Tuesday, October 6, 2009

Teologi Abu-Abu Sebagai Teologi Kontemporer

Pendahuluan
Teologi abu-abu adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan ajaran pluralisme agama. Pluralisme agama adalah sebuah ide yang terdengar sangat menarik dan simpatik karena menyuarakan kerukunan beragama di antara para pemeluk agama-agama di dunia, termasuk di Indonesia. Walaupun demikian, sebenarnya pluralisme agama tidak sesuai dengan pandangan kristen, bahkan menyangkali iman kristen itu sendiri.

Tulisan singkat ini membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pluralisme yaitu:
Asal Usul Pluralisme
Definisi dan faktor-faktor pendorong pluralisme.
Pandangan iman kristen terhadap pluralisme.
Teologi abu-abu kontemporer.


Asal Usul Pluralisme
Menilik asal-usulnya, semangat pluralisme bukanlah hal yang baru karena sejak zaman Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, umat Allah terus diperhadapkan dengan tuntutan kemajemukan agama dan kepercayaan. Sebuah contoh yang paling jelas adalah masalah sinkretisme yang terus menjadi persoalan sepanjang sejarah gereja. Bahkan pada abad-abad pemulaan, gereja juga diperhadapkan pada tiga persoalaan besar yang berbau pluralisme iman yaitu pnyembahan pada kaisar, Yudaisme, dan filsafat Helenistik. (1)
Ide tentang pluralisme (pasca PB) berasal dari pemikiran dua orang Bapa gereja yaitu Clement dan Origenes. Paham ini semakin berkembang setelah reformasi dan zaman pencerahan dan berpuncak pada Friedrich Schleiermacher (1768-1834) yang merupakan bapak teologi modern yang menolak pengajaran Alkitab mengenai doktrin-doktrin yang sudah baku. Pemikiran para filsuf dan teolog liberal membawa paradigma baru dalam arus pemikiran teologi. Tokoh-tokoh itu adalah Descartes, Spinoza, Aquinas, Kant, Hume dll.
Salah satu titik tlak Pluralistas modern adalah relativitas. Relativitas tidak dapat dilepaskan dengan filsafat eksistensialisme yang diusung oleh Kant. Eksistensialisme adalah sistem filsafat yang berangkat dari titik tolak manusia sebagai pembuat dan penentu atas pemikiran dan segala sesuatu yang beredar dalam alam semesta.
Dengan berkembangnya pemikiran para filsuf dan teolog liberal modern, ada pergeseran paradigma eksklusivitas ke pluralisme (perubahan dari modernisme ke post-modernisme). Semangat post-modernisme melahirkan pluralisme dan relativisme makna. Akhirnya ide ini diperluas dan menghasilkan pandangan bahwa kebenaran iman kristen bersifat relatif di antara agama-agama lain. Post modernisme menghasilkan tiga paradigma teori religionum, yaitu eksklusivitas, inklusivitas, dan pluralisme. (2)
____________________________
1. Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu. (Malang: Gandum Mas, Edisi Revisi 2009), 43-59.
2. Wisma Pandia, Teologi Pluralisme Agama-Agama. STT Injili Philadelphia, 5-11.

Definisi Dan Faktor-Faktor Pendorong Pluralisme Agama
Pluralisme agama mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:
Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.
Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.
Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.
Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda. (3)
Daniel Breslauer menyebut pluralisme sebagai suatu situasi dimana bermacam-macam agama ber-interaksi dalam suasana saling menghargai dan dilandasi kesatuan rohani meskipun mereka berbeda. Sedangkan Jacob Agus mengemukakan bahwa pluralisme adalah pemahaman akan kesatuan dan perbedaan, yaitu kesadaran akan suatu ikatan kesatuan dalam arti tertentu bersama-sama dengan kesadaran akan keterpisahan dan perpecahan kategoris. (4)

Menurut Bedjo, ada beberapa cara untuk memahami pluralisme. Paling sedikit ada tiga kategori sbb:
Kategori sosial.
Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup” dan para pemeluknya harus bersikap toleran dan bahkan saling menghormati.
Kategori etika atau moral.
Kategori ini berpendapat bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Penganut pandangan ini tidak boleh menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia, dll.
Kategori teologi-filosofi.
Secara sederhana berarti ”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. (5)

_______________________________________
3. Pluralisme Agama, http://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme_agama, di akses pada 2 Agustus 2009.
4. Makalah Sahabat Awam, Pluraisme Agama & Dialog, Yabina, edisi 55, April 2000, halaman 10.
5. Bedjo, Pluralisme Agama Dalam Perspektif Kristen. Tersedia di http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/05005/PLURALISME%20AGAMA%20DALAM%20PERSPEKTIF%20KRISTEN.doc; Internet; diakses pada 2 Agustus 2009.
Sementara itu ada beberapa faktor yang mendorong manusia untuk mengadopsi pandangan pluralisme, yaitu:
Iklim demokrasi.
Sejak kecil kita telah diajarkan untuk saling menghormati kemajemukan suku, bahasa, dan agama. Beranjak dari pandangan ini, toleransi agama menjadi penyamarataan semua agama.
2. Pragmatisme.
Akibat konflik antar umat beragama, keharmonisan hidup menjadi tema yang menarik dan pragmatisme menjadi tumbuh subur.
3. Relativisme.
Pandangan bahwa semua agama bersifat relatif, tergantung siapa yang melihatnya tumbuh subur dalam masa post-modern hari ini.
4. Perenialisme.
Pandangan bahwa Allah itu satu dan masing-masing agama meresponi dan membahasakannya secara berbeda sehingga muncullah banyak agama. Jadi hakekat dari semua agama adalah sama, hanya tampilan luarnya yang berbeda. (6)

Sonny Prayitno menyatakan beberapa ajaran dari kaum Pluralis antara lain:
Menolak dengan tegas Christ-Centris (berpusat pada Kristus) sebab hal tersebut dipandang ekslusif, sehingga mereka mengembangkan ajaran yang Theo-Centris (berpusat pada Allah)
Menolak Alkitab sebagai Wahyu Allah yang final. Menurut mereka, Allah menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam suatu umat tertentu, melainkan kepada semua manusia dalam pelbagai konteks agama dan budaya yang ada.
Menolak Misi Proklamasi Injil dan Misi Penebusan. Bahwa misi Allah bukanlah misi yang berkenaan dengan urusan-urusan yang bersifat rohani dan kekal. Itu adalah urusan Allah. Persoalan utama manusia bukanlah nanti, tetapi persoalan kini, yaitu berkenaan dengan masalah penderitaan umat manusia, kemiskinan, dsb. Maka kaum pluralis menafsir ulang misi dalam perspektif sosial (Social Gospel). (7)

Dari ketiga penolakan di atas, penolakan Alkitab sebagai Wahyu Allah yang final berarti mengatakan bahwa Alkitab bukanlah keseluruhan Firman Tuhan yang bebas dari kesalahan.


Pandangan Iman Kristen Terhadap Pluralisme

Sebelum membahas pandangan iman kristen terhadap pluralisme, menarik untuk mengetahui pandangan Islam terhadap pluralisme. Ternyata pandangan pluralisme ini ditentang oleh pihak muslim. Munas MUI pada tanggal 29-07-2005 mengeluarkan fatwa haram terhadap tiga pandangan kontemporer, yaitu sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. (8)

________________________________________________
6. Bedjo, Pluralisme Agama Dalam Perspektif Kristen.
7. Sonny Prayitno, Racun Pluralisme Dalam Iman Kristen. Tersedia di http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/3942; Internet; diakses pada 2 Agustus 2009.
8. M. Dawam Radharjo, Kala MUI mengharamkan Pluralisme. Tersedia di http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/01/brk,20050801-64630,id.html; Internet; diakses pada 2 Agustus 2009.
Pluralitas agama adalah kenyataan yang kita dapati dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia dengan eksistensi lima agama dan puluhan bahkan ratusan aliran kepercayaan. Pluralitas agama telah menjadi bagian dari apa artinya menjadi penduduk Indonesia sehingga menyangkal adanya realita ini adalah sebuah kenaifan. Kemajemukan agama dapat menjadi potensi yang kuat bila dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada. Di sisi lain, kemajemukan ini menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar, yang bila tidak ditanggapi dengan bijaksana dapat memicu sebuah perikaian yang mendalam dan luas. (9)
Pandangan kristen menghormati toleransi, bahkan Alkitab memberikan dasar yang kuat tentang ide toleransi. Ajaran Yesus tentang kasih mempunyai implikasi terhadap kesamaan derajat semua manusia. Hanya saja toleransi yang dimaksud adalah suatu sikap terhadap seseorang, bukan terhadap suatu ide. Jadi toleransi adalah penghormatan terhadap hak seseorang untuk berpegang pada suatu pandangan walupun kita tidak setuju dengan pandangan tersebut. Dalam hal ini ketidaksetujuan itu tidak dilakukan secara arogan atau dengan cara pemaksaan atau manipulatif. (10)

Dengan mengutip Stevri Lumintang, Bobby Putrawan menyatakan bahwa toleransi bukanlah teologi melainkan suatu sikap etika yang tentu harus dibangun diatas prinsip-prinsip kebenaran. Dalam perspektif Kristen, etika toleransi adalah etika yang bersumberkan pada prinsip-prinsip kebenaran Kristen dan teologi Kristen. Etika ini bertentangan dengan apa yang diusulkan oleh kaum Pluralis Kristen, yaitu membangun etika toleransi yang sifatnya universal (etika global). Etika Pluralis adalah etika yang didasarkan pada semua prinsip-prinsip kebenaran yang diakui oleh semua agama-agama yang ada di dunia. Dengan pandangan kaum Pluralis ini, maka disangkalnya kebenaran yang absolut dari Alkitab. Bila hal ini diterima, maka misi penginjilan secara otomatis digugurkan atau tidak lagi dibutuhkan, sebab misi penginjilan pada dasarnya dianggap sebagai perusak harmonisasi hidup bersama dalam masyarakat majemuk. (11)
Sutjipto Subeno menyatakan bahwa pluralisme bertentangan dengan iman kristen yang percaya bahwa Alkitab bersifat infallible, innerant, verbal, plenary, konfluen, dan perspiculty. Pluralisme juga bertentangan dengan presuposisi kristen. Cornelius Van Til (18 -1987), seorang teolog dan filsuf abad ini telah dengan sedemikian serius menggumulkan permasalahan ini. Van Til melihat bahwa di dalam berpikir, yang mendasari seluruh konsep teologis dan praktis kehidupan seseorang, hanya ada dua presuposisi dasar yang sangat menentukan, yaitu:
1. Kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah dengan presuposisi ini, manusia akan mengacu dan melihat segala sesuatu dari aspek kedaulatan Allah.
___________________________
9. Wahyu Pramudya, Pluralitas Agama: Tantangan “Baru” Bagi Pendidikan Ke-agamaan di Indonesia. Jurnal Teologi dan Pelayanan Veritas 6/2, (Malang: SAAT), 2005, 279.
10. Henry Efferin, Perjuangan Menantang Zaman bab 6: Toleransi Agama Dari Perspektif Injili. (Jakarta: Reformed Institute Press, 2000), 118-122.
11. Bobby K Putrawan. Nisbah Pluralisme Dengan Finalitas Kristus. Tersedia di http://bkputrawan.blogspot.com/2007/12/nisbah-pluralisme-dengan-finalitas.html; Internet; diakses pada 2 Agustus 2009.
Allah dipandang sebagai Sumber segala sesuatu, Dasar dan Tujuan segala sesuatu (Rom 11:36). Inilah dasar yang benar bagi pemikiran orang Kristen.
2. Otonomi Manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia berusaha mencari kebenarannya sendiri dan meninggalkan kebenaran Allah. Inilah ciri manusia berdosa sepanjang zaman. Ketika manusia mulai berpikir menurut pikirannya sendiri, paling tidak ada dua hal yang pasti akan terjadi yaitu non-proportional thinking dan inconsistency. (12)
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa iman kristiani menghormati adanya perbedaan agama bahkan menganjurkan sikap hidup yang saling bertoleransi di antara umat beragama. Tetapi iman kristen dengan jelas menolak adanya pandangan terhadap ide pluralisme agama yang mencampurkan pandangan agama-agama menjadi sebuah pandangan yang baru. Iman kristiani menolak pandangan kaum pluralis yang menolak semua klaim agama yang bersifat eksklusif, absolit, unik, dan final. Iman kristiani menolak untuk membuka diri terhadap pengapdosian kebenaran doktrin agama lainnya seperti yang dianjurkan kaum pluralis.

Teologi Abu-Abu Kontemporer (13)
Tema-tema kaum pluralis
1. Allah yang sama (Identifikasi Allah)
Kaum pluralis menyatakan bahwa Allah Alkitab identik dengan semua Allah dalam semua agama di dunia. Ada beberapa contoh sbb:
· Kesamaan fenomena ibadah dari John Hick
Hick menilai ada kesamaan di antara agama-agama dalam fenomena ibadah dalam tradisi-tradisi yang berbeda. Hick berpendapat ada satu Allah dan semua agama menyembah-Nya melalui konsep yang berbeda.
· Kesamaan Allah berdasar argumentasi sejarah bangsa Arab
Herlianto rupa-rupanya membedakan antara nama Allah dan konsep Allah.
· Kepada Allah yang tidak dikenal
Pandangan ini bertitik tolak dari Kis. 17: 16-34 mengenai khotbah Paulus di Athena yang menyinggung frase “kepada Allah yang tidak dikenal”.
______________________________________________

12. Sutjicto Subeno. Presuposisi Teologi. http://reformed.sabda.org/presuposisi_teologi; Internet; diakses pada 2 Agustus 2009.
13. Lumintang, Theologia Abu-Abu, 373-443
· Studi banding agama-agama
Studi banding dilakuan untuk mencari titik temu, menemukan kesamaan-kesamaan dengan dijiwai semangat menjalin kerukunan hidup. Upaya ini bersifat assertif (pembenaran) yang kebablasan dengan mengidentikkan Yesus Alkitb sebagai Isa dalam Al-Quran.
2. Kerajaan Allah bukan kerajaan Yesus
Topik ini dibahas ulang dengan menafsirkan ulang doktrin kerajaan Allah untuk menyangkal finalitas Yesus. Dengan demikian kerajaan Allah dipakai untuk mengakui kesaman hak semua agama di dunia.
· Model teosentris Paul Knitter
Knitter menilai misi pribadi Yesus adalah misi kerajaan Allah, yang artinya Allah Bapa adalah pusat. Sebagai akibatnya, keunikan Kristo-sentris tidak benar dan terjadi pertukaran konsep Teosentris menjadi Kristosentris. Dikatakan Knitter bahwa Yesus sendiri adalah teosentris dn setelah kematian-Nya, pengikut-Nya merubah fokus menjadi Kristosentris.
· Teori Kopernikus John Hick
Hick mengemukakan bahwa bukan kekristenan sebagai pusat seluruh dunia melainkan Allah. Sehingga iman kristen dan iman agama lainnya semuanya mengelilingi Allah sebagai pusat segala sesuatu.
· Kerajaan Allah menurut C.S. Song
Ia menyatakan bahwa Kerajaan Allah berpusat pada Allah Bapa, bukan pada Kristus. Alasannya karena Yesus sendiri memberitakan Kerajaan Allah Bapa, bukan diri-Nya sendiri. Karenanya semua orang “kafir” berada dalam kerajaan Allah dan dalam keselamatan Allah.
· Kerajaan Allah menurut Lesslie Newbigin
Newbigin menyatakan bahwa Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah dan mengutus murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama, tetapi orang kristen berbicara tentang Yesus.
· Kerajaan Allah menurut Pinnock
Pinnock menyatakan Allah menghendaki keselamatan semua orang. Ia menyatakan Allah Bapa hadir di dunia bukan hanya dalam nama Yesus saja, melainkan dalam segala bentuk kehidupan dunia baik sekuler maupun sakral dalam konteks keselamatan.
3. Matius 28: 16-20 di mata kaum pluralis
Kaum pluralis membangun konsep yang baru terhadap Amanat Agung sehingga tidak sekedar dipersempit artinya, tetapi lebih dari itu Amant Agung telah dirubah arti dan teksnya.
· Amanat Agung bukan dari Matius 28: 16-20 (Emanuel G. Singgih)
Singgih mengusulkan Amanat Agung bertolak dari teks khotbah di bukit (Mat. 5-7), ringkasan Taurat (Mat. 22: 37-40), dan penghakiman terakhir (Mat. 25: 31-46). Pandangan tentang keselamatan adalah berorientasi pada pembebasan manusia dan penderitaan karena ketimpangan sosial dll. Intinya dia menekankan pada pelayanan sosial sebagai ugas utama gereja di dunia.
· Amanat Agung bukan perintah untuk merubah kebudayaan (Lessle Newbigin)
Newbigin menyatakan Injil tidak boleh merubah budaya yang di Injili, pemuridan tidak melibatkan perubahan apapun (dalam budaya), pandangan bangsa-bangsa bukan berarti suku-suku bangsa melainkan pribadi-pribadi.
· Amanat Agung tidak pernah diamanatkan oleh Yesus (Eka Darmapura)
Darmaputra menyatakan bahwa Yesus sendii tidak pernah menyatakan Amanat Agung. Baginya amanat yang terbesar adalah amana kasih (Mat. 23: 34-40). Bagi Darmaputra tugas penginjilan adalah membawa Kristus kepada orang bukan membawa orang kepada Kristus dan tugas kita adalah mempertobatkan diri sendiri bukan mempertobatkan orang lain.
· Amanat Agung merupakan hambatan teologis (Martin L. Sinaga)
Sinaga menggolongkan Amanat Agung sebagai hambatan teologis dalam perjumpaan dengan orang yang beragama lain. Dengan kata lain Amanat Agung membuat kekristenan kurang mampu melihat hubungan agama-agama sebagai keharusan dalam mengembangkan teologi agama-agama sambil bersama umat lain mengolah persoalan sosial politik demi mencari daya pembebasan.
Hubungan teologi abu-abu dan teologi pembebasan
Teologi abu-abu dan teologi pembebasan mempunyai banyak sekali kemiripan. Teologi pembebasan mulai marak di belahan bumi bagian selatan (negara-negara dunia ketiga) sejak tahun 1970-an dengan ciri teologi yang menekankan sentuhan konteks atau teologi kontekstualisasi. Teologi pembebasan adalah teologi yang lahir dalam konteks perjuangan politik gereja menghadapi musuh dehumanisasi yang ada di negara-negara miskin. Sedangkan teologi abu-abu adalah teologi yang bangkit dalam semangat kemajemukan agama.
Kedua teologi ini mempunyai hubungan erat yang ditandai oleh kesamaan sistem hermeneutika, latar belakang dan kesamaan beberapa pokok pikiran teologis. Selain itu perkembangan teologi abu-abu di Asia dijiwai oleh semangat teologi pembebasan karena adanya kesamaan pergumulan sosial. Hal inilah yang membuat teologi abu-abu menjadi pendukung kuat teologi pembebasan. Hal ini dijelaskan sbb:
· Persamaan sistem hermeneutika.
Kedua teologi dibangun di atas dasar sistem hermeneutika kritik sosial atau penafsiran situasional. Dalam menyikapi masalah sosial yang terjadi karena kepincangan sosial yang terjadi karena persoalan kemajemukan agama, kaum pluralis membangun teologinya berangkat dari sistem penafsiran situasi sosial agama yang ada guna menemukan dasar berpijak yang sama. Sementara itu teologi pembebasan dalam menyikapi kepincangan sosial berupaya untuk membangun teologi yang dapat membebasakan manusia dari perbudakan kekuatan ekonomi kaum bangsawan. Jadi kedua pandangan ini selalu bertolak dari konteks, bukan dari teks Alkitab.
· Persamaan latar belakang konteks historisnya.
Pada umumnya kaum plralis merupakan penganut teologi pembebasan. Umumnya mereka hidup di negara-negara yang memiliki kesamaan latar belakang sosial politik dan agama yang beragam. Pandangan teologi mereka merupakan letupan protes dari kaum yang tertindas secara sosial dan ekonomi sehingga memiliki jiwa pemberontakan bagi kemerdekaan secara sosial, ekonomi, politik dan agama (kesatuan semua agama di dunia).
· Persamaan latar belakang konteks teologis.
Sejalan dengan perkembangan teologi, maka posisi gereja tertentu mengalami perubahan. Misalnya posisi gereja katolik berubah setelah konsili Vatikan II seperti keyakinan keselamatan di luar gereja dan pandangan terhadap agama-agama lain. Konsili Vatikan II ini merupakan pupuk yang menyuburkan teologi abu-abu. Ternyata konsili Vatikan II ini sangat banyak menye-sponsori pemunculan teologi pembebasan.
· Teologi abu-abu mendukung teologi pembebasan.
Seorang pluralis terkemuka di Asia adalah CS. Song yang mendukung bahkan melihat bahwa teologi pembebasan sebagai pola yang dapat diterapkan di Asia dengan telogi transposisinya. Song mempertanyakan apa yang menjadi keprihatinan teologi di Asia dan membangun teologinya dengan dasar penafsiran kritik sosial yang lahir dari keprihatinan sosial terhadap isu-isu sosial politik di Asia.
· Teologi abu-abu dan teologi pembebasan memiliki kesamaan akar pemikiran teologis.
Keduanya bersama teolog liberal menolak dan melepaskan banyak dogma ortodoksi kristen dalam usaha mencari makna kehidupan zaman ini. Contohnya adalah bertolak dari iman yang berpandangan naturalistik dan antroposentris, skeptical terhadap hal-hal supranatural, tidak mengakui Alkitab sebagai satu-satunya penyataan kebenaran Allah yang final, konsep kristologis non-inkarnatif, pandangan relativisme, konsep dosa dll.
· Kaum pluralis diinspirasikan oleh kaum liberalis.
Dunia yang penuh dengan penderitaan karena penyimpangan sosial mendorong kaum plralis untuk mengadopsi teologi pembebasan. Umumnya mereka memadukan persoalan politik negara dengan persoalan agama. Jadi mereka mendekati persoalan politik dalam perspektif agama.

Macam-macam teologi pembebasan kontemporer di Asia

Teologi Minjung dari Korea.
Teologi Minjung muncuk di tahun 1970 sebagai akibat gerakan rakyat bagi hak azasi manusi, demokratisasi, dan keadilan sosial ekonomi. Di antara kaum muda, konsep Minjung mengasimilasi dalam dirinya konsep mengenai revolusi sosial atau Marxisme.

Teologi Rakyat dari Korea.
Teologi ini berkenaan dengan penyatuan Korea Selatan dan Utara. Pertama, teologi ini memasukkan konsep Minjung dan menempatkan seluruh rakyat Korea sebagai subyek penyatuan. Lebih jauh, rakyat sebagai tema teologis, menekankan keharusan pembebasan nasional dari kekuasaan Internasional yang mendominasi.

Teologi perjuangan atau pergumulan di Filipina.
Latar belakangnya adalah: pertama, keterlibatan perjuangan rakyat sebagai bentuk refleksi teologi masa kini; kedua, konteks sejarah sosial, agama, budaya, dan politik; ketiga, warisan iman untuk menemukan dan menyatakan pencipta dan Tuhan dari sejaah pembebasan; keempat, pengalaman kehadiran Allah dibuat dalam simbol, bahasa, mitos, liturgi yang dapat dimengerti dan relevan bagi rakyat yang berjuang.

Teologi kemajemukan di Asia.
Di Asia dan Afrika, pandangan ini mengimplikasikan pemikiran ulang akan isi rohani dari agama dan kebudayaan. Perpaduan teologi seperti ini membutuhkan dialog, kensensitifan mendengarkan pandangan agama lain, pelayanan yang tidak berdasarkan interes, tanpa motif memperluas agama dll.


Kecenderungan perkembangan pemikiran abad 21

Setelah membicarakan pandangan teologi abu-abu sebagai teologi kontemporer, penulis menutup dengan pandangan Daniel Lukas Lukito tentang kecenderungan perkembangan pemikiran manusia kristen pada hari ini. Lukito menyatakan paling tidak ada empat kecenderungan sbb:
Teologi secara radikal akan dibangun di atas landasan immanensi.
Maksudnya adalah manusia cenderung menyimpulkan segala sesuatunya dengan bertitik tolak semata-mata dari alam dan natur manusia. Ketika berbicara tentang Allah dan karya-Nya, manusia akan menilainya dari perspektif manusia dan alam. Hal ini berakibat pada memudarnya sisi yang transenden dan wilayah natural ‘mencaplok’ wilayah supranatural.

Teolog akan diwarnai oleh semangat yang semakin kuat untuk mensisntesiskan lingkup sakral dan lingkup sekular.
Manusia mlihat realita hanya pada satu lapisan saja yaitu dunia ini saja. Artinya menolak segala sesuatu yang berciri ilahi dan hukum moralitas yang teosentris. Sebagai akibatnya manusia menampakkan ciri yang otonom dan terlepas dari otoritas manapun.

Teologi akan melanjutkan subjektivisme ekstensialisme.
Eksistensialisme adalah usaha untuk membangun sistem filsafat yang berangkat dari titik tolak manusia sebagai pembuat dan penentu atas pemikiran dan segala sesuatu yang beredar dalam lingkaran kehidupan ini. Mereka menilai hidup yang penuh dengan problema dengan satu penegasan yang berani, yaitu manusia adalah pencipta dan penyembuh bagi dirinya sendiri sehingga manusia harus berani menghadapi menghadapi segala macam masalah dan keterbatasan dirinya. kaum eksistensialis menolak keberadaan Allah dan ciptaan-Nya dan menolak Alkitab sebagai firman Allah. Lebih jauh dinyatakan bahwa kebenaan akan Allah bersifat subjektif dan personal, yaitu dimulai dalam situasi tertentu pada kehidupan seseorang.

Teologi akan semakin gencar mengadaptasi pluralisme.
Dalam suasana dunia yang serba semakin menyatu dewasa ini, fakta tentang pluralitas kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang baru. Demikian pula ketika gereja dalam perjalanan sejarahnya harus berhadapan dengan masyarakat yang pluralis dimana-mana, mau tak mau realita pluralitas iman sebagai sebuah fakta kehidupan harus diakui dan diterima. Sebagai contoh, ketika umat Kristen mula-mula melakukan pekabaran Injil, mereka melakukannya di tengah dunia pluralis dengan lingkaran konteks masyarakat Yudaisme, Hellenisme, paganisme Romawi, bahkan sampai melebar ke daerah sebelah tenggara India dengan didirikannya gereja Mar Thoma. Data ini memberi indikasi bahwa gereja mula-mula telah menyadari dan mereka benar-benar berhadapan dengan pluralitas budaya dan pluralitas keyakinan yang ada pada waktu itu. Dengan perkataan lain, tindakan kaum pluralis melakukan akomodasi dan reduksi terhadap iman Kristen demi untuk dialog dan toleransi terhadap agama lain telah menyebabkan mereka menjual murah dasar iman Kristen serta sekaligus membentuk sejenis teologi yang asing bagi orang Kristen sendiri. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk yang namanya "keterbukaan" dan "relevansi" iman? Rasanya terlalu "dilelang" murah nilai iman Kristen itu sendiri. (14)

____________________________
14. Daniel Lukas Lukito, Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21, Sebuah Kajian Retrospektif Dan Prospektif. http://reformed.sabda.org/kecenderungan_perkembangan_pemikiran_abad_21_sebuah_kajian_retrospektif_dan_prospektif, diakses pada 3 Agustus 2009.
Kesimpulan

Secara akal sehat kaum pluralis tidak mungkin berhasil dalam misinya. Hal ini disebabkan mereka mencoba untuk membuat sebuah agama baru yang ‘sempurna’ dengan menggabungkan semua agama di dunia. Jika semua agama (termasuk kristen) dianggap tidak sempurna, bagaimana mungkin membuat sebuah agama yang sempurna dari gabungan agama-agama yang tidak sempurna?.
Pepatah berkata bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Kalimat ini sangat pas dikaitkan dengan semangat pluralitas yang melanda zaman kita hari ini. Walaupun sejarah mencatat bidat, pengajaran sesat dan filsafat dunia yang menyerang kekristenan datang dan pergi silih berganti, merupakan tindakan bijaksana untuk mempersiapkan diri dan jemaat untuk menghadapi tantangan-tantangan iman dengan sebuah kepercayaan yang kokoh akan kebenaran Alkitab sebagai satu-satunya otoritas yang benar dan final.
Sebagai penutup, penulis mengutip sebuah lirik lagu pop dari Kenny Rogers yang berbunyi: You don’t have to fight to be man, but sometimes you gotta fight when you are a man. Penulis menganalogikan syair itu dengan pengertian kita tidak perlu ‘bertentangan/berkelahi’ untuk belajar teologi yang benar, tapi ketika kebenaran itu di relatifkan, kita harus berjuang untuk mempertahankannya berapapun harganya.


Bibliografi


1. Bedjo, Pluralisme Agama Dalam Perspektif Kristen. Tersedia di http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/05005/PLURALISME%20AGAMA%20DALAM%20PERSPEKTIF%20KRISTEN.doc; Internet; diakses pada 26 Februari 2009.
2. Efferin, Henry, Perjuangan Menantang Zaman bab 6: Toleransi Agama Dari Perspektif Injili. Jakarta: Reformed Institute Press, 2000, halaman118-122.
3. Lukito, Daniel Lukas. Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21, Sebuah Kajian Retrospektif Dan Prospektif. http://reformed.sabda.org/kecenderungan_perkembangan_pemikiran_abad_21_sebuah_kajian_retrospektif_dan_prospektif, diakses pada 3 Agustus 2009.
4. Lumintang, Stevri Indra. Theologia Abu-Abu. (Malang: Gandum Mas, Edisi Revisi 2009)
5. Makalah Sahabat Awam, Pluraisme Agama & Dialog, Yabina, edisi 55, April 2000.
6. Pandia, Wisma, Teologi Pluralisme Agama-Agama. STT Injili Philadelphia, halaman 5-11.
7. Pluralisme Agama, http://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme_agama, di akses pada 2 Agustus 2009.
8. Pramudya, Wahyu. Pluralitas Agama: Tantangan “Baru” Bagi Pendidikan Ke-agamaan di Indonesia. Jurnal Teologi dan Pelayanan Veritas 6/2, (Malang: SAAT), 2005
9. Putrawan, Bobby K. Nisbah Pluralisme Dengan Finalitas Kristus. Tersedia di http://bkputrawan.blogspot.com/2007/12/nisbah-pluralisme-dengan-finalitas.html; Internet; diakses pada 26 Februari 2009.
10. Radharjo, M. Dawam, Kala MUI mengharamkan Pluralisme. Tersedia di http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/01/brk,20050801-64630,id.html; Internet; diakses pada 26 Februari 2009.
11. Sonny, Prayitno. Racun Pluralisme Dalam Iman Kristen. Tersedia di http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/3942; Internet; diakses pada 26 Februari 2009.
12. Subeno, Sutjicto. Presuposisi Teologi. http://reformed.sabda.org/presuposisi_teologi; Internet; diakses pada 26 Februari 2009.

No comments: