dibagi menjadi jenis di mana sebagian baris kedua sejajar dengan baris pertama (Maz. 59:17) dan jenis di mana pada baris kedua disisipkan sebuah kata yang tidak mempunyai kata yang sejajar pada baris pertama (Maz. 75:7).

Ayub
Susunan kitab Ayub adalah penderitaan Ayub (1—2), perdebatan antara Ayub dengan kawan-kawannya (3—31), pembicaraan Elihu (32—37), jawaban Tuhan pada Ayub (38—42:6), dan pemulihan keadaan Ayub (452:7—17). Sedangkan ajaran kitab ini adalah pencobaan dan penderitaan tidak hanya disebabkan oleh keadaan hidup, lingkungan, orang lain, atau diri sendiri melainkan iblis juga berusaha menjatuhkan orang saleh; dosa manusia terbesar adalah kesombongan; salah satu penyebab penderitaan adalah dosa manusia (walau ada sebab-sebab lain). Kadang Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya menderita untuk menguatkan iman; iblis adalah pendusta; Allah Mahakuasa dan berdaulat; Ayub menjadi gambaran Yesus.

Mazmur
Kitab Mazmur adalah kumpulan nyanyian dari beberapa orang. Kitab Mazmur dibagi menjadi lima bagian yaitu bagian pertama (1—41), bagian kedua (42—72), bagian ketiga (73—89), bagian keempat (90—106), bagian kelima (107--150). Mazmur sendiri terdiri dari beberapa golongan yaitu mazmur doa (17,25,43,86,88), puji-pujian 33,47,95, dsb), pertobatan(32,38,51), doa syafaat (77,80,122), pengakuan iman(19,93,96,99,104), khotbah (78,112,113,119), kutuk (35,58,59,109), problem moral (49,73), dan Mazmur Mesianik (22,45,110). Sedangkan tema-tema pokoknya adalah tentang Allah, kutuk atas musuh, hidup sesudah mati, dan ajaran tentang Mesias,

Amsal
Arti dari Amsal adalah melambangkan atau menyerupai. Kitab Amsal berisi ucapan hikmat dari guru-guru yang ingin menerapkan prinsip-prinsip hukum Allah dalam hidup manusia. Jadi Amsal pada dasarnya adalah perumpamaan dari manusia sehingga walaupun pada umumnya benar, tetapi tidak selalu benar.
Susunan kitab Amsal adalah: pendahuluan (1:1—7); ajaran tentang hikmat (1:8—9:18); kumpulan Amsal salomo pertama (10:1—22:16); perkataan orang bijak (22:17—24:16); kumpulan Amsal Salomo kedua (25—29); perkataan Agur (30); perkataan Lemuel (31:1-9); lampiran: istri yang sempurna (31:10-31). Sedangkan ajaran pokok Amsal adalah tentang takut akan Allah, nasihat hikmat dsb.

Pengkhotbah
Maksud dari kitab pengkhotbah adalah mencari arti kehidupan. Tujuan kitab ini adalah menghancurkan ketergantungan manusia pada dunia materiil dan hanya bergantung pada Allah saja. Susunan dari kitab Pengkhotbah adalah sbb: pendahuluan (1:1-11); kesia-siaan segala sesuatu (1:12—6:12); kelakuan yang bijaksana (7:1—12:8); penutup (12:9-14).
Kidung Agung
Kitab Kidung Agung menekankan akan hal cinta kasih. Selama berabad-abad kitab ini ditafsirkan sebagai kiasan mengenai cinta kasih Kristus akan gereja-Nya. Sementara ada pendapat bahwa kitab ini seharusnya ditafsirkan secara harafiah. Dengan demikian tujuan kitab ini menunjukkan kebaikan dan keindahan aspek cinta kasih yang sejati antara pria dan wanita.

Bab V: Pengantar Kitab-Kitab Para Nabi
Tulisan nubuat terdapat dalam seluruh Perjanjian Lama, bahkan di seluruh Alkitab. Musa diakui sebagai nabi pertama dan menjadi teladan bagi nabi-nabi yang berikutnya. Dari satu segi kelihatannya nabi mempunyai kuasa untuk merubah sejarah menurut rencana Allah. Sebenarnya hal ini harus dilihat sebagai Allah memakai sejarah dalam melaksanakan kehendak-Nya.
Arti dari nubuat adalah suatu penyingkapan melalui manusia, yang memakai kata-kata lisan atau tertulis untuk menyampaikan penyataan tentang Allah dan menerangkan kehendak-Nya kepada manusia. Dalam arti yang lebih luas, benda, kejadian, dan adat dapat juga merupakan nubuat secara simbolis. Misalnya ular tembaga dapat ditafsirkan sebagai nubuat akan salib.
Jabatan Nabi
Pada mulanya jabatan nabi dilaksanakan oleh para imam dari suku Lewi. Tetapi dalam perkembangannya, Tuhan membangkitkan jabatan nabi tidak hanya berasal dari suku Lewi saja melainkan juga dari suku-suku yang lain. Karakteristik seorang yang menjabat sebagai nabi adalah mempunyai hubungan istimewa dengan Tuhan sebagai orang yang terpanggil dan berhak untuk berbicara atau bertindak atas nama Allah; kesetiaan utamanya hanya kepada Tuhan; dan tidak akan tertipu oleh apa yang terlihat oleh mata lahiriah.
Fungsi Nubuat dan Nabi dalam masyarakat Yahudi
1. Mendorong umat Allah agar bersandar pada rahmat dan kuasa Tuhan saja.
2. Mengingatkan umat Allah bahwa berkat dan keselamatan tergantung pada kesetiaan mereka dalam melaksanakan kewajiban perjanjian dengan Tuhan.
3. Menghibur umat Allah tentang masa depannya.
4. Nubuat merupakan semacam materai atas kewibawaan Firman Tuhan melalui nubuat yang digenapi.

Skema pelayanan para nabi
1. Periode kemerosotan sebelum pembuangan:
• Abad ke-9 S.M. : Yoel (?), Obaja (?)
• Abad ke-8 S.M. : Hosea, Amos, Yunus, Yesaya, Mikha
• Abad ke-7 S.M. : Bahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk
2. Periode pembuangan:
• Abad ke-6 S.M. : Daniel, Yehezkiel, Obaja (?)
3. Periode pasca pembuangan:
• Abab ke-6 s/d ke-5 S.M. : Hagai, Zakharia, Maleakhi, Obaja (?)

Mereka bernubuat kepada:
• Kerajaan Israel: Amos, Hosea
• Kerajaan Yehuda: Yoel, Mikha, Zefanya, Habakuk, Yeremia, Hagai, Zakharia, Maleakhi
• Babel (orang Yahudi di pembuangan): Daniel, Yehezkiel
• Niniwe: Yunus, Nahum
• Edom: Obaja

Bab VI: Nabi-Nabi Besar

Yesaya
Nabi Yesaya hidup dalam masa yang genting bagi bangsa Israel pada abad ke-8 S.M. Yesaya menyaksikan kajatuhan dan hilangnya 10 suku yang merupakan Kerajaan Utara. Yesaya terpanggil menjadi nabi pada tahun matinya raja Uzia (6:1), yaitu kira-kira tahun 740 S.M. Kerajaan Yehuda mengalami kemakmuran pada masa raja Uzia dan Yotam. Namun pada masa raja Ahaz, kerajaan Yehuda dijajah oleh Asyur dan kerajaan Israel runtuh pada tahun 722 S.M.
Susunan kitab Yesaya adalah sbb: penghukuman Allah (1—35); peranan Yesaya pada zaman raja Hizkia (36—39); pembebasan dan pemulihan umat Allah (40—66). Sedangkan ajaran kitab ini adalah sangat menkankan kekudusan Allah; penghukuman Tuhan bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa kafir; menyhatakan konsep keselamatan bagi sisa bangsa Israel yang masih setia; mengajarkan syarat-syarat untuk penebusan Israel.
Yeremia
Yeremia adalah seorang keturunan imam. Masa pelayanannya meliputi 40 tahun dengan lima orang raja (Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, Zedekia). Kerajaan Yehuda dikuasai Mesir pada pemerintahan raja Yosia (609 S.M.). empat tahun kemudian Mesir dikalahkan Nebukadnezar, raja Babel. Akibat pemberontakan Yehuda, Yerusalem ditaklukkan dan sebagian pemimpinnya dibuang ke Babel. Sepuluh tahun kemudian, kerajaan Yehuda memberontak sehingga sekali lagi Yerusalem diserang dan diruntuhkan tentara Babel. Sebagian besar warga Yehuda dibuang ke Babel. Selama itu pula Yeremia mencela tindakan raja Yehuda tetapi tidak didengar.
Susunan kitab ini adalah sbb: panggilan dan berita Yeremia (1—18); Yeremia menghadapi pemimpin-pemimpin Yehuda (19—29); pengharapan akan pemulihan (30—33); keruntuhan kerajaan Yehuda (34—39); nubuat-nubuat tentang bangsa kafir (46—51); kesudahan kerajaan Yehuda (52).

Ratapan
Kitab Ratapan ditulis sekitar tahun 580 s/d 550 S.M., tidak lama setelah keruntuhan kerajaan Yehuda. Kitab ini melukiskan pergumulan dan reaksi orang Yahudi terhadap penderitaan dan hukuman mereka. Hasil penyelidikan mereka kemudian dicurahkan kepada tuhan dalam doa. Mereka sadar bahwa Allah adil dan mereka layak dihukum karena berdosa pada-Nya.
Susunan kitab ini adalah sbb: ratapan pertama (1:1—22); ratapan kedua (2:1—22); ratapan ketiga (3:1—66); ratapan keempat (4:1—22); ratapan kelima (5:1—22).

Yehezkiel
Nabi Yehezkiel adalah penulis kitab ini. Kitab ini ditulis mulai tahun kelima masa pembuangan (593 S.M.) sampai dengan tahun ke-27. Susunan kitab ini adalah dosa Israel dan penghukuman Tuhan (1—24); nubuatan-nubuatan terhadap bangsa kafir (25—32); pemulihan Israel (33—48).
Ada tiga ajaran kitab ini yaitu mengenai Allah, manusia dan bangsa. Yehezkiel memberikan pengertian baru tentang sifat Allah yaitu Allah yang dekat kepada manusia dalam hidup dan sekaligus Allah yang “transenden”. Dalam hal manusia, Yehezkiel menekankan tanggung-jawab perorangan. Terhadap bangsa, Yehezkiel mengajarkan bahwa sifat kekudusan Allah merupakan jaminan akan pemulihan Israel.

Daniel
Pendapat tradisional mengatakan bahwa Daniel adalah penulis kitab ini. Tujuan utama kitab ini adalah untuk menegaskan kebenaran bahwa walupun umat Allah sering diperlakukan buruk oleh kekuasaan duniawi, namun Tuhan-lah yang berkuasa dan berdaulat serta menentukan sejarah setiap orang dan bangsa. Selainitu ada juga ajaran tentang kebangkitan, kuasa doa bersama, dan pengajaran tentang malaikat dan kuasa rohani yang berjuang untuk menguasai dunia.
Susunan kitab ini adalah cerita-cerita historis berhubungan dengan Daniel dan kawan-kawannya (1—6); penglihatan-penglihatan daniel tentang waktu-waktu yang akan datang (7—12).

Bab VII: Nabi-Nabi Kecil

Hosea
Pelayanan Hosea paling sedikit selama 30 tahun, mungkin dimulai pada akhir pemerintahan Yerobeam II (782 s/d 753 S.M.) dan berakhir pada keruntuhan Samaria pada tahun 722 S.M. Keadaan waktu itu adalah bangsa Israel sudah jauh dari ibadah yang murni. Penyembahan kepada berhala dan upacara yang disertai percabulan menjadi hal yang biasa.
Susunan kitab ini adalah mengenai hubungan Israel dengan Allah (1—3); dosa mengakibatkan penghukuman (4—10); keseganan Allah untuk menghukum umat-Nya (11—14:1); pertobatan mengakibatkan berkat (14:2—10). Dengan demikian, ajaran kitab ini adalah mengenai perjanjian Allah dan Israel yang digambarkan seperti hubungan perkawinan; dosa mengakibatkan penghukuman; dosa disebabkan mereka kurang mengenal Allah dan kekudusan-Nya; bagi yang bertobat, ada pemulihan dari Tuhan.

Yoel
Yoel berarti “Yehowah adalah Allahku”. Peristiwa yang mendasari pelayanan Yoel adalah beberapa bencana alam. Yoel menafsirkan hal itu sebagai tanda murka Allah yang mendorong umat-Nya kepada pertobatan.
Susunan kitab ini adalah tentang bencana alam (1:1—20); wabah belalang sebagai lambang (2:1—27); hari-hari terakhir (2:28—3:21). Ajaran kitab ini adalah bahwa pertobatan harus sungguh-sungguh; keselamatan dari iman dan anugerah; tanda-tanda yang menyertai hari Tuhan.

Amos
Nabi Amos hidup dalam masa pemerintahan raja Uzia di Yehuda dan pada masa pemerintahan raja Yerobeam II di Israel. Walaupun Amos berasal dari kerajaan Yehuda di bagian Selatan, dia bernubuat pada kerajaan Israel di Utara. Pada masa itu cara hidup mewah menjadi gaya rakyat Israel. Hal ini diikuti kemerosotan standar moral dan keagamaan.
Susunan kitab ini adalah nubuat terhadap bangsa-bangsa (1—2); hukuman atas Israel (3—6); penglihatan-penglihatan tentang penghukuman Israel (7—9). Ajaran utama Amos adalah menegaskan hukuman sebagai ciri utama hari Tuhan. sedangkan tema-tema lainnya adalah tentang Allah, Israel, ibadah, keadilan, dan pengharapan.

Obaja
Nama Obaja berarti “hamba Yehowah”. Sedangkan kapan tepatnya penulisan kitab ini tidak begitu jelas karena ada tiga pendapat utama tentang waktu penulisannya. Sejarah kebencian antara orang Yehuda dan orang Edom sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Edom membantu Babel menyerang Yerusalem, tetapi tidak begitu lama mereka sendiri diusir dari tanah mereka oleh suku-suku yang lain.
Susunan kitab ini adalah tentang hukuman atas edom (1—14); hukuman atas segala bangsa (15—16); pemulihan Israel (17—21). Berita utama nabi Obaja adalah hukuman Allah atas bangsa-bangsa. Tujuan akhir hukuman Allah adalah untuk menyatakan bahwa “Tuhanlah penguasa kerajaan”.

Yunus
Penulisan kitab ini agaknya dilakukan dalam abad ke-8 S.M., sebelum keruntuhan kerajaan Israel pada tahun 722 S.M. Susunan kitab ini adalah penggilan Tuhan: ketidaktaatan Yunus (1); pemeliharaan Tuhan: penyelamatan Yunus (2); panggilan Tuhan diperbaharui: ketaatan Yunus (3); kasih sayang Tuhan: teguran bagi Yunus (4). Sedangkan ajaran utama kitab ini adalah keselamatan dari Allah tidak hanya dimaksudkan bagi umat Israel tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain. Selain itu ketidak-taatan Yunus juga dilihat sebagai lambang teguran Allah kepada bangsa Israel karena kegagalan mereka untuk memberitakan Tuhan yang sejati kepada bangsa-bangsa lain.

Mikha
Mikha melayani di kerajaan Yehuda pada masa pemerintahan raja Yotam, Ahas, dan Hizkia. Mikha memperingatkan Samaria dan Yerusalem atas korupsi yang terjadi di tengah mereka. Susunan kitab ini adalah tentang hukuman atas Israel dan Yehuda (1—3); masa kemuliaan yang akan datang (4—5); penghukuman dan pemulihan (6—7). Mikha menekankan sifat keadilan Allah dan hukuman Allah, memusatkan perhatiannya pada ketidak-adilan yang dijalankan oleh rakyat umum, memberitakan Mesias yang akan melepaskan bangsa-Nya dari penindasan dan ketidak-adilan serta mempersatukan kembali mereka yang dalam pembuangan.

Nahum
Nama Nahum berarti “penghiburan atau belas kasihan”. Nahum menubuatkan penghukuman Allah atas Niniwe. Nubuatan ini dilakukan sekitar 100 tahun setelah pelayanan nabi Yunus karena mereka sudah melupakan Allah dan kembali pada dosa dan kejahatan yang mereka lakukan dulu.
Susunan kitab ini adalah murka Allah terhadap Niniwe (1); kemusnahan Niniwe (2); dosa mengakibatkan kehancuran (3). Ajaran kitab Nahum adalah Allah yang digambarkan sebagai Allah yang cemburu dan pembalas, mencela dosa kekerasan militer yang kejam, dan pada akhirnya orang Yehuda akan menang pada waktu tuhan menghukum musuh-musuh mereka.

Habakuk
Nama Habakuk berarti “memeluk” atau “bergulat”. Hal ini cocok dengan pergumulan Habakuk tentang keadilan Tuhan dalam dunia di mana kelihatannya orang jahat berhasil sedangkan orang benar menderita.
Susunan kitab Habakuk adalah pengaduan Habakuk dan jawaban Allah yang pertama (1:1--11); pengaduan Habakuk dan jawaban Allah yang kedua (1:12—2:5); ucapan-ucapan celaka terhadap orang Babel (2:6--20); penglihatan tentang hukuman Allah (3:1—19). Ajaran kitab ini adalah Allah menjawab Habakuk bahwa pada akhirnya kesombongan akan menjatuhkan Babel, sedangkan orang benar akan selamat; kejahatan akan gagal walau nampak menang untuk sementara waktu; berhala tidak berkuasa sama sekali; Tuhan sebagai hakim yang Mahakuasa dan kepercayaan pada-Nya merupakan kekuatan yang sejati bagi manusia walau di tengah-tengah kesulitan.

Zefanya
Zefanya adalah satu-satunya nabi yang dapat diketahui dengan pasti merupakan keturanan raja. Yosia bernubuat pada masa pemerintahan Yosia (640—609 S.M.). Kitab Zefanya mempunyai tema tentang penghukuman, pembaharuan dan nubuat. Pada waktu itu kehidupan moral dan agama sudah mengalami kemerosotan besar setelah kematian raja Hizkia pada tahun 687 S.M. Anaknya, raja Manasye mendirikan kembali mezbah Babel yang diruntuhkan oleh Hizkia. Sedangkan orang yang menyembah Yehowah mengalami aniaya maupun kematian. Manasye bertobat sebelum kematiannya, tetapi anaknya Amon membiarkan penyembahan berhala itu. Pada generasi berikutnya yaitu raja Yosia, keburukan sudah mencapai segala lapisan masyarakat.
Susunan kitab Zefanya adalah tntang hari Tuhan bagi Yehuda (1:1—2:3); hari Tuhan bagi bangsa-bangsa (2:4—15); hari Tuhan bagi Yerusalem (3:1—8); hari Tuhan untuk sisa-sisa Israel (3:9—20).

Hagai
Hagai dan Zakharia adalah nabi-nabi pertama yang melayani pada zaman pasca pembuangan. Pada zaman Hagai, kerajaan Yehuda yang dijajh oleh Persia mengalami penghentian bantuan dari raja Koresy dan anaknya raja Kambyses (530—522 S.M.) Mungkin hal ini yang membuat pembangunan Bait Suci di Yerusalem tidak dilanjutkan. Beberapa pemberontakan membuat kesulitan ekonomi dan ditambah masa kelaparan yang berturut-turut membuat pekerjaan Allah diabaikan. Tujuan pelayanan Hagai adalah mendorong pembangunan Bait Suci dan pembaharuan hidup masyarakat dalam hal rohani. Jadi tugas Hagai adalah menyakinkan penduduk Yerusalem dan Yudea bahwa ketaatan kepada Tuhan akan menjamin damai sejahtera dan kemakmuran.
Susunan kitab ini adalah: Firman yang pertama: Tantangan untuk meneruskan pekerjaan Tuhan (1:1—2:1a); Firman yang kedua: Hiburan bagi pekerja-pekerja yang kecewa (2:1b—10); Firman yang ketiga: Janji berkat bergantung atas ketaatan (2:11—20); Firman yang keempat: Dorongan dan hiburan bagi Zerubabel (2:21—24).

Zakaria
Latar belakang nabi Zakharia sama persis dengan nabi Hagai. Zakharia dipanggil untuk memberikan pimpinan rohani dengan tujuan memperbaharui masyarakat, mengingatkan akan tujuan yang sebenarnya dan mendorong untuk memenuhi kewajibannya menjadi kesaksian yang hidup kepada bangsa-bangsa lain. Bagian pertama kitab (1—8) dimaksudkan untuk diterapkan secara langsung berhubung dengan pembangunan Bait Allah dan kota Yerusalem serta pembaharuan masyarakat Yahudi. Bagian kedua (9—14) terdiri dari nubuat-nubuat yang berhubungan dengan Mesias dan pelayanan-Nya dalam mendirikan kerajaan Allah sebagai tujuan akhir pemulihan bangsa Yahudi.
Susunan kitab Zakharia adalah tentang penglihatan-penglihatan yang berhubungan dengan keadaan setempat (1—8) dan penglihatan-penglihatan tentang Mesias (9—14).

Maleakhi
Maleakhi bararti “utusanku”. Maleakhi melayani 60 tahun setelah nabi Hagai dan nabi Zakharia. Tujuan nabi Maleakhi yang utama adalah untuk mengembalikan orang Yahudi kepada hubungan yang baik dengan Allah. Metode yang digunakan adalah menunjukkan secara teliti sebab-sebab penderitaan jasmani dan kemerosotan rohani. Maleakhi juga menunjukan langkah-langkah yang diperlukan agar kehidupan masyarakat diperbaharui.
Susunan kitab ini adalah kasih Tuhan kepada Israel (1:1—5); celaan terhadap para imam (1:6—2:9); perkawinan campuran dan perceraian (2:10—16); penyucian melalui penghukuman (2:17—3:5); persembahan persepuluhan (3:6—12); kemenangan orang benar pada hari Tuhan (3:13—4:6).

Analisa Buku
Kekuatan Buku
1. Buku ini dilengkapi dengan peta dan penjelasan mengenai latar belakang Perjanjian Lama.
2. Memberikan tujuan dan pokok-pokok isi tiap-tiap kitab. Hal ini memudahkan bagi pembaca untuk menangkap maksud penulis.
3. Memberikan berbagai pandangan dari pendapat para ahli. Misalnya memberikan informasi mengenai perkemabangan kritikisme terhadap Pentateuch.
4. Disajikan secara sistematis.

Kelemahan Buku
1. Walaupun disajikan secara sistematis, buku ini tidaklah mudah untuk dipahami dibandingkan buku tulisan Adina Chapman misalnya. Memang karena PL banyak berisi sejarah dan terbentang dalam kurun waktu yang sangat lama sehingga diperlukan konsentrasi tinggi untuk menangkap isinya.
2. Pembahasan materi terlalu singkat.

Hal-hal Baru
1. Bagi saya tidak ada hal yang baru karena saya sudah pernah mengambil mata kuliah pengantar PL di tempat lain. Waktu itu buku utama yang digunakan adalah buku ini.

Saran
1. Buku ini dapat dikembangkan lebih jauh. Buku ini hanya terdiri dari 215 halaman sehingga terlalu padat. Mengingat kitab-kitab PL sedemikian rumitnya, pembahasan dapat dilakukan dengan lebih terperinci.

Penutup
Pengenalan akan latar belakang sejarah, sosial, dan keagamaan masyarakat Yahudi sangat penting dalam memahami Perjanjian Lama. Apa yang telah ditulis oleh Denis Green telah memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi referensi pengantar Perjanjian Lama. Pemahaman akan buku ini akan menjadi harta yang sangat berharga bagi pembelajaran setiap kitab Perjanjian Lama secara khusus. Denis Green telah memberikan kontribusi yang berharga selama pelayanannya selama beberapa tahun di Indonesia.

1 comment:

Danang Tuar said...

Mungkin orang mengatakan bahwa percaya mujizat itu tidak logis. Tapi bagi saya, justru percaya bahwa mujizat itu ada dan masih terjadi adalah hal yang paling logis. Dan itu terjadi secara "supra-rasional" bukan "irasional." Nah, yang terakhir ini yang sering terjadi di kalangan orang-orang yang percaya mujizat. Seringkali kita mengira bahwa iman yang sejati "mampu mengubahkan segala sesuatu" sehingga "segala sesuatu harus terjadi sesuai dengan apa yang kita kehendaki." Lalu kita menyebut bahwa ini adalah mujizat. Ini terbalik! Menurut saya, iman sejati adalah "ketika kita tetap percaya kepada Allah dalam situasi apapun. Dan dalam situasi-situasi yang terjadi di luar kontrol kita, kita percaya bahwa Allah bekerja demi kebaikan kita, sekalipun nampaknya tidak baik bagi kita." Inilah mujizat. Ingat ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego dipaksa menyembah patung dewa. Mereka berkata "Kami percaya bahwa Allah akan menolong kami, tapi jika Allah tidak mau menolong kami, kami pun tetap tidak akan menyembah patung itu." Apa yang terjadi? Mujizat! Karena keberserahan total pada kehendak Allah. Ia Allahnya. Bukan kita. Jadi mestinya kita menurut cara Dia, bukan Dia yang harus menurut cara kita. GBU (Danang, www.danangtuar.blogspot.com)