Wednesday, August 4, 2010

Pemahaman Perjanjian Baru

Pendahuluan

Buku ini ditulis oleh John William Drane, seorang teolog asal Skotlandia. Beliau pernah belajar di Universitas Aberdeen dan mendapat gelar PhD dari Universitas Manchester di bawah bimbingan F. F. Bruce. Buku ini adalah salah satu bukunya yang menjadi “best-seller”. Buku ini menyajikan pembahasan Perjanjian Baru dari sudut historis dan teologis sehingga memberikan pengertian yang lebih mendalam akan apa yang terjadi pada masa itu dari sudut pandang latar belakang historis dan teologi.

A. Latar Belakang
1. Dunia Perjanjian Baru
Permulaan kekristenan dimulai dengan kehidupan seorang dari Nazareth, yaitu Yesus. Dia dilahirkan kira-kira tahun 4 sM. Dia terkenal sebagai guru agama dan menjadi sorotan hanya selama tiga tahun sebelum Dia menjalani hukuman salib.
Dalam waktu dua puluh tahun setelah Yesus disalibkan, di setiap peradaban Romawi seperti kota Roma, Korintus, Efesus, Filipi, Anthiokia di Siria, dan kota-kota lain, terdapat paling tidak satu kelompok pengikut-Nya. Tidak berselang lama, fitnah yang diikuti dengan penganiayaan terhadap para pengikut Yesus berlangsung. Tidak hanya penganiayaan, dalam perkembangannya kekristenan juga harus “bersaing” dengan pemikiran, ideologi dan filsafat-filsafat dunia. Sebagai contoh adalah filsafat Helenisme, aliran Stoa, aliran Epikurus, gnotisisme, agama-agama mistis dan agama Yahudi dengan berbagai kaum seperti kaum Saduki, Farisi, Zelot, dan Eseni. Dalam keadaan seperti itulah agama Kristen berkembang. Ada banyak cara untuk menjelaskan keberhasilan luar biasa kekristenan, tetapi satu hal yang jelas adalah Kabar Baik itu relevan bagi dunia Romawi. Tidak hanya mereka sanggup menjawab secara intelektual, tetapi lebih dari itu mereka memperlihatkan kehidupan mereka bahwa mereka mempunyai tujuan dan makna hidup yang didambakan banyak orang.

B. Yesus Juruselamat
2. Kelahiran Yesus Dan Permulaan Pelayanan-Nya
Yesus lahir sekitar tahun 4 sM, bukan antara tahun 1 sM dan 1 M karena adanya kesalahan yang dibuat pada abad ke-6 M dalam menghitung permulaan tarikh Masehi. Kehidupan-Nya ketika anak-anak hanya sedikit diketahui. Walaupun demikian, tampaknya Dia mendapat pendidikan yang baik. Ia dianggap cocok untuk membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani di sinagoge (Luk 4:16 – 20), padahal tidak semua anak seumur-Nya dapat membaca bahasa Ibrani. Selain itu Yesus menguasai dua bahasa lainnya yaitu bahasa Aram dan Yunani. Injil Lukas hanya mencatat sebuah peristiwa ketika Yesus berumur dua belas tahun dan tertinggal di Yerusalem.
Peristiwa berikutnya tentang Yesus adalah ketika Ia sudah berumur sekitar tiga puluh tahun. Saudara sepupu-Nya, Yohanes memulai sebuah gerakan agama dan mendapat banyak pengikut. Yesus datang kepada Yohanes untuk menerima baptisan. Setelah dibaptis, Yesus ditantang untuk mengatur prioritas-Nya dengan benar sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah. Cobaan itu berupa menghindari penderitaan dan pelayanan yang rendah hati sesuai kehendak Allah sbb:
• Yesus dicobai untuk membentuk umat baru melalui tindakan di bidang ekonomi, dengan menjadikan roti dari batu (Luk 4:1 – 4).
• Yesus dicobai untuk dikenal sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah melalui pertunjukan kuasa ajaib (Luk 4:9 – 12). Mujizat adalah tanda-tanda yang hidup dari pemberitaan-Nya, bukan inti berita itu sendiri.
• Yesus dicobai untuk menjadi Mesias politis (Mat 4:8 – 10). Yesus menolak tawaran iblis untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi dan untuk memerintah dengan “kuasa” dan “kemuliaan” suatu kerajaan duniawi yang sama dengan kekaisaran Roma.


3. Siapa Yesus itu?
Untuk mengetahui siapakah Yesus, kita perlu meninjau apa yang dikatakan Yesus tentang diri-Nya sendiri, yaitu:
• Anak Manusia.
Yesus menggunakan istilah “Anak Manusia” dalam tiga cara yang berbeda sesuai konteksnya:
 Untuk menggambarkan keberadaan-Nya sebagai manusia biasa (bandingkan Mar 10:45 dan Luk 22:27; Mar 8:27 dan Mat 16:13; Mat 19:28 dan Luk 22:30).
 Untuk menunjuk pada kedatangan-Nya di masa depan di atas awan surgawi dan kepada kemuliaan-Nya di sebelah kanan Allah (Matius 24:27, 37; Lukas 17:30, 18:8, 21:36, 22:69; Daniel 7).
 Yesus paling sering berbicara mengenai diri-Nya sebagai Anak Manusia yang menderita . Dari empat belas kali pemakaian istilah “Anak Manusia” dalam Injil Markus, sembilan kali di antaranya menunjuk pada kematian-Nya.
• Mesias.
Dalam Injil Markus, hany ada satu ayat di mana Yesus mungkin menyebut diri-Nya sebagai Mesias (Mar 9:41). Pada waktu menghadap Imam Besar, Dia tidak ragu menyatakan diri sebagai Mesias. Tetapi pada umumnya Yesus tidak memakai kata “Mesias” mengenai diri-Nya sendiri karena tahu bahwa para pendengar-Nya akan mengartikannya sebagai raja duniawi yang akan membentuk negara yang baru.
• Anak Allah.
Kitab-kitab Injil secara jelas mencatat pemakaian istilah “Anak Allah” dikatakan sendiri oleh Yesus untuk menggambarkan hubungan-Nya dengan Allah sendiri.
• Hamba Tuhan.
Yesus hidup dan mati tepat seperti yang dinubuatkan Yesaya sebagai “Hamba Tuhan yang menderita”.


4. Kematian Yesus
Sebuah pertanyaan yang sangat penting dalam Perjanjian Baru adalah pertanyaan mengenai kematian Yesus. “Mengapakah Yesus mati?” diberi dua jawaban berdasar fakta sejarah dan secara teologis. Kematian Yesus adalah sebuah peristiwa sejarah yang biasa walau tidak dapat dimengerti tanpa memandangnya sebagai bagian dari rencana Allah sendiri (Luk 19:10).
Perjanjian Baru sendiri memberikan lima hal pokok mengenai kematian Yesus di kayu salib, yaitu:
• Pertempuran
Seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus adalah pertempuran melawan kuasa jahat. Dengan kematian-Nya, perjuangan-Nya menghasilkan kemenangan sempurna atas dosa dan maut melalui kebangkitan-Nya (Kol. 2:8 – 15)
• Teladan
Salib adalah pernyataan teladan kasih Allah (Rm. 5:8; 1 Yoh 4:10; 1 Ptr. 2:21)
• Persembahan kurban
Kematian Yesus adalah kurban bagi pendamaian antara Allah dan manusia.
• Tebusan
Dalam Markus 10:45, Yesus sendiri menyatakan secara gamblang bahwa Dia hendak menjadi tebusan dosa manusia.
• Pengganti
Pada dasarnya kematian-Nya adalah untuk menggantikan manusia berdosa (1 Ptr 2:24; Mar. 10:45).

5. Kebangkitan Yesus
Orang-orang Kristen pertama yakin akan historitas peristiwa kebangkitan Yesus dan rangkaian peristiwa-peristiwanya. Bukti-bukti kebangkitan-Nya adalah sbb:
• Kepercayaan jemaat mula-mula
Kepercayaan jemaat mula-mula yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul demikian konsisten dan teratur.
• Keterangan Paulus
Surat Paulus dalam 1 Kor. 15 ditulis tidak lebih dari 25 tahun setelah Yesus disalibkan. Surat itu bukan untuk memberitahu jemaat tentang kebangkitan-Nya melainkan untuk mengingatkan mereka kembali.
• Tradisi kitab-kitab Injil
Semua kitab Injil menekankan dua fakta utama yaitu kuburan Yesus ditemukan dalam keadaan koong dan kebangkitan Yesus dilihat oleh orang-orang yang berlainan pada waktu yang berbeda pula.
• Para murid
Para murid justru menjadi saksi-saksi yang berani dan jemaatpun bertumbuh. Pokok utama kesaksian mereka adalah Yesus hidup dan tetap berkarya.

C. Kerajaan Allah
6. Apa Kerajaan Allah Itu?
Pengertian tentang “kerajaan Allah” yang dimaksudkan oleh Yesus berarti “umat baru”. Yesus melihat umat baru dengan dua cara. Di satu pihak Ia melihatnya sebagai pemerintahan Allah dalam hidup orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada Allah. Di pihak lain, pemerintahan Allah tersebut adalah sesuatu yang dapat dan akan diperlihatkan kepada seluruh dunia.

7. Gambaran Kerajaan: Perumpamaan Yesus
Dalam Perjanjian Baru, peribahasa atau pepatah sering disebut “perumpamaan”. Beberapa cerita Yesus yang paling dikenal merupakan perumpamaan. Yesus banyak menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan berita-Nya. Maksud Yesus menggunakan perumpamaan sama seperti pengkhotbah modern memakai ilustrasi. Pada umumnya suatu perumpamaan hanya menjelaskan satu hal saja walau ada perumpamaan yang mempunyai lebih dari satu pokok utama. Misalnya perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14 – 30; Luk 19:11 – 27) menegaskan hubungan antara tanggung jawab pribadi dan penghakiman terakhir. Tetapi ada hal lain yang ditekankan juga yaitu tuan tersebut telah melampaui kewajiban hukum maupun moralnya dengan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.

8. Kuasa Kerajaan: Mujizat Yesus
Apa yang dimaksud dengan mujizat tidaklah selalu jelas. Ada yang mengartikannya dengan segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam. Sebaliknya orang lain mengatakan tidak ada hukum alam. Yang ada adalah rasionalisasi tentang bagaimana hal-hal biasanya terjadi.
Untuk mengerti apa arti mujizat, kita harus menempatkannya dalam konteks keseluruhan pelayanan Yesus. Kehidupan Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, mujizat selalu mempunyai arti tertentu. Dalam pola pikir Ibrani, kata davar dapat berarti sebagai kata dan perbuatan. Karya Allah adalah tindak lanjut dari perkataan-Nya. Jadi apa yang dilakukan identik dengan apa yang dikatakan. Sebagai contoh, mujizat yang dilakukan Musa di depan Firaun merupakan wahana berita Allah, tanda-tanda yang hidup dari kebenaran Firman Allah. Dalam konteks Yesus, mujizat-mujizat-Nya menyatakan dalam bentuk perbuatan apa yang diajarkan-Nya dalam perumpamaan. Dengan demikian, tujuan dari mujizat adalah suatu penerimaan tanpa syarat akan pemerintahan Allah atas hidup manusia.

9. Dampak Kerajaan: Ajaran Yesus Tentang Etika
Pada zaman Yesus, hukum-hukum Perjanjian Lama dijadikan ruwet dengan banyak tafsiran dan penerapan yang sangat terinci oleh orang Farisi. Sikap Yesus tentang perilaku sangat berbeda. Pada beberapa peristiwa Ia secara langsung menentang peraturan-peraturan yang ditetapkan orang Farisi. Contohnya ketika Yesus mengatakan bahwa “hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia diadakan untuk hari Sabat”.
Khotbah di bukit (Mat 5 – 7) adalah pengajaran etika yang paling komprehensif dalam kitab Injil. Ada tiga unsur yang dipakai Yesus untuk menyampaikan ajran-Nya dalam khotbah di bukit yaitu penggunaan sajak, pemakaian perumpamaan dan ilustrasi, dan menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan. Pengajaran Yesus tentang etika sendiri tidak dapat dilepaskan dari kedaulatan Allah dan sifat Allah sebagai dasar dan titik tolaknya. Akibatnya sedikitnya ada tiga akibat praktis yaitu:
• Memberikan kesadaran yang lebih besar mengenai keseriusan dosa.
• Kebaikan kristiani mempunyai sifat rohani yang bukan dari dunia ini, yang melampaui tuntutan akal budi.
• Keinginan terbesar umat Allah seharusnya adalah menyenangkan hati Allah dan membalas cinta kasih-Nya dengan cara-cara yang mencerminkan sifat Allah sendiri.

D. Kitab-kitab Injil
10. Asal-Usul Kitab Injil
Kata Injil mempunyai arti “kabar baik”. Ada tiga pengertian penting terhadap kitab-kitab Injil yaitu:
• Kitab-kitab Injil adalah kisah selektif tentang kehidupan dan pengajaran Yesus.
• Isinya bukan hanya cerita-cerita tentang Yesus. Cerita-cerita itu berkaitan erat dengan teologi para penulisnya.
• Karena para penulisnya memilih bahan mereka sesuai dengan tujuannya masing-masing, kita dapat mengetahui sesuatu tentang penulis dan para pembaca mereka.

Para penulis Injil mendapat sumber bagi tulisannya melalui beberapa cara yaitu:
• Kutipan-kutipan Perjanjian Lama yang dipenuhi dalam hidup Yesus.
• Kata-kata Yesus sendiri.
• Ucapan-ucapan Yesus yang dikumpulkan dan dijadikan semacam buku pedoman bagi para guru dalam jemaat mula-mula (logia).
• Sumber “Q” berupa naskah tertulis atau tradisi lisan.

11. Empat Potret Yesus

Injil Markus
Penulis Injil ini sulit dipastikan karena Markus adalah nama yang umum. Diperkirakan Markus menulis di Roma untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jemaat di kota itu. Injil ini ditulis bagi pembaca non-Yahudi. Waktu penulisannya berkisar antara tahun 45 – 70 M. tujuan penulisannya adalah untuk memelihara cerita-cerita Petrus sebagai kesaksian yang langgeng bagi jemaat dan ditulis dengan tujuan khusus untuk memperkenalkan sisi lain dari Yesus sebagai Allah yaitu Yesus yang manusia sejati pula.

Injil Lukas
Penulis Injil ini adalah Lukas, seorang dokter non-Yahudi. Tujuan penulisannya adalah untuk menolong Teofilus dan orang percaya lainnya agar memperoleh pengertian yang lebih baik tentang iman Kristen, menekankan bahwa orang yang mengikuti Yesus tidak harus memeluk agama Yahudi sebelumnya, menekankan ada hubungan penting antara Yesus dengan kehidupan jemaat kontemporer melalui Roh Kudus, dan menyatakan bahwa kabar baik tentang Yesus berlaku bagi semua orang.

Injil Matius
Tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli tentang penulis dan waktu penulisan Injil ini. Tujuan utama Injil Matius adalah untuk menunjukkan Yesus adalah anak Allah dan Mesias. Kitab ini disusun menurut tema pribadi Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah (1:1 – 4:16), pemberitaan berita Yesus (4:17 – 16:20), dan penderitaan, kematian dan kebangkitan Mesias dan Anak Allah (16:21 – 28:20).

Injil Yohanes
Menurut Ireanus, penulis Injil ini adalah rasul Yohanes. Waktu penulisan menurut kebanykan ahli adalah antara tahun 70 – 100 M. Injil ini mempunyai latar belakang Yahudi yang kuat dan sedikit latar belakang Yunani pada prakatanya. Secara umum dapat dikatakan bahwa Injil Yohanes melengkapi Injil sinoptik dan juga menjelaskan beberapa hal yang terjadi dalam Injil sinoptik. Hal ini menjadikan seluruh cerita kehidupan dan pelayanan Yesus menjadi lebih mudah dipahami.

12. Dapatkah Kitab-Kitab Injil Dipercaya?
Ada pandangan tertentu yang dikemukakan kaum liberal tentang Yesus. Salah satu tokohnya, Bultmann bersikap skeptis terhadap kebenaran “Yesus sejarah”. Tentu saja banyak sekali alasan untuk menolak pandangan Bultmann itu. Kitab-kitab injil mempunyai akar yang kuat dalam konteks Yahudi dan di banyak tempat kita temukan kitab Injil itu asli. Penolakan Bultmann dan Schleiermacher akan hal-hal supranatural dipatahkan oleh ilmuwan masa kini yang mengakui jalannya alam jauh lebih rumit dari sekedar sistem mekanis yang berjalan ketat sesuai dengan prinsip sebab akibat. Pada akhirnya kita harus menyimpulkan bahwa Yesus yang historislah yang menjadi dasar iman Kristen sebab Allah telah bekerja dalam peristiwa kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus dengan mengungkapakan sifat-Nya sendiri dan mendamaikan manusia dengan diri-Nya sendiri.

E. Jemaat Mula-Mula
13. Menghadapi Dunia Purba
Tidak semua pengajaran Yesus sama sekali baru dan unik. Tetapi yang membedakan Yesus dan apa yang memisahkan pengikut-pengikut-Nya secara radikal dari agama Yahudi adalah kerangka dasar pengajaran-Nya. Dalam hal hukum Taurat dan agama dan suku bangsa, Yesus mengambil posisi yang berbeda secarfa fundamental dengan guru-guru Yahudi. Kaum Farisi sangat menekankan tindakan-tindakan lahiriah yang atur oleh peraturan. Sedangkan Yesus jauh lebih memntingkan siap seorang itu sebenarnya dan bukan perbuatan yang dilakukannya.
Setelah jemaat bertumbuh, terjadi konflik antara orang-orang Kristen Helenis (orang Yahudi yang berbahasa Yunani) dan orang-orang Kristen yang berbahasa Ibrani atau Aram. Perkataan Stefanus menimbulkan kemarahan sesama anggota Helenis. Mereka menuduh Stefanus sebagai penghujat sehingga menyeretnya ke depan mahkamah agama Yahudi (Sanhedrin). Stefanus dihukum mati. Salah satu akibat langsung adalah meluasnya penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Penganiayaan membuat orang Kristen tersebar keluar dari Yerusalem dan mereka menjadi misionaris pertama.



14. Kisah Para Rasul
Penulis kitab Kisah Para Rasul adalah Lukas, seorang dokter non-Yahudi yang menemani Paulus dalam perjalanannya. Waktu penulisan agak sulit ditentukan. Kelompok Tubingen dan John Knox memilih penulisan setelah tahun 100 M. F. F. Bruce memilih tahun 62 – 70 M, seangkan pendapat lain memilih tahun 80 – 85 M.
Tujuan utama penulisan kitab ini adalah sbb:
• Lukas mendorong pembacanya untuk meneladani orang-orang yang telah menjadi Kristen sebelum mereka, dan untuk melakukan bagi generasi mereka seperti yang Paulus lakukan bagi generasinya.
• Menekankan bahwa agama Krsiten dapat mempunyai hubungan baik dengan kekaisaran Roma.
• Berusaha untuk menyusun fakta-fakta tentang kekristenan secara sistematis bagi pembacanya.

F. Rasul Paulus
15. Siapa Paulus Itu?
Paulus adalah seorang Yahudi Helenis yang berasal dari kota Tarsus. Dari Tarsus, paulus dikirim untuk belajar kepada rabi Gamaliel di yerusalem. Rupanya ada tiga pengaruh utama pada Paulus selama masa mudanya yaitu agama Yahudi, filsafat Yunani dan agama-agama rahasia.
Paulus adalah seorang Farisi yang setia. Ajaran-ajaran Farisi menjadi cermin di mana Paulus melihat kekurangan-kekurangannya sendiri yang begitu jelas dinyatakan sehingga ia menilai dirinya sebagai “orang yang paling berdosa” (1 Tim 1:15). Tetapi di dalam Kristus ia melihat pencerminan apa yang dapat dicapainya oleh anugerah Allah yang cuma-cuma.
Di dalam Perjanjian Baru peran Paulus kelihatan sangat menonjol. Bahkan dalam kitab Kisah Para Rasul-pun, para Rasul kelihatan kalah penting dibandingkan Paulus. Tetapi sebenarnya pekerjaan Paulus jelas melangkapi pekerjaan banyak tokoh lain di jemaat mula-mula.
Pengetahuan Paulus akan kata-kata dan perbuatan Yesus tidak didapatnya melalui pertemuan pribadi dengan Yesus melainkan dari murid-murid-Nya yang pertama. Tetapi ada banyak nasihat paulus begitu dekat dengan ajaran Yesus seperti yang tercatat dalam kitab Injil. Sebagai contoh:
• Kasih kepada musuh (Mat 5:43 – 48; Rm. 12: 14 – 21)
• Kasih kepada Allah dan sesama (Mrk. 12:29 – 31; Rm 13:8 – 10)
• Tanggung jawab kepada negara (Mrk 12:13 – 17; Rm 13:1 – 7).

16. Paulus Si Penganiaya
Setelah hukuman mati kepada Stefanus, orang-orang Kristen keluar dari Yerusalem untuk menghindari penganiayaan. Salah satu tempat berkumpulnya para pengikut Yesus adalah Damsyik. Paulus menghadap imam besar untuk meminta kuasa untuk mengejar, membawa pulang, mengadili dan menghukum pengikut Yesus. Dalam perjalanannya ke Damsyik, Paulus melihat “cahaya yang lebih terang dari matahari” menyinarinya dan disapa oleh Kristus sendiri. Hidup Paulus berubah secara radikal. Dari pembenci orang Kristen menjadi pembelanya yang terbesar. Di Damsyik, matanya yang buta dipulihkan melalui Ananias dan Paulus-pun tinggal, bersekutu dan bersahabat dengan orang-orang yang dulu diburunya. Tidak ada perbedaan antara hamba dan orang bebas, Yahudi dan non-Yahudi di dalam Kristus.
Semangat keyakinan yang berapi-api inilah yang kemudian mengilhami Paulus untuk membawa berita Injil ke kota-kota Palestina sampai pelosok dunia yang dikenal pada saat itu. Paulus menunjukkan perubahan hidup yang radikal dan melalui surat-suratnya kepada jemaat-jemaat, ia telah meninggalkan pengertian yang tak ternilai bagi kita semua.

17. Perjalanan Misioner Pertama
Paulus dan Barnabas dikhususkan untuk mengadakan perjalanan misioner yang pertama. Mula-mula mereka pergi ke Siprus dan membawa berita Injil kepada seorang pejabat Roma, Sergius Paulus. Dari Siprus mereka berlayar ke Antiokhia dan Likaonia, bagian dari Galatia. Setelah pekerjaan yang berhasil di beberapa kota, mereka kembali ke Antiokhia di Siria. Setiap kali memulai pelayanan di sebuah kota, mereka selalu menuju ke sinagoge Yahudi.
Dalam perkembangan berikutnya, orang-orang yang menjadi percaya oleh pemberitaan Paulus dan Barnabas di datangi oleh pembawa berita dari Yerusalem yang mengatakan bahwa selain percaya kepada Kristus, mereka juga harus melakukan segala perintah yang terdapat dalam Perjanjian Lama seperti misalnya disunat agar mendapatkan keselamatan. Ketika Paulus mendengar kabar ini, dia menjadi marah dan menulis surat kepada mereka. Surat itulah yang dikenal sebagai surat Galatia.

18. Perjalanan Misioner Kedua
Dalam perjalanan misioner yang kedua, Paulus berangkat lagi ke dunia non-Yahudi bersama Silas sebagai pendamping. Dalam perjalanannya, paulus mendapat lagi dua kawan seperjalanan yaitu Timotius dan Lukas. Hal pertama yang dilakukan paulus adalah mengunjungi beberapa jemaat yang didirikannya di Galatia Selatan. Setelah itu Paulus berencana untuk pergi ke Asia, sebuah provinsi Roma yang meliputi Efesus. Tetapi rencana ini dilarang oleh Roh Kudus sehingga mereka pergi ke Troas. Pada malam harinya Paulus bermimpi tentang seorang Makedonia yang berteriak minta tolong. Hal ini diartikan Paulus sebagai petunjuk Allah untuk menuju Eropa.
Kota pertama yang dikunjungi Paulus adalah Filipi dan di sana Paulus mendapat Lidya sebagai petobat yang pertama. Ketika menjalankan penginjilan, Paulus terus menerus diganggu oleh seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung dalam dirinya. Ketika Paulus mengusir roh tenung itu, tuan dari hamba itu begitu marah karena hamba itu sebelumnya menghasilkan banyak uang baginya. Tuan itu menuduh Paulus dan Silas menimbulkan kekacauan sehingga mereka dicambuk dan dimasukkan ke penjara. Malam itu ketika gempa bumi terjadi sehingga membuka pintu penjara, mereka tetap tinggal dan akhirnya mendapatkan kepala penjara beserta keluarganya bertobat. Kota berikutnya yang mereka kunjungi adalah Tesalonika dan Berea, di mana banyak orang bertobat. Setelah itu Paulus melanjutkan perjalanan ke Atena dan Korintus. Tidak lama setelah tiba di Korintus, datang berita bahwa ada beberapa masalah dalam jemaat Tesalonika. Paulus menulis surat 1 Tesalonika kepada mereka. Paulus memberikan nasihat dalam perilaku orang Kristen, tentang masa depan, dan menghayati hidup Kristen. Rupanya surat ini menimbulkan spekulasi yang keliru akan kedatangan Kristus yang kedua. Paulus kemudian menulis suratnya yang kedua kepada jemaat Tesalonika dengan pokok-pokok menganai jemaat dan musuhnya, jemaat dan masa depan, dan jemaat dan masyarakat.

19. Perjalanan Misioner Ketiga
Perjalanan misioner ketiga lebih bersifat penggembalaan yang dipusatkan pada dua kota utama yaitu Efesus dan Korintus. Efesus merupakan ibu kota Asia, sebuah provinsi Roma. Kunjungan Paulus di Efesus merupakan bagian terpenting dari pelayanannya pada masa itu. Efesus adalah pusat geografis dari semua tempat yang dikunjungi Paulus dan merupakan pusat agama kafir yang penting. Pelayanan Paulus begitu berhasil walau dia mengalami banyak penderitaan.
Selama tinggal selama tiga tahun di Efesus, Paulus menerima berita buruk yang menimpa jemaat Korintus sehingga dia menulis surat untuk memperingatkan bahaya percabulan. Tidak lama kemudia Paulus mendapat laporan dari keluarga Kloe tentang perpecahan jemaat. Surat 1 Korintus adalah tanggapan Paulus atas laporan itu. Setelah itu paulus mendengar bahwa suratnya tidak membawa hasil sehingga dia pergi ke Korintus dengan kunjungan yang disebutnya sebagai kunjungan yang mendukakan (2 Kor. 2:1). Sekembalinya ke Efesus, Paulus mengutus Titus dengan surat yang isinya jauh lebih keras untuk melawan serangan kepada dirinya sebagai rasul. Surat ini tercatat pada 2 Kor. 10 – 13. Di Makedonia Paulus bertemu dengan Titus yang membawa berita bahwa telah terjadi perubahan sikap pada jemaat Korintus. Melalui Titus, Paulus kembali menulis surat yang menyatakan suka citanya yang besar. Surat itu adalah 2 Kor. 1 – 9.
Pokok-pokok yang disampaikan Paulus dalam surat 1 Korintus adalah mengenai hidup dalam Kristus (1 Kor. 1:10 – 4:21), hidup di dunia (1 Kor. 5:1 – 11:10, dan hidup dalam jemaat (1 Kor. 11:2 – 15:58). Sedangkan surat 2 Korintus dibagi menjadi empat pokok yaitu: menghadapi masalah-masalah (2 Kor. 1:3 – 2:13), apa artinya rasul? (2 Kor. 2:14 – 7:4), memandang ke masa depan (2 Kor. 7:5 – 9:15), dan kewenangan dan kharisma (2 Kor. 10:1 – 13:10).
Kota Roma adalah tujuan akhir Paulus dalam penginjilannya. Jadi Paulus menyiapkan kunjungannya ke Roma dengan menulis sebuah surat kepada jemaat Roma. Surat Roma dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu: bagaimana mengenal Allah (Rm. 1 – 8), Israel dan keselamatan (Rm 9 – 11), perilaku Kristen (Rm. 12 – 15).

20. Paulus Tiba Di Roma
Dalam menulis surat kepada jemaat Roma, Paulus meminta mereka untuk berdoa bagi pelayanannya di Yerusalem. Pada kenyataannya, memang Paulus lebih dibenci di Yudea daripada tempat lain. Dalam pandangan orang Yahudi, Paulus adalah seorang penghianat iman Yahudi. Orang-orang Yahudi yang melihat Paulus di bait Allah di Yerusalem hendak membunuhnya di tempat itu juga. Seorang komandan pasukan Roma menangkap Paulus dan hendak mencambuknya. Tetapi Paulus menuntut kekebalan sebagai seorang warga negara Roma. Setelah melewati pengadilan Sanhedrin, prokurakor Roma, Feliks dan Porsius Festus, Paulus memutuskan untuk menggunakan haknya untuk naik banding kepada pengadilan tertinggi di Roma.
Perjalanan ke Roma mengalami banyak rintangan sebelum akhirnya Paulus mendarat di Italia Selatan. Di Roma, Paulus menjadi tahanan selama dua tahun. Di sana Paulus mengabarkan Injil kepada pemimpin masyarakat Yahudi. Sebagian menjadi percaya walau banyak yang menolaknya. Tradisi mengatakan Paulus mati syahid tahun 64 M di Roma pada waktu penganiayaan yang diperintahkan kaisar Nero.

21. Surat-Surat Dari Penjara
Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose, Filipi dan Efesus serta surat pribadi kepada Filemon pada saat dia berada dalam penjara di Roma pada tahun 60 – 62 M.
Paulus memberikan tanggapan terhadap merebaknya ajaran palsu di Kolose dengan menekankan bahwa di dalam Kristus beriman dapat menemukan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Rupa-rupanya beredar ajaran bahwa mereka membutuhkan pengantara-pengantara supra-natural lainnya, dan Yesus hanyalah salah satu dari berbagai manifestasi Allah.
Bersama dengan surat Kolose, Paulus juga mengirim surat kepada Filemon, seorang anggota terkemuka jemaat tersebut. Maksud surat ini adalah untuk mendamaikan seorang budak (Onesimus) milik Filemon yang melarikan diri dan akhirnya bertobat.
Dalam surat kepada jemaat Efesus, Paulus mengemukakan beberapa hal yaitu menekankan posisi sentral Kristus dalam rencana Allah dan dalam kehidupan orang percaya, menasihatkan jemaat untuk memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera, tentang moralitas pribadi, dalam kegiatan sosial yang dikuasai oleh kasih, dan akan tipu daya iblis yang hanya dapat dilawan dengan seluruh perlengkapan senjata Allah.
Paulus menulis surat kepada jemaat Filipi untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka kepadanya. Selain itu Paulus juga menasehati mereka untuk saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupa-rupa hal ini berkaitan dengan pertengkaran dua orang wanita, Euodia dan Sintikhe. Selain itu dia juga memberikan teladan Yesus sebagai pola perilaku Kristen dan menjelaskan apa artinya praktek hidup seorang Kristen yang hidupnya dipenuhi oleh hidup Yesus.
Sementara itu surat-surat pastoral yaitu surat 1 dan 2 Timotius dan Titus mempunyai kemiripan satu dengan lainnya. Ada empat pokok utama yang dikupas dalamnya yaitu tentang guru-guru palsu, iman yang sejati, perilaku Kristen, dan kepemimpinan Kristen.

G. Jemaat Berkembang
22. Iman Kristen
Tulisan-tulisan Paulus bukanlah uraian teologi secara sistematis melainkan memang benar-benar surat. Sehingga untuk memperoleh sajian yang jelas dan logis tentang pemikirannya, kita harus memberi perhatian khusus kepada konteks di mana surat itu ditulis. Bagi Paulus pokok utama Injil adalah kasih Allah bagi manusia yang tidak layak menerimanya dan yang telah diungkapkan melalui Yesus, harus diterima dengan iman, yakni dengan penyerahan diri kepada Allah bukan berdasar perasaan, melainkan berdasarkan fakta mutlak tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, serta persekutuan baru dengan Allah.
23. Jemaat Kristen
Istilah ekklesia yang dipakai oleh penulis diterjemahkan sebagai “jemaat”. Jemaat adalah karya Allah, didirikan pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus menghembuskan hidup baru ke dalam murid-murid Yesus. Secara teologis, jemaat merupakan titik awal dari perubahan yang terjadi dalam dunia sebagai akibat kedatangan orde baru Allah.
Salah satu istilah yang sering dipakai oleh Paulus untuk melukiskan jemaat adalah “tubuh Kristus” (Ef. 1:23). Ia memakai gambaran yang mudah dimengerti pembacanya. Dia belajar dari pertemuannya dengan Yesus di Damsyik. Paulus kaget karena menganiaya jemaat berarti menganiaya Dia. Gambaran ini membawa Paulus kepada empat aspek tentang jemaat dan anggotanya, yaitu:
• Semua anggota dibutuhkan dalam jemaat.
• Semua anggota berbeda dan mempunyai fungsi yang berlainan.
• Semua anggota sama kedudukannya.
• Semua anggota bertanggung jawab terhadap sesamanya.

24. Roh Dan Huruf
Kisah jemaat mula-mula sungguh dikuasai oleh pengalaman hidup bersama Roh Kudus yang bekerja di antara mereka. Roh Kudus memberitahu apa yang harus dikatakan dalam pemberitaan mereka dan memberikan keberanian untuk mengatakannya. Tidak ada suatu lembaga resmi dan pemimpin lembaga yang mengatur “jalannya organisasi”. Tetapi dalam beberapa puluh tahun kemudian keadaan ini berubah. Ada empat alasan utama bagi perubahan gaya hidup jemaat mula-mula yaitu:
• Perkembangan jemaat yang sangat pesat mengakibatkan perkembangan jemaat yang melembaga.
• Ajaran sesat yang membuat jemaat memikirkan posisinya sendiri. Akibatnya mereka mulai menilai kehidupannya dalam tiga bidang utama yaitu kepercayaan, ibadah, dan kewibawaan.
• Perubahan sosial. Setiap kelompok pasti akan mengalami perubahan ketika sang pemimpin telah meninggal.
• Pengharapan yang tak terpenuhi, akibatnya jemaat menjadi lembaga karena menyakini hal itu paling baik secara teologis.

Sementara itu proses pengumpulan dan pengakuan kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai kanon Kitab Suci menjalani proses panjang selama beberapa abad. Pada akhirnya pada abad ke-4 kita mendapatkan dua daftar kitab-kitab yang berwibawa, yaitu dari Athanasius di Timur (367 M) dan dari konsili Karthago di Barat (397 M).

25. Jemaat Dan Asal Yahudinya
Dalam Rm. 11:13 Paulus menganggap dirinya sebagai rasul bagi orang non-Yahudi. Walaupun demikian, ke manapun dia pergi, dia selalu menyampaikan pemberitaannya pertama kali di sinagoge. Surat-surat Paulus sendiri mempunyai ciri khas Yahudi. Ada empat kitab yang dapat membantu untuk mengerti segi Yahudi dalam kehidupan jemaat yaitu:

Surat Yakobus
Penulis kitab ini adalah Yakobus tetapi tidak begitu jelas Yakobus yang mana yang dimaksud. Sebagian besar ahli mengatakan Yakobus saudara Yesus. Sedangkan waktu penulisannya pada masa awal kehidupan jemaat. Pokok perhatian surat ini adalah pada perilaku yang benar. Inti ibadah yang sejati kepada Allah adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri dan tanpa perbuatan yang mengungkapkan perasaan seperti itu, iman tidak ada harganya (Yak. 2:1 – 26). Istilah iman yang digunakan Yakobus adalah mengacu pada “pengakuan iman” saja yang diperlukan. Sehingga dia menekankan tanpa akibat praktis, “pengakuan iman” itu saja tidak berguna.

Surat Ibrani
Penulis surat ini tidak diketahui dan waktu penulisannya adalah pada masa menjelang penganiayaan oleh kaisar Nero. Para pembaca pertamanya adalah orang Kristen Yahudi Helenis di Roma. Bagi bangsa Yahudi, Bait Allah di Yerusalem selalu mempunyai tempat istimewa dalam kehidupan dan pemikiran mereka. Jemaat di Yerusalem rupanya terus menerus beribadah di Bait Allah sedangkan orang Kristen Helenis merasa hal itu sekarang sudah mubazir. Dalam menanggapi hal itu, penulis Ibrani yakin bahwa tidak ada artinya orang Kristen mengikuti tuntutan-tuntutan keagamaan dari hukum Taurat. Pemberitaan Yesus, sang Imam Besar Agung adalah sabda Allah yang terakhir bagi manusia dan menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi yang taat pada-Nya.

Surat 1 Petrus
Penulis surat ini adalah rasul Petrus dan ditulis pada tahap awal penganiayaan oleh Nero. Permasalahan yang dijelaskan oleh Petrus berkisar pada keyakinan sebagian orang bahwa untuk memperoleh bagian dalam berkat yang dijanjikan Allah, orang itu harus menjadi anggota keluarga Abraham sesuai Perjanjian Lama dengan melakukan sunat dan Taurat. Petrus sangat yakin bahwa sunat dan pemeliharaan hukum Taurat tidak diharuskan bagi orang Kristen non-Yahudi. Orang Kristen sekarang merupakan “keluarga Abraham” yang sejati tanpa diperlukan ketaatan pada hukum Taurat. Di bagian lain Petrus mengingatkan bahwa umat Allah harus mempunyai patokan moral yang berbeda dengan orang lain. Akhirnya Petrus memberikan nasihat kepada para pemimpin jemaat untuk menjadi teladan bagi jemaat.

26. Kitab Wahyu
Sekembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babel, mereka berusaha memelihara setiap butir hukum Taurat. Namun, ternyata mereka tidak mengalami kemakmuran. Malahan jalan menuju kemakmuran agaknya terletak dalam kerja sama dengan orang-orang Roma dan bukan karena kesetiaan pada agama. Keadaan yang membingungkan ini perlu sebuah penjelasan yang memuaskan.
Kitab Wahyu adalah sebuah sastra apokaliptik yang sulit dipahami. Cara berpikir kita berbeda dengan sudut pandang apokaliptik Yahudi. Sebenarnya jika diteliti terlihat jelas kitab ini berpegang pada penekanan kristiani yang positif tentang keterlibatan Allah dalam hidup manusia.
Bagian pertama kitab ini (1 – 3) membahas hal-hal yang duniawi dan menunjukkan pengenalan yang rinci terhadap pembacanya. Jemaat sedang terlibat pertikaian dalam kepercayaan Kristen. Iman mereka goncang dan akibatnya mereka kurang kuat dalam menghadapi penganiayaan negara. Oleh karenanya mereka harus mempunyai komitmen dengan kuat.
Bagian kedua kitab Wahyu (4 – 22) berkaitan dengan bahasa dan tulisan-tulisan yang bersifat apokaliptik. Semua penglihatan yang disajikan sulit dimengerti sepenuhnya. Tetapi Yohanes menyakinkan bahwa penderitaan yang dialami hanya bersifat sementara dan musuh akan mendapat hukuman Allah. Walaupun demikian, kaum Dispensationalis menafsirkan “tujuh jemaat” sebagai “tujuh zaman” dan saat ini kita sudah hidup dalam zaman yang terakhir.

27. Musuh Dalam Selimut
Sebuah faktor paling penting yang mempengaruhi perubahan pola hidup jemaat mula-mula adalah munculnya berbagai kelompok penyesat seperti kaum Montanis, Gnostik, dll. Kebanyakan dari mereka adalah lawan pribadi Paulus dan jelas pengaruh mereka tetap ada dalam jemaat-jemaat Kristen. Kalau Injil Yohanes ditulis agar orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, surat 1 Yohanes ditulis kepada orang Kristen dengan tujuan untuk menguatkan keyakinan mereka akan kebenaran yang sudah mereka terima.
Penulis 1 Yohanes menyatakan bahwa pengalaman mistik tidak berarti bagi iman Kristen. Hal-hal yang membedakan penyesat dan pengikut Yesus adalah dengan memiliki Roh Allah yang dengan sendirinya menghasilkan buah-buah kasih, ketaatan, dan kemenangan terhadap yang menentang kehendak-Nya.
Surat 2 dan 3 Yohanes merupakan surat-surat yang singkat. Dalam surat 2 Yohanes, penulis memperingatkan pembacanya agar waspada terhadap guru-guru penyesat. Sedangkan surat 3 Yohanes memberikan nasihat kepada Gayus tentang Diotrefes yang berusaha menjadi pemimpin jemaat.
Pokok masalah dalam surat Yudas dan 2 Petrus juga berkisar pada pengaruh guru-guru palsu dalam jemaat. Cara surat Yudas dan 2 Petrus menentang guru-guru palsu memberi kesan bahwa keduanya berasal dari keadaan yang mirip dengan keadaan yang dijumpai dalam bagian awal kitab Wahyu.



Analisa Buku
Kekuatan Buku
1. Penulis memberikan latar belakang dunia Perjanjian Baru secara terperinci dan jelas sekali.
2. Penulis pemberikan studi-studi khusus pada akhir setiap bab. Hal ini sangat berguna bagi pembelajar yang serius untuk memahami PB secara komprehensif.
3. Buku ini tidak sekedar membahas tiap-tiap kitab PB melainkan juga memberikan pembahasan hal-hal relevan dengannya. Misalnya dalam membicarakan Yesus, penulis membahas terlebih dahulu tentang mujizat (bab 8).
4. Disajikan secara sistematis walau pembaca harus mengikuti alur pikiran penulis.

Kelemahan Buku
1. Dari sudut pandang akademisi, saya tidak melihat kelemahan buku ini. Walaupun demikian, memang buku ini tidak mudah untuk dipahami (terutama bagi kaum awam) karena pembahasannya cukup mendalam.

Hal-hal Baru
1. Sebenarnya buku ini juga menjadi buku pegangan utama bagi pendidikan teologi yang pernah saya ambil. Walaupun demikian, membaca studi-studi kasus menyegarkan pikiran.

Saran
1. Pembelajaran pengantar PB tidak boleh hanya menggunakan buku ini karena penulis tidak bermaksud menulis bagi kaum awam. Tanpa pengetahuan tentang pengantar PB sebelumnya, buku ini sulit dipahami karena penulis mempunyai alur pikiran yang “kurang umum”.

Penutup
Penulis telah bekerja keras dan menghasilkan sebuah buku yang sangat bagus dan unik. Buku ini kental dengan penjelasan sejarah yang Alkitabiah. Saya percaya buku ini akan memperkaya setiap pembelajar yang serius. Inilah salah satu buku terbaik dalam pengantar PB.

Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru

Pendahuluan (zaman antara PL dan PB)

Sebelum dan selama masa pembuangan, bangsa Ibrani giat menyembah berhala. Tetapi setelah kembali dari pembuangan mereka berubah menjadi bangsa yang menyembah Allah. Perubahan itu disebabkan mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana nubuat nabi-nabi sungguh terjadi pada masa mereka. Selain itu mereka melihat bagaimana Allah melalui Daniel mengalahkan mantera dan ilmu sihir Babel. Pada masa akhir pembuangan, 50.000 orang Yahudi yang setia kepada Allah kembali ke tanah air mereka.
Dari masa Nehemia sampai pada permulaan Perjanjian Baru terbentang jarak 400 tahun di mana tidak ada seorangpun yang menerima ilham dari Allah. Selama empat abad zaman kegelapan, ada enam kerajaan yang menguasai daerah Asia Tengah yaitu:
• Zaman Persia (430 – 332 s.M)
• Zaman Yunani (331 – 323 s.M)
• Zaman Mesir (323 – 204 s.M)
• Zaman Syria (204 – 165 s.M)
• Zaman Makabi (165 – 63 s.M)
• Zaman Roma (63 s.M. sampai masa Kristus)
Pada masa itu bahasa Yunani menjadi bahasa umum, Roma membangun kekaisaran dunia dan jalan-jalan raya dibangun sehingga terjadi penyebaran bangsa Yahudi ke segala kota di dunia. Akibatnya synagoge-synagoge didirikan dan tuntutan-tuntutan Taurat diharuskan dalam hidup orang Yahudi.

Injil Matius
Penulis Injil Matius adalah Matius anak Alfeus, seorang Yahudi pemungut cukai. Injil ini ditulis kepada orang Yahudi dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah lama dinantikan mereka. Injil ini menggunakan istilah “Kerajaan Sorga” berulang kali. Garis besar Injil Matius adalah sbb:
• Mesias yang telah lama dinantikan oleh orang Yahudi kini menyatakan diri-Nya (1:1 – 11)
• Pelayanan-Nya di Galilea (4:12 – 16:12)
• Pengakuan Petrus. Kematian Mesias itu dinubuatkan oleh Yesus. Dia dipermuliakan di atas gunung. Dia mengajar ke -12 murid-Nya (16:13 – 18:35)
• Yesus berangkat menuju Yerusalem dan masuk sebagai Rajanya (19:1 – 21:6)
• Pengajaran-Nya yang terakhir di Yerusalem (21:17 – 25:46)
• Pekerjaan Mesias diselesaikan-Nya (26:1 – 27:66)
• Hidup yang baru dalam Yesus. Kebangkitan-Nya dan Amanat Agung-Nya (28)

Injil Markus
Penulis Injil ini adalah Yohanes Markus, sepupu Barnabas. Injil ini ditujukan bagi orang-orang Kristen di Roma dengan maksud memberitakan bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (14:45). Injil ini banyak mencatat mujizat (20 mujizat). Markus banyak menceritakan perbuatan Yesus untuk meyakinkan tentang ke-Ilahian-Nya dan juga menulis tentang kemanusiaan Yesus (dukacita, marah, keheranan, dsb). Garis besar Injil ini adalah sbb:
• Yohanes Pembaptis sebagai utusan untuk memperkenalkan Yesus (1:1 – 13)
• Permulaan pelayanan Yesus di Galilea (1:14 – 45)
• Mereka yang mula-mula menentang Yesus (2:1 – 3:6)
• Pelayanan dan ajaran-Nya (3:7 – 4:34)
• Yesus semakin dikenal sebagai seorang Nabi yang mengerjakan mujizat-mujizat (4:35 – 6:6)
• Krisis-krisis dan konflik dalam pelayanan-Nya di Galilea (6:7 – 8:26)
• Pengakuan Petrus. Penderitaan Yesus dinyatakan-Nya. Yesus dipermuliakan (8:27 – 9:32)
• Pengajaran Tuhan Yesus (9:33 – 12:44)
• Khotbah tentang akhir zaman (13:1 – 37)
• Yesus dikhianati, ditangkap, dan diadili (14:1 – 15:15)
• Kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke Sorga (15:6 – 16:20)

Injil Lukas
Penulis Injil ini adalah Lukas, seorang Yunani yang berasal dari Antiokhia. Injil ini ditujukan kepada orang Yunani dan orang Roma Kristen. Injil ini banyak menulis tentang masa muda Yesus. Hanya Lukas yang menulis tentang kunjungan Yesus yang berumur 12 tahun ke Yerusalem. Garis besar Injil ini adalah sbb:
• Kristus menjelma menjadi seperti saudara-saudara-Nya (1:1 – 2:52)
• Ajaran Yohanes dan silsilah Yesus (3:1 – 38)
• Yesus dicobai dengan pencobaan-pencobaan yang umum bagi kita semua (4:1 – 13)
• Pelayanan dan ajaran Yesus di Galilea (4:14 – 9:50)
• Yesus menuju ke Yerusalem dan melayani di Yudea (9:51 – 19:28)
• Ajaran-Nya yang terakhir di muka umum (19:29 – 21:38)
• Yesus dalam penderitaan-Nya dan kematian-Nya (22:1 – 23:56)
• Yesus dalam kemuliaan kebangkitan-Nya (24:1 – 53)

Injil Yohanes
Penulis Injil ini adalah Yohanes anak Zebedeus, saudara Yakobus. Injil ini ditulis kira-kira tahun 80 – 100 M dan ditujukan bagi semua umat Kristen sebagai suatu kesaksian untuk meyakinkan mereka dalam kepercayaannya. Injil ini mencatat tujuh orang saksi yang bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah, tujuh mujizat, tujuh pernyataan “Akulah”, tujuh peran Roh Kudus, tujuh mujizat kesembuhan Ilahi yang dikerjakan Yesus pada hari Sabat. Yohanes mempunyai tiga maksud yaitu:
1. Meyakinkan anak-anak Tuhan (20:31)
2. Yesus Kristus ada dan kekal (16:28)
3. Yesus datang untuk milik-Nya (1:11 – 12)

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Prakata Injil Yohanes. Anak Allah, firman yang kekal itu menjadi manusia (1:1 – 18)
• Anak Allah menyatakan diri kepada dunia ini (1:19 – 12:50)
• Yesus menyatakan diri kepada murid-murid-Nya dalam ajaran dan doa syafaat-Nya (13 – 17)
• Walau Yesus ditangkap, diadili dan disalibkan, namun dalam semuanya Ia akhirnya dipermuliakan (18 – 20)
• Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan secara khusus Dia mengutus Petrus (21)

Kisah Para Rasul
Penulis kitab ini adalah Lukas dan ditujukan pada Teofilus. Lukas adalah seorang tabib dan teman sekerja dari Paulus. Kisah ini ditulis setelah kenaikan Yesus dan sebelum kematian Paulus. Peristiwa-peristiwa yang dicatat mempunyai durasi selama 35 tahun. Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Pelayanan yang dipercayakan kepada para rasul melalui Roh Kudus (1:1 – 11)
• Pelayanan Petrus, Yohanes dan pembantu-pembantu para rasul (1:12 – 7:60)
• Oleh karena penganiayaan terhadap orang Kristen, Injil disebarkan ke mana-mana (8 – 12)
• Perjalanan-perjalanan pekabaran Injil Rasul Paulus (13:1 – 21: 14)
• Paulus menuju ke Yerusalem (21:15 – 23:22)
• Paulus dipindahkan ke Kaisarea (23:23 – 26:32)
• Paulus di Roma (27 – 28)

Penggolongan Kitab-Kitab Dalam Perjanjian Baru
Secara sederhana, kitab-kitab dalam Perjanjian Baru dapat digolongkan dalam tiga bagian yaitu:
1. Kitab sejarah: 4 Injil dan Kisah Para Rasul
2. Surat kiriman: semua surat yang ditulis para rasul kepada jemaat-jemaat.
Surat kiriman dapat dibagi menjadi surat-surat Paulus dan surat-surat umum (Yakobus; 1 dan 2 Petrus; 1, 2, 3 Yohanes; Yudas).
3. Surat Wahyu, yaitu berita tentang akhir zaman.

Surat Roma
Kitab Roma adalah salah satu tulisan Paulus yang paling penting karena isinya memuat uraian yang lengkap mengenai Injil dan berisi penegasan bahwa keselamatan hanya melalui iman. Keadaan Roma sendiri pada waktu itu mengalami kemerosotan moral yang besar, bahkan telah menyusup ke dalam rumah sembayang. Jemaat Roma didirikan oleh Paulus pada masa pemerintahan kaisar Klaudius pada tahun 42. Surat Roma ditulis oleh Paulus dari kota Korintus 15 tahun kemudian. Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan dan pendahuluan (1:1 – 15)
• Tema surat Roma (1:16 – 17)
• Semua orang terlibat dalam dosa (1:18 – 11:36)
• Kehidupan orang percaya (12:1 – 15:13)
• Nasihat-nasihat terakhir dan salam penutup (15:14 – 16:27)

Doktrin-doktrin yang menonjol dalam Roma adalah:
• Kasih karunia (lebih dari 20 kali)
• Kuasa Allah dalam Injil-Nya yang dapat menyelamatkan orang yang percaya (1:16)
• Dosa sebagai kuasa maut (6:23)
• Kebenaran Allah yang diterima karena iman (3:22)
• Pendamaian dalam darah Kristus (3:25)
• Iman yang berasal dari Allah (12:3)
• Anak Allah, yaitu orang-orang percaya (8:15 – 17)
• Penebusan dalam Kristus secara cuma-cuma (3:24)
• Pemilihan Allah terhadap anak-anak-Nya (9:11)
• Pilihan Allah sejak semula (8:29)

Surat Pertama Korintus
Kota Korintus adalah sebuah kota perdagangan yang strategis di Yunani. Pada usianya yang ke-50, Paulus membangun, mengajar dan melayani jemaat Korintus selama 18 bulan. Dia ditemani oleh Akwila dan Priskila. Hasil yang didapat antara lain Krispus, seorang kepala rumah ibadat dan seisi rumahnya. Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Tantangan-tantangan dalam jemaat (1:10 – 4:21)
• Kesusilaan dalam jemaat (5 – 6)
• Masalah-masalah perkawinan diperbincangkan (7)
• Masalah-masalah penyembahan berhala (8 – 10)
• Penyalahgunaan upacara-upacara dalam jemaat (11)
• Rupa-rupa karunia yang dipakai untuk membangun jemaat (12 – 14)
• Kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita (15)
• Tentang bantuan untuk jemaat di Yerusalem dan nasihat-nasihat Paulus yang terakhir (16)

Surat Kedua Korintus
Setelah suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus, Paulus mengutus Titus (mungkin juga Timotius) untuk melihat reaksi jemaat Korintus. Ternyata ada banyak berita yang menghibur, tetapi lebih banyak lagi kabar yang menyedihkan dirinya karena salah paham, perselisihan dan tuduhan terhadap suratnya yang pertama. Oleh karenanya, dalam suratnya yang kedua, Paulus banyak membela diri dan pelayanannya serta menceritakan kepribadiannya.
Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan dan pengucapan syukur Paulus (1:1 – 11)
• Paulus membenarkan diri dan menyatakan sebab-sebab ia belum sempat pergi ke Korintus (1:12 – 2:11)
• Sikap-sikap yang baik dalam pelayanan (2:12 – 9:15)
• Paulus mempertahankan kerasulannya (10:1 – 12:18)
• Kekuatiran Paulus dan nasihat-nasihat yang terakhir (12:11 – 13:13)

Pokok- pokok ajaran kitab ini:
• Iblis dikalahkan atau kita dikalahkan oleh iblis (2:8 – 11)
• Berilah dirimu didamaikan dengan Allah (5:20 – 21)
• Mereka yang hendak disucikan oleh Allah seharusnya bertindak terlebih dahulu (6:17 – 7:1)
• Mengenai karunia untuk memberi kepada orang-orang kudus yang hidup dalam kekurangan (8:3 – 7)
• Beberapa fakta dalam memberi (9:6 – 15)
• “Ujilah dirimu sendiri” (13:5)
• Kekuatiran Paulus pada akhir suratnya mengenai pertobatan dari kesalahan-kesalahan jemaat Korintus (12:20 – 21)
• Allah Tritunggal (13:13)
Surat Galatia
Jemaat Galatia yang dimaksudkan adalah suatu propinsi yang lebih besar di sebelah selatan Asia Kecil. Surat ini ditulis oleh Paulus dalam perjalanan pekabaran Injilnya yang kedua. Jemaat Galatia adalah jemaat non-Yahudi. Surat ini ditulis oleh tulisan tangan Paulus sendiri karena pentingnya ajaran di dalamnya. Rupanya dalam jemaat Galatia beredar ajaran yang mengajarkan “Injil yang lain”. Masalah yang dipersoalkan adalah apakah karunia Allah melalui Kristus adalah cuma-cuma atau harus melakukan hukum Taurat untuk memperoleh keselamatan. Paulus dengan tegas mengajarkan bahwa:
• Kuasa salib melepaskan kita dari kuasa dosa (2:21; 3:21 – 22)
• Kuasa salib melepaskan kita dari kutuk hukum Taurat (3:13)
• Kuasa salib melepaskan kita dari kuasa daging (2:20; 5:24)
• Kuasa salib melepaskan kita dari kuasa dunia (6:14)
• Kuasa salib melepaskan kita dari perbudakan hukum Taurat (4:4 – 7)
• Kuasa salib membuka pintu untuk menjadi anak-anak perjanjian dan ahli waris melalui Kristus (3:14; 4:7)
• Kuasa salib membawa kita kepada langkah-langkah kemenangan melalui buah Roh (5:22 – 25)

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pendahuluan (1:1 – 5)
• Injil yang dinyatakan Allah kepada Paulus adalah satu-satunya yang benar (1:6 – 2:21)
• Bukan mereka yang melakukan hukum Taurat melainkan mereka yang beriman kepada Kristus yang akan diterima oleh Allah (3:1 – 5:1)
• Kehidupan orang Kristen dalam iman, pengharapan dan kasih di bawah pimpinan Roh Kudus (5:2 – 6:10)
• Salam penutup dan peringatan terakhir (6:11 – 18)

Surat Efesus
Kota Efesus adalah ibu kota propinsi Asia Kecil, kota termaju dan pusat perniagaan di propinsi itu. Bahasa Yunani menjadi bahasa pengantar dan kebudayaan Yunani-pun berkembang pesat. Kota Efesus terkenal dengan kuil-kuil dewi Artemis yang menjadi pusat percabulan.
Rasul Paulus sendiri sudah membangun dan melayani jemaat Efesus selama tiga tahun dalam perjalanan pekabaran Injilnya yang ketiga. Kebanyakan jemaat adalah non-Yahudi. Dalam surat ini Paulus menerangkan doktrin “tubuh Kristus” yang mempunyai kedudukan yang mulia di sorga bersama-sama dengan Kristus. Selain itu Paulus menasihatkan untuk saling berdamai dan manfaat karunia adalah untuk memperlengkapi orang kudus bagi pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus.
Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan (1:1 – 2)
• Rencana Allah bagi umat-Nya (1:3 – 3:21)
• Kelakuan yang sepatutnya dipegang oleh anak-anak Tuhan (4:1 – 6:9)
• Konflik dalam peperangan rohani (6:10 – 20)
• Salam penutup (6:21 – 24)

Surat Filipi
Kota Filipi berada di Makedonia. Banyak orang Roma tinggal di sana. Pada umumnya bahasa dan agamanya adalah Yunani. Filipi merupakan tempat bertemu dan bercampurnya kebudayaan dari Eropa dan Asia Kecil. Jemaat Filipi adalah hasil dari penginjilan Paulus di Makedonia. Rupa-rupanya tidak ada teguran dari Paulus bagi jemaat Filipi, melainkan hanya nasihat untuk memelihara persekutuan dengan kerendahan hati.
Doktrin yang diajarkan Paulus mengenai keadaan Kristus adalah sbb:
• Keadaan Kristus dalam kemuliaan semula (2:5 – 6)
• Penjelmaan Kristus (2:6 – 7)
• Kematian Kristus (2:8)
• Kemuliaan Kristus yang semula ada pada-Nya dikembalikan kepada-Nya (2:9)
• Kemuliaan Kristus yang akan dinyatakan pada akhir zaman, di mana Ia akan menjadi Raja di atas segala raja, dan semua orang akan berlutut di hadapan-Nya (2:10 – 11)

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Pendirian orang Kristen (1:1 – 30)
• Nasihat-nasihat bagi jemaat Filipi (2:1 – 4:9)
• Paulus telah belajar untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan (4:10 – 20)

Surat Kolose
Pada saat menulis surat ini, Paulus belum pernah mengunjunginya. Sebagian besar jemaat Kolose adalah non-Yahudi. Maksud Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose adalah untuk membimbing mereka yang telah disesatkan ajaran-ajaran bidat berupa campuran agama Yahudi dan agama kafir.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Pengucapan salam kepada jemaat di Kolose (1:1 – 8)
• Doa Paulus untuk mereka (1:9 – 11)
• Pokok-pokok doktrin mengenai keunggulan Kristus (1:12 – 29)
• Kepenuhan Kristus terwujut dalam anak-anak-Nya (2:1 – 23)
• Tanggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru (3:1 – 11)
• Salam penutup dari Paulus (4:7 – 18)

Surat Pertama Tesalonika
Kota Tesalonika adalah kota kedua di Makedonia yang menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Penduduknya adalah gabungan antara orang Romawi, Yunani, dan Yahudi. Maksud Paulus dalam menulis surat adalah untuk:
• Menegur dosa kedagingan dari agama kafir berupa percabulan yang belum ditinggalkan (4:2 – 7)
• Sebagian belum mengerti tangging-jawab terhadap Tuhan dan sesama (4:10 – 12)
• Mengkoreksi salah paham mengenai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya (4:13 – 18)

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Jemaat di Tesalonika (1:1 – 10)
• Pelayanan Paulus dan Timotius di antara mereka (2:1 – 3:13)
• Instruksi-instruksi berkenaan dengan kedatangan Kristus (4:1 – 12)
• Nasihat terakhir dan salam penutup (5:12 – 28)

Surat Kedua Tesalonika
Dalam waktu beberapa bulan setelah surat pertama, Paulus kembali menulis surat karena mendengar adanya surat palsu yang membingungkan jemaat. Surat palsu itu mengatakan bahwa hari Tuhan telah tiba, padahal hal itu masih dinantikan sampai sekarang. Selain itu ada “ilham roh” yang palsu, yang menyesatkan mereka.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam dari Paulus kepada jemaat di Tesalonika (1:1 – 2)
• Doa Paulus bagi jemaat itu (1:3 – 6)
• Perbedaan-perbedaan mengenai kedatangan Kristus untuk menyambut anak-anak-Nya (1:7 – 12)
• Persoalan-persoalan mengenai si pendurhaka itu (2:1 – 12)
• Kesempatan-kesempatan bagi anak-anak Tuhan (2:13 – 17)
• Pesan-pesan Paulus yang terakhir (3:1 – 15)
• Salam penutup dari Paulus (3:16 – 18)

Surat Pertama Timotius
Surat Paulus kepada Timotius, Titus dan Filemon adalah surat-surat penggembalaan. Paulus menulis kepada gembala jemaat dalam menghadapi kerusuran dan kelemahan. Selain itu Paulus juga mengatur administrasi dan membentuk tanggung-jawab para penatua dan diaken. Surat ini ditulis dalam perjalanan pekabaran Injilnya yang pertama. Paulus memberikan petunjuk dan pesan mengenai hal-hal yang harus diperbaiki dalam jemaat di Efesus.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Pendahuluan (1:1 – 2)
• Paulus yang dulu menganiaya jemaat, sekarang dipercayakan Injil Tuhan (1:12 – 18)
• Himeneus dan Alexander diserahkan kepada iblis (1:19 – 20)
• Cara berdoa dalam kebaktian dan doa pribadi (2:1 – 16)
• Syarat-syarat yang khusus bagi penilik jemaat dan diaken (3:1 – 16)
• Beberapa pesan Paulus kepada Timotius (4 – 6)
• Salam penutup (6:20 – 21)

Surat Kedua Timotius
Pada saat menulis surat ini Paulus sedang berada dalam penjara untuk yang kedua kalinya. Dalam penderitaannya, semangat dan iman Paulus tidak berkurang bahkan dia lebih mengutamakan pelayanan Timotius dari pada memikirkan masalahnya sendiri. Ketika menulis surat ini Paulus sadar bahwa waktunya hanya tinggal sedikit.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Pendahuluan: kasih mesra diantara Paulus dan Timotius (1:1 – 5)
• Instruksi-instruksi pada Timotius yang sedang menghadapi pencobaan dan kemurtadan (1:6 – 2:26)
• Kemurtadan pada akhir zaman (3:1 – 4:5)
• Pidato perpisahan Paulus (4:6 – 8)
• Pesan-pesan Paulus yang terakhir (4:9 – 18)
• Salam penutup (4:19 – 22)

Surat Titus
Titus adalah seorang hamba Allah yang berasal dari Yunani. Bagi jemaat Korintus, pelayanan Titus baik dan benar. Sedangkan di Kreta, Titus diutus untuk menyelesaikan perselisihan dan kerusuhan di antara jemaat-jemaat. Setelah selesai tugasnya di Kreta, Titus ditugaskan melayani di Nikopolis. Surat ini ditulis oleh Paulus bagi Titus ketika dia berada di Kreta. Paulus mengharapkan suatu pembaharuan dalam jemaat-jemaat di Kreta melalui pelayanan Titus.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan (1:1 – 3)
• Pelayanan yang dipercayakan kepada Titus (1:4 – 16)
• Ajaran yang menguatkan iman (2:1 – 15)
• Pesan-pesan terakhir (3:1 – 14)


Surat Filemon
Surat Paulus kepada Filemon ditulis pada waktu Paulus berada dalam penjara di Roma. Maksud penulisan surat ini adalah untuk menyelamatkan budak Filemon (Onesimus) yang melarikan diri. Menurut hukum Roma, Onesimus dapat dihukum mati oleh tuannya. Sementara itu, dalam pelariannya, Onesimus dimenangkan bagi Tuhan oleh Paulus sehingga Paulus menulis surat untuk memperdamaikan kedua orang ini.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam kepada Filemon dan kepada jemaat di rumahnya (1 – 3)
• Mengenai pribadi Filemon, ia dipuji (4 – 7)
• Mengenai pribadi Onesimus, Paulus mengajukan permohonan baginya (8 – 17)
• Mengenai pribadi Paulus, ia menjanjikan jaminan untuk mengganti kerugian Filemon (18 – 22)
• Salam penutup dari Paulus dan teman-teman sekerjanya (23 – 25)

Surat Ibrani
Penulis kitab Ibrani tidak diketahui dengan pasti. Salah satu dugaan kuat adalah Paulus sebagai penulisnya. Surat ini dialamatkan kepada orang Yahudi yang sudah percaya. Maksud yang utama adalah membuktikan akan keunggulan kehidupan di dalam Kristus. Paulus membuktikan bahwa Kristus telah menggenapkan Taurat dan pelayanan dalam Injil lebih mulia daripada pelayanan dalam Taurat.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Yesus Kristus lebih mulia dari nabi-nabi (1:1 – 3)
• Yesus Kristus lebih mulia daripada malaikat-malaikat (1:4 – 2:18)
• Yesus Kristus lebih mulia daripada Musa dan Yosua (3:1 – 4:13)
• Keimaman-Nya lebih mulia daripada keimaman Harun (4:14 – 10:39)
• Saksi-saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita (11:1 – 12:29)
• Janganlah turut terlibat dalam kelakuan dunia, melainkan tunduklah kepada Allah dalam segala hal (13:1 – 25)

Surat Yakobus
Penulis surat ini adalah Yakobus saudara Yesus. Pada mulanya Yakobus tidak percaya sebelum kebangkitan-Nya. Yakobus menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem dan mati syahid tahun 62. Surat ini ditujukan pada keduabelas suku di perantauan, yaitu orang Kristen dari bangsa Yahudi yang mengalami banyak penderitaan. Jadi maksud Yakobus sebagai penulis adalah:
• Menghibur mereka yang menderita
• Mengajar dan menegor mereka yang menyeleweng
• Membuktikan hubungan di antara perbuatan dan iman, di mana perbuatan menjadi bukti dari iman (iman tanpa perbuatan adalah mati).

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pendahuluan (1:1)
• Pencobaan-pencobaan yang dialami mempunyai segi kebahagiaan (1:2 – 18)
• Pendengar dan pelaku Firman Tuhan (1:19 – 27)
• Iman kita dibuktikan dengan perbuatan kita (2:1 – 26)
• Ucapan-ucapan kita menyatakan iman kita (3:1 – 18)
• Persahabatan dengan dunia menjadi tantangan bagi iman kita (4:1 – 5:11)
• Doa yang sangat besar kuasanya (5:12 – 18)
• Penutup, kesempatan bagi orang yang sesat (5:19 – 20)

Surat Pertama Petrus
Penulis surat ini adalah Simon Petrus, salah satu dari kedua belas murid Yesus. Surat ini ditulis menjelang ajalnya sekitar tahun 64 – 67. Pada umumnya Petrus dan Yakobus melayani bangsa bersunat dan Paulus bangsa tidak bersunat. Surat ini menampakkan latar belakang Yudaisme. Petrus meninggal secara syahid di Roma di bawah kaisar Nero dengan di salibkan dengan kepalanya di bawah sebelum tahun 70.
Latar belakang maksud penulisan surat ini adalah untuk menjelaskan adanya anggapan beberapa orang percaya yang menganggap ada perbedaan asas-asa kepercayaan mereka tentang keadaan agama Yahudi sebagaimana terbentang dalam PL. Jadi maksud utama surat ini adalah untuk menghilangkan kesalah-pahaman itu dan maksud yang kedua adalah untuk menguatkan iman dan menghibur mereka yang sedang menderita dan yang tersebar ke mana-mana oleh karena kepercayaan mereka kepada Kristus.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan (1:1 – 2)
• Cara menanggung berbagai-bagai pencobaan dapat membuktikan iman dan pengharapan anak-anak Tuhan (1:3 – 12)
• Hiduplah sebagai orang yang hendak mewarisi kemuliaan Kristus (1:13 – 2:25)
• Kelakukan anak-anak Tuhan di antara sesamanya (3:1 – 4:19)
• Petrus membicarakan penggembalaan (5:1 – 11)
• Salam penutup (5:12 – 14)

Surat Kedua Petrus
Dalam surat ini Petrus bernubuat akan adanya guru-guru palsu, sedangkan Yudas mencatat genapnya nubuatan itu. Petrus banyak menulis tentang penyelewengan-penyelewengan berupa ajaran sesat, hari penghakiman yang akan datang, hukuman bagi penyesat-penyesat.

Ciri-ciri khas surat ini adalah:
• Pengenalan akan Kristus diuraikan dalam 1:2, 3, 5; 2:20 – 21; 3:18
• Peringatan akan kekayaan dalam kerajaan kekal diuraikan dalam 1:12, 13, 15; 3:1, 2.
• Kebinasaan orang yang murtad terhadap Allah, 1`:4; 2:1, 6, 9, 12, 19; 3:16 – 17.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam dari Petrus (1:1 – 2)
• Panggilan kepada kedewasaan dalam Kristus (1:3 – 15)
• Keunggulan berita Petrus karena itulah ilham dari Allah (1:16 – 21)
• Nabi-nabi dan guru palsu (2:1 – 22)
• Waspadalah supaya jangan kamu tersesat pada masa menjelang kedatangan Tuhan (3:1 – 18)

Surat Pertama Yohanes
Surat-surat Yohanes kira-kira ditulis pada tahun 90 di Efesus. Dalam surat ini ada tiga saran yang diberikan oleh Yohanes yaitu kebenaran Tuhan yang dialami oleh anak-anak Tuhan, kasih Allah yang berfungsi di antara sesama anak-anak Tuhan, yang menjadi tanda mutlak bagi kepercayaan seseorang, dan kepercayaanyang dipegang dengan keyakinan akan Anak Allah sebagai penyelamat dunia yang tunggal.
Maksud Yohanes dalam suratnya yang pertama ini adalah:
• Supaya sukacita kami menjadi sempurna (1:4)
• Supaya kamu jangan berbuat dosa (2:1)
• Berkaitan dengan orang-orang yang berusaha menyhesatkan, agar jemaat tetap tinggal di dalam Dia (2: 26 – 27)
• Supaya kamu tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (5:13)
Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Kesaksian Yohanes terhadap kewibawaan Firman yang hidup (1:1 – 4)
• Allah adalah terang dunia (1:5 – 2:27)
• Persekutuan anak-anak Tuhan dalam kasih-Nya (2:28 – 4:21)
• Mempraktekkan iman (5:1 – 20)

Surat Kedua dan Ketiga Yohanes
Surat kedua Yohanes ditujukan kepada keluarga tertentu. Sedangkan surat ketiga Yohanes ditujukan kepada Gayus yang menyerahkan harta dan bakatnya untuk melayani Tuhan. Baik surat kedua maupun ketiga Yohanes membahas kesediaan menerima tamu, kemurahan anak-anak Tuhan yang disalah-gunakan guru-guru palsu, dan nasihat untuk memperbaiki kehidupan orang Kristen.

Garis besar kitab surat kedua Yohanes adalah sbb:
• Salam pendahuluan (1 – 3)
• Berjalan dalam kebenaran dan dalam kasih (4 – 6)
• Waspadalah kepada ajaran yang sesat (7 – 11)
• Salam penutup (12 – 13)

Garis besar kitab surat ketiga Yohanes adalah sbb:
• Salam pendahuluan (1 – 4)
• Keramahan dan kebenaran Gayus dipuji (5 – 8)
• Dakwaan terhadap Diotrefes (9 – 11)
• Kebaikan Demetrius dipuji (12)
• Salam penutup kepada Gayus pribadi (13 – 15)

Surat Yudas
Penulis surat ini adalah Yudas, saudara Tuhan Yesus dan saudara Yakobus (penulis surat Yakobus). Surat ini ditujuikan kepada suatu jemaat Kristen tertentu atau kepada semua orang Kristen. Maksud yang ingin disampaikan adalah memperingatkan anak-anak Tuhan terhadap bahaya menghadapi guru-guru palsu yang menyusup masuk di antara mereka. Selain itu Yudas juga menasihati mereka akan kewajiban dalam membangun diri mereka di atas dasar iman yang paling suci dan untuk berdoa dalam Roh Kudus.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Salam pembukaan dan maksud si penulis surat (1 – 4)
• Hukuman Allah pada masa lampau (5 – 7)
• Sikap-sikap mereka yang sesat (8 – 13)
• Penyesat-penyesat itu menyelundup masuk untuk menjilat orang (14 – 16)
• Nasihat-nasihat terakhir dan salam penutup (17 – 25)

Surat Wahyu
Penulis surat ini adalah Yohanes, murid Tuhan Yesus yang dikasihi-Nya. Kata wahyu artinya “rahasia yang dinyatakan”. Rahasia yang dimaksud adalah nubuat-nubuat yang diberikan melalui simbol-simbol atau kiasan-kiasan yang melambangkan apa yang akan terjadi di akhir zaman. Surat Wahyu ini berasal dari penglihatan yang diterima Yohanes di Pulau Patmos kira-kira tahun 95 – 96.
Surat nubuat ini menyatakan tentang bagaimana kembali-Nya Kristus ke dunia ini terlaksana, penggenapan nubuat-nubuat pada waktu kepicikan besar itu, penghakiman dan hukuman yang akan dijatuhkan ke atas bangsa-bangsa dunia yang tidak percaya, kebinasaan iblis dengan segala penguasanya, dan kemuliaan di sorga yang akan diwarisi oleh semua anak Tuhan.
Dalam menafsirkan surat Wahyu, ada empat macam tafsiran yaitu:
• Golongan Preteristis.
Beranggapan bahwa sebagian besar surat Wahyu telah digenapi dalam sejarah gereja pada abad pertama.
• Golongan Historistis.
Beranggapan bahwa surat Wahyu adalah penggenapan pokok-pokok nubuat yang penting. Penggenapan yang terjadi sejak para rasul sampai akhir zaman dicocokkan kepada peristiwa sejarah yang terjadi dari zaman dahulu sampai masa ini.
• Golongan Idealis.
Tidak menerima surat Wahyu sebagai nubuat, melainkan ajaran rohani dengan kiasan-kiasan.
• Golongan Futuristis.
Beranggapan bahwa sebagian besar isi surat adalah nubuat-nubuat tentang peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman (4 – 22). Sedangkan Wahyu 2 – 3 adalah tujuh surat kepada jemaat-jemaat yang ditafsirkan sebagai tujuh babak dalam gereja.

Garis besar kitab ini adalah sbb:
• Prakata (1:1 – 8)
• Penglihatan pertama (1:9 – 3:22)
• Tahta di sorga dan puji-pujian di sekelilingnya (4)
• Ketujuh materai (5:1 – 8:1)
• Ketujuh sangkakala (8:2 – 14:20)
• Ketujuh malaikat dengan ketujuh cawan murka Allah (15 – 16)
• Rahasia Babel (17)
• Hukuman atas Babel (18:1 – 19:5)
• Kemenangan yang terakhir dan penyempurnaan segala sesuatu (19:6 – 21:8)
• Yerusalem baru dan suasana di Yerusalem Baru (21:9 – 22:5)
• Ajakan yang terakhir (22:6 – 17)
• Pesan-pesan yang terakhir (22:18 – 21)



Analisa Buku
Kekuatan Buku
1. Ringkas dan sistematis penyajian setiap bahan-bahan yang diberikan.
2. Memberikan analisa singkat pada tiap-tiap materi yang penting. Misalnya analisa Injil Matius (halaman 18 – 26) berisikan macam-macam hal-hal yang menarik dalam Injil Matius.
3. Sebelum masuk dalam pembahasan materi, penulis memberikan pendahuluan berupa pembahasan zaman antara PL dan PB.
4. Isi buku sangat mudah dimengerti siapapun juga karena menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana.

Kelemahan Buku
1. Pembahasan materi terlalu singkat bagi kaum akademisi. Buku ini hanya berisi sekitar 180 halaman.
2. Pembahasan kitab Wahyu tidak memberikan pandangan eskalotogi yang berbeda. Misalnya pandangan tentang kerajaan seribu tahun (halaman 179-180) tidak memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya ada beberapa penafsiran tentang hal itu.

Hal-hal Baru
1. Penyajian tentang zaman antara PL dan PB memberikan suatu perspektif pemikiran yang baru dalam memahami Alkitab secara keseluruhan.

Saran
1. Meng-up to date buku ini. Tidak jelas kapan penulisan buku, walau kelihatannya sudah cukup lama.
2. Buku ini sangat cocok digunakan sebagai buku ajar pengantar PB bagi kaum awam.

Penutup
Secara umum buku ini sangat baik sebagai pengantar PB. Buku ini sangat sistematis dan mudah dimengerti. Penulis telah mensintesiskan berbagai data-data menjadi sebuah buku yang ringkas dan berbobot. Kiranya kerja keras penulis mendapatkan apresiasi yang sesuai dan biarlah semua kemuliaan hanya bagi Dia.

Memantapkan Misi Gereja (Menjadi Umat Allah)

Pendahuluan
Buku ini ditulis oleh Robert A. Orr dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1987. Walaupun demikian, isi buku ini sebagian besar masih sangat relevan dengan keadaan di Indonesia hari ini. Sesuai dengan judulnya, buku yang terdiri dari dua belas bab ini memberikan pengertian akan arti menjadi umat Allah yang terlibat aktif dalam misi gereja sesuai dengan panggilan Allah.

Bab I: Belajar Dari Gereja-Gereja Dalam Perjanjian Baru
Sifat dan misi umat Allah timbul dari sifat dan misi Allah sendiri. Ketika Allah memanggil orang pada misi-Nya, Dia sebenarnya memanggil orang itu agar berada dalam misi-Nya. Jadi misi umat Allah adalah untuk menunjukkan kepada dunia apa yang telah diperbuat Allah, apa sedang dilakukan-Nya, dan apa yang akan dilakukan-Nya.
Perjanjian Baru memberikan penjelasan mengenai arti gereja dan umat Allah. Gereja adalah umat Allah sebagai persekutuan orang-orang yang dipersatukan di bawah kuasa dan pemerintahan Allah sebagai Raja. Umat Allah ini dipanggil keluar (dari dunia) untuk menjadi utusan-Nya, untuk suatu misi yang lebih dari sekedar menikmati persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang percaya. Dengan kata lain, sifat umat Allah dalam gereja adalah untuk menjadi orang-orang yang diutus untuk menyatakan Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat, untuk bersaksi, dan melayani sesuai dengan karunianya masing-masing. Hal ini menyangkut penyembahan, pemberitaan dan kesaksian, pemeliharaan dan pendidikan, dan pelayanan.

Bab II: Mengerti Kebutuhan Manusia
Kebutuhan adalah dorongan utama yang menyebabkan manusia melakukan sesuatu. Kebutuhan dapat disebabkan oleh suatu kekurangan atau adanya “tarikan” yang disebabkan oleh suatu keinginan. Oleh karenanya, pengertian tentang kebutuhan rohani manusia penting sekali bagi gereja dalam menentukan prioritas gereja dan pengembangan program gereja. Umat Allah hendaknya berusaha untuk melihat kebutuhan orang lain seperti Allah melihatnya.
Alkitab menyatakan manusia diciptakan segambar dengan Allah sendiri. setiap manusia mempunyai nalar, kemauan, kebebasan memilih, karunia yang unik dan kemampuan untuk bersekutu dengan penciptanya secara pribadi. Sayangnya dalam perkembangan selanjutnya manusia jatuh dalam dosa. Orang yang berdosa mempunyai ciri selalu berpusat pada dirinya sendiri dan mudah memanipulasi orang lain. Oleh karena kasih Allah, keselamatan disediakan melalui Anak-Nya, Yesus Kristus bagi manusia berdosa. Fakta akan kasih Allah ini seharusnya memberi arti dan maksud kepada pelayanan gereja.
Selain kebutuhan rohani yang menjadi prioritas dan perhatian gereja, setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar lainnya yang perlu diperhatikan gereja, yaitu:
• Kebutuhan fisiologis, yaitu dorongan bawaan dan alami yang merangsang manusia untuk mempertahankan hidup dan kesehatannya.
• Kebutuhan keamanan. Kebutuhan ini timbul pada waktu kebutuhan psikologi seseorang cukup terpenuhi. Kebutuhan ini meliputi antara lain keamanan, stabilitas, perlindungan, bebas dari rasa takut, dll.
• Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk dikasihi dan mengasihi, berinteraksi dengan orang lain, merasa diterima dan dimiliki.
• Kebutuhan akan penghargaan. Setiap orang memerlukan penilaian diri yang tinggi, yang dengan dasar yang kuat, untuk menghargai dirinya sendiri dan untuk menerima penghargaan dari orang lain.
• Kebutuhan pertumbuhan, yaitu kebutuhan untuk menjadi dirinya sendiri seutuhnya.
Selain kebutuhan di atas, gereja perlu menyadari bahwa ada juga kebutuhan manusia yang timbul karena terjadinya suatu krisis misalnya krisis pribadi (kesehatan, masalah keuangan, pekerjaan), relasional (keluarga, gereja, masyarakat, lingkungan kerja), dan faktor-faktor kontekstual (geografis, ras, pendidikan, agama, sosial ekonomi).

Bab III: Mengubah Perhatian Menjadi Tindakan Yang Bermakna
Dalam memikirkan kehidupan bergereja sebagai umat Allah, perlu untuk memikirkan maksud dan tujuan gereja ke dalam dua kategori, yaitu:
• Tujuan Dasar.
Tujuan dasar adalah apa yang ingin dicapai gereja secara berkelanjutan dan mendasar, yang timbul dari tujuan gereja yang Alkitabiah. Tujuan Berjadwal.
• Tujuan berjadwal adalah hasil yang diharapkan dari rencana yang ingin dicapai gereja dalam waktu tertentu, misalnya satu tahun atau lima tahun.

Tujuan dasar yang luas di atas dapat dipersempit menjadi tiga tingkatan pernyataan tujuan dasar gereja yaitu misi gereja, fungsi gereja, dan tugas gereja. Misi gereja memberikan gambaran alasan keberadaan gereja di dunia. Misi gereja adalah mata air di mana semua pernyataan tujuan gereja lainnya mengalir keluar. Fungsi gereja adalah pernyataan tujuan dasar yang seharusnya menuntun gereja untuk melakukan pekerjaannya dengan cara yang sesuai dengan sifat dan misinya. Tugas gereja adalah kegiatan gereja yang berkelanjutan untuk melaksanakan fungsinya dalam mencapai misinya. Tugas gereja harus sejalan dengan fungsi dan misi gereja.
Sedangkan program berkala mencakup tugas-tugas yang mengurus satu atau lebih beban yang berkelanjutan. Program berkala harus mengacu pada program dasar dalam pelaksanaannya. Contoh program berkala misalnya pelayanan keluarga, pengabdian, pengembangan dan peluasan gereja, pelayanan mahasiswa, bimbingan karier, dll.

Bab IV: Memimpin Gereja Melalui Pelayanan Penggembalaan
Dalam pelayanan gerejawi, pengertian “pendeta” adalah jabatan fungsional atau peran seorang pemimpin gereja. Sedangkan “jabatan pendeta” adalah karunia dan merupakan panggilan dari Allah menurut Efesus 4: 11. Sementara itu semua anggota gereja adalah pelayan (Ef. 4:11 – 16).
Dalam gereja Baptis, pendeta adalah pelayan utama dan pemimpin pelayanan kependetaan yang terdiri dari diakon dan staf kependetaan. Sedangkan Panitia Perancang berfungsi sebagai saluran administrasi dalam pelaksanaan program gereja. Dalam melaksanakan tugasnya, gereja memerlukan pemimpin-pemimpin pelayanan kependetaan yang mampu melaksanakan kegiatan yang bersifat kenabian, keimaman, konsultatif, dan administratif.
Tugas pelayanan kependetaan dapat dijelaskan dalam beberapa tugas sbb:
• Memimpin Gereja Dalam Mencapai Misinya.
• Memberitakan Injil Kepada Orang Yang Sudah dan Belum Percaya
• Pendampingan Bagi Anggota Gereja dan Orang Lain Dalam Masyarakat
• Menjelaskan dan Penopangan Pelayanan Gereja dan Denominasi

Bab V: Menceritakan Kristus Melalui Pengajaran Alkitab Dan Penjangkauan
Gereja yang menekankan penginjilan perlu untuk melakukan beberapa hal penting sbb:
• Menjangkau orang untuk belajar Alkitab
• Mengajarkan Alkitab
• Bersaksi kepada orang tentang Kristus dan membimbingnya kepada keanggotaan gereja
• Melayani orang yang membutuhkan
• Membimbing para anggota untuk berbakti
• Menjelaskan dan menopang pekerjaan gereja dan denominasi
Program Pelajaran Alkitab, terutama melalui Sekolah Minggu adalah sarana bagi umat Allah untuk melaksanakan tugas suci-Nya. Tugas Program Pelayanan Alkitab adalah:
• Menjangkau orang untuk mengikuti pelajaran Alkitab
• Mengajarkan Alkitab
• Bersaksi kepada setiap orang dan membimbingnya kepada keanggotaan gereja
• Melayani orang yang berkeperluan
• Membimbing anggota untuk berbakti
• Menjelaskan dan menopang pekerjaan gereja dan denominasi

Bab VI: Melengkapi Umat Allah Melalui Pendidikan Bergereja
Umat Allah perlu untuk dilengkapi untuk menjadi murid agar rencana penginjilan dapat berhasil. Dalam Amanat Agung sendiri Kristus memanggil gereja untuk melaksanakan pemuridan. Dalam Efesus 4: 11 – 16, Paulus menyerukan gereja untuk melengkapi suluruh anggotanya untuk bertumbuh kepada kedewasaan Kristen yang menuju kepada kepenuhan Kristus.
Program pendidikan bergereja dirancang untuk mencapai enam tugas sbb:
• Menjangkau orang untuk pendidikan bergereja
• Memberi orientasi kepada anggota gereja baru agar menjadi anggota yang bertenggung-jawab
• Melengkapi anggota gereja untuk pemuridan dan pelayanan perorangan
• Mengajarkan teologi Kristen dan doktrin Baptis, etika Kristen, sejarah Kristen, organisasi dan tata gereja
• Membina pemimpin-pemimpin gereja untuk melayani
• Menjelaskan dan menopang pekerjaan gereja dan denominasi

Bab VII: Melibatkan Umat Allah Melalui Pelayanan Musik
Pelayanan musik mempunyai peran yang penting bagi kehidupan umat dalam gereja. Bahkan musik dapat mengkomunikasikan Injil, menjangkau orang di luar gereja dan membangun gereja. Pelayanan musik harus melibatkan anggota gereja dalam pemuridan yang menghasilkan pemakaian telenta mereka dalam kebaktian gereja bagi kemuliaan Allah.
Pelayanan musik mempunyai lima tugas yang membantu gereja pada tugas sucinya, yaitu:
• Menyediakan pengalaman musik dalam kebaktian gereja
• Menyiapkan pendidikan musik gereja
• Memimpin gereja untuk bersaksi dan melayani melalui musik
• Menolong program gereja dalam menyediakan pelatihan ketrampilan musik dan dalam konsultasi mengenai perlengkapan musik
• Menjelaskan dan menopang pelayanan gereja dan denominasi

Bab VIII: Menceritakan Kasih Allah Melalui Pengutusan Injil
Para pemimpin Baptis mendefinisikan pengutusan Injil sebagai “apa yang dilakukan gereja-gereja dalam menjalankan Amanat Agung Tuhan untuk meluaskan kesaksian dan pelayanan mereka lebih dari pada diri mereka sendiri untuk membawa semua orang pada Kristus dan untuk memuliakan Allah”. Bagian buku ini membicarakan program dasar Wanita Baptis dan Pria Baptis dan program berkala pengembangan dan peluasan gereja yang berhubungan dengan tugas yang dibebankan padanya untuk mencapai sasaran gereja dalam bidang ini.
Organisasi Wanita Baptis dirancang untuk mencapai empat tugas gereja sbb:
• Mengajarkan pengutusan Injil
• Terlibat dalam aksi sosial dan kesaksian pribadi
• Mendukung pengutusan Injil
• Menjelaskan dan menopang pelayanan gereja dan denominasi
Sedangkan maksud organisasi Pria Baptis adalah untuk menolong kaum pria dan anak-anak lelaki dalam pengutusan Injil. Maksud ini dinyatakan dalam kegiatan pengutusan Injil, pelajaran pengutusan Injil, dukungan pengutusan Injil, dan pelayanan pribadi. Tugas Pria Baptis adalah sbb:
• Melibatkan diri dalam kegiatan pengutusan Injil
• Mengajarkan pengutusan Injil
• Berdoa dan memberi bagi pengutusan Injil
• Mengembangkan pelayanan pribadi
• Menjelaskan dan menopang pelayanan gereja dan denominasi

Program pengembangan dan perluasan gereja secara aktif berusaha memperluas gereja dan bekerja-sama dengan organisasi atau pribadi. Program ini akan menolong gereja untuk peka terhadap daerah yang belum di masuki Injil, kelompok suku terabai, kebutuhan sosio-ekonomi, bangsa lain dan gaya hidup. Dalam program ini wanita Baptis bekerja-sama dengan Pria Baptis. Adapun tugas-tugasnya adalah sbb:
• Memperkenalkan kebutuhan dan kesempatan perluasan gereja
• Mengembangkan strategi perluasan jemaat
• Membentuk gereja-gereja baru
• Mendukung dan menguatkan program Wanita Baptis dan Pria Baptis

Bab IX: Menjangkau Orang Bagi Kristus
Menjangkau orang bagi Kristus melalui pengabaran Injil adalah tugas mendasar bagi umat Allah. Oleh karenanya, pengabaran Injil seharusnya menjadi inti dari semua program gereja sesuai tugasnya. Diperlukan sebuah program berkala penginjilan dengan tugas yang dirancang untuk mengembangkan dan melaksanakan strategi yang efektif untuk menceritakan Injil kepada semua orang dengan menggunakan pesan, metode-metode, motivasi dan semangat penginjilan Perjanjian Baru.
Untuk mencapai misi gereja, program berkala penginjilan perlu menjalankan tiga tugas sbb:
• Melibatkan gereja dalam penginjilan dengan mengembangkan strategi penginjilan gereja yang menyeluruh
• Mengikut-sertakan anggota gereja dengan penginjiolan perorangan
• Menjangkau orang bagi Kristus melalui peristiwa-peristiwa khusus dan penginjilan massa.

Bab X: Menyediakan Pelayanan Yang Dianggap Penting Oleh Gereja
Suatu program berkala menolong gereja menyelaraskan keperdulian utamanya pada fokus yang seharusnya dengan menunjukkan kebutuhan, menyarankan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan, dan kerja sama melalui Panitia Perancang. Bagian ini membahas empat program berkala yaitu:
• Pelayanan keluarga
Tugas pelayanan keluarga adalah melayani kebutuhan pasutri, orang tua dan anak-anaknya, manula dan bujangan. Pelayanan ini menolong gereja untuk membuat program untuk memenuhi kebutuhan orang-orang tersebut di atas yang berbeda satu dengan lainnya.
• Pengabdian
Pengabdian bukanlah kegiatan gereja mencari dana secara modern. Pengabdian berlandaskan pada Alkitab sejak penciptaan karena kita dijadikan pengelola atas ciptaan Allah yang lain (Kej. 1:28). Jadi pengabdian memerlukan perencanaa, kepemimpinan dan pendidikan serta berpusatkan pada gereja. Bentuk tanggung-jawab pengabdian adalah: a). kita bertanggung-jawab akan bagaimana cara mendapatkan penghasilan; b). kita bertanggung-jawab akan pemakaian uang; c). kita bertanggung-jawab akan pemberian kita; d). kita bertanggung-jawab untuk merencanakan penggunaan milik kita pada hari akhir kita.
• Bimbingan karier
Umat Baptis mengakui setiap manusia berharga dan unik sehingga pilihan bidang karier seseorang sangat penting bagi gereja. Selain itu, setiap orang hendaknya memandang pekerjaannya sehari-hari sebagai bagian dari pandangan Kristianinya. Dengan demikian, program berkala bimbingan karier menjalankan satu tugas bagi gereja yaitu mendidik dalam pekerjaan Kristen dan membimbing seseorang dalam pekerjaan yang berhubungan dengan gereja dan penyesuaiannya. Secara konkrit, program ini menolong gereja dalam menolong seseorang untuk menemukan dan mengerti dengan jelas akan minat, bakat, karunia, dan kemampuan mereka dalam hubungan mereka dengan Allah dan orang lain.
• Pelayanan mahasiswa
Pelayanan mahasiswa bertujuan untuk menolong gereja memenuhi misinya dengan membimbing para mahasiswa dan orang lainnya dalam lingkungan akademik untuk beriman kepada Allah, membimbing dalam pertumbuhan dan pemuridan, dan melibatkan mereka dalam keanggotaan gereja yang bertanggung-jawab. Secara singkat tugas-tugas pelayanan mahasiswa adalah: a). bersaksi tentang Kristus; b). membimbing mahasiswa agar menjadi anggota gereja yang bertanggung-jawab; c). mengembangkan pelayanan kepada orang lain; d). membimbing mahasiswa mengambil keputusan dalam kehidupan; e). melibatkan mahasiswa dalam pelajaran Alkitab dan iman Kristen; f). melibatkan mereka dalam pengutusan Injil; g). membimbing mereka dalam berbakti; h). membangun persekutuan Kristen; i) melibatkan mereka dalam masalah dunia dan aksi sosial.

Bab XI: Menolong Gereja Agar Berfungsi Secara Efektif
Hari ini kita hidup dalam zaman informasi. Kemajuan zaman telah merubah kehidupan masyarakat. masyarakat menjadi semakin kompleks dan menjurus kepada spesialisasi. Kemajuan ini juga berdampak pada gereja sehingga muncul kebutuhan-kebutuhan baru dalam program gereja. Umat Baptis Selatan mendapati adanya tiga program gereja yang dapat mendukung seluruh program gereja dalam memenuhi misinya. Ketiga program itu adalah:
• Perpustakaan Media
Perpustakaan media dirancang untuk mempersatukan usaha gereja dengan melibatkan media dalam kehidupan para anggotanya dan pekerjaan program-programnya. Tiga hal yang dilakukan adalah menyediakan media dan pelayanan media perpustakaan, mempromosikan penggunaan media dan pelayanan media perpustakaan, dan melatih orang agar trampil dalam penggunaan media.
• Pelayanan Rekreasi
Tugas pelayanan rekreasi adalah menyediakan metode, materi, jasa, dan pengalaman yang akan meningkatkan mutu kehidupan orang, serta mendukung misi keseluruhan gereja. Bentuknya antara lain adalah rekreasi sosial, olah raga, drama, perkemahan, retret, dsb.
• Pelayanan Administrasi
Tugas pelayanan administrasi adalah menolong gereja merencanakan program, mengelola sumber-sumbernya, dan mengurus kehidupan dan pekerjaan gereja.

Bab XII: Penitia Perancang Gereja
Gereja yang efektif harus mengkoordinasikan semua kegiatan dan program gereja secara harmonis. Koordinasi dalam gereja Baptis dilakukan dalam tiga tingkatan yaitu:
• Koordinasi keseluruhan program gereja: Panitia Perancang
Panitia perancang melayani sebagai forum para pemimpin untuk membimbing perencanaan, mengkoordinir dan mengevaluasi seluruh pekerjaan gereja.
• Koordinasi pekerjaan setiap program gereja: Pengurus Program
Setiap program gereja mempunyai beberapa petugas dan membawahi beberapa organisasi untuk menentukan jalannya, mengkoordinir usaha-usaha dalam program, dan menghubungkan mereka dengan panitia perancang.
• Koordinasi pelayanan bagi kelompok menurut umur dalam sebuah program: Koordinator atau ketua bagian
Koordinasi bagian ini dapat dilakukan dengan koordinasi sendiri, panitia koordinasi, atau koordinator kelompok menurut umur. Untuk menentukan pendekatan yang dipilih, bergantung pada ukuran gereja dan keragaman organisasi dalam kelompok menurut umur itu sendiri.

Penutup: Menjadi Umat Allah? Pelayanan Terpadu Gereja Baptis
Bagian penutup buku ini sangat menggelitik hati dan pikiran. Di sini penulis menyatakan refleksi pribadinya tentang menjadi umat Allah. Ketika semua hal telah tersedia (Tuhan telah siap, kuasa-Nya disediakan, program gereja tersedia), bagaimana tanggapan kita sebagai umat Allah?. Akankah tetap pasif atau akan menjawab dan menjalankan panggilan Allah?. Akankah kalimat “Menjadi umat Allah” akan diakhiri dengan tanda tanya atau tanda titik.

Kekuatan Dan Kelemahan Buku

Kekuatan Buku
1. Mengingat jumlah buku yang membahas topik penatalayanan gereja yang misioner sangat langka jumlahnya di toko-toko buku Kristen, maka kekuatan buku yang pertama adalah adanya buku ini sendiri.
2. Sistematis dalam penulisan dan alur pikirannya sehingga mudah dipahami, bahkan oleh orang awam.
3. Dilengkapi dengan “kegiatan belajar sendiri” pada setiap topik bahasan sehingga membantu pembaca lebih meresapi isi buku.
4. Seringkali pada akhir pembahasan suatu bab, penulis mencantumkan kutipan berupa ucapan seorang tokoh. Kutipan itu sesuai dengan topik bahasan sehingga memberi kesan yang kuat pada pembacanya.

Kelemahan
1. Kelemahan buku ini adalah kurang up to date-nya pembahasan akan kebutuhan jemaat dan gereja masa kini. Sebagai contoh, buku ini masih menekankan program menurut kelompok umur. Dewasa ini masyarakat lebih tertarik dengan sebuah komunitas yang mempunyai minat yang sama tanpa memandang batasan umur. Hal ini dapat dipahami karena buku ini ditulis 23 tahun yang lalu di mana memang hal ini belum muncul.
2. Pembahasan buku terlalu ringan dan kurang mendalam bagi orang yang belajar teologi, tetapi pas untuk kaum awam.

Implementasi Dalam Pelayanan Pendidikan di Gereja
Langkah-langkah implementasi dapat mengacu pada strategi misi yang dipakai oleh Edward R. Dayton dan David A. Fraser “Planning Strategies For World Evangelization”, halaman 43. Langkah-langkah buku ini sangat pantas untuk menjadi salah satu buku acuan bagi pendidikan kaum awam di gereja.
1. Tentukan misi yang akan dilakukan
Misinya adalah melakukan pelayanan pendidikan di gereja.
2. Tentukan orang-orang yang akan dijadikan sasaran
Sasarannya adalah semua anggota jemaat gereja.
3. Tentukan tenaga yang akan dipakai untuk pelatihan
Para diakon dan panitia perancang.
4. Telitilah sarana dan metode pelatihan yang akan digunakan
Pertama-tama pendeta menyiapkan bahan-bahan pelatihan. Kemudian melatih para diakon dan panitia perancang. Kemudian merekalah yang mensosialisasikan dan melatih anggota jemaat. Satu periode pelatihan ditentukan selama enam bulan sampai satu tahun.
5. Tetapkan pendekatan yang akan dipakai
Pendekatannya adalah kekeluargaan agar jemaat tidak merasa dipaksa tetapi melakukannya tanpa tekanan.
6. Perhitungkan hasil-hasil yang diharapkan
Diharapkan hasil akhirnya adalah jumlah anggota gereja bertambah 100% dalam waktu satu tahun setelah selesainya pelatihan.
7. Lakukan pembagian tugas
Pada tahap pertama, pembagian tugas dapat dilakukan di antara pendeta, diakon, dan panitia perancang. Pada tahap berikutnya, para kativis dapat dilibatkan sehingga proses pemuridan dapat bergulir.
8. Buatlah rencana
Rencana sosialisasi dan rencana pelaksanaan ditentukan bersama panitia perancang. Kira-kira 1 – 3 bulan.
9. Bertindaklah
Melakukan apa yang sudah direncanakan dan disepakati bersama. Tentukan tanggal pasti awal program dan akhir program.
10. Adakan evaluasi
Mengadakan evaluasi segera setelah program pendidikan selesai dan tiap tahun setelah selesainya pendidikan. Setiap evaluasi harus memberikan “feedback” kepada pelaksanaan program berikutnya.

Studi Perjanjian Baru: Injil Yohanes

Pendahuluan
Injil Yohanes adalah salah satu bagian dari keempat Injil dalam Alkitab. Sebagai sebuah kitab Injil, Injil Yohanes mempunyai keunikan dibanding ketiga Injil lainnya. Secara materi tulisan, ketiga Injil lainnya mempunyai banyak kesamaan sehingga dinamakan Injil Sinoptik. Sedangkan Injil Yohanes mempunyai materi tulisan yang paling banyak perbedaannya dibandingkan ketiga Injil lainnya. Hal inilah yang membuat Injil Yohanes unik dan sangat menarik untuk dipelajari secara mendalam.
Makalah ini ditulis sebagai tugas awal mata kuliah Studi Perjanjian Baru “Injil Yohanes”. Makalah ini berisi latar belakang Injil Yohanes secara lengkap, eksposisi Yohanes 21:1 – 14, dan aplikasi praktis dari perikop di atas. Pada bagian akhir penulis menutup makalah dengan sebuah kesimpulan.

Latar Belakang Historis
Seperti yang ditulis dalam pendahuluan, Injil Yohanes mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan ketiga Injil yang lain. Sang penulis mempunyai cara pandang sendiri terhadap kehidupan dan karya Yesus. Penulis tidak bermaksud untuk mengulang-ulang hal-hal yang sudah ditulis oleh penulis Injil lainnya melainkan berdasarkan pengetahuan itu, menembus sampai kepada intisari kabar sukacita. Bahkan Tenney menyatakan Injil Yohanes mungkin yang paling berharga di antara keempat Injil kanonik. Lebih lanjut beliau mengatakan meskipun Injil Yohanes memuat tentang wawasan peristiwa yang sama dengan kitab Injil lainnya, Ia sangat berbeda dalam struktur maupun gayanya. Ia tidak memuat kisah perumpamaan (secara spesifik) dan hanya mencatat tujuh mujizat. Injil ini sangat bercorak teologis dan membahas sifat-sifat pribadi Yesus dan makna beriman pada-Nya.

Penulis Injil Yohanes
Untuk menentukan siapa penulis Injil Yohanes tidaklah mudah. Ada beberapa ahli yang berbeda pendapat walau tidak mempengaruhi otoritas Injil Yohanes. Injil Yohanes sendiri tidak menyebutkan nama penulisnya. Satu-satunya keterangan yang diberikan tentang penulisnya adalah “murid yang dikasihi (21:20; 23 – 24) dan sahabat dekat Petrus.
Pada umumnya ada dua pendapat tentang penulis Injil Yohanes yaitu:
1. Pandangan secara tradisi.
Tradisi jemaat menyebutkan penulisnya adalah Yohanes. Hanya saja ada dua nama Yohanes dalam hubungannya dengan kitab Injil keempat yaitu Rasul Yohanes dan penatua Yohanes. Sedangkan Irenaeus menyatakan yang disebut “murid yang dikasihi” adalah Rasul Yohanes. Pendapat ini mendapat dukungan dari banyak ahli seperti Tenney , Chapman , Duyverman , dan Guthrie, Motyer, Stibbs dan Wiseman .
2. Pandangan kontemporer.
Pfeiffer dan Harrison sendiri cenderung mengatakan bahwa Rasul Yohanes adalah penulisnya. Walaupun demikian mereka juga mencatat pendapat banyak sarjana modern yang menganggap seorang murid tidak dikenal yang menulis Injil ini sekalipun sebagian besar bahannya berasal dari Yohanes. Penyebab keraguan akan kepenulisan Yohanes disebabkan persoalan apakah seorang yang tidak berpendidikan dan tidak berpengalaman (Kis. 4:13) dapat menulis karya semacam itu dan adanya perbedaan gaya kepenulisan kitab Wahyu dan tulisan-tulisan Yohanes lainnya. Sementara itu Morris mengungkapkan ada ahli-ahli tertentu yang mempunyai kecenderungan kuat untuk menganggap ada sekelompok orang Kristen mula-mula yang memiliki pandangan yang berbeda dengan penulis Injil Sinoptik sebagai penulis Injil ini.

Seperti yang dikatakan di atas, untuk mengetahui siapa penulis Injil Yohanes tidaklah mudah dan sederhana. Penafsiran, presuposisi dan hipotesis para ahli yang begitu luas menjadikannya sulit untuk mendapatkan pendapat yang tunggal. Walaupun demikian, penulis secara pribadi setuju dengan uraian panjang lebar yang diberikan oleh Donald Guthrie untuk memilih Rasul Yohanes sebagai penulis Injil ini.

Maksud Penulisan
Setiap kitab Injil yang ditulis mempunyai maksud-maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Demikian juga Injil Yohanes mempunyai beberapa tujuan-tujuan yang ingin disampaikan oleh penulisnya kepada pembacanya. Sebuah tujuan kitab Injil yang utama dan umum adalah untuk meyakinkan dan mempertahankan suatu keyakinan penulisnya kepada para pembacanya. Selain tujuan utama tersebut, Injil Yohanes ditulis dengan berbagai maksud lainnya, baik yang sudah pasti maupun yang masih berupa teori, yaitu:
1. Untuk meyakinkan anak-anak Tuhan (Yoh. 20:31), “Supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”
2. Yesus Kristus ada dari kekal (Yoh. 16:28), “Aku datang dari Bapa……dan Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
3. Yesus datang untuk milik-Nya (Yoh. 1:11 – 12), “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.”
4. Penolakan terhadap Dosetisme (pandangan yang tidak menerima kemanusiaan Yesus).
5. Mengungkapkan bahwa Yudaisme adalah sistem keagamaan yang tidak memadai karena menolak Mesias yang dijanjikan (1:11) .
6. Untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan pekerjaan Yesus yang sudah ada pada masa itu dan yang sudah dinyatakan secara tertulis dalam Injil Sinoptik.
7. Menyajikan hubungan yang sebenarnya antara Yesus dan Yohanes Pembaptis.
8. Mengkoreksi kesalah-mengertian eskalotogis atau sakramental.
9. Teori bahwa Injil Yohanes ditulis bagi orang Yahudi yang tidak percaya.
10. Pandangan bahwa Yohanes sedang melawan Gnostikisme.
11. Teori bahwa Yohanes menghadirkan kekristenan Yunani.
12. Dugaan bahwa Yohanes mengkoreksi pengkultusan Yohanes Pembaptis.
13. Gagasan bahwa Yohanes menangani polemik di antara jemaat.
14. Dugaan bahwa Yohanes mau menyajikan tradisi yang sesuai dengan pemakaian liturgis.

Waktu Penulisan
Para ahli mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang waktu penulisan Injil Yohanes. Sesungguhnya waktu penulisan Injil ini terbuka luas karena tidak adanya keterangan lain untuk dijadikan bahan perbandingan. Bahkan ada sebuah hipotesa yang menduga Injil ini telah melalui dua edisi. Hal ini terjadi karena kata pengantarnya bersifat Yunani sedangkan sisanya bersifat sangat Yahudi. Selain hal ini, ada yang menduga bahwa Yohanes 20:30 – 31 sebagai akhir yang logis dari Injil ini (bukan pasal 21). Dua hal ini membuat munculnya hipotesa yang mengatakan bahwa kata pengantar dan pasal 21 telah ditambahkan pada waktu Injil ini disiapkan untuk kebutuhan kelompok baru oleh penulisnya. Sebenarnya alasan Rasul Yohanes menambahkan satu pasal terakhir adalah Rasul Petrus, sahabat dekatnya dalam pelayanan (Kis. 3:1). Yohanes tidak ingin mengakhiri Injilnya tanpa menyampaikan kepada pembaca-nya bahwa Petrus telah dipulihkan kembali dalam panggilan kerasulannya. Tanpa pasal 21 para pembaca akan bertanya-tanya mengapa Petrus sangat menonjol dalam dua belas pasal pertama Kisah Para Rasul.
Secara kronologis penulisan, pandangan para ahli yang berbeda-beda tentang waktu penulisan Injil Yohanes adalah sebagai berikut:
1. Tahun 40 – 65 M.
J. A. T. Robinson mengemukakan pendapatnya tentang kemungkinan kitab ini merupakan Injil tertua dari semua kitab Injil. Jika hal ini benar, maka semua keberatan para ahli lain terhadap anggapan bahwa Rasul Yohanes adalah penulisnya akan secara efektif gugur.
2. Tahun 70 – 100 M.
Menurut Drane, pilihan ini adalah pendapat sebagian besar para ahli. Para bapa gereja juga menyatakan kitab Injil ini ditulis oleh Rasul Yohanes pada akhir kehidupannya yang panjang.
3. Tahun 80 – 90 M.
Pendapat ini diberikan oleh Pfeiffer dan Harrison. Mereka mengatakan bahwa Injil yang ditulis Rasul Yohanes menunjukkan pengenalannya akan tradisi Sinoptik dan karenanya harus diletakkan pada akhir rangkaian Injil ini. Hal ini diperkuat dengan penemuan berbagai bagian Injil ini di Mesir pada belahan pertama abad kedua. Hal ini menunjukkan penulisan Injil ini adalah pada waktu abad pertama.
4. Tahun 80 – 100 M.
Chapman berpendapat bahwa Injil Yohanes ditulis satu generasi setelah ditulisnya Injil-Injil yang lain.
5. Tahun 40 – 140 M.
Goodenough berpendapat tahun penulisan Injil ini adalah tahun 40. Sedangkan Tatianus mengutip Injil ini pada sekitar pertengahan abad kedua. Kedua hal ini menunjukkan Injil ini ditulis paling cepat tahun 40 M dan paling lambat tahun 140 M. walaupun demikian, nampaknya jawaban yang paling tepat adalah menjelang akhir abad pertama.
6. Tahun 90 – 110 M.
Guthrie menyatakan mayoritas ahli memilih penanggalan ini dengan beberapa alasan sebagai berikut:
 Bukti eksternal bagi pemakaian awal Injil Yohanes.
Bukti paling awal adalah Papirus Rylands 457 yang berasal dari abad kedua. Penemuan ini bersama penemuan Papirus Egerton 2 secara efektif membuktikan penulisan Injil ini pada abad pertama.
 Situasi historis.
Berdasarkan situasi historis, diasumsikan Injil ini ditulis sebelum sekte-sekte Gnostik ditata dengan baik.
 Relasi dengan Injil Sinoptik.
Jika Yohanes mengenal Injil Sinoptik (terlepas apakah ia memakainya sebagai sumber) maka Injil Yohanes pasti ditulis setelah tahun 85 M karena Injil Matius ditulis pada tahun 80 – 85 M.
 Pengaruh penulis terhadap penanggalan.
Kesaksian Irenaeus bahwa Yohanes hidup sampai bertahtanya Trajan, menempatkan Injil ini pada dekade akhir abad pertama. Dengan kata lain, jika Rasul Yohanes adalah penulisnya, maka Injil ini tidak mungkin ditulis setelah tahun 100 M.

Tempat Penulisan
Berbeda dengan adanya sedikit kesulitan yang dihadapi untuk menentukan waktu penulisan, para ahli umumnya mempunyai pendapat yang sama tentang tempat penulisan Injil ini. Secara aklamasi, para ahli yang setuju dengan kepenulisan Rasul Yohanes akan Injil ini menyatakan Injil ini ditulis di kota Efesus. Tenney mengatakan saat itu pertumbuhan gereja sudah mencapai kematangannya dan sudah timbul kebutuhan akan ajaran yang lebih lanjut tentang kaidah iman.
Sebuah pendapat yang agak berbeda diajukan oleh Drane dengan mengatakan bahwa mungkin Injil ini mula-mula ditulis di Palestina untuk menunjukkan “Yesuslah Mesias” (Yoh. 20:31. Sedangkan kata pengantar dan kata penutup (Yoh. 21) memberi kesan bentuk akhir Injil ini mungkin ditujukan kepada sebuah jemaat Kristen Yahudi di sebuah tempat di dunia Helenis, mungkin di Efesus. Walaupun demikian, secara umum para ahli memberikan jawaban kota Efesus sebagai jawaban atas pertanyaan tempat penulisan Injil ini.

Penulisan Ditujukan Kepada Siapa
Setiap penulis kitab injil mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai lewat tulisannya. Berarti setiap penulis Injil mempunyai tujuan secara jelas kepada siapa Injil itu akan dibaca. Injil Matius ditulis bagi orang Yahudi, Injil Markus ditulis bagi orang Roma, Injil Lukas ditulis bagi orang Yunani, dan Injil Yohanes ditulis bagi semua orang.
Tenney mengatakan semua Injil memang dimaksudkan untuk menanamkan keyakinan pada mereka yang membaca atau mendengar orang membacakannya untuk mereka. Injil Yohanes dimaksudkan bagi mereka yang telah memiliki sedikit minat filsafat, seperti yang tertulis dalam kata pembukanya, dan yang memiliki keinginan sama dengan Filipus: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (14:8).
Jadi para ahli di atas menyatakan Injil Yohanes ditujukan kepada semua orang, bukan ditujukan kepada suatu golongan masyarakat tertentu. Injil Yohanes bukanlah suatu biografi tetapi lebih dekat pada traktat Injil yang disipkan dengan cermat. Ia memberikan bukti-bukti yang dipilih secarfa khusus, ia hanya memasukkan tujuh mujizat Yesus yang biasanya dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih dalam tentang apa yang dikerjakan Yesus. Yohanes juga mengetengahkan para saksi mata satu persatu dan menjelaskan banyak istilah dan adat istiadat Yahudi yang mengindikasikan Injil ini tidak ditujukan bagi orang Yahudi.

Eksposisi Yohanes 21:1 -14
1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
Alasan mengapa para murid datang ke Galilea adalah untuk memenuhi pesan malaikat yang menampakkan diri kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain (Matius 28:7). Pesan ini kemudian diulangi oleh Yesus sendiri (Matius 28:10). Ayat ini (Matius 28:10) adalah alasan mengapa mereka ada di Galilea tetapi sebenarnya setelah Amanat Agung (Matius 28:18 – 20) diberikan oleh Yesus kepada mereka, tidak ada alasan jelas mengapa mereka masih tetap tinggal di Galilea, bahkan pergi ke danau Galilea.

2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
Ada tujuh orang murid yang ada di danau Galilea. Tidak jelas di mana murid-murid yang lain, apakah mereka belum sampai di danau Galilea ataukah mereka sudah meninggalkan Galilea untuk melaksanakan Amanat Agung.

3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
Pada ayat ini Petrus menunjukkan karismanya dalam memimpin teman-temannya sekaligus menunjukkan sifatnya yang suka menuruti kata hati dan cepat bertindak. Keinginan Petrus untuk menangkap ikan tidak berarti dia meninggalkan tugas dari Yesus. kata yang dipakai adalah “pergi, υπαγω” bukan “bekerja”. Jadi kemungkinan mereka pergi mencari ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Peristiwa kegagalan mereka menangkap ikan sama persis dengan kejadian yang dicatat dalam Lukas 5:5.

4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
Setelah hari mulai terang Yesus berbicara kepada mereka tapi mereka tidak tahu kalau orang yang berbicara kepada mereka adalah Yesus. Yesus memakai istilah “anak-anak, παιδία” yang berarti anak-anak kecil. Tentunya yang dimaksud Yesus bukan karena mereka anak-anak secara usia melainkan mereka belum dewasa secara rohani (dan memang mereka adalah anak-anak-Nya secara rohani). Kemudian Yesus menanyakan sebuah pertanyaan (adakah kamu mempunyai lauk-pauk?) yang tentunya sudah diketahui-Nya jawabannya. Ternyata mereka menjawab dengan jujur “Tidak ada”. Jawaban ini jujur walaupun sebenarnya memalukan karena bagaimana mungkin nelayan yang bekerja semalam suntuk tidak mendapat hasil apa-apa.

6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
Kembali ayat ini mengikatkan kita pada Lukas 5:5. Hanya saja paling tidak ada dua perbedaan, yaitu pada peristiwa dahulu yang dicatat oleh Lukas, Petrus tahu dengan jelas siapa yang menyuruhnya, yaitu Yesus yang dikenal sebagai guru. Pada kesempatan ini Petrus tidak mengenali Yesus dan baginya saat itu yang menyuruhnya adalah “hanya seseorang yang tidak dikenal”. Mengingat hal ini, rupa-rupanya Petrus dan teman-temannya sudah benar-benar putus asa sehingga menuruti perintah “orang asing”.
Hal kedua yang berbeda ada pada ayat 11.

7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
Kalimat “murid yang dikasihi Yesus” mengacu pada Rasul Yohanes yang memang paling dikasihi oleh Yesus. Oleh karenanya tidak mengherankan Yohaneslah yang paling tanggap dalam mengenali Yesus.
Ketika mendengar kata-kata Yohanes, Petrus segera saja terjun ke dalam danau. Sekali lagi hal ini sungguh cocok dengan karakter Petrus yang suka menuruti kata hatinya. Sedangkan teman-teman lainnya mengikuti dengan mendaratkan perahunya dengan menyeret hasil tangkapannya.

9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
Di sini kita melihat Yesus menyediakan makanan bagi para murid. Sangat menarik, ternyata Yesus hanya menyediakan satu ikan (οψαριον) dan satu roti (αρτον).

10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
Pfeiffer dan Harrison berkata bahwa beberapa ikan itu tidak digunakan untuk menambahi “satu ikan dan satu roti” (ay. 9) yang sudah tersedia. Memang tidak ada keterangan yang menyatakan kebalikannya. Hal ini berarti Yesus mencukupkan satu ikan dan satu roti bagi para murid.

11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
Hal kedua (lihat ayat 6) yang berbeda adalah pada peristiwa dahulu Lukas mencatat jaring ikan mereka sampai sobek karena banyaknya hasil tangkapan. Sedangkan Yohanes justru mencatat “ke-tidak” sobekan jaring mereka.

12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
Kembali Yesus memberikan teladan untuk melayani para murid-Nya. Yesus dahulu dan sekarang tidak berubah. Dalam situasi yang mengharukan itu, para murid tahu dengan jelas siapa pribadi yang melayani mereka. Jika kita membaca perikop berikutnya, jelas terlihat kebijaksanaan Yesus. Sebelum memberikan tugas kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, Dia menyediakan makanan secukupnya. Jelas Dia tidak ingin hamba-Nya untuk melayani dengan perut yang lapar.

13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
Pink memberikan penafsiran yang sangat indah: Yesus tidak lagi mengucap syukur kepada Allah sebelum makan seperti kebiasaan-Nya dahulu sebelum kematian dan kebangkitan-Nya. Dahulu sebagai manusia sejati, Dia selalu mengucap syukur kepada Allah. Kini sebagai Allah yang sejati, Dia berotoritas untuk memberikan roti dan ikan kepada mereka. Hal yang kedua adalah Yesus memberikan contoh teladan melayani para murid.

14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Yohanes mencatat peristiwa Yesus menampakkan diri sebanyak tiga kali. Hal ini tidak berarti Yesus hanya menampakkan diri sebanyak tiga kali saja setelah kebangkitan-Nya. Hanya saja Yohanes mencatatnya tiga kali, tetapi berapa kali sebenarnya Dia menampakkan diri, tidak diketahui dengan pasti dan kita tidak perlu berspekulasi tentang hal itu.

Aplikasi Praktis Yohanes 21:1 -14
1 Panggilan Tuhan (ayat 1 – 2)
Sebenarnya alasan ketujuh murid pergi ke danau Galilea tidak jelas. Di pihak lain, panggilan mereka untuk menjalankan Amanat Agung sangat jelas. Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita melakukan hal yang sama. Sementara panggilan Tuhan sangat jelas bagi kita, kadang kita justru melakukan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan panggilan Tuhan itu. Hal itu tidak berarti kita menguasai situasi karena Tuhan tetap memegang kendali.

2 Ketetapan Tuhan pasti terjadi (ayat 3).
Ketika kita “melarikan diri” dari panggilan Tuhan, Dia dapat menggunakan segala macam cara untuk membuat kita akhirnya menyerah dan melakukan kehendak-Nya. Ayat ini membuktikan hal itu. Ketika seorang nelayan kawakan dengan waktu yang tepat (menangkap ikan pada malam hari adalah yang paling besar peluangnya) dan dengan alat yang tepat (perahu dan jaring) gagal menangkap seekor ikanpun, hal itu adalah mujizat yang dipersiapkan untuk kemuliaan Tuhan. Jadi mujizat bukan sekedar ketika hasil tangkapan berlimpah, tetapi ketika hasil tangkapan mengecewakan-pun, hal itu juga mujizat yang dilakukan Tuhan bagi kemuliaan nama-Nya.

3 Providensia Allah (ayat 4 – 8).
Ketika Yesus menampakkan diri, mereka tidak mengenali-Nya, bahkan sampai Yesus membuka percakapan, mereka tetap belum mengenali-Nya. Dalam hidup sehari-hari kitapun kadang berlaku seperti para murid. Kita ingin Tuhan berbicara dan ketika Dia berbicara, kita tidak sadar siap yang berbicara.
Dalam keadaan sesulit apapun, kasih pemeliharaan Yesus selalu menyertai, bahkan ketika kita belum sadar akan penyertaan-Nya, Dia sudah menyertai. Dalam keadaan ini kembali Dia melakukan mujizat kedua (dalam perikop ini) dengan membuat jaring mereka penuh dengan ikan tangkapan sampai tidak dapat ditarik ke atas perahu karena banyaknya ikan.
Ketika hal itu terjadi, sadarlah Yohanes siapa “orang” itu sebenarnya. Di sini ada dua reaksi yang berbeda antara Petrus dan murid lainnya. Petrus mengikuti kata hatinya, terjun ke danau. Murid lainnya mendarat dengan perahunya dan menghela hasil tangkapan. Dua reaksi yang berbeda ini tidak dicela maupun dipuji oleh Yesus. Jadi prinsip yang dapat ditarik adalah Tuhan tidak melihat reaksi lahiriah melainkan melihat hati manusia.

4 Pertolongan Tuhan tuntas (ayat 9 – 11).
Yesus hanya menyediakan satu ikan dan satu roti bagi para murid. Tentu saja Dia mencukupkan kebutuhan para murid dari satu ikan dan satu roti dengan memperbanyaknya. Jala yang tidak koyak juga sebuah hal yang tidak dapat diterima rasio. Ketika ikan yang dijala tidak dapat ditarik masuk ke dalam kapal, nelayan justru akan menyobek jalanya sedikit dan mengeluarkan sedikit ikan agar jalanya tidak mengalami sobek besar. Hal ini dilakukan karena ikan yang tidak segera ditarik masuk ke kapal akan mati dan ikan yang mati membuat beban yang ditanggung jala semakin berat. Sedangkan ikan yang hidup akan berlompatan di dalam jaring sehingga beban jaring menjadi ringan. Jadi ikan yang mati hanya menambah beban jaring (pengetahuan ini penulis dapatkan dari pengalaman para nelayan). Dari sini kita belajar bahwa Tuhan sungguh berkuasa dan pertolongannya tuntas. Kiranya tiga ayat ini dapat memberikan hiburan akan totalitas pertolongan Tuhan bagi semua anak-anak-Nya.
5 Teladan Yesus (ayat 12 – 14).
Yesus memberi teladan dalam melayani kebutuhan makan para murid. Sebelum meninggalkan mereka Tuhan memberikan pelajaran penting (mengingatkan) dalam kepemimpinan dengan melayani (servant leadership). Seorang pemimpin adalah seorang hamba yang memberikan diri untuk melayani. Keteladanan Yesus diberikan melalui contoh tindakan nyata, kiranya kitapun meneladaninya dengan tindakan nyata pula, tidak sekedar berkata-kata.

Kesimpulan
Kesulitan untuk menentukan satu jawaban pasti akan siapa penulisnya, waktu penulisan, apakah Injil ditulis dengan dua edisi atau tidak, dsb tidak pernah mengurangi otoritas Injil Yohanes. Semua ahli tidak ada yang meragukan keabsahan Injil ini. Jadi hal-hal sekunder tidak boleh mempengaruhi hal primer.
Yesus sungguh-sungguh menyelesaikan tugas-Nya di dunia secara tuntas. Sampai pada akhirnya, Dia tidak pernah meninggalkan mereka dan kita, apapun situasinya. He done it in His way, on His love. Soli Deo Gloria.

Mengenal Tata Gereja Baptis

Mengenal Tata Gereja Baptis
(Lee H. McCoy)

Pendahuluan
Buku ini ditulis oleh Lee H. McCoy dengan judul asli “Understanding Baptist Polity”. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh STBI pada tahun 1989. Buku ini terdiri dari delapan bab yang pada dasarnya membahas aspek-aspek tata gereja berdasarkan Perjanjian Baru.

Bab 1: Pengertian Mengenai Tata Gereja dan Pemerintahan Gereja
Tata gereja adalah teori dan bentuk dari sistem pemerintahan gereja. Tata gereja menunjukkan prinsip-prinsip yang berlaku dalam pemerintahan gereja. Dengan kata lain, tata gereja menunjukkan metode dan kedudukan kekuasaan dalam gereja; sedangkan pemerintahan gereja menjalankan kekuasaan berdasarkan tata gereja yang berlaku.
Sebuah organisasi diperlukan bila ada dua orang atau lebih berserikat bersama. Demikian juga gereja memerlukan suatu bentuk organisasi agar dapat berfungsi dengan baik. Perjanjian Baru dalam Kisah Para Rasul memberikan contoh bagaimana para rasul membentuk suatu organisasi yang terdiri dari tujuh orang untuk mengatasi persoalan yang ada.
Tata gereja sebuah gereja menentukan corak pemerintahan gereja dan mempengaruhi doktrin yang dianutnya. Secara umum ada empat golongan besar tata gereja di dunia yaitu:
1. Episkopal.
Bentuk pemerintahan episkopal bertumpu pada para uskup untuk mengurus segala pekerjaan gereja (oligarki).
2. Monarkial.
Bentuk ini hampir sama dengan episkopal dengan pengecualian ada seorang uskup yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari uskup lainnya. Contohnya adalah Katolik di mana Paus mempunyai kekuasaan yang mutlak.
3. Presbiterian.
Kekuasaan dalam bentuk ini terletak pada tangan para penatua (majelis) yang sama derajatnya. Gabungan majelis-majelis beberapa gereja sewilayah membentuk klasis dan gabungan klasis membentuk sinode. Kekuasaan tertinggi ada pada sidang sinode.
4. Kongregasional.
Ciri khas bentuk ini adalah otonomi gereja di mana anggota-anggota gereja memerintah dirinya sendiri. gereja setempat berdaulat penuh dalam batas keanggotaannya sendiri. Jadi tidak ada garis struktur ke atas.

Bab 2: Prinsip-prinsip Perjanjian Baru Mengenai Tata Gereja
Meskipun Alkitab tidak menyatakan secara eksplisit keterangan-keterangan tentang tata gereja secara terperinci, prinsip-prinsip dasarnya dapat ditarik dari Perjanjian Baru. Ada sepuluh prinsip, yaitu:
• Allah adalah penguasa abadi atas menusia.
• Kristus adalah Kepala dan Guru Agung bagi gereja.
• Roh Kudus adalah penuntun dan sumber kuasa.
• Alkitab adalah kuasa tertinggi bagi gereja.
• Setiap individu mampu dan merdeka di hadapan Allah.
• Setiap gereja merupakan kesatuan rohani yang otonom dan demokratis.
• Gereja terdiri dari anggota-anggota yang telah dilahirkan kembali.
• Anggota gereja mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
• Kerjasama antar gereja bersifat suka rela.
• Kebebasan beragama adalah suatu hak yang tidak dapat dihilangkan.

Bab 3: Kewajiban Anggota Untuk Turut Memerintah
Dalam gereja Baptis, kekuasaan tertinggi dan yang terutama berada dalam sidang jemaat. Setiap anggota jemaat mempunyai hak satu suara. Dengan demikian anggota jemaat diakui sebagai orang yang mempunyai nilai luhur, mampu berkarya dan merdeka di bawah terang Kristus. Jadi inti dari kebebasan individu adalah hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Gereja Baptis mengakui bahwa tubuh Kristus terdiri dari individu-individu yang telah dilahirkan kembali dan mempunyai sifat asali yang sama satu dengan lainnya. Dengan kata lain setiap anggota jemaat mempunyai persamaan derajat, hak istimewa dan kesempatan. Hal ini tidak berarti dalam gereja Baptis tidak ada seorang “bos” pemimpin, melainkan pemimpin adalah pelayan yang baik, bukan seorang penguasa yang mempunyai kekuasaan di atas yang lainnya.
Sistem demokrasi dalam gereja Baptis memberikan anggota jemaat kebebasan, hak dan kesempatan yang sama. Hak-hak tersebut mempunyai konsekuensi kepada suatu tanggung-jawab. Setiap anggota jemaat bertanggung-jawab untuk mencapai tujuan-tujuan gereja. Bentuk tanggung-jawab itu adalah sbb:
• Bertanggung-jawab atas kebebasan dan hak-hak orang lain.
• Bertanggung-jawab untuk memerintah.
• Bertanggung-jawab untuk mentaati keputusan mayoritas.
• Bertanggung-jawab untuk mendisiplin diri sendiri.

Bab 4: Gereja dan Pemerintahannya
Prinsip-prinsip pemerintahan sebuah gereja menurut Perjanjian Baru bersifat tetap dan harus diutamakan dalam perkembangan struktur pemerintahan gereja. Ada tiga prinsip pemerintahan gereja yaitu:
• Sebuah gereja adalah lengkap dan bersifat mandiri.
Gereja bukan merupakan bagian dari gereja lain yang lebih besar. Gereja lahir dalam keadaan utuh, sederajat dengan gereja lain, terpisah dan otonom. Gereja merupakan sebuah organisme yang terdiri dari manusia-manusia yang merupakan bagian dari tubuh Kristus yang rohani. Dengan kata lain kita semua disatukan dalam diri Kristus.
• Sebuah gereja merupakan kesatuan yang otonom.
Artinya setiap gereja menjalankan prinsip menentukan nasibnya sendiri dalam segala hal. Ada beberapa ciri dari sebuah gereja yang otonom yaitu bebas dari ikatan gerejawi, berdiri sendiri dan lepas dari badan-badan yang lain, dan berpemerintahan kongregasional.
• Sebuah gereja adalah suatu demokrasi sidang.
Yang dimaksud dengan demokrasi sidang adalah pemerintahan gereja langsung menjadi tanggung jawab sidang. Hal ini berdasarkan bukti bahwa Kristus memberikan kuasanya ke dalam tangan angota-anggota gereja secara keseluruhan. Demokrasi sidang dilakukan melalui pertemuan-pertemuan yang teratur dalam rapat urusan gereja. Dalam rapat ini semua anggota gereja wajib mendapat informasi yang cukup mengenai keadaan gereja. Setelah itu para anggota gereja wajib memikirkan solusi yang terbaik bagi kepentingan gereja dan memberikan suaranya. Sidang jemaat dilaksanakan untuk menentukan syarat-syarat keanggotaan gereja termasuk bagaimana memeliharanya, menentukan program-program gereja sendiri, menentukan corak organisasinya sendiri, dan mengangkat para pemimpinnya sendiri. Biasanya para pejabat yang dipilh pertama-tama adalah para diakon (panitia perancang) yang tanggung-jawab utamanya melayani kebutuhan sidang jemaat.
Bab 5: Tata Organisasi Denominasi
Bentuk organisasi pada lembaga denominasi gereja-gereja Baptis Selatan dilaksanakan sesuai dengan tata gereja Perjanjian Baru. Secara organisasi, gabungan gereja-gereja Baptis membentuk asosiasi gereja se-wilayah. Gabungan gereja-gereja se-wilayah membentuk gabungan gereja tingkat negara bagian dan akhirnya disatukan dalam Konvensi Baptis Selatan secara nasional.
Ada tiga hal yang perlu diketahui dalam berbicara tentang tata organisasi denominasi Baptis Selatan yaitu:
• Baptis Selatan sebagai badan denominasi.
Gereja-gereja Baptis Selatan tidak mempunyai hubungan organik maupun tunduk kepada kekuasaan Konvensi Baptis Selatan. Istilah “Baptis Selatan” hanyalah menunjukkan affiliasi mereka pada Konvensi Baptis Selatan. Dengan kata lain setiap gereja Baptis yang bergabung dalam Konvensi Baptis Selatan tetap sebuah gereja yang merdeka dan berotonomi penuh.
• Hubungan antara gereja dan badan-badan denominasi.
Setiap lembaga Baptis terdiri dari pribadi-pribadi tertentu anggota gereja Baptis yang dipilih sebagai utusan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan tahunan baik dalam asosiasi, gabungan tingkat negara bagian, maupun Konvensi Baptis Selatan secara nasional. Seperti setiap gereja yang beraffiliasi dengan denominasi Baptis Selatan tetap bersifat otonom, setiap lembaga denominasi juga berstatus otonom.
• Tata pemerintahan badan denominasi Baptis.
Tata pemerintahan kaum Baptis Selatan dalam ketiga badan denominasinya (asosiasi, gabungan, dan konvensi) mempunyai keunikan. Keunikan ini tampak dalam pelaksanaan demokrasi sidang pada rapat tahunan. Masing-masing badan denominasi mempunyai wewenang terakhir. Sehingga dengan kata lain setiap jenjang badan dan lembaga tersebut menerapkan pola kongregasional yang sangat mendasar.

Bab 6: Gereja yang Bebas di Dalam Negara yang Merdeka
Konvensi Baptis Selatan mempunyai pokok-pokok kepercayaan tertentu mengenai kebebasan beragama dan pemisahan di antara gereja dan negara. Tentang kebebasan beragama, kaum Baptis percaya beberapa hal yaitu:
• Kebebasan beragama berarti bebas memilih dan bebas dari paksaan untuk menyatakan kepercayaan agamanya.
• Kebebasan beragama berasal dari Allah sendiri, bukan dari manusia.
• Negara seharusnya memberikan kepastian jaminan hukum akan kebebasan beragama. Contohnya adalah Amandemen Pertama dari UUD Amerika Serikat yang mengakui kebebasan beragama dan jaminan hukumnya.
• Kebebasan beragama adalah kebebasan yang mendasar.
Tentang pemisahan di antara gereja dan negara, kaum Baptis percaya bahwa sebuah gereja seharusnya merdeka sepenuhnya dan terpisah dari negara. Ada enam pokok definisi kepercayaan orang Baptis yaitu:
• Pemisahan berarti gereja mempunyai asas dan tujuannya sendiri.
• Baik gereja maupun negara, masing-masing mempunyai masyarakatnya sendiri.
• Metode yang dipakai gereja harus berbeda dengan yang dipakai oleh negara.
• Masing-masing mempunyai sistem administrasi yang berbeda.
• Masing-masing mempunyai sumber keuangan yang berbeda.
• Masing-masing mempunyai program pendidikan yang terpisah.
Biasanya, negara memandang gereja sebagai badan kerohanian dan sebagai badan duniawi. Hal ini membawa dua implikasi, yaitu sebagai badan rohani, gereja terpisah dan tidak berada dalam kekuasaan negara (dalam hal yang berhubungan dengan urusan kerohanian). Sedangkan dalam hal urusan di tengah masyarakat, gereja dianggap sebagai badan duniawi yang harus tunduk kepada peraturan perundangan yang berlaku.

Bab 7: Penyimpangan-penyimpangan yang Berbahaya Dalam Pemerintahan Gereja Baptis
Praktek-praktek dalam pemerintahan gereja Baptis sering berada dalam bahaya karena bertentangan dengan tata gereja kongregasional. Ada beberapa penyimpangan-penyimpangan dalam pemerintahan gereja Baptis sbb:
• Liberalisme, yaitu dengan membuat tata gereja yang sesuai dengan keperluan dan kehendak diri sendiri.
• Ritualisme, melaksanakan pemerintahan gereja dengan menjalankan prosedur-prosedur secara kaku dan otomatis.
• Tradisionalisme, yaitu menjalankan tradisi pemerintahan gereja yang tidak sesuai dengan Perjanjian Baru.
• Ofisialisme, yaitu ketaatan sempit pada pribadi pemimpin gereja.
• Sentralisme, yaitu sentralisasi kekuasaan kepada beberapa orang saja.
• Otoriterisme, yaitu menyerahkan hak dan kebebasan individu kepada para pemimpin. Hal ini terjadi sebagai akibat dari sentralisme.
• Proteksionisme, yaitu sikap untuk tidak membicarakan masalah tertentu kepada jemaat dengan alasan ketidak-tahuan jemaat akan masalah itu.
• Federalisme, yaitu dengan menyerahkan sebagian kekuasaan kepada suatu kekuasaan yang lebih tinggi.
• Eklesiaisme, yaitu penyimpangan yang mengarah pada pembentukan suatu gereja super di mana kekuasaan bersifat menurun dari “pusat” kepada gereja-gereja anggota.

Bab 8: Melestarikan Demokrasi Perjanjian Baru
Permasalahan dengan sistem demokrasi yang dianut oleh gereja Baptis adalah ketika jemaat bersikap masa bodah dan tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi. Mereka tidak terlibat dalam diskusi, memberikan suaranya secara serampangan, atau malah tidak memberikan suaranya. Sikap ini sebenarnya menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada segelintir orang saja. Untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti di atas, ada beberapa jalan keluar sbb:
• Para pemimpin berusaha menekuni idealisme demokrasi, yaitu dengan cara menjalankan prinsip-prinsip Perjanjian Baru, mempertahankan demokrasi dan menjalankan administrasi di bawah pemerintahan gereja.
• Anggota-anggota gereja menerima pendidikan dasar-dasar demokrasi. Pendidikan dilakukan dalam hal pemahaman tata gereja Baptis, kegiatan gereja dan denominasi dan pelatihan untuk menjalankan pemerintahan.
• Gereja perlu mengadakan pengamanan-pengamanan sebagai kontrol demokrasi. Maksudnya adalah agar kontrol selalu ada dalam tangan orang banyak (misalnya dalam rapat tahunan). Perangkat pengaman antara lain adalah badan hukum, anggaran dasar dan rumah tangga, tata cara rapat parlementer dan panitia perancang.
• Keputusan diambil melalui proses demokrasi. Hal ini adalah syarat dasar pola pemerintahan gereja kongregasional. Hal ini dapat berlangsung dengan baik ketika rapat urusan gereja dihadiri secara baik, pembahasan usul secara jelas, dan adanya perhatian yang sungguh-sungguh pada pemungutan suara.
Analisa Buku
Buku ini ditulis oleh dan bagi kepentingan kaum Baptis terutama kaum Baptis Selatan. Gaya penulisan McCoy sederhana namun sangat sistematis sehingga mudah dipahami. Buku ini dibagi menjadi delapan bab. Dua bab pertama berisi pengenalan secara umum dan pengenalan secara Alkitabiah pada apa yang dimaksud dengan tata gereja dan pemerintahan gereja. Pada empat bab berikutnya penulis menjabarkan poin-poin penting tentang tata gereja dan sistem pemerintahan gereja. Dua bab terakhir berisi peringatan dari penulis akan penyimpangan-penyimpangan dalam pemerintahan gereja Baptis dan cara-cara untuk mengatasinya.

Kekuatan dan Kelebihan Buku
1. Ditulis secara sederhana dan ringkas sehingga mudah dipahami setiap pembacanya.
2. Buku ini sangat sistematis dalam penyajiannya.
3. Penulis sangat menguasai apa yang ditulisnya. Walau informasi tentang penulis sangat sulit didapatkan, ada kesan yang kuat penulis adalah seorang akademisi dan praktisi yang mumpuni dalam topik tata cara gereja Baptis.
4. Pada setiap permulaan bab diberikan ringkasan isi sehingga memudahkan para pembaca untuk mengerti pokok-pokok pembahasan dalam bab tersebut.

Kekurangan Buku
1. Karena buku ini ditulis secara sederhana dan ringkas, maka kelemahan utamanya adalah kurang mendalamnya pembahasan buku bagi pembaca akademisi.
2. Ada beberapa bagian yang dibahas hanya secara sekilas, misalnya bab tujuh.
3. Mengingat buku ini diterjemahkan pada tahun 1987 dan merupakan cetakan tahun 1989, maka kekurangan buku ini adalah kurang “up to date-nya” isi buku. Mungkin ada perkembangan masa kini akan isi buku ini.
4. Buku ini bertumpu pada konteks Amerika Serikat. Mungkin ada sedikit perbedaan jika ditulis oleh orang Indonesia tanpa harus berbeda dalam prinsip-prinsipnya.

Usulan
1. Pemuktahiran isi buku dan jika (barangkali) mungkin menggunakan contoh-contoh di Indonesia dari pada Amerika Serikat.
2. Untuk tugas awal mata kuliah “Tata Gereja Baptis” sebaiknya pihak STBI menyusus sebuah diktat yang lebih komprehensif. Dengan penjelasan yang lebih terinci dan contoh-contoh dari konteks Indonesia akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam pada tata cara dan pemerintahan gereja Baptis bagi para mahasiswa STBI.

Penutup
Terlepas dari beberapa kelebihan dan kekurangannya, buku ini sangat berguna baik untuk kaum Baptis maupun non-Baptis. Bagi kaum Baptis, buku ini memberikan penjelasan mengapa tata cara dan pemerintahan gereja Baptis dilakukan seperti sekarang. Bagi kaum non-Baptis, buku ini dapat menjadi referensi berharga untuk memahami alasan pelaksanaan sistem Kongregasional di gereja-gereja Baptis. Akhirnya, biarlah semua orang percaya di seluruh dunia bersama-sama berkata: Soli Deo Gloria.