Bab 1: Bila Anda Mau Hidup Menurut Kemauan Allah
Allah menghendaki agar semua orang kristen bertumbuh menjadi seperti Yesus. Kehidupan sebagai orang kristen adalah kehidupan rohani yang memerlukan disiplin agar dapat bertumbuh ke arah menjadi seperti Yesus.
1 Timotius 4:7b menyatakan kita harus melatih diri untuk beribadah atau dengan kata lain, kita harus melatih diri secara rohani melalui disiplin rohani. Hal ini adalah suatu perintah dari Tuhan kepada kita bukan sekedar anjuran saja. Walaupun demikian untuk menjalankan kehidupan rohani yang disiplin bukan sebuah hal yang mudah. Tetapi disiplin tanpa arah (tujuan) adalah sesuatu yang melelahkan dan menjemukan. Jadi disiplin rohani yang dilakukan kita mempunyai tujuan yang jelas yaitu patuh pada kemauan Allah dengan menjadi serupa dengan Kristus. Dengan mengetahui tujuannya maka disiplin rohani menjadi hal yang menyenangkan.
Disiplin Rohani (cara hidup menurut kehendak Allah)
Disiplin rohani terdiri dari disiplin secara pribadi dan secara kelompok yang meningkatkan pertumbuhan rohani. Disiplin rohani yang dibahas dalam buku ini terdiri dari 10 poin yaitu bergaul akrab dengan Firman Tuhan, berdoa, beribadah, memberitakan Injil, melayani, tanggung-jawab menggunakan waktu, berpuasa, bersaat teduh, menulis dalam buku harian, menekuni hal-hal rohani. Orang kristen hanya dapat menjadi dewasa secara rohani melalui disiplin. Hanya melalui disiplin kita dapat hidup sesuai kehendak Allah.
Ada tiga hal yang dipakai Allah untuk mentransformasikan karakter kita:
1. Sesama manusia (Amsal 27:17). Tuhan dapat memakai teman atau lawan bahkan semua orang untuk merubah kita.
2. Keadaan (Roma 8:28). Keadaan seperti cuaca, beban keuangan, kesehatan dll dapat dipakai Allah untuk merubah kita.
3. Disiplin rohani. Dalam melaksanakan disiplin rohani, Tuhan memberi kebebasan untuk memilih. Sedangkan dalam dua poin di atas kita biasanya hampir tidak dapat memilih. Melalui disiplin rohani, Allah bekerja dari dalam ke luar, sedang melalui keadan dan orang lain, prosesnya bergerak dari luar ke dalam.
Secara teologis harus dipahami bahwa disiplin rohani tidak membuat manusia menjadi kudus karena kekudusan adalah anugerah Allah semata-mata (Yohanes 17:17; 1 Tesalonika 5:23; Ibrani 11:2). Disiplin rohani adalah melatih dari untuk hidup dalam kekudusan. Disiplin rohani adalah alat Allah, saluran Allah agar kita bertumbuh dalam kekudusan. Disiplin adalah kunci pemuridan dan Yesus sendiri memberikan teladan dalam menjalani hidup dalam disiplin rohani.
Bab 1 ini ditutup dengan tiga renungan yang bagus sekali yaitu:
• Mengabaikan disiplin rohani adalah sesuatu yang berbahaya.
• Disiplin rohani mewujutkan kemerdekaan rohani.
• Setiap orang kristen dipanggil untuk menikmati disiplin rohani.
Komentar:
Bab ini menyadarkan saya untuk mulai hidup dalam disiplin rohani. Selama ini saya berdisiplin dalam belajar teologi tanpa melakukan aspek-aspek lainnya. Inilah bagian dari proses pengudusan bagi semua orang percaya di mana kita harus mentransformasi karakter kita bersama Roh Kudus agar semakin mirip dengan Kristus. Melalui disiplin rohani maka perubahan karakter akan terjadi sehingga kita dapat mengatakan bahwa disiplin rohani mewujutkan kemerdekaan rohani; hal-hal jelek yang dulu kita inginkan menjadi hal-hal yang kita tidak inginkan lagi. Inilah kemerdekaan rohani.
Bab 2: Bergaul Akrab Dengan Firman Tuhan (1)
Dalam kehidupan kristen, disiplin rohani yang terpenting adalah pemahaman akan Firman Tuhan. Tidak ada kehidupan kristen yang sehat tanpa makanan rohani dari Firman Tuhan. Alkitab menyatakan jalan dan kehendak Allah sekaligus menyatakan petunjuk bagaimana hidup menyenangkan hati Allah.
Ada beberapa faktor dalam bergaul akrab dengan Firman Tuhan:
• Mendengarkan Firman Tuhan.
Mendisiplin diri untuk mendengarkan Firman Tuhan berarti secara tetap berarti menghadiri kebaktian dalam gereja yang injili. Cara lain adalah mendengarkan melalui kaset khotbah atau siaran radio kristen. Lukas 11:28 menyatakan bahwa bukan hanya sekedar mendengarkan Firman Tuhan, tetapi mematuhi apa yang Tuhan katakan dan menjadi seperti Kristus dalam perilaku sehari-hari. Roma 10:17 menyatakan kita menjadi beriman karena mendengarkan Firman Tuhan.
• Membaca Firman Tuhan.
Melalui Matius 4:4, Yesus mengharapkan kita untuk membaca ‘setiap kata’ dalam Alkitab. Jika ingin berubah menjadi seperti Kristus, kita harus berdisiplin untuk membaca Alkitab setiap hari secara tetap dan teratur. Untuk itu kita harus meluangkan waktu, mengusahakan untuk mempunyai daftar pembacaan Alkitab dan setiap membaca Alkitab, cari satu kata, satu istilah, atau satu ayat untuk direnungkan.
• Mempelajari Firman Tuhan.
Membaca Alkitab bagaikan menelusuri danau dengan sebuah kapal motor sehingga membuat kita melihat betapa luasnya isi Alkitab. Di pihak lain, mempelajari Alkitab bagaikan menelusuri danau dengan kapal layar secara pelan-pelan sehingga membuat kita melihat betapa dalam artinya. Ezra 7:10; Kisah 17:11; 2 Timotius 4:13 memberikan contoh betapa nabi Ezra, jemaat Berea dan rasul Paulus bertekun dalam mempelajari Firman Tuhan.
Mengapa orang kristen banyak yang lalai mempelajari Firman Allah?
R.C. Sproul dengan tegas mengatakan bahwa kelalaian mempelajari Firman Tuhan bukan karena mengalami kesulitan dalam memahami artinya atau karena Firman itu membosankan, melainkan diperlukan waktu dan usaha untuk mempelajarinya. Artinya kemalasan adalah penyebabnya. Penulis memberikan kemungkinan yang lain yaitu karena sebagian orang tidak tahu bagaimana caranya mempelajari Alkitab dan di mana harus memulainya. Penulis menyerankan untuk mencatat penemuan dan pertanyaan yang muncul ketika membaca Alkitab. Gunakan ayat-ayat referensi dan kamus Alkitab. Cara lain adalah mempelajari paragraf demi paragraf dalam setiap pasal yang dipelajari.
Komentar
Pertama, memang benar mendengarkan, membaca, dan mempelajari Alkitab sangat penting bahkan paling penting dalam disiplin rohani. Inilah dasar fondasi iman kristen karena tanpa pemahaman yang benar akan Firman Tuhan, tidak mungkin kita mengetahui apa kehendak Tuhan. Alkitab adalah buku tentang Tuhan dan apa yang dilakukan-Nya serta apa yang Dia ingin kita lakukan.
Kedua, saya pikir apa yang penulis sarankan untuk mempelajari Firman Tuhan (hal. 38-39) tidaklah semudah itu. Diperlukan sebuah study mendalam yang dipimpin oleh orang yang sudah belajar untuk dapat mengetahui isi Alkitab secara benar dan sehat.
Bab 3: Bergaul Akrab Dengan Firman Tuhan (2)
Bab ini mengungkapkan bahwa hanya mendengarkan Firman Tuhan saja adalah bagaikan mengumpulkan buah-buahan sebanyak mungkin, lalu membawanya pulang. Buah-buah tersebut akan habis dalam beberapa hari. Berbeda jika kita mempunyai pohonnya sendiri sehingga dapat selalu menikmati buahnya. Membaca dan mempelajari Alkitab bagaikan mempunyai pohon rohani yang bila dilengkapi dengan ‘menghafalkan, merenungkan, dan menerapkan Firman Tuhan’ akan meningkatkan panen buah rohani.
Manfaat dan metode menghafalkan Firman Allah
• Memberikan kekuatan rohani.
• Menguatkan iman.
• Membekali diri untuk bersaksi dan membimbing orang lain.
• Mengingatkan akan nasihat dan petunjuk dari Tuhan.
• Mendorong kita untuk merenungkannya.
Firman Tuhan adalah pedang Roh, tetapi Roh Kudus tidak dapat menolong kita untuk menggunakannya bila kita belum menyimpan ‘pedang’ tersebut dalam pikiran kita.
Penulis memberikan beberapa metode untuk menghafalkan ayat-ayat Alkitab: memilih ayat-ayat yang akan dihafalkan, menuliskannya, menghafalkannya, dan mengulangi dan merenungkannya setiap hari.
Manfaat dan metode merenungkan Firman Allah
Merenungkan Firman Tuhan berarti memikirkannya secara mendalam dan mencari makna rohaninya sehinga kita mengerti dan dapat menerapkannya dalam hidup sehari-hari. Jika Firman Tuhan ibarat teh celup dan kita adalah air panasnya, maka mendengarkan Firman Tuhan adalah mencelup teh celup satu kali ke dalam air panas. Membaca Alkitab adalah mencelup untuk kedua kalinya, mempelajari Alkitab adalah mencelup untuk ketiga kalinya, menghafalkan ayat-ayat Alkitab adalah mencelup untuk keempat kalinya. Setiap celupan akan melarutkan teh lebih banyak, tapi hanya dengan merendamnya semua manfaat teh akan larut dalam air panas. Merenungkan Firman Tuhan adalah ibarat merendam teh celup ke dalam air panas.
Metode yang dapat digunakan untuk merenungkan Firman Tuhan adalah dengan memlih ayat-ayat yang tepat sesuai pimpinan Roh Kudus, mengulangi ayat-ayat itu dengan tekanan yang berbeda, tuliskan kembali dengan kata-kata kita sendiri, mencari penerapan dalam hidup kita, sering berdoa waktu merenungkannya, dan jangan terburu-buru.
Manfaat dan metode menerapkan Firman Allah
Merenungkan Firman Tuhan harus berlanjut kepada menerapkannya. Agar dapat menerapkannya, diperlukan pemahaman yang mendalam akan Firman itu misalnya konteksnya, latar belakang historis dll. Jadi merenungkan adalah kunci bagi penerapan dan pelaksanaan Firman Tuhan tersebut.
Ada beberapa pertanyaan yang dapat meningkapkan penerapan yaitu dengan bertanya pada diri sendiri misalnya apakah ayat-ayat ini menyingkapkan sesuatu yang harus kita lakukan, sesuatu yang harus kita percayai, sesuatu yang menegur dosa dll. Pada akhirnya, di akhir saat teduh, kita seharusnya sudah dapat menyebutkan satu hal yang akan kita lakukan.
Komentar
Sebenarnya proses awal dari mendengarkan sampai merenungkan dan menerapkan Firman Allah adalah suatu paket yang tidak boleh dipisahkan. Khusus tentang penerapan memang menjadi sensitif di masa kini yang penuh keterbukaan. Hamba Tuhan dituntut keras untuk dapat melakukan apa yang diucapkannya agar tidak dicap ‘jarkoni’ (bisa berkata, tidak bisa melakukan).
Bab 4: Berdoa
Allah telah berbicara kepada umat-Nya melalui Yesus dan melalui Alkitab, tetapi Dia juga senantiasa siap mendengarkan kita, mendengarkan doa kita. Dalam 1 Tesalonika 5:17, Tuhan mengharapkan kita untuk selalu berdoa dalam arti selalu berada dalam jalur hubungan dengan-Nya. John Piper mengatakan bahwa doa adalah bagaikan ‘walkie talkie’ dalam peperangan rohani di mana kita dapat mengunakan ‘walkie talkie’ doa sebagai sarana untuk hidup dalam jalan-Nya dan sekaligus doa berfungsi sebagai senjata dalam peperangan rohani.
Dalam prakteknya, Yesus sendiri memberi teladan dalam berdoa tetapi banyak orang kristen tidak berdoa seperti seharusnya. Kita sering tidak berdoa karena kurang percaya doa kita akan dikabulkan, kita segan berdoa ketika sedang merasa Tuhan tidak dekat dengan kita. Ketika kita kurang menyadari perlunya berdoa, ketika kita kurang menyadari kebesaran Allah maka doa kita akan minim sekali. Penyebab lain kurangnya doa adalah karena kita belum belajar berdoa.
Belajar berdoa (Lukas 11:1)
Lukas 11:1 dengan jelas menceritakan bagaimana para murid meminta agar Yesus mengajarkan mereka berdoa. Ada beberapa cara pembelajaran:
• Belajar berdoa dengan mulai berdoa.
Cara terbaik belajar berdoa adalah dengan berdoa. Dengan berdoa, Roh Kudus akan lebih mudah untuk membimbing kita.
• Belajar berdoa dengan merenungkan Firman Allah.
Merenungkan Firman Tuhan adalah mata rantai penghubung antara membaca Alkitab dan berdoa (Mazmur 5:2; 19:8-11, 15). Membaca Firman yang dilanjutkan dengan merenungkannya, meresapinya, mengunyahnya dan kemudian dilanjutkan dengan membicarakannya dengan Tuhan lewat berdoa. Jadi kita berdoa berdasarkan apa yang kita dapatkan dalam Alkitab.
• Belajar berdoa dengan berdoa bersama orang lain.
Murid-murid belajar berdoa tidak hanya mendengarkan ajaran Yesus tntang doa, melainkan juga dengan berdoa bersama Dia. Kita dapat belajar berdoa dari orang lain untuk mengenal prinsip-prinsip doa. Misalnya bagaimana berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan, bagaimana berdoa sambil menelusuri ayat-ayat Alkitab, berdoa syafaat bagi para utusan Injil dll.
• Belajar berdoa dengan membaca buku tentang doa.
Buku-buku tentang berdoa yang ditulis oleh tokoh-tokoh dapat membuat kita memiliki pandangan rohani tentang bagaimana berdoa sebagaimana sudah disingkapkan Tuhan kepada mereka.
Doa yang dikabulkan
Tuhan mengabulkan doa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika kita tidak menerima apa yang ita minta maka kita harus mawas diri. Mungkin itu doa yang egosentris, mungkin juga kita harus lebih bertekun, apakah ada dosa yang belum diselesaikan? dll.
Komentar
Menarik sekaligus teguran keras bagi diri sendiri agar mulai belajar berdoa. Kadang pendirian teologis juga membuat seseorang ‘kurang’ berdoa karena yakin Tuhan sudah menentukan semuanya sehingga berdoa tidak menjadi prioritas. Bagian doa yang dikabulkan perlu mendapat penjelasan lebih mendalam agar tidak menyesatkan. Kutipan Andrew Murray perlu dijelaskan konteksnya agar tidak keliru ditafsirkan menjadi teologi kemakmuran.
Bab 5: Beribadah
Beribadah di gereja bukan untuk melakukan sebuah kewajiban. Tujuan kita beribadah di gereja adalah untuk menyembah-Nya. Ibadah yang hanya memuliakan Tuhan dengan bibir tanpa hati yang menyembah adalah ibadah yang sia-sia (Matius 15:8-9). Bagaimana agar ibadah kita tidak sia-sia? Kita harus belajar berdisiplin dalam beribadah sbb:
• Menyembah Tuhan adalah memusatkan hati dan pikiran kepada-Nya dan ber-respon positif pada-Nya.
Semakin kita memusatkan perhatian kepada Allah, semakin kita sadar betapa layaknya Dia meneima segala pujian dan hormat sehingga otomatis kita akan ber-respon positif kepada-Nya. Sebagai contoh ketika kita merenungkan kekudusan dan pengertian itu semakin dalam, otomatis akan timbul keinginan untuk menyembah-Nya. Jadi menyembah itu bukan lewat gerak dan kata-kata tapi melalui hati dan pikiran kita.
• Menyembah Tuhan dilakukan dalam roh dan kebenaran.
Yohanes 4:23-24 dan 1 Korintus 12:3 menyatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menyembah Tuhan dengan mengakui kebenaran pernyataan itu tanpa dipimpin oleh Roh Kudus. Jadi menyembah dalam roh adalah menyembah dari batin yang terdalam dan harus dilakukan berdasar kebenaran Firman Tuhan. Penyembahan bukanlah kewajiban karena penyembahan yang berkenan kepada-Nya adalah penyembahan yang timbul sebagai rasa kasih kita pada-Nya.
• Beribadah dalam kebaktian umum dan dalam saat teduh pribadi.
Pernyataan ini berdasar pada Ibrani 10:25. Perjanjian baru menggambarkan gereja sebagai tubuh (1 Kor. 12:12), anggota keluarga Allah (Ef 2:19), dan bangunan (Ef. 2:21). Ada hal-hal tertentu yang hanya dapat dialami dalam ibadah bersama. Sebaliknya, ada hal-hal tertentu pula yang hanya kita peroleh dalam ibadah pribadi. Tuhan berkenan untuk tidak membatasi pertemuan dengan kita hanya sekali dalam satu minggu. Setiap hari Dia menyediakan bimbingan dan kekuatan bagi kita.
• Disiplin diri dalam ibadah harus terus dipupuk.
Ibadah kepada Tuhan seumur hidup membutuhkan disiplin. Tanpa disiplin, ibadah kita akan menjadi lemah dan labil. Hubungan dengan Tuhan harus senantiasa dijaga dan dipupuk agar bertumbuh semakin erat dan kita bertransformasi semakin mirip Kristus. kita harus sadar diri sebagai manusia berdosa yang lemah.
Komentar
Saya sangat tertegur dengan topik ibadah pribadi setiap hari karena jujur, seringkali rutinitas hidup membuat ibadah pribadi tiap hari menjadi rutinitas belaka tanpa ‘api’ yang berkobar. Lebih buruk lagi cukup banyak orang kristen yang beribadah karena kewajiban, karena legalitas. Inilah sebuah tantangan besar bagi gereja masa kini.
Saya ingat sebuah ucapan: ‘lingkungan yang baik tidak mudah untuk menarik kita ke atas, tapi lingkungan buruk lebih mudah untuk menarik kita ke bawah.’ Jadi memang disiplin untuk beribadah pribadi dan di gereja sangat penting untuk menjaga ‘ritme’ hidup kita.
Bab 6: Memberitakan Injil
Penginjilan adalah sebuah tema yang sangat luas. Bab 6 membahas disiplin diri dalam memberitakan Injil karena bila kita mau hidup menurut kehendak Tuhan, kita harus memberitakan Injil.
Tuhan menghendaki kita memberitakan Injil
Jelas Amanat Agung memerintahkan setiap orang percaya bukan hanya hamba Tuhan atau penginjil untuk memberitakan Injil. Inti penginjilan adalah memberitakan keselamatan dari Allah yang ada dalam Yesus kepada orang belum percaya. Penginjilan dapat dilakukan secara lisan, tertulis, rekaman secara pribadi atau berkelompok.
Dalam penginjilan, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kuasa-Nya kepada kita walau sering orang kristen tidak mematuhinya. Ada beberapa hambatan yang menyebabkan kita tidak memberitakan Injil yaitu:
• Takut. Takut karena merasa belum mendapat pelatihan khusus. Masalahnya keyakinan itu tidak kunjung muncul.
• Metode bersaksi. Metode yang tidak sesuai dengan kepribadian akan membuat kita merasa takut untuk bersaksi.
• Pengalaman bersaksi di masa lalu yang kurang berhasil.
Sebenarnya tolok ukur kesuksesan pemberitaan Injil tidak diukur dari hasil atau tanggapan orang yang di Injili, melainkan dari penyampaian berita keselamatan itu sendiri. Ketika pemberitaan Injil dilakukan secara jelas dan benar yaitu dilakukan atas dasar Alkitab, maka hal itu adalah penginjilan yang berhasil, terlepas dari hasilnya.
Perlunya mendisiplin diri memberitakan Injil
Mendisiplin diri memberitakan Injil artinya tidak hanya menunggu datangnya kesempatan untuk bersaksi, baru bersaksi. Besaksi perlu sikap yang pro-aktif. Sebenarnya penyebab utama kita tidak bersaksi adalah karena kita tidak mendisipin diri untuk melakukannya. Dalam hidup sehari-hari sering kita melewatkan kesempatan untuk bersaksi, misalnya kita tidak ngobrol hal-hal rohani dengan rekan kerja, dengan teman-teman dll. Jika kita tidak mendisiplin diri memberitakan Injil, maka mudah untuk mencari alasan untuk memaklumi keadaan kita yang tidak memberitakan Injil.
Ada beberapa cara untuk bersaksi, misalnya:
• Menjadi pendengar yang baik. Melalui percakapan kita mengetahui kebutuhan teman saat itu dan hal ini dapat menjadi batu loncatan bagi pemberitaan Injil sebagi kebutuhan utama manusia.
• Memberi perhatian yang tulus dan menyediakan diri untuk mendoakan mereka. Hal ini membuka jalan untuk berbincang tentang hal rohani.
• Aktif bertanya, menjalin persahabatan di luar jam kerja.
1 Petrus 4:10-11 mengungkapkan bahwa karunia Roh dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu karunia melayani dan karunia berbicara. Masing-masing orang kristen harus mengabarkan Injil sesuai karunianya. Selain berbicara langsung, memberitakan Injil dapat dilakukan dengan melayani. Misalnya mendukung pekerjaan Tuhan melalui mendukung pekerjaan para misionaris, mengundang teman dalam persekutuan dll.
Komentar
Memang memberitakan Injil adalah salah satu perintah langsung Yesus yang paling diabaikan gereja dan orang kristen. Seringkali kita sudah merasa cukup dengan hanya terlibat dalam pelayanan di gereja dan tidak terpikir untuk terlibat dalam misi penginjilan, baik secara pribadi atau dalam lingkup badan misi. Saya sendiri sudah bertekad untuk selalu menyinggung misi dalam setiap renungan Firman Tuhan yang saya sampaikan.
Bab 7: Melayani
Pelayanan dapat dilakukan di dalam gereja dan di luar gereja. Pelayanan dapat dilakukan di depan umum seperti berkhotbah maupun di belakang layar seperti mengatur sound system. Yang paling sulit untuk dilakukan adalah mempunyai hati dan sikap yang melayani di tengah-tengah rumah tangga kita sendiri. Sifat kedagingan tidak menyukai pelayanan, tapi Tuhan menghendaki setiap orang kristen melayani.
Ada enam motif dalam pelayanan:
• Tergerak oleh keinginan mau patuh. Keinginan untuk mematuhi perintah Allah membuat kita melayani, apapun pekerjaannya.
• Tergerak oleh perasaan berterima kasih. Sebagai orang berdosa yang mendapat anugerah keselamatan, sudah selayaknya perasaan berterima kasih mendorong kita untuk melayani-Nya.
• Tergerak oleh suka cita. Melayani Tuhan tidak pantas dilakukan dengan hati mengomel melainkan dengan hati yang bersuka cita.
• Digerakkan fakta sudah diampuni. Kita melayani karena sudah diampuni bukan supaya diampuni.
• Digerakkan oleh kerendahan hati. Dalam pelayanan, yang menjadi persoalan bukan seberapa baik kita melayani, tapi apakah kita melayani dengan rendah hati serupa dengan Yesus.
• Digerakkan oleh kasih. Motivasi yang benar adlah melayani karena kasih kepada Tuhan dan sesama. Karena kasih maka kita patuh pada pimpinan-Nya.
Setiap orang kristen mempunyai karunia untuk melayani
1 Korintus 12:4; 1 Petrus 4:10 menyatakan setiap orang percaya mempunyai karunia Roh dan sudah seharusnya melayani sesuai dengan karunianya. Ada tujuh karunia Roh yang tercantum dalam Roma 12:4-8.
Karunia Roh tidak sama dengan kecakapan alamiah. Walaupun demikian, talenta alamiah yang dikuduskan dan dipakai dengan benar dalam pelayanan kepada Tuhan sering dapat menunjukkan karunia apa yang ada pada kita. Satu hal yang penting adalah kita harus terus melayani walau belum tahu dengan tepat apa karunia kita, karena tanpa melayani kita tidak akan tahu apa karunia kita sesungguhnya. Jadi tujuan Tuhan memberikan karunia Roh adalah agar kita memakai karunia itu untuk melayani. Dengan melayani, kita akan diubahkan dan menjadi semakin mirip Yesus.
Dibutuhkan ketekunan dan kerja keras
Setelah mengetahui karunia kita dan memakainya untuk pelayanan, tidak berarti pelayanan menjadi mudah dan tidak membutuhkan banyak usaha. Paulus memberikan teladan sebagai seorang hamba dengan bekerja keras karena apa yang dia lebih cintai dari melayani Allah adalah Allah itu sendiri. Pelayanan kita kepada Tuhan tidak akan sia-sia.
Komentar
Memang untuk dapat melayani dengan efektif, kita perlu menemukan apa karunia kita. Tapi mengetahui karunia diripun tidak membuat pelayanan menjadi mudah karena proses pengudusan tetap berlangsung seumur hidup.
Sekali lagi saya disadarkan untuk mengintropeksi diri: apakah motivasi dalam pelayanan? Ketika mendapat pujian, sangat mudah motivasi kita bergeser, dari Teo-sentris menjadi egosentris. Pelayanan bukanlah sebuah hal yang sederhana dan membutuhkan komitmen tinggi.
Bab 8: Tanggung Jawab Menggunakan Waktu
Topik ini sangat menarik karena hidup manusia selalu berkaitan dengan waktu dan uang. Kedua hal ini merupakan dua faktor besar dalam banyak bidang kehidupan sehingga perlu dibahas dalam kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Menggunakan waktu secara disiplin
Kehidupan kristen yang disiplin tidak terlepas dari pemakaian waktu yang disiplin pula. Ada 10 alasan mengapa kita harus menggunakan waktu secara disiplin:
• Gunakan waktu secara bijaksana ‘karena hari-hari ini adalah jahat.’ Pikiran harus didisiplinkan karena tanpa kesadaran dan disiplin akan menajadi tidak produktif atau dikuasai kejahatan.
• Menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan persiapan untuk memasuki kekekalan. Ada dua arti. Pertama, hidup di dunia adalah kesempatan persiapan memasuki alam baka. Kedua, jangan terlambat mengunakan kesempatan yang masih ada sekarang.
• Waktu ini singkat sekali. Karena manusia pasti mati, maka masa hidup sangatlah berharga.
• Waktu sedang terus berlalu. Selain singkat, waktu tersisa sedang terus berlalu tanpa bisa berhenti.
• Berapa lamakah waktu yang tersisa ini?. Selain singkat dan terus berlalu, kita tidak tahu berapa lama lagi yang kita punya.
• Waktu yang sudah lewat tidak dapat ditarik kembali.
• Kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas penggunaan waktu. Selain diminta pertanggung jawaban, upah kita tergantung pada bagaimana kita menggunakan waktu di bumi ini.
• Waktu itu sangat mudah menjadi sia-sia. Mudah untuk menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.
• Sewaktu menghadapi ajal, baru kita menghargai waktu.
• Nilai waktu sekarang ini. Penyesalan kemudian tidak lain akan menyangkut persoalan tidak menggunakan waktu di dunia untuk memuliakan Tuhan.
Menggunakan uang secara disiplin
Ada 10 prinsip mendisiplin diri dalam ‘memberi’ dari Perjanjian Baru:
• Segala sesuatu yang kita punya adalah milik Tuhan, kita pengurusnya.
• Memberi adalah lebih dari sekedar kewajiban, memberi adalah ibadah.
• Memberi mencerminkan iman kita bahwa Tuhan akan mencukupi.
• Memberi harus dilakukan dengan sikap pengorbanan dan murah hati.
• Memberi adalah cerminan apakah kita dapat dipercayakan kekayaan rohani.
• Memberi adalah pernyataan kasih, bukan kewajiban semata.
• Berilah dengan sukarela, dengan bersyukur, dan dengan suka cita.
• Memberi adalah tanggapan yang tepat terhadap suatu kebutuhan.
• Memberi secara terencana dan teratur.
• Memberi dengan murah hati mendatangkan berkat yang melimpah.
Komentar
Sungguh luar biasa prinsip-prinsip menggunakan waktu dan uang yang diuraikan oleh penulis. Ada banyak poin yang baru saya ketahui sehingga bab ini sangat memberkati dan menantang. Charles Swindoll pernah menulis bahwa pada saat kita memberi, pada saat itulah kita paling mirip Tuhan. Memberi bukanlah perbuatan yang mudah, itu memerlukan disiplin.
Bab 9: Berpuasa
Salah satu disiplin rohani yang biasanya tidak disukai orang adalah berpuasa karena berpuasa berarti menentang nafsu kedagingan, sifat yang menuruti nafsu jasmani.
Penjelasan mengenai puasa
Puasa adalah menahan diri secara suka rela untuk tidak makan demi tujuan yang rohani. Dalam arti luas, puasa tidak terbatas pada tidak makan saja melainkan tidak melakukan hal-hal wajar yang biasa dilakukan. Ada beberapa macam puasa:
• Puasa biasa, yaitu tidak makan tapi tetap minum.
• Puasa sebagian, yaitu tidak makan makanan tertentu.
• Puasa total, yaitu tidak makan dan tidak minum.
• Puasa luar biasa, yaitu tidak makan dan minum dalam jangka yang panjang. Puasa ini hanya terjadi bila Tuhan yang memanggil orang itu untuk melakukannya. Contoh: Ulangan 9:9; 1 Raja-Raja 19:8.
• Puasa privat, yaitu puasa tanpa diketahui orang lain.
• Puasa bersama, yaitu puasa bersama-sama.
• Puasa berkala, yaitu puasa dalam waktu-waktu yang tertentu.
• Puasa khusus, yaitu puasa yang dilakukan bila ada kebutuhan khusus.
Tuhan mengharapkan kita berpuasa
Tuhan Yesus mengharapkan pengikut-Nya untuk berpuasa, misalnya dalam Matius 6:16-17. seperti disiplin rohani lainnya, berpuasa bukanlah kewajiban melainkan hak istimewa. Tidak ada ketentuan berapa lama waktunya berpuasa, hal itu terserah diri kita dan pada pimpinan Roh Kudus.
Prinsip dalam berpuasa adalah puasa dilakukan untuk tujuan tertentu, yaitu:
• Untuk menguatkan doa dan menandakan kesungguhan orang yang menaikkan doanya.
• Untuk mencari petunjuk dari Tuhan. Puasa akan membuat kita lebih dapat menerima apa yang ditentukan Tuhan bagi kita.
• Untuk mengungkapkan kesedihan atas dosa yang kita lakukan atau dosa yang diperbuat orang lain.
• Untuk memohon kelepasan atau perlindungan akibat dosa diri atau dosa bangsa kita.
• Untuk mengekspresikan pertobatan dan bertekad untuk mematuhi Tuhan pada hidupnya yang baru.
• Untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan. Puasa bukan kerendahan hati melainkan mengekspresikan kerendahan hati.
• Untuk mengungkapkan keperdulian terhadap pekerjaan Tuhan.
• Untuk melayani kebutuhan orang lain.
• Untuk mengatasi godaan dan mengabdikan diri kepada Tuhan.
• Untuk mengungkapkan kasih dan ibadah kepada Tuhan, untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi Tuan daripada makanan.
Komentar
Dalam lingkungan gereja saya, sangat langka kita mendengar khotbah yang membahas tentang berpuasa. Terus terang, bab ini membuka pengertian saya akan pentingnya disiplin puasa sekaligus memberikan begitu banyak macam-macam puasa beserta dasar Alkitabnya. Saya mau belajar untuk menjalankan disiplin puasa.
Bab 10: Saat Teduh
Unsur kesunyian dan kesendirian mempunyai daya untuk merubah diri seseorang. Yang dimaksud dengan kesunyian adalah mengacu pada tindakan untuk tidak berbicara pada orang lain untuk sementara waktu. Kita memanfaatkan kesunyian untuk bersaat teduh, berdialog dengan diri sendiri dan Tuhan. Saat teduh penting agar kerohanian kita bertumbuh.
Alasan mengapa saat teduh penting
• Mengikuti teladan Yesus, misalnya dalam Matius 4:1; 14:23; Markus 1:35; Lukas 4:42.
• Agar dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih baik. Dalam dunia yang sangat bising, saat teduh membuat kita lebih peka terhadap suara Tuhan.
• Untuk mengungkapkan ibadah kita kepada Tuhan. Ibadah tidak hanya harus diekspresikan dengan kata-kata.
• Untuk mengungkapkan iman kepada Tuhan. Kita dapat mengekspresikan iman kepada Tuhan dengan berdiam diri dan memusatkan hati dan pikiran kepada-Nya dalam keheningan.
• Untuk memohon keselamatan dari Tuhan. Kesunyian dapat menyadarkan kita pada keberdosaan kita.
• Untuk dipulihkan secara jasmani maupun rohani. Kesunyian dan kesendirian dapat memulihkan fisik dan rohani serta membangkitkan daya kreasi kita.
• Untuk mendapatkan kembali perspektif rohani. Kadang keraguan dan masalah hanya dapat diselesaikan melalui saat teduh bersama-Nya.
• Untuk mencari kehendak Allah. Ada kalanya Tuhan menyingkapkan kehendak-Nya secara pribadi dalam saat teduh kita.
• Untuk belajar mengendalikan lidah. Orang yang mendisiplin diri untuk berdiam diri akan mampu mendengarkan secara efektif dan dapat berbicara hal-hal yang bermutu karena dapat mengendalikan diri.
Saran-saran untuk menikmati saat teduh
Disiplin ini dapat dilakukan secara teratur, bukan hanya dilakukan sekali-kali saja. Ada beberapa petunjuk sbb:
• Retret beberapa menit. Maksudnya menggunakan waktu luang yang singkat (misalnya saat lampu merah) untuk memusatkan hati dan pikiran kepada Tuhan.
• Sisihkan waktu tiap hari untuk bersaat teduh.
• Carilah tempat-tempat khusus untuk bersaat teduh. Maksudnya kita dapat memanfaatkan tempat tertentu (bisa berpindah-pindah) untuk bersaat teduh.
Komentar
Tidak dapat disangkal dalam dunia yang bising hari ini, saat teduh adalah sebuah disiplin rohani yang sangat penting. Saya menganggap saat teduh sebagai waktu untuk melakukan intropeksi pribadi. Dalam pengalaman saya, mendengarkan rekaman khotbah (atau mendengarkan lagu) dalam kesendirian dapat menjadi saat-saat yang sangat produktif bagi diri. Ada beberapa Firman yang menegur atau membuka hati dan pikiran. Tidak jarang dalam momen seperti itulah saya bisa menangis.
Bab 11: Menulis Dalam Buku Harian
Buku harian adalah sarana untuk mencatat perkembangan diri sewaktu melaksanakan disiplin rohani lainnya. Isinya dapat mencakup kejadian sehari-hari, pikiran, perasan, pergumulan sehari hari. Buku harian mempunyai manfaat dalam pembentukan karakter kita. Ada nilai-nilai yang didapat dengan menulis buku harian:
• Membantu kita mengerti dan memeriksa diri sendiri.
Dengan mencatat kejadian sehari-hari dan mencatat reaksi kita terhadap kejadian-kejadian tersebut, kita dapat mengevaluasi diri. Roh Kudus dapat memakai buku harian untuk menegur dosa-dosa kita.
• Membantu kita merenungkan Firman Tuhan.
Menulis buku harian dapat menolong kita untuk berkonsentrasi merenungkan Firman Tuhan.
• Membantu mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada Tuhan.
Buku harian adalah sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan kita di hadapan Tuhan.
• Membantu kita ingat akan perbuatan Tuhan.
Mencatat peristiwa yang terjadi di buku harian akan membantu kita untuk tidak melupakannya.
• Membantu kita menyalurkan berkat rohani.
Buku harian adalah sarana yang berguna untuk mengajarkan dan menyalurkan ajaran Firman Tuhan kepada anak kita dan pada angkatan yang akan datang.
• Memperjelas pengertian rohani dan pesan Tuhan.
Dengan mencatat pengertian rohani dan pesan Tuhan yang kita dapat dalam melakukan saat teduh, pengertian itu akan lebih kuat melekat pada pikiran kita.
• Membantu kita memonitor sasaran dan prioritas.
Buku harian akan sangat membantu dalam mengingatkan akan sasaran dan prioritas yang ingin kita capai.
• Membantu kita melakukan disiplin-disiplin rohani lainnya.
Dengan catatan yang lengkap, kita dapat memonitor perkembangan pribadi dalam melakukan disiplin rohani lainnya. Sifat kedagingan kita harus selalu dimonitor agar tidak menguasi kita, salah satu caranya adalah melalui catatan buku harian.
Cara menulis buku harian
Penulis berpendapat tidak ada sebuah cara yang paling baik bagi semua orang. Dalam keunikannya, setiap manusia mempunyai cara yang berbeda satu dengan lainnya. Dalam mencatat buku harian, yang penting bukan caranya melainkan isinya.
Komentar
Bab 11 ini membahas disiplin rohani yang asing bagi saya pribadi. Memang sejak dahulu saya tidak biasa untuk menulis buku harian untuk tujuan apapun. Setelah membaca dan meringkas, saya sadar bahwa buku harian adalah sebuah hal yang penting bagi diri terutama untuk memonitor perkembangan kehidupan rohani. Melalui buku harian, kita juga dapat melayani dengan membagikan pengalaman kurang baik kita kepada orang lain agar tidak diulangi.
Bab 12: Belajar Dan Belajar
Seorang kristen yang Alkitabiah harus mempunyai kemauan untuk belajar sekaligus mempunyai hati yang mengabdi. Pengetahuan ibarat bahan bakar bagi hati agar hati kita berkobar. Jadi sebenarnya pengetahuan (rasio) dan hati adalah bagaikan dua sisi mata uang logam yang sama pentingnya. Pengetahuan tanpa hati yang hangat bagaikan sebuah pohon yang kering. Sebaliknya hati yang hangat tanpa pengetahuan yang benar laksana api yang menyala tanpa bahan bakar sehingga sebentar padam.
Hal ini tidak berarti kita harus menjadi orang yang briliant, melainkan kita semua harus menjadi murid Yesus dan mau belajar dari Dia.
Mengapa kita perlu belajar
• Belajar merupakan ciri orang yang bijaksana.
Amsal 9:9; 10:14 dengan jelas menunjukkan pentingnya belajar. Dikatakan orang bijak dan orang benar selalu haus akan hikmat dan pengetahuan. Pengetahuan adalah laksana harta yang sangat berharga dan tidak ternilai. Amsal 18:15 menyatakan hati orang bijak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi mencarinya. Jadi Firman Tuhan mengatakan bahwa proses pembelajaran adalah proses seumur hidup yang tidak boleh berhenti.
• Melaksanakan perintah yang utama.
Markus 12:30 menyatakan bahwa mengasihi Tuhan harus ditunjukkan dengan jalan belajar kepada-Nya. Mengasihi Allah harus dilakukan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita. R.C. Sproul mengatakan bahwa semakin mengenal Dia, semakin kita dapat mengasihi Dia. Semakin mengasihi Dia, semakin kita mengenal Dia. Agar Tuhan menjadi utama dalam hati kita, Dia harus menjadi yang utama dalam pikiran kita. Pikiran yang rohani merupakan prasyarat bagi kasih yang rohani dan bagi kepatuhan terhadap Tuhan. Jadi tidak mungkin kita mengasihi Tuhan tanpa mempunyai pengetahuan tentang Dia.
• Penting agar kita hidup menurut kehendak Tuhan.
Salah satu unsur untuk menjadi serupa dengan Yesus adalah belajar. Pertumbuhan rohani melibatkan perubahan mental, dan perubahan mental tidak akan terjadi tanpa belajar. Tanpa belajar kita akan menjadi serupa dengan dunia (Roma 12:2). Iman dan kasih kepada Tuhan tidak dapat bertumbuh jika kita tidak lebih banyak belajar mengenal Dia. Di samping itu orang yang kurang belajar akan menjadi santapan empuk bagi ajaran sesat.
Proses pembelajaran menjadi serupa Yesus tidak terjadi secara otomatis dengan bertambahnya usia. Untuk menjadi dewasa secara rohani dibutuhkan kerelaan untuk melatih diri dalam hal-hal rohani. Pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mendengarkan kaset, VCD, buku, bercakap-cakap dengan orang yang dewasa rohaninya dll.
Komentar
Inilah disiplin rohani yang paling mudah bagi saya. Walau demikian saya selalu kekurangan waktu untuk membaca buku. Demikian banyak buku yang belum dibaca dan buku barupun terus bermunculan. Di STBI saya mendapat banyak berkat melalui buku-buku referensi mata kuliah. Sayang sekali buku terbitan LLB sulit dicari di toko-toko buku padahal dapat memberikan keseimbangan dari penerbit Momentum yang biasa saya baca.
Bab 13: Pantang Menyerah Berdisiplin
Yesus memberikan teladan sebagai pribadi yang sibuk walaupun tidak pernah terburu-buru. Injil menceritakan bagaimana kadang Yesus tidak tidur sama sekali. Satu kali Dia begitu lelah sampai tertidur di perahu yang diterjang badai. Sesungguhnya sikap malas menghambat seseorang menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Disiplin rohani membuat kita tidak hanya sekedar sibuk saja melainkan menjadi pribadi yang dikehendaki Tuhan. Bahkan sebenarnya disiplin rohani merupakan satu sarana Tuhan untuk meringankan dan melegakan hati kita. Ada tiga hal yang akan menguatkan kita dalam melaksanakan disiplin rohani:
• Peranan Roh Kudus.
Roh Kudus adalah pribadi yang berperan membangkitkan keinginan dan kekuatan di dalam kita untuk melakukan disiplin rohani yang menuntun kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada saat kita lemah, Roh Kuduslah yang mengingatkan dan menguatkan kita. Salah satu sarana yang dipakai Roh Kudus adalah melalui doa. Roh Kudus menggerakkan kita berdoa, tapi kita juga harus berinisiatif untuk berdoa. Roh Kudus setia membantu kita bertekun melakukan hal-hal yang membuat kita menjadi seperti Yesus dan hendaknya kita tidak mengeraskan hati dan mentaati pimpinan Roh Kudus bila mau hidup menurut kehendak Tuhan.
• Peranan persekutuan kristen.
Disiplin rohani tidak dapat dipisahkan dari pentingnya bersekutu dengan orang-orang kristen lainnya. Mengukur pertumbuhan rohani atas dasar hubungan kita dengan Tuhan saja belumlah lengkap. Pertumbuhan rohani juga harus diukur berdasarkan hubungan kita dengan saudara seiman. Salah satu penyebabnya adalah ada beberapa disiplin rohani yang harus dilakukan di tengah-tengah saudara seiman seperti beribadah bersama, melayani, kesaksian, dll. Jadi Tuhan menghendaki kerohanian kita bertumbuh di antaranya melalui interaksi kita dengan saudara-saudara seiman karena kehidupan mereka dapat dipakai oleh Tuhan menjadi alat untuk memurnikan kita.
• Peranan perjuangan dalam kehidupan kristen.
Kehidupan kristen adalah kehidupan yang penuh perjuangan. Melalui segala macam hal, iblis selalu berusaha untuk menjatuhkan kita. Firman Tuhan mengingatkan adanya tiga bahaya yaitu keduniawian, kedagingan, dan iblis yang selalu memerangi kita. Oleh karenanya kita harus senantiasa berjuang sepanjang hidup agar tidak terjatuh dalam dosa. Hidup yang senantiasa bergumul mengindikasikan kita sedang berperang melawan kedagingan, yaitu kecenderungan untuk berbuat dosa. Ketekunan dalam disiplin rohani sangat penting karena tanpa ketekunan, disiplin rohani tidak akan menjadi efektif.
Komentar
Bab penutup yang sangat indah. Setelah pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyimpulkan penulis buku menutup dengan sebuah kabar baik yaitu kunci keberhasilan disiplin rohani adalah ketekunan pribadi yang dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam setiap pergumulan hidup, Roh Kudus senantiasa ada untuk menguatkan kita. Bukankah ini sebuah kabar yang sangat baik?. Yang perlu dilakukan adalah melakukan bagian kita dan Roh Kudus akan melakukan bagian-Nya. On His Grace, hendra.
Wednesday, November 11, 2009
Communicating Christ Cross Culturally
Pendahuluan
Buku ini ditulis oleh David J. Hesselgrave. Beliau adalah mantan misionaris yang melayani di Jepang selama dua belas tahun. Sekarang beliau menjabat sebagai guru besar misi dan direktur daei School of World Mission and Evangelism di Trinity Evangelical Divinity School.
Sekilas isi buku
Buku ini terdiri dari sembilan bagian yang terdiri dari empat puluh lima bab. Setiap bagian membahas sebuah topik. Ke-sembilan bagian itu adalah: Komunikasi dan misi, Komunikasi dan kultur, Pandangan-pandangan dunia - cara-cara memahami dunia, Proses-proses kognitif - cara-cara berpikir, Bentuk-bentuk linguistik - cara-cara mengekspresikan gagasan, Pola-pola perilaku - cara-cara bertindak, Struktur-struktur sosial – cara-cara mempengaruhi, Pengaruh media – cara-cara menyalurkan berita, Sumber-sumber motivasional – cara-cara memutuskan.
Bagian I: Komunikasi dan Misi
Bagian pertama mengangkat isu tentang pentingnya komunikasi dalam hidup manusia, oleh karenanya tugas seorang misionari secara fundamental adalah komunikasi karena komunikasi adalah kegiatan dasar manusia sekaligus menjadi permasalahan yang fundamental. Komunikasi adalah sebuah hal yang sederhana namun ketika dipelajari secara formal akan menjadi rumit dan kompleks. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi misionari. Agar misionari dapat bekerja secara efektif dalam masyarakat yang dilayaninya, mau tidak mau komunikasi (lintas budaya) harus dipelajari dan dianalisa dengan baik.
Bagian II: Komunikasi dan Kultur
Bagian ini mengemukakan bahwa tugas misionaris adalah mengkomunikasikan Kristus secara lintas budaya. Dalam menyampaikan pesan dari Alkitab, ada hambatan-hambatan mengenai budaya. Kebudayaan adalah sebuah konsep yang inklusif, yang mencakup semua cara di mana orang-orang merasakan dan mengatur potensi utama, gagasan-gagasan, dan nilai-nilai dalam masyarakat tertentu. Untuk menyampaikan pesan Alkitab secara benar sulit karena harus memikirkan adanya tiga budaya yang berbeda yaitu budaya Alkitab, budaya misionaris, dan budaya masyarakat yang dilayaninya. Hal ini menjadi semakin rumit karena dalam tiap-tiap budaya itu sendiri ada tiga faktor yaitu sumber berita (S), berita atau pesan itu sendiri (M), dan penerimanya atau responden (R). Jadi untuk memahami satu budaya ada tiga hal yang dipertimbangkan (S,M,R), sehingga untuk memahami tiga budaya (budaya Alkitab, budaya diri sendiri, dan budaya penerima) ada sembilan hal yang harus dipikirkan (3x3).
Dalam kerumitan di atas, ada tiga hal yang meringankan yaitu sebenarnya dalam perbedaan budaya tetap ada kesamaan dengan budaya kita, sebagian orang punya poensi besar untuk menyesuaikan diri dengan budaya lainnya, dan Roh Kudus yng menjadi pengawas tugas dari misi-misi akan membantu kita.
Bagian III: Pandangan-pandangan dunia – cara-cara memahami dunia
Bagian tiga membahas pandangan-pandangan dunia yang bermacam-macam dan bagaimana cara-cara untuk memahaminya dan kemudian mengkomunikasikan Kristus secara lintas budaya kepada masing-masing budaya tersebut. Ketika komunikasi lintas budaya dilakukan, kita harus sadar bahwa kita tidak sekedar berada dalam satu bangsa yang baru melainkan dalam satu dunia yang baru. Karenanya diperlukan sebuah usaha keras untuk memahami dunia baru itu dan barulah mengkomunikasikan Kristus dengan pemahaman yang baru akan dunia yang baru tersebut.
Bagian IV: Proses-proses Kognitif - cara-cara berpikir
Bagian ini menginformasikan pentingnya untuk mengetahui apa yang kita ketahui tentang berpikir dan bagaimana perbedaan kultural akan menyebabkan berbedanya proses kognitif dan cara-cara manusia untuk berpikir. Dalam masyarakat yang berbeda, tipe-tipe pemikiran kultural dan prioritas-prioritas dalam pemikiran kultural juga berbeda. Misionaris harus menyesuaikan cara pikirnya karena target atau responden dari budaya lain mungkin mempunyai prioritas sendiri dalam berpikir. Harus disadari bahwa cara berpikir responden dalam batas tertentu adalah berasal dari dunia sehingga mengkomunikasikan kebenaran Alkitab memerlukan kepatuhan dan intervensi Allah yang akan mencerahkan pikiran responden.
Bagian V: Bentuk-bentuk linguistik – cara-cara mengekspresikan gagasan
Bagian lima mengulas pentingnya mempelajari bahasa asli responden dalam komunikasi lintas budaya. Pentingnya bahasa untuk komunikasi menjadi jelas ketika kita mulai belajar dan menyelidiki susunan-susunan yang rumit dari relasi kebudayaan antara bahasa dan yang lain. Hanya dengan mempelajari relasi ini, kita akan menjadi lebih baik dalam menganalisa kebudayaan responden. Dengan semakin baiknya pemahaman akan bahasa asli, maka kita akan lebih baik dalam memahami budaya responden.
Bagian VI: Pola-pola perilaku – cara-cara bertindak
Bagian ini meneliti tentang pola-pola perilaku (non verbal) dari responden. Untuk memahami dan mengkontekstualisasi perilaku lebih memerlukan perhatian dan kemampuan daripada bahasa verbal. Perilaku dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat responden sehingga misionari mempunyai tanggung jawab untuk berperilaku menurut standar-standar Alkitab dan hati nurannya, untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola perilaku yang diangap benar dalam budaya responden, dapat membedakan antara norma-norma superkultural dan kultural. Sehingga adakalanya misionari harus menolak beberapa pola perilaku budaya responden yang bertentanan dengan Alkitab (misalnya sinkretisme).
Ada tujuh aspek yang berhubungan dengan perilaku, yaitu karakteristik fisikal, bahasa tubuh, perilaku menyentuh, ruang berbicara, waktu berbicara, bagaimana menyampaikan bahasa, dan artefak-artefak dan lingkungan sekitar.
Dengan kesadaran dan kehati-hatian akan masalah non-verbal, diharapkan menghasilkan sebuah internalisasi pola perilaku dari kebudayaan baru dan pola perilaku kristen yang relevan secara kultural. Jadi misionari harus berusaha untuk memahami, menyesuaikan, dan menggunakan pola perilaku asli untuk tujuan Kristus tanpa berkompromi dengan prinsip Alkitab.
Bagian VII: Struktur-struktur sosial – cara-cara mempengaruhi
Perbedaan dalam struktur sosial suatu masyarakat mempengruhi cara-cara berkomunikasi. Dimensi sosial komunikasi suatu budaya tertentu berdasarkan pada dua faktor fundamental yaitu ‘world view-nya’ dan adanya pengharapan tertentu akan cara berinteraksi anggota masyarakat tersebut. Sebagai akibatnya terjadi proses enkulturasi dan sosialisasi. Setiap masyarakat memiliki pola-pola interaksi yang implisit dan eksplisit dengan persamaan dan perbedaan lintas budaya tertentu. hal inilah yang menjadi tantangan bagi misionars untuk memahami dan menggunakan pengetahuan itu untuk memberitakan Injil. Tanpa memahami hal ini, komunikasi yang dilakukan dapat disalah-terima maksudnya oleh responden.
Bagian VIII: Pengaruh Media – cara-cara menyelurkan berita
Media mempunyai peran yang penting dalam komunikasi. Menurut Sarnoff, media bersifat netral karena baik atau buruknya ditentukan oleh bagaimana mereka digunakan. Sedangkan ketika sebuah berita telah dipengaruhi (encoded), maka media sudah menjadi tidak netral lagi.
Dalam kaitannya dengan penginjilan, penulis menggaris-bawahi kesalahan masa lalu yang lebih ‘mengkomunikasikan model kekristenan barat’ daripada kekristenan Alkitabiah. Sedangkan masa kini ada kecenderungan untuk melakukan kesalahan dengan hanya ‘memperkenalkan Kristus’ tanpa menanam gereja sama sekali. Kemudian penulis menyatakan bahwa misionaris harus sadar akan ‘berita’ dari penemuannya dalam masyarakat responden. Misionari sebenarnya juga mengekspor media dengan ‘berita-beritanya’ versi mereka kepada responden sehingga hanya dengan memahami fakta ini akan membuat misionari akan mampu mengontrol sebagian proses perubahan ekstra-kristen dan menolong respondennya pada saat mereka mengalaminya.
Bagian IX: Sumber-sumber motivasional – cara-cara memutuskan
Bagian penutup membahas sebuah topik yang membahas sumber-sumber motivasional. Dari perspektif responden, masalah pokok dalam komunikasi dinyatakan dalam satu pertanyaan “Mengapa saya harus meninggalkan cara-cara tradisional bangsaku dan berbalik dari siapa saya dahulu dan memberikan kepercayaan dan kesetiaan kepada Kristus?.” Sedangkan dari pihak misionaris permasalahan pokok dapat diringkas dalam tiga pertanyaan:
• Apakah saya mempunyai tanggung-jawab meyakinkan responden untuk meninggalkan cara tradisional dan bertobat kepada Kristus?
• Apakah saya mempunyai hak untuk melakukannya?
• Apakah saya mempunyai sumber-sumber untuk melakukannya?
Penulis buku menyatakan bukan hanya diizinkan untuk meyakinkan responden, melainkan misionaris juga harus berperan sebagai agen perubahan bagi perbaikan masyarakat melalui komunikasi yang persuasif. Dengan pendekatan yang persuasif, responden diyakinkan karena alasan kepentingan mereka bukan kepentingan misionaris. Oleh karenanya misionaris perlu memahami sumber-sumber motivasional responden agar dapat melakukan komunikasi yang persuasif.
Sebagai penutup, penulis sekali lagi menyatakan bahwa segala ilmu penting tapi pertobatan adalah karya Roh Kudus sehingga ilmu pengetahuan harus menempatkan dirinya sebagai pelayan kebenaran.
Kesimpulan
Buku ini sungguh sebuah karya besar dari Dr. Hesselgrave. Latar belakang pendidikan dan pengalamannya sebagai misionaris telah memberikan sebuah insight yang tajam dan mencerahkan yang dituangkan dalam buku ini.
Sungguh, memberitakan Injil tidak hanya sekedar memberitakan melainkan mengkomunikasikan. Mengkomunikasikan Injil juga tidak hanya sekedar mengkomunikasikan karena ada berbagai macam hal yang rumit yang terlibat dalam proses komunikasi. Tanpa mengecilkan peran Roh Kudus, sebuah komunikasi yang baik dan persuasif akan membuat sebuah perbedaan dalam penginjilan. Memang hanya Roh Kudus yang membuat manusia bertobat, tapi Roh Kudus senang bekerja melalui hamba-hamba-Nya yang melayani sepenuh hati dengan segala aspek hidupnya.
Buku ini ditulis oleh David J. Hesselgrave. Beliau adalah mantan misionaris yang melayani di Jepang selama dua belas tahun. Sekarang beliau menjabat sebagai guru besar misi dan direktur daei School of World Mission and Evangelism di Trinity Evangelical Divinity School.
Sekilas isi buku
Buku ini terdiri dari sembilan bagian yang terdiri dari empat puluh lima bab. Setiap bagian membahas sebuah topik. Ke-sembilan bagian itu adalah: Komunikasi dan misi, Komunikasi dan kultur, Pandangan-pandangan dunia - cara-cara memahami dunia, Proses-proses kognitif - cara-cara berpikir, Bentuk-bentuk linguistik - cara-cara mengekspresikan gagasan, Pola-pola perilaku - cara-cara bertindak, Struktur-struktur sosial – cara-cara mempengaruhi, Pengaruh media – cara-cara menyalurkan berita, Sumber-sumber motivasional – cara-cara memutuskan.
Bagian I: Komunikasi dan Misi
Bagian pertama mengangkat isu tentang pentingnya komunikasi dalam hidup manusia, oleh karenanya tugas seorang misionari secara fundamental adalah komunikasi karena komunikasi adalah kegiatan dasar manusia sekaligus menjadi permasalahan yang fundamental. Komunikasi adalah sebuah hal yang sederhana namun ketika dipelajari secara formal akan menjadi rumit dan kompleks. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi misionari. Agar misionari dapat bekerja secara efektif dalam masyarakat yang dilayaninya, mau tidak mau komunikasi (lintas budaya) harus dipelajari dan dianalisa dengan baik.
Bagian II: Komunikasi dan Kultur
Bagian ini mengemukakan bahwa tugas misionaris adalah mengkomunikasikan Kristus secara lintas budaya. Dalam menyampaikan pesan dari Alkitab, ada hambatan-hambatan mengenai budaya. Kebudayaan adalah sebuah konsep yang inklusif, yang mencakup semua cara di mana orang-orang merasakan dan mengatur potensi utama, gagasan-gagasan, dan nilai-nilai dalam masyarakat tertentu. Untuk menyampaikan pesan Alkitab secara benar sulit karena harus memikirkan adanya tiga budaya yang berbeda yaitu budaya Alkitab, budaya misionaris, dan budaya masyarakat yang dilayaninya. Hal ini menjadi semakin rumit karena dalam tiap-tiap budaya itu sendiri ada tiga faktor yaitu sumber berita (S), berita atau pesan itu sendiri (M), dan penerimanya atau responden (R). Jadi untuk memahami satu budaya ada tiga hal yang dipertimbangkan (S,M,R), sehingga untuk memahami tiga budaya (budaya Alkitab, budaya diri sendiri, dan budaya penerima) ada sembilan hal yang harus dipikirkan (3x3).
Dalam kerumitan di atas, ada tiga hal yang meringankan yaitu sebenarnya dalam perbedaan budaya tetap ada kesamaan dengan budaya kita, sebagian orang punya poensi besar untuk menyesuaikan diri dengan budaya lainnya, dan Roh Kudus yng menjadi pengawas tugas dari misi-misi akan membantu kita.
Bagian III: Pandangan-pandangan dunia – cara-cara memahami dunia
Bagian tiga membahas pandangan-pandangan dunia yang bermacam-macam dan bagaimana cara-cara untuk memahaminya dan kemudian mengkomunikasikan Kristus secara lintas budaya kepada masing-masing budaya tersebut. Ketika komunikasi lintas budaya dilakukan, kita harus sadar bahwa kita tidak sekedar berada dalam satu bangsa yang baru melainkan dalam satu dunia yang baru. Karenanya diperlukan sebuah usaha keras untuk memahami dunia baru itu dan barulah mengkomunikasikan Kristus dengan pemahaman yang baru akan dunia yang baru tersebut.
Bagian IV: Proses-proses Kognitif - cara-cara berpikir
Bagian ini menginformasikan pentingnya untuk mengetahui apa yang kita ketahui tentang berpikir dan bagaimana perbedaan kultural akan menyebabkan berbedanya proses kognitif dan cara-cara manusia untuk berpikir. Dalam masyarakat yang berbeda, tipe-tipe pemikiran kultural dan prioritas-prioritas dalam pemikiran kultural juga berbeda. Misionaris harus menyesuaikan cara pikirnya karena target atau responden dari budaya lain mungkin mempunyai prioritas sendiri dalam berpikir. Harus disadari bahwa cara berpikir responden dalam batas tertentu adalah berasal dari dunia sehingga mengkomunikasikan kebenaran Alkitab memerlukan kepatuhan dan intervensi Allah yang akan mencerahkan pikiran responden.
Bagian V: Bentuk-bentuk linguistik – cara-cara mengekspresikan gagasan
Bagian lima mengulas pentingnya mempelajari bahasa asli responden dalam komunikasi lintas budaya. Pentingnya bahasa untuk komunikasi menjadi jelas ketika kita mulai belajar dan menyelidiki susunan-susunan yang rumit dari relasi kebudayaan antara bahasa dan yang lain. Hanya dengan mempelajari relasi ini, kita akan menjadi lebih baik dalam menganalisa kebudayaan responden. Dengan semakin baiknya pemahaman akan bahasa asli, maka kita akan lebih baik dalam memahami budaya responden.
Bagian VI: Pola-pola perilaku – cara-cara bertindak
Bagian ini meneliti tentang pola-pola perilaku (non verbal) dari responden. Untuk memahami dan mengkontekstualisasi perilaku lebih memerlukan perhatian dan kemampuan daripada bahasa verbal. Perilaku dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat responden sehingga misionari mempunyai tanggung jawab untuk berperilaku menurut standar-standar Alkitab dan hati nurannya, untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola perilaku yang diangap benar dalam budaya responden, dapat membedakan antara norma-norma superkultural dan kultural. Sehingga adakalanya misionari harus menolak beberapa pola perilaku budaya responden yang bertentanan dengan Alkitab (misalnya sinkretisme).
Ada tujuh aspek yang berhubungan dengan perilaku, yaitu karakteristik fisikal, bahasa tubuh, perilaku menyentuh, ruang berbicara, waktu berbicara, bagaimana menyampaikan bahasa, dan artefak-artefak dan lingkungan sekitar.
Dengan kesadaran dan kehati-hatian akan masalah non-verbal, diharapkan menghasilkan sebuah internalisasi pola perilaku dari kebudayaan baru dan pola perilaku kristen yang relevan secara kultural. Jadi misionari harus berusaha untuk memahami, menyesuaikan, dan menggunakan pola perilaku asli untuk tujuan Kristus tanpa berkompromi dengan prinsip Alkitab.
Bagian VII: Struktur-struktur sosial – cara-cara mempengaruhi
Perbedaan dalam struktur sosial suatu masyarakat mempengruhi cara-cara berkomunikasi. Dimensi sosial komunikasi suatu budaya tertentu berdasarkan pada dua faktor fundamental yaitu ‘world view-nya’ dan adanya pengharapan tertentu akan cara berinteraksi anggota masyarakat tersebut. Sebagai akibatnya terjadi proses enkulturasi dan sosialisasi. Setiap masyarakat memiliki pola-pola interaksi yang implisit dan eksplisit dengan persamaan dan perbedaan lintas budaya tertentu. hal inilah yang menjadi tantangan bagi misionars untuk memahami dan menggunakan pengetahuan itu untuk memberitakan Injil. Tanpa memahami hal ini, komunikasi yang dilakukan dapat disalah-terima maksudnya oleh responden.
Bagian VIII: Pengaruh Media – cara-cara menyelurkan berita
Media mempunyai peran yang penting dalam komunikasi. Menurut Sarnoff, media bersifat netral karena baik atau buruknya ditentukan oleh bagaimana mereka digunakan. Sedangkan ketika sebuah berita telah dipengaruhi (encoded), maka media sudah menjadi tidak netral lagi.
Dalam kaitannya dengan penginjilan, penulis menggaris-bawahi kesalahan masa lalu yang lebih ‘mengkomunikasikan model kekristenan barat’ daripada kekristenan Alkitabiah. Sedangkan masa kini ada kecenderungan untuk melakukan kesalahan dengan hanya ‘memperkenalkan Kristus’ tanpa menanam gereja sama sekali. Kemudian penulis menyatakan bahwa misionaris harus sadar akan ‘berita’ dari penemuannya dalam masyarakat responden. Misionari sebenarnya juga mengekspor media dengan ‘berita-beritanya’ versi mereka kepada responden sehingga hanya dengan memahami fakta ini akan membuat misionari akan mampu mengontrol sebagian proses perubahan ekstra-kristen dan menolong respondennya pada saat mereka mengalaminya.
Bagian IX: Sumber-sumber motivasional – cara-cara memutuskan
Bagian penutup membahas sebuah topik yang membahas sumber-sumber motivasional. Dari perspektif responden, masalah pokok dalam komunikasi dinyatakan dalam satu pertanyaan “Mengapa saya harus meninggalkan cara-cara tradisional bangsaku dan berbalik dari siapa saya dahulu dan memberikan kepercayaan dan kesetiaan kepada Kristus?.” Sedangkan dari pihak misionaris permasalahan pokok dapat diringkas dalam tiga pertanyaan:
• Apakah saya mempunyai tanggung-jawab meyakinkan responden untuk meninggalkan cara tradisional dan bertobat kepada Kristus?
• Apakah saya mempunyai hak untuk melakukannya?
• Apakah saya mempunyai sumber-sumber untuk melakukannya?
Penulis buku menyatakan bukan hanya diizinkan untuk meyakinkan responden, melainkan misionaris juga harus berperan sebagai agen perubahan bagi perbaikan masyarakat melalui komunikasi yang persuasif. Dengan pendekatan yang persuasif, responden diyakinkan karena alasan kepentingan mereka bukan kepentingan misionaris. Oleh karenanya misionaris perlu memahami sumber-sumber motivasional responden agar dapat melakukan komunikasi yang persuasif.
Sebagai penutup, penulis sekali lagi menyatakan bahwa segala ilmu penting tapi pertobatan adalah karya Roh Kudus sehingga ilmu pengetahuan harus menempatkan dirinya sebagai pelayan kebenaran.
Kesimpulan
Buku ini sungguh sebuah karya besar dari Dr. Hesselgrave. Latar belakang pendidikan dan pengalamannya sebagai misionaris telah memberikan sebuah insight yang tajam dan mencerahkan yang dituangkan dalam buku ini.
Sungguh, memberitakan Injil tidak hanya sekedar memberitakan melainkan mengkomunikasikan. Mengkomunikasikan Injil juga tidak hanya sekedar mengkomunikasikan karena ada berbagai macam hal yang rumit yang terlibat dalam proses komunikasi. Tanpa mengecilkan peran Roh Kudus, sebuah komunikasi yang baik dan persuasif akan membuat sebuah perbedaan dalam penginjilan. Memang hanya Roh Kudus yang membuat manusia bertobat, tapi Roh Kudus senang bekerja melalui hamba-hamba-Nya yang melayani sepenuh hati dengan segala aspek hidupnya.
Mengapa Kita Harus Meneladani Kasih Yesus?
Tujuan agung: kasih
Tujuan khusus: agar orang kristen meneladani kasih Yesus
Pendengar: persekutuan Full Gospel (businessmen) di Magelang pada 071108
Tema:
1. Motivasi utama Yesus untuk taat pada penggenapan rencana Allah (31-32)
2. Yesus mengorbankan nyawa-Nya karena kasih (33)
3. Yesus mengasihi lebih dulu (34)
Teks: Yohanes 13:31-35 “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Pendahuluan
Beberapa minggu yang lalu di harian kompas Gde Prama memperkenalkan ucapan salam yang baru di awal pembicaraannya. Dia mengganti kata ‘salam sejahtera’ dengan kata ‘salam kasih’. Pada mulanya kata Gde Prama, orang-orang merasa aneh dengan kata salam kasih tetapi setelah dijelaskan bahwa kasih itu bersifat universal, maka orangpun menerima dengan senang hati.
Dari berita singkat itu, saya menangkap dua hal yaitu, pertama, orang merasa janggal dengan ucapan salam kasih karena kata ‘kasih’ selama ini konotasinya seakan-akan menjadi kata milik orang kristen. Kedua, rupa-rupanya kasih yang dimaksudkan oleh Gde Prama adalah kasih persaudaraan di antara bangsa Indonesia.
Ada sebuah pepatah barat yang berbunyi ‘like father, like son’ seperti apa bapaknya, seperti itu juga anaknya. Ternyata bangsa Indonesia juga mempunyai pepatah yang artinya sama yaitu ‘buah tak jatuh jauh dari pohonnya.’ Makna yang ingin dikatakan oleh kedua pepatah itu adalah suatu hal yang normal bila seorang anak mempunyai sifat yang mirip dengan ayahnya; adalah wajar bila seorang anak meneladani karakter ayahnya sehingga ayah dan anak punya sifat yang sama. Pepatah lain berkata anak bagaikan sebuah kertas kosong dan orang tua adalah penulis atau pelukisnya sehingga seperti apa jadinya anak itu setelah dewasa nanti adalah tanggung-jawab orang tuanya. Apakah saudara-saudara setuju?
Nah, dalam konteks orang kristen, apakah pepatah di atas berlaku atas diri kita? Apakah hidup makin lama sebagai orang kristen membuat kita semakin mirip dengan Kristus? apakah kita memiliki kasih seperti kasih Kristus?
Malam ini kita belajar bersama-sama untuk meneladani kasih Kristus.
1. Ayat 31-32. Latar belakang ayat ini adalah Perjamuan Malam Terakhir dan sebenarnya ketika Yudas pergi, Yesus tahu bahwa Yudas pergi untuk menyerahkan diri-Nya kepada orang Yahudi. Yesus tahu kini tibalah waktu bagi diri-Nya untuk menerima semua penderitaan dan Salib. Ternyata Yesus menerima penderitaan sebagai suatu kehormatan besar bagi diri-Nya. Mengapa begitu? Karena setelah Yudas pergi, Yesus berkata ‘Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.’ Artinya apa? hal ini tidak hanya sekedar bagi kemuliaan Allah Bapa melainkan harus dikaitkan dengan rencana keselamatan dalam kekekalan. Dari perkataan ini kita melihat motivasi utama Yesus adalah untuk menggenapi rencana penebusan manusia dan Dia rela mati ganti diri kita karena begitu besar kasih-Nya pada saudara dan saya yang berdosa dan tidak layak.
Nah, di sini kita melihat ada sebuah perbedaan yang mendasar antara kasih versi Gde Prama dengan kasih versi Yesus. Kasih yang dimaksud oleh Gde Prama adalah kasih Phileo yang artinya kasih persaudaraan. Kasih antara kakak dan adik, antara ibu dan anaknya. Kasih seperti ini dapat secara otomatis timbul dari hati seseorang dan bersifat bersyarat. Artinya saya mengasihi anak saya, ya, karena anak itu anak saya. Jika anak itu bukan anak saya, tentu kasih yang saya berikan tentu berbeda kadarnya.
Kasih Yesus adalah kasih Agape yaitu kasih yang tidak bersyarat. Saya mencoba menggambarkan kasih Agape sbb:
Tahun 1873 ada seorang misionari bernama Joseph Damien dari Belgia pergi ke satu pulau di Hawaii bernama pulau Molokai. Pulau Molokai adalah penampungan tempat orang-orang kusta ditaruh untuk tinggal di situ. Pastor Damien mengambil keputusan untuk melayani orang-orang kusta itu. Selama 12 tahun dia menjadi dokter yang merawat orang kusta, membangun rumah-rumah, membangun sekolah dan melayani dengan setia, tetapi tidak banyak orang percaya Tuhan. Akhirnya dia kecewa dan putus asa dan mengambil keputusan meninggalkan pulau itu. Waktu dia hendak berangkat dan naik ke kapal yang akan membawanya kembali ke Belgia, dia terkejut melihat di tangannya ada bercak-bercak putih dan merah dan dia tidak bisa merasakan sakit. Dia kena kusta. Langsung dia turun dan kembali, tidak jadi meninggalkan pulau Molokai. Dan kemudian di seluruh pulau itu tersebar kabar kalau pastor Damien kena kusta. Hari itu semua orang kusta datang ke rumah dia, dan hari minggu di gerejanya penuh sesak dengan orang kusta. Kenapa? Orang-orang kusta itu berlinang air mata, menangis haru karena tahu dia datang melayani sampai dia sendiri terkena penyakit kusta. Kasih seperti apakah itu? Hanya kasih Tuhan yang seperti itu. Itulah kasih Agape. Itulah yang Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Marilah kita juga belajar memiliki hati Tuhan seperti itu. Bukan hanya jatuh kasihan tetapi ‘sharing the pain.’ Itulah ‘the sanctification of emotion.’ Belajar bersukacita dengan apa yang mendatangkan sukacita Allah, mempunyai empati seperti Tuhan, menangis seperti Tuhan menangis.
Beberapa puluh tahun yang lalu, kisah hidup pastor Damien ini menginspirasi seorang wanita Jerman sehingga dia memberikan hidupnya melayani orang-orang kusta di NTT sampai sekarang. Nama wanita itu saya lupa, tapi kira-kira dua-tiga bulan yang lalu kisahnya muncul di acara Kick Andy.
2. Ayat 33 mengajarkan akibat atau harga yang harus dibayar oleh Yesus akibat kasih-Nya kepada kita yaitu mengorbankan nyawa-Nya.
Salah satu masalah terbesar gereja hari ini adalah hilangnya seni mengasihi di antara orang kristen. Hari-hari ini manusia sulit untuk berbelas kasih terhadap orang lain dan keadaan ini akan semakin bertambah parah di kemudian hari.
Apakah saudara setuju? Mengapa kita sulit untuk mengasihi orang lain? Saya memikirkan paling tidak ada dua alasan:
Pertama, Di tengah dunia yang begitu kompetitif dan begitu cepat berubah seperti hari ini, manusia dipaksa untuk memikirkan keadaan diri sendiri. Lingkungan kerja semakin menekan dan menyita waktu dan pikiran kita sementara lingkungan sekolahpun menuntut siswa berkutat seharian penuh di sekolah dan tempat les. Di Pekalongan saja, anak kelas 4 SD mempunyai jadwal sekolah dari pukul 07.00 sampai 14.30. Setelah itu dilanjutkan dengan les ini dan itu sampai sore bahkan kadang malam hari. Pertemuan dengan orang tua terjadi hanya beberapa jam setiap hari, dalam situasi kedua pihak sudah kecapean sehingga tidak jarang orang tua marah-marah pada anaknya. Ketika saya SD, seingat saya juara umum sekolah adalah anak yang mencapai nilai rata-rata 8. Hari ini kalau ada anak yang mendapat nilai rata-rata 8 artinya dia ranking satu dari belakang.
Pola hidup yang penuh tuntutan di mana anak tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatnya (kasih, perlidungan, perhatian orang tua dll) dan mendapatkan hal-hal yang seharusnya tidak ditanggungnya (tuntutan yang berlebih) mau tidak mau akan membentuk suatu pribadi yang tidak mengenal arti kasih karena memang tidak pernah merasakan dikasihi orang lain. Anak-anak ini akan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang narsis. Pribadi narsis artinya dia akan berhubungan dengan orang lain hanya dengan satu tujuan yaitu untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain. Jadi pikirannya hanya ‘apa yang saya bisa dapat dari kamu, apa yang kamu bisa berikan kepadaku.’ Saudara, bukankah tanda-tandanya sudah dapat kita lihat saat ini? Ketika orang datang ke gereja hanya dengan satu tujuan: apa yang Tuhan bisa berikan padaku? Bahkan kita lihat ada oknum pendeta yang membujuk jemaat seperti membujuk anak kecil: beri persembahan, beri perpuluhan, nanti Tuhan ganti berlipat kali ganda. Ini kan seperti kita bicara ke anak kecil: makan obat ini, nanti papa belikan kamu mainan. Saya tidak menyangkal Alkitab berisi banyak sekali janji-janji Allah, saya tidak anti berkat. Hanya orang gila yang tidak mau berkat Tuhan. Masalahnya Alkitab tidak hanya berisi janji tapi juga perintah untuk mengejar kekudusan, menyangkal diri dan pikul Salib. Hanya memberitakan berkat tanpa kewajiban artinya mengkorting isi Alkitab. Dalam menu 4 sahat 5 sempurna, berkat ibarat susu. Bayangkan kalau kita tiap hari hanya minum susu saja tanpa telur, nasi, sayur, dan daging. Dapatkah kita bertumbuh secara sehat?
Kakak saya adalah seorang pendeta yang melayani di Melbourne, suatu hari ada seorang pendeta temannya didekati oleh gereja lain. Rupa-rupanya gereja itu menawarkan teman kakak saya untuk bergabung dengan gereja mereka dengan janji gaji yang berlipat kali ganda. Syaratnya satu: ‘frekuensi’ khotbahnya dirubah menjadi teologi kemakmuran.
Kedua, kita sadar kasih sejati tidak murah, kasih sejati harganya mahal dan menuntut perbuatan nyata. Mari kita baca Lukas 10: 33-35. Mari kita hitung apa yang harus dibayar oleh orang Samaria akibat hatinya berbelas kasih: ayat 34: Pertama: membalut, berarti orang Samaria itu mengeluarkan kain-kain yang mungkin barang dagangannya, harga kedua yang dibayar: menyiraminya dengan minyak dan anggur, 3. menaikkan orang itu ke-keledai tunggangannya, artinya dia sendiri berjalan kali, membawanya ke penginapan dan merawatnya. Sudah cukup? Belum, kita baca ayat 35: harga keempat: menyerahkan uang dua dinar kepada pemilik penginapan, 5. meminta pemilik peningapan untuk merawat orang itu dan jika uang dua dinar masih kurang, akan dibayar kemudian ketika dia kembali.
Stanley Jones, seorang misionari yang melayani di India suatu hari bertemu dengan Mahatma Gandhi dan dia tahu Gandhi menyimpan selipan “Khotbah Tuhan Yesus di Bukit.” Yang selalu dibacanya setiap hari.
Jones bertanya, “Mahatma, dapatkah anda memberikan saran bagaimana agar kekristenan bisa lebih diterima oleh orang India?”
Saudara tahu apa jawab Mahatma Gandhi? Ia mengatakan, “Saya percaya orang India akan banyak menerima kekristenan hanya dengan simple saja, please you all christians live like Christ.”
Ini adalah sebuah kalimat yang indah luar biasa yang keluar dari mulut seorang non-kristen sekaligus tamparan telak di wajah kita. Benar, saat ini cukup banyak gereja yang mengajar jemaatnya untuk mengejar harta dunia dan tidak pernah mengajar untuk mengejar karakter Kristus, sifat-sifat Kristus dalam hidupnya. Dan secara psikologis hal ini dapat dijelaskan yaitu umumnya tidak ada manusia yang suka ditegur, dikoreksi tapi manusia senang jika mendengar janji-janji. Martin Luther pernah mengatakan: “A religion that gives nothing, costs nothing, and suffers nothing, is worth nothing.” Artinya mengikut Yesus harus siap membayar harga. Tanpa menyangkal diri dan pikul Salib, kekristenan tidak berarti apa-apa.
3. Ayat 34 menyatakan kita harus saling mengasihi seperti Kristus sudah mengasihi kita lebih dulu. Artinya saling mengasihi bukanlah karena dia itu teman saya tetapi karena dia itu milik Kristus.
Ada satu kalimat yang paling indah pernah dikeluarkan oleh John Bunyan dalam bukunya “Pilgrim Progress,” kita belum menjalani apa artinya hidup kalau kita belum pernah memberi kepada orang yang tidak bisa membalas kita kembali. Karena pada waktu kita memberi kepada orang yang sanggup membalas kembali, itu artinya tukar kado. Tetapi kalau kita bisa memberi kepada orang yang tidak sanggup untuk memberi kita kembali, itu adalah sacrifice, itu adalah giving, itu adalah pemberian.
Untuk dapat mengasihi lebih dulu dibutuhkan sebuah penerimaan tanpa syarat. Apakah ini hal yang mudah atau hal yang sulit?
Sayangnya, mengasihi lebih dulu di kebudayaan gerejapun menjadi suatu seni yang terlupakan. Secara doktrin kita mengakui kita adalah manusia berdosa yang mendapat anugrah keselamatan secara gratis. Tetapi pada prakteknya gereja menampilkan diri sebagai kumpulan orang-orang terhormat, baik-baik, dan suci sehingga kesaksian di mimbarpun selalu bersifat past tense. ‘saya dulu jahat ini dan itu, sekarang sudah baik.’ tidak pernah saya mendengar kesaksian kalau dia sedang bergumul dari dosa perzinahan misalnya. Wah, kalau itu terjadi mungkin dia akan dijauhi seisi gereja!.
Dalam keadaan seperti ini tidak heran kalau kelompok Alcoholics Anonymous (AA) lebih dapat merubah manusia seperti kesaksian seorang yang bernama Jake yang ditulis oleh Dr. Henry Cloud dalam bukunya ‘Changes That Heal’:
‘Ketika saya berada di gereja atau bersama dengan teman-teman kristen saya, mereka hanya mengatakan kepada saya bahwa minum-minum itu dosa dan saya harus bertobat. Mereka tidak tahu berapa kali saya berusaha berhenti, berapa kali saya sudah berusaha menjadi orang kristen yang baik.’
‘Ketika saya masuk AA, saya mendapati saya dapat bersikap jujur mengenai kegagalan-kegagalan saya, dan yang lebih penting, saya dapat bersikap jujur mengenai keputusasaan saya. Pada waktu saya mendapati bahwa Allah dan AA menerima saya (tanpa syarat) dalam ketergantungan dan keputusasaan saya akan minuman keras, barulah saya mempunyai harapan’.
‘Sering kali gereja mengkhotbahkan kasih karunia, tapi saya tidak pernah menemukan penerimaan di sana untuk keberadaan saya sebenarnya dan selalu mengharapkan saya berubah. Dalam kelompok AA, mereka tidak hanya mengharapkan saya berubah, tapi juga mengatakan dengan diri saya sendiri, saya akan gagal. Mereka menyediakan diri untuk membantu dia.’
Kelepasan Jake pada minuman keras akhirnya terjadi ketika dia dapat menjadi dirinya sendiri dalam relasinya dengan Allah dan orang lain.
Kesimpulan
Banyak orang berkata bahwa kasih itu sifatnya universal. Malam ini kita belajar bahwa di atas kasih yang universal itu, orang kristen seharusnya meneladani kasih Kristus yaitu kasih yang tidak bersyarat, kasih yang berkorban. Motivasi utama Yesus adalah untuk menggenapi rencana penebusan manusia dan karena kasihlah Dia menyerahkan nyawa di kayu Salib.
Mari kita meneladani kasih Kristus dan belajar untuk saling mengasihi seperti Kristus sudah mengasihi kita lebih dulu.
Sebuah kisah terakhir berikut ini kiranya menjadi bahan renungan bagi kita semua:
Menjelang berakhirnya perang dunia II, Eropa mulai bangkit kembali. Sebagian dari negara Inggris telah diporak-porandakan oleh perang dan dalam keadaan hancur. Barangkali pemandangan yang paling menyedihkan dari semuanya adalah banyaknya anak yatim piatu yang kelaparan, berkeliaran di jalan-jalan di kota-kota yang hancur oleh perang.
Suatu pagi yang dingin, seorang serdadu Amerika sedang menuju baraknya di kota London. Ketika ia sedang berbelok dengan jeep-nya, ia melihat seorang anak kecil dengan hidung yang ditempelkan ke jendela kaca sebuah toko kue. Di dalam toko itu, nampak seorang koki sedang membuat adonan untuk donat. Anak perempuan tesebut hanya memandang tanpa kata-kata, mengamati tiap gerak-gerik koki itu. Serdadu itu segera menuju pinggiran jalan, memarkir jeep-nya dan turun menghampiri anak tersebut. Melalui kaca yang buram ia dapat melihat potongan-potongan kue panas yang membangkitkan selera dikeluarkan dari panggangan. Anak perempuan itu mengeluarkan air liur dan menarik nafas panjang melihat sang koki menempatkan kue-kue tersebut di rak pajangan.
Serdadu yang berdiri di samping anak itu merasa kasihan pada anak yatim piatu tanpa nama itu.
‘Nak,.....kamu mau kue-kue itu?’
Anak laki-laki itu terperanjat.
‘Ya, ya,......saya mau!’
Serdadu itu masuk ke dalam dan membeli selusin kue, memasukkannya ke dalam kantong, dan kembali menuju tempat anak perempuan tadi sedang berdiri di tengah-tengah dinginnya pagi kota London yang berkabut. Ia tersenyum, menyerahkan bungkusan kue tersebut dan berkata:
‘Ini buat kamu.’
Ketika berbalik pergi, ia merasa ada tarikan di jubahnya. Ia menengok ke belakang dan mendengar anak itu berkata dengan perlahan:
‘Tuan,......apakah engkau Tuhan?’
Saudara, ketika kita memberikan sesuatu pada orang yang tidak mampu membalas pemberian kita, saat itulah kita paling mirip dengan Tuhan.
Ketika kita menyangkal diri dan memberikan diri kita kepada orang ang tidak layak menerimanya, saat itulah saudara dan saya paling mirip dengan Tuhan.
Undangan
Sebelum kita masuk dalam doa perkenankanlah saya bertanya adakah kasih Allah yang merelakan Anak-Nya mati di kayu Salib menebus dosa saudara dan saya menyentuh hati sadara?. Adakah orang yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan? Keselamatan itu mahal, keselamatan tidak dapat dibeli dengan harta dunia dan perbuatan baik manusia. Keselamatan itu seharga darah suci Yesus yang dicurahkan di kayu Salib. Adakah yang berpikir, Tuhan Yesus aku ini orang berdosa dan tidak layak, ampuni semua dosa-dosaku, jadilah Tuhan dan Juruselamatku. Kalau ada, jangan tahan hatimu, angkatlah tanganmu.
Pertanyaan terakhir, adakah orang yang malam ini sadar bahwa selama ini saya sudah hidup jauh dari Tuhan dan saat ini berketetapan untuk kembali ke jaln Tuhan? Kalau ada silahkan angkat tangan saudara.
031108
On His Grace,
hendra
Tujuan khusus: agar orang kristen meneladani kasih Yesus
Pendengar: persekutuan Full Gospel (businessmen) di Magelang pada 071108
Tema:
1. Motivasi utama Yesus untuk taat pada penggenapan rencana Allah (31-32)
2. Yesus mengorbankan nyawa-Nya karena kasih (33)
3. Yesus mengasihi lebih dulu (34)
Teks: Yohanes 13:31-35 “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Pendahuluan
Beberapa minggu yang lalu di harian kompas Gde Prama memperkenalkan ucapan salam yang baru di awal pembicaraannya. Dia mengganti kata ‘salam sejahtera’ dengan kata ‘salam kasih’. Pada mulanya kata Gde Prama, orang-orang merasa aneh dengan kata salam kasih tetapi setelah dijelaskan bahwa kasih itu bersifat universal, maka orangpun menerima dengan senang hati.
Dari berita singkat itu, saya menangkap dua hal yaitu, pertama, orang merasa janggal dengan ucapan salam kasih karena kata ‘kasih’ selama ini konotasinya seakan-akan menjadi kata milik orang kristen. Kedua, rupa-rupanya kasih yang dimaksudkan oleh Gde Prama adalah kasih persaudaraan di antara bangsa Indonesia.
Ada sebuah pepatah barat yang berbunyi ‘like father, like son’ seperti apa bapaknya, seperti itu juga anaknya. Ternyata bangsa Indonesia juga mempunyai pepatah yang artinya sama yaitu ‘buah tak jatuh jauh dari pohonnya.’ Makna yang ingin dikatakan oleh kedua pepatah itu adalah suatu hal yang normal bila seorang anak mempunyai sifat yang mirip dengan ayahnya; adalah wajar bila seorang anak meneladani karakter ayahnya sehingga ayah dan anak punya sifat yang sama. Pepatah lain berkata anak bagaikan sebuah kertas kosong dan orang tua adalah penulis atau pelukisnya sehingga seperti apa jadinya anak itu setelah dewasa nanti adalah tanggung-jawab orang tuanya. Apakah saudara-saudara setuju?
Nah, dalam konteks orang kristen, apakah pepatah di atas berlaku atas diri kita? Apakah hidup makin lama sebagai orang kristen membuat kita semakin mirip dengan Kristus? apakah kita memiliki kasih seperti kasih Kristus?
Malam ini kita belajar bersama-sama untuk meneladani kasih Kristus.
1. Ayat 31-32. Latar belakang ayat ini adalah Perjamuan Malam Terakhir dan sebenarnya ketika Yudas pergi, Yesus tahu bahwa Yudas pergi untuk menyerahkan diri-Nya kepada orang Yahudi. Yesus tahu kini tibalah waktu bagi diri-Nya untuk menerima semua penderitaan dan Salib. Ternyata Yesus menerima penderitaan sebagai suatu kehormatan besar bagi diri-Nya. Mengapa begitu? Karena setelah Yudas pergi, Yesus berkata ‘Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.’ Artinya apa? hal ini tidak hanya sekedar bagi kemuliaan Allah Bapa melainkan harus dikaitkan dengan rencana keselamatan dalam kekekalan. Dari perkataan ini kita melihat motivasi utama Yesus adalah untuk menggenapi rencana penebusan manusia dan Dia rela mati ganti diri kita karena begitu besar kasih-Nya pada saudara dan saya yang berdosa dan tidak layak.
Nah, di sini kita melihat ada sebuah perbedaan yang mendasar antara kasih versi Gde Prama dengan kasih versi Yesus. Kasih yang dimaksud oleh Gde Prama adalah kasih Phileo yang artinya kasih persaudaraan. Kasih antara kakak dan adik, antara ibu dan anaknya. Kasih seperti ini dapat secara otomatis timbul dari hati seseorang dan bersifat bersyarat. Artinya saya mengasihi anak saya, ya, karena anak itu anak saya. Jika anak itu bukan anak saya, tentu kasih yang saya berikan tentu berbeda kadarnya.
Kasih Yesus adalah kasih Agape yaitu kasih yang tidak bersyarat. Saya mencoba menggambarkan kasih Agape sbb:
Tahun 1873 ada seorang misionari bernama Joseph Damien dari Belgia pergi ke satu pulau di Hawaii bernama pulau Molokai. Pulau Molokai adalah penampungan tempat orang-orang kusta ditaruh untuk tinggal di situ. Pastor Damien mengambil keputusan untuk melayani orang-orang kusta itu. Selama 12 tahun dia menjadi dokter yang merawat orang kusta, membangun rumah-rumah, membangun sekolah dan melayani dengan setia, tetapi tidak banyak orang percaya Tuhan. Akhirnya dia kecewa dan putus asa dan mengambil keputusan meninggalkan pulau itu. Waktu dia hendak berangkat dan naik ke kapal yang akan membawanya kembali ke Belgia, dia terkejut melihat di tangannya ada bercak-bercak putih dan merah dan dia tidak bisa merasakan sakit. Dia kena kusta. Langsung dia turun dan kembali, tidak jadi meninggalkan pulau Molokai. Dan kemudian di seluruh pulau itu tersebar kabar kalau pastor Damien kena kusta. Hari itu semua orang kusta datang ke rumah dia, dan hari minggu di gerejanya penuh sesak dengan orang kusta. Kenapa? Orang-orang kusta itu berlinang air mata, menangis haru karena tahu dia datang melayani sampai dia sendiri terkena penyakit kusta. Kasih seperti apakah itu? Hanya kasih Tuhan yang seperti itu. Itulah kasih Agape. Itulah yang Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Marilah kita juga belajar memiliki hati Tuhan seperti itu. Bukan hanya jatuh kasihan tetapi ‘sharing the pain.’ Itulah ‘the sanctification of emotion.’ Belajar bersukacita dengan apa yang mendatangkan sukacita Allah, mempunyai empati seperti Tuhan, menangis seperti Tuhan menangis.
Beberapa puluh tahun yang lalu, kisah hidup pastor Damien ini menginspirasi seorang wanita Jerman sehingga dia memberikan hidupnya melayani orang-orang kusta di NTT sampai sekarang. Nama wanita itu saya lupa, tapi kira-kira dua-tiga bulan yang lalu kisahnya muncul di acara Kick Andy.
2. Ayat 33 mengajarkan akibat atau harga yang harus dibayar oleh Yesus akibat kasih-Nya kepada kita yaitu mengorbankan nyawa-Nya.
Salah satu masalah terbesar gereja hari ini adalah hilangnya seni mengasihi di antara orang kristen. Hari-hari ini manusia sulit untuk berbelas kasih terhadap orang lain dan keadaan ini akan semakin bertambah parah di kemudian hari.
Apakah saudara setuju? Mengapa kita sulit untuk mengasihi orang lain? Saya memikirkan paling tidak ada dua alasan:
Pertama, Di tengah dunia yang begitu kompetitif dan begitu cepat berubah seperti hari ini, manusia dipaksa untuk memikirkan keadaan diri sendiri. Lingkungan kerja semakin menekan dan menyita waktu dan pikiran kita sementara lingkungan sekolahpun menuntut siswa berkutat seharian penuh di sekolah dan tempat les. Di Pekalongan saja, anak kelas 4 SD mempunyai jadwal sekolah dari pukul 07.00 sampai 14.30. Setelah itu dilanjutkan dengan les ini dan itu sampai sore bahkan kadang malam hari. Pertemuan dengan orang tua terjadi hanya beberapa jam setiap hari, dalam situasi kedua pihak sudah kecapean sehingga tidak jarang orang tua marah-marah pada anaknya. Ketika saya SD, seingat saya juara umum sekolah adalah anak yang mencapai nilai rata-rata 8. Hari ini kalau ada anak yang mendapat nilai rata-rata 8 artinya dia ranking satu dari belakang.
Pola hidup yang penuh tuntutan di mana anak tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatnya (kasih, perlidungan, perhatian orang tua dll) dan mendapatkan hal-hal yang seharusnya tidak ditanggungnya (tuntutan yang berlebih) mau tidak mau akan membentuk suatu pribadi yang tidak mengenal arti kasih karena memang tidak pernah merasakan dikasihi orang lain. Anak-anak ini akan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang narsis. Pribadi narsis artinya dia akan berhubungan dengan orang lain hanya dengan satu tujuan yaitu untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain. Jadi pikirannya hanya ‘apa yang saya bisa dapat dari kamu, apa yang kamu bisa berikan kepadaku.’ Saudara, bukankah tanda-tandanya sudah dapat kita lihat saat ini? Ketika orang datang ke gereja hanya dengan satu tujuan: apa yang Tuhan bisa berikan padaku? Bahkan kita lihat ada oknum pendeta yang membujuk jemaat seperti membujuk anak kecil: beri persembahan, beri perpuluhan, nanti Tuhan ganti berlipat kali ganda. Ini kan seperti kita bicara ke anak kecil: makan obat ini, nanti papa belikan kamu mainan. Saya tidak menyangkal Alkitab berisi banyak sekali janji-janji Allah, saya tidak anti berkat. Hanya orang gila yang tidak mau berkat Tuhan. Masalahnya Alkitab tidak hanya berisi janji tapi juga perintah untuk mengejar kekudusan, menyangkal diri dan pikul Salib. Hanya memberitakan berkat tanpa kewajiban artinya mengkorting isi Alkitab. Dalam menu 4 sahat 5 sempurna, berkat ibarat susu. Bayangkan kalau kita tiap hari hanya minum susu saja tanpa telur, nasi, sayur, dan daging. Dapatkah kita bertumbuh secara sehat?
Kakak saya adalah seorang pendeta yang melayani di Melbourne, suatu hari ada seorang pendeta temannya didekati oleh gereja lain. Rupa-rupanya gereja itu menawarkan teman kakak saya untuk bergabung dengan gereja mereka dengan janji gaji yang berlipat kali ganda. Syaratnya satu: ‘frekuensi’ khotbahnya dirubah menjadi teologi kemakmuran.
Kedua, kita sadar kasih sejati tidak murah, kasih sejati harganya mahal dan menuntut perbuatan nyata. Mari kita baca Lukas 10: 33-35. Mari kita hitung apa yang harus dibayar oleh orang Samaria akibat hatinya berbelas kasih: ayat 34: Pertama: membalut, berarti orang Samaria itu mengeluarkan kain-kain yang mungkin barang dagangannya, harga kedua yang dibayar: menyiraminya dengan minyak dan anggur, 3. menaikkan orang itu ke-keledai tunggangannya, artinya dia sendiri berjalan kali, membawanya ke penginapan dan merawatnya. Sudah cukup? Belum, kita baca ayat 35: harga keempat: menyerahkan uang dua dinar kepada pemilik penginapan, 5. meminta pemilik peningapan untuk merawat orang itu dan jika uang dua dinar masih kurang, akan dibayar kemudian ketika dia kembali.
Stanley Jones, seorang misionari yang melayani di India suatu hari bertemu dengan Mahatma Gandhi dan dia tahu Gandhi menyimpan selipan “Khotbah Tuhan Yesus di Bukit.” Yang selalu dibacanya setiap hari.
Jones bertanya, “Mahatma, dapatkah anda memberikan saran bagaimana agar kekristenan bisa lebih diterima oleh orang India?”
Saudara tahu apa jawab Mahatma Gandhi? Ia mengatakan, “Saya percaya orang India akan banyak menerima kekristenan hanya dengan simple saja, please you all christians live like Christ.”
Ini adalah sebuah kalimat yang indah luar biasa yang keluar dari mulut seorang non-kristen sekaligus tamparan telak di wajah kita. Benar, saat ini cukup banyak gereja yang mengajar jemaatnya untuk mengejar harta dunia dan tidak pernah mengajar untuk mengejar karakter Kristus, sifat-sifat Kristus dalam hidupnya. Dan secara psikologis hal ini dapat dijelaskan yaitu umumnya tidak ada manusia yang suka ditegur, dikoreksi tapi manusia senang jika mendengar janji-janji. Martin Luther pernah mengatakan: “A religion that gives nothing, costs nothing, and suffers nothing, is worth nothing.” Artinya mengikut Yesus harus siap membayar harga. Tanpa menyangkal diri dan pikul Salib, kekristenan tidak berarti apa-apa.
3. Ayat 34 menyatakan kita harus saling mengasihi seperti Kristus sudah mengasihi kita lebih dulu. Artinya saling mengasihi bukanlah karena dia itu teman saya tetapi karena dia itu milik Kristus.
Ada satu kalimat yang paling indah pernah dikeluarkan oleh John Bunyan dalam bukunya “Pilgrim Progress,” kita belum menjalani apa artinya hidup kalau kita belum pernah memberi kepada orang yang tidak bisa membalas kita kembali. Karena pada waktu kita memberi kepada orang yang sanggup membalas kembali, itu artinya tukar kado. Tetapi kalau kita bisa memberi kepada orang yang tidak sanggup untuk memberi kita kembali, itu adalah sacrifice, itu adalah giving, itu adalah pemberian.
Untuk dapat mengasihi lebih dulu dibutuhkan sebuah penerimaan tanpa syarat. Apakah ini hal yang mudah atau hal yang sulit?
Sayangnya, mengasihi lebih dulu di kebudayaan gerejapun menjadi suatu seni yang terlupakan. Secara doktrin kita mengakui kita adalah manusia berdosa yang mendapat anugrah keselamatan secara gratis. Tetapi pada prakteknya gereja menampilkan diri sebagai kumpulan orang-orang terhormat, baik-baik, dan suci sehingga kesaksian di mimbarpun selalu bersifat past tense. ‘saya dulu jahat ini dan itu, sekarang sudah baik.’ tidak pernah saya mendengar kesaksian kalau dia sedang bergumul dari dosa perzinahan misalnya. Wah, kalau itu terjadi mungkin dia akan dijauhi seisi gereja!.
Dalam keadaan seperti ini tidak heran kalau kelompok Alcoholics Anonymous (AA) lebih dapat merubah manusia seperti kesaksian seorang yang bernama Jake yang ditulis oleh Dr. Henry Cloud dalam bukunya ‘Changes That Heal’:
‘Ketika saya berada di gereja atau bersama dengan teman-teman kristen saya, mereka hanya mengatakan kepada saya bahwa minum-minum itu dosa dan saya harus bertobat. Mereka tidak tahu berapa kali saya berusaha berhenti, berapa kali saya sudah berusaha menjadi orang kristen yang baik.’
‘Ketika saya masuk AA, saya mendapati saya dapat bersikap jujur mengenai kegagalan-kegagalan saya, dan yang lebih penting, saya dapat bersikap jujur mengenai keputusasaan saya. Pada waktu saya mendapati bahwa Allah dan AA menerima saya (tanpa syarat) dalam ketergantungan dan keputusasaan saya akan minuman keras, barulah saya mempunyai harapan’.
‘Sering kali gereja mengkhotbahkan kasih karunia, tapi saya tidak pernah menemukan penerimaan di sana untuk keberadaan saya sebenarnya dan selalu mengharapkan saya berubah. Dalam kelompok AA, mereka tidak hanya mengharapkan saya berubah, tapi juga mengatakan dengan diri saya sendiri, saya akan gagal. Mereka menyediakan diri untuk membantu dia.’
Kelepasan Jake pada minuman keras akhirnya terjadi ketika dia dapat menjadi dirinya sendiri dalam relasinya dengan Allah dan orang lain.
Kesimpulan
Banyak orang berkata bahwa kasih itu sifatnya universal. Malam ini kita belajar bahwa di atas kasih yang universal itu, orang kristen seharusnya meneladani kasih Kristus yaitu kasih yang tidak bersyarat, kasih yang berkorban. Motivasi utama Yesus adalah untuk menggenapi rencana penebusan manusia dan karena kasihlah Dia menyerahkan nyawa di kayu Salib.
Mari kita meneladani kasih Kristus dan belajar untuk saling mengasihi seperti Kristus sudah mengasihi kita lebih dulu.
Sebuah kisah terakhir berikut ini kiranya menjadi bahan renungan bagi kita semua:
Menjelang berakhirnya perang dunia II, Eropa mulai bangkit kembali. Sebagian dari negara Inggris telah diporak-porandakan oleh perang dan dalam keadaan hancur. Barangkali pemandangan yang paling menyedihkan dari semuanya adalah banyaknya anak yatim piatu yang kelaparan, berkeliaran di jalan-jalan di kota-kota yang hancur oleh perang.
Suatu pagi yang dingin, seorang serdadu Amerika sedang menuju baraknya di kota London. Ketika ia sedang berbelok dengan jeep-nya, ia melihat seorang anak kecil dengan hidung yang ditempelkan ke jendela kaca sebuah toko kue. Di dalam toko itu, nampak seorang koki sedang membuat adonan untuk donat. Anak perempuan tesebut hanya memandang tanpa kata-kata, mengamati tiap gerak-gerik koki itu. Serdadu itu segera menuju pinggiran jalan, memarkir jeep-nya dan turun menghampiri anak tersebut. Melalui kaca yang buram ia dapat melihat potongan-potongan kue panas yang membangkitkan selera dikeluarkan dari panggangan. Anak perempuan itu mengeluarkan air liur dan menarik nafas panjang melihat sang koki menempatkan kue-kue tersebut di rak pajangan.
Serdadu yang berdiri di samping anak itu merasa kasihan pada anak yatim piatu tanpa nama itu.
‘Nak,.....kamu mau kue-kue itu?’
Anak laki-laki itu terperanjat.
‘Ya, ya,......saya mau!’
Serdadu itu masuk ke dalam dan membeli selusin kue, memasukkannya ke dalam kantong, dan kembali menuju tempat anak perempuan tadi sedang berdiri di tengah-tengah dinginnya pagi kota London yang berkabut. Ia tersenyum, menyerahkan bungkusan kue tersebut dan berkata:
‘Ini buat kamu.’
Ketika berbalik pergi, ia merasa ada tarikan di jubahnya. Ia menengok ke belakang dan mendengar anak itu berkata dengan perlahan:
‘Tuan,......apakah engkau Tuhan?’
Saudara, ketika kita memberikan sesuatu pada orang yang tidak mampu membalas pemberian kita, saat itulah kita paling mirip dengan Tuhan.
Ketika kita menyangkal diri dan memberikan diri kita kepada orang ang tidak layak menerimanya, saat itulah saudara dan saya paling mirip dengan Tuhan.
Undangan
Sebelum kita masuk dalam doa perkenankanlah saya bertanya adakah kasih Allah yang merelakan Anak-Nya mati di kayu Salib menebus dosa saudara dan saya menyentuh hati sadara?. Adakah orang yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan? Keselamatan itu mahal, keselamatan tidak dapat dibeli dengan harta dunia dan perbuatan baik manusia. Keselamatan itu seharga darah suci Yesus yang dicurahkan di kayu Salib. Adakah yang berpikir, Tuhan Yesus aku ini orang berdosa dan tidak layak, ampuni semua dosa-dosaku, jadilah Tuhan dan Juruselamatku. Kalau ada, jangan tahan hatimu, angkatlah tanganmu.
Pertanyaan terakhir, adakah orang yang malam ini sadar bahwa selama ini saya sudah hidup jauh dari Tuhan dan saat ini berketetapan untuk kembali ke jaln Tuhan? Kalau ada silahkan angkat tangan saudara.
031108
On His Grace,
hendra
Khotbah Alkitabiah Yang Komunikatif dan Berwibawa
Pdt. Michael K. Shipman, D.Min
Penulis memulai bukunya dengan sebuah pernyataan bahwa prinsip-prinsip berkhotbah yang Alkitabiah dan komunikatif tidak pernah berubah, tetapi cara memakai prinsip itulah (metodenya) yang harus senantiasa dievaluasi dan disesuaikan dengan konteks zaman. Para pengkhotbah hendaknya mengevaluasi, meningkatkan dan memperbaiki cara berkhotbahnya bahkan jika perlu memikirkan dan membangun secara baru cara khotbah yang lebih baik. Jadi buku ini bermaksud untuk menyampaikan metode dan saran dalam meningkatkan cara menyiapkan dan menyampaikan khotbah yang mungkin berubah, tetapi sumbernya tidak berubah.
Kemampuan untuk berkhotbah dengan baik mempunyai beberapa segi, yaitu kemampuan alami yang diberikan oleh Allah, keahlian yang harus dibentuk dan dibina melalui proses belajar dan peningkatan kehidupan rohani dan kehidupan pribadi pengkhotbah sebagai manusia (karakter dan sifat).
Dalam menyampaikan khotbah yang baik, seorang pengkhotbah harus mengkomunikasikan, bukan hanya menyampaikan prinsip-prinsip Alkitab yang kekal agar dapat dipahami sampai ke hati dan diimplementasikan oleh pendengarnya. Hasil dari khotbah yang baik dapat dilihat pada perubahan hidup jemaat sebagai bukti mereka mendengar, mengerti dan bertransformasi sesuai pesan khotbah.
Perlunya Mengevaluasi Khotbah
Secara berkala, khotbah-khotbah perlu dievaluasi. Hal ini dikarenakan karena dewasa ini ada beberapa fenomena yang terjadi:
1. Kebebasan dalam berbicara. Orang-orang awam lebih berani mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai hal-hal pribadi yang berarti bagi dirinya.
2. Kebudayaan juga ikut berubah. Orang tidak lagi begitu mudah menerima wewenang, pendapat atasan atau pemimpin seperti dulu.
Jadi karena perubahan budaya dan semakin kritisnya jemaat (bahkan cukup banyak orang awam yang belajar teologi), pengkhotbah perlu mengevaluasi apakah khotbah-khotbahnya ‘connect’ dengan jemaatnya. Di tangah perubahan zaman, perlu ditegaskan bahwa otoritas khotbah yang utama adalah pada kebenaran Alkitab yang tanpa kesalahan dan dinafaskan oleh Allah sendiri (2 Tim. 3:16). Selain itu, dalam 2 Tim. 3:16b, Paulus menekankan hasil dari memanfaatkan kebenaran Alkitab secara praktis untuk mengubah kehidupan para pendengar. Hal ini mengimplikasikan khotbah alkitabiah yang komunikatif (KAK) mempunyai dua segi yaitu, kebenaran alkitabiah (tidak dapat berubah) dan metode berkomunikasi (dapat berubah).
Perbandingan khotbah alkitabiah yang komunkatif (KAK) dan khotbah lain
Khotbah tradisional pada umumnya masuk dalam salah satu kategori di antara khotbah ekspositori, tekstual, atau topikal. Khotbah ekspositori dan khotbah tekstual mempunyai esensi penafsiran yang tidak jauh berbeda satu sama lain dengan berdasar pada tafsiran teks secara keseluruhan. Sedangkan khotbah topikal lebih mempunyai kebebasan dalam memakai teks berdasarkan topik yang dipilih.
Khotbah alkitabiah yang komunikatif (KAK) memakai prinsip penafsiran yang sama dengan khotbah ekspositori, namun KAK juga memfokuskan pada prinsip-prinsip komunikasi agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dapat dipraktekkan oleh jemaat.
Metode Penafsiran Teks
Penafsiran teks yang lengkap dan sehat adalah harga mati untuk membuat khotbah KAK. Ada dua metode penafsiran yang dapat digunakan, yaitu penafsiran secara induktif dan penafsiran secara deduktif. Di dalam penafsiran secara deduktif, murid Alkitab membawa asumsi-asumsinya sewaktu dia belajar teks dari Alkitab sehingga kesimpulan dari hasil studynya sudah dipengaruhi oleh asumsinya sebelum kegiatan belajar (eksegesis) dimulai.
Penafsiran terbaik adalah secara induktif di mana teks Alkitab dipertimbangkan dari pandangan netral penafsir. Pemikiran subyektif tentang teks tersebut sedapat mungkin dihilangkan sampai teks tersebut didoakan, dibaca, diobservasi, ditafsirkan menurut prinsip-prinsip hermeneutika yang umum dan sehat, dan kemudian diakhiri dengan penerapan. Penerapan memberikan kebenaran teks Alkitab secara praktis yang akan mengubah hidup pendengar.
Transmisi Dari Tafsiran Menjadi Khotbah
Setelah mendapat berita teks melalui study, tiba waktunya untuk menyusun khotbah. Dari kesimpulan yang didapat melalui penafsiran teks, ada beberapa prinsip dalam membuat khotbah:
1. Mengadakan kalimat tema dari tafsiran teks. Resep untuk kalimat tema adalah Subyek/pokok kalimat + komplemen/frasa pelengkap + menemukan kata kunci untuk menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks berhubungan dengan subyek dan komplemen teks + menghitung ada berapa bagian yang merupakan informasi mengenai pokok teks.
2. Jembatan menuju khotbah yaitu kalimat mengenai maksud teks dalam konteks sejarah, kalimat mengenai maksud khotbah, buat pertanyaan mengenai maksud khotbah, kalimat transisi untuk khotbah.
3. Penyesuaian garis besar dari tafsiran agar ‘communicable’.
Cara/Pola Penyampaian KAK
Secara tradisional, pola khotbah adalah sebagai berikut: pendahuluan, khotbah, tubuh khotbah, kesimpulan khotbah. Pola ini kurang dapat mengkomunikasikan khotbah karena pengkhotbah hanya memberikan dan meringkas pelajaran teks dengan memberikan kesimpulannya tanpa mengharapkan hasil dari penyampaian khotbahnya. Pola bentuk khotbah ini kurang menciptakan suasana yang kondusif yang mempengaruhi hasil dari khotbah. Hal ini bagaikan makanan enak yang disajikan dalam kemasan dan suasana yang kurang baik. Agar khotbah menjadi lebih efektif, unsur pola/bentuk dan suasana khotbah harus diperhatikan.
Garis besar khotbah seperti ini adalah sbb:
• Pembacaan teks.
Biasanya dilakukan pertama kali walau tidak mutlak, dapat dilakukan kapan saja dalam konteks penyampaian khotbah. Pembacaan teks harus dilakukan dengan bersemangat sehingga mempersiapkan hati pendengar.
• Perhatian.
Dari awal khotbah, pengkhotbah harus menarik perhatian pendengarnya sebab sering kalimat atau alinea pertama yang diucapkan akan menentukan apakah mereka akan memperhatikan khotbah atau tidak.
Ada tiga hal yang dapat digunakan untuk menarik perhatian: melalui hal-hal yang mereka hargai, hal-hal yang unik dan hal-hal yang mengancam mereka. Cara menarik perhatian misalnya melalui cerita, perkataan yang dramatis, ilustrasi, fakta-fakta yang belum dipublikasikan, pengalaman pribadi sang pengkhotbah atau pengalaman orang lain.
• Keperluan.
Bagian ini mengkaitkan antara khotbah dengan kebutuhan hidup jemaat secara praktis (sehari-hari). Jadi khotbah seharusnya dapat menjawab keperluan jemaat, membantu jemaat secara pribadi.
Setelah keperluan jemaat sudah dinyatakan, pengkhotbah mulai beralih dari pendahuluan khotbah (pembacaan teks, perhatian, keperluan serta transisi) ke tubuh khotbah melalui sebuah kalimat transisi yang sederhana. Kalimat transisi (pernyataan atau pertanyaan) berfungsi untuk mengarahkan pada tujuan khotbah.
• Kepuasan.
Dalam tubuh khotbah, pengkhotbah mengkomunikasikan naskah khotbahnya (hasil eksegesis) melalui penyampaian khotbah secara KAK. Pengkomunikasian khotbah dilakukan dengan menjelaskan, menggambarkan, menegasan dan menerapkan poin-poin khotbah.
Tindakan penjelasan perlu agar tercipta pemahaman yang sama antara pengkhotbah dengan pendengar. Bagian yang dijelaskan harus dikaitkan dengan teks Alkitab sebagai sumber otoritas, kemudian membandingkan bagian tersebut dengan keadaan pendengar masa kini.
Setelah penjelasan diberikan, langkah berikutnya adalah memberikan gambaran untuk menerangkan arti teks bagi pendengar. Penggambaran dapat dilakukan melalui ilustrasi, drama, puisi dll. Penggambaran yang baik (misal. Ilustrasi) akan menyentuh hati pendengar dan akan diingat dalam waktu yang lama.
Penegasan bertujuan untuk meyakinkan dan mendorong pendengar akan kebenaran yang disampaikan. Penegasan mencakup unsur pikiran (rasio), emosi (hati) dan kehendak secara proporsional sehingga pendengar terdorong untuk mengikuti maksud khotbah yang disampaikan.
Penerapan mengalir dari penjelasan, penggambaran, dan penegasan karena setiap teks mempunyai penerapan. Penerapan perlu diberikan se-spesifik, se-konkrit dan se-praktis mungkin.
• Visualisasi.
Visualisasi memberi gambaran khotbah sebagai satu unit komplit sehingga menjelaskan khotbah melalui sebuah gambaran. Misal. Penggambaran dalam Yoh. 4:35 dengan menunjuk langsung pada ladang-ladang yang menguning, menguatkan pesan yang disampaikan.
• Tindakan.
Fase ini adalah kesempatan terakhir pengkhotbah untuk meminta perubahan hidup pendengar melalui usulan tindakan-tindakan yang konkrit. Akhirnya, pengkhotbah merangkum semuanya dalam garis besar khotbah. Undangan (calling) yang sesuai dengan pesan khotbah dimungkinkan sehingga pengkhotbah harus peka terhadap pimpinan Roh Kudus.
Rangkuman: Proses mengubah hidup pendengar melalui penyampaian khotbah terdiri dari dua aspek:
1. Proses pemikiran yang menghasilkan perubahan hidup: Pemahaman> Keyakinan> Dorongan emosonal> Perubahan> Tindakan.
2. Unsur-unsur penyampaian yang menghasilkan perubahan hidup: Penjelasan> Penggambaran> Penegasan> Penerapan.
Seni Mengkomunikasikan Khotbah
Khotbah yang baik harus sesuai dengan prinsip Alkitab dan direncanakan dengan baik dari awal. Lebih dari itu, Paulus berpesan kepada Timotius (2 Tim. 4:3) agar tidak hanya mengkhotbahkan hal-hal yang diinginkan oleh jemaatnya. Paulus melarang pengkhotbah untuk menyenangkan jemaatnya dengan mengurangi ajaran sejati Alkitab.
Untuk mengkomunikasikan khotbah dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Penyampaian khotbah adalah dialog.
Esensi khotbah adalah dialog. Maksudnya khotbah seharusnya disampaikan secara komunikatif agar terdapat interaksi dan komunikasi antara pengkhotbah dan jemaatnya.
2. Khotbah adalah percakapan di antara dua pihak.
Metode dialog tidak membatasi gaya penyampaian, apakah khotbah disampaikan secara keras-pelan, serius-biasa. Prinsipnya adalah interaksi antara pengkhotbah dan jemaat, adanya tanggapan dari jemaat walau tidak secara lisan. Berdasarkan tanggapan itu, pengkhotbah menganalisa dan menyesuaikan caranya berkhotbah untuk menarik perhatian mereka lagi.
3. Memakai garis besar selama penyampaian khotbah.
Garis besar adalah pokok-pokok pikiran sebagai arahan untuk khotbah beserta perkataan-perkataan penting yang akan disampaikan untuk mencapai tujuan tertentu.
4. Meningkatkan penyampaian khotbah dengan menegaskan konsep-konsepnya.
Konsep-konsep khotbah harus diulangi agar ditangkap oleh jemaat. Perkataan-perkataan terpenting dalam khotbah perlu ditegaskan kembali baik dengan kata-kata yang sama atau dengan kata-kata yang berbeda, dengan maksud yang sama.
5. Meningkatkan khotbah melalui bercerita.
Alkitab berisi banyak sekali cerita-cerita, bahkan Yesus sendiri sering memakai cerita untuk menyampaikan maksud-Nya. Pesan yang disampaikan melalui cerita yang menarik akan mudah untuk dipahami oleh jemaat.
6. Pemakaian humor.
Pemakaian humor yang baik dan proporsional bukan keharusan tapi kesempatan untuk bersatu dengan jemaat sehingga dapat menolong penyampaian khotbah.
7. Analisa audience.
Dari awal persiapan khotbah, pengkhotbah harus mencari tahu kepada siapa dia akan berkotbah. Pengkhotbah perlu untuk menganalisa jemaatnya sebab tanpa jemaat, isi khotbah dan penyampaiannya tidak akan berarti. Firman Allah ditujukan untuk memperlengkapi manusia untuk memuliakan Allah, sehingga tanpa manusia maka tidak ada keperluan untuk menyatakan Firman Allah. Analisa jemaat sebelum dan selama khotbah akan membuat pengkhotbah mengenal jemaatnya dan menyesuaikan/merubah metode kotbah (tanpa merubah isi berita) agar dipahami oleh jemaat setempat.
Secara spesifik, analisis jemaat mempunyai empat tujuan yaitu: menentukan macam/tipe kelompok jemaat, mengumpulkan data demografis agar dapat memahami siapakah jemaat yang dilayani, mempertimbangkan ketertarikan atau kecocokan jemaat dengan pokok khotbah, menilai suasana, sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai hidup jemaatnya.
8. Memenuhi kebutuhan jemaat melalui khotbah.
KAK dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan jemaat, baik kebutuhan pribadi maupun kelompok. Agar dapat memenuhi kebutuhan jemaat, pertama, jemaat harus berminat untuk mendengarkan khotbah. Agar didengarkan, khotbah haruslah relevan dengan kehidupan praktis pendengarnya. Khotbah yang tidak relevan hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi tanpa jemaat tertarik untuk terlibat di dalamnya. Jadi khotbah yang baik secara teologis belum tentu menjawab dan menyelesaikan masalah hidup jemat. Kebenaran Firman Allah harus dikaitkan dengan masalah dan keperluan jemaat masa kini. Sebuah jembatan yang menghubungkan antara dunia teks dan dunia masa kini harus dibangun sehingga kebenaran prinsip-prinsip Firman Tuhan dapat diterapkan dalam dunia masa kini.
Penulis buku menyatakan sebuah hal yang sangat menarik dalam halaman 268-270, yaitu meningkatkan iman para pendengar melalui khotbah. Sadar maupun tidak sadar, khotbah-khotbah yang didengarkan akan membentuk iman pendengarnya. Misalnya khotbah-khotbah yang meninggikan kedaulatan Allah akan membentuk jemaat yang mengakui kedaulatan Allah.
9. Evaluasi.
Evaluasi sangat penting untuk meningkatkan proses (cara) berkhotbah. Evaluasi dapat mencakup: segi-segi dari penyampaian khotbah, bahasa verbal dan non-verbal, lamanya khotbah, dan metode khotbah.
Masalah Dalam Menyiapkan KAK
Dalam konteks Indonesia, para gembala sangat sibuk dengan bermacam-macam tugas di luar khotbah. Sering pengkhotbah kurang mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan khotbah sehingga pengaturan skala prioritas menjadi penting. Pada dasarnya tugas gembala adalah memberikan makanan melalui mengajar dan berkhotbah, memimpin jemaat dalam jalan Tuhan, dan melindungi jemaat terhadap masalah hidup mereka. Kisah 6 menyatakan bahwa tugas untuk memberikan makanan rohani sangatlah penting. Para rasul sepakat untuk mengutamakan pelayanan Firman Tuhan daripada ‘melayani meja’. Hal ini tidak berarti bahwa dua tugas lainnya tidak penting, melainkan tugas utama gembala adalah mempersiapkan dan menyampaikan khotbah. Sebagai seorang pemimpin, pengkhotbah harus menjadi contoh bagi jemaatnya ketika dia meminta jemaat untuk mengikuti teladan Kristus.
Kepemimpinan yang efektif mempunyai empat segi yaitu merencanakan, mengatur, memotivasi, dan mengarahkan. Khotbah-khotbah seorang pemimpin dapat menolong dia memimpin jemaatnya dalam setiap segi kepemimpinan tersebut. Satu hal yang perlu diperhatikan pengkhotbah adalah berupaya untuk menjaga keseimbangan dalam khotbah. Maksudnya manusia (termasuk pengkhotbah) mempunyai kecenderungan untuk melakukan apa yang disukainya dan apa yang menjadi talenta atau karunianya. Bila dia mempunyai karunia pengajaran, maka tema pengajaran mendominasi khotbah-khotbahnya. Hal ini tidak salah, tapi alangkah baiknya bila pengkhotbah menyajikan kekayaan Alkitab dari berbagai segi. Pengajaran akan pokok-pokok teologi dan aplikasi praktis yang berkaitan dengan kehidupan jemaat perlu diseimbangkan. Satu hal lagi adalah untuk selalu mengkhotbahkan Kristus (Kristo-sentris).
Analisa Buku
Buku ini menyajikan kesegaran bagaikan oase di tengah padang gurun. Di tengah-tengah kesulitan sebagian pengkhotbah untuk memenuhi ekspektasi jemaatnya akan khotbah-khotbah yang bermutu dan relevan, buku ini dapat menjadi pilihan text book wajib mata kuliah homiletika bagi setiap mahasiswa seminari.
Ketika saya mengikuti SAAT Preaching Conference ke-1 tahun 2006 dan ke-2 tahun 2008, Pdt. Benny Solichin, MTh selaku dosen homiletik SAAT juga menekankan perlunya KAK dengan prinsip-prinsip yang sama persis dengan isi buku ini.
Penulis berhasil menyajikan argumennya dengan menyakinkan akan perlunya setiap khotbah adalah khotbah Alkitabiah dan komunikatif (KAK). Khotbah yang Alkitabiah adalah tuntutan setiap seminari Injili, namun khotbah Alkitabiah dan komunikatif adalah hal yang relatif baru. Pentingnya khotbah yang menarik jemaat barangkali sudah diketahui oleh sebagian besar pengkhotbah, tetapi buku teks yang sederhana, mudah dimengerti dan ‘up to date’ masih langka di toko-toko buku kristen. Bahkan, nyatanya buku-buku homiletika relatif langka dibandingkan dengan buku-buku teologi lainnya seperti misalnya sistematika dan praktika. Hal ini menyedihkan karena doktrin yang sudah benar memang tidak boleh berubah sehingga buku-buku sistematika terbitan puluhan tahun yang lalu masih tetap relevan. Di pihak lain homiletika sudah seharusnya bersifat dinamis menggunakan setiap zaman untuk mengevaluasi metode-metodenya. Nyatanya buku-buku homiletika dalam bahasa Indonesia sangat langka dan kita masih saja memakai buku Haddon W. Robinson atau Charles Spurgeon terbitan tahun 1970-1980-an dengan konteks dunia barat.
Membaca riwayat hidup penulis dan membaca buku ini saya sungguh bersyukur Tuhan mengirimkan seorang hamba-Nya untuk melayani dan menulis buku yang sangat penting bagi dunia kristen di Indonesia.
Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan:
1. Sudah mencakup hampir semua hal-hal yang diperlukan bagi calon pengkhotbah. Bila acuan buku diikuti niscaya kemampuan pengkhotbah akan meningkat dengan signifikan.
2. Isinya cukup mudah dipahami, walau demikian saya mendapat banyak sekali berkat ketika membuat laporan baca buku ini dibanding ketika saya hanya sekedar membacanya.
3. Sebuah buku mengajarkan banyak hal penting tanpa dirasa menggurui.
4. Buku ini ditulis dengan sistematika yang jelas, komunikatif dan up to date dengan konteks Indonesia.
Kelemahan:
1. Kristo-sentris kurang ditekankan, hanya disinggung sedikit di hal. 229. Sedapat mungkin setiap khotbah adalah khotbah yang Kristo-sentris.
2. Klimaks khotbah tidak ada. Setiap khotbah diusahaka untuk mempunyai sebuah klimaks. Sebuah klimaks adalah puncak khotbah yang menghentak pendengar dan akan membuat khotbah itu diingat terus oleh pendengar.
3. Tujuan khotbah diringkas dalam satu kalimat tidak ditekankan. Tujuan khotbah harus ada sebelum naskah khotbah ditulis. Sebuah tujuan adalah bagaikan sebuah sasaran tembak yang membuat pengkhotbah berfokus pada tujuan.
4. Buku ini menulis hal-hal yang ideal tapi sulit dijalankan dalam praktek. Sebagai orang awam yang sudah mendengar banyak khotbah, saya berpendapat ada sebuah jurang di antara dunia pengkhotbah dengan dunia jemaat sehari-hari. Sering kali pengkhotbah sudah mempunyai gayanya masing-masing dan tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan dunia, perubahan jemaat. Sebuah kalimat yang populer mengatakan: jemaat yang harus menyesuaikan diri dengan khotbah, bukan khotbah yang menyesuaikan diri dengan jemaat. Mereka lupa bahwa isi berita tidak pernah berubah, metode khotbahlah yang berubah. Saya pikir salah pengertian seperti ini yang membuat sebuah khotbah gagal menjadi khotbah yang komunikatif. Inilah tantangan bagi seminari untuk membentuk calon hamba Tuhan yang berpikiran terbuka.
Penulis memulai bukunya dengan sebuah pernyataan bahwa prinsip-prinsip berkhotbah yang Alkitabiah dan komunikatif tidak pernah berubah, tetapi cara memakai prinsip itulah (metodenya) yang harus senantiasa dievaluasi dan disesuaikan dengan konteks zaman. Para pengkhotbah hendaknya mengevaluasi, meningkatkan dan memperbaiki cara berkhotbahnya bahkan jika perlu memikirkan dan membangun secara baru cara khotbah yang lebih baik. Jadi buku ini bermaksud untuk menyampaikan metode dan saran dalam meningkatkan cara menyiapkan dan menyampaikan khotbah yang mungkin berubah, tetapi sumbernya tidak berubah.
Kemampuan untuk berkhotbah dengan baik mempunyai beberapa segi, yaitu kemampuan alami yang diberikan oleh Allah, keahlian yang harus dibentuk dan dibina melalui proses belajar dan peningkatan kehidupan rohani dan kehidupan pribadi pengkhotbah sebagai manusia (karakter dan sifat).
Dalam menyampaikan khotbah yang baik, seorang pengkhotbah harus mengkomunikasikan, bukan hanya menyampaikan prinsip-prinsip Alkitab yang kekal agar dapat dipahami sampai ke hati dan diimplementasikan oleh pendengarnya. Hasil dari khotbah yang baik dapat dilihat pada perubahan hidup jemaat sebagai bukti mereka mendengar, mengerti dan bertransformasi sesuai pesan khotbah.
Perlunya Mengevaluasi Khotbah
Secara berkala, khotbah-khotbah perlu dievaluasi. Hal ini dikarenakan karena dewasa ini ada beberapa fenomena yang terjadi:
1. Kebebasan dalam berbicara. Orang-orang awam lebih berani mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai hal-hal pribadi yang berarti bagi dirinya.
2. Kebudayaan juga ikut berubah. Orang tidak lagi begitu mudah menerima wewenang, pendapat atasan atau pemimpin seperti dulu.
Jadi karena perubahan budaya dan semakin kritisnya jemaat (bahkan cukup banyak orang awam yang belajar teologi), pengkhotbah perlu mengevaluasi apakah khotbah-khotbahnya ‘connect’ dengan jemaatnya. Di tangah perubahan zaman, perlu ditegaskan bahwa otoritas khotbah yang utama adalah pada kebenaran Alkitab yang tanpa kesalahan dan dinafaskan oleh Allah sendiri (2 Tim. 3:16). Selain itu, dalam 2 Tim. 3:16b, Paulus menekankan hasil dari memanfaatkan kebenaran Alkitab secara praktis untuk mengubah kehidupan para pendengar. Hal ini mengimplikasikan khotbah alkitabiah yang komunikatif (KAK) mempunyai dua segi yaitu, kebenaran alkitabiah (tidak dapat berubah) dan metode berkomunikasi (dapat berubah).
Perbandingan khotbah alkitabiah yang komunkatif (KAK) dan khotbah lain
Khotbah tradisional pada umumnya masuk dalam salah satu kategori di antara khotbah ekspositori, tekstual, atau topikal. Khotbah ekspositori dan khotbah tekstual mempunyai esensi penafsiran yang tidak jauh berbeda satu sama lain dengan berdasar pada tafsiran teks secara keseluruhan. Sedangkan khotbah topikal lebih mempunyai kebebasan dalam memakai teks berdasarkan topik yang dipilih.
Khotbah alkitabiah yang komunikatif (KAK) memakai prinsip penafsiran yang sama dengan khotbah ekspositori, namun KAK juga memfokuskan pada prinsip-prinsip komunikasi agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dapat dipraktekkan oleh jemaat.
Metode Penafsiran Teks
Penafsiran teks yang lengkap dan sehat adalah harga mati untuk membuat khotbah KAK. Ada dua metode penafsiran yang dapat digunakan, yaitu penafsiran secara induktif dan penafsiran secara deduktif. Di dalam penafsiran secara deduktif, murid Alkitab membawa asumsi-asumsinya sewaktu dia belajar teks dari Alkitab sehingga kesimpulan dari hasil studynya sudah dipengaruhi oleh asumsinya sebelum kegiatan belajar (eksegesis) dimulai.
Penafsiran terbaik adalah secara induktif di mana teks Alkitab dipertimbangkan dari pandangan netral penafsir. Pemikiran subyektif tentang teks tersebut sedapat mungkin dihilangkan sampai teks tersebut didoakan, dibaca, diobservasi, ditafsirkan menurut prinsip-prinsip hermeneutika yang umum dan sehat, dan kemudian diakhiri dengan penerapan. Penerapan memberikan kebenaran teks Alkitab secara praktis yang akan mengubah hidup pendengar.
Transmisi Dari Tafsiran Menjadi Khotbah
Setelah mendapat berita teks melalui study, tiba waktunya untuk menyusun khotbah. Dari kesimpulan yang didapat melalui penafsiran teks, ada beberapa prinsip dalam membuat khotbah:
1. Mengadakan kalimat tema dari tafsiran teks. Resep untuk kalimat tema adalah Subyek/pokok kalimat + komplemen/frasa pelengkap + menemukan kata kunci untuk menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks berhubungan dengan subyek dan komplemen teks + menghitung ada berapa bagian yang merupakan informasi mengenai pokok teks.
2. Jembatan menuju khotbah yaitu kalimat mengenai maksud teks dalam konteks sejarah, kalimat mengenai maksud khotbah, buat pertanyaan mengenai maksud khotbah, kalimat transisi untuk khotbah.
3. Penyesuaian garis besar dari tafsiran agar ‘communicable’.
Cara/Pola Penyampaian KAK
Secara tradisional, pola khotbah adalah sebagai berikut: pendahuluan, khotbah, tubuh khotbah, kesimpulan khotbah. Pola ini kurang dapat mengkomunikasikan khotbah karena pengkhotbah hanya memberikan dan meringkas pelajaran teks dengan memberikan kesimpulannya tanpa mengharapkan hasil dari penyampaian khotbahnya. Pola bentuk khotbah ini kurang menciptakan suasana yang kondusif yang mempengaruhi hasil dari khotbah. Hal ini bagaikan makanan enak yang disajikan dalam kemasan dan suasana yang kurang baik. Agar khotbah menjadi lebih efektif, unsur pola/bentuk dan suasana khotbah harus diperhatikan.
Garis besar khotbah seperti ini adalah sbb:
• Pembacaan teks.
Biasanya dilakukan pertama kali walau tidak mutlak, dapat dilakukan kapan saja dalam konteks penyampaian khotbah. Pembacaan teks harus dilakukan dengan bersemangat sehingga mempersiapkan hati pendengar.
• Perhatian.
Dari awal khotbah, pengkhotbah harus menarik perhatian pendengarnya sebab sering kalimat atau alinea pertama yang diucapkan akan menentukan apakah mereka akan memperhatikan khotbah atau tidak.
Ada tiga hal yang dapat digunakan untuk menarik perhatian: melalui hal-hal yang mereka hargai, hal-hal yang unik dan hal-hal yang mengancam mereka. Cara menarik perhatian misalnya melalui cerita, perkataan yang dramatis, ilustrasi, fakta-fakta yang belum dipublikasikan, pengalaman pribadi sang pengkhotbah atau pengalaman orang lain.
• Keperluan.
Bagian ini mengkaitkan antara khotbah dengan kebutuhan hidup jemaat secara praktis (sehari-hari). Jadi khotbah seharusnya dapat menjawab keperluan jemaat, membantu jemaat secara pribadi.
Setelah keperluan jemaat sudah dinyatakan, pengkhotbah mulai beralih dari pendahuluan khotbah (pembacaan teks, perhatian, keperluan serta transisi) ke tubuh khotbah melalui sebuah kalimat transisi yang sederhana. Kalimat transisi (pernyataan atau pertanyaan) berfungsi untuk mengarahkan pada tujuan khotbah.
• Kepuasan.
Dalam tubuh khotbah, pengkhotbah mengkomunikasikan naskah khotbahnya (hasil eksegesis) melalui penyampaian khotbah secara KAK. Pengkomunikasian khotbah dilakukan dengan menjelaskan, menggambarkan, menegasan dan menerapkan poin-poin khotbah.
Tindakan penjelasan perlu agar tercipta pemahaman yang sama antara pengkhotbah dengan pendengar. Bagian yang dijelaskan harus dikaitkan dengan teks Alkitab sebagai sumber otoritas, kemudian membandingkan bagian tersebut dengan keadaan pendengar masa kini.
Setelah penjelasan diberikan, langkah berikutnya adalah memberikan gambaran untuk menerangkan arti teks bagi pendengar. Penggambaran dapat dilakukan melalui ilustrasi, drama, puisi dll. Penggambaran yang baik (misal. Ilustrasi) akan menyentuh hati pendengar dan akan diingat dalam waktu yang lama.
Penegasan bertujuan untuk meyakinkan dan mendorong pendengar akan kebenaran yang disampaikan. Penegasan mencakup unsur pikiran (rasio), emosi (hati) dan kehendak secara proporsional sehingga pendengar terdorong untuk mengikuti maksud khotbah yang disampaikan.
Penerapan mengalir dari penjelasan, penggambaran, dan penegasan karena setiap teks mempunyai penerapan. Penerapan perlu diberikan se-spesifik, se-konkrit dan se-praktis mungkin.
• Visualisasi.
Visualisasi memberi gambaran khotbah sebagai satu unit komplit sehingga menjelaskan khotbah melalui sebuah gambaran. Misal. Penggambaran dalam Yoh. 4:35 dengan menunjuk langsung pada ladang-ladang yang menguning, menguatkan pesan yang disampaikan.
• Tindakan.
Fase ini adalah kesempatan terakhir pengkhotbah untuk meminta perubahan hidup pendengar melalui usulan tindakan-tindakan yang konkrit. Akhirnya, pengkhotbah merangkum semuanya dalam garis besar khotbah. Undangan (calling) yang sesuai dengan pesan khotbah dimungkinkan sehingga pengkhotbah harus peka terhadap pimpinan Roh Kudus.
Rangkuman: Proses mengubah hidup pendengar melalui penyampaian khotbah terdiri dari dua aspek:
1. Proses pemikiran yang menghasilkan perubahan hidup: Pemahaman> Keyakinan> Dorongan emosonal> Perubahan> Tindakan.
2. Unsur-unsur penyampaian yang menghasilkan perubahan hidup: Penjelasan> Penggambaran> Penegasan> Penerapan.
Seni Mengkomunikasikan Khotbah
Khotbah yang baik harus sesuai dengan prinsip Alkitab dan direncanakan dengan baik dari awal. Lebih dari itu, Paulus berpesan kepada Timotius (2 Tim. 4:3) agar tidak hanya mengkhotbahkan hal-hal yang diinginkan oleh jemaatnya. Paulus melarang pengkhotbah untuk menyenangkan jemaatnya dengan mengurangi ajaran sejati Alkitab.
Untuk mengkomunikasikan khotbah dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Penyampaian khotbah adalah dialog.
Esensi khotbah adalah dialog. Maksudnya khotbah seharusnya disampaikan secara komunikatif agar terdapat interaksi dan komunikasi antara pengkhotbah dan jemaatnya.
2. Khotbah adalah percakapan di antara dua pihak.
Metode dialog tidak membatasi gaya penyampaian, apakah khotbah disampaikan secara keras-pelan, serius-biasa. Prinsipnya adalah interaksi antara pengkhotbah dan jemaat, adanya tanggapan dari jemaat walau tidak secara lisan. Berdasarkan tanggapan itu, pengkhotbah menganalisa dan menyesuaikan caranya berkhotbah untuk menarik perhatian mereka lagi.
3. Memakai garis besar selama penyampaian khotbah.
Garis besar adalah pokok-pokok pikiran sebagai arahan untuk khotbah beserta perkataan-perkataan penting yang akan disampaikan untuk mencapai tujuan tertentu.
4. Meningkatkan penyampaian khotbah dengan menegaskan konsep-konsepnya.
Konsep-konsep khotbah harus diulangi agar ditangkap oleh jemaat. Perkataan-perkataan terpenting dalam khotbah perlu ditegaskan kembali baik dengan kata-kata yang sama atau dengan kata-kata yang berbeda, dengan maksud yang sama.
5. Meningkatkan khotbah melalui bercerita.
Alkitab berisi banyak sekali cerita-cerita, bahkan Yesus sendiri sering memakai cerita untuk menyampaikan maksud-Nya. Pesan yang disampaikan melalui cerita yang menarik akan mudah untuk dipahami oleh jemaat.
6. Pemakaian humor.
Pemakaian humor yang baik dan proporsional bukan keharusan tapi kesempatan untuk bersatu dengan jemaat sehingga dapat menolong penyampaian khotbah.
7. Analisa audience.
Dari awal persiapan khotbah, pengkhotbah harus mencari tahu kepada siapa dia akan berkotbah. Pengkhotbah perlu untuk menganalisa jemaatnya sebab tanpa jemaat, isi khotbah dan penyampaiannya tidak akan berarti. Firman Allah ditujukan untuk memperlengkapi manusia untuk memuliakan Allah, sehingga tanpa manusia maka tidak ada keperluan untuk menyatakan Firman Allah. Analisa jemaat sebelum dan selama khotbah akan membuat pengkhotbah mengenal jemaatnya dan menyesuaikan/merubah metode kotbah (tanpa merubah isi berita) agar dipahami oleh jemaat setempat.
Secara spesifik, analisis jemaat mempunyai empat tujuan yaitu: menentukan macam/tipe kelompok jemaat, mengumpulkan data demografis agar dapat memahami siapakah jemaat yang dilayani, mempertimbangkan ketertarikan atau kecocokan jemaat dengan pokok khotbah, menilai suasana, sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai hidup jemaatnya.
8. Memenuhi kebutuhan jemaat melalui khotbah.
KAK dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan jemaat, baik kebutuhan pribadi maupun kelompok. Agar dapat memenuhi kebutuhan jemaat, pertama, jemaat harus berminat untuk mendengarkan khotbah. Agar didengarkan, khotbah haruslah relevan dengan kehidupan praktis pendengarnya. Khotbah yang tidak relevan hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi tanpa jemaat tertarik untuk terlibat di dalamnya. Jadi khotbah yang baik secara teologis belum tentu menjawab dan menyelesaikan masalah hidup jemat. Kebenaran Firman Allah harus dikaitkan dengan masalah dan keperluan jemaat masa kini. Sebuah jembatan yang menghubungkan antara dunia teks dan dunia masa kini harus dibangun sehingga kebenaran prinsip-prinsip Firman Tuhan dapat diterapkan dalam dunia masa kini.
Penulis buku menyatakan sebuah hal yang sangat menarik dalam halaman 268-270, yaitu meningkatkan iman para pendengar melalui khotbah. Sadar maupun tidak sadar, khotbah-khotbah yang didengarkan akan membentuk iman pendengarnya. Misalnya khotbah-khotbah yang meninggikan kedaulatan Allah akan membentuk jemaat yang mengakui kedaulatan Allah.
9. Evaluasi.
Evaluasi sangat penting untuk meningkatkan proses (cara) berkhotbah. Evaluasi dapat mencakup: segi-segi dari penyampaian khotbah, bahasa verbal dan non-verbal, lamanya khotbah, dan metode khotbah.
Masalah Dalam Menyiapkan KAK
Dalam konteks Indonesia, para gembala sangat sibuk dengan bermacam-macam tugas di luar khotbah. Sering pengkhotbah kurang mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan khotbah sehingga pengaturan skala prioritas menjadi penting. Pada dasarnya tugas gembala adalah memberikan makanan melalui mengajar dan berkhotbah, memimpin jemaat dalam jalan Tuhan, dan melindungi jemaat terhadap masalah hidup mereka. Kisah 6 menyatakan bahwa tugas untuk memberikan makanan rohani sangatlah penting. Para rasul sepakat untuk mengutamakan pelayanan Firman Tuhan daripada ‘melayani meja’. Hal ini tidak berarti bahwa dua tugas lainnya tidak penting, melainkan tugas utama gembala adalah mempersiapkan dan menyampaikan khotbah. Sebagai seorang pemimpin, pengkhotbah harus menjadi contoh bagi jemaatnya ketika dia meminta jemaat untuk mengikuti teladan Kristus.
Kepemimpinan yang efektif mempunyai empat segi yaitu merencanakan, mengatur, memotivasi, dan mengarahkan. Khotbah-khotbah seorang pemimpin dapat menolong dia memimpin jemaatnya dalam setiap segi kepemimpinan tersebut. Satu hal yang perlu diperhatikan pengkhotbah adalah berupaya untuk menjaga keseimbangan dalam khotbah. Maksudnya manusia (termasuk pengkhotbah) mempunyai kecenderungan untuk melakukan apa yang disukainya dan apa yang menjadi talenta atau karunianya. Bila dia mempunyai karunia pengajaran, maka tema pengajaran mendominasi khotbah-khotbahnya. Hal ini tidak salah, tapi alangkah baiknya bila pengkhotbah menyajikan kekayaan Alkitab dari berbagai segi. Pengajaran akan pokok-pokok teologi dan aplikasi praktis yang berkaitan dengan kehidupan jemaat perlu diseimbangkan. Satu hal lagi adalah untuk selalu mengkhotbahkan Kristus (Kristo-sentris).
Analisa Buku
Buku ini menyajikan kesegaran bagaikan oase di tengah padang gurun. Di tengah-tengah kesulitan sebagian pengkhotbah untuk memenuhi ekspektasi jemaatnya akan khotbah-khotbah yang bermutu dan relevan, buku ini dapat menjadi pilihan text book wajib mata kuliah homiletika bagi setiap mahasiswa seminari.
Ketika saya mengikuti SAAT Preaching Conference ke-1 tahun 2006 dan ke-2 tahun 2008, Pdt. Benny Solichin, MTh selaku dosen homiletik SAAT juga menekankan perlunya KAK dengan prinsip-prinsip yang sama persis dengan isi buku ini.
Penulis berhasil menyajikan argumennya dengan menyakinkan akan perlunya setiap khotbah adalah khotbah Alkitabiah dan komunikatif (KAK). Khotbah yang Alkitabiah adalah tuntutan setiap seminari Injili, namun khotbah Alkitabiah dan komunikatif adalah hal yang relatif baru. Pentingnya khotbah yang menarik jemaat barangkali sudah diketahui oleh sebagian besar pengkhotbah, tetapi buku teks yang sederhana, mudah dimengerti dan ‘up to date’ masih langka di toko-toko buku kristen. Bahkan, nyatanya buku-buku homiletika relatif langka dibandingkan dengan buku-buku teologi lainnya seperti misalnya sistematika dan praktika. Hal ini menyedihkan karena doktrin yang sudah benar memang tidak boleh berubah sehingga buku-buku sistematika terbitan puluhan tahun yang lalu masih tetap relevan. Di pihak lain homiletika sudah seharusnya bersifat dinamis menggunakan setiap zaman untuk mengevaluasi metode-metodenya. Nyatanya buku-buku homiletika dalam bahasa Indonesia sangat langka dan kita masih saja memakai buku Haddon W. Robinson atau Charles Spurgeon terbitan tahun 1970-1980-an dengan konteks dunia barat.
Membaca riwayat hidup penulis dan membaca buku ini saya sungguh bersyukur Tuhan mengirimkan seorang hamba-Nya untuk melayani dan menulis buku yang sangat penting bagi dunia kristen di Indonesia.
Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan:
1. Sudah mencakup hampir semua hal-hal yang diperlukan bagi calon pengkhotbah. Bila acuan buku diikuti niscaya kemampuan pengkhotbah akan meningkat dengan signifikan.
2. Isinya cukup mudah dipahami, walau demikian saya mendapat banyak sekali berkat ketika membuat laporan baca buku ini dibanding ketika saya hanya sekedar membacanya.
3. Sebuah buku mengajarkan banyak hal penting tanpa dirasa menggurui.
4. Buku ini ditulis dengan sistematika yang jelas, komunikatif dan up to date dengan konteks Indonesia.
Kelemahan:
1. Kristo-sentris kurang ditekankan, hanya disinggung sedikit di hal. 229. Sedapat mungkin setiap khotbah adalah khotbah yang Kristo-sentris.
2. Klimaks khotbah tidak ada. Setiap khotbah diusahaka untuk mempunyai sebuah klimaks. Sebuah klimaks adalah puncak khotbah yang menghentak pendengar dan akan membuat khotbah itu diingat terus oleh pendengar.
3. Tujuan khotbah diringkas dalam satu kalimat tidak ditekankan. Tujuan khotbah harus ada sebelum naskah khotbah ditulis. Sebuah tujuan adalah bagaikan sebuah sasaran tembak yang membuat pengkhotbah berfokus pada tujuan.
4. Buku ini menulis hal-hal yang ideal tapi sulit dijalankan dalam praktek. Sebagai orang awam yang sudah mendengar banyak khotbah, saya berpendapat ada sebuah jurang di antara dunia pengkhotbah dengan dunia jemaat sehari-hari. Sering kali pengkhotbah sudah mempunyai gayanya masing-masing dan tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan dunia, perubahan jemaat. Sebuah kalimat yang populer mengatakan: jemaat yang harus menyesuaikan diri dengan khotbah, bukan khotbah yang menyesuaikan diri dengan jemaat. Mereka lupa bahwa isi berita tidak pernah berubah, metode khotbahlah yang berubah. Saya pikir salah pengertian seperti ini yang membuat sebuah khotbah gagal menjadi khotbah yang komunikatif. Inilah tantangan bagi seminari untuk membentuk calon hamba Tuhan yang berpikiran terbuka.
Memasarkan Gereja
Pendahuluan
Buku ini ditulis oleh George Barna, seorang pendiri dari The Barna Group, sebuah perusahaan market research melalui polling yang mengkhususkan diri untuk mempelajari kepercayaan-kepercayaan religius dan kebiasaan hidup masyarakat Amerika Serikat, serta perpaduan antara iman dan budaya. George Barna adalah seorang Injili yang lulus summa cum laude dari Boston College (Bachelor degree in sociology with minor in religion), master degree dari Rutgers University, dan doktor dari Dallas Baptist University.
Buku ini dimulai dengan sebuah presuposisi bahwa pertumbuhan Gereja adalah suatu perspektif yang tidak akan diperoleh dari seminari. Bertolak dari pemikiran itu, Barna menyajikan pentingnya pemasaran bagi pertumbuhan Gereja masa kini. Sepuluh bab buku ini menyajikan argumen tentang arti penting pemasaran dan bagaimana melaksakan pemasaran dalam konteks Gereja.
Bab 1: Menolong Gereja Untuk Bertumbuh: Pentingnya Pemasaran
Barna menyatakan bahwa gereja yang berorientasi pada pemasaran adalah gereja yang berusaha untuk melakukan kegiatan-kegiatannya sesuai dengan keinginan masyarakat yang menjadi sasarannya. Dengan demikian, keberhasilan sebuah gereja adalah mencapai sasaran dan misinya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya yaitu menolong orang untuk bertumbuh dalam Kristus.
Barna mempunyai empat dasar pemikiran untuk pemasaran gereja masa kini yaitu: gereja adalah suatu bisnis pelayanan, pemasaran perlu sekali bagi suatu bisnis, sebagian besar gereja tidak mempunyai perspektif pemasaran dalam pertumbuhan dan perkembangannya, dan ada banyak orang kristen injili yang mau mempertimbangkan ‘konsep pemasaran’ dalam pelayanan gereja.
Dasar Alkitabiah perencanaan pemasaran adalah melalui teladan rasul Paulus (Kis. 6; 1 Kor. 9:19-23), Krsitus sendiri (Luk. 14:28-30; Mat 13; 25). Dengan melakukan konsep pemasaran, ada keuntungan-keuntungan yang nyata yaitu pertumbuhan secara kuantitas, komunikasi yang lebih baik, menjangkau lebih luas, adanya lingkungan yang berubah dll.
Bab 2: Apakah Pemasaran Itu?
Definisi pemasaran menurut Barna adalah kegiatan bisnis yang dapat dilihat, yang mengarahkan aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dan memenuhi sasaran dan tujuan produsen. Dalam pemasaran, salah satu teori yang penting adalah dengan mempertimbangkan produk, pasar, promosi dan harga (P3H).
Bab 3: Apakah Artinya Gereja Yang Berorientasi Pada Pemasaran Itu?
Pemasaran gereja adalah kegiatan pelayanan dan usaha yang tampak terhadap orang-orang yang menjadi sasaran pekerjaan gereja yang tujuannya melayani dan memenuhi kebutuhan rohani, sosial, emosional, atau lahiriah manusia dan dengan demikian memenuhi sasaran pekerjaan gereja. Jadi penekanan pemasaran gereja adalah melayani gereja dalam pelayanannya.
Dalam konteks P3H (produk, pasar, promosi, dan harga), maka produk gereja adalah keselamatan yang diwujutkan melalui hubungan antara orang yang dilayani dengan Allah (primer) dan hubungan antara kita dengan sesama (sekunder). Pasar berarti setiap orang percaya adalah pemasar atau agen-agen penyalur yang wajib membagikan iman kita kepada sesama. Promosi adalah membangun dan membina hubungan dengan orang lain. Harga adalah komitmen kepada produk gereja secara holistik. Sedangkan langkah-langkah praktis untuk memasarkan gereja adalah penelitian, visi, rencana pemasaran, pelaksanaan, dan umpan balik.
Bab 4: Mengerti Pasarnya: Pentingnya Informasi
Kegiatan yang sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi disebut penelitian. Saat ini kita hidup dalam zaman informasi di mana mereka yang mempunyai dan menggunakan informasi dengan cara yang paling efektif mempunyai peluang terbesar untuk sukses di pasar.
Ada dua macam informasi yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah informasi yang dibuat oleh dan untuk gereja itu sendiri seperti survey jemaat dan survey dalam lingkaran masyarakat tetentu. Data sekunder adalah informasi yang didapat dari pihak lain misalnya laporan demografik, artikel, hasil polling dll.
Informasi yang didapat dari data primer dan data sekunder mempunyai arti yang penting dalam perkembangan gereja. Sebagai contoh umpan balik dari survey jemaat akan khotbah-khotbah di sebuah gereja menunjukkan khotbahnya terlalu teologis dan tidak cukup praktis. Dari hasil itu berarti khotbah-khotbahnya tidak diterima baik (tidak memberi makan yang cukup) dan jemaat yang tidak puas tidak akan mengundang rekan-rekannya ke gereja tersebut.
Bab 5: Pola Berpikir Kreatif Tentang Pemasaran Dan Pelayanan: Pentingnya Visi
Pengertian visi yang digunakan adalah suatu kesadaran yang luas tentang di mana kita sekarang berada, kemana kita akan pergi dan bagaimana kita pergi ke situ. Visi adalah karunia pada orang-orang tertentu yang biasanya berada dalam posisi pemimpin. Pemimpin memiliki dan mengkomunikasikan visinya, para pengikut menerima dan melaksanakan visi tersebut.
Ciri-ciri orang yang mempunyai visi adalah kreatif, praktis, tidak takut gagal, bersemangat untuk berhasil, seorang pemain dalam suatu team, tekun, dan ahli dalam bidangnya. Secara khusus bagi orang percaya, ada ciri-ciri tambahan yaitu tekun berdoa dan beriman. Visi dalam pemasaran gereja harus dikomunikasikan oleh pemimpin kepada jemaat dan dirumuskan dengan jelas sehingga dapat dilaksanakan dengan ketekunan.
Bab 6: Mengembangkan Suatu Rencana Pemasaran: Pentingnya Perencanaan
Membuat sebuah perencanaan sangat penting dan mempunyai lima keuntungan yaitu dapat mengenali dan memperjelas masalah yang ada, memberikan ‘kaki’ pada visi, dapat menentukan prioritas, penggunaan sumber daya secara efisien, dan kewajiban dan pertanggung-jawaban dapat direalisasikan melalui perencanaan. Rencana pemasaran adalah alat bantu yang penting dan mendasar bagi suatu organisasi yang berorientasi pemasaran. Rencana pemasaran berisi garis besar secara spesifik tentang langkah-langkah yang diambil untuk memenuhi tujuan-tujuannya.
Bab 7: Taktik-Taktik: Pentingnya Apa yang anda Lakukan
Penentuan sasaran yang ingin dicapai adalah strategi. Sedangkan taktik adalah langkah-langkah yang yang dilakukan agar dapat mencapai sasaran. Jadi taktik adalah hal-hal yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang dicanangkan oleh strategi. Taktik secara tradisional adalah dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah, media pasif, dan media yang dibayar. Menurut Barna, taktik yang berhasil adalah melalui undangan secara pribadi, pelajaran dalam kelompok kecil, dan program yang berorientasi pada anak-anak.
Pengembangan taktik harus selalu mengacu pada hasil penelitian akan kebutuhan masyarakat, mengembangkan hasil penelitian sekunder, menguji terlebih dahulu taktik yang akan dilakukan, jangan mengekang semangat kreatif kelompok inti, dan buat penaksiran yang realistis tentang sumber daya yang ada.
Bab 8: Menyusun Memanfaatkan Sumber Daya: Pentingnya Pelaksanaan
Untuk melaksanakan rencana pemasaran yang berhasil, ada tujuh langkah yang dapat dilakukan secara realistis sesuai kondisi masing-masing:
• Menetapkan satu orang sebagai ketua pemasaran bagi gereja.
• Menciptakan perasaan memiliki terhadap rencana di antara orang-orang kunci.
• Identifikasi sumber daya dan syarat-syarat yang diperlukan.
• Identifikasi sumber daya khusus yang tersedia.
• Melatih para pemimpin mengenai dasar-dasar pemasaran dan memanfaatkannya secara maksimal.
• Meminta pertanggungan jawab dari orang-orang yang diberi tugas.
• Melaksanakan seluruh rencana.
Bab 9: Mengkomunikasikan Kepada Masyarakat: Pentingnya Pesan Anda
Kadang-kadang kegagalan gereja dalam melaksanakan rencana pemasarn adalah karena kegagalan untuk mengkomunikasikan visinya kepada jemaat sehingga jemaat tidak berpartisipasi dalam melaksanakan visi tersebut. Komunikasi secara pribadi mempunyai peluang besar untuk mendapatkan umpan balik secara pribadi dibandingkan komunikasi secara masal.
Mengingat vitalnya peran komunikasi, penting sekali pemimpin gereja untuk mengkomunikasikan visi, rencana, dan strateginya kepada para anggota. Juga memberikan informasi secukupnya pada para pengunjung. Sebagai komunikator, kita tahu apa yang menjadi tujuan dan menggunakan pesan yang cocok (media dan berita yang tepat) untuk mendapatkan respon dari orang yang dituju.
Bab 10: Pemasaran Gereja: Satu Langkah, Bukan Obat Mujarab
Indikator untuk mengetahui efektifitas pemasaran adalah adanya pertumbuhan dari segi angka, lebih banyak jemaat yang terlibat, gairah yang tinggi, ada kepekaan terhadap pelayanan, tanggung jawab bersama, dan adanya perubahan suasana. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah mendapatkan umpan balik dari para anggota gereja.
Akhirnya Barna menyatakan bahwa pemasaran itu menolong, tetapi bukan merupakan satu-satunya jawaban bagi pertumbuhan gereja. Ada banyak faktor-faktor lain yang berpengaruh bagi perkembangan gereja.
Penutup
Buku yang ditulis pada tahun 1988 silam ini merupakan sebuah buku yang menarik. Penulis menggambarkannya sebagai pedang yang berujung dua (bukan bermata dua). Di satu sisi, ide-ide pemasaran ala Barna bagaikan embun sejuk dalam padang pasir yang gersang. Saat ini ada cukup banyak gereja-gereja injili mengalami kemerosotan dalam jumlah di tengah naiknya jumlah populasi manusia dan naiknya jumlah orang kristen. Buku ini menawarkan sebuah pola pikir yang baru dalam menyikapi peran gereja yang umumnya pasif menjadi aktif dalam menjangkau masyarakat yang belum mengenal Kristus. Di sisi lainnya, buku ini telah melewati batas dengan menggunakan istilah pemasaran. Pada prakteknya dalam dunia, konsep pemasaran telah jatuh ke dalam konsep bahwa customer adalah raja yang harus dilayani apapun harganya. Jika konsep ini dilakukan oleh gereja maka hasilnya akan sangat mengerikan karena ajaran-ajaran yang keras akan lenyap, khotbah-khotbah yang menegur akan sirna dari mimbar gereja. Gereja hanya akan menjadi tempat pemuasan nafsu narsis dan psikologis masyarakat yang berdosa.
Menurut hemat penulis, dalam batas-batas yang tegas tanpa kompromi terhadap isi berita Injil dan digantinya istilah ‘rencana pemasaran’ menjadi istilah yang lebih netral seperti ‘rencana pengembangan gereja’, buku ‘Memasarkan Gereja’ seharusnya menjadi self-critique dan menjadi acuan bagi pelaksanaan pelayanan yang berkualitas tinggi dan lepas dari segala macam legalisme yang tidak dinyatakan dalam prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.
Buku ini ditulis oleh George Barna, seorang pendiri dari The Barna Group, sebuah perusahaan market research melalui polling yang mengkhususkan diri untuk mempelajari kepercayaan-kepercayaan religius dan kebiasaan hidup masyarakat Amerika Serikat, serta perpaduan antara iman dan budaya. George Barna adalah seorang Injili yang lulus summa cum laude dari Boston College (Bachelor degree in sociology with minor in religion), master degree dari Rutgers University, dan doktor dari Dallas Baptist University.
Buku ini dimulai dengan sebuah presuposisi bahwa pertumbuhan Gereja adalah suatu perspektif yang tidak akan diperoleh dari seminari. Bertolak dari pemikiran itu, Barna menyajikan pentingnya pemasaran bagi pertumbuhan Gereja masa kini. Sepuluh bab buku ini menyajikan argumen tentang arti penting pemasaran dan bagaimana melaksakan pemasaran dalam konteks Gereja.
Bab 1: Menolong Gereja Untuk Bertumbuh: Pentingnya Pemasaran
Barna menyatakan bahwa gereja yang berorientasi pada pemasaran adalah gereja yang berusaha untuk melakukan kegiatan-kegiatannya sesuai dengan keinginan masyarakat yang menjadi sasarannya. Dengan demikian, keberhasilan sebuah gereja adalah mencapai sasaran dan misinya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya yaitu menolong orang untuk bertumbuh dalam Kristus.
Barna mempunyai empat dasar pemikiran untuk pemasaran gereja masa kini yaitu: gereja adalah suatu bisnis pelayanan, pemasaran perlu sekali bagi suatu bisnis, sebagian besar gereja tidak mempunyai perspektif pemasaran dalam pertumbuhan dan perkembangannya, dan ada banyak orang kristen injili yang mau mempertimbangkan ‘konsep pemasaran’ dalam pelayanan gereja.
Dasar Alkitabiah perencanaan pemasaran adalah melalui teladan rasul Paulus (Kis. 6; 1 Kor. 9:19-23), Krsitus sendiri (Luk. 14:28-30; Mat 13; 25). Dengan melakukan konsep pemasaran, ada keuntungan-keuntungan yang nyata yaitu pertumbuhan secara kuantitas, komunikasi yang lebih baik, menjangkau lebih luas, adanya lingkungan yang berubah dll.
Bab 2: Apakah Pemasaran Itu?
Definisi pemasaran menurut Barna adalah kegiatan bisnis yang dapat dilihat, yang mengarahkan aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dan memenuhi sasaran dan tujuan produsen. Dalam pemasaran, salah satu teori yang penting adalah dengan mempertimbangkan produk, pasar, promosi dan harga (P3H).
Bab 3: Apakah Artinya Gereja Yang Berorientasi Pada Pemasaran Itu?
Pemasaran gereja adalah kegiatan pelayanan dan usaha yang tampak terhadap orang-orang yang menjadi sasaran pekerjaan gereja yang tujuannya melayani dan memenuhi kebutuhan rohani, sosial, emosional, atau lahiriah manusia dan dengan demikian memenuhi sasaran pekerjaan gereja. Jadi penekanan pemasaran gereja adalah melayani gereja dalam pelayanannya.
Dalam konteks P3H (produk, pasar, promosi, dan harga), maka produk gereja adalah keselamatan yang diwujutkan melalui hubungan antara orang yang dilayani dengan Allah (primer) dan hubungan antara kita dengan sesama (sekunder). Pasar berarti setiap orang percaya adalah pemasar atau agen-agen penyalur yang wajib membagikan iman kita kepada sesama. Promosi adalah membangun dan membina hubungan dengan orang lain. Harga adalah komitmen kepada produk gereja secara holistik. Sedangkan langkah-langkah praktis untuk memasarkan gereja adalah penelitian, visi, rencana pemasaran, pelaksanaan, dan umpan balik.
Bab 4: Mengerti Pasarnya: Pentingnya Informasi
Kegiatan yang sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi disebut penelitian. Saat ini kita hidup dalam zaman informasi di mana mereka yang mempunyai dan menggunakan informasi dengan cara yang paling efektif mempunyai peluang terbesar untuk sukses di pasar.
Ada dua macam informasi yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah informasi yang dibuat oleh dan untuk gereja itu sendiri seperti survey jemaat dan survey dalam lingkaran masyarakat tetentu. Data sekunder adalah informasi yang didapat dari pihak lain misalnya laporan demografik, artikel, hasil polling dll.
Informasi yang didapat dari data primer dan data sekunder mempunyai arti yang penting dalam perkembangan gereja. Sebagai contoh umpan balik dari survey jemaat akan khotbah-khotbah di sebuah gereja menunjukkan khotbahnya terlalu teologis dan tidak cukup praktis. Dari hasil itu berarti khotbah-khotbahnya tidak diterima baik (tidak memberi makan yang cukup) dan jemaat yang tidak puas tidak akan mengundang rekan-rekannya ke gereja tersebut.
Bab 5: Pola Berpikir Kreatif Tentang Pemasaran Dan Pelayanan: Pentingnya Visi
Pengertian visi yang digunakan adalah suatu kesadaran yang luas tentang di mana kita sekarang berada, kemana kita akan pergi dan bagaimana kita pergi ke situ. Visi adalah karunia pada orang-orang tertentu yang biasanya berada dalam posisi pemimpin. Pemimpin memiliki dan mengkomunikasikan visinya, para pengikut menerima dan melaksanakan visi tersebut.
Ciri-ciri orang yang mempunyai visi adalah kreatif, praktis, tidak takut gagal, bersemangat untuk berhasil, seorang pemain dalam suatu team, tekun, dan ahli dalam bidangnya. Secara khusus bagi orang percaya, ada ciri-ciri tambahan yaitu tekun berdoa dan beriman. Visi dalam pemasaran gereja harus dikomunikasikan oleh pemimpin kepada jemaat dan dirumuskan dengan jelas sehingga dapat dilaksanakan dengan ketekunan.
Bab 6: Mengembangkan Suatu Rencana Pemasaran: Pentingnya Perencanaan
Membuat sebuah perencanaan sangat penting dan mempunyai lima keuntungan yaitu dapat mengenali dan memperjelas masalah yang ada, memberikan ‘kaki’ pada visi, dapat menentukan prioritas, penggunaan sumber daya secara efisien, dan kewajiban dan pertanggung-jawaban dapat direalisasikan melalui perencanaan. Rencana pemasaran adalah alat bantu yang penting dan mendasar bagi suatu organisasi yang berorientasi pemasaran. Rencana pemasaran berisi garis besar secara spesifik tentang langkah-langkah yang diambil untuk memenuhi tujuan-tujuannya.
Bab 7: Taktik-Taktik: Pentingnya Apa yang anda Lakukan
Penentuan sasaran yang ingin dicapai adalah strategi. Sedangkan taktik adalah langkah-langkah yang yang dilakukan agar dapat mencapai sasaran. Jadi taktik adalah hal-hal yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang dicanangkan oleh strategi. Taktik secara tradisional adalah dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah, media pasif, dan media yang dibayar. Menurut Barna, taktik yang berhasil adalah melalui undangan secara pribadi, pelajaran dalam kelompok kecil, dan program yang berorientasi pada anak-anak.
Pengembangan taktik harus selalu mengacu pada hasil penelitian akan kebutuhan masyarakat, mengembangkan hasil penelitian sekunder, menguji terlebih dahulu taktik yang akan dilakukan, jangan mengekang semangat kreatif kelompok inti, dan buat penaksiran yang realistis tentang sumber daya yang ada.
Bab 8: Menyusun Memanfaatkan Sumber Daya: Pentingnya Pelaksanaan
Untuk melaksanakan rencana pemasaran yang berhasil, ada tujuh langkah yang dapat dilakukan secara realistis sesuai kondisi masing-masing:
• Menetapkan satu orang sebagai ketua pemasaran bagi gereja.
• Menciptakan perasaan memiliki terhadap rencana di antara orang-orang kunci.
• Identifikasi sumber daya dan syarat-syarat yang diperlukan.
• Identifikasi sumber daya khusus yang tersedia.
• Melatih para pemimpin mengenai dasar-dasar pemasaran dan memanfaatkannya secara maksimal.
• Meminta pertanggungan jawab dari orang-orang yang diberi tugas.
• Melaksanakan seluruh rencana.
Bab 9: Mengkomunikasikan Kepada Masyarakat: Pentingnya Pesan Anda
Kadang-kadang kegagalan gereja dalam melaksanakan rencana pemasarn adalah karena kegagalan untuk mengkomunikasikan visinya kepada jemaat sehingga jemaat tidak berpartisipasi dalam melaksanakan visi tersebut. Komunikasi secara pribadi mempunyai peluang besar untuk mendapatkan umpan balik secara pribadi dibandingkan komunikasi secara masal.
Mengingat vitalnya peran komunikasi, penting sekali pemimpin gereja untuk mengkomunikasikan visi, rencana, dan strateginya kepada para anggota. Juga memberikan informasi secukupnya pada para pengunjung. Sebagai komunikator, kita tahu apa yang menjadi tujuan dan menggunakan pesan yang cocok (media dan berita yang tepat) untuk mendapatkan respon dari orang yang dituju.
Bab 10: Pemasaran Gereja: Satu Langkah, Bukan Obat Mujarab
Indikator untuk mengetahui efektifitas pemasaran adalah adanya pertumbuhan dari segi angka, lebih banyak jemaat yang terlibat, gairah yang tinggi, ada kepekaan terhadap pelayanan, tanggung jawab bersama, dan adanya perubahan suasana. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah mendapatkan umpan balik dari para anggota gereja.
Akhirnya Barna menyatakan bahwa pemasaran itu menolong, tetapi bukan merupakan satu-satunya jawaban bagi pertumbuhan gereja. Ada banyak faktor-faktor lain yang berpengaruh bagi perkembangan gereja.
Penutup
Buku yang ditulis pada tahun 1988 silam ini merupakan sebuah buku yang menarik. Penulis menggambarkannya sebagai pedang yang berujung dua (bukan bermata dua). Di satu sisi, ide-ide pemasaran ala Barna bagaikan embun sejuk dalam padang pasir yang gersang. Saat ini ada cukup banyak gereja-gereja injili mengalami kemerosotan dalam jumlah di tengah naiknya jumlah populasi manusia dan naiknya jumlah orang kristen. Buku ini menawarkan sebuah pola pikir yang baru dalam menyikapi peran gereja yang umumnya pasif menjadi aktif dalam menjangkau masyarakat yang belum mengenal Kristus. Di sisi lainnya, buku ini telah melewati batas dengan menggunakan istilah pemasaran. Pada prakteknya dalam dunia, konsep pemasaran telah jatuh ke dalam konsep bahwa customer adalah raja yang harus dilayani apapun harganya. Jika konsep ini dilakukan oleh gereja maka hasilnya akan sangat mengerikan karena ajaran-ajaran yang keras akan lenyap, khotbah-khotbah yang menegur akan sirna dari mimbar gereja. Gereja hanya akan menjadi tempat pemuasan nafsu narsis dan psikologis masyarakat yang berdosa.
Menurut hemat penulis, dalam batas-batas yang tegas tanpa kompromi terhadap isi berita Injil dan digantinya istilah ‘rencana pemasaran’ menjadi istilah yang lebih netral seperti ‘rencana pengembangan gereja’, buku ‘Memasarkan Gereja’ seharusnya menjadi self-critique dan menjadi acuan bagi pelaksanaan pelayanan yang berkualitas tinggi dan lepas dari segala macam legalisme yang tidak dinyatakan dalam prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.
Gereja Saudara Dapat Bertumbuh
Latar Belakang
Buku ini ditulis dengan konteks gereja di Amerika Serikat oleh Charles Peter Wagner dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1976. Wagner adalah mantan profesor pertumbuhan gereja pada Fuller Theological Seminary School of World Mission. Latar belakang pendidikan beliau adalah B.S. Rutgers University (summa cum laude) pada 1952, M.Div. Fuller Theological Seminary pada 1955, Th.M. Princeton Theological Seminary pada 1962, M.A. Fuller Seminary School of World Mission (Missiology) pada 1968, dan Ph.D. University of Southern California (Social Ethics) pada 1977. Buku ini dibagi menjadi 12 bab yang mengulas pengertian dan pengaplikasian pertumbuhan gereja.
Pendahuluan
Gerakan pertumbuhan gereja memasuki Amerika Utara pada 1972 dengan dipelopori oleh Donald McGavran. Perngertian pertumbuhan gereja menurut beliau adalah segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. Sedangkan tujuan pertumbuhan gereja adalah lebih mengefektifkan penyebaran Injil dan melipatgandakan gereja-gereja di daerah baru.
Bab 1: Bertumbuh atau Tidak Bertumbuh
Penulis menyoroti adanya gereja-gereja yang bertumbuh (secara kuantitas jemaat) dan sebagian lain tidak bertumbuh. Pertumbuhan gereja tidaklah sederhana karena tidak ada formula yang berlaku secara universal. Walaupun demikian ada beberapa ciri-ciri bagi seorang pemimpin pertumbuhan gereja yaitu adanya ketaatan yang teguh, menetapkan sasaran dengan jelas, bersandar pada pengamatan yang tajam, tegas dalam mengevaluasi hasil, dan sikap optimis dan beriman. Dengan demikian ada tanda-tanda penting suatu gereja yang sehat yaitu peran sang gembala, sidang jemaat yang menggunakan karunia rohaninya, ukuran gereja yang tepat, struktur dan fungsi yang efisien, kesatuan (jemaat) yang homogen, metode yang tepat, dan adanya skala prioritas.
Bab 2: Apakah Pertumbuhan Gereja Itu?
Dasar Alkitabiah pertumbuhan gereja di mulai sejak kejatuhan manusia dalam dosa (ada banyak ayat pendukung dalam hal. 34-37). Allah bekerja melalui orang-orang percaya untuk memperkenalkan Injil kepada mereka yang belum percaya. Penatalayanan yang berhasil harus melibatkan waktu, uang dan tenaga (juga pikiran). Dengan demikian, pertumbuhan gereja tidak dapat dilepaskan dari faktor ilmu pengetahuan. Aspek ilmiah pertumbuhan gereja menaruh perhatian pada pengertian dan penguraian semua faktor yang ambil bagian dalam kasus-kasus kegagalan dan keberhasilan dalam usaha-usaha penginjilan.
Bab 3: Cukup Besarkah Iman Anda?
Dalam bagian ini penulis memperlihatkan bagaimana iman merupakan sebuah syarat yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan gereja. Penggunaan iman harus berasal dari pendeta dan dari para pemimpin awam ditambah dengan kesediaan untuk membayar harga bagi pertumbuhan itu.
Kegagalan dalam pertumbuhan gereja disebabkan gagalnya menetapkan sasaran-sasaran yang berani dan melakukan apapun untuk mencapainya. Acapkali kegagalan untuk menetapkan sasaran adalah ketakutan untuk mengambil resiko. Di pihak lain mengambil resiko adalah bagian yang hakiki dari penggunaan iman.
Bab 4: Gembala Sidang, Jangan Anda Takut Terhadap Kekuatan
Salah satu faktor dalam pertumbuhan gereja adalah gembala sidang. Hal ini membawa konsekuensi tanda penting pertama dari gereja yang sehat dan bertumbuh adalah seorang gembala sidang yang menganut cara berpikir serba mungkin dan yang kepemimpinan dinamisnya digunakan untuk mempengaruhi seluruh gereja supaya bekerja bagi pertumbuhan. Dengan kata lain, seorang gembala sidang yang berwibawa dan kuat kepemimpinannya mempunyai potensi yang besar untuk mempengaruhi dan memimpin jemaat menuju gerekan pertumbuhan gereja.
Bab 5: Bebaskan Kaum Awam
Tanda penting kedua adalah kaum awam yang diberdayakan dengan baik. Kedua tanda ini (gembala dan kaum awam) tidak dapat berfungsi terpisah satu dengan lainnya. Pemberdayaan kaum awam yang dimaksud oleh penulis adalah setiap jemaat menemukan karunia rohaninya dan berfungsi sesuai dengan karunianya tersebut. Sedangkan dalam gerakan penginjilan, penulis mempunyai hipotesa bahwa kira-kira sebesar 10% dari jemaat mempunyai karunia untuk menjadi penginjil dengan hanya 0,5% (dari 10%) yang aktif menggunakannya. Kesimpulannya adalah potensi terbesar pertumbuhan gereja berasal dari penginjilan oleh 10% jemaat dewasa digabungkan dengan penggunaan karunia rohani 90% anggota jemaat lainnya.
Bab 6: Berapa Besarkah yang Dimaksud Dengan Cukup Besar Itu?
Tanda penting ketiga adalah bahwa gereja-gereja itu cukup besar. Konteks pengertian cukup besar adalah gereja tersebut seharusnya sebuah gereja yang bertumbuh. Dasar pemikirananyha adalah ketika gereja kecil bertumbuh, akhirnya menjadi gereja yang besar dan semakin besar gereja berarti semakin banyak orang yang dimenangkan bagi Kristus.
Berkaitan dengan besaran gereja, penulis menyatakan bahwa ukuran maksimum setiap gereja terutama tergantung pada falsafah pelayanannya. Gereja dikatakan cukup besar ketika memenuhi dua persyaratan: cukup besar untuk memungkinkan falsafah pelayanannya berfungsi secara efisien dan menyediakan dasar yang memadai bagi peningkatan pertumbuhan.
Bab 7: Ibadah Raya + Jemaat + Sel = Gereja
Tanda keempat adalah rumusan sbb: Ibadah raya + Jemaat + Sel = Gereja. Maksud penulis adalah ibadah raya gereja diselenggarakan dengan baik dan menyenangkan sehingga membuat jemaat pulang dengan perasaan bahwa mereka baru saja mengalami perjumpaan dengan Allah. Di sisi lain, gereja itu harus berfungsi sebagai komunitas persekutuan di mana setiap orang saling mengenal nama masing-masing. Lebih lanjut, gereja harus dapat pula memecah persekutuan menjadi lebih kecil lagi menjadi kelompok sel di mana anggotanya saling berhubungan secara pribadi dalam semangat kekeluargaan.
Bab 8: Lain Orang Lian Selera! Mengapa?
Tanda penting kelima adalah homogenitas keanggotaannya (bahasa, ekonomi, budaya, ras dan sosial). Dasar pemikiran penulis adalah orang ingin menjadi kristen tanpa melintasi rintangan rasial, bahasa, atau golongan. Jadi pada prinsipnya manusia ingin bersosialisasi dengan manusia lain yang mirip dengan dirinya sendiri. Satu nilai positif adalah penjangkauan dalam konteks masyarakat yang homogen menjadi relatif lebih dimungkinkan. Walaupun demikian, penulis tidak bermaksud menjadi rasis melainkan penulis berpendapat bahwa seharusnya kita menerima adanya perbedaan kebudayaan dan menghargai integritas budaya orang-orang yang berbeda dengan kita.
Bab 9: Autopsi Sebuah Gereja Mati
Pada bagian ini penulis mencoba untuk meneliti penyebab-penyebab matinya gereja. Paling tidak ada dua penyebab utama yaitu:
• Sukuisme. Yang dimaksud dengan sukuisme adalah perubahan lingkungan, yaitu ketika para anggota gereja berpindah rumah dan rumah yang ditinggalkan di tempati orang-orang baru yang tidak dapat mereka layani.
• Kebutaan manusia. Kebutaan manusia berasal dari kegagalan untuk mengenali prinsip unit homogen dari pertumbuhan gereja
Bab 10: Keputusan atau Murid?
Tanda penting keenam adalah penggunaan suatu metode penginjilan yang berhasil. Penulis membenarkan prinsip tujuan membenarkan cara atau dalam istilahnya: pragmatisme yang disucikan. Yang dimaksudkan penulis di sini adalah adanya pergeseran metode penginjilan dari model KKR era Billy Graham yang bergantung pada pengkhotbah ‘luar’ menjadi penginjilan yang berimbang perannya antara ‘gereja luar’ dengan gereja lokal. Pada tahun 1970-an metode ini bergeser menjadi pembicara dari luar mentransfer ilmunya kepada para pemimpin gereja lokal dan gereja lokal yang melakukan penginjilannya.
Bab 11: Sudah Teraturkah Prioritas Anda?
Tanda penting yang terakhir adalah kemampuan untuk mengatur prioritas dengan baik. Ada tiga prioritas bagi setiap anggota gereja yaitu tanggung jawab kepada Kristus, tanggung jawab kepada Tubuh Kristus, tanggung jawab kepada pekerjaan Kristus di dalam dunia. Aktivitas lain di luar ketiga prioritas di atas merupakan sub-prioritas dan sub-sub prioritas. Misalnya prioritas tanggung jawab kepada pekerjaan Kristus mempunyai sub prioritas satu: penginjilan, sub-sub prioritas satu: pelayanan sosial dan sub prioritas dua: keterlibatan sosial dengan sub-sub prioritas dua: aksi sosial.
Bab 12: Allah Ingin Gereja Anda Bertumbuh
Pada bagian penutup, penulis menyatakan bahwa Allah ingin agar gereja kita bertumbuh. Berdasarkan contoh dari karya Kristus sendiri ketika Dia hidup di dunia dan contoh-contoh pertumbuhan gereja mula-mula, penulis menyatakan bahwa Allah memerintahkan diusahakannya pertumbuhan gereja. Contoh teladan Kristus seharusnya membuat kita merasa optimis, Amanat Agung hanya akan diselesaikan oleh mereka yang menyerahkan semuanya kepada Allah. Karena Dia ingin gereja kita bertumbuh, maka gereja kita dapat bertumbuh.
Penutup
Peter Wagner adalah salah satu tokoh pertumbuhan gereja yang cukup dihormati. Melihat latar belakang pendidikannya, Wagner adalah seorang Injili walau dalam perkembangannya dia mengalami perubahan sehingga menyebut dirinya sebagai seorang karismatik Injili. Buku ini secara pas menggambarkan pandangan teologinya.
Motivasi Wagner untuk memenangkan jiwa tidak perlu diragukan lagi, hanya saja cara-cara yang digunakan dan dasar Alkitabiahnya perlu untuk dicermati dengan hati-hati. Sebagai contoh, dia tidak ambil pusing apakah pertumbuhan gereja itu berdasarkan pemberitaan Firman Tuhan yang jelas oleh W.A. Criswell dengan Robert Schuller yang jarang menyampaikan pemberitaan yang jelas dan hanya memberitakan ‘cara berpikir yang menganggap segalanya mungkin’ (hal. 28). Contoh kedua adalah ketika dia membandingkan Kathryn Kuhlman dengan Billy Graham (hal 105). Bagaimana mungkin seorang Injili mempunyai pendapat seperti itu? Bagaimana otoritas Firman Tuhan di samakan dengan ilmu psikologi ala Schuller?.
Kritik berikutnya adalah kecenderungan Wagner untuk mengikuti selera pasar seperti Schuller. Ketika Firman disesuaikan dengan pasar yang berdosa, maka pemberitaan Firman yang sehat dan benar menjadi satu utopia belaka.
Berikutnya adalah cara penafsiran Wagner terhadap iman yang sembrono. Seakan-akan dengan iman maka semuanya menjadi mungkin. Iman haruslah dikaitkan dengan kehendak Tuhan dan kebenaran Firman-Nya. Tanpanya, iman menjadi iman yang egois.
Di luar beberapa kritik di atas, karya Wagner ini sangat penting sebagai bahan refleksi kita. Harus diakui ada banyak gereja yang begitu konvensional dalam dunia yang bergerak semakin cepat ini. Seakan-akan gereja adalah lembaga yang out of date. Kesan ini harus dihapus dengan kemauan gereja untuk merubah metode yang usang dan belajar untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan Alkitab tanpa mengkompromikan isinya. Sekali lagi tugas kita adalah untuk menanam, menyirami dengan cara-cara yang baik dan Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.
Buku ini ditulis dengan konteks gereja di Amerika Serikat oleh Charles Peter Wagner dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1976. Wagner adalah mantan profesor pertumbuhan gereja pada Fuller Theological Seminary School of World Mission. Latar belakang pendidikan beliau adalah B.S. Rutgers University (summa cum laude) pada 1952, M.Div. Fuller Theological Seminary pada 1955, Th.M. Princeton Theological Seminary pada 1962, M.A. Fuller Seminary School of World Mission (Missiology) pada 1968, dan Ph.D. University of Southern California (Social Ethics) pada 1977. Buku ini dibagi menjadi 12 bab yang mengulas pengertian dan pengaplikasian pertumbuhan gereja.
Pendahuluan
Gerakan pertumbuhan gereja memasuki Amerika Utara pada 1972 dengan dipelopori oleh Donald McGavran. Perngertian pertumbuhan gereja menurut beliau adalah segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. Sedangkan tujuan pertumbuhan gereja adalah lebih mengefektifkan penyebaran Injil dan melipatgandakan gereja-gereja di daerah baru.
Bab 1: Bertumbuh atau Tidak Bertumbuh
Penulis menyoroti adanya gereja-gereja yang bertumbuh (secara kuantitas jemaat) dan sebagian lain tidak bertumbuh. Pertumbuhan gereja tidaklah sederhana karena tidak ada formula yang berlaku secara universal. Walaupun demikian ada beberapa ciri-ciri bagi seorang pemimpin pertumbuhan gereja yaitu adanya ketaatan yang teguh, menetapkan sasaran dengan jelas, bersandar pada pengamatan yang tajam, tegas dalam mengevaluasi hasil, dan sikap optimis dan beriman. Dengan demikian ada tanda-tanda penting suatu gereja yang sehat yaitu peran sang gembala, sidang jemaat yang menggunakan karunia rohaninya, ukuran gereja yang tepat, struktur dan fungsi yang efisien, kesatuan (jemaat) yang homogen, metode yang tepat, dan adanya skala prioritas.
Bab 2: Apakah Pertumbuhan Gereja Itu?
Dasar Alkitabiah pertumbuhan gereja di mulai sejak kejatuhan manusia dalam dosa (ada banyak ayat pendukung dalam hal. 34-37). Allah bekerja melalui orang-orang percaya untuk memperkenalkan Injil kepada mereka yang belum percaya. Penatalayanan yang berhasil harus melibatkan waktu, uang dan tenaga (juga pikiran). Dengan demikian, pertumbuhan gereja tidak dapat dilepaskan dari faktor ilmu pengetahuan. Aspek ilmiah pertumbuhan gereja menaruh perhatian pada pengertian dan penguraian semua faktor yang ambil bagian dalam kasus-kasus kegagalan dan keberhasilan dalam usaha-usaha penginjilan.
Bab 3: Cukup Besarkah Iman Anda?
Dalam bagian ini penulis memperlihatkan bagaimana iman merupakan sebuah syarat yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan gereja. Penggunaan iman harus berasal dari pendeta dan dari para pemimpin awam ditambah dengan kesediaan untuk membayar harga bagi pertumbuhan itu.
Kegagalan dalam pertumbuhan gereja disebabkan gagalnya menetapkan sasaran-sasaran yang berani dan melakukan apapun untuk mencapainya. Acapkali kegagalan untuk menetapkan sasaran adalah ketakutan untuk mengambil resiko. Di pihak lain mengambil resiko adalah bagian yang hakiki dari penggunaan iman.
Bab 4: Gembala Sidang, Jangan Anda Takut Terhadap Kekuatan
Salah satu faktor dalam pertumbuhan gereja adalah gembala sidang. Hal ini membawa konsekuensi tanda penting pertama dari gereja yang sehat dan bertumbuh adalah seorang gembala sidang yang menganut cara berpikir serba mungkin dan yang kepemimpinan dinamisnya digunakan untuk mempengaruhi seluruh gereja supaya bekerja bagi pertumbuhan. Dengan kata lain, seorang gembala sidang yang berwibawa dan kuat kepemimpinannya mempunyai potensi yang besar untuk mempengaruhi dan memimpin jemaat menuju gerekan pertumbuhan gereja.
Bab 5: Bebaskan Kaum Awam
Tanda penting kedua adalah kaum awam yang diberdayakan dengan baik. Kedua tanda ini (gembala dan kaum awam) tidak dapat berfungsi terpisah satu dengan lainnya. Pemberdayaan kaum awam yang dimaksud oleh penulis adalah setiap jemaat menemukan karunia rohaninya dan berfungsi sesuai dengan karunianya tersebut. Sedangkan dalam gerakan penginjilan, penulis mempunyai hipotesa bahwa kira-kira sebesar 10% dari jemaat mempunyai karunia untuk menjadi penginjil dengan hanya 0,5% (dari 10%) yang aktif menggunakannya. Kesimpulannya adalah potensi terbesar pertumbuhan gereja berasal dari penginjilan oleh 10% jemaat dewasa digabungkan dengan penggunaan karunia rohani 90% anggota jemaat lainnya.
Bab 6: Berapa Besarkah yang Dimaksud Dengan Cukup Besar Itu?
Tanda penting ketiga adalah bahwa gereja-gereja itu cukup besar. Konteks pengertian cukup besar adalah gereja tersebut seharusnya sebuah gereja yang bertumbuh. Dasar pemikirananyha adalah ketika gereja kecil bertumbuh, akhirnya menjadi gereja yang besar dan semakin besar gereja berarti semakin banyak orang yang dimenangkan bagi Kristus.
Berkaitan dengan besaran gereja, penulis menyatakan bahwa ukuran maksimum setiap gereja terutama tergantung pada falsafah pelayanannya. Gereja dikatakan cukup besar ketika memenuhi dua persyaratan: cukup besar untuk memungkinkan falsafah pelayanannya berfungsi secara efisien dan menyediakan dasar yang memadai bagi peningkatan pertumbuhan.
Bab 7: Ibadah Raya + Jemaat + Sel = Gereja
Tanda keempat adalah rumusan sbb: Ibadah raya + Jemaat + Sel = Gereja. Maksud penulis adalah ibadah raya gereja diselenggarakan dengan baik dan menyenangkan sehingga membuat jemaat pulang dengan perasaan bahwa mereka baru saja mengalami perjumpaan dengan Allah. Di sisi lain, gereja itu harus berfungsi sebagai komunitas persekutuan di mana setiap orang saling mengenal nama masing-masing. Lebih lanjut, gereja harus dapat pula memecah persekutuan menjadi lebih kecil lagi menjadi kelompok sel di mana anggotanya saling berhubungan secara pribadi dalam semangat kekeluargaan.
Bab 8: Lain Orang Lian Selera! Mengapa?
Tanda penting kelima adalah homogenitas keanggotaannya (bahasa, ekonomi, budaya, ras dan sosial). Dasar pemikiran penulis adalah orang ingin menjadi kristen tanpa melintasi rintangan rasial, bahasa, atau golongan. Jadi pada prinsipnya manusia ingin bersosialisasi dengan manusia lain yang mirip dengan dirinya sendiri. Satu nilai positif adalah penjangkauan dalam konteks masyarakat yang homogen menjadi relatif lebih dimungkinkan. Walaupun demikian, penulis tidak bermaksud menjadi rasis melainkan penulis berpendapat bahwa seharusnya kita menerima adanya perbedaan kebudayaan dan menghargai integritas budaya orang-orang yang berbeda dengan kita.
Bab 9: Autopsi Sebuah Gereja Mati
Pada bagian ini penulis mencoba untuk meneliti penyebab-penyebab matinya gereja. Paling tidak ada dua penyebab utama yaitu:
• Sukuisme. Yang dimaksud dengan sukuisme adalah perubahan lingkungan, yaitu ketika para anggota gereja berpindah rumah dan rumah yang ditinggalkan di tempati orang-orang baru yang tidak dapat mereka layani.
• Kebutaan manusia. Kebutaan manusia berasal dari kegagalan untuk mengenali prinsip unit homogen dari pertumbuhan gereja
Bab 10: Keputusan atau Murid?
Tanda penting keenam adalah penggunaan suatu metode penginjilan yang berhasil. Penulis membenarkan prinsip tujuan membenarkan cara atau dalam istilahnya: pragmatisme yang disucikan. Yang dimaksudkan penulis di sini adalah adanya pergeseran metode penginjilan dari model KKR era Billy Graham yang bergantung pada pengkhotbah ‘luar’ menjadi penginjilan yang berimbang perannya antara ‘gereja luar’ dengan gereja lokal. Pada tahun 1970-an metode ini bergeser menjadi pembicara dari luar mentransfer ilmunya kepada para pemimpin gereja lokal dan gereja lokal yang melakukan penginjilannya.
Bab 11: Sudah Teraturkah Prioritas Anda?
Tanda penting yang terakhir adalah kemampuan untuk mengatur prioritas dengan baik. Ada tiga prioritas bagi setiap anggota gereja yaitu tanggung jawab kepada Kristus, tanggung jawab kepada Tubuh Kristus, tanggung jawab kepada pekerjaan Kristus di dalam dunia. Aktivitas lain di luar ketiga prioritas di atas merupakan sub-prioritas dan sub-sub prioritas. Misalnya prioritas tanggung jawab kepada pekerjaan Kristus mempunyai sub prioritas satu: penginjilan, sub-sub prioritas satu: pelayanan sosial dan sub prioritas dua: keterlibatan sosial dengan sub-sub prioritas dua: aksi sosial.
Bab 12: Allah Ingin Gereja Anda Bertumbuh
Pada bagian penutup, penulis menyatakan bahwa Allah ingin agar gereja kita bertumbuh. Berdasarkan contoh dari karya Kristus sendiri ketika Dia hidup di dunia dan contoh-contoh pertumbuhan gereja mula-mula, penulis menyatakan bahwa Allah memerintahkan diusahakannya pertumbuhan gereja. Contoh teladan Kristus seharusnya membuat kita merasa optimis, Amanat Agung hanya akan diselesaikan oleh mereka yang menyerahkan semuanya kepada Allah. Karena Dia ingin gereja kita bertumbuh, maka gereja kita dapat bertumbuh.
Penutup
Peter Wagner adalah salah satu tokoh pertumbuhan gereja yang cukup dihormati. Melihat latar belakang pendidikannya, Wagner adalah seorang Injili walau dalam perkembangannya dia mengalami perubahan sehingga menyebut dirinya sebagai seorang karismatik Injili. Buku ini secara pas menggambarkan pandangan teologinya.
Motivasi Wagner untuk memenangkan jiwa tidak perlu diragukan lagi, hanya saja cara-cara yang digunakan dan dasar Alkitabiahnya perlu untuk dicermati dengan hati-hati. Sebagai contoh, dia tidak ambil pusing apakah pertumbuhan gereja itu berdasarkan pemberitaan Firman Tuhan yang jelas oleh W.A. Criswell dengan Robert Schuller yang jarang menyampaikan pemberitaan yang jelas dan hanya memberitakan ‘cara berpikir yang menganggap segalanya mungkin’ (hal. 28). Contoh kedua adalah ketika dia membandingkan Kathryn Kuhlman dengan Billy Graham (hal 105). Bagaimana mungkin seorang Injili mempunyai pendapat seperti itu? Bagaimana otoritas Firman Tuhan di samakan dengan ilmu psikologi ala Schuller?.
Kritik berikutnya adalah kecenderungan Wagner untuk mengikuti selera pasar seperti Schuller. Ketika Firman disesuaikan dengan pasar yang berdosa, maka pemberitaan Firman yang sehat dan benar menjadi satu utopia belaka.
Berikutnya adalah cara penafsiran Wagner terhadap iman yang sembrono. Seakan-akan dengan iman maka semuanya menjadi mungkin. Iman haruslah dikaitkan dengan kehendak Tuhan dan kebenaran Firman-Nya. Tanpanya, iman menjadi iman yang egois.
Di luar beberapa kritik di atas, karya Wagner ini sangat penting sebagai bahan refleksi kita. Harus diakui ada banyak gereja yang begitu konvensional dalam dunia yang bergerak semakin cepat ini. Seakan-akan gereja adalah lembaga yang out of date. Kesan ini harus dihapus dengan kemauan gereja untuk merubah metode yang usang dan belajar untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan Alkitab tanpa mengkompromikan isinya. Sekali lagi tugas kita adalah untuk menanam, menyirami dengan cara-cara yang baik dan Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)