Tuesday, January 15, 2008

‘God Will Make a Way’

God Will Make a Way, Will Us Block It?

April 2006 adalah pertama kali saya mendengar dua buah lagu yang sangat menyentuh hati sehingga acap kali saya menangis bila memutar dan meresapi lagu tersebut. Perkenalan dengan lagu tersebut sebenarnya adalah suatu kebetulan belaka karena lagu secara otomatis dimainkan ketika saya membuka CD interaktif SAAT yang saya dapat ketika mengikuti SAAT Preaching Coference. Karena begitu terpikatnya maka saya mencari informasi tentang lagu tersebut. Lagu pertama adalah ‘People Need the Lord’ yang juga pernah dinyanyikan oleh Ev. Ndaru pada sebuah acara GRII, sedangkan lagu kedua hanya berupa instrumental belaka yang berjudul ‘God Will Make a Way’.
Hari berganti dan bulan berganti, saya sudah melupakan lagu tersebut sampai suatu hari di akhir Desember 2007 atau satu setengah tahun kemudian barulah saya menemukan lagu ‘God Will Make a Way’ versi jazz yang dinyanyikan oleh Margie Segers. Penemuan ini berlanjut pada bulan berikutnya ketika saya mencoba mencari lagu tsb di internet, ternyata lagu ini di compose oleh Don Moen, seorang penyanyi yang saya sudah beberapa kali saya dengar tapi saya hindari karena ‘rasanya terlalu rame musiknya’. Akhirnya minggu lalu saya membeli 2 CD-nya “Thank You Lord” dan “The Best of Don Moen”. Saya dengar-dengarkan dan teliti musik dan syairnya dan saya harus jujur memang beberapa syair lagunya bisa dipertanyakan secara doktrinal, tetapi banyak juga yang OK bahkan dia juga menyertakan beberapa lagu hymne dengan aransemen modern yang menurut saya sangat bagus dan tidak menghilangkan nilai ke-agungannya. Secara keseluruhan, dua buah CD tsb bagus (dengan perkecualian beberapa lagu).

Saya membaca kisah di balik penulisan lagu ‘God Will Make a Way’ sbb:
Suatu sore Don Moen menerima telepon yang mengabarkan bahwa keluarga iparnya mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan: Craig dan Susan bersama empat anaknya berkendara dari Texas ke Colorado ketika van mereka ditabrak oleh 18-wheeler truck!!. Craig dan Susan menemukan anak-anak mereka berdasar jeritan mereka, seorang di selokan, seorang di sebuah tempat yang basah karena salju yang meleleh dan seorang yang mendarat di tiang telepon. Ketiga anak tersebut dalam keadaan luka parah, tetapi Craig, seorang medical doctor tidak dapat berbuat apa-apa ketika menemukan anak ke-empat, Jeremy yang terbaring pada sebuah pagar dengan leher yang patah.

Ketika menerima kabar tersebut Don berkata: ‘duniaku menjadi sunyi dan berhenti berputar, tetapi aku tak dapat membatalkan acara rekaman yang telah di jadwalkan beberapa minggu yang lalu. Aku tak dapat mendampingi mereka sampai satu hari sebelum pemakaman’.

Dalam pesawat, sehari setelah kecelakaan itu Tuhan memberi lagu untuk mereka yang di dasarkan pada Isaiah 43:19, ‘God Will Make a Way’. Lagu ini memberi penghiburan kepada mereka ketika semua harapan seakan musnah.
Suatu hari Don menerima surat dari Susan: ‘kami melihat kebenaran Alkitab ketika teman-teman Jeremy menyadari bahwa Jeremy telah menerima Yesus sebelum kematiannya dan banyak teman-temannya yang menanyakan kepada ortunya tentang how could be assured of going to heaven when they died. Accident tersebut juga membawa Craig dan Susan kepada pengenalan yang lebih mendalam akan Yesus dan membawa mereka aktif dalam pelayanan.

Susan berkata bahwa pada saat kecelakaan: ‘aku tahu aku mempunyai pilihan untuk menjadi bitter and angry or I could totally accept God and whatever He had for us, aku telah melihat hasilnya dan if I had to, I’d do it again.’ (sampai disini saya ingat ucapan Fanny Crosby yang mirip dengan Susan akan kebutaannya)

Segera setalah lagu ini direkam, banyak sekali telpon dan surat datang dari seluruh dunia menyaksikan bagaimana mereka mengalami kejadian yang mirip dan God had carried them through shattering situation and by His Grace, they were emerging with stronger faith, renewed hope hope and God had made a way for them while all hope seemed to be lost.

“A new version of It Is Well With My Soul”, ‘God Will Make a Way’


‘God Will Make a Way’

God will make a way/where there seems to be no way
He works in ways we can not see/He will make a way for me
He will be my guide/hold me closely to His side
With love and strength for new each day
He will make a way/He will make a way

By a roadway in the wilderness/He’ll lead me
And rivers in the desert will I see
Heaven and earth will fade/but His Word will still remain
He will do something new today


Hendra, 150108

Sunday, January 13, 2008

'From Alcatraz to White House'

(Genesis 37; 39-41, The Story of Joseph)


Suatu hari seorang pelatih sepak bola dengan sangat marah berkata, ‘kalah tiga kali berturut-turut sudah cukup buruk, tetapi yang paling buruk adalah kita membuat kesalahan yang sama berulang kali. Ternyata kita tidak belajar dari kesalahan kita’. Seseorang pernah berkata bahwa ada tiga jenis manusia di dunia yaitu pertama: manusia yang bodoh, yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya; kedua: manusia biasa, yang mau dan mampu belajar dari kesalahannya; dan ketiga: manusia pandai yaitu manusia yang mau dan mampu belajar dari kesalahan orang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Saya katakan ‘mau dan mampu’ karena kemauan tanpa kemampuan atau kemampuan tanpa kemauan adalah sia-sia.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang kristen adalah keluar dari comfort zone dan menjadikan pengalaman pahit, menyakitkan, dan penuh air mata sebagai guru kehidupan. Sikap yang paling mudah dilakukan ketika kesulitan dan penderitaan menimpa kita adalah mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain. Sikap yang benar tapi sulit dilakukan adalah melakukan evaluasi secara objektif dan menggunakan rasa kecewa, sakit hati, perasaan gagal menjadi sarana untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Di mana lagi tempat terbaik, guru terbaik untuk mempelajari kehidupan jika bukan berguru kepada Sang Pencipta kehidupan itu sendiri?. Sarana yang disediakan Tuhan adalah melalui Alkitab yang merupakan Wahyu Khusus yang diberikan Allah khusus hanya kepada orang kristen. Malam ini kita belajar kebenaran Firman Tuhan melalui jatuh bangun kehidupan seorang Yusuf. Bagaimana Tuhan memproses hidup Yusuf melalui keadaan-keadaan yang luar biasa sulit untuk mengatasi tantangan hidup. Saat ini marilah kita bersama-sama mohon belas kasihan dan kekuatan dari Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran-pelajaran penting dari hidup Yusuf. Mari kita berdoa.

Latar belakang keluarga Yusuf (Kej. 37)
Yakub mempunyai 4 orang istri dimana dua di antaranya adalah kakak beradik yaitu Lea dan Rahel. Dua orang lainnya adalah Zilpa dan Bilha, yang adalah pembantu Lea dan Rahel yang diberikan mereka kepada Yakub untuk dijadikan istrinya.
• Proses hidup Yusuf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita yaitu dimulai dari kesalahan demi kesalahan. Bagaimana bisa? Ada tiga ciri kurang baik yang kental dalam keluarga besar Yakub, yaitu 1. kebiasaan menggunakan dusta untuk menyelesaikan masalah (ingat bagaimana Yakub ‘mencuri’ hak kesulungan Esau?); 2. menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan (bagaimana Lea dan Rahel bersaing memperebutkan cinta Yakub sampai rela memberikan budaknya kepada Yakub untuk di nikahi); 3. Favoritisme (Yakub lebih cinta kepada Rahel dan Yusuf)

Dari mana datangnya kebencian dan iri hati?
Yakub mempunyai 12 orang anak dari istri-istrinya dan Yusuf adalah anak kesayangannya, yang ironisnya justru dibenci oleh saudara-saudaranya. Apa sebabnya?
Ayat 2: Yusuf suka melaporkan kejahatan (taf: kemalasan) saudaranya.
Ayat 3-4: Kita lihat kesalahan pertama dilakukan oleh Yakub sebagai seorang ayah adalah mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya dan memberikan jubah maha indah hanya kepada Yusuf. Sebuah tafsiran mengatakan bahwa jubah itu adalah simbol pengakuan hak anak sulung kepada Yusuf (anak sulung Yakub adalah Ruben).
Ayat 5 &8: Yusuf menceritakan dua kali mimpinya kepada saudara-saudaranya bahwa mereka akan menyembah Yusuf.
Ayat 11: Sebagai orang tua dan pemimpin Yakub gagal untuk bertindak adil terhadap keluarganya. Akibatnya timbul perpecahan dalam keluarga dimana saudara yang lain benci kepada Yusuf.
• Ayat 13-14: Yakub menyuruh Yusuf untuk mencari tahu kabar saudara-saudaranya yang menggembalakan domba di dekat Sikhem (~100km dari Hebron). Artinya mereka semua kerja, Yusuf tidak. Hal inilah yang menjadi pencetus ide bagi saudaranya untuk membunuh Yusuf tapi atas intervensi Tuhan akhirnya Yusuf hanya dijual ke saudagar Midian yang kemudian menjual Yusuf pada Potifar di Mesir sebagai budak. Saudara, proses hidup Yusuf “baru” saja dimulai.

Proses hidup Yusuf (Kej. 39-41)
• Ayat 2-5; 22-23 menyatakan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dalam setiap perkara. Hal ini juga disadari Potifar sehingga ia meng-kuasakan segala miliknya kepada Yusuf dan Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf. Bagaimana mungkin semua yang dikerjakan Yusuf berhasil jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?. Artinya Yusuf telah berubah dari seorang yang mengandalkan diri dan ayahnya menjadi seorang yang mengandalkan Allah.
• Ayat 6-12 mengatakan bahwa Yusuf manis sikapnya. Inilah transformasi karakter seorang anak manja, tidak tahu kerja menjadi seorang yang manis sikapnya dan berkomitmen tinggi. Sebagai seorang manusia dapat dikatakan bahwa hidup Yusuf telah berhasil, sukses besar. Seorang budak menjadi kuasa semua harta majikannya. Secara manusia kita mengatakan bahwa proses hidup Yusuf telah selesai. Saudara kata yang tepat adalah SATU proses hidup telah selesai dan Allah kembali memproses Yusuf lebih lanjut. Pada suatu hari Yusuf difitnah oleh istrinya Potifar karena menolak untuk berzinah dengan-nya sehingga Yusuf dijebloskan ke penjara. Ayat 7 menulis ‘ia memandang Yusuf dengan birahi’. Sesungguhnya istri Potifar bukan sosok asing dalam dunia modern bukan? Sebuah survey terhadap 60.000 wanita Amerika oleh sebuah majalah beberapa tahun yang lalu mengungkapkan: 47% menyetujui seks pra-nikah dan 27% menyetujui perselingkuhan. Ini survey mungkin sudah 10 tahun yang lalu dan khusus wanita. Bisa kita bayangkan hasilnya jika survey itu dilakukan hari ini dengan responden pria. Saudara, dalam kasus Yusuf kita melihat pemeliharaan Allah nyata karena pada jaman itu kesalahan yang dituduhkan kepada seorang budak seperti Yusuf pasti mendatangkan hukuman mati. Atas anugerah Allah, Yusuf hanya dipenjara dan kembali Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Inilah proses hidup Yusuf yang kedua.
• Kej 40-41 menyatakan di dalam penjara Yusuf menolong mengartikan arti mimpi juru minuman raja Mesir dan kemudian meminta tolong kepadanya untuk menceritakan persoalannya kepada firaun untuk mendapatkan keadilan. Saudara, ternyata Yusuf dilupakan oleh sang juru minuman sampai 2 tahun. Setelah lewat dua tahun, firaun bermimpi dimana tidak ada seorang manusiapun yang mampu meng-artikannya. Barulah sang juru minuman ingat kepada Yusuf dan menceritakannya kepada firaun yang segera memanggil Yusuf keluar dari penjara. Kemudian dengan tepat Yusuf meng-artikan mimpi firaun dan semua yang dikatakan Yusuf tepat terjadi di Mesir. Pasal 41:38-39 menyatakan bahwa firaun mengetahui bahwa Yusuf penuh dengan Roh Allah sehingga ia menjadikan Yusuf sebagai kuasa di Mesir (perdana menteri).


Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari proses hidup Yusuf?
• Tiga ciri jelek keluarga Yakub di atas yang harus kita hindari dan sebenarnya poligami sudah dilarang Tuhan dalam kej 2:18.
• Sebenarnya apa sih maksud Tuhan dengan hidup Yusuf? Jawabannya ada pada ps 45: untuk memelihara kehidupan, untuk menjamin kelanjutan keturunan bangsa Israel. Dalam rangka ‘tugas suci’ inilah Yusuf disiapkan menjadi pemimpin, bukan sembarang pemimpin tapi seorang pemimpin yang berjiwa hamba, seorang pemimpin yang melayani bukan menuntut untuk dilayani. Berapa banyak pemimpin yang kita temui hari ini, termasuk pemimpin di gereja yang sangat berbeda dengan Yusuf bukan?. Tahukah saudara bahwa Mahatma Gandi setiap hari selalu membaca Alkitab?. Suatu hari dia mengambil keputusan untuk menjadi orang kristen. Dalam perjalanan ke gereja naik trem dia mendapat perlakuan rasialis dari seorang kulit putih. Hal itu mengecewakan hatinya sehingga dia batal menjadi kristen. Seorang misionaris pernah bertanya kepadanya: ‘bagaimana caranya agar rakyat India menerima Kristus. Jawabnya: jika kalian orang kristen berlaku seperti Yesus berlaku. Saya jamin semua rakyat India akan menjadi orang kristen’.
Yusuf dengan sabar dan sadar MAU memberi dirinya untuk diproses oleh Allah secara berkesinambungan dan bertahap-progresif. Pada tahap pertama Yusuf di jual oleh saudaranya sebagian karena “kesalahan” Yusuf sendiri, yaitu sikap sombong dan kemalasannya. Pada proses tahap kedua, di rumah Potifar, Yusuf tidak melakukan kesalahan apapun melainkan difitnah. Pada proses tahap berikutnya dengan juru minuman raja, bukan saja Yusuf tidak bersalah, melainkan Yusuf melakukan kebaikan dengan menolong sang juru minuman, tetapi Yusuf dilupakan oleh juru minuman. Di sini kita belajar bahwa seorang yang tidak bersalah bahkan melakukan kebaikan juga tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan hidup. Jadi jika ada orang yang sakit atau mengalami penderitaan, jangan kita dengan gampang mengatakan: dia berdosa sehingga di hukum Tuhan.
• Allah memilih Yusuf bukan karena ‘kebaikan diri’ Yusuf melainkan hanya semata-mata anugerah. Pada waktu proses Yusuf dimulai, ia hanyalah seorang anak berusia 17 tahun kesayangan ‘babe Yakub’ yang sombong dan naif. Dalam beberapa atau banyak segi Yusuf banyak kesamaan dengan kita bukan?. Yusuf mau hidup diproses Allah selangkah demi selangkah seperti sebuah kupu-kupu indah yang berasal dari ulat kepompong yang bentuknya aneh dan agak menjijikkan.
• Yusuf setia kepada Allah. Di tengah-tengah bangsa kafir, Yusuf tetap kokoh memegang kepercayaannya kepada Allah.

Kesimpulan:
1. Proses Allah terjadi untuk kebaikan kita seumur hidup kita. Jika kita menghadapi tantangan, itu berarti Allah sayang kepada kita karena berarti Allah masih memproses kita. Proses Yusuf dijual sampai menjadi penguasa Mesir terjadi selama kurun waktu 13 tahun dan kita lihat bahwa proses Allah masih berlanjut kepada Yusuf sampai ia mati. Abraham Lincoln adalah sebuah contoh klasik. Ia gagal dalam dua bisnisnya, mengalami gangguan syaraf, ditinggal mati kekasihnya, kalah dalam pemilihan untuk kedudukan dalam pemerintahan kira-kira 10 kali dalam kurun waktu 30 tahun, barulah ia terpilih sebagai presiden. Ketidak-adilan yang bertubi-tubi, kegagalan, penyakit dan tragedi pribadi tidak mengalahkan Lincoln, tetapi malah menguatkan karakter dan komitmennya. Hal yang sama terjadi pada Yusuf.

2. Hidup berserah kepada Allah adalah kunci keberhasilan seseorang. Untuk dapat berserah total, kita mau tidak mau harus mengalami proses demi proses seperti emas yang dimurnikan. Tuhan menginginkan kita menjadi emas yang murni bukan ‘gold plated’. Adakah yang tahu caranya memurnikan emas? Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat teman saya memurnikan emas dengan cara membakar emas batangan dengan sebuah alat seperti las sampai mencair. Nah setelah cairan emas itu menjadi mengkilap sampai kita dapat bercermin padanya, artinya emas itu telah murni. Jadi pembakaran tersebut dimaksudkan untuk membuang unsur-unsur logam lain yang bukan emas. Dalam kehidupan, Allah ingin “membakar” kelemahan-kelemahan kita untuk merubah karakter kita semakin mirip dengan-Nya. Tentu saja proses pembakaran itu rasanya menyakitkan karena kita ditarik keluar dari kenyamanan hidup kita dan proses itu adalah proses seumur hidup kita.

Renungan malam ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Charles Spurgeon tentang seorang anak berusia 7 tahun bernama Richard. Suatu hari ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka sampai di luar pintu gerbang kota yang dituju, ayahnya menyuruh Richard untuk menunggu karena ia tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu. Ternyata di sana sang ayah bertemu dengan teman-teman lamanya sampai ia lupa waktu dan lupa kalau ia meninggalkan Richard di pintu gerbang kota. Ketika dengan letih ia bermaksud untuk pulang, sang ayah menerima tawaran seorang temannya untuk menumpang kereta kudanya. Hari sudah malam ketika dia sampai di rumah, setelah mandi ia memangil anaknya: ‘Richard, kemari nak! Ayah akan menceritakan pengalaman ayah hari ini’. Ia tidak mendengar jawaban anaknya dan dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu gerbang kota. Saat itu juga ia cepat-cepat kembali ke tempat itu. Ia merasa sangat terharu mendapati Richard duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu gerbang kota. Ia memeluk anaknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih dan membawanya pulang.
Manusia bisa lupa, bisa melakukan banyak kesalahan. Bila seorang anak 7 tahun dapat begitu mempercayai ayahnya yang terbatas, yang penuh kelemahan, maukah kita meneladani sikapnya untuk tetap setia dan mempercayakan hidup kita bukan sekedar pada manusia, tetapi kepada Allah yang begitu mengasihi kita? Martin Luther pernah berkata bahwa Allah tidak pernah meminta maaf bukan karena kesombongan tetapi memang Dia Allah yang tidak pernah berbuat salah. Mari kita berdoa.

Hendra, 110108

Bibliografi:
1. David Wong, Meninggalkan Kenyamanan Meraih Kemenangan
2. Bill Crowder, Joseph: Overcoming Life’s Challenges
3. Jenny Wongka, Berkenan di Hati Allah
4. Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam PL
5. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1