Friday, June 1, 2007

Reverend, Can I Study Abroad? (3)

Dalam beberapa minggu terakhir sebenarnya ada banyak sekali kejadian yang mengganggu pikiran dan hati saya. Berikut beberapa di antaranya:

Beberapa hari yang lalu saya mendapat telpon dari ibu saya. Dia meminta saya untuk mengkopikan beberapa VCD kotbah, yang menurutnya sangat bagus. Ternyata sang pengkotbah adalah seorang kristen yang nota bene adalah anak seorang majelis sebuah gereja ‘tradisional’ yang kemudian menjadi pemimpin sebuah kelenteng di Jakarta dan setelah 25 tahun kemudian bertobat dan sekarang menjadi seorang hamba Tuhan. Ibu saya sendiri lahir bukan dari keluarga kristen dan menerima anugerah keselamatan kira-kira 20 tahun yang lalu. Selama ini dia beribadah di sebuah gereja’ tradisional’ dan sempat menjabat sebagai majelis dalam beberapa periode. Setelah melihat VCD-nya saya jadi ingat bahwa VCD yang sama pernah dipinjamkan kepada saya oleh seorang pemuda di gereja tempat saya beribadah, beberapa bulan yang lalu. Didorong rasa penasaran, saya melihat dan mendengarkan kotbahnya. Ternyata memang tidak jauh dari perkiraan saya sebelumnya: pemaparan doktrinnya cukup ‘kacau’ dan mencomoti ayat-ayat bukan untuk didalami dan dipaparkan maksudnya, melainkan ayat-ayat tsb digunakan untuk mendukung apa yang dia katakan. Yang lebih ngeri adalah dia berkata: manusia yang tidak melakukan semua perintah Alkitab tempatnya di neraka. Wah...wah... keras sekali dan ngawur doktrinnya karena kita diselamatkan semata-mata anugerah dan bukannya atas jasa perbuatan kita. Perjanjian kerja semasa PL telah terbukti gagal ditaati manusia dan bahkan seorang Paulus-pun mempunyai kelemahan, seorang Petrus juga punya kekurangan. Jadi siapakah kita selain manusia berdosa pengejar kenikmatan hidup?. Berpikir flash back, saya juga pernah mengalami suatu masa yang penuh keraguan tentang keselamatan pribadi karena mendengar kotbah-kotbah semacam itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, kegiatan rohani di kota kami yang kecil sungguh booming. Secara latar belakang, kota kami adalah kota yang sangat terkenal dengan ‘kehijauannya’ dan seumur hidup saya, belum pernah terjadi ‘KKR dalam skala besar’ terjadi secara berurutan apalagi sampai empat kali. KKR yang pertama (kalo ndak salah ingat 2 bulan yang lalu) dibawakan oleh seorang hamba Tuhan dari Jakarta yang biasa mengisi acara di TV swasta dan suka sekali mengakhiri setiap kalimatnya dengan Haleluya. Selain acara KKR juga ada acara seminar tentang rumah tangga dengan membayar @ Rp. 50.000. Singkat cerita, ‘nama besar’ sang hamba Tuhan rupanya menjadi magnet bagi orang kristen dan bahkan katolik untuk hadir. Acara kedua adalah seminar tentang akhir jaman yang diadakan sebuah gereja. Tidak seperti biasanya, acara ini diselenggarakan selama beberapa hari pada pagi sampai siang hari yang tentunya sangat panas. Melihat dari jumlah mobil dan motor yang diparkir, rasanya secara kuantitas: sukses. Acara yang ketiga akan berlangung beberapa hari lagi, yaitu KKR kesembuhan yang akan dilayani oleh seorang hamba Tuhan dari Semarang (yang saya singgung pada tulisan ‘Reverend,... 1 dan 2). Satu hal: persiapan KKR ini bagus sekali karena dari akhir bulan lalu, posternya sudah terpasang di beberapa tempat umum. Acara yang ke-empat dilakukan oleh gereja katolik selang satu hari setelah acara ke-tiga!!. Saya bisa melihat bahwa rasanya persiapan untuk acara katolik ini terburu-buru dan reaktif. Kenapa? Karena selebaran yang ditempel kecil, tidak menarik dan black & white, yang kontras dengan poster besar yang full color dengan kalimat-kalimat bombastis yang secara ilmu marketing: excellent.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata bahwa pada krisis ekonomi 97-98, gereja-gereja di Jakarta mendadak menjadi penuh. Saya pikir beberapa orang disadarkan dan mencari kehendak Tuhan, beberapa lainnya mencari berkat dari Tuhan dan beberapa lainnya ‘memaksa’ Tuhan untuk memberikan berkat tanpa perduli pada Tuhan-nya. Dalam konteks KKR beruntun di kota saya, mungkin sekali fenomena 97-98 terjadi lagi karena kehidupan ekonomi sulit dan sulit. Bila pemikiran saya ada benarnya, maka masalahnya apa peran saya dan saudara dalam hal ini? Apa peran gereja-gereja Injili dalam menyikapi hal ini?. Bukankah ini adalah sebuah peluang bagus untuk melakukan penginjilan dan kesempatan untuk melakukan pengajaran doktrin yang sehat.
Kemarin malam, mertua saya dan seorang karyawan saya berkomentar bahwa membaca koran (kompas lho, bukan pos kota) sekarang ini kok penuh dengan hal-hal yang mengerikan. Saya berpikir sebenarnya sih kejadian-kejadian seperti ibu membunuh anak-anaknya, anak kelas tiga SD (SD kristen lho!!) menganiaya temannya sampai meninggal, majikan menganiaya pembantu sampai mati dsb sebenarnya di satu sisi sangat mengagetkan dan mengganggu pikiran dan hati saya, tetapi di sisi lain sebenarnya ketika hal ini direnungkan lebih dalam menjadi tidak mengagetkan sama sekali. Mengapa? Karena memang Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa di hari-hari terakhir akan terjadi hal-hal yang ‘mengerikan’ sehingga saya percaya saat ini kita memang hidup di jaman narcis di mana akal sehat sudah mati dan hati manusia telah menjadi sebuah monumen, sebuah fosil. Hal ini bukan terjadi hanya bagi orang non-kristen karena pada kenyataannya di dalam gerejapun terjadi hal yang sama. Saudara, dengan jujur saya katakan bahwa hal inipun terjadi pada diri pribadi saya. Melihat dan mendengar hal-hal ‘mengerikan’ memang mengganggu pikiran dan hati saya sehingga saya menulis ini, tetapi jujur belum pernah saya berbelas kasih sampai menangisi mereka, belum pernah saya menempatkan kaki saya dalam sepatu mereka yang sempit (kalo punya sepatu). Rasanya hanya sekali ketika tahun lalu saya masuk ke pedalaman Kalimantan dan hidup seperti mereka hidup selama beberapa hari. Kita hidup di mana rasio dan kebebasan telah menjadi ‘ilah’ sehingga akhirnya kebebasan tak terkendali akhirnya justru menjadi penjara bagi diri sendiri. Bukankah seorang yang mengandalkan rasio akan ‘kolaps’ ketika semua rasionya berlawanan dengan kenyataan hidup yang di alami?. Kita hidup dalam masa post-modern di mana standar moral adalah sekedar tidak saling ‘bergesekan’ satu sama lain sehingga sebuah nasehat tulus dan niat yang tulus akan dianggap sebagai serangan pada pribadi dan mengusik comfort zone. Kita hidup dalam masa di mana dibutuhkan banyak sekali pundak untuk menangis, telinga untuk mendengar, mulut untuk menghibur dan tangan untuk menolong. Saya percaya belum pernah konseling dibutuhkan lebih dari hari-hari ini dan belum pernah gereja (Kristus) dibutuhkan lebih dari saat ini. Pertanyaannya: siapkah, maukah kita berubah dan bayar harganya?

Hendra, 260507

Friday, May 18, 2007

Reverend, Can I Study Abroad? (2)

Sambung lagi ya…..
Ternyata pada hari rabu malam, channel 69 menayangkan ulang kotbah dan sebuah pujian dari sang pendeta ‘lokal’ dalam tulisan saya yang pertama. Jadi saya dan istri dengan cukup antusias mendengarkan berita yang disampaikan dari atas mimbar dari awal. Setelah beberapa ayat dibaca, mulailah dibahas dan anehnya yang dibicarakan tidak banyak menguraikan teks malahan melebar kemana-mana. Walaupun begitu ada sebuah visi yang disampaikannya membuat saya tercengang-cengang. Dikisahkan bahwa mereka tengah membangun sekolah yang bermutu bagus dengan uang sekolah yang sangat ringan. Dengan gedung sekolah yang masih dibangun, mereka telah menerima hampir 400 murid yang kebanyakan berasal dari jemaat. Apakah uang untuk membangun sekolah sudah tersedia? Ternyata sebagian besar belum, walaupun demikian mereka berani melangkah maju.
Di kota lain, sebuah gereja juga mempunyai sebuah sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar Inggris sehingga anak sekolahnya lebih mahir berbicara dengan bahasa Inggris daripada Indonesia. Bila seorang anak absen, maka materi pelajaran akan dikirimkan melalui internet karena setiap anak murid mempunyai sebuah lap top pribadi!!.
Di kota yang lain saya mendengar sebuah sekolah sedang dibangun oleh sebuah gereja pula. Melihat besar dan sistem manajemen gereja tersebut, saya yakin sekolah tsb tentunya akan ‘menggemparkan’ pula. Sebagai informasi, ketiga sekolah tersebut berada di bawah pengelolaan gereja ‘tertentu’ dan berada di jawa tengah.

Saya tidak menentang sekolah yang dikelola gereja ‘tertentu’, juga tidak menentang gereja ‘karismatik’ yang umumnya berkembang dengan sangat pesat. Hanya saja saya berpikir kenapa hal itu relatif tidak terjadi dalam gereja-gereja ‘tradisional’?. Jika dalam tulisan pertama saya memikirkan dua hal, maka saat ini saya memikirkan hal yang ketiga yaitu: mungkin kita kurang berani untuk melangkah seperti mereka sehingga Allah ijinkan mereka untuk berkembang secara (relatif) pesat!!, lebih dari kita. Sampai di sini saya merenungkan sebuah ironi: kita yang belajar doktrin lebih banyak kadang kurang berani untuk melangkah (atau berani melangkah tapi mendapat tantangan dari dalam gereja sendiri karena mengganggu comfort zone beberapa orang?), sementara orang lain yang kurang belajar doktrin malah berani melangkah lebih dari kita.
Tentu saja hal ini bisa diperdebatkan panjang, bahkan saya sendiripun mempertanyakan motivasi dibalik keberanian mereka, karena saya sendiri pernah mempunyai pengalaman sbb: gereja saya dahulu (waktu di jakarta) pernah mengadakan acara pengumpulan dana untuk membeli sebuah mobil bagi hamba Tuhan pembantu. Singkat cerita acara sukses dan sebuah mobil dibeli. Hanya suatu saat saya melihat sendiri bahwa STNK mobil tersebut atas nama sang pendeta utama, bukan atas nama gereja. Saat ini sang gembala sudah meninggal dan menurut saudara saya yang masih beribadah di sana, yang menjadi gembala sekarang ini adalah istri sang gembala yang meninggal tsb!!!, yang setahu saya nggak pernah belajar teologi. Demikian juga saya tidak tahu bagaimana status kepemilikan sekolah-sekolah yang dikelola gereja ‘tertentu’ tsb? Jika atas nama gereja bagus sekali, bila atas nama pribadi: bahaya!!.

Kembali ke gereja-gereja tradisional.
Bulan lalu saya secara pribadi (bukan diutus gereja) mengikuti Youth Leader Meeting (YLM) yang diselenggarakan oleh SAAT. Jumlah pesertanya dibatasi sampai 100 orang saja dan datang tidak hanya dari pulau jawa saja. Berbagai acara yang kami ikuti sangat berkesan dan membuka wawasan karena ada acara sharing beberapa hamba Tuhan dan gereja.
Dari berbagai percakapan dengan hamba-hamba Tuhan dan aktivis gereja, saya mendapati suatu benang merah persoalan-persoalan klasik yang dihadapi di gereja masing-masing. Ada seorang hamba Tuhan yang adalah seorang alumnus sebuah universitas di Jerman, yang akhirnya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dalam usia yang tidak muda lagi. Saya sangat sedih mendapati untuk menghadiri YLM, dia menghadapi berbagai rintangan justru dari kalangan gereja sendiri. Permintaannya untuk mengikuti YLM ditolak oleh majelis yang tidak mau mengeluarkan uang. Ketika saya tanya: bagaimana bapak akhirnya bisa datang? Dia hanya tersenyum dan tidak mau menjawabnya..... Ada juga seorang hamba Tuhan yang mendapat rintangan untuk hadir dari pendeta (gembalanya) sendiri.....entah bagaimana jalan pemikiran gembala tsb........
Di balik semua cerita sedih di atas, tentu saja ada banyak hal positif seperti semangat pelayanan hamba-hamba Tuhan muda, kemauan untuk maju, untuk terus belajar, untuk berubah, untuk belajar mengkoreksi diri sendiri dll.
Saya pribadi sangat, sangat bersyukur karena banyak beban pemikiran saya tentang pelayanan ternyata mendapatkan affirmative yang positif dari pihak pembicara. Dari acara tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa akhirnya Tuhan mengijinkan sebuah perubahan dalam cara, metode dan sarana pelayanan yang penting akan terjadi atau sedang berlangsung. Terus terang hal ini sangat menguatkan saya pribadi karena sebelumnya saya pernah demikian kecewa dan sempat menolak pelayanan sebagai liturgis dua kali selama beberapa bulan terakhir, bahkan sebenarnya saat inipun saya tidak melayani seperti bagaimana saya melayani tahun lalu. Saya bergumul dan akhirnya sadar bahwa waktu untuk perubahan adalah waktunya Tuhan dan saat ini tugas saya adalah belajar dan berdiam diri.
Dalam YLM 2007, saya menilai (ini pendapat pribadi lho!) perubahan dalam cara dan metode pelayanan itu sudah dimulai dari beberapa pembicara, di antaranya dosen SAAT sendiri sehingga saya pribadi percaya hal ini akan menghasilkan lulusan hamba-hamba Tuhan yang mempunyai visi dan misi (atau ‘tradisi?’) yang selaras dengan visi dan misi seminari tsb. Tentu saja ini bukan suatu hal yang mutlak dan takes time. Sebenarnya angin perubahan tidak dimulai dari YLM karena dalam SAAT Preaching Conference tahun lalupun angin perubahan sudah ditiupkan.

Saya mengakui bahwa topik perubahan dalam pelayanan gerejawi memang sangat menarik hati. Dasar pemikiran saya adalah dari pengamatan bahwa disadari atau tidak disadari, setiap denominasi atau gereja lokal mempunyai gaya dan ciri khas masing-masing di mana style tersebut akan ‘diwariskan’ kepada generasi penerus sehingga akhirnya menjadi tradisi. Hal ini OK saja sampai suatu saat menjadi tidak OK lagi ketika suatu perubahan jaman yang wajar terjadi di mana hal ini bersinggungan/bertentangan dengan tradisi gereja tsb. Ketika pergesekan antar generasi terjadi, biasanya golongan senior akan semerta-meta mempertahankan tradisi dan menolak perubahan yang diusung generasi muda. Sedihnya, legalisme seperti ini adalah hal yang biasa terjadi dalam berbagai gereja masa kini. Kita bisa begitu keras kepala dan mengkritik semua orang yang sedikit berbeda dengan kita tanpa mau melihat kelebihan mereka.
Sebagai orang kristen memang kita tidak berasal dari dunia ini, tetapi kan kita masih hidup di dunia?. Bagaimanakah cara terbaik untuk ‘menantang jaman?’. Apakah dengan frontal, maju tak gentar menabrak semua rintangan? Atau dengan hidup bergaul dengan mereka sehingga kita dapat diterima dan ada peluang untuk memberitakan doktrin yang benar? Bagaimana pendapat saudara?

Hendra, 180507

Thursday, May 3, 2007

Reverend, Can I “Study Abroad”??

Mohon maaf terlebih dahulu jika tulisan ini mengganggu comfort zone saudara. Tulisan ini hanya sekedar curahan hati yang jujur tanpa maksud mengkritik pihak-pihak tertentu. Ingat, ini tidak wajib untuk dibaca, pilihan ada ditangan kita!! Tulisan ini sengaja saya biarkan mengalir begitu saja sehingga mungkin pembaca akan agak kesulitan menangkap alurnya, jadi sorry ya....

Kemarin sore istri saya melihat tayangan indovision channel 69 dan kemudian menceritakannya kepada saya. Kebetulan yang sedang disiarkan adalah kotbah Joel Olsten, seorang gembala dari suatu gereja karismatik di Amerika. Sepanjang yang saya pernah saya dengar sebelumnya tentang Mr. Joel adalah: ayahnya seorang pendeta yang kemudian meninggal dunia dan ‘mewariskan’ gerejanya kepada anaknya. Akhirnya Joel Olsten berganti profesi dan menjadi pendeta. Saya pribadi beberapa kali sempat mendengarkan kotbahnya secara sebentar-sebentar karena saya kurang tertarik dan tahu doktrinnya kurang beres walau mengakui keahlian ‘ilmu homiletiknya’, bahasa tubuh dan wajahnya yang selalu tersenyum dan selalu memberitakan hal-hal yang penuh pengharapan dan positif.

Sore itu dia berbicara tentang suatu topik yang menarik yaitu tentang habit. Dia berkata bad habit sangat mudah untuk dimulai tetapi sangat sukar untuk dihentikan. Bad habit yang dilakukan terus menerus akhirnya akan membentuk karakter buruk seseorang dengan mengikis karakter baiknya. Sebaliknya good habit sangat sulit untuk dimulai walau akan berdampak baik untuk kita. Jadi yang perlu kita lakukan adalah bergerak maju dalam good habit walaupun sulit dengan minta pertolongan Tuhan.

Ini adalah sebuah renungan yang sangat baik bukan?

Malam harinya sambil melihat tayangan Arsenal vs Fulham, saya ingat ada kotbah di channel 69 oleh seorang pendeta dari Semarang. Lagi-lagi dari gereja karismatik ceritanya........ (kapan ya giliran pak Tong, pak Benny Solihin, pak Yohan, pak Robby Chandra). Jadi akhirnya saya pindah channel dan pas si pendeta berkata bahwa perasaan minder adalah sebuah belenggu dalam hidup manusia. Ada perasaan minder yang ‘baik’, yang hanya diam atau menghindar bila diganggu orang lain. Sampai di sini, saya sudah mau pindah channel lagi ketika perkataan si pendeta berikutnya mengejutkan saya: perasaan minder yang buruk diwujutkan dengan menekan, menghalangi orang yang mempunyai kemampuan di atas kita. Sebagai ilustrasi dia mencontohkan Pol Pot yang membantai orang-orang pandai (sarjana, profesor dll) karena dia sendiri tidak pernah sekolah, jadi dia tidak mau ada yang lebih pintar dari dirinya sendiri. Contoh kedua adalah kolonel Khadaffy. Perbuatan yang dilakukannya pertama kali sewaktu berkuasa adalah menurunkan pangkat semua jendral-jendral karena dirinya hanya seorang kolonel. Sampai di sini dengan hati yang kacau, saya mengganti channel.......karena saya sadar, memang semakin masuk ke dalam pelayanan, semakin saya melihat sendiri ‘sisi-sisi’ gelap para pelayan seperti misalnya kagak mau dengar pendapat orang lain, kita ngomong apa saja dibilang tukang kritik dll. (seperti yang dikatakan oleh pak Jeffry dalam “dosa dan pelayanan”). Tapi memang semakin lama melayani semakin saya didewasakan. Ternyata setelah direnungkan, apa yang telah saya keluarkan dalam pelayanan, Tuhan telah kembalikan lebih lagi (penekanannya bukan pada materi lho, walau Tuhan selalu memberkati dan mencukupkan saya) melalui wawasan berpikir, perubahan karakter, kesabaran dll. Jadi kesimpulannya: melayani ternyata mendapatkan!!.

Siang hari ini sambil menuliskan tulisan ini saya merenungkan dua kilasan kotbah yang saya dengar semalam. Ada beberapa poin yang memang kurang terorganisasi penulisannya:

  • Kelemahan dari karismatik adalah sedikitnya (atau nggak ada) hamba Tuhannya yang jebolan seminary yang sungguh-sungguh ketat seperti SAAT, Reformed, ITA, AA dll. Hal ini membawa konsekuensi Firman yang disampaikan tercampur-baur antara amanat teks (hasil eksegesis yang ketat) dan amanat diri sendiri. Hal ini umum terjadi dengan mencomot ayat-ayat dari sana-sini yang dapat mendukung tema yang akan dikotbahkan.
  • Harus diakui ke-lihaian (di luar faktor motivasi) mereka-mereka ‘meramu’ Firman dengan pergumulan jemaat masa kini sehingga dengan mudah jemaat akan berkata: Firman ini memang cocok dengan keadaan saya sekarang, kok bisa pas dengan pergumulan saya dll. Sampai akhirnya jemaat akan merasa Tuhan menjawab langsung melalui penyampaian Firman tsb.
  • Harus diakui mereka memang pandai memanfaatkan semua sarana yang ada untuk membuat jemaat merasa nyaman, merasa ini adalah komunitas saya yang cocok. Sarana ini dapat berupa tempat yang nyaman, penyambutan yang super ramah, musik yang membius kesadaran, pelayan-pelayan dan hamba Tuhan yang selalu tersenyum ramah dll.
  • Untuk saya pribadi contoh dua buah kilasan kotbah di atas dapat diterima dan bahkan memang harus disampakan oleh gereja. OK, sebelum diprotes, saya klarifikasikan: Jenis kotbah atau lebih baik disebut renungan yang semacam itu (yang berkaitan dengan hidup nyata jemaat) sebaiknya disampaikan gereja bukan melalui ibadah umum melainkan pada sesi pembinaan-pembinaan kaum awam. Maksud saya, gereja masa kini mempunyai ‘hutang’ atau kewajiban untuk memberikan lebih dari penguraian Firman Tuhan karena pada dasarnya pengetahuan tanpa implementasi adalah sia-sia. Hal ini seperti iman tanpa perbuatan yang mati adanya.
  • Karismatik bisanya lemah dalam pengetahuan tentang Firman tetapi kuat dalam ilustrasi dan implementasi. Sedangkan Injili kuat dalam Firman (ini juga nggak semua lho!), tetapi kadang lemah dalam ilustrasi dan implementasinya. Juga kurang menunjukkan rasa empatinya sementara banyak hamba Tuhan karismatik yang menunjukkan rasa empatinya. (seorang pendeta yang ketika berkotbah sangat kuat memancarkan empatinya sampai saya merasa tidak sedang mendengar kotbah melainkan seorang konselor berbicara adalah Pdt. Benny Solihin, dosen homiletik SAAT, tentunya juga pak Yakub dan pak Paul yang memang seorang konselor). Pak Benny pernah berkata: hamba Tuhan yang setelah lulus dari seminary kemudian tidak rajin belajar maka biasanya kotbahnyapun akan seperti itu-itu saja. Maksudnya (contoh) bila berkotbah tentang Roh Kudus maka, apapun temanya, akan selalu membicarakan Roh Kudus dari satu sisi yang dia ketahui walau sebenarnya nggak cocok dengan temanya.
  • Sedihnya, saya mendapati kenyataan, para aktivis di lingkungan saya, yang puluhan tahun melayani ternyata pengetahuan doktrinnya amburadul seperti cap cay, mungkin karena campur baur dengan karismatik? Apakah mereka selama ini tidak kenyang makan di rumah sendiri? Siapa yang bertanggung jawab? Saya nggak berani jawab deh..... Kalo di dunia tentara sih yang bertanggung jawab ya pemimpinnya. Itu di militer lho..... Tapi, jangan salahkan jemaat kalo jajan (study abroad) karena nggak kenyang makan di rumah sendiri.

Sampai di sini saya berpikir kenapa cukup banyak gereja karismatik bertumbuh sangat pesat? Atau yang Injili (walau dapat banyak kritik juga) misalnya Saddleback Church yang digembalakan oleh Rick Warren. Apakah pertumbuhan mereka itu wajar atau tidak? Adakah yang dapat kita pelajari dari Rick Warren? Saya setuju memang ajaran Rick Warren ada yang ‘miring-miring’, tapi mari kita geser fokus kita pada kebaikan dan kelebihannya yang dapat kita adopsi daripada hanya sekedar mengkritisinya. Udah capek mengkritisi, nggak dapat manfaat apa-apa. Rugi dobel kan?.

Yang jelas sebagai penganut Calvinis saya percaya Allah mengijinkan mereka bertumbuh luar biasa atau dengan kata lain semua ini sudah ditetapkan Allah dalam kekekalan. Pertanyaannya mengapa, mengapa gereja kita tidak seperti itu?

Apakah dengan pengajaran yang ketat berarti akan menghasilkan hanya (relatif) sedikit pertumbuhan? Saya pikir Tuhan sangat baik dengan terus memberi kesempatan bagi karismatik kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya saya pikir Tuhan juga mau menunjukkan kepada kita pola, metode, sarana pelayanan yang baru melalui gereja karismatik. (dan juga Tuhan menegur kita yang keras kepala melalui pertumbuhan gereja karismatik). Mari kita berhenti sejenak mengkritisi gerakan karismatik, kita ambil pelajaran dari sana dan perbaiki diri sendiri.

Saya percaya 100% kita dapat mendapat pengajaran yang Injili dan ketat dan gereja akan bertumbuh dengan pesat bila kita mau membuka diri terhadap perubahan jaman. Kenapa saya yakin? Karena dalam Youth Leader Meeting yang diadakan oleh SAAT pertengahan April lalu saya mendengar sendiri sharing dari beberapa gereja yang tradisionalnya tradisional. Ternyata setelah mengadopsi beberapa metode pelayanan yang baru, gereja mereka bertumbuh pesat. Pengajarannya? Jangan ragu, Reformed Injili abis. Contoh metode yang dipakai adalah dengan membentuk komunitas daripada komisi, (lagi-lagi) musik kontemporer yang bermutu, aransemen yang baru dll. Memang ada orang yang fanatik hymn mengatakan: hymn sudah terbukti bertahan berabad-abad, lihat kontemporer setelah beberapa bulan kemana?. Ya jawabnya mudah: hymn terus dinyanyikan karena dibukukan dan tiap minggu kita nyanyinya pakai buku hymn tsb. Sementara kontemporer selalu berganti. Kalo mau kumpulin lagu kontemporer yang bermutu dan dibukukan dan dipakai tiap minggu, maka 100 tahun lagi ya masih terus dinyanyiin!!.

Tentu saja untuk berubah harga yang harus dibayar sangat mahal karena pada dasarnya semua manusia suka pada kenyamanan, sehingga ketika perubahan terjadi, akan sangat sakit bagi kita untuk mengikutinya. Pada waktu itu saya bertanya faktor apa yang menjadi pendorongnya (agent of change). Di jawab: diperlukan seorang pemimpin yang kuat, yang mempunyai visi dan dapat mengkomunikasikan visi tsb kepada majelis dan aktivis. Jadi jelasnya seorang pemimpin yang mau bekerja keras, yang mau membayar harganya. Sampai di kamar, saya berbincang-bincang dengan teman saya seorang hamba Tuhan. Saya mengemukakan kekaguman saya kepada sang pemimpin yang kuat tsb dan di jawab teman saya: pak ...... itu sebenarnya seorang phlegmatik lho!! Puji Tuhan, memang Allah berkuasa untuk memproses seorang phlegmatik menjadi seorang pemimpin yang kuat. Tinggal maukah kita bayar harganya?

Saya ingat tulisan dari ahli manajemen, Rhenald Kasali Phd diharian kompas bulan lalu sbb: Untuk melakukan perubahan, ada dua macam manusia: yang pertama, yang dengan dipaparkan akibatnya bila tidak berubah, menjadi takut dan kemudian didorong oleh rasa takutnya mampu mendorong dirinya untuk berubah. Jenis manusia yang kedua adalah manusia yang tidak mempan hanya dengan rasa takut. Jenis manusia ini baru akan berubah ketika rasa sakit datang menimpanya karena tidak mau berubah sebelumnya. Mudah-mudahan tidak ada jenis yang ketiga: yang tetap tidak mau berubah walau rasa sakit sudah dideritanya, karena bagi orang seperti ini mungkin hanya ada satu kemungkinan: mati seperti dinosaurus.

Saya berharap, kita semua termasuk jenis manusia pertama, yang mau berubah dengan melihat keadaan dunia masa kini, yang tidak menunggu tangan Tuhan turun atas diri kita............Mari kita bersama berlutut dan mohon Roh Kudus untuk merubah karakter kita.

Tuhan inilah hidupku

Tuhan inilah hidupku kuserahkan padaMU

Segala cita-citaku masa depanku menjadi milikMu

Jadikan api terangMu di tengah keg’lapan dunia

Membawa bangsa-bangsa kepadaMu

Tuhan ini kerinduanku

***

Bagimu Tuhan seluruh hidupku

Pakailah Tuhan bagi kemuliaanMu

Genapi seluruh rencanaMu

Sampai bumi penuh kemulianMu

Hendra, 020507

Monday, April 30, 2007

Inikah saatnya bagi Samaria Modern??

Suatu hari (260407) saya dan keluarga pergi ke Semarang dan mampir di sebuah Mall. Di dalam Mall saya mendengar tiga hal yang mengejutkan:

Di sebuah toko mainan anak-anak sewaktu mengantar anak bermain, saya mendengar sebuah lagu yang diputar dan dinyanyikan oleh seorang anak (kan memang toko mainan anak). Sekilas saya merasa lagu dalam irama rock tersebut adalah lagu yang saya kenal karena dahulu saya gemari. Setelah menyimak lebih lanjut, betapa terkejut dan lemasnya saya mendapati ternyata lagu tersebut adalah lagu dari grup AC/DC (Anti Christ/Devil Child) yang berjudul highway to hell.
Rupa-rupanya setan terus bekerja dengan keras dan mulai melakukan re-organisasi dan membidik ‘target potensialnya’ yang baru dari hulu (daripada dari hilirnya saja). Bagaimana dengan gereja? Apakah kita akan bekerja lebih keras lagi dan melindungi ‘aset potensial’ kita yaitu anak-anak sekolah minggu, remaja dan pemuda? Inikah waktunya bagi kita untuk mulai mengkonsep suatu pola pelayanan yang terpadu?
Agar anak-anak dan orang tuanya tahu dan mengakui kalau kita mengasihi anak-anak mereka seperti kita mengasihi anak-anak kita pribadi.

Melalui channel star world, saya mendengar American idol edisi terakhir mendapat 70 juta SMS dan telepon masuk untuk mendukung idol masing-masing. Saya melihat selama beberapa menit acara tersebut dan dengan berat hati harus mengakui bahwa acara tersebut dikemas dengan sangat baik, profesional dan megah. Sekilas saya menyadari ironi dari dunia ini yaitu manusia “duniawi” begitu suka menikmati entertainment (dan memang mau membayar harganya) lebih dari menikmati dan memuliakan Allah. Sementara, cukup banyak anak Tuhan yang mengaku mencintai Allahnya tetapi begitu sedikit yang concern terhadap kehidupan pelayanan, begitu sedikit yang bersungguh-sungguh berjuang untuk berjuang mendapatkan karakter Kristus yang berimplikasi terhadap perubahan hidupnya secara nyata dan menjadi kesaksian hidup tanpa berkata-kata bagi sesama. Inikah saatnya bagi saya untuk meninggalkan comfort zone dan membayar harganya?
Agar Allah tersenyum dan berkata: “engkau memang hamba yang baik”.

Istri saya menceritakan suatu talk show yang didengarnya di TV. Oprah Winfrey mewancarai dua orang janda yang suaminya menjadi korban teroris di WTC. Mereka membentuk sebuah yayasan yang membantu para janda di Afganistan yang suaminya mati dalam menjalankan profesinya. Apa profesi suami-suami janda Afganistan itu? Jawabannya sangat mengejutkan saya: Teroris, mereka-mereka yang membunuh orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal apalagi bersalah kepada mereka. Dua orang janda korban WTC mengatakan bahwa dengan membantu para janda teroris ternyata membantu mereka untuk membebat luka mereka sendiri (dan tentunya mengampuni pembunuh suami mereka). Apakah mereka berdua adalah orang kristen? Saya tidak tahu, yang saya tahu mereka adalah orang Samaria modern dan sudah seharusnya kita sebagai orang kristen meneladani mereka...........Inikah saatnya saya berhenti berkata-kata dan membuktikannya dengan perbuatan? Agar jemaat tidak mengatakan kita munafik, hanya bisa berkata tanpa bisa melakukan apa yang kita katakan sendiri.

Lewat tiga peristiwa di atas kembali saya dingatkan akan kompleksitas dan beratnya pelayanan gereja dalam jaman ini. Sampai di sini saya jadi ingat tulisan C.S Lewis (Screwtape Letter) yang bunyinya kira-kira seperti ini: ‘musuh’ orang kristen seringkali tidak berada di luar gereja, melainkan di dalam gereja sendiri. setan tidak perlu berusaha keras menjatuhkan orang kristen di luar gereja, cukup membuat anggota gereja saling bertengkar sendiri.

Inikah saatnya saya berubah dengan mempersilahkan Yesus mengambil alih hidup saya?
Inikah saatnya kita sadar bahwa kita tidak sedang bersaing memperebutkan posisi dan membuat jejaring karena sebenarnya kita berada dalam team yang sama?
Inikah saatnya kita dapat bekerja sama dan saling mendukung, saling mendoakan, saling mengampuni?
Inikah saatnya kita membuang ego kita, me-review pelayanan dan minta ampun kepada Yesus sekali lagi?
Inikah saatnya kita, hamba Tuhan, majelis dan aktivis bergandeng tangan dalam melayani?

Agar darah yang dicurahkanNya di Kayu Salib tidak sia-sia.......Salvation is free, it’s cost of............(isi sendiri)


Bagaikan Bejana

Bagaikan bejana, siap dibentuk
Demikian hidupku ditanganMu
Dengan urapan kuasa RohMu
Ku dibaharui selalu

Jadikanku alat dalam rumahMu
Inilah hidupku ditanganMu
Bentuklah s’luruh kehendakMu
Pakailah sesuai rencanaMu

**
Ku mau s’pertiMu Yesus
Disempurnakan s’lalu
Dalam s’gnap jalanku
Memuliakan namaMu


Hendra, 26-29 April ‘07

Thursday, April 12, 2007

“Pelayanan Dunia Mengalahkan Pelayanan Gereja?”

Dalam beberapa bulan terakhir ini di kota saya yang kecil berturut-turut dibuka dua buah bank swasta nasional yang baru. Di tengah-tengah kelesuan ekonomi yang terus membelit ‘mesra’ bangsa kita ternyata tidak mengurangi laju ekspansi sektor perbankan dan sektor-sektor ekonomi yang lain. Sebagai akibat langsung dari keadaan ini, pertempuran habis-habisan memperebutkan kue yang semakin kecil oleh pemain lama plus pemain baru menjadi semakin nyata dan sengit hingga ‘mencucurkan air mata dan darah’. Bajak membajak karyawan menjadi hal yang biasa dan adu kekuatan dan adu program serta pelayanan menjadi hukum wajib bagi sektor perbankan.
Dampak langsung yang saya pribadi alami adalah perubahan dalam pelayanan bank terhadap nasabahnya, termasuk saya. Masih segar dalam ingatan jika kita pergi ke sebuah bank dua tahun atau tiga tahun yang lalu, saya harus membuka sendiri pintu bank tersebut di bawah tatapan mata sang satpam yang kurang bersahabat. Ucapan selamat datang? Boro-boro mendapatkan ucapan selamat datang, wong kasirnya aja rata-rata mahal senyum, mungkin karena harga odol ikut-ikutan mahal.
Bagaimana dengan hari ini? Wah, rasanya kita menjadi raja yang tak bermahkota jika masuk ke bank. Pintu dibukakan disertai senyum dan ucapan selamat datang plus ditanya apa yang bisa dibantu. Baru mengambil formulir, belum menulis apa-apa sebuah suara ramah mengatakan tanggal berapa hari ini dsb...dsb....
Terus terang pertama kali dan berkali-kali setelah itu saya selalu merasa rish diperlakukan sedemikian terhormat. Hari ini rasa itu mulai berkurang karena hal itu sudah menjadi SOP atau standart operation procedures setiap bank sehingga nasabah menjadi terbiasa menerima perlakuan istimewa.
Fenomena pelayanan istimewa sebenarnya bukan monopoli perbankan saja tetapi sudah menjadi kecenderungan yang menjurus kepada keharusan yang dilakukan oleh setiap sektor bidang usaha jasa dan industri dalam mempertahankan eksistensi mereka. Saya percaya semakin hari, fenomena ini akan terus berlanjut dengan inovasi-inovasi yang baru dan segar.

Saudara, dengan hati yang gentar dan sebenarnya sudah cukup lama saya menahan diri untuk tidak menulis tentang hal ini karena lagi-lagi apa yang saya tulis dapat disalah mengerti, menimbulkan kontroversi dan menyinggung hati yang membaca. Hari ini saya tidak dapat lagi menahannya karena cinta saya pada gereja Tuhan bukan karena ingin mengkritik.

Secara jujur saya harus mengatakan bahwa ‘pelayanan’ yang dunia tawarkan telah mengalahkan ‘pelayanan’ yang gereja berikan pada jemaatnya. Pelayanan yang saya maksud adalah cara dunia memperlakukan konsumennya dibandingkan dengan bagaimana gereja memperlakukan jemaatnya. Tentu saja jemaat bukanlah konsumen dan sebaliknya konsumen bukanlah jemaat. Dunia bertujuan mencari profit sedangkan gereja bertujuan mencari jiwa-jiwa yang terhilang. Perbedaan ini dapat diteruskan sampai panjang tetapi maksud saya adalah: bila dunia yang bertujuan kepada kesementaraan saja dapat ber-evolusi atau ber-revolusi dalam memperbaiki dirinya, apakah hari ini ada semangat yang minimal sama dalam gereja yang bertujuan kepada kekekalan? Bukankah sudah sewajarnya kita yang terus berproses secara progresif bersama Roh Kudus dalam proses penyucian menunjukkan buah-buah yang nyata?. Buah-buah pelayanan yang baik tentunya timbul dari pohon hati yang memproduk buah-buah tersebut sehingga bila pohon hati kita baik tentunya akan menghasilkan buah yang baik pula.

Kembali ke lap top, eh kembali ke pelayanan gereja, berapa banyak gereja-gereja Injili yang mengadopsi kemajuan jaman dengan melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam cara, sistem, metode dan management modern? (tanpa mengkompromikan berita Injil) Terus terang saya tidak tahu, hanya dugaan saya jumlahnya kurang dari 15%. Berapa banyak yang hatinya terus berkobar dengan semangat reformasi yang dimulai/dipicu oleh Luther?, yang mau mengorbankan kenyamanan diri demi kemajuan?
Saya berharap pengalaman yang saya alami di lingkungan saya ini dibantah dan dimentahkan oleh saudara-saudara sekalian dengan memberi masukan: gereja kita progresif kok! Kagak status quo, gereja kita maju, pelayanan tambah bagus dll. Mudah-mudahan.......dan lebih senang lagi bila saudara-saudara mau sharing bagaimana proses perubahan berlangsung, apa hambatannya, bagaimana cara mengalahkan kenyamanan diri, bagaimana perbandingannya dibandingkan dahulu dll

Sampai di sini saya jadi ingat kotbah Pdt. Effendi S atau pak Tong (kalo ndak salah) yang menceritakan suatu hari ada seorang penginjil bertanya kepada Mahatma Gandhi: apa yang harus dilakukan agar ke-kristenan diterima oleh rakyat India? Gandhi menjawab: mudah sekali, jika semua orang kristen berperi-laku seperti ajaran Yesus. Gandhi sendiri batal menjadi orang kristen karena mendapat perlakukan yang rasialis pada hari dimana seharusnya ia mau menyerahkan diri kepada Kristus. Entah, sudah berapa banyak Gandhi-Gandhi yang telah saya kecewakan dengan perilaku dan ucapan saya selama ini, sementara sedikit sekali yang sudah saya lakukan bagi Yesus. Semoga Allah terus mengkoreksi motivasi pelayanan saya.

Hendra, 120407

Monday, April 2, 2007

Ini Aku, Utuslah Aku

Oleh: Pdt. Yohan Candawasa, 040207 di GKKK Solo

Mat 9: 35-38
Ada beberapa hal yang (mulai) menghilang dalam gereja:
1. Cara pandang/cara berpikir/cara ber-respon seseorang terhadap suatu masalah dapat berbeda sekali dengan cara pandang orang yang lain. Jadi untuk suatu hal yang sama, manusia bisa ber-respon dengan cara yang berbeda. Hal ini terjadi karena manusia melihat suatu hal berdasarkan tujuan tertentu, apakah untuk kepentingan yang melihat atau untuk kepentingan yang dilihat. Misalnya waktu akan menyebrang kita melihat mobil-mobil di kanan-kiri untuk kepentingan kita yang melihat (kita yang mendapat manfaat), bukan untuk kepentingan/kebutuhan yang dilihat. Sering kali cara pandang kita dalam segala hal hanya untuk kepentingan kita pribadi. Hal ini berbeda dengan cara pandang Yesus dalam Mat 9: 35-38 dimana Ia melihat orang banyak dan hati-Nya tergerak untuk berbelas kasih kepada mereka, untuk kepentingan orang banyak yang bagaikan domba tanpa gembala. Kita dapat melihat suatu hal yang sama tetapi dengan respon yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan Tuhan Yesus. Yesus selalu melihat dalam konteks kebutuhan orang lain bukan kebutuhan diri-Nya sendiri. Kita harus belajar untuk melihat untuk kepentingan yang dilihat, mengikis egoisme kita.
2. Belas kasih bukan sekedar kasihan menjadi langka di dunia bahkan di gereja karena:
· Sibuk sehingga tidak punya waktu buat diri sendiri apalagi untuk orang lain. Jaman ini telah mengikis rasa belas kasihan kita kepada sesama.
· Harga belas kasih mahal. Contoh kisah orang Samaria yang menolong orang yang dirampok. Kita lihat dalam Luk 10: 33-35 berapa harga belas kasih orang Samaria. Saat ini rasa belas kasih telah menghilang bahkan di dalam gereja karena kita telah ‘membunuh’ belas kasih itu.
· Sejak kecil banyak anak-anak tidak dididik dengan belas kasih atau dikasihi sehingga mereka tumbuh dengan penuh luka jiwa dan kekosongan jiwa. Jaman ini adalah jaman Narcis dimana anak-anak bertumbuh dengan tidak mendapat hal-hal yang seharusnya didapatnya dan mendapat hal-hal yang tidak seharusnya ditanggungnya. Sebuah survey di sebuah sekolah Kristen di Solo mengatakan 80% remaja merasa keluarganya tidak memberi perhatian kepadanya. Orang tumbuh tanpa belas kasih akan sangat sukar untuk mengasihi orang lain. Kita lihat banyak orang datang ke gereja untuk memenuhi kebutuhan narcisnya untuk mendapatkan berkat dan berkat saja bukannya untuk pikul Salib dan berkorban. Berapa banyak kita mendengar kotbah yang menantang untuk berbelas kasih dan berkorban? Hari ini banyak gereja meneriakkan kita akan mendapat dan mendapat segala kebutuhan kita (egosentris), maka mana bisa kita memikirkan kepentingan orang lain. Kita diajar untuk mengejar dunia bukannya mengejar sifat-sifat Allah.

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang hamba Tuhan di Taiwan yang secara berkala datang ke sebuah kuil. Ada kalanya dia cepat pulang tetapi ada kalanya pula dia tidak pulang sampai hari malam. Apakah yang dilakukan sang hamba Tuhan itu?
Ternyata dia hanya melihat orang-orang yang berlalu-lalang keluar masuk ke kuil tsb dan menggumulkan hatinya dihadapan Tuhan. Bila hatinya telah tersentuh dengan belas kasih hingga menangisi orang-orang berdosa tsb barulah dia pulang.............

3. Mat 9:35-38 menunjukkan sikap Yesus yaitu:
· Melihat orang banyak (melihat dengan mata)
· Ber-belas kasih kepada mereka (belas kasih dengan hati)
· Mengajak murid-muridnya berdoa untuk meminta penuai-penuai bagi domba-domba yang tak bergembala. Kita baca bahwa murid-murid-Nya setuju dengan-Nya, berarti mereka melihat sama dengan cara Yesus melihat dan berbelas kasih seperti Yesus berbelas kasih. Kita membaca dalam pasal 10 Allah menjawab doa murid-murid dengan mengutus mereka sebagai penuai. Jadi yang berdoa adalah sekaligus sebagai jawaban doanya. Siapkah kita diutus oleh Allah? Atau kita berdoa dan berharap orang lainlah yang diutus?

Hari ini apakah kita berdoa meminta karakter Yesus, meminta mata seperti mata Yesus, hati seperti hati Yesus, merelakan diri untuk melaksanakan jawaban doa atau apakah kita berdoa hanya untuk masalah pribadi kita? Tuhan rindu kita untuk meminta karakter yang serupa dengan karakter Yesus.

Brikanku Hati
Brikanku hati, sperti hatiMu
Yang penuh dengan belas kasihan
Brikanku mata, sperti mataMu
Memandang tuaian di sekelilingku
Brikanku tanganMu ‘tuk melakukan tugasMu
Brikanku kakiMu melangkah dalam rencanaMu
Brikanku, brikanku, brikanku hatiMu

Kotbah di atas diringkas oleh Hendra dan belum diperiksa oleh pengkotbah

Saturday, March 31, 2007

Suku Dayak Terancam Luar-Dalam, Jasmani-Rohani.

Awal Juli 2006 lalu, untuk pertama kalinya saya dan beberapa rekan mengikuti suatu misi pengInjilan ke pedalaman Kalimantan Barat. Team kami adalah salah satu dari sekitar 12 team yang mengunjungi cabang gereja-gereja suatu denominasi yang berjumlah sekitar 50 gereja. Misi ini dilakukan setiap tahun dan telah berjalan selama 5 tahun tanpa terputus.
Saudara, 50 buah gereja dalam satu sinode hanya di pedalaman Kalimantan Barat adalah suatu jumlah yang fantastis bukan?. Bukankah kita patut bersyukur kepada Allah dan ikut mendukung misi-misi semacam ini?. Saya meng-amin-kan pertanyaan di atas, hanya saja ada beberapa sisi lain kehidupan suku Dayak yang terlepas dari perhatian dari kebanyakan kita. Jadi tulisan ini tidak membahas bagaimana kesulitan perjalanan kami tetapi ada beberapa fakta yang menyedihkan yang dialami oleh saudara-saudara kita, suku Dayak. Saya berani mengatakan fakta karena semuanya saya dapatkan dari hasil pembicaraan saya dengan beberapa penduduk dan hamba-hamba Tuhan yang melayani di sana.

Terancam Luar-Dalam, Jasmani-Rohani
Secara jasmani.
Maraknya perkebunan kelapa sawit membawa dampak serius terhadap tanah milik suku dayak. Dalam beberapa tahun ini ternyata banyak perusahaan dari malaysia yang “berinvestasi” di Kalbar. Entah bagaimana caranya, dalam investasinya mereka “bekerja-sama” dengan penduduk lokal sebagai pemilik tanah sbb: Tanah pribadi rakyat seluas 7-10 hektar dibagi dengan pembagian, 2 hektar dikuasai pemilik tanah dan sisanya dikuasai oleh perusahaan malysia. Lebih sedihnya, untuk menanami tanahnya yang tinggal 2 hektar itu, pemilik tanah harus membayar bibit secara kredit ke perusahaan malaysia dan bila pada saatnya mereka gagal membayar kredit maka tanah yang tinggal 2 hektar tersebut akan disita pula.
Bila hal ini berlanjut terus, sulit untuk dibayangkan dampaknya bagi suku dayak. Dalam beberapa tahun mendatang, dalam pikiran saya akan banyak tenaga-tenaga dari malaysia masuk ke pedalaman Kalbar, berbaur dan terjadi kawin campur sehingga akibatnya terhadap perkembangan iman kristen dapat anda pikirkan sendiri.
Pada saat ini telah terjadi beberapa kasus perselisihan intern keluarga akibat seorang anak menolak bekerja-sama (menyerahkan tanahnya) dengan perusahaan malaysia sedangkan saudaranya menerima. Pihak mana yang menang? Coba kita pikirkan dan renungkan sendiri.

Secara rohani.
Saat ini tidak banyak gereja-gereja yang “membuka cabang” di pedalaman Kalbar. Jelas secara finansial ini adalah proyek rugi, proyek subsidi. Dalam satu gereja saya mendapati persembahan dalam ibadah hari minggu berkisar 10-20 ribu. Sang hamba Tuhan sendiri hanya mendapatkan gaji bulanan yang nilainya setara dengan harga 25 Kg gula pasir!! (Maaf, berapakah gaji pembantu di rumah kita?). Masih untung hamba Tuhan tersebut masih single. (Harga 1 Kg gula pasir adalah Rp. 10.000). Sebagai informasi, harga bahan kebutuhan pokok di pedalaman Kalbar selain beras, jauh lebih mahal dibandingkan dengan pulau jawa. Harga sayur 2-3 kali lebih mahal. Harga 1 liter bensin Rp. 7.000. Listrik belum ada kecuali melalui gen-set yang biasanya menyala hanya antara jam 18.00-21.00.
Ditempat lain seorang hamba Tuhan mendapatkan gaji setara dengan 35 Kg gula pasir. Padahal dia mempunyai seorang istri (yg lulusan seminari Teologi) dan 2 orang anak. Lebih sedihnya, fakta bahwa anak pertamanya yang berusia 13 tahun masih berada di kelas 3 SD. Mengapa? Apakah anak tersebut bodoh? Jawabnya TIDAK. Sang anak tiga kali tinggal kelas karena 2 kali gagal mengikuti ujian karena pas menjelang ujian, sang bapak dimutasikan ke tempat lain. Satu kali sang anak tinggal kelas karena jarak sekolah dan pastori sangat jauh sehingga sulit untuk dijangkau.
Ditempat lain, seorang hamba Tuhan yang menikah dengan hamba Tuhan lainnya mempunyai seorang anak yang terpaksa dilahirkan secara operasi dengan menghabiskan biaya Rp. 7.000.000. Terus terang saya tidak berani menanyakan kepada sang hamba Tuhan dari mana uang yang dibayarkan ke pihak rumah sakit.
Dengan keadaan kehidupan hamba Tuhan yang seperti itu, dapatkah kita menuntut banyak dari pelayanan mereka? Pada siang hari banyak hamba Tuhan yang bekerja di ladang untuk menunjang kehidupan mereka. Dengan kehidupan yang “keras” seperti itu, dapatkah pelayanan mereka maksimal? Dengan keterbatasan informasi dan sarana, dapatkah mereka meningkatkan mutu pelayanan mereka?. Saudara, ini bukanlah lagu Kisah sedih di hari minggu-nya koes plus, tetapi realita yang dialami oleh saudara-saudara kita hamba Tuhan yang menyerahkan hidupnya secara luar biasa tanpa pamrih. Pertanyaan saya hanya satu: apakah yang dapat saya perbuat untuk mereka, apakah yang saudara dapat lakukan untuk mereka?
Tulisan ini bukanlah bermaksud mem-provokasi atau dengan sengaja mendeskreditkan pihak-pihak tertentu sehingga bila ada pihak yang merasa dirugikan, dengan segala kerendahan hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini hanyalah bentuk keprihatinan saya akan nasib saudara-saudara kita di pedalamanan Kalbar. God Bless You….