Friday, January 8, 2010

Baptisan dan Kepenuhan

Baptisan dan Kepenuhan
Peranan dan Karya Roh Kudus Masa Kini
(disadur dari John Stott)


Bab 1: Janji Akan Roh Kudus
Hidup kristiani adalah hidup di dalam Roh. Semua orang yang memiliki Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan semua orang yang adalah anak Allah memiliki Roh Allah. Tidak mungkin memiliki Roh tanpa menjadi anak Allah atau menjadi anak Allah tanpa memiliki Roh (Rm 8:9). Paulus mengatakan bahwa hidup dalam Roh dan menjadi milik Kristus adalah ungkapan yang sinonim. Dengan kata lain Paulus mengatakan tidak ada seorangpun dapat menjadi milik Kristus tanpa memiliki Roh.
1 Kor. 6:19-20 menyatakan ketika kita dibeli dan harganya telah lunas dibayar, maka tubuh kita bukanlah milik kita sendiri melainkan milik Dia yang membeli/menebus kita. Oleh karena penebusan itu, tubuh kita disebut menjadi bait Roh Kudus karena Allah sendiri yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Jadi memiliki Roh Kudus bukanlah hasil usaha manusia melainkan anugerah dari Allah (lihat Rm. 5:5).
Secara singkat, Roh Kudus menyatakan Kristus kepada kita sehingga kita bertobat, dan RK membentuk Kristus di dalam kita (proses pengudusan).

Apakah memiliki RK sama dengan ‘baptisan’ RK?
Ada dua pendapat yaitu ‘sama’ dan ‘tidak sama’.
Mereka yang berpendapat tidak sama mengajarkan bahwa baptisan RK adalah pengalaman kedua yang mengikuti, yang harus dialami oleh semua orang kristen setelah baptisan air. Di pihak lain, berpendapat bahwa baptisan RK adalah milik semua orang percaya yang telah benar-benar bertobat.
Pencurahan atau baptisan RK adalah salah satu berkat khusus zaman baru (2 Kor. 3:8). Ungkapan baptisan RK hanya muncul di Alkitab sebanyak 7 kali dalam PB dan merupakan pemenuhan dari harapan/nubuatan PL. Yesaya 32:15 berbicara tentang hari waktunya Roh akan dicurahkan kepada kita dari atas; Yehezkiel 39:28-29 berbicara akan pencurahan Roh ke atas kaum Israel; Yoel 2:28 menyatakan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia. Yohanes pembaptis, nabi terakhir PL merangkum dalam Markus 1:8 dengan mengatakan “Aku membaptis kamu dengan air, tapi Ia akan membaptis kamu dengan RK. (lihat ayat paralel Mat. 3:11; Luk 3:16; Yoh 1:33). Jika kita melihat Yoh. 1:29, 33, ciri khas pelayanan Yesus adalah rangkap dua yaitu penebusan dosa manusia dan pembaptisan dengan RK.
Pada hari Pentakosta (Kis. 2:38), Petrus berseru dan meyakinkan bahwa semua orang yang akan bertobat dan percaya akan menerima dua berkat dengan cuma-Cuma yaitu pengampunan dosa dan karunia RK. Karunia Roh di sini bersinonim dengan ‘janji Roh’ (Kis. 1:4; 2:33, 39; ‘baptisan Roh (1:5), dan ‘pencurahan Roh’ (2:17, 33). Kesimpulan di sini adalah setiap orang yang bertobat menerima karunia Roh, yang dijanjikan Allah sebelum hari Pentakosta, dan dengan demikian dibaptis dengan Roh yang dicurahkan Allah pada hari Pentakosta. Kesimpulan ini konsisten dengan keyakinan Petrus pada kasus Kornelius (Kis. 11:16-17) yaitu baptisan dan juga sebagai karunia Roh. Jadi baptisan Roh sama dengan janji atau karunia Roh dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan pengampunan dosa dan keselamatan. RK melahirkan kembali, mendiami, membebaskan dan mengubah kita. Paulus dalam Titus 3:4-7 menyatakan Roh yang dicurahkan untuk melahirkan kembali dan mambarui kita dilihat sebagai bagian dari keselamatan.
Baptisan atau pencurahan Roh Kudus adalah adalah berkat khusus dari zaman baru (zaman PB) karena sebelumnya belum dapat diperoleh, tapi juga berkat umum karena berkat itu menjadi hak kelahiran semua anak Allah. (Kis. 2:38-39) Jadi semua orang yang menerima panggilan Allah, ia mewarisi janji Allah akan RK.

Hari Pentakosta (Kisah pasal 2)
Dalam Kisah 2 ada dua kelompok orang yang terpisah waktu menerima baptisan atau karunia RK. Kelompok pertama berjumlah 120 orang (Kis. 1:15) dan kelompok kedua berjumlah kira-kira 3.000 (Kis. 2:41). Kedua kelompok ini menerima janji dan karunia yang sama yaitu RK (Kis. 2: 33; 39). Walaupun demikian, ada perbedaan yang sangat besar, yaitu kelompok 120 orang pertama telah dilahirkan kembali dan kelompok 3.000 orang kedua semula tidak percaya, menjadi percaya karena khotbah Petrus dan saat itu juga menerima pengampunan dosa dan karunia Roh yang sama seperti kelompok pertama, saat itu juga.
Pertanyaannya, mengapa kedua kelompok itu mengalami pengalaman yang berbeda?. Kelompok pertama sudah percaya, sudah dibaptis air, belum menerima karunia Roh sebelum Pentakosta. Kelompok kedua tidak percaya menjadi percaya, belum dibaptis air, dan menerima baptisan RK terlebih dahulu.
Jawabanya adalah karena janji Roh (Yoel 2:28) memang baru digenapi pada hari Pentakosta. Mengapa begitu? Karena hari Pentakosta menandai kejadian akhir dari ‘riwayat kerja’ Yesus di dunia dan menandai awal ‘riwayat kerja’ RK di dunia. Pencurahan Roh yang dinanti-nantikan baru dapat terlaksana setelah genap karya Kristus di dunia berupa kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga. Dengan demikian, Pentakosata menandai awal zaman baru, yaitu zaman Mesianis atau zaman Roh. Peristiwa Pentakosata tidak dapat diulangi dan hanya terjadi sekali dalam sejarah manusia seperti halnya kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Kesimpulannya, mereka yang bertobat (kelompok 2) pada hari Pentakosta menjadi pola bagi orang percaya berikutnya. Arti kedua Pentakosta adalah pemenuhan janji Kristus (Kis. 1:8) pada para rasul untuk melengkapi tugas kerasulan memberitakan Injil. Arti ketiga adalah Pentakosta adalah pembangunan rohani pertama di mana pertsama kali Roh menunjukkan kuasa-Nya dengan berkelimpahan.
Jadi baptisan RK bukanlah ‘second blessing’ melainkan kita menerima Roh karena percaya pada pemberitaan Injil dalam iman (Gal. 3:2; 14). Ada orang yang mengatakan karunia RK adalah ‘second blessing’ yang harus dikejar oleh orang percaya. Pendapat ini dikaitkan dengan Kis. 8:5-17. Filipus memberitakan Injil di Samaria dan banyak orang menjadi percaya dan dibaptis air. Nah, ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa Samaria telah menerima Firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ.
Pertanyaannya mengapa harus mengutus Petrus dan Yohanes??
Jawabannya adalah karena para petobat itu orang Samaria. Orang Yahudi menganggap orang Samaria adalah musuh besar mereka dan orang berdosa dan najis sehingga mereka tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh. 4:9). Rupa-rupanya tidak mudah bagi orang Yahudi untuk mengakui bahwa musuh besar merekapun mendapatkan keselamatan seperti mereka. Dengan konteks latar belakang seperti itulah Petrus dan Yohanes sampai harus datang untuk memeriksa dan meneguhkan pertobatan mereka dengan peletakan tangan. Jadi peletakan tangan adalah tanda yang meneguhkan bukan oleh karena peletaan tangan RK turun ke atas mereka. Perhatikan bahwa ketika orang Samaria dibaptis, mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 8:16) dan yang menyebabkan Roh tidak diberikan adalah keadaan historis. Keadaan historis ini bersifat khusus dan tidak dapat diulang dan dijadikan pola.
Alasan kedua adalah kejadian di Kis. 19:1-7. Ternyata mereka tidak tahu akan RK (ay. 2). Baptisan yang mereka terima adalah baptisan Yohanes Pembaptis, padahal seharusnya baptisan air harus dilakukan di dalam nama Allah tritunggal (Mat. 28:19). Setelah itu maka Paulus membaptis mereka dalam nama Kristus dan menumpangkan tangannya, dengan akibat RK turun ke atas mereka. Jadi sebelum dibaptis Paulus, mereka tidak dibaptis dalam nama Yesus dan tidak mengenal RK. Ayat 4 menyatakan ternyata mereka belum mengenal Yesus juga (sehingga Paulus perlu untuk menjelaskannya). Setelah mengerti dan menerima, Paulus membaptis mereka dan RK-pun turun kepada mereka.

Kesimpulan
• Baptisan Roh adalah sama dengan karunia Roh.
• Baptisan air adalah tanda upacara masuk kekristenan, sedangkan baptisan Roh adalah pengalaman kristiani yang mula-mula setelah bertobat. Dengan kata lain baptisan air adalah tanda dari baptisan dengan Roh sepanjang baptisan air itu adalah tanda pengampunan dosa.
• Orang yang sudah menerima karunia Roh, harus mengalami kelanjutannya dipenuhi dengan Roh dengan proses pengudusan (santification) dalam hidupnya, menyangkal diri agar semakin mirip dengan Kristus. Proses ini berlangsung sepanjang hidup kita.

Bab 2: Kepenuhan Roh
Apa yang terjadi pada hari Pentakosta adalah Allah mencurahkan Roh dan membaptis 120 orang dan 3.000 orang. Buah baptisan Roh adalah ‘penuhlah mereka dengan RK’ (Kis. 2:4). Jadi kepenuhan Roh adalah akibat dari baptisan Roh. Walaupun demikian, karena natur berdosa manusia, maka kepenuhan Roh mengalami dinamika dalam hidup kita. Manusia dapat kembali jatuh dalam dosa, menyesal dan kembali pada Allah secara berulang-ulang. Ketika berdosa, manusia tidak dipenuhi dengan Roh tapi tidak kehilangan Roh. Contoh di Alkitab adalah jemaat Korintus. Mereka adalah jemaat yang diperkaya dengan berbagai karunia rohani (1 Kor. 1:7) dan sudah dibaptis dengan RK (12:13). Namun, Paulus mengecam mereka sebagai jemaat yang tidak rohani atau tidak dipenuhi Roh. Oleh karenanya Yesus sendiri dalam Yoh 7:37-39 menasihati kita agar kepenuhan Roh terus menerus dijadikan milik kita dengan iman. Yesus menggambarkan air sebagai RK dan barang siapa yang haus hendaklah ia ‘datang’ dan ‘minum’. Kata kerja yang dipakai dalam ‘datang dan minum’ adalah present tense atau dalam bentuk masa kini. Artinya orang percaya harus selalu ‘datang dan minum’, harus selalu dipenuhi dengan RK. Jadi baptisan RK hanya sekali, sedangkan kepenuhan RK dapat terjadi berualang-ulang.

Ciri-ciri Kepenuhan Roh
Dalam contoh jemaat Korintus, Paulus menyindir mereka dengan mengatakan ‘kamu telah kenyang, telah penuh’ (4:8). Tetapi bukan kepenuhan RK karena bila benar mereka dipenuhi oleh Roh, tentu mereka akan dipenuhi dengan kasih, yang adalah salah satu buah Roh. Kasih adalah ikatan yang kuat antara buah dan karunia-karunia Roh. Jadi ciri-ciri dipenuhi oleh Roh adalah bersifat moral, bukan bersifat ajaib, dan berada pada buah-buah Roh bukan pada karunia-karunia Roh.
Paulus memberikan contoh akibat daqri kepenuhan Roh yang menghasilkan buah-buah Roh berupa kualitas moral dalam Ef. 5:18-21. Paulus mengkontraskan antara kepenuhan Roh dengan mabuk yang menimbulkan hawa nafsu. Kata Yunani menimbulkan hawa nafsu adalah ασωτία (asotia) yang berarti suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu mengawasi/mengendalikan diri sendiri. Sebaliknya penuh dengan Roh mengakibatkan ‘berkata-kata, bernyanyi, bersorak, mengucap syukur, merendahkan diri’ secara sadar. Jadi keliru sekali kalau ada pandangan dipenuhi Roh berarti kita berada dalam keadaan yang tidak sadar atau tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Jika mabuk berarti ada pengaruh alkohol yang bekerja dalam darah, maka kepenuhan Roh berarti ada RK dalam hati. Kepenuhan Roh bukan meliputi manifestasi mistis yang khusus tapi hubungan moral dengan Allah dan sesama.
Ef. 5:18b: ‘Hendaklah kamu penuh dengan Roh’ mempunyai beberapa implikasi sbb:
• Bentuknya perintah langsung.
• Kata kerjanya jamak, artinya kepenuhan Roh bukan hak tapi tugas kepada semua orang percaya.
• Kata ‘dipenuhi’ berbentuk pasif artinya kita menyerah tanpa syarat kepada kehendak-Nya. Walaupun demikian di dalam penyerahan diri untuk dibentuk oleh RK, kita berperan aktif menjalankan kehendak-Nya itu. Sebagaimana orang mabuk karena minum, kita dipenuhi Roh karena minum juga dari Yoh. 7:37.
• Bentuk kata kerjanya adalah bentuk masa kini yang terus menerus. Artinya kepenuhan Roh bukan terjadi hanya sekali, melainkan suatu upaya untuk memilikinya terus menerus secara bertambah-tambah. Jadi kegagalan dan keburukan perbuatan dari banyak orang percaya membuktikan bukan akan perlunya mereka dibaptis dalam RK, tapi perlu untuk menemukan kembali kepenuhan Roh yang telah hilang dari diri mereka akibat dosa (satu baptisan Roh, banyak kepenuhan).

Pertanyaannya, bagaimana supaya dipenuhi Roh terus menerus dan bertambah-tambah?
Paulus memberikan petunjuk dalam Ef. 1:17-19. Ada ordo atau urutan yang harus dipenuhi yaitu:
• Penerangan
• Pengertian
• Iman
• Pengalaman
Karena iluminasi atau penerangan dari RK maka kita tahu dan oleh iman kita menikmati apa yang kita ketahui. Pengalaman iman kita karenanya dipengaruhi sekali oleh pengetahuan hati kita. Selanjutnya makin banyak yang kita ketahui, makin besar kecakapan rohani kita dan makin besar tanggung-jawab kita kepada Allah dan sesama karena iman.
Perlu dicermati gejala-gejala yang bersifat jiwani (psikologis) yaitu pengalaman berasal lebih dari jiwa insani daripada karena Roh Allah. Ucapan-ucapan yang tidak disadari oleh otak dan berulang-ulang terkenal di kalangan orang Hindu, Mormon, dan penganut kalangan agama lain, juga di beberapa keadaan medis. Menghadapi keadan seperti itu Alkitab mengajarkan kita untuk menguji segala sesuatu, khususnya ‘menguji roh-roh’ (1 Tes. 5:21; 1 Yoh. 4:1). Sekali lagi tolok ukur kita hanyalah Alkitab saja.

Bab 3: Buah Roh
Karunia Roh atau baptisan RK akan menghasilkan buah-buah Roh. Buah-buah Roh adalah (Gal. 5:22-23). Ada 9 buah Roh yang dapat digolongkan menjadi 3 sekawan yang menggambarkan hubungan kita dengan Allah (kasih, sukacita, damai sejahtera), dengan sesama (kesabaran, kemurahan, kebaikan), dan dengan diri sendiri (kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri). Sekali lagi, bukti nyata karya RK dalam manusia bukanlah pengalaman-pengalaman yang emosional, subjektif, melainkan sifat-sifat moral kristiani yang tercakup dalam 9 buah Roh sehingga dapat hidup dalam kesesuaian dengan Allah dan sesama dalam pengawasan diri yang kuat.

Bagaimana caranya agar hidup kita berbuah?
Hidup yang berbuah adalah hidup yang semakin mirip dengan karakter Kristus. Keserupaan dengan Kristus bersifat supra-alami dalam asalnya (dari RK) tetapi bersifat alami dalam pertumbuhannya (kita yang berperan aktif). Sebagai ilustrasi walau tidak tepat benar tapi dapat memberikan gambaran yaitu ketika seorang anak akan memulai sebuah bisnis. Dalam memulai bisnis, ayahnya memberikan modal kerja dan bimbingan kepada anaknya, tetapi keputusan-keputusan strategis adalah tanggung-jawab sang anak. Agar dapat berhasil dalam usahanya, sang anak wajib untuk ‘berguru dan belajar’ dari sang ayah. Sayangnya, untuk belajar dari sang ayah memerlukan pengorbanan yang banyak yaitu menyangkal diri dan rela membayar harganya. Harganya macam-macam, bisa berupa teguran berulang-ulang, keluar dari zona nyaman, merubah pola pikir dan tradisi, harga diri yang tercabik karena merendahkan diri, dll. Seberapa banyak sang anak dapat belajar dari ayahnya, sebanyak itu pula keberhasilan bisnisnya.
Sang anak adalah gambaran saudara dan saya, sedangkan ayah menggambarkan Kristus melalui Firman Tuhan. Modal dan bimbingan sudah diberikan, pertanyaannya seberapa jauh kita mau merendahkan diri dan patuh pada Firman-Nya, sebesar itulah buah-buah Roh akan kita dapatkan.

Bab 4: Karunia-karunia Roh
Karunia-karunia Roh berbeda dengan buah-buah Roh. Buah-buah Roh adalah hasil yang kita dapatkan ketika kita rela menyangkal diri dan menyesuaikan seluruh hidup ke dalam prinsip-prinsip kebenaran Alkitab. Karunia-karunia Roh adalah pemberian dari Tuhan sebagai akibat pertobatan pribadi untuk memampukan orang itu melakukan pelayanan yang khusus dan sesuai. Jadi setiap orang percaya minimal mempunyai sebuah karunia (bisa lebih).
Dalam PB ada 4 daftar karunia rohani yaitu Kor. 12 (13 karunia), Roma 12:3-8 (7 karunia, 5 yang lain), Ef. 4:7-12 (5 karunia, 2 yang lain), dan 1 Pet. 4:10-11 (2 karunia, 1 yang lain). Jadi paling sedikit ada 20 karunia dalam PB.

Hubungan antara karunia rohani dengan bakat alami
Bakat-bakat alami diberikan Allah kepada semua orang, tetapi karunia rohani hanya diberikan pada orang percaya. John Owen membedakan karunia rohani menjadi dua macam yaitu karunia yang mengatasi segala kuasa dan kecakapan akal budi manusia (supra-alamiah) dan karunia yang memperbaiki dan meningkatkan kecakapan-kecakapan akal (alamiah) manusia. Satu prinsip paling penting adalah semua karunia rohani ditujukan bagi kepentingan-Nya bukan kepentingan pribadi.
Berkaitan dengan karunia rohani yang supra-alamiah, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah karunia mujizat masih ada? Walau ada pendapat lain, mujizat masih ada sebab siapakah manusia yang mengatakan apa yang harus atau tidak dilakukan-Nya?. Dia adalah Allah yang berdaulat dan bebas melakukan apa yang diinginkan-Nya.
Tetapi, masalahnya apa beda mujizat dan providensia (pemeliharaan) Allah??.
Mujizat adalah kejadian yang luar biasa, yang sifatnya supra natural.
Pemeliharaan Allah adalah pemeliharaan Allah pada manusia melalui proses sejarah alam setiap saat.
Ketika kita melihat Allah bekerja setiap saat, maka kita akan sadar bahwa segala penyembuhan adalah penyembuhan Ilahi, terlepas apakah kesembuhan itu melalui medis atau melalui doa. Baik medis maupun doa, keduanya adalah sekedar sarana bagi kesembuhan Ilahi.
Yang menjadi masalah adalah ketika manusia berupaya untuk ‘mengintervensi’ Allah dengan menggunakan ‘iman’ untuk menuntut bahkan meng-klaim memakai nama Yesus agar suatu mujizat terjadi. Mereka lupa bahwa Allah berhak untuk menolak doa mereka. Mereka lupa bahwa Yohanes Pembaptis yang disebut Yesus sebagai orang tebesar dalam PL, secara khusus dikatakan bahwa dia tidak pernah membuat mujizat (Yoh. 10:41).

Penutup
Ada sebagian orang yang percaya bahwa mujizat terjadi setiap hari bahkan setiap saat. Mereka lupa bila mujizat terjadi setiap saat, artinya mujizat itu bukan lagi keadaan yang supra natural karena sudah menjadi kejadian biasa tiap-tiap hari. Jadi pandangan yang sehat akan mujizat adalah mujizat adalah hak Allah yang berdaulat. Kita percaya bahwa Allah pernah melakukannya dan masih melakukan mujizat hari ini (dalam konteks pemeliharaan-Nya). Oleh karenanya sah-sah saja ketika berada dalam masalah besar (misal. sakit keras) kita berharap mujizat atau intervensi Allah langsung untuk menyembuhkan penyakit kita. Hanya, ketika Allah tidak menjawab permintaan kita, jangan kita kecewa dan menyalahkan Dia. Secara konkrit sepanjang sejarah Allah melakukan mujizat untuk meneguhkan kebenaran-kebenaran-Nya yang ditulis dalam Alkitab. Dengan kata lain kita harus melihat mujizat dalam perspektif redemptive revelation (sejarah penebusan). Allah tidak memberikan mujizat bagi kepentingan pribadi melainkan dalam koridor keselamatan. Jadi ketika kita mengalami mujizat hari ini, bersyukur dan bertanyalah kepada-Nya, apa yang harus kita lakukan untuk memuliakan nama-Nya dan melayani orang lain.

Pengantar Riset Kuantitatif & Kualitatif

Pendahuluan

Pdt. Andreas Bambang Subagyo, Ph.D. mendapat gelar B.Th (1972) dari STBI, B.A. (1980) dari IKIP Negeri Semarang, M.Div. (1982) dari STBI, Sarjana pendidikan (1985) dari UKSW, M.A. (1988) dari Southwestern Baptist Theological Seminary, dan Ph.D (1993) dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Texas. Beliau sekarang mengajar sebagai dosen paruh waktu di sejumlah STT dan sebagai praktsi pemberdayaan orang dewasa di Semarang.
Buku setebal hampir 500 halaman ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu konsep-konsep dasar, proposal dan pelaksanaan, dan pelaporan. Masing-masing bagian tersebut kemudian dibagi lagi menjadi beberapa bab/pasal sehingga total mencapai 12 bab.


Bagian I: Konsep-konsep Dasar

Bab 1: Arti dan Fungsi Penelitian

Penelitian dilakukan berdasarkan salah satu dari paradigma positivis atau paradigma post-positivis.
Paradigma positivis mempunyai paradigma bahwa realitas dan apa yang benar adalah tunggal, konkret, dan dapat dibagi-bagi; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui terlepas satu sama lain; generalisasi yang bebas dari waktu dan konteks dapat dilakukan; hubungan sebab-akibat dapat dipastikan karena ada itu penyebab yang nyata; nilai tidak berperan karena penelitian itu bebas nilai. Positivisme mempunyai dua sisi yaitu bersifat logis dan empiris sehingga riset adalah mengetahui dan atau berpikir ilmiah.
Paradigma post-positivis mempunyai paradigma bahwa realitas adalah lebih dari satu (jamak), merupakan bentukan, dan holistik; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak terpisahkan dan interaktif; generalisasi yang bebas waktu dan konteks tidak dimungkinkan sehingga hipotesis yang dibuat terikat waktu dan konteks; tidak ada penyebab yang sebenarnya karena semua entitas saling membentuk; penelitian itu terikat pada nilai.
Permasalahan bagi penelitian teologi adalah apakah penelitian teologi itu menggunakan pendekatan positivis atau post-positivis. Pada batas-batas tertentu penelitian teologi mempunyai ciri-ciri paradigma positivis, namun hanya mengandalkan paradigma positivis belaka tidaklah memadai. Demikian juga hanya mengandalkan paradigma post-positivis tidaklah memadai. Harus diingat bahwa penelitian teologi mempunyai pra-anggapan (misal. ada kuasa adi kodrati) yang mempengaruhi pra-anggapan tentang nilai, pengetahuan, logika, sejarah dan bahasa. Dapat dikatakan bahwa penelitian teologi mencakup berbagai metode penelitian ilmu-ilmu lainnya sehingga diperlukan pembelajaran metode-metode teologi dan metode-metode ilmu lainnya yang relevan dengan bidang teologi. Jadi dalam bidang keagamaan, penelitian dilakukan untuk kepentingan pelayanan, yaitu untuk melayani Allah dan manusia.

Bab 2: Ancangan dan Rancangan Penelitian

Sesuai dengan paradigma penelitian (positivis atau post-positivis), ada dua ancangan penelitian yang dapat dipilih yaitu ancangan positivis (kuantitatif) dan ancangan naturalis (kualitatif).
Ancangan positivis (kuantitatif) berpendapat bahwa satu-satunya metode ilmiah sejati untuk memperoleh pengetahuan adalah metode hipotesis-deduktif, yitu menggunakan metode ilmiah dengan prosedur langkah demi langkah dalam memecahkan masalah atas dasar pengamatan empiris.
Ancangan naturalis (kualitatif) berdasar pada metode kualitatif dan deskriptif untuk mengumpulkan data, menghasilkan hipotesis, dan kesimpulan umum sebagai bagian dari prosesnya.
Untuk penelitian teologi, Rothery menyarankan penggabungan kedua ancangan itu dengan memanfaatkan pandangan naturalis tanpa membuang pandangan positivis. Pandangan ini mengakui adanya dua realitas, yaitu realitas objektif dan realitas subjektif.
Dalam pengertian luas, rancangan penelitian menunjuk pada semua prosedur yang dipilih untuk menyelidiki sekumpulan pertanyaan atau hipotesis, hubungan kausal (jika ada) di antara variabel atau gejala yang diselidiki. Penulis buku membahas jenis-jenis rancangan penelitian ini dalam bab 3-bab 6 di bawah ini.


Bab 3: Penelitian Eksperimental dan Kuasi-Eksperimental

Penelitian eksperimental dan kuasi-eksperimental (penelitian yang menggunakan eksperimen dan kuasi-eksperimental sebagai strategi) mencakup variabel bebas dan variabel terikat. Perbedaan di antara keduanya adalah dalam hal tingkat pengendalian eksperimennya.
Dalam penelitian eksperimental, pengendalian variabel sangatlah penting. Peneliti menjaga agar tidak ada pengaruh lain yang masuk kecuali variabel bebas. Berarti eksperimen dijaga agar valid secara internal (agar dapat disimpulkan bahwa variabel bebas menyebabkan perubahan pada variabel terikat) dan eksternal (dapat menarik kesimpulan umum terhadap populasi).
Sedangkan dalam penelitian kuasi-ekperimental, variabel bebas dapat muncul secara alami maupun karena diatur oleh peneliti. Pembagian kelompok secara acak mungkin tidak dapat dilakukan. Untuk meningkatkan rancangan, subyek dapat disepadankan.
Rancangan penelitian eksperimental dalam arti sempit tidak dapat digunakan untuk penelitian teologi, namun dapat digunakan dalam studi keagamaan. Misalnya mengadakan eksperimen mengenai ibadah dengan nyanyian kontemporer atau penyajian khotbah menggunakan multimedia.


Bab 4: Penelitian Kuantitatif Bukan Eksperimential

Penelitian kuantitatif bukan eksperimental sangat beragam jenisnya ditinjau dari berbagai segi misalnya dari tujuan secara umum atau secara khusus atau dari sifat variabel bebasnya. Jenis-jenis penelitian ini adalah:

• Penelitian survey.
Survey adalah penelitian yang sampelnya diambil dari satu populasi dengan keusioner, wawancara, dan pemeriksaan catatan sebagai sumber pengumpulan data pokok. Ada dua macam survey, yaitu cross-sectional (sensus) dan longitudinal.
• Penelitian pengamatan sistemik.
Melakukan pengamatan langsung dalam situasi yang sebenarnya tanpa diketahui subyeknya; atau jika subyeknya dilibatkan, dia diminta untuk melakukan peran tertentu dalam kelompok yang diamati.
• Analisis isi.
Yaitu sebuah teknik riset untuk menggambarkan isi yang tampak dalam bentuk komunikasi apapun secara obyektif, sistematik, dan kuantitatif.
• Penelitian kausal komparatif.
Penelitian ini menyelidiki hubungan kausal di antara variabel sebelum eksperimen dilakukan atau sebagai pengganti eksperimen.
• Penelitian korelasional.
Penelitian ini lebih dalam meneliti variabel bebas dan analisa data yang didapatkan. Hasil penelitian dilakukan dengan statistik korelasional.
• Penelitian untuk prakiraan.
Bertujuan untuk menetapkan tingkat kemungkinan bahwa sesuatu dapat terjadi di masa datang dengan meneliti kemampuan suatu variabel untuk memperkirakan suatu variabel kriterion.
• Penelitian evaluasi.
Evaluasi adalah kegiatan yang luas dan penting untuk merancang, menjalankan, dan memeriksa keguanan program-program kemasyarakatan dan hasilnya akan mempengaruhi kebijakan sosial dan memberikan jawaban atas hasil yang dicapai.
• Penelitian dan pengambangan.
Yaitu penerapan metode ilmiah untuk menciptakan sesuatu yang baru, yaitu proses yang berulang dan dimulai dari penetapan tujuan dan mutu produk. Produk dinilai, diperbaiki, dipakai lagi dan dinilai kembali.


Bab 5: Penelitian Kualitatif Bukan Eksperimental

Penelitian ini dipakai di bidang sosial dan humaniora, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu politik dan berbagai studi teologi.
Macam-macam penelitian kualitatif ilmu sosial dan humaniora:
• Grounded theory (metode perbandingan terus menerus).
Melakukan perbandingan terus menerus antara data dan kategori yang sedang muncul serta sampling teoritis dari kelompok yang berbeda untuk mempertegas perbedaan/persamaan informasi berdasar perspektif banyak subyek.
• Etnografi.
Menyelidiki satu kelompok kultural (suku) apa adanya dalam waktu yang lama melalui pengamatan.
• Fenomenologi.
Meneliti pengalaman manusia melalui penjelasan terperinci dari orang yang diselidiki (dari perspektif subyek).
• Studi kasus.
Menyelidiki sesuatu yang ada atau gejala yang diikat oleh waktu dan kegiatan, lalu mengumpulkan informasi terperinci dengan berbagai prosedur pengumpulan data selama waktu tertentu.
• Hermeneutik.
Yaitu interpretasi teks (makna tertulis) dengan menggunakan analisis tekstual dan interpretasi untuk mendapatkan makna dari teks.
• Metode biografi.
Melakukan penyelidikan pertama untuk mendapat sumber data, menggunakan arsip, dan mengembangkan suatu tema untuk mengintegrasikan kehidupannya.
• Penelitian partisipatif.
Yaitu studi sistematik mengenai usaha-usaha untuk mengubah dan menjadikan praktik pendidikan menjadi lebih baik melalui tindakan praktis dan refleksi atas akibat tindakan itu.
• Penelitian klinis.
Penelitian ini menekankan penggunaan banyak metode. Ciri utamanya adalah menentukan rancangan riset.

Riset Teologi Biblika
Yang dimaksud oleh penulis adalah eksegesis (memahami makna teks) dan kajian Alkitab (menyelidiki Alkitab dan bagian-bagiannya sebagai teks). Ada berbagai metode penelitian biblika, di antaranya adalah:
• Penerjemahan.
Penerjemahan adalah pemindahan teks kuno ke dalam bahasa modern dengan mempertahankan arti dan maksud asli penulisnya.
• Kritik teks.
Kritik teks adalah istilah umum yang menunjuk pada analisa ayat-ayat Alkitab atau semua metodologi yang diterapkan untuk menyelidiki teks biblikal. Jadi menyusun dan menetapkan teks asli sedekat mungkin.
• Kritik sumber.
Yaitu metodologi analisis dalam penyelidikan buku-buku biblikal untuk menemukan dokumen-dokumen yang telah dipakai dalam penyusunan wacana tertulis. Jadi menyelidiki ciri-ciri sebuah teks.
• Kritik bentuk.
Adalah analisis sebuah teks menurut bentuk-bentuk khas yang digunakan orang dalam konteks budaya tertentu.
Selain kritik-kritik di atas, ada berbagai bentuk kritik yang lain yaitu kritik redaksi (menyelidiki pesan dan maksud penulis dengan merekonstruksi situasi historisnya), kritik retorik (menyelidiki mengapa penulis menulis teks dan bagaimana dia menjadikan teks itu), kritik naratif (analisis kitab-kitab sebagai karya sastra yang utuh), kritik strukturalisme, kritik tanggapan pembaca, kritik dekonstruktif, kritik feminisme, dan kritik sosial. (hal 125-140)
• Penyelidikan Alkitab.
Penyelidikan Alkitab dapat menggunakan dan memadukan kritik-kritik di atas untuk mengetahui kebenaran Alkitab. Penulis memberikan 12 metode penyelidikan Alkitab yaitu model pertanyaan-pertanyaan pokok, model kanonik-historis, sintesis, kritis, biografis, historis, teologis, retoris, topikal, analitis, perbandingan, dan devosional. (hal. 140-145)
Salah satu penelitian teologi yang sangat penting adalah penelitian teologi sistematik. Penelitian ini adalah refleksi berdasar data Alkitab yang bertujuan untuk memformulasikan dan mereformulasikan ajaran secara kritis. Sitematika memberikan pernyataan doktrin-doktrin iman kristen yang berkaitan secara logis, berdasar Alkitab, dalam konteks budaya, dinyatakan dengan ungkapan kontemporer, dan berkaitan dengan masalah kehidupan atau kematian.
Penelitian teologi lain yang sangat penting adalah teologi praktika. Teologi praktika adalah bentuk pemikiran tentang kehidupan dengan maksud menjelaskan struktur dan kecenderungan pengalaman. Praktika bersifat komunal karena refleksinya dilakukan dalam masyarakat yang nyata. Praktika bersifat analitis, konstruktif, dan evaluatif.


Bab 6: Penelitian Kesejarahan

Penelitian sejarah adalah pencarian sistematis mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan pertanyaan tentang masa lampau dan penafsiran fakta. Penelitian sejarah berhubungan dengan sejarah sosial dan sejarah kebudayaan. Agar makna dan hubungan antar-peristiwa dapat ditemukan secara tepat, peneliti harus mendekati peristiwa-peristiwa itu sedekat mungkin sehingga dapat direkonstruksi sebaik mungkin.


Bagian II: Proposal

Tahapan-tahapan riset terdiri dari perancangan, penulisan proposal, pelaksanaan riset, pelaporan dan presentasi. Format proposal penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat di halaman 175-178.

Bab 7: Masalah

Masalah yang terjadi adalah penyebab terjadinya penelitian. Masalah timbul bukan hanya yang dialami dalam praktek melainkan juga ketika ada dua teori yang saling bertentangan, bahkan hal-hal yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap bukan masalah. Walaupun demikian, kebanyakan masalah harus dicari melalui pengamatan, pengalaman, dan pemikiran (walau dapat secara kebetulan). Masalah penelitian bisa didapatkan bertolak dari teori, teologi, atau filsafat. Bidang yang dipilih adalah bidang yang paling menarik bagi peneliti. Setelah itu pokok persoalan (yang dibatasi luasnya) ditentukan dengan memikirkan variabel atau konsep-konsep dalam bidang studi itu. Misalnya bidang teologi memilih konsep ‘tritunggal’, bidang biblika memilih ‘dalam nama Yesus’, bidangpsikologi agama memilih ‘pengalaman puncak’.
Pernyataan masalah dapat ditulis dengan cara diskusi, proposisional, atau gabungan keduanya. Pernyataan masalah hendaknya lengkap tidak hanya berupa pokok dan jelas sehingga tidak disalah mengerti tetapi singkat.
Kata pendahuluan berfungsi untuk memberikan latar belakang permasalahan dan mengantarkan pembaca ke pernyataan masalah penelitian. Pembahasan dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal yang makin sempit dan khusus.
Pernyataan masalah perlu diikuti dengan penjelasan istilah. Istilah yang perlu dijelaskan adalah istilah yang pokok, kata-kata yang tidak biasa, konotasi tertentu dan variabel-variabel.
Setelah peneliti menentukan masalah penelitian, menetapkan, menjelaskan dan memberikan batasan operasional terhadap variabel-variabel, peneliti perlu mencari suatu hubungan di antara variabel-variabel itu. Hal ini disebut hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan deklaratif yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan tertentu di antara dua atau lebih variabel yang dapat diuji. Dalam mengembangkan hipotesis, peneliti perlu mempertimbangkan hubungan yang diharapkan di antara variabel-variabel tersebut. Contoh hipotesa: keanggotaan gereja meningkat jika identifikasi anggota gereja meningkat.
Tujuan utama tinjauan kepustakaan adalah untuk mengembangkan kerangka kerja dan alasan penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan kepustakaan menentukan apakah hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ditetapkan sudah cukup diselidiki atau belum (kepatutan penelitian), membantu menghasilkan hipotesis dan pertanyaan penelitian. Bahan-bahan yang terkumpul perlu dipadukan sehingga menghasilkan sintesis kepustakaan yang logis dan kait mengkait dengan masalah penelitian.
Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dengan cara tertentu untuk menjawab pertanyaan penelitian yang dikemukakan sebagai sasaran penelitian. Sasaran penelitian dapat mempunyai tujuan utama (maksud pokok penelitian) dan tujuan-tujuan spesifik (isu-isu spesifik yang akan diteliti). Kepentingan penelitian akan menjawab pertanyaan ‘so what?’ yang menjelaskan apa yang disumbangkan penelitian secara teoritis dan praktis terhadap dunia ilmu pengetahuan.


Bab 8: Metode

Di dalam metode, rancangan penelitian dan variasinya yang akan dilaksanakan harus dijelaskan, termasuk strategi atau metode yang akan digunakan beserta alasan pemilihannya. Jadi peneliti merancang riset dari awal sampai menjelaskan bagaimana dan dari mana data dikumpulkan. Dalam metode penelitian kuantitatif, data dapat dikumpulkan melalui administrasi instrumen (kuesioner, skala, tes), observasi dan pemeriksaan dokumen. Sedangkan secara kualitatif, data dikumpulkan melalui pengamatan dan pemeriksaan dokumen dan wawancara. Peneliti perlu memutuskan bagaimana melakukan pengujian terhadap validitas (isi, prakiraan), realibitas (konsistensi internal), prosedur penggunaan metode beserta alatnya dan bagaimana data yang diperoleh akan diperagakan.
Rancangan apapun yang dipilih memerlukan sumber data. Penelitian kuantitatif mendapatkan data dari populasi dan sampling, sedangkan penelitian kualitatif memperoleh data dari tempat penelitian atau partisipan. Populasi yang dipilih harus diberi batas secara jelas. Ketika populasi yang dipilih besar jumlahnya, sampel dapat dipilih, tetapi jika populasi yang diteliti kecil, keseluruhan populasi dapat digunakan. Prinsip yang penting mengenai sampel adalah benar-benar mewakili populasi bukan karena alasan lain. Sproull menyatakan empat metode pengumpulan data yaitu wawancara, administrasi instrumen, observasi, dan pemeriksaan dokumen tertulis. Pemakaian lebih dari satu metode sangat dianjurkan untuk menutupi kelemahan sebuah metode dengan metode yang lain.
Alat-alat pengumpulan data seperti kuesioner, daftar wawancara, skala, dll biasanya dibuat sendiri dan harus memenuhi tiga syarat yaitu valid (mampu berfungsi sesuai tujuan), reliabel (hasilnya dapat dipercaya), obyektif (jika diulang akan menghasilkan hasil yang sama).


Bab 9: Analisis

Bagian analisis meliputi uraian mengenai jenis analisis data yang akan dilakukan dan alasan pemilihannya, rencana penyajian data, prosedur analisis dan penyajian hasil analisis, ketentuan-ketentuan mengenai penafsiran hasil analisis dan evaluasi. Prosedur analisis data perlu dipastikan sesuai dengan data kuantitatif atau data kualitatif. Hal ini akan menentukan jenis analisis data yang dipakai, statistikal atau bukan statistikal. Penelitian yang memakai hipotesis memerlukan analisis statistik karena hipotesis itu perlu diuji.
Analisis data kuantitatif menggunakan analisis statistik. Ada empat tingkat pengukuran yang dilakukan yaitu:
• nominal, yaitu mengenakan angka pada obyek atau peristiwa yang tergolong secara timbal balik, eksklusif dan eksostif.
• ordinal, yaitu mengenakan angka yang berurutan pada objek atau peristiwa yang dapat ditempatkan dalam kategori ekslusif timbal balik dan dapat disusun dalam skala ‘lebih besar atau lebih kecil dari’.
• interval, yaitumengenakan angka pada objek atau peristiwa yang dapat dikelompokkan, dapat disusun dan jarak antara unit-unitnya dianggap setara.
• rasio, yaitu mengenakan angka pada objek atau peristiwa yang dapat dikelompokkan, disusun, dan jarak antara unit-unitnya dianggap setara.
Bila peneliti menggunakan analisis data kuantitatif, dia harus memilih memakai statistik parametrik (uji statistik untuk hipotesis yang berkaitan dengan parameter seperti mean dan karelasi) atau bukan parametrik ((uji statistik yang tidak memerlukan pra-anggapan uji parametrik dan jenis data interval). Pengambilan keputusan mengenai statistik mencakup dua jenis fungsi statistik, yaitu statistik deskriptif dan inferensial.
Penelitian kualitatif erat hubungannya dengan pengumpulan data berupa data deskriptif harus dianalisis agar dapat diartikan. Proses analisis data kualitatif mengubah sifat data dan mencakup tiga sub proses yaitu:
• deskripsi, yaitu mencatat data apa adanya dan menjawab pertanyaan ‘apa yang terjadi di sini?’.
• analisis, yaitu membahas identifikasi ciri-ciri objek serta menjelaskan secara sistematis hubungan di antara ciri-ciri itu dengan singkat dan bagaimana objek beroperasi.
• interpretasi, membahas pertanyaan ‘apa arti semuanya itu?, apa yang harus dilakukan?’ terhadap konteks dan makna sebagai kelanjutan dari penemuan.

Dalam penyajian data perlu dijelaskan bagaimana cara mempersiapkan data agar dapat dianalisis, cara mengatur data, dan cara menggambarkannya. Penyajian data dapat berupa tabel, visual, analisa naratif, dll. Sementara itu pada penafsiran dan evaluasi, penulis menjelaskan cara penafsiran yang telah ditentukan dan akan dilakukan. Bagaimana validitas simpulan itu dipastikan, harus dipastikan penafsirannya valid.
Penafsiran dan penyajian tidak dapat dipisahkan karena orang melakukan penafsiran pada waktu menyajikan hasil. Rancangan kualitatif hanya menyajikan rencana jawaban atas setiap pertanyaan penelitian karena tidak ada uji hipotesis. Oleh karenanya, peneliti harus menyatakan rencana penyajian hasil penafsiran. Simpulan rancangan kualitatif seharusnya mencakup langkah-langkah verifikasi, penentuan ketepatan laporan, dan menunjukkan kemungkinan pengulangan studi oleh orang lain. Dengan demikian, validitas penelitian dapat dipertanggung-jawabkan.


Bab 10: Perencanaan Waktu Pelaksanaan, Unsur Lain, dan Penulisan Proposal

Dalam melakukan penelitian, rencana pelaksanaan dan waktu penulisan harus direncanakan dengan baik dan realistis sesuai dengan keadaan dan kemampuan peneliti.
Sproull menyerankan pemakaian bagan PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Method) untuk memperkirakan waktu. Langkah-langkahnya sbb:
• Menetapkan setiap kegiatan pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan. Meliputi mendapatkan sumber data, menyiapkan alat pengumpul data, mengumpulkan data, menganalisa data, membuat laporan, dan menyajikan hasil secara lisan.
• Mendaftar kegiatan yang bergantung dan tidak bergantung kepada penyelesaian kegiatan-kegiatan sebelumnya.
• Membuat bagan kegiatan-kegiatan yang bergantung kepada rangkaian waktu.
• Membuat bagan kegiatan-kegiatan yang berdiri sendiri pada waktu yang tepat dan selaras.
• Menghubungkan bagan kegiatan-kegiatan dengan garis.
• Menentukan perkiraan waktu untuk setiap kegiatan dan menempatkannya pada bagan.
• Menjumlahkan perkiraan waktu dalam setiap alur.
• Menentukan alur dengan jumlah perkiraan waktu yang terbanyak sebagai alur kritis dan mencantumkannya dalam bagan dengan garis tebal dan keterangan. (285-334)

Penulisan dan penyerahan proposal sangat penting karena untuk mendapatkan izin dan atau mendapat dana untuk penelitian bergantung pada seberapa baik proposal yang ditulisnya. Proposal adalah penuangan hasil merancang riset dalam bentuk tulisan secara ringkas dan jelas. Penulis memberikan 14 langkah-langkah penulisan proposal di halaman 335. Beberapa di antaranya sbb:
• Mengantarkan pembaca kepada masalah.
• Menetapkan masalah dan atau tujuan atau maksud atau arah.
• Mendefinisikan masalah.
• Mempersiapkan analisa data dan penafsiran hasil analisis.

Contoh usulan penelitian secara lengkap ada pada halaman 346-409.
Bagian III: Pelaksanaan dan Pelaporan

Bab 11: Pelaksanaan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ada etika penelitian yang harus dipegang misalnya etika masyarakat akademis, etika sponsor, dan etika perguruan tinggi. Macam-macam etika dalam perilaku ilmiah adalah:
• Etika berkenaan dengan kebersamaan ilmuwan, yaitu mengakui sumber kutipan, peran orang lain, dan tidak merahasiakan hasil penelitiannya.
• Etika berkenaan dengan kepentingan pengetahuan, yaitu menjaga motif penelitian secara profesional.
• Etika berkenaan dengan keterbukaan, yaitu kritis dan jujur terhadap penelitian diri sendiri dan orang lain.
• Etika berkenaan dengan ketidakberpihakan, yaitu mengambil keputusan berdasar nilai ilmiah, bukan karena favoritisme.

Penulis meringkaskan sembilan langkah pelaksanaan proposal sbb:
• Membuat, memperbaiki, memilih, dan menguji coba alat pengumpulan data.
• Memilih sampel.
• Membuat kesepakatan dengan subyek.
• Mengumpulkan data.
• Mengatur dan meringkas data.
• Menganalisa data.
• Menguji hipotesa dan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.
• Memriksa penemuan tidak terduga.
• Meringkaskan penemuan-penemuan dan menafsirkannya.


Bab 12: Penulisan Laporan Penelitian

Inilah langkah terakhir dalam proses penelitian tapi bukan berarti kurang penting. Bagaimanapun baiknya penelitian dan hasil-hasilnya, bila tidak disajikan dan dikomunikasikan dengan baik akan menjadi kurang berarti.
Laporan penelitian biasanya dapat dikualifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu laporan penelitian lengkap, artikel penelitian terpisah, dan laporan ringkas. Laporan penelitian ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik, sponsor penelitian, dan masyarakat luas.
Isi laporan penelitian biasanya meliputi empat bagian utama yaitu masalah, metode, penemuan, dan pembahasan. Sedangkan halaman depan meliputi halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar ilustrasi, halaman persembahan, halaman moto, halaman pengesahan, pengantar, dan abstrak.
Bagian-bagian utama laporan penelitian dimulai dengan pendahuluan. Pendahuluan meninjau masalah penelitian dan menunjukkan kepentingan praktis dan teoritis peneliktian. Di dalam pendahuluan dapat dimasukkan sintesis kepustakaan yang menunjukkan pokok permasalahan dan keadaan pengetahuan mengenai masalah itu sampai saat ini.
Metode penelitian meliputi semua keterangan mengenai bagaimana penelitian dijalankan dan mencakup penjelasan mengenai rancangan penelitian serta pemakaiannya, penjelasan mengenai populasi, prosedur dan besar sampel, penjelasan terperinci metode pengumpulan data, penjelasan lengkap eksperimen atau prosedur pengumpulan data, penjelasan terinci analisis yang dipakai dan prosedurnya, pernyataan mengenai keterbatasan dan pra-anggapan, dan penjelasan singkat mengenai masalah yang tidak diharapkan, yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian.
Penyajian penemuan di awali dengan penyajian data diikuti penemuan-penemuan atau hasil analisis yang disajikan dengan tepat dan jelas. Data-data dikelompokkan, diatur, dan dipilah sesuai dengan masalah penelitian. Hasil uji setiap hipotesis disajikan satu per satu. Baik hasil analisis data secara kuantitatif atau kualitatif harus disajikan sedemiikian rupa agar mudah dipahami pembaca.
Bagian pembahasan penemuan dapat dimulai dengan ringkasan masalah dan metode penelitian dan tinjauan mengenai temuan-temuan penelitian yang penting. Setelah itu arti penemuan atau penafsiran hasil analisis data dibahas dalam sintesis kepustakaan. Perincian isi pembahasan penemuan bergantung pada sifat penemuan dan yang telah dikatakan sebelumnya mengenai penemuan itu serta pada paradigma rancangan penelitian.
Bentuk laporan penelitian dapat berbentuk laporan penelitian historis (tidak ada format baku, masalah dan topik menentukan bagaimana penyajian penemuan tersebut), laporan penelitian kuantitatif (berbentuk penuturan penelitian), dan laporan penelitian kualitatif (berbentuk kisah penelitian).


Penutup

Sebagai panduan riset, buku ini memberikan suatu fondasi yang kokoh dan memberikan satu penggambaran proses melakukan riset dari proses pertama sekali sampai akhir penyelesaian penelitian. Isi buku sangat lengkap memberikan informasi, teori, dan contoh praktis melakukan penelitian, terutama bagi peneliti junior yang masih sangat terbatas pengetahuannya tentang penelitian.
Kekurangan dari buku ini menurut hemat saya adalah rumitnya penjelasan yang diberikan. Sebenarnya buku ini sangat sistematis, hanya penjelasan yang diberikan cenderung rumit karena penulis mengutip berbagai pendapat dari para ahli di mana banyaknya kutipan mereka akhirnya mengaburkan poin yang hendak disampaikan. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menangkap maksud dari penulis, dibutuhkan konsentrasi dan usaha yang besar untuk memahami buku ini. Walaupun begitu sebagai buku pegangan mata kuliah metodologi penelitian pasca sarjana, buku ini sangat memadai. Persoalan lebih besar akan timbul ketika buku ini digunakan untuk tingkat sarjana.

Wednesday, November 11, 2009

Adoniram Judson, Suluh Allah di Birma

Pendahuluan

Kehidupan Adoniram Judson sungguh bagaikan kombinasi antara sebuah kebun bunga yang indah dengan sebuah hutan belantara yang ganas. Kesombongan masa muda, transformasi hidup, panggilan, badai kehidupan yang mengambil ke-dua istrinya dan beberapa anaknya, kesetiaan dan cintanya pada Kristus sampai ia menyerahkan nyawanya sungguh sebuah kisah yang sangat menggetarkan dan mengharukan. Keteladanan Adoniram Judson kiranya dapat menjadi kerinduan yang membakar hati setiap anak Tuhan yang membaca kisahnya, terutama di masa kini di mana kata ‘pengorbanan’ hanyalah menjadi sekedar kata-kata kosong tanpa makna. Untuk mendapatkan gambaran secara jelas, penulis memutuskan untuk membagi kisah hidup Adoniram Judson dalam beberapa bagian.

1. Asal Usul.
Kakek Adoniram Judson, William Judson adalah seorang Puritan warga negara Inggris yang pindah ke Amerika Serikat pada 1634 untuk mendapatkan kebebasan beragama. William mempunyai tiga orang anak yaitu Joseph, Jeremiah, dan Joshua. Dari ketiga bersaudara itu, Joseph-lah yang memperanakkan Adoniram Judson, yang kelak menjadi pendeta gereja Kongregasional. Adoniram menikah dengan seorang wanita yang bernama Abigail Brown pada 23 November 1786. (1). Pada 9 Agustus 1788 lahirlah anak pertama mereka yang diberi nama sama dengan ayahnya, Adoniram Judson di sebuah kota kecil bernama Malden di Massachusetts (2). Pada 21 Maret 1791, lahirlah Abigail Brown Judson. Kebahagiaan keluarga kecil ini mendapatkan ujian ketika dua minggu kemudian Adoniram senior mendapatkan kenyataan pahit diberhentikan sebagai pendeta di Malden. Setelah menunggu lebih dari satu tahun, pada 26 Desember 1792 Adoniram senior diterima untuk melayani di kota Wenham. Pada 28 Mei 1794, Adoniram junior mendapatkan seorang adik laki-laki yang bernama Elnathan dan seorang adik perempuan, Mary yang meninggal enam bulan setelah kelahirannya. Lima tahun kemudian (1799), Adoniram senior mengundurkan diri sebagai pendeta di Wenham dan melayani sebagai misionaris di Braintree, beberapa mil sebelah selatan kota Boston. Dua tahun kemudian Adoniram senior mendapat panggilan untuk menggembalakan jemaat di Plymouth (3).

2. Masa Kecil.
Adoniram Judson junior adalah seorang anak yang sangat cerdas. Pada umur tiga tahun dia sudah mulai belajar membaca dan mengejutkan ayahnya yang baru pulang dari sebuah perjalanan ketika mendengar Adoniram kecil membaca sebuah pasal dari Alkitab (4).

(1) Pitman, E. R. Ann H. Judson: Pahlawan Misi Wanita di Birma. Hal. 5.
(2) Judson, Edward. Adoniram Judson: A Biography. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/judson/judsontoc.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
(3) Anderson, Courtney. To the Golden Shore: The Life of Adoniram Judson. Michigan: Zondervan Publishing House, 1972. hal. 9-25.
(4) Harrison, Eugene Myers. Adoniram Judson: Apostle of the Love of Christ in Burma. Tersedia di http://www.reformedreader.org/rbb/judson/ajbio.htm; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
Selain cerdas, Adoniram juga sangat kritis, tekun dan mempunyai harga diri yang tinggi. Ketika berumur tujuh tahun ia diajarkan bahwa dunia beredar mengelilingi matahari. Dalam pikirannya ada sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya: apakah matahari itu bergerak atau tidak. Beberapa hari kemudian dia mencari jawabnya dengan berbaring terlentang menatap matahari. Ketika ayahnya menemukannya, kedua matanya membengkak dan hampir buta. Kejadian lain yang menarik adalah suatu hari seorang penduduk kota tetangga memberinya sebuah soal yang sangat sulit beserta janji hadiah $ 1 bila Adoniram berhasil memecahkannya. Hari itu juga dia mengurung diri di kamarnya dan besok paginya ketika dipanggil keluar dari ‘pengasingannya’ untuk menemani adiknya bermain, dia patuh pada orang tuanya walau dengan hati yang enggan. Di tengah permainan, tiba-tiba berteriaklah Adoniram: ‘itulah dia, saya sudah menemukannya’. Sambil berteriak, dia merobohkan mainan adiknya dan berlari ke kamarnya untuk mencatat jawabannya. Sebenarnya hal itu bukan hanya masalah uangnya tapi kehormatannya sebagai bintang pelajar yang paling diperdulikannya.
Di sekolah, guru-gurunya tercengang akan kemampuannya yang tinggi. Adoniram selalu menyapu habis kemenangan pada setiap kontes intelektual yang ada. Karena kepandaiannya, Adoniram bercita-cita tinggi untuk mencapai ketenaran dan kemuliaan duniawi sepeti Homer dan Alexander the Great. Jadi walau dibesarkan dalam keluarga kristen yang baik, dan diam-diam ayahnya ingin agar anaknya mengikuti jejaknya sebagai pendeta, Adoniram junior sama sekali tidak tertarik pada pelayanan bahkan dia tersenyum sinis akan ‘kurangnya’ imajinasi ayahnya akan kemampuannya (5).

3. Masa-masa Universitas.
Pada usia enambelas tahun, Adoniram mulai kuliah di Providence College (sekarang Universitas Brown). Masa tahun 1803 krisis iman kepercayaan yang dipicu oleh Perancis menyerbu Amerika dan universitas-universitas terkemuka seperti Yale dan Providence-pun merasakan dampak yang sangat besar akan gelombang skeptisisme tersebut. Adoniram sendiri juga tidak lepas dari pengaruh buruk itu. Pertemanannya dengan Jacob Eames, seorang persuasif ulung dan tidak beriman membawanya ke labirin kesangsian akan kebenaran firman Allah. Walaupun Adoniram lebih cerdas, namun soal kepercayaan terhadap Tuhan, ia mengakui terpikat oleh ide-ide skeptis Jacob Eames. “Jacob, saya setuju dengan kamu. Alkitab ternyata tidak berbeda dengan kitab suci agama lain. Yesus hanyalah seorang manusia moralis. Dia hanyalah seorang yang baik. Tidak lebih” adalah respon Adoniram kepada Jacob dalam satu perdebatan panjang (6).
Masa kuliah berhasil diselesaikan oleh Adoniram hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Ayahnya begitu bangga melihat anaknya menerima ijazah kehormatan sebagai juara dan mendengarnya berpidato secara memukau tanpa mengetahu bahwa anaknya telah tejerumus pada paham deisme.


(5) Boreham, F. W., Adoniram Judson’s Life Text. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/bjudson11.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
(6) Assa, Rudy N., Tokoh-tokoh Kristen yang Mewarnai Dunia. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2002. hal. 4-5.
4. Melarikan Diri Dari Hadapan Allah.
Pasca kelulusannya, dalam usia 19 tahun Adoniram kembali ke rumah orang tuanya di Plymouth. Tahun 1807 Adoniram junor membuka sebuah akademi swasta dan mengajar selama hampir satu tahun.
Selama itu dia juga menulis dan menerbitkan dua buah buku, ‘The Elements of English Grammar’, dan ‘The Young Lady’s Arithmetic’. Kehidupan kristiani di rumah orang tuanya dan gereja tentu bukan lingkungan yang kondusif bagi kehidupan ateisnya. Hal ini membuat Adoniram terpaksa berperilaku munafik di hadapan orang tuanya. Setiap hari minggu dia harus pergi ke gereja dengan hati yang jengkel sehingga akhirnya dia merasa tidak tahan lagi. Apalagi ketika ayahnya menawarkan padanya untuk melayani sebagai pendeta. Pertengkaran yang sengit terjadi dan berakhir ketika Adoniram junior mengatakan bahwa dia tidak percaya pada Alkitab dan keilahian Yesus. Segera setelah menutup akademinya, Adoniram berniat pergi mengembara ke New York, sebuah kota yang di cap amoral oleh gereja konggregasional.

5. Dipanggil dan Dikirim.
Setelah puas menikmati kota New York, Adoniram meneruskan petualangannya ke arah barat sebab ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak pulang ke rumah ayahnya. Pada suatu hari dia menginap di sebuah penginapan, namun hanya tersisa sebuah kamar yang besebelahan dengan kamar yang ditempati oleh seseorang yang sedang sakit keras. Sepanjang malam Adoniram mendengar suara-suara kesakitan dan rintihan ketakutan dari kamar sebelahnya. Tetapi bukan hal itulah yang mengganggunya melainkan sebuah pertanyaan apakah orang itu sudah siap menghadapi kematian. Merasa malu akan pikiran itu, Adoniram berpikir apa yang akan dikatakan oleh Jacob akan ‘kelemahan’ pikirannya itu. Malam itu, berapapun keras Adoniram bergumul, tetap pikirannya selalu kembali kepada orang yang sekarat di sebelah kamarnya itu.
Pagi harinya dia segera mencari pemilik penginapan untuk menanyakan kabar orang di sebelah kamarnya.
‘Dia sudah meninggal’ sahut pemilik penginapan.
‘mati!’
‘Ya, dia sudah meninggal, orang yang malang’
‘Tahukah anda, siapakah orang itu?’
“Oh ya, dia adalah seorang anak muda dari Providence College; namanya Jacob Eames’
Mendengar jawaban itu Adoniram terpana dan kata-kata: mati, kematian, terhilang terngiang-ngiang terus di dalam kepalanya. Dia tahu bahwa Alkitab benar, dia merasa kebenarannya dan dia merasa putus asa. Dalam perasaan yang bergejolak dia membatalkan niatnya melarikan diri dan memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya.
Adoniram tiba di Plymouth pada 22 September 1808 dan bulan depannya dia masuk ke Theological Instution di Andover. Dia dapat diterima di sana dengan sebuah pengecualiaan karena Adoniram bukanlah kandidat pendeta. Tanggal 2 Desember 1808 adalah hari istimewa karena Adoniram Judson mendedikasikan dirinya kepada Allah dan 28 Mei 1809 menggabungkan diri dengan gereja ayahnya di Plymouth (7).


(7) Judson, Edward. Adoniram Judson: A Biography. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/judson/judsontoc.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
Adoniram mulai menggumulkan dengan serius panggilan sebagai misionaris setelah membaca khotbah Dr. Claudius Buchanan yang melayani di India. Khotbah itu berjudul ‘Bintang di Timur’ yang diambil dari Matius 2:2. Dr. Buchanan menceritakan kemajuan pengkabaran Injil di India dan khotbah itu sungguh memercikkan bara api dalam hati Adoniram.
Dalam pergumulannya, enam bulan kemudian dia mengambil keputusan untuk menjadi misionaris bersama beberapa orang teman seminarynya yaitu: Samuel Nott., Jr, Samuel J. Mills, Jr., James Richards, Luther Rice, dan Gordon Hall.
Oleh karena keinginan mereka untuk menjadi misionari di luar negeri inilah maka American Board of Foreign Missions dibentuk menjadi wadah bagi para misionaris. Walaupun demikian, masalah keuangan menjadi sebuah persoalan bagi organisasi yang masih bayi ini sehingga Adoniram dikirim ke Inggris untuk menghimpun dana bantuan di London Missionary Society (LMS) . Dalam perjalanan, kapal yang ditumpangi Adniram diserang dan ditawan oleh kapal Perancis. Jadi dia harus melarikan diri dari penjara di Perancis untuk sampai di London. Dalam perjalanan ke Amerika, Adoniram memutuskan bahwa perjalanan misi seharusnya dibiayai oleh orang kristen Amerika daripada bergabung dengan LMS (8).

6. Ann Hasseltine & Jalan Berliku Menuju Birma.
Ann Hasseltine dilahirkan di Bradford, Massachusetts pada tahun 1789. dia adalah gadis yang bersemangat, gembira, dan berbakat. Umur enam belas tahun menerima Allah dengan segenap hatinya. Selepas Bradford Academy, dia mengajar di sekolah selama beberapa waktu. Adoniram dan Ann menikah 5 Februari 1812, keesokan harinya Adoniram dan teman-temannya ditabiskan di Salem, dan 13 hari kemudian menaiki kapal Caravan menuju Calcutta, India. Perjalanan panjang menuju India ditempuh dalam waktu empat bulan. Adoniram memanfaatkan waktu dengan belajar Alkitab dalam bahasa aslinya dan menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris. Dalam proses tersebut, Adoniram mendapat pencerahan dan meyakini bahwa iman seharusnya ditindak-lanjuti dengan baptisan dan baptisan itu penting. Keputusan ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah karena statusnya sebagai misionaris konggragasional dan pada waktu itu gereja Baptist belum mempunyai lembaga misionari.
Pada 6 September 1812 akhirnya mereka tiba di India dan dibaptis oleh asisten William Carey yaitu pendeta William Ward. Kabar bahwa Adoniram menjadi pengikut Baptist menimbulkan kegairahan pada gereja Baptist di Amerika sehingga dibentuklah the American Baptist Missionary Union.
Setelah beristirahat semalam di Calcutta, mereka meumpang sebuah kapal yang membawa mereka ke markas besar Misi Baptist Inggris di Serampore. Para misionaris Inggris berlindung di bawah pemerintah Denmark karena pemerintah Inggris sendiri menetang misi dan pekerjaan misi akibat pengaruh jahat dari perkumpulan dagang Inggris.


(8) Bradshaw, Robert I., The Life and Work of Adoniram Judson, Missionary to Burma. Tersedia di http://www.theologicalstudies.org.uk/article_judson.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.

Hal ini terbukti sepuluh hari setelah Adoniram tiba, pemerintah Inggris memerintahkan mereka untuk kembali ke Amerika. Kesulitan lain adalah karena dewan misi Amerika telah memerintahkan mereka untuk membuka sebuah misi di Birma, sebuah hal yang sulit dilakukan karena kelaliman pemerintah Birma, kesulitan bahasa dan kegagalan setiap usaha pemberitaan Injil di Birma yang dilakukan oleh orang lain sampai pada saat itu.
Akan tetapi rupanya keluarga Adoniram sudah bertekat untuk melayani Allah di ladang misi dan menolak untuk pulang ke Amerika dengan tangan hampa sehingga mereka berupaya untuk menumpang kapal Creole yang berlayar ke pulau France. Usaha ini kembali mendapat hambatan dari pihak berwenang yang menolak pemohonan surat-surat yang diperlukan agar dapat berlayar dengan kapal Creole. Dengan bantuan kapten kapal mereka menyelundup naik ke kapal, namun pihak berwajib mengejar dan memerintahkan mereka untuk turun. Habislah harapan mereka, tetapi atas ketetapan Allah, malam itu datanglah surat-surat yang diperlukan dan kapal Creole mengalami penundaan. Dari pulau France, keluarga Adoniram meneruskan perjalanan ke Madras dengan harapan dapat segera pergi ke Penang.
Kuatir diusir oleh pemerintah Inggris, mereka mencari kapal yang akan berlayar segera, namun hanya ada satu kapal yang akan berlayar ke Rangoon, Birma. Akhirnya setelah kira-kira perjalanan selama hampir satu tahun, keluarga Adoniram Judson tiba di Rangoon, Birma pada tahun 1813.

7. Masa-masa Awal Yang Sulit.
Setelah berada di Birma selama 6 bulan, Ann mengalami sakit sehingga harus berobat selama tiga bulan di Madras. Setelah sembuh Ann kembali ke Birma dan melahirkan anak sulungnya pada tahun 1815, tetapi pada waktu bayi itu berumur delapan bulan Tuhan memanggilnya.
Saat-saat awal di Birma digunakan keluarga Adoniram untuk belajar bahasa setemapat, suatu hal yang sangat sulit karena waktu itu belum ada buku tata-bahasa, kamus, maupun buku-buku lain yang dapat menolong.
Pada 20 Mei 1817, Adoniram menulis tata bahasa dari bahasa Birma, menterjemahkan Injil Matius, menulis traktat dll (9).
Dalam bulan November 1817, mereka mendapat bantuan dengan datangnya dua orang misionaris, yaitu pendeta Wheelock dan pendeta Coleman dari Boston. Dalam bulan Desember, Adoniram terpaksa meinggalkan Rangoon karena sakit. Keadaan menjadi pelik karena kapal yang ditumpanginya mengalami badai dan terpaksa mendarat kira-kira 300 km dari Madras. Selama di Madras, Adoniram tidak dapat menghubungi istrinya dan kesempatan pulang ke Birma baru terbuka pada tanggal 20 Juli tahun berikutnya, sehingga lebih dari enam bulan Ann tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau sudah meninggal. Seakan penderitaan keluarga Adoniram belum cukup, pada waktu itu penganiayaan pada orang kristen mulai berlangsung disertai ancaman pembunuhan terhadap orang kristen.



(9) Royer, Galen B., Adoniram Judson: Burma’s First Misionary. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/bjudson3.html); Internet, diakses pada 20 Oktober 2008.

Setelah hampir enam tahun di Birma, Adoniram pertama kali berkhotbah dan dua bulan kemudian (27 Juni 1919) memetik petobat pertamanya yang bernama Maung Hau (atau Moung Nau dalam buku lain) diikuti beberapa orang lainnya. Tahun berikutnya kembali seorang petobat baru dibaptiskan diikuti beberapa wanita. Sayangnya di tahun 1821 kembali Ann sakit demam dan limpa sehingga harus berobat ke Amerika. Di Amerika penyakitnya bertambah parah disertai komplikasi yang mengakibatkan paru-parunya berdarah sehingga diragukan apakah Ann dapat kembali ke Birma. Waktu berlalu dan Ann menulis sebuah buku yang berjudul ‘Sejarah Misi Birma’. Berkat anugerah Tuhan, tahun 1823, Ann beserta dua orang misionaris lainnya dapat kembali ke Birma.
Sementara itu raja muda yang baru bersikap memusuhi agama kristen dan memerintahkan para misionaris untuk tinggal di kota Ava. Pada tahun 1824, raja Birma bermaksud untuk menyerang Benggala (India), sebagai akibatnya pemerintah Inggris mengirimkan 10.000 tentara di bawah komando Sir Archibald Campbell. Setelah berita kejatuhan kota Rangoon sampai di Ava, sebuah perintah dikeluarkan untuk memenjarakan semua orang asing tidak terkecuali pendeta Adoniram Judson (8 Juni 1824).

8. Penjara Dan Harta Dalam Sebuah Bantal.
Penjara yang ditempati Adoniram adalah sebuah bangunan yang menyedihkan keadaannya, tidak ada ventilasi, retak-retak, dan tidak pernah dibersihkan sejak dibangun. Itu adalah sebuah tempat yang mengerikan di mana Ann membawa bayi mereka yang baru lahir untuk bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya. Ann adalah satu-satunya wanita kulit putih di Ava dan setiap hari ia membawakan makanan dan linen bersih untuk suaminya. Suatu hari, Ann bermaksud mengejutkan suaminya dengan membuat ‘mince pie’ kesukaan Adoniram. Tapi, melihat ‘mince pie’ itu Adoniram menangis tersedu-sedu, merasa terharu pada kesetiaan istrinya, dan tidak sanggup memakannya. Teman-teman penjaranya yang akhirnya menikmatu ‘mince pie’ spesial itu.
Setelah beberapa bulan, seekor singa di tempatkan dekat dengan penjara dan aumannya sangat mengganggu siang dan malam sampai singa itu mati.
Beberapa bulan kemudian Adoniram dipindahkan ke sebuah ‘death-prison’. Ketika Ann mendengar hal ini, dia langsung berangkat dengan bayi Maria ditangannya dan menempuh perjalanan panjang dengan ‘boat’ dan kereta kuda yang berguncang-guncang untuk sampai ke penjara yang menyedihkan itu. Ketika melihat istrinya, Adoniram menangis dan berkata: ‘mengapa kau datang?, saya harap kau tidak datang karena kamu tidak dapat tinggal di sini.’ Penjaga penjara yang kejam memberikan sebuah ruangan kecil yang separuhnya penuh dengan gandum. Ann tinggal di sana selama enam bulan berikutnya. (10)
Ada sebuah cerita yang sangat mengesankan ketika Adoniram akan dipindahkan ke penjara yang baru. Sebelum Adoniram dijebloskan ke penjara pertama kalinya, dia sudah menyelesaikan salinan Kitab


(10) Johnston, Julia H., Fifty Missionary Heroes Every Boy and Girl Should Know. New York: Fleming Revell Co., 1913. Dikutip oleh Ross, Stephen pada http://www.wholesomewords.org/children/heroes/hmrsjud.html; Internet, diakses pada 20 Oktober 2008.
Perjanjian Baru dalam bahasa Birma. Menyimpannya di rumah tentu bukan tindakan yang bijaksana mengngat rumah mereka sudah dua kali digeledah tentara kerajaan. Maka Ann menjahit sebuah bantal yang sengaja dibuat keras dan kumal agar tidak menarik perhatian penjaga. Di dalam bantal itu ia memasukkan naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Birma. Selama sebelas bulan, Adoniram tidur dengan kepala bersandarkan bantal yang berisi buku itu. Siang malam ia menderita; namun ia mengucap syukur karena naskahnya yang berharga itu masih aman.
Tiba-tiba pada suatu hari semua tahanan disuruh berderet di halaman penjara untuk dipindahkan. Adoniram mohon dengan sangat agar ia boleh membawa serta bantalnya, sampai-sampai ia menangis dan tahanan lainnya mengejek dia. Namun penjaga yang bengis menyobek bantal itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Adoniram dan para tahanan lainnya dipaksa berbaris sejauh enam belas kilometer di luar kota, di bawah terik matahari. Kaki mereka berdarah; mulut mereka kekeringan. Ada yang tidak tahan dalam perjalanan maut itu; ada yang meninggal sebelum tiba di tempat tujuan; ada juga yang jatuh pingsan di ujung jalan. Adoniram bertahan dan ia masih tetap terkurung di dalam penjara di luar kota itu selama tujuh bulan lagi.
Pada suatu hari, ada berita dari sang raja; Ia memerlukan seorang pengalih bahasa yang pandai berbahasa Inggris dan bahasa Birma. Maka Adoniram Judson dibebaskan dari penjara walau masih tetap dijaga dengan ketat.
Setibanya di ibu kota, yang pertama-tama ditanyakan Judson ialah kabar istri dan anaknya. Para penjaga memberitahu bahwa kedua orang itu masih selamat. Pertanyaan Judson yang kedua adalah mengenai bantalnya. Para penjaga tidak tahu dan tidak ambil pusing tentang benda yang mereka anggap tidak berharga itu.
Akhirnya, semua tugas yang dituntut sang raja itu selesai. Adoniram dengan keluarganya boleh kembali ke Rangoon. Di sana, mereka kembali menjumpai orang-orang Kristen Birma, yang selama masa perang itu masih tetap setia dengan imannya.
Salah seorang di antara ketiga petobat yang pertama-tama itu rupanya sangat senang bertemu kembali dengan gurunya. "Wah, kami kira Pendeta sudah meninggal! Lagipula tiada kubur tempat tinggal kami dapat pergi berkabung. Namun, aku masih tetap memelihara bantal itu, tempat kepala Pendeta pernah bersandar."
"Bantal?" tanya Adoniram hampir tidak percaya. "Bantal apa itu?"
"Ya, bantal kecil itu yang dipakai Pendeta waktu di penjara. Untung aku sempat menyelamatkannya dari tempat sampah sebagai kenang-kenangan, pada hari itu ketika Pendeta digiring keluar halaman penjara dalam perjalanan maut."
Dengan tangan gemetar Pdt. Judson menerima kembali bantal yang kotor dan sobek itu. Ia sengaja menyobek tutupnya, dan ... ternyata naskahnya masih utuh! Maka dengan semangat baru, Adoniram Judson mulai mengabarkan "isi bantal" itu kepada orang-orang Birma.
Baru pada tahun 1835, seluruh Alkitab itu selesai diterjemahkannya ke dalam bahasa Birma. Namun, Judson masih belum puas. Selama lima tahun ia mendalami lagi tulisan sastra bahasa Birma, baik prosa maupun puisi. Sering ia meminta pendapat para rekannya, baik utusan Injil maupun orang Kristen Birma. Akhirnya pada tahun 1840, ia merasa puas. Terjemahan Alkitab hasil karyanya yang diterbitkan pada tahun itu hingga kini masih tetap dibaca di gereja-gereja di negeri Myanmar.
Selama bertahun-tahun, Adoniram Judson berjuang mati-matian demi tugas penginjilan dan penerjemahannya itu, suatu gerakan Kristen besar mulai tampak di negeri Birma. Bahkan pada masa hidup Judson, sudah ada ribuan orang Birma yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang, lebih dari satu setengah abad kemudian, ada ratusan ribu orang Kristen di negeri Myanmar.
Siapa tahu, mungkin semuanya itu tidak akan terjadi ... seandainya tidak ada seorang ibu Amerika yang pandai menjahit serta seorang bapak bangsa Birma yang setia menyimpan bantal yang berisi buku, sampai saat ia menyerahkan kembali kepada pemiliknya! (11)
9. Sarah Hall Boardman.
Setelah menghadapi begitu banyak kesulitan, rupa-rupanya Tuhan belum selesai dengan Adoniram. Suatu hari Adoniram pergi ke kota Ava untuk suatu urusan dan di tengah perjalanannya, Ann diserang oleh demam tinggi. Selama dua hari menjelang kematiannya, Ann berbaring dengan tidak sadar dan tidak bergerak. Tanpa suami atau seorang teman misionaris di sampingnya dan di kelilingi oleh sekumpulan orang Birma yang menangis, Ann-pun pulang ke Sorga pada 24 Oktober 1826. Kepulangan Ann diiringi dengan kehormatan sipil dan militer dan sebuah tugu dikirimkan dari Boston untuk menandai tempat itu. Adoniram menerima kabar dan segera pulang, hanya untuk menemukan sebuah nisan di bawah pohon hopia (hope-harapan) di kellingi teralis yang kasar dan si kecil Maria yang berusia beberapa bulan berbaring di samping kubur ibunya. Enam bulan kemudian Maria menyusul ibunya dan jenazahnya di letakkan di samping ibunya.............
Bertahun-tahun kemudian, pengabar Injil yang setia itu dikaruniai sebuah keluarga baru. Setelah menduda selama delapan tahun, Adoniram menikahi Sarah Hall Boardman pada 10 April 1834, Sarah adalah seorang janda seorang misionaris yang bernama George Boardman. Istri keduanya itu melahirkan beberapa anak yang di antara mereka, di kemudian hari ada yang menjadi hamba Tuhan sama seperti ayahnya. Tetapi setelah hampir dua puluh tahun melayani Birma, pada tahun 1844 penyakit disentri menyerang Sarah sehingga memaksa keluarga Judson pulang ke Amerika. Ketika kapal berada di sekitar St. Helena, Tuhan memanggilnya dan tubuhnya dikuburkan di pulau itu, dengan sebuah batu sebagai penandanya.
(11) McGavran, Grace W., Stories of the Book of Books. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1991. hal. 22. diambil dari http://www.misi.sabda.org//bantal_yang_berisi_buku_myanmar_1819_1840; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
10.Amerika dan Emilly Chubbuck.
Setelah 33 tahun meninggalkan tanah kelahirannya, Adoniram mendarat di Boston bersama ketiga anaknya dan menerima sambutan yang sangat meriah dari masyarakat Amerika. Ratusan keluarga menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah baginya. Selama ini kisahnya telah menjadi tema ribuan khotbah dan pokok doa. Selama di Amerika Adoniram berpikir untuk mencari seorang penulis untuk menulis kisah istri keduanya, Sarah. Seorang penulis yang menarik perhatiannya adalah ‘Fanny Forester’ yang menulis buku yang berjudul ‘Trippings’.
Fanny Forester sebenarnya adalah nama samaran dari Emily Chubbuck yang secara kebetulan menjadi tamu dalam rumah yang ditinggali Adoniram. Seorang teman mempertemukan dan memperkenalkan keduanya dan Emily merasa senang mendapat kesempatan untuk menuliskan kisah wanita yang luar biasa itu. Rupa-rupanya hubungan kerja sama yang baik itu berlanjut menjadi hubungan secara pribadi yang serius dan akhirnya berakhir dengan sebuah pernikahan kudus pada tanggal 2 Juni 1846.
11.Pulang ke Rumah Bapa.

Pernikahan ketiga Adoniram dikuatirkan beberapa pihak akan mengganggu pelayanan misinya. Tetapi segala kekuatiran ini sirna pada bulan Juni 1846 ketika Adoniram dan Emily berlayar kembali ke Birma. Di ladang misi, Adoniram menyelesaikan kamus Birma-Inggris dan Emily menulis kisah Sarah Boardman Judson dan merawat anak-anak mereka.
Tiga tahun setelah pernikahannya, Adoniram menderita sebuah penyakit yang berat. Karenanya pada tahun 1850 dia berangkat ke Amerika untuk berobat dengan meninggalkan istri dan anak-anaknya. Rupanya kali ini tugas Adoniram di dunia, sebagai suluh Allah di Birma sudah selesai. Adoniram pulang ke Rumah Bapa pada 12 April 1850 dan dikuburkan di laut biru.
Emily sendiri baru mengetahui kabar kematian suaminya empat bulan kemudian. Mendengar berita itu, dia dan anak-anaknya pulang ke Amerika. Emily mendedikasikan dirinya untuk merawat orang tua dan anak-anaknya sampai tiba waktunya untuk pulang pada tahun 1854 di Hamilton, New York.
Sampai akhir hidupnya, pelayanan Adoniram Judson telah membawa 7.000 orang Birma dan Karen kepada Kristus, telah menterjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Birma, menulis kamus bahasa Birma-Inggris, dan menulis buku tata bahasa Birma.

12.Review.
Sungguh sebuah kehormatan untuk dapat membuat makalah tentang Adoniram Judson. Kisah penderitaan dan kesetiaannya pada panggilan Kristus sungguh mengharukan dan menghancurkan hati penulis.
Boreham mengungkapkan bahwa Adoniram Judson mempunyai sebuah bagian Firman Tuhan yang menguatkan dirinya yaitu Efesus 3:17-19 “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

Selama melayani di Birma, Adoniram telah kehilangan Ann, Sarah dan tiga orang anaknya. Melampaui semua hal itu, tidak sekalipun imannya guncang pada kekayaan kasih Kristus yang sudah didapatnya.
Thomas Ranney bersaksi bahwa menjelang kematiannya Adoniram terus mengulangi kata-kata “Seperti Aku telah mengasihimu lebih dulu, begitulah kamu harus saling mengasihi satu sama lain”, dan kemudian sambil menangis gembira dia melanjutkan “Oh, kasih Kristus, kasih Kristus......”
Kemudian, karena kesulitan bernafas dia berhenti sejenak. Kemudian dia bergumam, ‘Oh kasih Kristus, kasih Kristus’, matanya berkobar-kobar dengan antusias dan air mata membasahi kedua pipinya. “The love of Christ, its breadth and length and depth and height”
Dan, setelah kehabisan tenaga untuk berkata-katapun, bibirnya menyuarakan kasih Kristus, kasih Kristus......

Beberapa hari sebelum meninggal, Adoniram berkata dengan kelegaan akan dikubur di laut. Dia berkata dengan rasa bebas, membandingkan akan perbedaan dikuburkan di laut dan di tanah yang gelap dengan kuburan yang sempit seperti yang dialami oleh istri dan anak-anaknya.
Laut biru yang luas seakan-akan menjadi simbol akan kasih Tuhan dan Penebusnya yang tak terbatas.
Penulis berdoa kiranya kasih Kristus yang sama kiranya juga membakar semua orang kristen di seluruh dunia.

On His Grace,
hendra

























Bibliografi

1. Pitman, E. R. Ann H. Judson Pahlawan Misi Wanita di Birma.
2. Judson, Edward. Adoniram Judson: A Biography. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/judson/judsontoc.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
3. Anderson, Courtney. To the Golden Shore: The Life of Adoniram Judson. Michigan: Zondervan Publishing House, 1972.
4. Harrison, Eugene Myers. Adoniram Judson: Apostle of the Love of Christ in Burma. Tersedia di http://www.reformedreader.org/rbb/judson/ajbio.htm; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
5. Boreham, F. W., Adoniram Judson’s Life Text. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/bjudson11.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
6. Assa, Rudy N., Tokoh-tokoh Kristen yang Mewarnai Dunia. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2002.
7. Bradshaw, Robert I., The Life and Work of Adoniram Judson, Missionary to Burma. Tersedia di http://www.theologicalstudies.org.uk/article_judson.html; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.
8. Royer, Galen B., Adoniram Judson: Burma’s First Misionary. Tersedia di http://www.wholesomewords.org/missions/bjudson3.html; Internet, diakses pada 20 Oktober 2008.
9. Johnston, Julia H., Fifty Missionary Heroes Every Boy and Girl Should Know. Nre York: Fleming Revell Co., 1913. Dikutip oleh Ross, Stephen pada http://www.wholesomewords.org/children/heroes/hmrsjud.html; Internet, diakses pada 20 Oktober 2008.
10. McGavran, Grace W., Stories of the Book of Books. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1991. hal. 22. diambil dari http://www.misi.sabda.org//bantal_yang_berisi_buku_myanmar_1819_1840; Internet; diakses pada 20 Oktober 2008.

Pengertian Penginjilan Lintas Budaya

Pendahuluan
Penginjilan adalah sebuah kosa kata yang sangat umum dalam kehidupan kita sebagai orang kristen dan sebagai warga gereja. Sebagai sebuah kata yang umum, makna dan pengertian akan penginjilan ternyata masih banyak disalah-mengerti oleh orang kristen. Penginjilan sering dianggap sebagai tugas dari seorang hamba Tuhan belaka dan bukan tugas bagi semua orang percaya tanpa terkecuali. Hal ini akan bertambah kompleks ketika bebicara tentang cara dan metode penginjilan yang berbeda-beda. Dalam tulisan singkat yang berbentuk research paper ini, penulis akan membahas topik tentang pengertian penginjilan lintas budaya secara singkat.

Dasar Alkitabiah
Sebelum membahas akan penginjilan lintas budaya, penulis akan menyajikan dasar Alkitabiah yang paling jelas bagi penginjilan yaitu Amanat Agung Kristus yang berbunyi: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Bagian Firman Tuhan ini disebut sebagai Amanat Agung karena diberikan oleh Yesus setelah kebangkitan-Nya dan menjelang kenaikan-Nya ke sorga kepada semua orang percaya tanpa terkecuali. Jadi jelaslah bahwa tugas penginjilan memang tugas bagi hamba Tuhan dan juga semua orang percaya tanpa terkecuali.
Selain Amanat Agung, ada alasan-alasan lain mengapa kita harus melakukan penginjilan yaitu:
1. ALLAH menghendaki semua orang diselamatkan. (1 Timotius 2 : 3-4) “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
2. Kasih kepada KRISTUS dan sesama (2 Korintus 5: 14, 18-20). “Sebab kasih KRISTUS yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan semuanya ini dari ALLAH, yang dengan perantaraan KRISTUS telah mendamaikan kita dengan diriNya, dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan KRISTUS……………berilah dirimu didamaikan dengan ALLAH.
3. Ketaatan sebagai bukti kasih. (Yohanes 14 : 21-23)
“Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku …….Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu……….
4. Kerelaan. (Yesaya 6 :18)
Nabi Yesaya merupakan contoh baik dari sikap terhadap panggilan ALLAH. (1)
Ada sebuah pendapat yang menarik yang ditulis oleh Yakub Tri Handoko, MTh terhadap Amanat Agung (Mat 28:19-20) sbb: Mayoritas orang memahami inti amanat agung terletak pada penginjilan (band. kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat) dan langkah selanjutnya adalah pemuridan, baptisan dan pengajaran. Bagaimanapun, menurut struktur kalimat Yunani di ayat 19-20, inti amanat agung justru terletak pada pemuridan. Hal ini didasarkan pada mood imperatif untuk kata kerja “jadikanlah murid” (lit. “muridkanlah”) yang diikuti oleh tiga participle (anak kalimat), yaitu “pergi”, “baptiskanlah” dan “ajarkanlah”. Penggunaan kata “muridkanlah” di sini menempatkan penginjilan dalam konteks mempelajari hukum (ajaran) Yesus. (2)
Di sini penulis tidak bermaksud membantah pendapat Handoko, tetapi ada sebuah pertanyaan yang mendasar yang perlu untuk diutarakan yaitu: tanpa melakukan penginjilan, siapa yang akan dimuridkan?. jadi jika inti dari Amanat Agung adalah memuridkan, artinya melakukan penginjilan (yang akan menghasilkan murid) adalah tindakan yang sangat penting sekali.
Pengertian Penginjilan
Ada beberapa definisi penginjilan yang ada, antara lain:
1. Archbishops Committee (tahun 1918) mendefinisikan kata menginjili/to evangelize sbb:
is so to present Christ Jesus in the power of the Holy Spirit, that men shall come to put their trust in God through Him, to accept Him as their Saviour,
and serve Him as their King in the fellowship of His Church.
(untuk menghadirkan Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus, sehingga semua orang akan datang dan percaya kepada Tuhan melalu Yesus, menerima Dia sebagai juruselamatnya dan untuk melayani Dia sebagai raja dalam persekutuan gereja-Nya. (3)
2. J.I. Packer mendefinisikan penginjilan sebagai memberitakan Inijil, kabar baik. Penginjilan adalah pengkomunikasian yang dilakukan oleh orang kristen sebagai penyambung lidah Allah yang menyampaikan berita pengampunan Allah kepada orang berdosa. (4)
3. The Department of Evangelism of the Presbyterian Church USA menyatakan: “Evangelism is joyfully sharing the good news of the sovereign love of God and calling people to repentance, to personal faith in Jesus Christ as savior and Lord, to active membership in the church and to obedient service in the world.” (Penginjilan adalah dengan gembira membagikan kabar baik tentang kedaulatan kasih Allah dan memanggil manusia untuk bertobat, untuk percaya secara pribadi pada Yesus sebagai juruselamat dan Allah, aktif dalam pelayanan di gereja dan untuk melayani di dunia dengan patuh.” (5)

Dari tiga definisi di atas, menurut penulis definisi kedua adalah yang terbaik. Definisi pertama mengecilkan arti anugerah dan pemilihan Allah karena kata-kata ‘sehingga semua orang akan datang dan percaya kepada Tuhan melalu Yesus’ dapat diartikan manusia mendapatkan keselamatan karena datang dan percaya dengan kemauannya sendiri. Sedangkan definisi ketiga menjadi ‘melebar’ dengan kata-kata ‘aktif dalam pelayanan di gereja dan untuk melayani di dunia dengan patuh.’ Tentu saja kata-kata itu tidak salah tapi tujuan pemberitaan Injil adalah ‘memproklamasikan’ Kristus, bukan lainnya.

Dasar Alkiabiah Penginjilan Lintas Budaya
Setiap budaya mempunyai kekhasannya masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Interaksi antara dua budaya yang berbeda akan menimbulkan potensi kesalah-pahaman. Demikian juga penginjilan lintas budaya mempunyai potensi kesalah-pahaman sehingga dapat terjadi bukan isi berita Injil belum diberitakan tapi si pembawa berita sudah ditolak terlebih dahulu.
Penginjilan dapat dilakukan dengan berbagi macam model atau metode. Salah satu model penginjilan adalah penginjilan lintas budaya. Dasar Alkitabiahnya adalah Kisah 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Ayat ini menunjukkan Yesus mengutus orang percaya untuk melakukan penginjilan di sekeliling kita sampai ke ujung dunia, yang berarti melakukan penginjilan lintas budaya.
Sebuah teladan diberikan oleh Paulus dalam Kisah 16:9 di mana Roh Allah mencegah Rasul Paulus ke Asia kecil dan membelokkannya ke Makedonia di mana Injil sangat dibutuhkan tidak hanya untuk bangsanya, tapi untuk semua makhluk dan tidak bisa ditunda. Setiap hari di seluruh dunia, banyak manusia
meninggal tanpa Kristus. Inilah yang juga harus menjadi urgensi kita dalam pengutusan lintas budaya. (6)

Pengertian Konsep Penginjilan Lintas Budaya
Pengertian penginjilan dan misi penginjilan sering kali dipergunakan secara bergantian dan dianggap sama. Pada kenyataannya kedua istilah ini berbeda walau tidak dapat dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa penginjilan adalah bagian dari misi penginjilan dan fokus utama dari misi penginjilan adalah melakukan penginjilan.
Pengertian dari penginjilan lintas budaya adalah melakukan penginjilan kepada mereka yang mempunyai budaya yang berbeda dengan si penginjil. Pengertian mempunyai budaya yang berbeda tidak harus berarti melakukan penginjilan di luar negeri atau melakukan penginjilan kepada suku bangsa yang berbeda dengan si pembawa berita kabar baik itu. (7).
Pada kenyataannya, penginjilan lintas budaya dapat dilakukan kepada orang-orang yang sama suku bangsanya dengan si penginjil. Sebagai contoh, orang-orang dari suku Jawa dapat mempunyai worldview yang berbeda-beda dan mempunyai budaya yang berbeda pula. Si A yang tinggal di desa akan berbeda budaya dengan si B yang tinggal di kota besar, dan akan berbudaya berbeda pula dengan si C yang hidup di luar negeri walau mereka semua berasal dari suku bangsa yang sama. (8)
Dalam buku Kairos, hal ini di gambarkan dengan simbol E1, E2 dan E3.

Kesulitan Utama Penginjilan Lintas Budaya
David J. Hesselgrave menulis dengan sangat rinci kesulitan-kesulitan yang dihadapi para misionary yang melakukan penginjilan lintas budaya (communicating Christ cross-culturally). Satu hal utama yang penulis tangkap adalah masalah perbedan budaya atau kultur ‘lipat tiga’. Maksudnya adalah Firman yang akan dikomunikasikan mempunyai kultur sendiri, pembawa berita mempunyai kultur sendiri yang berbeda, dan penerima beritapun mempunyai kultur yang berbeda. (9) Salah satu bahaya dalam penginjilan lintas budaya adalah sinkretisme karena proses kontekstualisasi yang berlebihan. Tentu saja masih ada banyak sekali kesulitan-kesulitan dalam melakukan penginjilan lintas budaya, walau akar persoalan yang paling dalam akan bersumber pada perbedaan kultur.

Kesimpulan
Penginjilan wajib dilakukan oleh semua orang percaya, termasuk penginjilan lintas budaya. Walaupun demikian, penginjilan lintas budaya tidak harus dilakukan secara lintas negara. Sebagai contoh, PI lintas budaya dapat dilakukan kepada turis-turis yang datang ke kota di mana kita tinggal atau dilakukan pada masyarakat sekitar yang mempunyai budaya yang berbeda dengan kita.

Bibliografi:
1. Pekabaran Injil Pribadi, diambil dari http://www.perkantasjkt.org/ArticleDetail.asp?id=16 pada 21 Februari 2009.
2. Yakub Tri Handoko, MENGGALAKKAN MISI DALAM GEREJA LOKAL: Sebuah Pengantar dan Pedoman Praktis, diambil dari http://www.gkri-exodus.org/page.php?ART-MS-Gereja_Misioner, pada 21 Februari 2009.
3. J.I. Packer, Evangelism And The Sovereignty Of God, Momentum Surabaya, 2003, halaman 25-26.
4. idem, 29.
5.
6. e-JEMMi - Edisi No_ 19 Vol_ 10-2007.htm, diambil dari http://www.sabda.org/publikasi/misi/2008/19/, pada 21 Februari 2009.
7. Kairos, (halamannya saya tidak dapat sebutkan karena buku Kairos milik saya, saya berikan kepada seorang hamba Tuhan).
8. Rahmiati Tanujaya, Materi dalam SAAT Preaching Conference 1, 2006.
9. David J. Hesselgrave, Communicating Christ Cross Culturally, SAAT Malang, 2001, halaman 104.

Introduction to Cross Cultural Ministry

Pendahuluan
Ringkasan paper (terjemahan) ini membahas tentang pengenalan akan pelayanan lintas budaya yang dibagi menjadi sembilan bagian yaitu the Bible is multi-cultural, the Bible is above the culture, the origin of communication, division caused by sin, a Biblical theologi of missions, worldview, degrees of cross cultural ministry, principles of cross cultural ministry, dan cross cultural teaching.

Alkitab adalah multi kultural
Alkitab adalah sebuah dokumen yang multi kultural yang dapat digunakan oleh semua orang untuk ber-relasi dengan Allah dan manusia lainnya. (Kej. 1:27; Pengkotbah 3:11; Roma 2:14-15; 1 Yoh. 4:8)
Ted Ward mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia mirip satu dengan lainnya. Tuhan bermaksud agar manusia dalam berbagai budaya menggunakan prinsip-prinsip Alkitab dalam ber-relasi dengan budaya-budaya yang lain.

Alkitab berada di atas budaya
Alkitab (wahyu khusus) berada di atas budaya karena budaya termasuk di dalam bagian wahyu umum. Kebenaran wahyu umum harus selalu ditundukkan di bawah kebenaran Alkitab sebagai kebenaran yang absolut. Hal ini mengakibatkan ketika terjadi benturan atau konflik antara budaya dan Alkitab, budaya tersebut yang harus ditundukkan di bawah kebenaran mutlak Alkitab (Yoh. 4:19-22; Titus 1:5-9; 1 Tim. 3:1-7).
Sebuah pertanyaan yang menarik dalam penafsiran Alkitab adalah apakah (penafsiran) Alkitab adalah hasil dari suatu keadaan budaya tertentu dan apakah hal ini berlaku pada setiap generasi dan setiap manusia?. Contoh dari pertanyaan ini misalnya pada pemimpin wanita di gereja (1 Tim. 2:12), dan isu poligami.
Marvin K. Mayers menyatakan bahwa para misionaris adalah agen-agen perubahan yang telah menghentikan pembakaran para janda di India, pembunuhan anak kembar di Afrika, dan prostitusi di Hawaii. Allah mampu dan ingin untuk menyatakan kesalahan dalam pengertian kita; walaupun demikian, hal itu tidak termasuk dalam berkompromi dengan pola pikir yang non-kristiani.

Asal-usul komunikasi
Kita berkomunikasi karena Allah berkomunikasi dalam diri-Nya (Yoh 17:5, 24; Yoh 17:18; Yoh 17: 25; Yoh 1:1; Kej. 1:1-2; Yoh 1:3; Kol. 1:16). Francis Schaeffer menyatakan bahwa kasih dan komunikasi dalam Trinitas adalah dasar dari kasih dan komunikasi di antara pria dan wanita yang diciptakan-Nya (Kej. 1:27).

Pemisahan disebabkan oleh dosa
Schaeffer juga menyatakan bahwa dunia kita adalah dunia yang abnormal karena sudah dipengaruhi oleh dosa yang juga mempengaruhi setiap aspek hidup manusia. Manusia terpisah dari Allah karena dosa menyebabkan pemisahan secara spiritual. Manusia terpisah dalam kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat, bahkan dalam budayanya sendiri. Hal ini menyebabkan masalah secara sosial dan psikologi. Keterpisahan ini menciptakan tantangan di dalam dan di antara budaya-budaya. Perbedaan diperkuat oleh dosa dan diekspolitasi oleh setan di antara orang kristen dan non kristen. Misalnya dosa seksual (Yud. 1:7), kesombongan intelektual (Kis. 17:18), kekejaman (Nahum 3:19).
Keterpisahan ini dapat ‘dijembatani’ oleh Alkitab. Pertobatan manusia akan menyebabkan perubahan dalam masyarakat. Orang percaya adalah ciptaan yang baru dalam Kristus dengan tujuan dan nilai-nilai yang baru. Masalahnya penginjilan adalah sebuah peperangan rohani sehingga ada penolakan secara supranatural terhadap Firman Tuhan sehingga perlu kuasa Roh Kudus untuk menembusnya. Hal inilah yang disebut sebagai ‘kebangkitan awal (awakening)’, bukan ‘kebangunan (revival) yang terjadi di antara orang percaya.

Teologi penginjilan yang Alkitabiah.
Allah bermaksud untuk terlibat dalam penginjilan lintas budaya. Matius 28: 19-20 menyatakan bahwa Dia sendiri menyertai kita. Bahkan sejak PL, Dia sudah menjadi terang bagi orang belum percaya (Yes. 42: 6-7). Pantekosta menggaris-bawahi halangan besar dari segi bahasa bagi penginjilan lintas budaya. Sedangkan halangan untuk melakukan PI lintas budaya kepada non Yahudi di atasi Allah dengan mengirimkan malaikat-Nya (kepada Petrus), penglihatan, dan waktu yang tepat (Kis 10:3, 11, 19-20). Salah satu halangan yang dihadapi adalah etnosentris, yaitu pandangan/penilaian yang menganggap budaya diri sendiri lebih baik dari pada budaya orang lain.


Pola-pikir
Budaya dapat didefinisikan sebagai solusi-solusi tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diadopsi oleh sekelompok bagian masyarakat. Kepercayaan terdalam dan asumsi terhadap dunia, termasuk nilai-nilai, perspektif, dan kelakuan membentuk pola pikir seseorang. Pola pikir membentuk cara pikir di mana pesepsi diinterprestasikan. Pola pikir ini sering tidak disadari karena terbentuk secara alami sejak mulai lahir.
Dalam menemukan pola pikir dari sebuah grup etnis, George Foster menganjurkan pemakaian metode triangulation. Mencari penjelasan yang masuk akal yang digunakan (misal.mengeluaran banyak biaya bagi pernikahan). Sementara itu perilaku yang ‘tidak biasa’ diobservasi (misal tidak membuat pesta mewah walau mempunyai banyak kekayaan). Penjelasan dicari dari penjelasan sebanyak mungkin dari perilaku yang tidak biasa itu. Hasilnya didapat dari intersection (pertemuan) jawaban-jawaban yang paling banyak agar dapat menjelaskan perilakunya, di mana perilaku tersebut menjelaskan pola pikirnya.

Tingkatan dari pelayanan PI lintas budaya
Kis 1:8 dapat dijadikan acuan bagi tingkatan keterlibatan dalam PI lintas budaya. Bagi orang Yahudi, Yerusalem bukanlah lintas budaya (M1), walaupun demikian dalam budaya yang sama ada sub-budaya yang berbeda. Sedangkan Samaria dapat dikategorikan sebagai PI lintas budaya (M2). Di sini biasanya dasar bahasa sama dengan perbedaan dialek. Sedangkan ‘ujung dunia’ (M3) adalah PI lintas budaya dengan bahasa dan budaya yang berbeda.

Prinsip-prinsip pelayanan PI lintas budaya
Bagian ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Inkarnasi.
Gap budaya terbesar yang pernah terjadi adalah ketika Allah berinkarnasi menjadi bayi Yesus, inilah kenosis. Prinsip inkarnasi dari PI lintas budaya inilah model yang paling dominan dalam misi penginjilan dewasa ini.Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Dia mengosongkan diri-Nya dan menciptakan jembatan bagi Allah dan manusia berdosa.
Identifikasi pada ‘target’ manusia diilustrasikan oleh Paulus dalam 1 Kor 9: 22b). Ilustrasi tentang sunat dalam Kis. 16:3 mengajarkan prinsip-prinsip kontekstualisasi. Prinsip kontekstualisasi meembuat Firman Tuhan relevan bagi si target tanpa mengkompromikan kebenaran prinsip Alkitab. Jadi pelayanan inkarnasi adalah pelayanan yang fleksibel tanpa mengkompromikan prinsip Firman Tuhan. Bagaimanapun juga, identifikasi secara menyeluruh terhadap yang dilayani sulit bahkan tidak mungkin dilakukan karena perbedaan-perbdaan seperti bahasa, pola pikir, pendidikan, dan ekonomi. Jonathan Bonk memberikan contoh kesulitan dalam hal ekonomi. Dia menganjurkan pengidentifikasian secara ekonomi terhadap yang dilayani, tetapi ketika sang misionaris berada dalam level ekonomi yang sama dengan yang dilayani (konteksnya miskin), dia akan mengalami kesulitan karena pelayanan membutuhkan uang.

2. Etnografi: belajar budaya.
Paulus memberikan contoh dalam Kis. 17:23 di mana dia menggunakan kepercayaan rakyat Atena yang memuja “Allah yang tidak dikenal’ dengan memproklamirkan Firman Tuhan. Di sini Paulus sadar untuk membangun jembatan budaya antara rakyat Atena dan Firman Tuhan.
Pengamatan terhadap etnografi terhadap budaya akan membantu untuk mengerti terhadap yang dilayani dan menemukan titik temu bagi Firman Tuhan. Sebuah contoh adalah pengertian ‘anak perdamaian’ bagi suku Sawi yang dilayani Don Richardson. Ted Ward menyarankan untuk mencari pola perilaku dan mengajukan pertanyaan ‘mengapa?’.
Pelayanan PI lintas budaya bagaikan ‘melakukan penambangan’. Kita perlu menyelidiki dengan hati-hati segala situasi, menyerap berbagai informasi seperti: Bagaimana mereka ber-reaksi, mengapa mereka ber-reaksi seperti itu, dan lain-lain. Riset etnografi terhadap budaya target sangat berguna seperti misalnya Dictionary of Race an Ethnic Relations dan Encyclopedia od African American Religion.

3. Membangun relasi.
Esensi dari pelayanan kristen adalah hubungan pribadi dengan yang dilayani. Sebuah hubungan yang baik secara pribadi mendahului pemberitaan Injil yang efektif sehingga si pemberita harus diterima terlebih dahulu sebelum Injil diterima. Tentu saja hal ini tidak mutlak karena Roh Kudus tidak terbatas kuasanya, tetapi hubungan baik secara pribadi sangatlah penting bagi pemuridan.
Sebuah kepercayaan tidak mudah didapat, hal ini mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya. Hal lain yang perlu diperhatikan (Meyers) adalah penerimaan terhadap kekurangan diri sendiri berdasar pada penerimaan Allah kepada diri sendiri. Akan lebih mudah untuk menerima kekurangan orang lain ketika kita sadar dan mampu menerima kekurangan diri sendiri (Roma 15:7). Tuhan dapat juga memakai kesulitan hidup untuk membentuk kita agar dapat melayani dengan baik (Josh McDowell). Dari dasar penerimaan terhadap diri sendiri kita dapat mengasihi orang lain karena kasih mengatasi konflik.

Pengajaran PI lintas budaya
Kelompok-kelompok etnis yang berbeda-beda mempunyai gaya belajar yang berbeda. Perbedaan yang umum adalah antara ‘field dependent’ dan ‘field independent’. Metode PI yang dahulu adalah berfokus pada kelompok dengan hubungan murid dan guru. Study secara independen dan orientasi pembelajaran dapat menentukan metode yang cocok bagi suatu budaya tertentu.

Kesimpulan
Penginjilan lintas budaya adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, walaupun demikian diperlukan sebuah persiapan yang matang agar pelayanan itu dapat berhasil dengan maksimal dan optimal. Seperti layaknya melakukan kegiatan penambangan, pelaku PI lintas budaya perlu mempersiapkan diri terhadap mental, budaya, bahasa, pola pikir, geografi, dll. Sebuah persiapan yang baik, doa yang banyak dan penyertaan Roh Kudus adalah kunci keberhasilan misi lintas budaya.

Pengembangan Kompetensi Profesional

Pendahuluan

Buku ini ditulis oleh Pdt. Dr. Sentot S. Sadono. Beliau adalah mantan ketua umum GGBI dan saat ini beliau menjabat ketua (rektor) Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia di Semarang.
Buku ini dibagi menjadi tujuh bab yang mengulas secara lugas dan Alkitabiah tentang topik pengembangan kompetensi profesional para hamba Tuhan yang melayani diberbagai bidang.


Bab I: Profesional Dan Kompetensi Profesional

A. Profesi dan profesional
Bab ini memberikan pengertian dan perbedaan pengertian antara profesi dan profesional. Pengertian profesional sebagai kata benda adalah orang yang berprofesi tertentu. Sedangkan sebagai kata sifat pengertian profesional menunjuk kepada sifat cara kerja atau hasil kerja seseorang yang berprofesi tertentu.
Sedangkan pengertian profesi sendiri tidak selalu seperti pengertian umum bahwa profesi adalah pekerjaan. Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan profesi sebagai: bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu”. Definisi di atas sebenarnya tidak dapat dipakai untuk menentukan apa saja pekerjaan yang termasuk profesi dan mana yang tidak. Dalam memahami definisi profesi, Cervero menyatakan pentingnya mengetahui ancangan-ancangan utama untuk memberikan definisi profesi, memilih satu di antaranya, dan menyediakan alasan bagi pilihan itu.

Ada tiga ancangan untuk mendefinisikan profesi:
• Ancangan statik.
Ancangan ini menetapkan bahwa profesi harus mencakup pemakaian intelektual, memperoleh bahan-bahannya dari sains, mencakup sasaran yang pasti dan praktis, memiliki teknik yang dapat diajarkan, cenderung pada pengaturan diri sendiri, dan altruistik.
• Ancangan proses
Ancangan ini memandang semua pekerjaan ada pada sebuah kontinum profesionalisasi.
• Ancangan sosio-ekonomi
Ancangan ini mengatakan bahwa sebuah profesi adalah konsep rakyat yang spesifik secara historis dan nasional.

Buku ini cenderung mengikuti ancangan sosio-ekonomi sampai batas-batas tertentu. Ancangan ini tidak terlalu longgar atau terlalu ketat sehingga cenderung mengikuti paradigma filosofis postpositivisme yang menekankan kemungkinan dan mengakui unsur subyektifitas tanpa terlalu jauh masuk ke dalam relativisme.
B. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional mencakup kemampuan untuk berfungsi secara efektif dalam tugas-tugas yang dianggap pokok dalam profesi tertentu. Kompetensi profesional mencakup (1). Keahlian-keahlian khusus bagi profesi atau bidang ilmu yaitu dasar pengetahuan khusus untuk bidang ilmu, kecakapan teknis yang dianggap pokok dalam profesi, dan kemampuan menyeesaikan macam-macam masalah yang dihadapi dalam profesi. (2). Ciri-ciri umum orang yang memudahkan orang itu mengembangkan atau mempertahankan kompetensi profesional yaitu kemampuan intelektual, ciri-ciri kepribadian, motivasi, sikap dan nilai.

C. Profesional Keagamaan
Panggilan para rohaniawan adalah panggilan untuk menjadi seorang yang benar-benar percaya. Panggilan ini adalah panggilan umum bagi semua orang kristen dan merupakan dasar bagi panggilan-panggilan lainnya. Panggilan ini umumnya bersifat kodrati walau ada yang berifat adikodrati. Penulis buku berpendapat bahwa hamba Tuhan adalah profesional plus-minus karena hamba Tuhan menyambut panggilan dan melaksanakan pengutusan Tuhan dan gereja-Nya serta bertanggung jawab pada Tuhan.
Profesionalisme dalam pelayanan kristen berarti mengembangkan pengetahuan khusus mengenai Alkitab, teologi, khotbah, etika, konseling dll. Contohnya belajar pemakaian bahasa, suara, intonasi dalam khotbah, study lanjut dalam psikoterapi untuk melakukan konseling.
Pengertian profesional adalah mampu menerapkan prinsip-prinsip umum pada situasi tertentu, mempertimbankan situasi yang baru dan membuat keputusan mengenai situasi itu berdasarkan pengetahuan. Terlepas dari dianggap profesional atau tidak, hamba Tuhan harus memenuhi syarat-syarat kompetensi tertentu yaitu dengan mengembangkan dan membaharui setiap segi kompetensinya sebagai seorang hamba Tuhan.

Ada beberapa kriteria pengembangan dan pembaharuan keahlian:
• Kriteria eksekutif: seseorang dapat melakukan keahlian secara hemat dari segi sarana dan secara luwes.
• Kriteria teknik: dapat melakukan keahlian dengan hasil yang diharapkan dan paling efektif.
• Kriteria psikososial: melaksanakan keahlian secara bebas dari ketidaksehatan psikologis dan ketidaksehatan organisasi.
• Kriteria moral: melaksanakan keahlian dengan membantu perubahan sifat pribadi dan sosial sesuai dengan prinsip-prinsip cara hidup yang manusiawi.
• Kriteria internal: melaksanakan keahlian dengan kesadaran bahwa ia melakukan secara baik dan unggul.

Kriteria-kriteria di atas penting karena yang diharapkan bukan hanya sekedar menyelesaikan tugas melainkan juga cara mengerjakannya. Hal ini mencakup gaya, sikap, dan komitmen sehingga ada integritas. Pengembangan dan pembaharuan ini diupayakan mencapai stailisasi (tingkatan di mana ada perpaduan antara teknik dan gaya) dan artistri (menjadi ahli sehingga dapat berpikir sambil menjalankannya).
Berdasarkan 1 Tim. 3:1-7 dan Titus 1:5-9, kualitas hamba Tuhan adalah pengalaman sebagai orang kristen, kepribadian yang mencerminkan buah-buah Roh, setia dalam perkawinan, berhasil dalam keluarganya, berpengetahuan kebenaran dan mampu mengajar, bernama baik, dan bebas dari kejahatan. Untuk itu pengetahuan dasar keahlian tidak hanya mencakup pengetahuan teologi klasik saja melainkan mencakup juga pengetahuan seperti psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, manajemen dll.
Pengembangan kompetensi dan pembaharuan kompetensi hamba Tuhan juga harus disesuaikan dengan konteks hidup kontemporer. Tanpa pengembangan dan pembaharuan maka hamba Tuhan akan kehilangan fungsinya di gereja dan di masyarakat. Perkembangan zaman telah mendorong peran gereja secara marjinal di masyarakat. Agama kristen dan pemimpinnya hanya akan berpengaruh secara privat, yaitu terhadap kehidupan pribadi dan kelompok khusus yang terbatas dan tidak berpengaruh secara publik. Gereja terdiferiansi menjadi sub-sistem bukan lagi menjadi sistem yang dominan. Bahkan dalam sub-sistem itu, banyak peran hamba Tuhan yang diambil oleh sub-sistem lain (bidang pengetahuan, sastra, pendidikan tinggi, dan kesembuhan). Dalam sub-sistem gereja masa kini anggota gereja makin tinggi kesadarannya bahwa penggilan dan pelayanan itu juga bagi mereka juga sehingga pelayanan-pelayanan yang dulu hanya dijalankan hamba Tuhan, kini dijalankan oleh anggota gereja juga. Kecuali bila hamba Tuhan mengubah perannya, maka di sub-sistemnya sendiri ia akan mempunyai peran yang marginal.


Bab II: Pengembangan Kompetensi: Kepentingan Dan Ancangan

A. Kepentingan Pengembangan Kompetensi.
Dalam perkembangan masa globalisasi ini, hamba Tuhan harus menyikapinya secara kognitif dengan keterbukaan dan siap untuk berubah. Masa ini ada anggota-anggota jemaat yang ingin dan mampu berbagi pelayanan dengan hamba Tuhan. Karenanya pengembangan kompetensi harus mencakup pembekalan bagi pelayanan anggota jemaat sehingga mutu pelayanannya setaraf dengan hamba Tuhan. Pembekalan tidak hanya secara teologia tetapi sampai pada tindakan transformasi segi kehidupan yang lebih baik.
Kegagalan untuk mempertahankan kompetensi profesional menghasilkan keusangan profesional berupa kesenjangan antara pengetahuan, kecakapan, kemamuan, dan keahlian untuk menjalankan tugas-tugasnya masa kini dan masa mendatang. Keusangan ini dapat mengakibatkan inkompetensi profesional.

B. Ancangan Dalam Pengembangan Kompetensi.
Ada dua macam ancangan dalam pembaharuan kompetensi profesional yaitu pembaharuan yang dilakukan segera sesudah keusangan atau ketika kompetensi menurun (ancangan remedial) dan ancangan berupa pembaharuan secara terus menerus, segera setelah gelar diterima dan berlangsung sepanjang kariernya (ancangan developmental).
Ada tiga ancangan bagi pemeliharaan kompetensi profesional:
• Memusatkan perhatian pada fakor-faktor di lingkungan kerja yaitu motivasi, penugasan kerja, perilaku dan sifat supervisory, suasana organisasi, interaksi dengan rekan, dan kebijakan dan praktek manajemen. Dengan kata lain ada dua faktor pendukung pembaruan kompetensi profesional yaitu faktor pendukung dari lingkungan dan faktor pendukung dari diri sendiri (motivasi pribadi).
Ada lima faktor utama dari lingkungan kerja yang mendorong pembaruan kompetensi:
(1). Tantangan kerja dan tugas
(2). Perilaku supervisori
(3). Suasana organisasi
(4). Interakasi dengan rekan kerja
(5). Kebijaksanaan dan praktek manajemen

Untuk memperkirakan motivasi digunakan tiga informasi yaitu kepercayaan ekspektansi, kepercayaan intrumentalitas, dan valensi hasil. Ekspektansi mengacu pada pemahaman antara usaha (proses belajar) dengan hasil yang didapat. Instrumentalitas mengacu pada kepercayaan bahwa mencapai suatu hasil akan mempengaruhi hadiah. Valensi mengacu pada nilai yang ditempatkan seseorang pada hasil dan hadiah.

Berdasarkan hal di atas, Farr dan Middlebrooks menekankan pada peningkatan motivasi profesional yang ditentukan oleh interaksi antara faktor lingkungan kerja dan faktor pribadi. Sementara itu Miller mengusulkan strategi organisasional, environmental, dan rancangan kerja yang menyuburkan kompetensi. Sedangkan Kaufman mengusulkan teknik-teknik pengelolaan untuk mempertahankan kompetensi dalam aspe-aspek yang berkenaan dengan ciri-ciri individual, berkenaan dengan sifat kerja, dan berkenaan dengan suasana keorganisasian.

• Melibatkan pelatihan kecakapan khusus yang kurang pada dirinya.
Queeny dan Smutz mengembangkan sebuah model yang disebut The Practice Audit Model yang mencakup fase-fase sbb:
(1). Mengorganisasikan tim profesi yang menjalankan proyek
(2). Mengembangkan penggambaran praktek
(3). Mengembangkan bahan pemeriksaan unjuk kerja
(4). Sesi audit praktek
(5). Menganalisis indikator-indikator unjuk kerja membandingkan unjuk kerja dan standar.
(6). Merancang dan merencanakan program pedidikan profesional lanjutan.
(7). Mengimplementasikan program; mengevaluasi keefektifan program.
Model lain adalah behavioral modeling (Sparkin dan Goldstein) yang memakai prosedur belajar terstruktur mencakup, modeling, role playing, dan kembalian unjuk kerja.

• Meliputi pembaharuan secara mandiri dengan pengarahan oleh diri sendiri.

Bab III: Kecakapan Belajar Dalam Pengembangan Kompetensi

Pembaruan kompetensi mempunyai sebuah syarat yang sangat penting yaitu kecakapan belajar. Orang yang memiliki kecakapan belajar adalah orang yang mengetahui cara mengendalikan belajarnya, cara mengembangkan rencana belajar pribadi, cara mendiagnosa kekuatan dan kelemahan sebagai pelajar, cara memahami sebuah gaya belajar chart, cara mengatasi hambatan pribadi terhadap belajar, kriteria bagi tujuan-tujuan belajar yang baik, kondisi yang kondusif dalam belajar, cara belajar dari pengalaman hidup sehari-hari, cara bernegosiasi dengan birokrat kependidikan, cara belajar dari multimedia, cara memimpin dan berperan serta dalam kelompok diskusi dan kelompok penyelesaian masalah, cara memanfaatkan lokakarya dan konferensi, cara belajar dari seorang mentor, cara memakai intuisi dan visi untuk belajar, cara menolong orang lain belajar secara lebih efektif.

Untuk dapat belajar demi pembaruan kompetensi, hal berikut harus dilakukan:
• Memenuhi syarat-syarat untuk berhasil dalam belajar. Bagian ini terdiri dari pengertian umum yang menjadi dasar sikap positif dan motivasi, kecakapan dasar untuk belajar, pengetahuan tentang diri sendiri, dan pemahaman tentang tiga proses metode belajar (belajar mandiri, kerjasama, dan kelembagaan).
• Menyesuaikan belajar dengan gaya belajar, yaitu kecenderungan dan selera pribadi yang mempengaruhi belajar atau cara-cara khas seseorang dalam memproses informasi, merasa, dan bertindak dalam situasi belajar.
• Mengikuti pelatihan, yaitu kegiatan terorganisir atau pengajaran untuk meningkatkan kompetensi dalam belajar.

Smith meringkaskan langkah-langkah pengembangan kompetensi dalam belajar bagaimana belajar sbb:
• Pemahaman umum.
Terdiri dari belajar mungkin, belajar develomental, kecemasan dan penolakan formal, belajar bagaimana belajar penting, belajar dapat digunakan dalm situasi lain, rancangan meningkatkan keefektifan belajar, dan pelajar mempunyai hak.
• Kecakapan dasar.
Berupa komunikasi, membaca dan memahami bacaan, dan menghitung.
• Sumber daya dan metode.
Yaitu kecakapan untuk belajar sendiri, belajar bersama, belajar dari lembaga, dan kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek belajar.
• Pengetahuan diri sendiri.
Tentang gaya belajar dan hambatan pribadi dalam belajar.
• Riset dan pelatihan
Berupa mengembangkan pengetahuan baru mengenai belajar bagaimana belajar dan menolong orang lain belajar bagaimana belajar.


Bab IV: Pengembangan Kompetensi Melalui Pendidikan Profesional Lanjutan Dan Study Lanjut

Untuk membarui kompetensi melalui sarana pendidikan profesional lanjutan (misalnya perguruan tinggi, organisasi profesi) harus dipilih yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan diri sendiri.
Dalam mempertimbangkan study lanjut perlu ditanyakan beberapa pertanyaan sbb:
• Bagaimana bidang pengetahuan atau praktek ini dikembangkan?
• Apakah konsep-konsep dan istilah-istilah pokoknya?
• Apakah teori-teori pokoknya?
• Siapa pakar-pakarnya yang secara pling luas dihormati?
• Apakah satu atau dua buku pengantarnya?


Bab V: Pengembangan Kompetensi Dengan Belajar Sendiri

Salah satu cara untuk belajar sendiri adalah melakukan belajar secara mandiri atau melaksanakan proyek belajar pribadi. Syarat-syarat yang perlu untuk belajar sendiri adalah:
1. Pemahaman atas asumsi-asumsi yang mendasari mode belajar mandiri dan apa bedanya dari belajar bersama dan belajar kelembagaan.
2. Memahami proses yang tercakup seperti perencanaan dsb.
3. Adanya kemudahan lebih banyak dalam implementasi proses.

Untuk merencanakan proyek belajar mandiri perlu melakukan sebuah perencanaan yang baik dan teratur. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sbb:
• Menentukan apa yang dipelajari
• Memastikan sasaran dan tujuan
• Menetapkan kriteria evaluasi
• Menentukan sumber daya
• Memutuskan bilamana mencari pertolongan
• Memilih strategi
• Pelaksanaan strategi.
Mencakup melakukan wawancara dan mengajukan pertanyaan, membaca, mendengar, mengamati, menonton, berlatih sebuah kecakapan, memperoleh kembalian, merancang cara menghindari rintangan, menciptakan lingkungan belajar yang cocok, menerapkan apa yang dipelajari, dan kegiatan lain-lain.

Selain apa yang sudah ditulis di atas, ada cara belajar sendiri yang dapat dijalankan:
• Menemukan, mengakses, memilih dan memakai sumber informasi, termasuk membaca bacaan profesional dan mengkritik riset.
• Melakukan praktek atau belajar dari praktek dan pengalaman hidup sehari-hari.
• Menjadi anggota asosiasi profesional.
• Membagikan pikiran-pikiran secara tertulis dan melalui presentasi.
• Belajar dari mentor.
• Belajar dari radio dan TV (multimedia).
• Belajar dengan komputer.
• Belajar melalui intuisi dan mimpi.


Bab VI: Pengembangan Kompetensi Dengan Belajar Bersama

Belajar bersama adalah belajar secara mandiri yang dilakukan secara bersama-sama. Diperlukan kondisi yang mendukung agar proses belajar bersama dapat berjalan secara optimal:
• Setiap orang berbagi dalam pengembangan dan evaluasi program.
• Kebebasan berekspresi diizinkan.
• Anggota-anggota kelompok memiliki kecakapan melakukan penyelidikan dan pemecahan masalah bersama-sama.
• Mendorong sikap diagnostik terhadap proses belajar.

Langkah-langkah perencanaan dalam belajar bersama adalah sbb:
• Menetapkan minat bersama semua angota.
• Mengembangkan pertanyaan, isi, ide, kecakapan, masalah khusus dalam kegiatan belajar.
• Menetapkan sasaran.
• Memilih sumber daya yang sesuai.
• Memilih prosedur atau strategi yang patut.
• Menempatkan kegiatan utama dalam sebuah format dan jadwal waktu.

Kegiatan belajar bersama melibatkan beberapa atau banyak orang sehingga setiap anggota termasuk pemimpin perlu menjaga tindakan yang bertangung-jawab sbb:
• Komunikasi: mendengar secara aktif dan menolong orang lain untuk memahami apa yang dibicarakan.
• Suasana: ikut berpartisipasi secara aktif untuk menciptakan sebuah suasana yang kondusif sehingga setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri.
• Keterbukaan: menyatakan apa yang ingin dipelajari, mencoba ide baru, meminta feedback.
• Perlaku lain: berbagi dalam pengembangan dan evaluasi program, menjadi relawan bagi tugas dan peran khusus, dll.


Bab VII: Perencanaan Pengembangan Kompetensi Profesional

Sebuah rancangan mempengaruhi efektifitas belajar sehingga sebuah pembaruan kompetensi profesional di awali dengan rancangan yang baik. Langkah-langkah sebuah rancangan yang baik adalah sbb:
• Menggambarkan peristiwa pelayanan.
Gambarkan peristiwa-peristiwa yang perlu ditanggapi dari pelayanan pastoral. Contoh: sebuah kasus, laporan kejadian, laporan verbatim, dll.
• Memperhatikan sumber-sumber informasi yang relevan untuk didengarkan dalam merenungkan keputusan pastoral.
Sumber informasi adalah sumber informasi kristen (Alkitab, ajaran gereja sepanjang zaman, denominasi gereja), pengalaman pribadi, dan sumber informasi kebudayaan.
• Mengambil keputusan mengenai pelayan pastoral.
Langkah-langkah dalam merencanakan inervensi pastoral adalah menetapkan pokok permasalahan yang dihadapi, menetakan sasaran, menyatakan nilai-nilai yang tercermin dalam sasaran yang ditetapkan, menetapkan agenda, melaksanakan strategi, menilai intervensi pribadi.


Penutup

Buku ini memberikan pencerahan akan arti pentingnya seorang hamba Tuhan memperbaharui kompetensi profesionalnya dalam pelayanannya. Bahkan lebih dari itu buku ini juga memberikan informasi bagaimana caranya untuk memperbarui kompetensi profesional. Jadi buku ini pantas menjadi buku yang wajib dibaca oleh setiap hamba Tuhan baik yang sudah lama melayani maupun yang baru lulus dari seminari. Hal ini penting karena pepatah mengatakan ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Artinya lebih baik membuat rancangan pengembangan kemampuan profesional pribadi sedini mungkin daripada menunggu kemampuan itu menjadi usang terlebih dahulu.