Friday, February 26, 2010

Sejarah Gereja Baptis

Perkembangan Gereja-gereja Baptis
(Dr. E. C. Smith)


Pendahuluan
Mempelajari sejarah dalam teologi sangat penting. Sejarah adalah “laboratorium” dalam perkembangan teologi. Dari sejarah ada banyak manfaat yang didapat antara lain mempelajari keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan masa lalu dan apa saja faktor yang membuatnya berhasil atau gagal. Sejarah adalah cermin kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai kebajikan dan pengalaman. Tulisan ini adalah ringkasan dari buku sejarah Perkembangan Gereja-gereja Baptis yang ditulis oleh Dr. E. C. Smith.


Pasal I : Kepercayaan Orang-orang Baptis

Prinsip Dasar Orang-orang Baptis
Orang-orang Baptis teguh mendasarkan doktrin-doktrin hanya pada prinsip-prinsip Perjanjian Baru dan ajaran yang selaras dengan Perjanjian Baru.

1. Orang-orang Baptis Percaya Kepada Ketuhanan Yesus Kristus Yang Mutlak
Ketuhanan Yesus Kristus sempurna. Kepemimpinan Yesus secara langsung diberikan lewat Roh Kudus.
2. Orang-orang Baptis Percaya Bahwa Perjanjian Baru itu Satu-satunya Pembimbing Bagi Kepercayaan dan Kehidupannya
Perjanjian Baru adalah penyataan yang cukup dan bersifat final mengenai kehendak Allah dalam semua kepercayaan dan kehidupan. Penafsiran dan pengertiannya harus melalui bimbingan Roh Kudus.
3. Orang-orang Baptis Percaya Kepada Keselamatan Karena Karunia Allah
Keselamatan dari dosa adalah pemberian cuma-cuma melalui Kristus dengan syarat kepercayaan dan penyerahan kepada Kristus. Sedangkan gereja hanya sebagai alat bagi pekabaran Injil. Upacara-upacara hanya sebagai lambang-lambang dan peringatan akan tindakan Allah untuk menyelamatkan. Perbuatan baik adalah pertumbuhan lebih lanjut dari kemanusiaan baru yang sudah diselamatkan. Oleh karenanya hanya orang percaya yang dapat dibaptiskan. Jadi baptisan anak tidak dikenal dalam gereja Baptis.
4. Orang-orang Baptis Percaya Kepada Kemampuan Setiap Orang Untuk Mendekati Allah Lewat Kristus Tanpa Perantara Lain
Tiap orang bebas dan wajib berhubungan dengan Allah secara pribadi melalui Yesus (keimanan orang percaya). Prinsip ini adalah dasar ajaran demokrasi dalam gereja baptis.
5. Kesimpulan
Ke-empat prinsip di atas adalah kepercayaan dasar orang-orang Baptis. Dari empat prinsip itu berkembanglah doktrin-doktrin dan kehidupan perbuatan yang lainnya yang menjadi ciri khas Baptis.

Hal-hal Yang Diutamakan Orang-orang Baptis
1. Anggota-anggota Gereja Terdiri dari Orang-orang yang Diselamatkan
Syarat utama menjadi anggota gereja adalah pengalaman kelahiran baru dan keikut-sertaan dalam upacara-upacara gerejawi.
2. Paham Bahwa Allah Mengasihi dan Menebus
Allah adalah Bapa yang mengasihi dan menebus manusia berdosa melalui anak-Nya. Penebusan ini sudah ditetapkan dalam kekekalan.
3. Pengabaran dan Pengutusan Injil
Penginjilan dan pengutusan Injil adalah salah satu prioritas orang-orang Baptis. Pengertian ini adalah berdasarkan pengetahuan akan dosa dan akibatnya dan karena patuh pada Amanat Agung. Jadi pekabaran Injil berada di atas (mendahului) pelayanan sosial.
4. Otonomi Gereja Setempat
Tiap jemaat lokal adalah merdeka (otonom) dan mempunyai pemerintahan sendiri yang lepas dari kekuasaan organisasi gabungan gereja. Oleh karenanya kuncinya adalah kerja sama secara suka rela yang sederajat untuk mencapai tujuan bersama.
5. Pemisahan Antara Gereja dan Negara
Orang Baptis percaya bahwa pemerintah atas kehendak Allah dan orang kristen wajib taat dan membantu-Nya (Rom. 13:1-7). Orang Baptis berpendapat bahwa negara dan gereja dapat menjalankan tugas-tugasnya lebih baik bila terpisah (Kis. 5:29).
6. Kesatuan Doktrin Sebagai Dasar Persatuan
Dasar bagi kerja sama dengan pihak lain adalah adanya kesesuaian doktrin, tujuan, dan maksud dengan gereja Baptis.

Kehidupan Orang-orang Baptis
Ada tiga jenis kehidupan. Pertama, kehidupan yang jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Perjanjian Baru sehingga harus ditolak; Kedua, ada kehidupan yang diharuskan oleh prinsip-prinsip Perjanjian baru dan karenanya harus dimasukkan dalam kehidupan Gereja Perjanjian Baru; Ketiga, ada kehidupan yang meskipun tidak secara langsung diperintahkan oleh prinsip-prinsip Perjanjian Baru, tetapi tidak dilarang. Kehidupan seperti ini dapat dilakukan atau ditinggalkan tanpa mempengaruhi kesetiaan kepada Perjanjian Baru. Orang-orang Baptis selalu berusaha untuk menerapkan prinsip-prinsip kehidupan-kehidupan gereja yang mendasar di bawah ini:

1. Kesederhanaan Dalam Kebaktian
Sifat kebatkitan gereja-gereja Baptis umumnya sederhana dan tidak formal. Kebaktian adalah alat untuk membantu perjumpaan dengan Allah. Gereja baptis tidak condong pada liturgi yang rumit atau suatu urut-urutan upacara yang tetap.
2. Pembaptisan Orang-orang Hanya Setelah Percaya
Pembaptisan menurut orang Baptis adalah penjelmaan seseorang yang diselamatkan ke dalam air untuk melambangkan kematiannya terhadap dosa dan kebangunannya memasuki hidup baru dalam kristus (Roma 6:4; Kis 8:36-39). Hal ini dilakukan pada orang yang sudah percaya terlebih dahulu.
3. Pembaptisan Menurut Alkitab Saja
Kepercayaan baptis adalah pembaptisan dengan cara selam. Keselamatan diperoleh melalui iman semata bukan melalui upacara-upacara. Penyelaman adalah lambang pengalaman keselamatan. Orang Baptis percaya bahwa pembaptisan adalah syarat untuk menjadi anggota gereja, karenanya semua anggota seharusnya dibaptiskan dengan cara yang sama.

4. Perjamuan Tuhan Hanya Bagi Orang-orang Percaya yang Telah Dibaptisan
Orang Baptis mengadakan Perjamuan Tuhan hanya bagi mereka yang termasuk anggota denominasi mereka.
5. Pemerintahan Gereja Yang Demokratis
Pemerintahan gereja Baptis menganut demokrasi murni. Dua prinsip Perjanjian baru yang menjadi acuan adalah: Pertama, gereja adalah suatu organisme rohani yang bertujuan melaksanakan kehendak Kristus; Kedua, tiap orang kristen mempunyai kemampuan untuk secara langsung menghubungi Allah. Karenanya setiap anggota hendaknya mempunyai suara yang sama dalam pemerintahan gereja.

Sejarah Baptis Itu Suatu Cerita Tentang Kesetiaan Kepada Prinsip-prinsip Dan Kehidupan Berdasarkan Perjanjian Baru
Orang Baptis tidak mengakui adanya pendiri golongannya. Tiap-tiap zaman ada orang-orang yang mentaati prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh orang-orang baptis zaman sekarang. Pasca Reformasi, ada dua penyelewengan Perjanjian baru yang tetap diselenggarakan yaitu pembaptisan anak dan penyatuan gereja dan negara. Karenanya golongan “Evangelical” mulai memisahkan diri dari gerakan reformasi. Golongan ini dikenal sebagai “Anabaptis” karena pandangan tentang baptisan. Pengikut Anabaptis terus bertambah dan meluas ke seluruh Eropa ditengah aniaya orang Katolik dan Protestan.
Beberapa orang Anabaptis diusir dari Jerman dan tinggal di belanda. Dibawah pimpinan Menno Simons, mereka menjadi golongan Mennonite. Golongan Mennonite mempengaruhi berdirinya gereja-gereja Baptis pertama di Inggris sekitar tahun 1611. Sumbangan terbesar orang Baptis mungkin adalah pergerakan pengutusan Injil yang modern melalui William Carey dan Andrew Fuller.
Sejarah Baptis di Amerika dimulai dari gereja di Rhode Island tahun 1639. Gereja ini dipimpin oleh Roger Williams. Dewasa ini orang-orang Baptis tersebar di seluruh dunia dan merupakan golongan non-Katolik yang terbesar di Amerika.





Pasal II: Latar Belakang Orang-orang Baptis

Penyelewengan Pola Perjanjian Baru Dalam Agama Kristen
Dalam perkembangannya, gerakan kristen mengalami perlawanan dari luar dan dari dalam. Dari luar dengan jalan penganiayaan, dan dari dalam berupa penyelewengan terhadap prinsip-prinsip Perjanjian Baru.

1. Penyelewengan Doktrin Keselamatan
Dalam dua abad awal penyelewengan doktrin dengan mengganti anugerah keselamatan dengan keselamatan oleh perbuatan sendiri. keselamatan dipandang sebagai pemberian gereja, kamampuan individu mendekati Allah diganti dengan ajaran yang menyandarkan diri pada perbuatan lahir.
2. Memutarbalikkan Upacara-upacara Keagamaan
Pada awal abad kedua terjadi penyelewengan di mana pembaptisan dianggap sebagai alat penyelamat oleh Yustinus Martyr. Lebih lanjut penyelewengan dengan mengajarkan baptisan bayi dan orang-orang sakit. Pada tahun 110, Ignatius mengajarkan roti dan anggur yang dipakai dalam perjamuan adalah “obat kekekalan hidup” dan bahkan dinyatakan sebagai tubuh dan darah Kristus yang benar-benar jika diberkati oleh imam yang ditabiskan. Akhirnya timbul kesalahan bahwa uskup menguasai keselamatan karena kekyasaannya atas sakramen.
3. Perubahan Dalam Susunan Pemerintahan Gereja
Gereja di Perjanjian Baru tidak memberikan kekuasaan pada pendeta kecuali kekuasaan untuk memimpin yang diserahkan oleh saudara seiman di gereja. Mulai tahun 150 M mulai timbul pemimpin gereja dan akhir abad ketiga golongan pendeta mulai memisahkan diri dari golongan awam. Abad ke empat uskup menjadi pejabat daerah dan mempunyai kuasa atas gereja-gereja di daerah itu. Selanjutnya lima orang uskup mulai memerintah uskup-uskup di bawahnya dan uskup Roma lebih berhasil memperoleh kekuasaan dan mendapat tempat pertama di antara uskup-uskup lainnya. Inilah yang menjadi asal usul gereja Katolik Roma dengan Paus-nya yang berkuasa.
4. Akibat-akibat Penyelewengan Pola Perjanjian Baru
Ada enam akibat dari penyelewengan pola Perjanjian Baru:
• Melemahkan kedudukan iman dalam pengajaran kristen.
• Perubahan dalam bidang pelayanan pendeta. Pendeta mendapat kuasa sebagai imam sebagai kepala jabatan gereja.
• Perkembangan doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab yaitu sakramen gereja Katolik untuk menerima anugerah. Hal lain adalah kepercayaan purgatori dan upacara-upacara ritual.
• Perubahan sifat kebaktian dengan perjamuan Tuhan menjadi inti kebaktian.
• Perubahan dalam cita-cita kristen bagi kehidupan dalam dunia ini. Timbul gerakan masuk ke biara untuk menjauhkan diri dari dunia.
• Timbul kekuasaan kaum rohaniawan atas gereja.
5. Kesimpulan
Penyelewengan di atas mengakibatkan dampak langsung pada perkembangan orang Baptis. Orang Baptis adalah salah satu golongan yang bangkit untuk hanya mengajarkan doktrin Perjanjian Baru.

Latar Belakang Anabaptis
Perkembangan Baptis banyak mendapat bantuan dari golongan Anabaptis (Brethern). Mereka berpegang pada kemampuan setiap orang untuk mendekati Allah tanpa perantara, anggota gereja adalah mereka yang sudah dilahirkan baru, dan pemisahan gereja dan negara.

1. Orang-orang Anabaptis Swiss
Golongan Anabaptis yang paling awal timbul di Swiss. Mereka adalah pecahan dari golongan reformasi Zwingli. Mereka disebut golongan radikal dan mendapatkan penganiayaan hebat. Tokoh-tokohnya adalah Conrad Grebel, Wilhelm Reublin dan Felix Malah. Perpecahan timbul karena Zwingli berkompromi dengan maksud mendapat bantuan bagi reformasi.
2. Orang-orang Anabaptis Jerman
Penganiayaan juga terjadi di Jerman. Tokohnya adalah Baltazar Hubmaier dan John Denck. Penganiayaan dilakukan orang Katolik dan golongan Luther. Alasannya karena dituduh sebagai golongan fanatik radikal yang mengakibatkan pemberontakan pada tahun 1527.

3. Orang-orang Mennonite
Faktor penting yang memungkinkan kelangsungan gerakan Anabaptis adalah perubahan hidup Menno Simons yang banyak menulis banyak pembelaan pad a Anabaptis. Mulanya orang-orang Anabaptis berusaha memakai nama “Brethern”, tapi suatu waktu golongan ini meluas dan terkenal sebagai orang Mennonite.
4. Orang-orang Anabaptis Inggris
Permulaan Anabaptis di Inggris tidak jelas. Golongan pertama yang dapat dikenal riwayatnya adalah golongan Barrowe yang kemudian digantikan oleh Francis Johnson.
5. Kesimpulan
Golongan Baptis adalah keturunan rohani dari Anabaptis. Dalam perkembangannya orang Baptis berkembang bebas dan lepas dari Anabaptis. Dapat dikatakan ada banyak kesamaan ajaran dan kepercayaan antara Anabaptis dan Baptis.

Sejarah Inggris (mulai awal abad ketujuh-belas)
1. Inggris Sebelum Tahun 1066
Sekitar tahun 500 M, St. Agustinus membawa Injil ke Inggris.
2. Magna Charta
Dalam masa perkembangan Kerajaan Inggris, timbul pertentangan antara raja dan bangsawan. Tahun 1215 segolongan bangsawan memakasa raja John I menandatangani Magna Charta yang memberi banyak hak kepada bangsawan dan rakyat Inggris.
3. Peristiwa-peristiwa Selanjutnya Sebelum Reformasi
Perkembangan berikutnya, parlemen mulai mendapat kekuasaan dan tahun 1298 parlemen mendapat hal untuk mengesahkan semua pajak. Universitas-universitas besar mulai berdiri saat itu. Setelah perang seratus tahun dengan Perancis (1337-1453), Inggris terjerumus perang saudara.
4. Reformasi Inggris
Raja Henry VIII memecat Kardinal Wesley sebagai pengurus kerajaan dan memutuskan hubungan dengan Katolik. Alasannya dia ingin menceraikan istrinya dan menikah dengan wanita lain, dan tidak diijinkan oleh Paus.

5. Zaman Keemasan
Pemerintahan Elizabeth I sering disebut zaman keemasan sejarah Inggris. Elizabeth mendirikan gereja Anglican. Inggris mendirikan “East Indian company” dan mulai menyelidiki dunia baru: Amerika. Semasa pemerintahan James I (1603), orang Inggris mendirikan koloni di Jameston dan Plymouth di Amerika Utara. Sebagian besar penduduknya meninggalkan Inggris untuk mendapatkan kebebasan beragama. Orang yang tidak memasuki gereja Inggris disebut separatis dan dianiaya.
6. Perang Saudara
Perang saudara pecah di Inggris karena perselisihan antara raja dan parlemen. Tahun 1649, Oliver Cromwell mendirikan sebuah Commonwealth (republik yang diperintah oleh parlemen). Empat tahun kemudian Cromwell Commonwealth dan menjadi seorang diktaktor. Pada masa itu penganiayaan terjadi bagi orang yang tidak setuju dengan gereja negara dan mendirikan gereja sendiri. Pada masa itulah golongan Baptis timbul.
7. Reformasi
Setelah Cromwell meninggal, Commonwealth kembali berkuasa. Ketika william dari Oranye berkuasa, parlemen mengesahkan undang-undang yang mengharuskan Rja dan Permaisuri Inggris menjadi anggota gereja Anglican.
8. Kesimpulan
Golongan Baptis bangkit di Inggris, di tengah-tengah penganiayaan.

Kesimpulan
Faktor sejarah menjadi peran penting dalam perkembangan Baptis yaitu:
• Penyelewengan dari pola Ilahi.
• Pengaruh dan bantuan orang-orang Anabaptis pada waktu permulaan yang genting.
• Keadaan-keadaan di Inggris menyebabkan timbulnya suatu golongan kristen baru yang meluas ke seluruh dunia.




Pasal III: Permulaan Baptis di Inggris

Ahli-ahli sejarah Baptis sepakat bahwa orang Baptis timbul di Inggris pada awal tahun 1600. Nama Baptis mulai dipakai sekitar tahun 1644. Nama itu mula-mula dipakai dalam sebuah buku “The Moderate Baptist” oleh William Britten pada tahun 1654 dan dipakai resmi dalam buku “The Baptist Catechism”.

Teori-teori Tentang Asal-Usul Baptis
1. Teori Yerusalem-Yordan-Yahya
Menurut teori ini, orang Baptis selamanya ada sejak Yohanes Pembaptis. Ada yang mengatakan sejak hari Pentakosta. Yang pokok dalam pandangan itu adalah adanya kelangsungan pelayanan rasul-rasul atau kelangsungan gereja-gereja Baptis sejak Perjanjian Baru sampai sekarang.
2. Teori Kekeluargaan Rohani Anabaptis
Pandangan ini mengatakan ada hubungan rohani antara orang-orang Baptis dan golongan Anabaptis di Jerman, Swiss, dan Belanda.
3. Teori Keturunan Golongan Separatis Inggris
Teori ini berkeyakinan bahwa orang-orang Baptis berasal dari golongan separats di Inggris yang berpegang pada pemerintahan gereja secara demokratis dan pembaptisan bagi yang percaya.
4. Teori Pengaruh Perjanjian Baru
Teori ini mengatakan orang Baptis timbul secara langsung dari ajaran-ajaran Perjanjian Baru.

Dua Golongan Baptis
Di Inggris timbul dua golongan Baptis yang berbeda yaitu Baptis Umum dan Baptis Khusus. Pokok perbedaannya adalah tentang penebusan dosa dan kematian Kristus. Golongan Baptis Umum percaya Kristus mati untuk semua orang (teologi Armenia) dan Baptis Khusus dipengaruhi Calvin dengan percaya bahwa Kristus mati bagi orang pilihan saja.

Kebangkitan Golongan Baptis Umum
1. John Smyth
Smyth mempersoalkan ajaran-ajaran dan kekuasaan gereja Anglican. Smyth bergabung dengan golongan radikal yang mengajarkan bahwa greja Inggris yang didirikan oleh negara tidak dapat mewujutkan gereja yang benar. Smyth kadang-kadang disebut sebagai pendiri gereja Baptis modern.
2. Gereja Gainsborough
Gereja Gainsborouh pecah pada tahun 1606 menjadi dua berdasarkan pertimbangan praktis. Pada waktu itu James I memaksa semua orang yang tidak menganut ajaran gereja negara untuk meninggalkan Inggris. Karenanya mereka mengungsi ke Belanda.
3. Jemaat-jemaat di Belanda
Jemaat Smyth menetap di Amsterdam pada tahun 1607. Pada akhir 1608 atau awal 1609, Smyth menjadi seorang Anabaptis. Pada tahun 1630 terdapat enam buah jemaat Baptis dan tahun 1644 ada empat puluh gereja Baptis umum.

Timbulnya Baptis Khusus Inggris
1. Asal-usal Baptis Khusus
Gereja baptis khusus mulai timbul sekitar tahun 1638 dengan Henry Jacob sebagai pelopor yang langsung. Gereja baptis khusus mengajarkan kayakinan bahwa hanya orang-orang percaya yang dilahirkan kembali seharusnya dibaptiskan dan hanya ada penebusan terbatas.
2. Baptis Khusus Memutuskan Penyelaman ke Dalam Air Sebagai Satu-satunya Cara Pembaptian
Tahun 1640 beberapa anggota jemaat di bawah pimpinan Spilsbury bersama-sama Ricard Blunt yakin bahwa pembaptisan dengan percik tidak benar menurut ajaran Perjanjian Baru.
3. Sejarah Lebih Lanjut Golongan Baptis Khusus
Pada tahun 1644 ada lima belas pendeta Baptis khusus yang menulis pernyataan kepercayaan yang mengakui doktrin Calvin, kepercayaan pada baptisan selam, dan kebebasan agama.




Pasal IV: Sejarah Baptis Lebih Lanjut di Eropa

Perjuangan Baptis Untuk Kebebasan Agama di Inggris
Pada masa sesudah masa persemakmuran dalam sejarah Inggris (1640-1660), jumlah orang Baptis menjadi besar jumlahnya. Mereka bergabung dengan gerakan Cromwell dengan harapan mendapat kebebasan kenegaraan dan keagamaan.

1. Usaha-usaha Baptis Pada Permulaan Untuk Memperoleh Kebebasan Keagamaan
Orang-orang Baptis bergabung dengan Cromwell karena bagi mereka perang saudara itu merupakan perjuangan bagi kebebbasan politik dan agama. Orang Baptis juga menentang orang Prebyter untuk mendirikan gereja negara sendiri. Selain itu ada juga orang Baptis yang bekerja dalam pemerintahan.
2. Baptis Menentang Cromwell
Orang-orang Baptis menjadi bertentangan dengan Cromwell karena sikapnya yang mabuk kekuasaan. Muncul gerakan Monarchi yang kelima sebagai tanggapan bahwa Cromwell menjadi ancaman bagi cita-cita kebebasan agama. Pada tahun 1661 gerakan ini runtyuh karena kegagalan pemberontakan bersenjata di abwah Thomas Verner.
3. Penganiayaan Lebih Lanjut Terhadap Orang-orang Baptis
Akibat pemberontakan yang gagal, raja mengesahkan beberapa undang-undang yang mengurangi kebebasan Baptis. Sebagai akibatnya seorang pekabar Injil besar, John Bunyan dipenjara selama dua belas tahun.
Pada tahun 1662 parlemen mengesahkan undang-undang yang mengharuskan semua pendeta yang menerima nafkah negara untuk menyetujui doktrin dan kebijaksanaan negara. Akibatnya dua ribu pendeta, terutama dari Presbyter mengundurkan diri dan mencari nafkah dengan jalan lain. Ketika wabah menewaskan lebih dari serartus ribu orang di London, para pendeta merawat orang-orang sakit. Akhirnya penganiayaan pada mereka mereda pada tahun 1687. Raja James II mengeluarkan Declaration of Indulgence 1687 yang menghentikan sementara undang-undang yang menindas golongan separatis, mengizinkan kebaktian di umum, dan membebaskan mereka dari ujian untuk pekerjaan negara.

4. Toleransi
Pada tahun 1689 di bawah William dari Oranye, parlemen mengesahkan undang-undang toleransi yang menguntungkan non-conformis meski tidak memberi kebebasan keagamaan secara penuh.

Kemunduran Baptis Pada Masa Toleransi
Toleransi berdampak buruk pada pertumbuhan karena tidak disertai dengan semangat pekabaran Injil di kalangan Baptis. Baru setelah kebangunan rohani di bawah Wesley, sekali lagi mereka menemukan semanagat pekabaran Injil dan usaha baptis mengalami perluasan.

1. Kelapukan Baptis Umum
Kelapukan Baptis umum disebabkan oleh masalah pemusatan organisasi dan penyelewengan doktrin. Pada tahun 1750 banyak orang kristen meninggalkan barisan Baptis umum karena mereka mengingkari ke-Allahan Kristus. Perpecahan itu tidak menghentikan penyelewengan sehingga berakibat pada penurunan jumlah sampai hampir separuh.
2. Kemunduran Baptis Khusus
Kelemahan baptis khusus adalah terlalu mengutamakan doktrin pemilihan atau unsur ke-Allah-an dalam keselamatan. Akibat tidak melakukan pengabaran Injil, jumlah mereka merosot dengan cepat.

Timbulnya Kebangunan Rohani
Dalam abad kedelapan belas yang pertama, agama mengalami kemunduran yang paling buruk. Tidak hanya rakyat biasa yang mempunyai budi pekerti yang buruk, para rohaniawanpun mengikuti budaya yang berlaku.

1. Kebangunan Rohani di Bawah Pimpinan Wesley dan Whitefield
Dalam keterpurukan itu, Allah membangkitan John Wesley. Perubahan Wesley terjadi ketika dia bertemu dengan sekelompok orang Moravia. Tahun 1738 dia diselamatkan dan tidak lama kemudian Inggris bangkit oleh khotbahnya. Dalam kebangunan rohani John Wesley dibantu kakaknya Charles Wesley dan George Whitefield.

2. Baptis Umum Bangkit Kembali
Mungkin hasil paling cepat dan jelas dari gerakan Wesley adalah kebangkitan keagamaan di antara orang-orang Baptis umum. Orang yang paling berjasa adalah Dan Taylor. Tahun 1770 Taylor memimpin pembentukan The Assembly of Free Connection Baptists. Dalam kemajuan yang cepat pada masa itu, sebuah perkumpulan pengutusan Injil ke luar negeri dibentuk tahun 1816 dan dimulailah pekerjaan di India.
3. Baptis Khusus Bangkit Kembali
Pengaruh kebangunan rohani Wesley yang dirasakan di antara orang-orang baptis khusus tidak secepat yang dirasakan orang baptis umum. Hal ini karena doktrin Wesley tentang kematian Kristus tidak dapat diterima orang Baptis khusus. Kebangunan rohani di antara orang Baptis khusus dipimpin oleh Charles Whitefield. Tahun 1778 John Fawcet membentuk persatuan gabungan di daerah Yorkshire dan Lancashire. Orang Baptis khusu di London juga mengalami pertumbuhan. Sampai tahun 1776 mereka mendirikan gereja baru setiap dua tahun. Tahun 1770 perkumpulan pendidikan di Bristol didirikan dan pada 1781 Robert Robinson mendirikan perguruan tinggi Baptis. Suatu pengaruh kuat perubahan doktrin datang dari Andrew Fuller dengan menafsirkan ajaran-ajaran Calvin dengan menekankan pada tanggung jawab perorangan akan pengabaran Injil. Semangat dan pandangan yang sehat dalam pengutusan Injil adalah penyebab utama kebangkitan semangat penginjilan.
4. Permulaan Perhatian Kepada Pengutusan Injil
Tokoh penginjilan adalah William Carey. Tahun 1787 dia ditabiskan di Moulton. Pada mulanya niat baik perlunya pengutusan Injil ditolok dalam suatu pertemuan Baptis. Akhirnya pada 2 Oktober 1792, pada pertemuan pendeta di Kattering, empat belas pendeta yang hadir menerima baik usul Carey dan membentuk perkumpulan pengutusan Injil. Setahun kemudian seorang ahli bedah, John Thomas dan Carey diangkat menjadi utusan Injil ke India. Dalam tahun-tahun berikutnya orang Baptis membuka lapangan baru di Ceylon dan pulau-pulau lainnya di sekitar Samudra India, Jamaika, West Indies, dan Amerika Tengah. Utusan Injil dikirim ke Italis, China, dan Afrika Tengah.

Perluasan Baptis dan Kerukunan Denominasi
Tahun-tahun setelah 1800 adalah kemajuan dan perkembangan yang pesat orang Baptis. Ada 165 gereja baru pada tahun 1800, 700 buah pada lima tahun berikutnya, dan pada akhir 1900 ada 961 gereja didirikan.mereka memlopori pendirian STT dan gerakan sekolah minggu, perbaikan penjara, dan aktif pada gerakan pembebasan budak belian di seluruh dunia.

1. Perluasan di Negeri Sendiri
Di bawah pimpinan John Steadman, gereja-gereja di daerah-daerah perindustrian di Inggris dibangkitkan dan pekabaran injil yang digiat dilakukan. Pendeta yang paling terkenal adalah Charles Haddon Spurgeon (1834-1892). Di bawah pelayanannya, gereja bertumbuh dengan cepat dan pada 1861 didirikan gedung gereja yang mampu menanmpung lebih dari lima ribu orang. Spurgeon menggabungkan teologia Calvin, moralitas keras, dan semangat pekabaran Injil.
2. Persatuan Baptis Tahun 1891
Pada tahun 1891 perpecahan antara orang baptis umum dan Baptis khusus pulih kembali. Andrew Fuller melunakkan bentuk ekstrem doktrin pemilihan, membuat orang Baptis khusus mempunyai jiwa pekabaran Injil. Dan Taylor mempengaruhi orang Baptis umum untuk melepaskan liberalismenya sehingga bangkit kembali semangat pekabaran Injilnya. Tetapi tidak semua orang Baptis Inggris bergabung dalam persatuan Baptis. Sekelomp[ok orang di bawah pimpinan William Gadsby (1773- 1844) tetap tidak bergabung dalam persatuan Baptis.









Pasal V: Permulaan Baptis di Amerika

Sejarah Baptis Amerika dibagi menjadi tiga masa. Pertama, berciri kesaksian yang setia dan penganiayaan yang kejam selama zaman penjajahan; Kedua, waktu perluasan wilayah dan berciri pertumbuhan serta kegiatan pengutusan Injil yang pesat; Ketiga, berciri pengabaran injil dan pendidikan.

Sejarah Baptis Masa Permulaan di Amerika
1. Gereja Baptis Yang Pertama di Amerika
Sebuah gereja yang dapat disebut sebagai gereja Baptis pertama adalah gereja di Dover, New Hamshire. Untuk melepaskan diri dari penganiayaan, jemaat pindah ke New Jersey dan mendirikan sebuah gereja Baptis pada tahun 1689.
2. Roger Williams dan Gerejanya di Providence
Roger William lahir tahun 1607. Dia mengungsi dari Inggris tahun 1631. Di Amerika dia menjadi pendeta di Salem. Karena kekerasan ajarannya, dia dibuang keluar daerah Massachusetts. Selepas dari pembuangan dia pindah ke daerah Providence. Tahun 1663 sebuah piagam kerajaan yang memueat prinsip kebebasan agama. Tahun 1639 Roger William menjadi seorang Baptis dan membaptiskan sepuluh orang lainnya.
3. Gereja Newport dan John Clarke
Sebuah gereja lain yang dapat dianggap sebagai gereja Baptis pertama adalah gereja Newport yang didirikan oleh Dr. John Clarke. Pada bulan Oktober 1648 ada sebuah gereja baptis dengan lima belas anggota di Newport.
4. Kemajuan Baptis di Massachusetts
Usaha mendirikan gereja Baptis di Massachusetts dihalangi oleh pembesar dan hukum-hukum sipil yang melarang tindakan yang tidak sesuai dengan gereja negara dengan ancaman penganiayaan bagi yang membangkang. Henry Dunster, John Clarke, dan Obadiah Holmes adalah korban penganiayaan. Tetapi semua usaha itu tidak berhasil karena pandangan-pandangan Baptis bertambah kuat di antara golongan Puritan dan banyak imigran Baptis datang dari Eropa. Pada tahun 1665, Thomas Gould mengorganisasikan sebuah gereja Baptis di kediamannya sendiri. setelah kematian gould pada tahun 1678, gereja mendirikan sebuah gedung pertemuan di Boston. Setelah tahun 1691 kebebasan beragama diwujutkan oleh William dari Oranye.
5. Kemajuan Baptis di Daerah-daerah New England Yang Lain
Seorang yang memajukan pertumbuhan Baptis di New England adalah William Screven. Dia menghadapi penganiayaan dan meninggalkan Maine pada 1683. Dia mendirikan gereja Baptis pertama di Amerika bagian Selatan di dekat Charleston, South Carolina.
Di Pennsylvania, gereja Baptis pertama dibentuk oleh orang-orang Baptis dari Irlandia, Scotlandia, dan Inggris.
6. Perkembangan Baptis di Selatan
Kemajuan gereja Baptis di Selatan mulai dengan perlahan-lahan. Beberapa kemajuan dialami orang-orang Baptis Virginia meski mereka menderita menghadapi penganiayaan. Ada empat puluh tujuh buah gereja baptis di Amerika sebelum Kebangunan Rohani Besar.

Masa Perluasan Baptis di Amerika
1. Kebangunan Besar di Amerika
Kemajuan dan perluasan Baptis berkaitan erat dengan kebangunan rohani besar (The Great Awakening). Kebangunan besar dimulai tahun 1734 di Northampton dengan pengkhotbah Congregational, Jonathan Edward. Pengaruh rohani dari gerakan baru itu meluas ke seluruh Amerika. Kebangunan itu mendapat dorongan baru dari George Whitefield pada tahun 1739. Inilah suatu zaman yang baru dalam kehidupan rohani di Amerika.
2. Pertumbuhan dan Perluasan Yang Cepat
Sejak kebangunan rohani besar jonathan edward, pertumbuhan orang-orang Baptis tetap meningkat. Delapan gereja di Massachusetts bertambah menjadi dua puluh tujuh gereja antara tahun 1740-1775. Pada tahun 1784 jumlah gereja Baptis bertambah menjadi tujuh puluh tiga buah dan mempunyai lebih dari tiga ribu orang.
Seorang pemimpin kemjuan adalah Hezekiah Smith. Dia ditabiskan sebagai pendeta di Charleston dan berkhotbah sebagai pekabar Injil keliling. Sekurang-kurangnya ada tiga belas buah gereja di daerah sekitar Haverhill yang merupakan hasil pelayanan Smith. Dalam perang Amerika dan Inggris, Smith melayani sebagai pendeta tentara. Setelah perang dia membentuk perkumpulan Warren dan membangun kembali Brown University.
Issac Backus berjuang menghapus ketidak-adilan penganiayaan di Virginia dan Massachusetts. Golongan Baptis terus tumbuh dalam jumlah dan dalam pembentukan gabungan-gabungan. Dua puluh lima tahun terakhir dari abad ke delapan belas merupakan masa pertumbuhan Baptis yang terbesar di Amerika. Ada tiga faktor yang berpengaruh yaitu pemberian kebebasan agama, kegiatan pengutusan Injil, dan keselarasan semangat demokrasi orang-orang dan pemerintahan sidang jemaat gereja-gereja Baptis.

Perkembangan Kesadaran Pengutusan Injil Baptis Amerika
1. Perkembangan Pekerjaan Pengutusan Injil di Negeri Sendiri
Sebagian besar pekerjaan penginjilan dilakukan perorangan tanpa ada tugas pengutusan Injil. Hasil pelayanan mereka adalah pertumbuhan yang mengagumkan dari gereja-gereja dan anggota-anggota. Mereka bertindak sebagai pengkhotbah keliling yang maju memasuki daerah-daerah baru untuk berkhotbah dan mengajar.
Sementara itu pendirian perkumpulan pengutusan Injil Baptis di Amerika didirikan dan dipimpin oleh John M. Peck. Pada tahun 1817 konvensi Trienal mengutusnya ke sebelah barat Missisippi, perjalanan sejauh seribu mil melalui daerah yang tidak dikenal dan berbahaya. Peck mulai di kota St. Louis dan mendirikan lima puluh gereja dan sekolah. Perlawanan dari dalam Baptis membuat konvensi trienial menghentikan bantuan bagi Peck pada tahun 1820. Peck meneruskan pelayanannya dengan berkeliling ke negara bagian sebelah Timur dan mendirikan Seminari di rock spring, Illinois. Pada tahun 1832, John M. Peck dan Jonathan Going mendirikan perkumpulan pengutusan Injil Baptis di Amerika. Hasilnya dari sembilan ratus gereja pada tahun 1832, menjadi tujuh ribu empat ratus tujuh puluh buah gereja dengan lima ratus delapan puluh satu ribu orang pada tahun 1896.
2. Permulaan Pengutusan Injil Baptis Amerika di Luar Negeri
Sebenarnya orang-orang Baptis memeulai pekerjaan pengutusan Injil ke luar negeri lebih dahulu daripada dalam negeri secara terorganisir. Pada awal abad ke sembilan belas, The British East India Company mengadakan tekanan untuk melarang utusan Injil baptis Inggris masuk ke India. Karenanya mereka berlayar dari Inggris ke Amerika dan baru ke India. Di Amerika mereka membangkitkan semangat bagi pengutusan Injil ke luar negeri.
Pada tahun 1913 Adoniram Judson dan istrinya Ann Hassettine Judson dan Luther Rice yang melayani di India menjadi orang Baptis. Karenanya mereka kehilangan sponsor karena orang Baptis belum mengadakan pengutusan Injil. Rice kembali ke Boston untuk mendapat bantuan dari orang Baptis Amerika. Tahun 1814 berdirilah Konvensi pusat Denominasi Baptis di Amerika Serikat untuk Pengutusan Injil. Judson sendiri akhirnya melayani di Birma karena diusir dari india oleh The British East India Company. Pekerjaan di Birma mengalami kemajuan di antara suku Karen.

Pemisahan Jadi Golongan Baptis Konvensi Utara dan Selatan
1. Sebab-sebab Pemisahan
Pada masa sebelum tahun 1845, paham Unitarian yang mengingkari doktrin Tritunggal dan berkeyakinan bahwa Yesus bersifat Allah, tapi tidak beroknum seperti Bapa menjadi salah satu pertentangan di antara orang-orang Baptis. Orang Baptis di New England termasuk yang paling gigih menentang doktrin yang salah itu.
Setelah itu guncangan terjadi karena suatu golongan yang memntingkan emosionalisme di gereja-gereja dan berusaha mendapat pengalaman yang bersifat penglihatan rohani yang jelas, seperti wahyu dan kejadian emosional lainnya. Akhirnya pemisahan terjadi.
Sedangkan pertentangan yang paling kuat dan berakibat merusak adalah masalah perbudakan. Selain perbudakan ada pertentangan Landmark. Gerakan ini memusatkan pikiran pada paham bahwa gereja setempatlah yang paling utama. Gerakan ini tidak mengakui pembaptisan yang dilakukan golongan agama lain dan anggotanya hanya boleh ikut perjamuan Tuhan di gereja setempat. Gerakan ini menjadi sumber pertentangan sejak tahun 1854 sampai 1905 dan akhirnya menjadi semakin tidak populer.
2. Pembentukan Konvensi Baptis Selatan
Penyebab langsung pecahnya Baptis menjadi konvensi Baptis utara dan Selatan disebabkan karena dewan pengutusan Injil ke luar negeri menyatakan bahwa seorang yang memiliki budak belian tidak akan diangkat menjadi utusan Injil. Hal ini menyebabkan pada tanggal 10 Mei 1845 di Augusta, Georgia, orang Baptis di Selatan mendirikanm konvebsi Baptis Selatan. Sekarang semua orang Baptis menentang perbudakan sehingga perbedaan utama Baptis Utara dan Selatan adalah mengenai teologia, kegerejaan dan pelaksanaan organisasi. Baptis Selatan lebih teguh berpegang pada doktrin Alkitab yang benar.
3. Pekerjaan Konvensi Baptis Selatan
Golongan Baptis Selatan berkembang dengan pesat. Sejarah konvensi Baptis Selatan adalah cara baru menuju kehidupan denominasi yang berwujut kerja sama yang suka rela, pengutamaan pekabaran Injil, serta perhatian pada pendidikan dan kebajikan. Pada saat ini konvensi Baptis Selatan menjadi yang terbesar di Amerika Serikat dan negeri-negeri di seluruh dunia.

Ikhtisar Kesimpulan
Pelayanan Baptis di Amerika bermula dari penghindaran penganiayaan di Eropa. Namun, pemimpin-peminpin koloni ternyata juga tidak bertoleransi setelah berkuasa. Setelah mendapat sedikit toleransi, orang baptis mengalami keruntuhan moral. Kebangunan rohani terjadi di bawah pimpinan Jonathan Edwards. Dalam revolusi, orang-orang Baptis berjasa sebagai pejuang kebebasan.
Keyakinan akan pengutusan Injil mendorong orang Baptis untuk membentuk kumpulan pengutusan Injil. Adoniram Judson, istrinya dan Luther Rice berkarya di luar negeri, sedangkan John Peck memimpin pengutusan Injil di dalam negeri. Tahun 1845 terjadi perpecahan dan konvensi Baptis Selatan terus bertumbuh.












Pasal VI: Baptis di Dunia

Sebelum gerakan pengutusan Injil modern pada tahun 1793, nama Baptis tidak dikenal di luar Inggris dan Amerika. Pada tahun 1965 ada di seratus dua puluh dua negara dengan 27.127.983 anggota.

Persekutuan Baptis se-Dunia
1. Pendahuluan
Persekutuan Baptis sedunia adalah persekutuan semua organisasi nasional dan regional yang menggabungkan diri dan mengadakan kesatuan antara kelompok-kelompok Baptis. Maksud dan kekuasaannya diraikan demikian:
“Persekutuan Baptis Sedunia, yang meluas ke semua penjuru dunia, didirikan untuk menunjukkan secara lebih jelas kesatuan hakiki umat Baptis di dalam Tuhan Yesus Kristus, bagi inspirasi menuju jiwa persaudaraan dan untuk membina jiwa persekutuan ini sekali-kali tidak boleh merintangi kemerdekaan gereja-gereja atau menguasai pimpinan organisasi-organisasi yang ada”.
2. Organisasi Persekutuan Baptis se-Dunia
Persekutuan Baptis Sedunia pertama kali disarankan oleh Thomas Grantham sekitar tahun 1678. Setelah melalui proses panjang, pada tanggal 11 juli 1905 orang-orang Baptis dari dua puluh tiga negara berkumpul. Pada tanggal 17 Juli 1905, sebuah laporan panitia diterima. Laporan itu sebenarnya menciptakan Persekutuan Baptis Sedunia dengan Alexander Maclaren menjadi presiden sementara dan John Clifford dipilih menjadi presiden yang pertama. Pusat persekutuan itu sekarang ada di Washington D.C., Amerika Serikat.
3. Rapat-rapat Persekutuan Baptis se-Dunia
Kongres yang pertama dari kesebelas kongres Persekutuan Baptis Sedunia diadakan di London pada tahun 1905. Kongres ini membentuk persahabatan orang-orang Baptis sedunia. Berikut ini adalah urut-urutan kongres berikutnya sampai tahun 1965:
• Kongres kedua di Philadelphia 1911.
• Kongres ketiga di Stockholm, Swedia 1923.
• Kongres keempat di Toronto, Kanada 1928.
• Kongres kelima di Berlin, Jerman 1934.
• Kongres keenam di Atlanta, Georgia, the USA 1939.
• Kongres ketujuh di Kopenhagen, Denmark 1947.
• Kongres kedelapan di Cleveland, Ohio 1950.
• Kongres sembilan di London 1955.
• Kongres kesepuluh di Rio De Janeiro, Brasil 1960.
• Kongres kesebelas di Miami, Florida 1965.

4. Pekerjaan Persekutuan Baptis Sedunia
Persekutuan Baptis Sedunia berusaha untuk mengadakan hubungan dan pengertian di antara orang-orang Baptis sedunia. Persekutuan ini menguatkan iman dan keputusan kelompok Baptis yang kecil-kecil dengan jalan membangkitkan rasa. Pada tahun 1905 terdapat kira-kira 6.000.000 orang Baptis, sedangkan tahun 1965 ada lebih dari 27.000.000 orang Baptis dalam 122 negara.

Orang-orang Baptis di Eropa
1. Orang-orang Baptis di Inggris, Wales, Scotlandia, dan Irlandia
Inggris sebagai tempat kelahiran Baptis modern mempunyai kurang dari 200.000 anggota pada tahun 1965; Scotlandia mencatat 20.000 orang, dan 5.000 orang di Irlandia.
2. Orang-orang Baptis di Jerman
Pendiri pekerjaan Baptis Jerman adalah Johann Gerhardt Oncken. Persatuan Baptis jerman terdiri dari 550 buah gereja dengan 1.000 cabang dan mempunyai 57.000 orang anggota.
3. Orang-orang Baptis di Eropa Barat
Pekerjaan baptis dimulai tahun 1869 di bawah pimpinan William I. Knapp dari Amerika. Orang-orang Baptis Swedia datang ke Spanyol tahun 1881 dan bekerja dengan hasil yang agak memuaskan sampai 1921 untuk kemudian diserahkan kepada Dewan Misi Luar Negeri dari Konvensi Baptis Selatan. Pada tahun 1965 ada 51 buah gereja dan sekitar 4.500 anggota.
Di Portugal terdapat kira-kira 1.100 orang Baptis. Pekerjaan baptis dimulai sekitar tahun 1888 oleh Joseph Jones sedangkan pebukaan resmi adalah pada tahun 1908 oleh Zachary C. Taylor.
Pekerjaan Baptis di Perancis dimulai sekitar tahun 1820 oleh Henry Pyt. Terdapat sekitar 3.000 anggota di Perancis. Pada tahun 1892 Konvensi Triennial mendirikan misi di Perancis di bawah pimpinan Prof. Ira Khase dari Institute Teologia Newton.
Kesaksian Baptis di Belanda dimulai tahun 1845 dan persatuan Baptis Belanda didirikan tahun 1881. Pada tahun 1965 terdapat lima puluh gereja dengan lebih dari 9.000 anggota.
Pada tahun 1965 terdapat sekitar 300 orang Baptis di Belgia sedangkan pekerjaan Baptis di Luxemburg baru dimulai tahun 1962 dengan kira0kira dua puluh anggota pada tahun 1965.
4. Orang-orang Baptis di Eropa Utara
Pekerjaan Baptis di Swedia sebenarnya dimulai di Amerika dengan bertobatnya dua orang pelaut Swedia, Gustaf W. Schoeder dan Frederick O. Nilson. Pada tahun 1847 Nilson dibaptiskan dan setelah ditabiskan mulai berkhotbah dengan hasil baik di Swedia. Tahun 1861 Schroder mendirikan gereja pertama di Swedia. Pekerjaan Baptis semakin maju dan konvensi gereja-gereja Baptis Swedia dibentuk tahun 1857. Terdapat lebih dari 30.000 orang Baptis di Swedia.
Oncken merupakan perintis gereja Baptis di Denmark dengan sebelas anggota yang dibaptiskan. Tahun 1839 P.C. Munster memulai gereja yang baru. Pada tahun 1965 terdapat lebih dari 7.000 anggota Baptis di Denmark.
Pekerjaan Baptis di Norwegia dimulai tahun 1860 oleh F.O. Nilson dan Frederick L. Rymker. Kira-kira tujuh ribu anggota melayani dalam lebih dari enam puluh gereja di Norwegia.
5. Orang-orang Baptis di Rusia dan Negara-negara Eropa Timur
Kesaksian Baptis di Rusia dimulai pada akhir abad ke delapan belas dibantu oleh tiga faktor yaitu:
• Kepindahan sejumlah besar pengungsi golongan Mennonite ke Rusia Tenggara pada tahun 1860-an.
• Orang-orang Molokan yang dipengaruhi oleh Baptis pada tahun 1862. Sebagai akibatnya suatu persekutuan Baptis berkembang dan Hasil Pavlov menjadi pemimpinnya.
• Seorang pemimpin yang timbul dari orang Molokan, Ivan Prokhanov. Kelompok Prokhanov berkembang dari 8.743 pada 1914 menjadi lebih dari 250.000 orang delapan tahun kemudian.

Selama Perang Dunia yang pertama, banyak orang Baptis dipenjara karena menolak tugas pertempuran. Antara tahun 1914-1923 jumlah orang Baptis bertambah mencapai kurang dari satu juta orang. Tetapi mulai tahun 1929 orang Baptis kembali mengalami penganiayaan dan pekerjaan baptis tetap berlangsung dalam keadaan yang sulit.
Orang-orang Baptis di Finlandia mencapai 3.000 orang sedangkan di Esthonia pekerjaan baptis dimulai tahun 1884. Pekerjaan Baptis di Lithuania dirintis tahun 1841 dan mencapai 400 orang Baptis pada tahun 1964.
Sementara itu Baptis di Latvia dimulai tahun 1860 oleh Jakobsohn dan satu tahun kemudian tujuh puluh dua orang dibaptiskan. Setelah Perang dunia pertama terdapat 77 gereja dengan lebih dari 10.000 orang. Perang Dunia kedua menyebabkan penganiayaan kejam terhadap orang Baptis Latvia.
6. Orang-orang Baptis di Eropa Selatan
Perkembangan Baptis di Swiss dilayani oleh dua kelompok Baptis yaitu kelompok yang berbahasa Perancis dan kelompok yang berbahasa Jerman. Pekerjaan Baptis di italia dimulai tahun 1870. Setalah Perang dunia II keanggotaan orang Baptis mencapai 5.000 orang dengan 60 gereja.
Pekerjaan Baptis tetap berjalan di negara-negara Balkan di Eropa Tenggara meskipun ada masalah dan ketegangan yang khas. Di Bulgaria hanya ada beberapa ratus orang Baptis. Sedangkan di Rumania pekerjaan Baptis mengalami kemajuan dalam pimpinan pendeta B. Schlipf dan pada tahun 1930 terdapat 43.763 jemaat Baptis. Pada tahun 1947 ada 200.000 orang. Sejak itu pemerintah komunis membatasi kemajuan Baptis dan tinggal 65.000 orang pada tahun 1964.
Pekerjaan Baptis di Hongaria mengalami kemajuan pesat dari pada negara Eropa Tenggara lainnya. Dimulai dari pertobatan enam orang di Jerman. Ketika kembali ke Hongaria mereka membawa iman yang baru. Pekerjaan mereka diperkuat Heinrich Meyer pada tahun 1873. Dalam waktu sepuluh tahun dia membaptiskan 629 orang dan sepuluh tahun berikutnya ada 3.800 orang dibaptiskan. Tahun 1925 jemaat Baptis sudah mencapai 17.000 orang. Perang dan pemerintah komunis menekan orang Baptis yang tinggal kurang dari 20.000 orang pada tahun 1964. Sementara itu jemaat di Yugoslavia mencapai 3.500 orang dengan 30 gereja.
7. Baptis Eropa Yang lain
Orang-orang Baptis melayani berbagai daerah lain di Eropa. Pulau Iceland di Laut Atlantik Utara menjadi lapangan misi Baptis Selatan tahun 1963. Ada juga yang pergi ke Austria, Belgia, dan Polandia.

Orang-orang Baptis di Timur Tengah
Lebih dari enam ratus orang Baptis tinggal di Timur Tengah, di Israel, Yordania, Libanon, Gaza, Yaman, dan Turki. Seorang asli Syria memulai pekerjaan Baptis di Israel tahun 1911. Sekarang dua puluh utusan Injil melayani bersama dua ratus anggota gereja nasional.
Injil pertama kali disampaikan di Libanon oleh orang Presbyterian lebih dari satu abad yang lampau. Utusan Injil baru tahun 1948 diizinkan masuk ke Libanon. Pada tahun 1965 ada sembilan gereja dengan 425 anggota. Tahun 1960 STT Baptis Arab dibuka di Beirut. Di Gaza ada sebuah gereja dengan anggota sebanyak 35 orang. Tahun 1964 orang Baptis membuka klinik kesehatan di Yaman. Total ada sekitar 1.000 orang Baptis di Timur Tengah.

Baptis di Afrika
1. Baptis di Afrika Utara
Di negara-negara seperti Aljazair, Maroko, dan Mesir tercatat kira-kira ada 200 orang Baptis.
2. Baptis di Afrika Barat
Salah satu kelompok Baptis terbesar ada di Nigeria dengan lebih dari 66.000 orang dan 430 gereja. Sedangkan di Ghana dalam waktu dua puluh tahun berkembang menjadi 40 gereja dan 3.000 anggota. Di Togo ada enam buah jemaat Baptis, 1.200 orang di Pantai Waling, 300 orang di Sierra Leone dan banyak kelompok di Senegal dan Guinea. Pekerjaan Baptis di Liberia dimulai oleh para budak dari Amerika dan kini ada 15.000 orang Baptis di sana.
3. Baptis di Afrika Tengah
Di Kongo terdapat 180.000 orang Baptis, 60.000 orang di Kamerun, 20.000 di Afrika Tengah dan 3.000 orang Baptis di Angola.
4. Baptis di Afrika Timur
Usaha baptis dimulai tahun 1956 di Kenya (26 gereja dan 2.000 anggota) dan Tanzania (76 gereja dan 2.000 anggota) dan kemudian Uganda sebuah gereja dengan lima belas anggota). Di Zambia pada tahun 1965 ada enam gereja dengan 250 anggota. Sedangkan di Malawi ada 10 gereja dengan 700 anggota.
5. Baptis di Afrika Selatan
Pada tahun 1965 Rhodesia mempunyai 33 gereja dan 3.228 anggota. Sedangkan di Afrika Selatan ada 45.000 orang. Selain itu orang Baptis juga ada di Basuto dan Republik Afrika Barat Daya. Pada tahun 1965 terdapat lebih dari 400.000 orang Baptis di Afrika.

Baptis di Amerika
1. Baptis di Amerika Utara
Kanada menerima kesaksian Baptis tahun 1775. Tahun 1944 federasi Baptis Kanada dibentuk dan mempersatukan pekerjaan Baptis. Ada tiga puluh macam kelompok Baptis di Amerika Serikat dengan 22 juta anggota. Konvensi Baptis Selatan dengan lebih dari 10 juta anggota dan konvensi Baptis Amerika (Utara) hampir 10 juta anggota. Meksiko dimasuki 1880 dan ada sekitar 60.000 anggota Baptis.
2. Baptis di Amerika Tengah
Terdapat hampir 200.000 orang Baptis di Amerika Tengah. Di guatemala ada 2.000 orang Baptis engan 26 gereja. Kepulauan Bahama mempunyai 20.000 orang Baptis sementara Cuba juga 20.000 orang. Di Dominika hanya ada 200 orang Baptis dan ada 1.500 orang di Trinidad dan Tobago. Republik El Salvador mencatat 3.000 anggota, 1,000 anggota di Nicaragua, 1.000 anggota di Costa rica (enam gereja), 5.000 anggota di Panama (20 gereja) 7.000 orang-orang Indian, dan 150 orang di Puerto Rico.
3. Baptis di Amerika Selatan
Di Venezuela terdapat 25 buah jemaat dengan 1.000 orang anggota. Columbia mempunyai sebuah Seminari international dan terdapat lebih dari 5.000 orang Baptis. Sedangkan di Ekuador ada kira-kira lima ratus orang, sembilan buah gereja, sebuah lembaga teologia, sebuah SD, dan sebuah klinik pengobatan. Lebih dari seribu orang Baptis menetap di Peru dengan tujuh buah gereja.
Di negara terbesar di kawasan Amerika Selatan, Brasil, terdapat 225.000 yang terhimpun dalam 2.000 buah gereja. Sedangkan Bolivia mempunyai 1.200 orang dan 1.000 orang di Paraguay. Di salah satu negara terkecil, Uruguay, terdapat 1.300 orang anggota Baptis dan 25 gereja.
Gereja Baptis pertama di Chili didirikan pada tahun 1892. Terdapat lebih dari 100 gereja dengan 10.000 orang Baptis sedangkan Argentina mempunyai 22.000 orang. Lapangan terakhir yang dimasuki adalah Guyana dengan dua gereja dan 82 anggota.

Baptis di Pasifik Barat Daya
Di Australia orang-orang bangsa Inggris mulai bekerja di Sidney pada tahun 1831. Tahun 1834 pekerjaan Baptis dimulai di daerah Australia Selatan dan tahun 1843 sebuah gereja diorganisasikan di daerah Victoria. Lebih dari 40.000 orang Baptis tinggal di Australia.
Pekerjaan Baptis dimulai di New Zealand pada tahun 1851. Persatuan Baptis New Zealand dibentuk tahun 1882 dan tahun 1965 ada hampir 20.000 orang Baptis di New Zealand.
Tahun 1960 utusan Injil Baptis Selatan melayani pulau Okinawa. Bersama sebagian besar tentara Amerika, jumlah mereka mencapai 1.129 orang yang dilayani dua gereja. Sedangkan Guam mencatat adanya 225 orang anggota Baptis dengan sebuah gereja Baptis. Di Pasifik Barat Daya, jumlah orang Baptis mencapai 80.000 orang.

Kesimpulan
Uraian di atas dimaksudkan untuk membantu orang Baptis dan orang-orang lain menyadari bahwa orang-orang Baptis merupakan suatu kelompok kristen yang kuat, yang berusaha untuk melayani di tiap pelosok dunia.

Pasal VII: Baptis di Asia

Baptis di Asia Selatan
1. Baptis di India
Pekerjaan misi di India sudah dimulai oleh orang Katolik Roma maupun Protestan sebelum tahun 1793. Namun, kedatangan William Carey pada tahun 1793 membuka masa baru bagi Protestan. Carey melayani selama 41 tahun dan meninggal tahun 1834. Selama pelayanannya Carey juga menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bengali dan membuka cabang misi di Birma dan Indonesia. Dalam tahun-tahun menjelang 1965 ada 481.610 orang Baptis di India.
2. Baptis di Pakistan
Rombongan utusan Injil pertama di Pakistan adalah perkumpulan Utusan Injil Baptis di Inggris. Setelah bekerja selama 160 tahun, terdapat 124 gereja yang beranggotakan 5.000 orang. Sedangkan misi Baptis Australia melaporkan 120 gereja dengan 7.000 orang. Pada tahun 1957 Utusan Baptis Selatan memasuki Pakistan Timur dan menghasilkan lima buah gereja dengan 200 anggota.
3. Baptis di Ceylon dan Nepal
Pekerjaan Baptis di Srilanka (Ceylon) dipimpin oleh James Chaster pada 1812. Pada tahun 1963 ada 3.203 anggota. Sedangkan jumlah orang Baptis di Nepal tidak diketahui jumlahnya.
4. Baptis di Birma
Birma (Myanmar) adalah lapangan yang pertama dan merupakan lapangan yang paling subur Konvensi Baptis Amerika (Utara). Permulaan orang Baptis di Birma tidak dapat dilepaskan dari nama Adoniram Judson dan Ann Hassletine Judson. Dialah perintis pekerjaan Injil di Birma yang dalam pelayanannya telah menguburkan dua orang istrinya, beberapa orang anaknya, dan akhirnya nyawanya sendiri. pada tahun 1914 ada kira-kira 4.000 orang menjadi anggota gereja Baptis.
George Boardman melayani selama empat tahun dan meninggal. Dialah utusan Injil pertama yang mencurahkan hidupnya bagi suku Karen. Pada tahun 1856, hampir 12.000 orang suku Karen menjadi anggota gereja Baptis. Jumlah ini meningkat menjadi 47.530 pada tahun 1914 dan menjadi 103.904 orang dan 1.061 gereja pada tahun 1957. Pekerjaan Ijil juga dilakukan kepada suku-suku lain seperti Kachin, Shan, dan Chin. Keputusan pemerintah menjelang tahun 1965 telah memaksa semua utusan Injil keluar dari Birma. Pada tahun 1964 tercatat lebih dari 212.000 orang Baptis di Birma.

Baptis di Asia Utara dan Tengah
1. Pekerjaan Baptis di Cina
Kesaksian Baptis di Cina dimulai pada tahun 1834 di bawah pimpinan Konvensi Triennial (William dan Matilda Dean). Tahun 1936 pendeta Alanson Reed dan pendeta J.L. Shuck memeulai pekerjaannya dan bulan Desember 1835 membaptiskan tiga orang. Cabang Cina Selatan dibuka tahun 1936, cabang Cina tengah dibuka pada 1847, cabang Cina Utara dimulai tahun 1895, dan cabang Cina daerah pedalaman dibuka tahun 1904. Akhirnya pada tahun 1948 suatu konvensi Baptis Cina didirikan. Selain penginjilan, beberapa STT dibuka di berbagai tempat di Cina. Juga rumah sakit dan perkumpulan penerbit Baptis. Diperkirakan ada sekitar 123.000 orang Baptis di negeri Cina daratan.
2. Baptis di Hongkong dan Macao
Pekerjaan baptis di Hongkong dimulai tahun 1842 oleh J. Lewis Shuck dan pada tahun 1938 gabungan Baptis Hongkong diorganisasikan. Baptis Selatan memasuki Hongkong kembali pada 1949. Menurut laporan tercatat 28 gereja dan 15.000 orang anggota. Sedangkan di Macao terdapat sebuah gereja dengan 750 anggota.
3. Baptis di Taiwan
Pekerjaan misi yang pertama di Taiwan dilakukan oleh Presbyterian Inggris dan Canada. Baptis Selatan mulai bekerja di Taiwan tahun 1948 oleh Bertha Smith dan pendeta Yang Mei Tsai. Pada tahun 1965 Baptis Selatan mencatat 9.700 (selanjutnya 10.995) anggota gereja dan 30 gereja.
4. Baptis di Jepang
Utusan-utusan Injil mulai memasuki Jepang beberapa bulan setelah perjanjian pembukaan dua buah pelabuhan Jepang pada tahun 1854. Pada awal tahun 1860, pendeta J. Goble tiba di Jepang dan tahun 1872 Konvensi Baptis Amerika mulai bekerja dengan pelaksana Nathan Brown. Pekerjaan Baptis Selatan dimulai tahun 1857. Perang saudara di Amerika menghalangi usaha penginjilan sampai tahun 1889 ketika John William McCollum dan Dru Collins McCollum diangkat untuk bekerja di Jepang.
Perang Dunia II mengakibatkan kerusakan dalam pekerjaan Baptis di Jepang. Orang Baptis mengalami aniaya dan sembilan gereja bubar sehingga keanggotaan Baptis berkurang dari 2.700 menjadi kurang dari 500 orang. Berakhirnya perang membuka peluang bagi pekabaran Injil. Pada tahun 1964 ada lima gereja Baptis yang berbahasa Inggris dan tahun 1963 ada gerakan pekabaran Injil yang berbuah dengan beribu-ribu orang yang bertobat.
5. Baptis di Korea
Pekerjaan Baptis dimulai pada tahun 1895 dengan kedatangan utusan-utusan Injil yang dibantu oleh gereja Baptis Boston , Massachusetts. Selain gereja, didirikan STT Baptis Korea, penerbitan, rumah sakit William L. Wallace dan toko-toko buku. Tahun 1965 orang-oirang Baptis Selatan mencatat 160 gereja dengan 6.600 orang anggota.

Baptis di Asia Tenggara
1. Baptis di Filipina
Kesaksian Baptis dimulai tahun 1900 di pulau Panay dan Negros. Konvensi Baptis Filipina diorganisasikan tahun 1935. Konvensi itu terdiri dari 150 gereja dan lebih dari 10.000 anggota.
Pekerjaan Baptis Selatan dimulai tahun 1948 ketika utusan Injil dari Cina dengan beberapa guru pindah ke Baguio untuk belajar bahasa. Sambil belajar mereka juga memberi kesaksian kepada orang Cina Filipina. Kesaksian berbuah menjadi sebuah gereja pada 1950. Pada tahun 1965, orang-orang Baptis Selatan di Filipina tercatat sejumlah 8.390 orang dalam 79 gereja dan 104 pendeta nasional.
2. Baptis di Vietnam Selatan
Pada tahun 1954, Vietnam dibagi menjadi Vietnam Utara yang komunis dan Vietnam Selatan. Utusan-utusan Injil pertama tiba pada tahun 1959. Petobat pertama dibaptiskanpada 1962. Usaha penerbitan dimulai tahun 1962. Sekitar tahun 1965 ada 130 orang Baptis Vietnam namun dengan kesaksian yang maju memberikan harapan yang baik.

3. Baptis di Muangthai (Thailand)
Thailand pertama kali menerima kesaksian Protestan pada tahun 1828 melalui Dr. Karl F. Gutzlaff. Sedangkan kesaksian Baptis dimulai oleh pendeta John Taylor Jones pada tahun 1833. Sebuah gereja Cina didirikan di Bangkok tahun 1937 dan mempunyai 400 anggota pada tahun 1954.
Pekerjaan Baptis Selatan dimulai tahun 1949 dan gereja pertama dibuka di Bangkok tahun 1951. Sampai tahun 1965 ada dua belas pusat yang dilayani. STT Baptis dibuka tahun 1952, toko buku (1953), rumah sakit dan klinik berkeliling. Total orang Baptis ada 4.065 orang dalam tujuh gereja.
4. Baptis di Malaysia
Pada tahun 1937 seorang pemimpin awam Baptis Cina mengorganisasikan dua gereja kecil, satu di singapura dan satu di Alor Satar, Malaysia. Utusan-utusan Injil Baptis datang ke Malaysia tahun 1950. Dalam waktu sepuluh tahun, pekerjaan itu menghasilkan 20 buah gereja dan lebih dari 1.600 orang anggota. Dalam tahun 1965 ada 25 gereja dengan 1.450 anggota.


















Pasal VIII: Baptis di Indonesia

Permulaan Baptis di Indonesia
Permulaan Baptis di Indonesia terjadi pada awal tahun 1.800-an. Pada awal tahun 1812, delapan orang serdadu Inggris mendirikan sebuah gereja Baptis di Semarang. Hampir satu tahun kemudian utusan Baptis pertama yaitu William Robinson tiba di Jakarta. Di antara yang membantu Robinson adalah Thomas Trowt. Salah satu hasil pekerjaan Trowt adalah Gottlob Bruckner. Bruckner menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa. Dia melayani selama 43 tahun hingga meninggal tahun 1857 di Semarang.
Pada tahun 1814, Jabez Carey (anak William Carey) datang ke Ambon dan melayani selama empat tahun. Sesudah orang-orang Belanda menguasai Indonesia, Carey terpaksa meninggalkan Ambon.
Pada pertengahan tahun 1819, Nathaniel Ward mendarat di Sumatera. Bersama Richard Burton dan Charles Evans, merekalah yang pertama kali memperkenalkan kekristenan pada suku Batak.

Baptis Selatan di Indonesia
1. Permulaannya
Pada hari natal 1951, tiga orang utusan Injil baptis mendarat di Jakarta dan dimulailah pekerjaan Konvensi Baptis Selatan di Indonesia. Buren Johnson, Stockwell Sears, dan Charles Cowherd adalah para pelopornya. Selama empat belas tahun orang Baptis Selatan telah bertambah sehingga terdapat 3.965 anggota dalam 71 gereja pada tahun 1965.
2. Pertumbuhan Gereja-gereja
Baptis selatan mengorganisasikan gereja pertama di Bandung pada 23 November 1952. Pendeta Charles Cowherd membaptiskan tujuh petobat baru dan tiga belas orang bergabung dengan gereja Baptis. Di jakarta, gereja Baptis Calvari diorganisasikan rahun 1955, gereja Baptis Immanuel di Surabaya (1953), dan tempat-tempat lainnya.
3. Lembaga-lembaga
Perkembangan gereja di Indonesia dibantu dan diperkuat oleh empat buah lembaga yang berpusat pada pelayanan pengobatan, pendidikan pemimpin gereja, penerbitan, dan pekerjaan di antara para mahasiswa. Kediri dipilih bagi tempat permulaan pekerjaan pengobatan. Dr. Kathleen Jones memelopori pekerjaan klinik di Kediri pada tanggal 28 Februari 1957.
4. Sekolah Perawat Baptis
Pada tahun 1961 sebuah sekolah perawat Baptis dibuka di RS Baptis Kediri di bawah pimpinan Virginia Miles. Sedangkan Semarang dipilih menjadi tempat STT Baptis Indonesia. 11 Oktober 1954 adalah hari perkuliahan pertama dengan dua belas mahasiswa.
Gedung penerbitan Baptis didirikan pada tahun 1960. Pekerjaan di antara para mahasiswa dimulai tahun 1963 di Yogyakarta. Pusat mahasiswa kedua dibuka di Semarang.

Pekerjaan Baptis Yang Lain di Indonesia
1. Orang-orang Baptis Australia di Irian Jaya
Pekerjaan Baptis Australia di Irian Barat merupakan perluasan dari pekerjaan yang sudah diselenggarakan di Irian Timur. Cabang pekabaran Injil pertama didirikan di Tiom, dan pada awal tahun 1957 dibuka di Maki, Jukwa, dan dua tahun kemudian di Sungai Pit. Pekerjaan penginjilan diperkuat dengan pelayanan pengobatan, kesempatan pendidikan, dan pekerjaan sosial. Pada tahun 1957 sebuah peguruan tinggi dicoba di Tiom.
Di Tiom dan Maki didirikan gereja-gereja dengan anggota sekitar 35 orang masing-masing gereja. Pada tahun 1961 pecah gerakan melawan masyarakat kristen. Gedung-gedung dibakar dan dirampok dan lebih dari 100 dibunuh. Setelah kerusuhan, terciptalah semangat persatuan yang besar sehingga pekerjaan menjadi maju.
2. Baptis di Antara Orang-orang Kalimantan Asli
Pekerjaan di Kalimantan dirintis oleh suami-istri Bremon. Ketika mereka meninggalkan Kalimantan, mereka menyerahkan pekerjaan kepada Perkumpulan pengutusan Injil Luar Negeri Baptis Konservatif. Ada beberapa utusan Injil di Kalimantan dan menerima sambutan yang baik dari orang-orang Kalimantan asli.
3. Baptis “Mid-Mission”
Batis “Mid-Mission” mengangkat seorang wanita, Helena Jean Moose sebagai utusan Injil. Moose melayani di “The Chinese Baptist Church” di Jakarta. Gereja itu diorganisasikan 87 hari sebelum gereja Baptis pertama di Bandung.

Kesimpulan
Hasrat utama kaum Baptis adalah melayani rakyat Indonesia. Tujuan utamanya adalah memuliakan Tuhan. Kaum Baptis tersebar pada lima buah pulau di Indonesia.


Penutup
Sesungguhnya perkembangan sejarah Gereja-gereja Baptis di seluruh dunia adalah sebagian kecil dari “jejak-jejak kaki” Allah. Gereja-gereja Baptis telah melayani Allah dan mendedikasikan dirinya bagi kemuliaan Allah semata. Apa yang telah dilakukan para perintis di masa lalu dengan segala pengorbanannya adalah bukti kesetiaan mereka kepada Allah dan bukti kesetiaan Allah pada mereka pula. Semua aniaya dapat mereka tanggung karena Allah-lah yang menguatkan mereka. Sungguh buku yang bagus (menginspirasi) terlepas dari penulisannya pada tahun 1965 sehingga buku ini perlu di up-to-date.

Friday, January 8, 2010

Baptisan dan Kepenuhan

Baptisan dan Kepenuhan
Peranan dan Karya Roh Kudus Masa Kini
(disadur dari John Stott)


Bab 1: Janji Akan Roh Kudus
Hidup kristiani adalah hidup di dalam Roh. Semua orang yang memiliki Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan semua orang yang adalah anak Allah memiliki Roh Allah. Tidak mungkin memiliki Roh tanpa menjadi anak Allah atau menjadi anak Allah tanpa memiliki Roh (Rm 8:9). Paulus mengatakan bahwa hidup dalam Roh dan menjadi milik Kristus adalah ungkapan yang sinonim. Dengan kata lain Paulus mengatakan tidak ada seorangpun dapat menjadi milik Kristus tanpa memiliki Roh.
1 Kor. 6:19-20 menyatakan ketika kita dibeli dan harganya telah lunas dibayar, maka tubuh kita bukanlah milik kita sendiri melainkan milik Dia yang membeli/menebus kita. Oleh karena penebusan itu, tubuh kita disebut menjadi bait Roh Kudus karena Allah sendiri yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Jadi memiliki Roh Kudus bukanlah hasil usaha manusia melainkan anugerah dari Allah (lihat Rm. 5:5).
Secara singkat, Roh Kudus menyatakan Kristus kepada kita sehingga kita bertobat, dan RK membentuk Kristus di dalam kita (proses pengudusan).

Apakah memiliki RK sama dengan ‘baptisan’ RK?
Ada dua pendapat yaitu ‘sama’ dan ‘tidak sama’.
Mereka yang berpendapat tidak sama mengajarkan bahwa baptisan RK adalah pengalaman kedua yang mengikuti, yang harus dialami oleh semua orang kristen setelah baptisan air. Di pihak lain, berpendapat bahwa baptisan RK adalah milik semua orang percaya yang telah benar-benar bertobat.
Pencurahan atau baptisan RK adalah salah satu berkat khusus zaman baru (2 Kor. 3:8). Ungkapan baptisan RK hanya muncul di Alkitab sebanyak 7 kali dalam PB dan merupakan pemenuhan dari harapan/nubuatan PL. Yesaya 32:15 berbicara tentang hari waktunya Roh akan dicurahkan kepada kita dari atas; Yehezkiel 39:28-29 berbicara akan pencurahan Roh ke atas kaum Israel; Yoel 2:28 menyatakan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia. Yohanes pembaptis, nabi terakhir PL merangkum dalam Markus 1:8 dengan mengatakan “Aku membaptis kamu dengan air, tapi Ia akan membaptis kamu dengan RK. (lihat ayat paralel Mat. 3:11; Luk 3:16; Yoh 1:33). Jika kita melihat Yoh. 1:29, 33, ciri khas pelayanan Yesus adalah rangkap dua yaitu penebusan dosa manusia dan pembaptisan dengan RK.
Pada hari Pentakosta (Kis. 2:38), Petrus berseru dan meyakinkan bahwa semua orang yang akan bertobat dan percaya akan menerima dua berkat dengan cuma-Cuma yaitu pengampunan dosa dan karunia RK. Karunia Roh di sini bersinonim dengan ‘janji Roh’ (Kis. 1:4; 2:33, 39; ‘baptisan Roh (1:5), dan ‘pencurahan Roh’ (2:17, 33). Kesimpulan di sini adalah setiap orang yang bertobat menerima karunia Roh, yang dijanjikan Allah sebelum hari Pentakosta, dan dengan demikian dibaptis dengan Roh yang dicurahkan Allah pada hari Pentakosta. Kesimpulan ini konsisten dengan keyakinan Petrus pada kasus Kornelius (Kis. 11:16-17) yaitu baptisan dan juga sebagai karunia Roh. Jadi baptisan Roh sama dengan janji atau karunia Roh dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan pengampunan dosa dan keselamatan. RK melahirkan kembali, mendiami, membebaskan dan mengubah kita. Paulus dalam Titus 3:4-7 menyatakan Roh yang dicurahkan untuk melahirkan kembali dan mambarui kita dilihat sebagai bagian dari keselamatan.
Baptisan atau pencurahan Roh Kudus adalah adalah berkat khusus dari zaman baru (zaman PB) karena sebelumnya belum dapat diperoleh, tapi juga berkat umum karena berkat itu menjadi hak kelahiran semua anak Allah. (Kis. 2:38-39) Jadi semua orang yang menerima panggilan Allah, ia mewarisi janji Allah akan RK.

Hari Pentakosta (Kisah pasal 2)
Dalam Kisah 2 ada dua kelompok orang yang terpisah waktu menerima baptisan atau karunia RK. Kelompok pertama berjumlah 120 orang (Kis. 1:15) dan kelompok kedua berjumlah kira-kira 3.000 (Kis. 2:41). Kedua kelompok ini menerima janji dan karunia yang sama yaitu RK (Kis. 2: 33; 39). Walaupun demikian, ada perbedaan yang sangat besar, yaitu kelompok 120 orang pertama telah dilahirkan kembali dan kelompok 3.000 orang kedua semula tidak percaya, menjadi percaya karena khotbah Petrus dan saat itu juga menerima pengampunan dosa dan karunia Roh yang sama seperti kelompok pertama, saat itu juga.
Pertanyaannya, mengapa kedua kelompok itu mengalami pengalaman yang berbeda?. Kelompok pertama sudah percaya, sudah dibaptis air, belum menerima karunia Roh sebelum Pentakosta. Kelompok kedua tidak percaya menjadi percaya, belum dibaptis air, dan menerima baptisan RK terlebih dahulu.
Jawabanya adalah karena janji Roh (Yoel 2:28) memang baru digenapi pada hari Pentakosta. Mengapa begitu? Karena hari Pentakosta menandai kejadian akhir dari ‘riwayat kerja’ Yesus di dunia dan menandai awal ‘riwayat kerja’ RK di dunia. Pencurahan Roh yang dinanti-nantikan baru dapat terlaksana setelah genap karya Kristus di dunia berupa kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga. Dengan demikian, Pentakosata menandai awal zaman baru, yaitu zaman Mesianis atau zaman Roh. Peristiwa Pentakosata tidak dapat diulangi dan hanya terjadi sekali dalam sejarah manusia seperti halnya kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Kesimpulannya, mereka yang bertobat (kelompok 2) pada hari Pentakosta menjadi pola bagi orang percaya berikutnya. Arti kedua Pentakosta adalah pemenuhan janji Kristus (Kis. 1:8) pada para rasul untuk melengkapi tugas kerasulan memberitakan Injil. Arti ketiga adalah Pentakosta adalah pembangunan rohani pertama di mana pertsama kali Roh menunjukkan kuasa-Nya dengan berkelimpahan.
Jadi baptisan RK bukanlah ‘second blessing’ melainkan kita menerima Roh karena percaya pada pemberitaan Injil dalam iman (Gal. 3:2; 14). Ada orang yang mengatakan karunia RK adalah ‘second blessing’ yang harus dikejar oleh orang percaya. Pendapat ini dikaitkan dengan Kis. 8:5-17. Filipus memberitakan Injil di Samaria dan banyak orang menjadi percaya dan dibaptis air. Nah, ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa Samaria telah menerima Firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ.
Pertanyaannya mengapa harus mengutus Petrus dan Yohanes??
Jawabannya adalah karena para petobat itu orang Samaria. Orang Yahudi menganggap orang Samaria adalah musuh besar mereka dan orang berdosa dan najis sehingga mereka tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh. 4:9). Rupa-rupanya tidak mudah bagi orang Yahudi untuk mengakui bahwa musuh besar merekapun mendapatkan keselamatan seperti mereka. Dengan konteks latar belakang seperti itulah Petrus dan Yohanes sampai harus datang untuk memeriksa dan meneguhkan pertobatan mereka dengan peletakan tangan. Jadi peletakan tangan adalah tanda yang meneguhkan bukan oleh karena peletaan tangan RK turun ke atas mereka. Perhatikan bahwa ketika orang Samaria dibaptis, mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 8:16) dan yang menyebabkan Roh tidak diberikan adalah keadaan historis. Keadaan historis ini bersifat khusus dan tidak dapat diulang dan dijadikan pola.
Alasan kedua adalah kejadian di Kis. 19:1-7. Ternyata mereka tidak tahu akan RK (ay. 2). Baptisan yang mereka terima adalah baptisan Yohanes Pembaptis, padahal seharusnya baptisan air harus dilakukan di dalam nama Allah tritunggal (Mat. 28:19). Setelah itu maka Paulus membaptis mereka dalam nama Kristus dan menumpangkan tangannya, dengan akibat RK turun ke atas mereka. Jadi sebelum dibaptis Paulus, mereka tidak dibaptis dalam nama Yesus dan tidak mengenal RK. Ayat 4 menyatakan ternyata mereka belum mengenal Yesus juga (sehingga Paulus perlu untuk menjelaskannya). Setelah mengerti dan menerima, Paulus membaptis mereka dan RK-pun turun kepada mereka.

Kesimpulan
• Baptisan Roh adalah sama dengan karunia Roh.
• Baptisan air adalah tanda upacara masuk kekristenan, sedangkan baptisan Roh adalah pengalaman kristiani yang mula-mula setelah bertobat. Dengan kata lain baptisan air adalah tanda dari baptisan dengan Roh sepanjang baptisan air itu adalah tanda pengampunan dosa.
• Orang yang sudah menerima karunia Roh, harus mengalami kelanjutannya dipenuhi dengan Roh dengan proses pengudusan (santification) dalam hidupnya, menyangkal diri agar semakin mirip dengan Kristus. Proses ini berlangsung sepanjang hidup kita.

Bab 2: Kepenuhan Roh
Apa yang terjadi pada hari Pentakosta adalah Allah mencurahkan Roh dan membaptis 120 orang dan 3.000 orang. Buah baptisan Roh adalah ‘penuhlah mereka dengan RK’ (Kis. 2:4). Jadi kepenuhan Roh adalah akibat dari baptisan Roh. Walaupun demikian, karena natur berdosa manusia, maka kepenuhan Roh mengalami dinamika dalam hidup kita. Manusia dapat kembali jatuh dalam dosa, menyesal dan kembali pada Allah secara berulang-ulang. Ketika berdosa, manusia tidak dipenuhi dengan Roh tapi tidak kehilangan Roh. Contoh di Alkitab adalah jemaat Korintus. Mereka adalah jemaat yang diperkaya dengan berbagai karunia rohani (1 Kor. 1:7) dan sudah dibaptis dengan RK (12:13). Namun, Paulus mengecam mereka sebagai jemaat yang tidak rohani atau tidak dipenuhi Roh. Oleh karenanya Yesus sendiri dalam Yoh 7:37-39 menasihati kita agar kepenuhan Roh terus menerus dijadikan milik kita dengan iman. Yesus menggambarkan air sebagai RK dan barang siapa yang haus hendaklah ia ‘datang’ dan ‘minum’. Kata kerja yang dipakai dalam ‘datang dan minum’ adalah present tense atau dalam bentuk masa kini. Artinya orang percaya harus selalu ‘datang dan minum’, harus selalu dipenuhi dengan RK. Jadi baptisan RK hanya sekali, sedangkan kepenuhan RK dapat terjadi berualang-ulang.

Ciri-ciri Kepenuhan Roh
Dalam contoh jemaat Korintus, Paulus menyindir mereka dengan mengatakan ‘kamu telah kenyang, telah penuh’ (4:8). Tetapi bukan kepenuhan RK karena bila benar mereka dipenuhi oleh Roh, tentu mereka akan dipenuhi dengan kasih, yang adalah salah satu buah Roh. Kasih adalah ikatan yang kuat antara buah dan karunia-karunia Roh. Jadi ciri-ciri dipenuhi oleh Roh adalah bersifat moral, bukan bersifat ajaib, dan berada pada buah-buah Roh bukan pada karunia-karunia Roh.
Paulus memberikan contoh akibat daqri kepenuhan Roh yang menghasilkan buah-buah Roh berupa kualitas moral dalam Ef. 5:18-21. Paulus mengkontraskan antara kepenuhan Roh dengan mabuk yang menimbulkan hawa nafsu. Kata Yunani menimbulkan hawa nafsu adalah ασωτία (asotia) yang berarti suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu mengawasi/mengendalikan diri sendiri. Sebaliknya penuh dengan Roh mengakibatkan ‘berkata-kata, bernyanyi, bersorak, mengucap syukur, merendahkan diri’ secara sadar. Jadi keliru sekali kalau ada pandangan dipenuhi Roh berarti kita berada dalam keadaan yang tidak sadar atau tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Jika mabuk berarti ada pengaruh alkohol yang bekerja dalam darah, maka kepenuhan Roh berarti ada RK dalam hati. Kepenuhan Roh bukan meliputi manifestasi mistis yang khusus tapi hubungan moral dengan Allah dan sesama.
Ef. 5:18b: ‘Hendaklah kamu penuh dengan Roh’ mempunyai beberapa implikasi sbb:
• Bentuknya perintah langsung.
• Kata kerjanya jamak, artinya kepenuhan Roh bukan hak tapi tugas kepada semua orang percaya.
• Kata ‘dipenuhi’ berbentuk pasif artinya kita menyerah tanpa syarat kepada kehendak-Nya. Walaupun demikian di dalam penyerahan diri untuk dibentuk oleh RK, kita berperan aktif menjalankan kehendak-Nya itu. Sebagaimana orang mabuk karena minum, kita dipenuhi Roh karena minum juga dari Yoh. 7:37.
• Bentuk kata kerjanya adalah bentuk masa kini yang terus menerus. Artinya kepenuhan Roh bukan terjadi hanya sekali, melainkan suatu upaya untuk memilikinya terus menerus secara bertambah-tambah. Jadi kegagalan dan keburukan perbuatan dari banyak orang percaya membuktikan bukan akan perlunya mereka dibaptis dalam RK, tapi perlu untuk menemukan kembali kepenuhan Roh yang telah hilang dari diri mereka akibat dosa (satu baptisan Roh, banyak kepenuhan).

Pertanyaannya, bagaimana supaya dipenuhi Roh terus menerus dan bertambah-tambah?
Paulus memberikan petunjuk dalam Ef. 1:17-19. Ada ordo atau urutan yang harus dipenuhi yaitu:
• Penerangan
• Pengertian
• Iman
• Pengalaman
Karena iluminasi atau penerangan dari RK maka kita tahu dan oleh iman kita menikmati apa yang kita ketahui. Pengalaman iman kita karenanya dipengaruhi sekali oleh pengetahuan hati kita. Selanjutnya makin banyak yang kita ketahui, makin besar kecakapan rohani kita dan makin besar tanggung-jawab kita kepada Allah dan sesama karena iman.
Perlu dicermati gejala-gejala yang bersifat jiwani (psikologis) yaitu pengalaman berasal lebih dari jiwa insani daripada karena Roh Allah. Ucapan-ucapan yang tidak disadari oleh otak dan berulang-ulang terkenal di kalangan orang Hindu, Mormon, dan penganut kalangan agama lain, juga di beberapa keadaan medis. Menghadapi keadan seperti itu Alkitab mengajarkan kita untuk menguji segala sesuatu, khususnya ‘menguji roh-roh’ (1 Tes. 5:21; 1 Yoh. 4:1). Sekali lagi tolok ukur kita hanyalah Alkitab saja.

Bab 3: Buah Roh
Karunia Roh atau baptisan RK akan menghasilkan buah-buah Roh. Buah-buah Roh adalah (Gal. 5:22-23). Ada 9 buah Roh yang dapat digolongkan menjadi 3 sekawan yang menggambarkan hubungan kita dengan Allah (kasih, sukacita, damai sejahtera), dengan sesama (kesabaran, kemurahan, kebaikan), dan dengan diri sendiri (kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri). Sekali lagi, bukti nyata karya RK dalam manusia bukanlah pengalaman-pengalaman yang emosional, subjektif, melainkan sifat-sifat moral kristiani yang tercakup dalam 9 buah Roh sehingga dapat hidup dalam kesesuaian dengan Allah dan sesama dalam pengawasan diri yang kuat.

Bagaimana caranya agar hidup kita berbuah?
Hidup yang berbuah adalah hidup yang semakin mirip dengan karakter Kristus. Keserupaan dengan Kristus bersifat supra-alami dalam asalnya (dari RK) tetapi bersifat alami dalam pertumbuhannya (kita yang berperan aktif). Sebagai ilustrasi walau tidak tepat benar tapi dapat memberikan gambaran yaitu ketika seorang anak akan memulai sebuah bisnis. Dalam memulai bisnis, ayahnya memberikan modal kerja dan bimbingan kepada anaknya, tetapi keputusan-keputusan strategis adalah tanggung-jawab sang anak. Agar dapat berhasil dalam usahanya, sang anak wajib untuk ‘berguru dan belajar’ dari sang ayah. Sayangnya, untuk belajar dari sang ayah memerlukan pengorbanan yang banyak yaitu menyangkal diri dan rela membayar harganya. Harganya macam-macam, bisa berupa teguran berulang-ulang, keluar dari zona nyaman, merubah pola pikir dan tradisi, harga diri yang tercabik karena merendahkan diri, dll. Seberapa banyak sang anak dapat belajar dari ayahnya, sebanyak itu pula keberhasilan bisnisnya.
Sang anak adalah gambaran saudara dan saya, sedangkan ayah menggambarkan Kristus melalui Firman Tuhan. Modal dan bimbingan sudah diberikan, pertanyaannya seberapa jauh kita mau merendahkan diri dan patuh pada Firman-Nya, sebesar itulah buah-buah Roh akan kita dapatkan.

Bab 4: Karunia-karunia Roh
Karunia-karunia Roh berbeda dengan buah-buah Roh. Buah-buah Roh adalah hasil yang kita dapatkan ketika kita rela menyangkal diri dan menyesuaikan seluruh hidup ke dalam prinsip-prinsip kebenaran Alkitab. Karunia-karunia Roh adalah pemberian dari Tuhan sebagai akibat pertobatan pribadi untuk memampukan orang itu melakukan pelayanan yang khusus dan sesuai. Jadi setiap orang percaya minimal mempunyai sebuah karunia (bisa lebih).
Dalam PB ada 4 daftar karunia rohani yaitu Kor. 12 (13 karunia), Roma 12:3-8 (7 karunia, 5 yang lain), Ef. 4:7-12 (5 karunia, 2 yang lain), dan 1 Pet. 4:10-11 (2 karunia, 1 yang lain). Jadi paling sedikit ada 20 karunia dalam PB.

Hubungan antara karunia rohani dengan bakat alami
Bakat-bakat alami diberikan Allah kepada semua orang, tetapi karunia rohani hanya diberikan pada orang percaya. John Owen membedakan karunia rohani menjadi dua macam yaitu karunia yang mengatasi segala kuasa dan kecakapan akal budi manusia (supra-alamiah) dan karunia yang memperbaiki dan meningkatkan kecakapan-kecakapan akal (alamiah) manusia. Satu prinsip paling penting adalah semua karunia rohani ditujukan bagi kepentingan-Nya bukan kepentingan pribadi.
Berkaitan dengan karunia rohani yang supra-alamiah, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah karunia mujizat masih ada? Walau ada pendapat lain, mujizat masih ada sebab siapakah manusia yang mengatakan apa yang harus atau tidak dilakukan-Nya?. Dia adalah Allah yang berdaulat dan bebas melakukan apa yang diinginkan-Nya.
Tetapi, masalahnya apa beda mujizat dan providensia (pemeliharaan) Allah??.
Mujizat adalah kejadian yang luar biasa, yang sifatnya supra natural.
Pemeliharaan Allah adalah pemeliharaan Allah pada manusia melalui proses sejarah alam setiap saat.
Ketika kita melihat Allah bekerja setiap saat, maka kita akan sadar bahwa segala penyembuhan adalah penyembuhan Ilahi, terlepas apakah kesembuhan itu melalui medis atau melalui doa. Baik medis maupun doa, keduanya adalah sekedar sarana bagi kesembuhan Ilahi.
Yang menjadi masalah adalah ketika manusia berupaya untuk ‘mengintervensi’ Allah dengan menggunakan ‘iman’ untuk menuntut bahkan meng-klaim memakai nama Yesus agar suatu mujizat terjadi. Mereka lupa bahwa Allah berhak untuk menolak doa mereka. Mereka lupa bahwa Yohanes Pembaptis yang disebut Yesus sebagai orang tebesar dalam PL, secara khusus dikatakan bahwa dia tidak pernah membuat mujizat (Yoh. 10:41).

Penutup
Ada sebagian orang yang percaya bahwa mujizat terjadi setiap hari bahkan setiap saat. Mereka lupa bila mujizat terjadi setiap saat, artinya mujizat itu bukan lagi keadaan yang supra natural karena sudah menjadi kejadian biasa tiap-tiap hari. Jadi pandangan yang sehat akan mujizat adalah mujizat adalah hak Allah yang berdaulat. Kita percaya bahwa Allah pernah melakukannya dan masih melakukan mujizat hari ini (dalam konteks pemeliharaan-Nya). Oleh karenanya sah-sah saja ketika berada dalam masalah besar (misal. sakit keras) kita berharap mujizat atau intervensi Allah langsung untuk menyembuhkan penyakit kita. Hanya, ketika Allah tidak menjawab permintaan kita, jangan kita kecewa dan menyalahkan Dia. Secara konkrit sepanjang sejarah Allah melakukan mujizat untuk meneguhkan kebenaran-kebenaran-Nya yang ditulis dalam Alkitab. Dengan kata lain kita harus melihat mujizat dalam perspektif redemptive revelation (sejarah penebusan). Allah tidak memberikan mujizat bagi kepentingan pribadi melainkan dalam koridor keselamatan. Jadi ketika kita mengalami mujizat hari ini, bersyukur dan bertanyalah kepada-Nya, apa yang harus kita lakukan untuk memuliakan nama-Nya dan melayani orang lain.

Pengantar Riset Kuantitatif & Kualitatif

Pendahuluan

Pdt. Andreas Bambang Subagyo, Ph.D. mendapat gelar B.Th (1972) dari STBI, B.A. (1980) dari IKIP Negeri Semarang, M.Div. (1982) dari STBI, Sarjana pendidikan (1985) dari UKSW, M.A. (1988) dari Southwestern Baptist Theological Seminary, dan Ph.D (1993) dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Texas. Beliau sekarang mengajar sebagai dosen paruh waktu di sejumlah STT dan sebagai praktsi pemberdayaan orang dewasa di Semarang.
Buku setebal hampir 500 halaman ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu konsep-konsep dasar, proposal dan pelaksanaan, dan pelaporan. Masing-masing bagian tersebut kemudian dibagi lagi menjadi beberapa bab/pasal sehingga total mencapai 12 bab.


Bagian I: Konsep-konsep Dasar

Bab 1: Arti dan Fungsi Penelitian

Penelitian dilakukan berdasarkan salah satu dari paradigma positivis atau paradigma post-positivis.
Paradigma positivis mempunyai paradigma bahwa realitas dan apa yang benar adalah tunggal, konkret, dan dapat dibagi-bagi; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui terlepas satu sama lain; generalisasi yang bebas dari waktu dan konteks dapat dilakukan; hubungan sebab-akibat dapat dipastikan karena ada itu penyebab yang nyata; nilai tidak berperan karena penelitian itu bebas nilai. Positivisme mempunyai dua sisi yaitu bersifat logis dan empiris sehingga riset adalah mengetahui dan atau berpikir ilmiah.
Paradigma post-positivis mempunyai paradigma bahwa realitas adalah lebih dari satu (jamak), merupakan bentukan, dan holistik; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak terpisahkan dan interaktif; generalisasi yang bebas waktu dan konteks tidak dimungkinkan sehingga hipotesis yang dibuat terikat waktu dan konteks; tidak ada penyebab yang sebenarnya karena semua entitas saling membentuk; penelitian itu terikat pada nilai.
Permasalahan bagi penelitian teologi adalah apakah penelitian teologi itu menggunakan pendekatan positivis atau post-positivis. Pada batas-batas tertentu penelitian teologi mempunyai ciri-ciri paradigma positivis, namun hanya mengandalkan paradigma positivis belaka tidaklah memadai. Demikian juga hanya mengandalkan paradigma post-positivis tidaklah memadai. Harus diingat bahwa penelitian teologi mempunyai pra-anggapan (misal. ada kuasa adi kodrati) yang mempengaruhi pra-anggapan tentang nilai, pengetahuan, logika, sejarah dan bahasa. Dapat dikatakan bahwa penelitian teologi mencakup berbagai metode penelitian ilmu-ilmu lainnya sehingga diperlukan pembelajaran metode-metode teologi dan metode-metode ilmu lainnya yang relevan dengan bidang teologi. Jadi dalam bidang keagamaan, penelitian dilakukan untuk kepentingan pelayanan, yaitu untuk melayani Allah dan manusia.

Bab 2: Ancangan dan Rancangan Penelitian

Sesuai dengan paradigma penelitian (positivis atau post-positivis), ada dua ancangan penelitian yang dapat dipilih yaitu ancangan positivis (kuantitatif) dan ancangan naturalis (kualitatif).
Ancangan positivis (kuantitatif) berpendapat bahwa satu-satunya metode ilmiah sejati untuk memperoleh pengetahuan adalah metode hipotesis-deduktif, yitu menggunakan metode ilmiah dengan prosedur langkah demi langkah dalam memecahkan masalah atas dasar pengamatan empiris.
Ancangan naturalis (kualitatif) berdasar pada metode kualitatif dan deskriptif untuk mengumpulkan data, menghasilkan hipotesis, dan kesimpulan umum sebagai bagian dari prosesnya.
Untuk penelitian teologi, Rothery menyarankan penggabungan kedua ancangan itu dengan memanfaatkan pandangan naturalis tanpa membuang pandangan positivis. Pandangan ini mengakui adanya dua realitas, yaitu realitas objektif dan realitas subjektif.
Dalam pengertian luas, rancangan penelitian menunjuk pada semua prosedur yang dipilih untuk menyelidiki sekumpulan pertanyaan atau hipotesis, hubungan kausal (jika ada) di antara variabel atau gejala yang diselidiki. Penulis buku membahas jenis-jenis rancangan penelitian ini dalam bab 3-bab 6 di bawah ini.


Bab 3: Penelitian Eksperimental dan Kuasi-Eksperimental

Penelitian eksperimental dan kuasi-eksperimental (penelitian yang menggunakan eksperimen dan kuasi-eksperimental sebagai strategi) mencakup variabel bebas dan variabel terikat. Perbedaan di antara keduanya adalah dalam hal tingkat pengendalian eksperimennya.
Dalam penelitian eksperimental, pengendalian variabel sangatlah penting. Peneliti menjaga agar tidak ada pengaruh lain yang masuk kecuali variabel bebas. Berarti eksperimen dijaga agar valid secara internal (agar dapat disimpulkan bahwa variabel bebas menyebabkan perubahan pada variabel terikat) dan eksternal (dapat menarik kesimpulan umum terhadap populasi).
Sedangkan dalam penelitian kuasi-ekperimental, variabel bebas dapat muncul secara alami maupun karena diatur oleh peneliti. Pembagian kelompok secara acak mungkin tidak dapat dilakukan. Untuk meningkatkan rancangan, subyek dapat disepadankan.
Rancangan penelitian eksperimental dalam arti sempit tidak dapat digunakan untuk penelitian teologi, namun dapat digunakan dalam studi keagamaan. Misalnya mengadakan eksperimen mengenai ibadah dengan nyanyian kontemporer atau penyajian khotbah menggunakan multimedia.


Bab 4: Penelitian Kuantitatif Bukan Eksperimential

Penelitian kuantitatif bukan eksperimental sangat beragam jenisnya ditinjau dari berbagai segi misalnya dari tujuan secara umum atau secara khusus atau dari sifat variabel bebasnya. Jenis-jenis penelitian ini adalah:

• Penelitian survey.
Survey adalah penelitian yang sampelnya diambil dari satu populasi dengan keusioner, wawancara, dan pemeriksaan catatan sebagai sumber pengumpulan data pokok. Ada dua macam survey, yaitu cross-sectional (sensus) dan longitudinal.
• Penelitian pengamatan sistemik.
Melakukan pengamatan langsung dalam situasi yang sebenarnya tanpa diketahui subyeknya; atau jika subyeknya dilibatkan, dia diminta untuk melakukan peran tertentu dalam kelompok yang diamati.
• Analisis isi.
Yaitu sebuah teknik riset untuk menggambarkan isi yang tampak dalam bentuk komunikasi apapun secara obyektif, sistematik, dan kuantitatif.
• Penelitian kausal komparatif.
Penelitian ini menyelidiki hubungan kausal di antara variabel sebelum eksperimen dilakukan atau sebagai pengganti eksperimen.
• Penelitian korelasional.
Penelitian ini lebih dalam meneliti variabel bebas dan analisa data yang didapatkan. Hasil penelitian dilakukan dengan statistik korelasional.
• Penelitian untuk prakiraan.
Bertujuan untuk menetapkan tingkat kemungkinan bahwa sesuatu dapat terjadi di masa datang dengan meneliti kemampuan suatu variabel untuk memperkirakan suatu variabel kriterion.
• Penelitian evaluasi.
Evaluasi adalah kegiatan yang luas dan penting untuk merancang, menjalankan, dan memeriksa keguanan program-program kemasyarakatan dan hasilnya akan mempengaruhi kebijakan sosial dan memberikan jawaban atas hasil yang dicapai.
• Penelitian dan pengambangan.
Yaitu penerapan metode ilmiah untuk menciptakan sesuatu yang baru, yaitu proses yang berulang dan dimulai dari penetapan tujuan dan mutu produk. Produk dinilai, diperbaiki, dipakai lagi dan dinilai kembali.


Bab 5: Penelitian Kualitatif Bukan Eksperimental

Penelitian ini dipakai di bidang sosial dan humaniora, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu politik dan berbagai studi teologi.
Macam-macam penelitian kualitatif ilmu sosial dan humaniora:
• Grounded theory (metode perbandingan terus menerus).
Melakukan perbandingan terus menerus antara data dan kategori yang sedang muncul serta sampling teoritis dari kelompok yang berbeda untuk mempertegas perbedaan/persamaan informasi berdasar perspektif banyak subyek.
• Etnografi.
Menyelidiki satu kelompok kultural (suku) apa adanya dalam waktu yang lama melalui pengamatan.
• Fenomenologi.
Meneliti pengalaman manusia melalui penjelasan terperinci dari orang yang diselidiki (dari perspektif subyek).
• Studi kasus.
Menyelidiki sesuatu yang ada atau gejala yang diikat oleh waktu dan kegiatan, lalu mengumpulkan informasi terperinci dengan berbagai prosedur pengumpulan data selama waktu tertentu.
• Hermeneutik.
Yaitu interpretasi teks (makna tertulis) dengan menggunakan analisis tekstual dan interpretasi untuk mendapatkan makna dari teks.
• Metode biografi.
Melakukan penyelidikan pertama untuk mendapat sumber data, menggunakan arsip, dan mengembangkan suatu tema untuk mengintegrasikan kehidupannya.
• Penelitian partisipatif.
Yaitu studi sistematik mengenai usaha-usaha untuk mengubah dan menjadikan praktik pendidikan menjadi lebih baik melalui tindakan praktis dan refleksi atas akibat tindakan itu.
• Penelitian klinis.
Penelitian ini menekankan penggunaan banyak metode. Ciri utamanya adalah menentukan rancangan riset.

Riset Teologi Biblika
Yang dimaksud oleh penulis adalah eksegesis (memahami makna teks) dan kajian Alkitab (menyelidiki Alkitab dan bagian-bagiannya sebagai teks). Ada berbagai metode penelitian biblika, di antaranya adalah:
• Penerjemahan.
Penerjemahan adalah pemindahan teks kuno ke dalam bahasa modern dengan mempertahankan arti dan maksud asli penulisnya.
• Kritik teks.
Kritik teks adalah istilah umum yang menunjuk pada analisa ayat-ayat Alkitab atau semua metodologi yang diterapkan untuk menyelidiki teks biblikal. Jadi menyusun dan menetapkan teks asli sedekat mungkin.
• Kritik sumber.
Yaitu metodologi analisis dalam penyelidikan buku-buku biblikal untuk menemukan dokumen-dokumen yang telah dipakai dalam penyusunan wacana tertulis. Jadi menyelidiki ciri-ciri sebuah teks.
• Kritik bentuk.
Adalah analisis sebuah teks menurut bentuk-bentuk khas yang digunakan orang dalam konteks budaya tertentu.
Selain kritik-kritik di atas, ada berbagai bentuk kritik yang lain yaitu kritik redaksi (menyelidiki pesan dan maksud penulis dengan merekonstruksi situasi historisnya), kritik retorik (menyelidiki mengapa penulis menulis teks dan bagaimana dia menjadikan teks itu), kritik naratif (analisis kitab-kitab sebagai karya sastra yang utuh), kritik strukturalisme, kritik tanggapan pembaca, kritik dekonstruktif, kritik feminisme, dan kritik sosial. (hal 125-140)
• Penyelidikan Alkitab.
Penyelidikan Alkitab dapat menggunakan dan memadukan kritik-kritik di atas untuk mengetahui kebenaran Alkitab. Penulis memberikan 12 metode penyelidikan Alkitab yaitu model pertanyaan-pertanyaan pokok, model kanonik-historis, sintesis, kritis, biografis, historis, teologis, retoris, topikal, analitis, perbandingan, dan devosional. (hal. 140-145)
Salah satu penelitian teologi yang sangat penting adalah penelitian teologi sistematik. Penelitian ini adalah refleksi berdasar data Alkitab yang bertujuan untuk memformulasikan dan mereformulasikan ajaran secara kritis. Sitematika memberikan pernyataan doktrin-doktrin iman kristen yang berkaitan secara logis, berdasar Alkitab, dalam konteks budaya, dinyatakan dengan ungkapan kontemporer, dan berkaitan dengan masalah kehidupan atau kematian.
Penelitian teologi lain yang sangat penting adalah teologi praktika. Teologi praktika adalah bentuk pemikiran tentang kehidupan dengan maksud menjelaskan struktur dan kecenderungan pengalaman. Praktika bersifat komunal karena refleksinya dilakukan dalam masyarakat yang nyata. Praktika bersifat analitis, konstruktif, dan evaluatif.


Bab 6: Penelitian Kesejarahan

Penelitian sejarah adalah pencarian sistematis mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan pertanyaan tentang masa lampau dan penafsiran fakta. Penelitian sejarah berhubungan dengan sejarah sosial dan sejarah kebudayaan. Agar makna dan hubungan antar-peristiwa dapat ditemukan secara tepat, peneliti harus mendekati peristiwa-peristiwa itu sedekat mungkin sehingga dapat direkonstruksi sebaik mungkin.


Bagian II: Proposal

Tahapan-tahapan riset terdiri dari perancangan, penulisan proposal, pelaksanaan riset, pelaporan dan presentasi. Format proposal penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat di halaman 175-178.

Bab 7: Masalah

Masalah yang terjadi adalah penyebab terjadinya penelitian. Masalah timbul bukan hanya yang dialami dalam praktek melainkan juga ketika ada dua teori yang saling bertentangan, bahkan hal-hal yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap bukan masalah. Walaupun demikian, kebanyakan masalah harus dicari melalui pengamatan, pengalaman, dan pemikiran (walau dapat secara kebetulan). Masalah penelitian bisa didapatkan bertolak dari teori, teologi, atau filsafat. Bidang yang dipilih adalah bidang yang paling menarik bagi peneliti. Setelah itu pokok persoalan (yang dibatasi luasnya) ditentukan dengan memikirkan variabel atau konsep-konsep dalam bidang studi itu. Misalnya bidang teologi memilih konsep ‘tritunggal’, bidang biblika memilih ‘dalam nama Yesus’, bidangpsikologi agama memilih ‘pengalaman puncak’.
Pernyataan masalah dapat ditulis dengan cara diskusi, proposisional, atau gabungan keduanya. Pernyataan masalah hendaknya lengkap tidak hanya berupa pokok dan jelas sehingga tidak disalah mengerti tetapi singkat.
Kata pendahuluan berfungsi untuk memberikan latar belakang permasalahan dan mengantarkan pembaca ke pernyataan masalah penelitian. Pembahasan dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal yang makin sempit dan khusus.
Pernyataan masalah perlu diikuti dengan penjelasan istilah. Istilah yang perlu dijelaskan adalah istilah yang pokok, kata-kata yang tidak biasa, konotasi tertentu dan variabel-variabel.
Setelah peneliti menentukan masalah penelitian, menetapkan, menjelaskan dan memberikan batasan operasional terhadap variabel-variabel, peneliti perlu mencari suatu hubungan di antara variabel-variabel itu. Hal ini disebut hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan deklaratif yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan tertentu di antara dua atau lebih variabel yang dapat diuji. Dalam mengembangkan hipotesis, peneliti perlu mempertimbangkan hubungan yang diharapkan di antara variabel-variabel tersebut. Contoh hipotesa: keanggotaan gereja meningkat jika identifikasi anggota gereja meningkat.
Tujuan utama tinjauan kepustakaan adalah untuk mengembangkan kerangka kerja dan alasan penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan kepustakaan menentukan apakah hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ditetapkan sudah cukup diselidiki atau belum (kepatutan penelitian), membantu menghasilkan hipotesis dan pertanyaan penelitian. Bahan-bahan yang terkumpul perlu dipadukan sehingga menghasilkan sintesis kepustakaan yang logis dan kait mengkait dengan masalah penelitian.
Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dengan cara tertentu untuk menjawab pertanyaan penelitian yang dikemukakan sebagai sasaran penelitian. Sasaran penelitian dapat mempunyai tujuan utama (maksud pokok penelitian) dan tujuan-tujuan spesifik (isu-isu spesifik yang akan diteliti). Kepentingan penelitian akan menjawab pertanyaan ‘so what?’ yang menjelaskan apa yang disumbangkan penelitian secara teoritis dan praktis terhadap dunia ilmu pengetahuan.


Bab 8: Metode

Di dalam metode, rancangan penelitian dan variasinya yang akan dilaksanakan harus dijelaskan, termasuk strategi atau metode yang akan digunakan beserta alasan pemilihannya. Jadi peneliti merancang riset dari awal sampai menjelaskan bagaimana dan dari mana data dikumpulkan. Dalam metode penelitian kuantitatif, data dapat dikumpulkan melalui administrasi instrumen (kuesioner, skala, tes), observasi dan pemeriksaan dokumen. Sedangkan secara kualitatif, data dikumpulkan melalui pengamatan dan pemeriksaan dokumen dan wawancara. Peneliti perlu memutuskan bagaimana melakukan pengujian terhadap validitas (isi, prakiraan), realibitas (konsistensi internal), prosedur penggunaan metode beserta alatnya dan bagaimana data yang diperoleh akan diperagakan.
Rancangan apapun yang dipilih memerlukan sumber data. Penelitian kuantitatif mendapatkan data dari populasi dan sampling, sedangkan penelitian kualitatif memperoleh data dari tempat penelitian atau partisipan. Populasi yang dipilih harus diberi batas secara jelas. Ketika populasi yang dipilih besar jumlahnya, sampel dapat dipilih, tetapi jika populasi yang diteliti kecil, keseluruhan populasi dapat digunakan. Prinsip yang penting mengenai sampel adalah benar-benar mewakili populasi bukan karena alasan lain. Sproull menyatakan empat metode pengumpulan data yaitu wawancara, administrasi instrumen, observasi, dan pemeriksaan dokumen tertulis. Pemakaian lebih dari satu metode sangat dianjurkan untuk menutupi kelemahan sebuah metode dengan metode yang lain.
Alat-alat pengumpulan data seperti kuesioner, daftar wawancara, skala, dll biasanya dibuat sendiri dan harus memenuhi tiga syarat yaitu valid (mampu berfungsi sesuai tujuan), reliabel (hasilnya dapat dipercaya), obyektif (jika diulang akan menghasilkan hasil yang sama).


Bab 9: Analisis

Bagian analisis meliputi uraian mengenai jenis analisis data yang akan dilakukan dan alasan pemilihannya, rencana penyajian data, prosedur analisis dan penyajian hasil analisis, ketentuan-ketentuan mengenai penafsiran hasil analisis dan evaluasi. Prosedur analisis data perlu dipastikan sesuai dengan data kuantitatif atau data kualitatif. Hal ini akan menentukan jenis analisis data yang dipakai, statistikal atau bukan statistikal. Penelitian yang memakai hipotesis memerlukan analisis statistik karena hipotesis itu perlu diuji.
Analisis data kuantitatif menggunakan analisis statistik. Ada empat tingkat pengukuran yang dilakukan yaitu:
• nominal, yaitu mengenakan angka pada obyek atau peristiwa yang tergolong secara timbal balik, eksklusif dan eksostif.
• ordinal, yaitu mengenakan angka yang berurutan pada objek atau peristiwa yang dapat ditempatkan dalam kategori ekslusif timbal balik dan dapat disusun dalam skala ‘lebih besar atau lebih kecil dari’.
• interval, yaitumengenakan angka pada objek atau peristiwa yang dapat dikelompokkan, dapat disusun dan jarak antara unit-unitnya dianggap setara.
• rasio, yaitu mengenakan angka pada objek atau peristiwa yang dapat dikelompokkan, disusun, dan jarak antara unit-unitnya dianggap setara.
Bila peneliti menggunakan analisis data kuantitatif, dia harus memilih memakai statistik parametrik (uji statistik untuk hipotesis yang berkaitan dengan parameter seperti mean dan karelasi) atau bukan parametrik ((uji statistik yang tidak memerlukan pra-anggapan uji parametrik dan jenis data interval). Pengambilan keputusan mengenai statistik mencakup dua jenis fungsi statistik, yaitu statistik deskriptif dan inferensial.
Penelitian kualitatif erat hubungannya dengan pengumpulan data berupa data deskriptif harus dianalisis agar dapat diartikan. Proses analisis data kualitatif mengubah sifat data dan mencakup tiga sub proses yaitu:
• deskripsi, yaitu mencatat data apa adanya dan menjawab pertanyaan ‘apa yang terjadi di sini?’.
• analisis, yaitu membahas identifikasi ciri-ciri objek serta menjelaskan secara sistematis hubungan di antara ciri-ciri itu dengan singkat dan bagaimana objek beroperasi.
• interpretasi, membahas pertanyaan ‘apa arti semuanya itu?, apa yang harus dilakukan?’ terhadap konteks dan makna sebagai kelanjutan dari penemuan.

Dalam penyajian data perlu dijelaskan bagaimana cara mempersiapkan data agar dapat dianalisis, cara mengatur data, dan cara menggambarkannya. Penyajian data dapat berupa tabel, visual, analisa naratif, dll. Sementara itu pada penafsiran dan evaluasi, penulis menjelaskan cara penafsiran yang telah ditentukan dan akan dilakukan. Bagaimana validitas simpulan itu dipastikan, harus dipastikan penafsirannya valid.
Penafsiran dan penyajian tidak dapat dipisahkan karena orang melakukan penafsiran pada waktu menyajikan hasil. Rancangan kualitatif hanya menyajikan rencana jawaban atas setiap pertanyaan penelitian karena tidak ada uji hipotesis. Oleh karenanya, peneliti harus menyatakan rencana penyajian hasil penafsiran. Simpulan rancangan kualitatif seharusnya mencakup langkah-langkah verifikasi, penentuan ketepatan laporan, dan menunjukkan kemungkinan pengulangan studi oleh orang lain. Dengan demikian, validitas penelitian dapat dipertanggung-jawabkan.


Bab 10: Perencanaan Waktu Pelaksanaan, Unsur Lain, dan Penulisan Proposal

Dalam melakukan penelitian, rencana pelaksanaan dan waktu penulisan harus direncanakan dengan baik dan realistis sesuai dengan keadaan dan kemampuan peneliti.
Sproull menyerankan pemakaian bagan PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Method) untuk memperkirakan waktu. Langkah-langkahnya sbb:
• Menetapkan setiap kegiatan pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan. Meliputi mendapatkan sumber data, menyiapkan alat pengumpul data, mengumpulkan data, menganalisa data, membuat laporan, dan menyajikan hasil secara lisan.
• Mendaftar kegiatan yang bergantung dan tidak bergantung kepada penyelesaian kegiatan-kegiatan sebelumnya.
• Membuat bagan kegiatan-kegiatan yang bergantung kepada rangkaian waktu.
• Membuat bagan kegiatan-kegiatan yang berdiri sendiri pada waktu yang tepat dan selaras.
• Menghubungkan bagan kegiatan-kegiatan dengan garis.
• Menentukan perkiraan waktu untuk setiap kegiatan dan menempatkannya pada bagan.
• Menjumlahkan perkiraan waktu dalam setiap alur.
• Menentukan alur dengan jumlah perkiraan waktu yang terbanyak sebagai alur kritis dan mencantumkannya dalam bagan dengan garis tebal dan keterangan. (285-334)

Penulisan dan penyerahan proposal sangat penting karena untuk mendapatkan izin dan atau mendapat dana untuk penelitian bergantung pada seberapa baik proposal yang ditulisnya. Proposal adalah penuangan hasil merancang riset dalam bentuk tulisan secara ringkas dan jelas. Penulis memberikan 14 langkah-langkah penulisan proposal di halaman 335. Beberapa di antaranya sbb:
• Mengantarkan pembaca kepada masalah.
• Menetapkan masalah dan atau tujuan atau maksud atau arah.
• Mendefinisikan masalah.
• Mempersiapkan analisa data dan penafsiran hasil analisis.

Contoh usulan penelitian secara lengkap ada pada halaman 346-409.
Bagian III: Pelaksanaan dan Pelaporan

Bab 11: Pelaksanaan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ada etika penelitian yang harus dipegang misalnya etika masyarakat akademis, etika sponsor, dan etika perguruan tinggi. Macam-macam etika dalam perilaku ilmiah adalah:
• Etika berkenaan dengan kebersamaan ilmuwan, yaitu mengakui sumber kutipan, peran orang lain, dan tidak merahasiakan hasil penelitiannya.
• Etika berkenaan dengan kepentingan pengetahuan, yaitu menjaga motif penelitian secara profesional.
• Etika berkenaan dengan keterbukaan, yaitu kritis dan jujur terhadap penelitian diri sendiri dan orang lain.
• Etika berkenaan dengan ketidakberpihakan, yaitu mengambil keputusan berdasar nilai ilmiah, bukan karena favoritisme.

Penulis meringkaskan sembilan langkah pelaksanaan proposal sbb:
• Membuat, memperbaiki, memilih, dan menguji coba alat pengumpulan data.
• Memilih sampel.
• Membuat kesepakatan dengan subyek.
• Mengumpulkan data.
• Mengatur dan meringkas data.
• Menganalisa data.
• Menguji hipotesa dan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.
• Memriksa penemuan tidak terduga.
• Meringkaskan penemuan-penemuan dan menafsirkannya.


Bab 12: Penulisan Laporan Penelitian

Inilah langkah terakhir dalam proses penelitian tapi bukan berarti kurang penting. Bagaimanapun baiknya penelitian dan hasil-hasilnya, bila tidak disajikan dan dikomunikasikan dengan baik akan menjadi kurang berarti.
Laporan penelitian biasanya dapat dikualifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu laporan penelitian lengkap, artikel penelitian terpisah, dan laporan ringkas. Laporan penelitian ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik, sponsor penelitian, dan masyarakat luas.
Isi laporan penelitian biasanya meliputi empat bagian utama yaitu masalah, metode, penemuan, dan pembahasan. Sedangkan halaman depan meliputi halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar ilustrasi, halaman persembahan, halaman moto, halaman pengesahan, pengantar, dan abstrak.
Bagian-bagian utama laporan penelitian dimulai dengan pendahuluan. Pendahuluan meninjau masalah penelitian dan menunjukkan kepentingan praktis dan teoritis peneliktian. Di dalam pendahuluan dapat dimasukkan sintesis kepustakaan yang menunjukkan pokok permasalahan dan keadaan pengetahuan mengenai masalah itu sampai saat ini.
Metode penelitian meliputi semua keterangan mengenai bagaimana penelitian dijalankan dan mencakup penjelasan mengenai rancangan penelitian serta pemakaiannya, penjelasan mengenai populasi, prosedur dan besar sampel, penjelasan terperinci metode pengumpulan data, penjelasan lengkap eksperimen atau prosedur pengumpulan data, penjelasan terinci analisis yang dipakai dan prosedurnya, pernyataan mengenai keterbatasan dan pra-anggapan, dan penjelasan singkat mengenai masalah yang tidak diharapkan, yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian.
Penyajian penemuan di awali dengan penyajian data diikuti penemuan-penemuan atau hasil analisis yang disajikan dengan tepat dan jelas. Data-data dikelompokkan, diatur, dan dipilah sesuai dengan masalah penelitian. Hasil uji setiap hipotesis disajikan satu per satu. Baik hasil analisis data secara kuantitatif atau kualitatif harus disajikan sedemiikian rupa agar mudah dipahami pembaca.
Bagian pembahasan penemuan dapat dimulai dengan ringkasan masalah dan metode penelitian dan tinjauan mengenai temuan-temuan penelitian yang penting. Setelah itu arti penemuan atau penafsiran hasil analisis data dibahas dalam sintesis kepustakaan. Perincian isi pembahasan penemuan bergantung pada sifat penemuan dan yang telah dikatakan sebelumnya mengenai penemuan itu serta pada paradigma rancangan penelitian.
Bentuk laporan penelitian dapat berbentuk laporan penelitian historis (tidak ada format baku, masalah dan topik menentukan bagaimana penyajian penemuan tersebut), laporan penelitian kuantitatif (berbentuk penuturan penelitian), dan laporan penelitian kualitatif (berbentuk kisah penelitian).


Penutup

Sebagai panduan riset, buku ini memberikan suatu fondasi yang kokoh dan memberikan satu penggambaran proses melakukan riset dari proses pertama sekali sampai akhir penyelesaian penelitian. Isi buku sangat lengkap memberikan informasi, teori, dan contoh praktis melakukan penelitian, terutama bagi peneliti junior yang masih sangat terbatas pengetahuannya tentang penelitian.
Kekurangan dari buku ini menurut hemat saya adalah rumitnya penjelasan yang diberikan. Sebenarnya buku ini sangat sistematis, hanya penjelasan yang diberikan cenderung rumit karena penulis mengutip berbagai pendapat dari para ahli di mana banyaknya kutipan mereka akhirnya mengaburkan poin yang hendak disampaikan. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menangkap maksud dari penulis, dibutuhkan konsentrasi dan usaha yang besar untuk memahami buku ini. Walaupun begitu sebagai buku pegangan mata kuliah metodologi penelitian pasca sarjana, buku ini sangat memadai. Persoalan lebih besar akan timbul ketika buku ini digunakan untuk tingkat sarjana.