Monday, May 5, 2008

Timeless Calling and Grace (2), Let's Unleash Our Masks

Matius 12:33 ‘Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal’.

Hukum yang terutama: Markus 12: 30-31 ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini’.


Pada bagian pertama kita melihat betapa jujurnya Alkitab mencatat berbagai kelemahan manusia baik nabi, rasul maupun hamba Tuhan sepanjang masa. Memang dalam sejarah dunia tidak ada manusia yang sempurna dan ‘the real hero’ dalam Alkitab bukanlah Abraham, Samuel, Petrus ataupun Paulus melainkan hanya Allah saja. Boleh-boleh saja kita mengidolakan seorang hamba Tuhan, tetapi kekaguman itu harus disertai dengan kesadaran bahwa: ‘hamba Tuhan bukanlah superman’ dan selalu ada sisi-sisi kelemahan manusiawi yang harus dimaklumi dan dijadikan tanda awas bagi kita agar tidak diulangi.

Pohon vs Buah
Malam ini kita belajar dari perjalanan hidup Bob Pierce. Bob Pierce adalah pendiri World Vision, lembaga bantuan dan pembangunan Kristen terbesar yang melayani lebih dari 50 juta orang per tahun di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Rekan-rekannya berkata: ‘Ia adalah seorang yang tidak kenal lelah dalam memenangkan jiwa-jiwa’, ‘saya belum pernah bertemu dengan orang yang lebih ber-belas-kasihan dari dia’, ‘Ia benar-benar seorang Samaria Kristen yang secara harafiah menyerahkan nyawanya untuk orang-orang ‘kecil’ yang miskin di dunia’.
Di balik image yang ‘sempurna’ tsb, bagimana sebenarnya seorang Bob Pierce di mata keluarganya?. Pada kenyataannya dia mengabaikan keluarganya sendiri, sebagai contoh ketika seorang putrinya akan mencoba bunuh diri, dia menelpon ayahnya yang berada di Timur Jauh dan memintanya untuk segera pulang. ‘Saya hanya ingin merasakan tangan ayah memeluk saya’ kata anaknya. Bahkan istrinya juga memohon agar ia pulanh tapi Bob Pierce tidak menuruti permintaan keluarganya dan malah memesan tiket ke Vietnam. ‘Saya sudah menduga bahwa ia tidak akan pulang,’ kata anaknya. Beberapa tahun kemudian ia benar-benar berhasil bunuh diri. Hubungan Bob Pierce dengan istrinya dan anaknya yang lain sangat tegang dan mereka tidak saling berbicara bertahun-tahun dan pada usia 64 tahun, pada tahun terakhir hidupnya dia hidup terasing dari keluarganya. Semua kisah ini ditulis oleh putrinya yang bernama Marilee Pierce Dunker dalam sebuah buku yang berjudul ‘Man of Vision, Woman of Prayer’.

Contoh kedua adalah Ray Mossholder, seorang yang terkenal sebagai bapa dari pelayanan pernikahan Kristen. Bukunya yang berjudul ‘Pernikahan Plus’ menjadi best seller di mana-mana dan melalui pelayanannya melalui radio dan TV telah menyelamatkan lebih dari 11.000 pasangan dari perceraian. Bayangkan, 11.000 pasangan yang artinya: satu tahun ada 365 hari, bila 11.000/365= 30,14 Artinya bila sebuah perkawinan diselamatkan dari perceraian setiap hari tanpa putus sepanjang tahun, butuh lebih dari 30 tahun untuk menyamai ‘rekor’ Ray Mossholder.
Pelayanannya berakhir pada bulan Januari 2002 ketika ia menuntut cerai istri yang telah dinikahinya selama 40 tahun sekaligus mengumumkan rencananya untuk menikahi wanita lain. Pernyataan yang sangat menyedihkan ketika ia mengakui bahwa ‘ia munafik ketika berbicara tentang betapa indahnya pernikahan kami dulu. Apa yang saya ajarkan sebagai kebenaran, entah mengapa, tidak dapat saya terapkan dalam pernikahan kami’.
Ketika pertama saya membaca kisah-kisah di atas, terus terang saya merasa shock dan berpikir kok bisa ya?....kenapa bisa begitu?........apa yang keliru? Bukankah hal ini seakan-akan bertentangan dengan ucapan Kristus dalam Matius 12:33 yang menyatakan bahwa ‘dari buahnya pohon itu dikenal’, jadi buah ditentukan oleh buahnya. Buah mangga pasti berasal dari pohon mangga, buah jeruk pasti berasal dari pohon jeruk, simple sekali bukan?. Tetapi ketika kita melihat pada Bob Pierce dan Ray Mossholder kita menjadi heran, orang-orang ini besar, mempunyai buah yang sangat baik di luar, tetapi ternyata pohon hatinya dingin luar biasa. Saya merasakan (bagaimana dengan saudara?) di zaman posmo hari ini semakin manusia pandai untuk memakai topeng untuk menutupi hatinya yang asli. Kalau menurut saudara, mengapa orang memakai banyak topeng? Saya pikir paling tidak ada 3 hal: karena ia sukar menerima dirinya sendiri, ia tidak merasa aman bila dirinya yang asli terlihat orang lain, karena pengajaran yang tanpa sadar diturunkan turun-menurun dan social pressure misal tradisi untuk berbasa-basi mengakibatkan orang yang tidak berbasa-basi dianggap sombong.
Memang harus kita akui ada sebuah jurang yang dalam antara hati Tuhan dengan hati manusia, antara kehendak Tuhan dengan kehendak daging manusia. Lalu apakah berarti ayat di atas keliru? Tidak, karena pada dasarnya bagaimana pandainya kita menutupi hati kita yang asli dan menipu seribu atau sejuta manusia tapi sekali-kali tidak pernah mampu menipu Yesus. Amin?

Pengetahuan Cognitive vs Hati
Pada poin pertama kita melihat bagaimana orang kristen bisa hidup dengan tidak konsisten dan memakai berbagai macam topeng yang berbeda untuk situasi yang berbeda. Pertanyaan yang kita renungkan dalam poin yang kedua adalah bagaimana sebenarnya kehendak Tuhan:
Hukum yang terutama: Markus 12: 30-31. Ayat ini sungguh dahsyat karena merupakan tuntutan sekaligus tuntunan Tuhan yang sangat jelas:
Mengasihi Allah dengan segenap keberadaan diri kita.
Segenap keberadaan diri meliputi Rasio, Hati dan Kemauan. Tuhan ingin agar setiap orang kristen dapat mengintegrasikan dan mengaplikasikan tiga hal ini dalam hidupnya. Kita akan melihat hal ini nanti.
Mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Hal ini terdengar mudah tapi sebenarnya begitu kompleks. Sebelum mengasihi orang lain kita harus lebih dahulu dapat menerima diri sendiri dan mengasihinya. Kita akan membicarakan hal ini dalam poin terakhir nanti.

Kata kasih begitu famaliar, begitu mudah untuk diucapkan (bagi yang pacaran) dan begitu mudah pula untuk diingkari (kalau ingin putus). Ada yang namanya kasih Eros, Philia dan Agape. Secara gampang Eros adalah nafsu, Philia adalah kasih seorang ibu pada anaknya dan Agape adalah kasih Tuhan kepada umat-Nya. Eros dan Philia adalah kasih yang bersyarat (practical love) sedangkan Agape adalah kasih yang tidak bersyarat (essensial love). Dapatkah kita mengasihi Allah dan sesama dengan kasih yang tak bersyarat?
Dalam bukunya ‘Improving Your Serve’, Charles Swindoll menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang mahasiswa seminari bernama Aaron (bukan nama sebenarnya). Aaron menceritakan sebuah pengalaman yang fantastis dimana Tuhan membentuknya dalam kesulitan. Pada suatu hari di musim semi dia berdoa agar Tuhan membuka kesempatan baginya untuk dapat bekerja sebagai staf di sebuah gereja atau organisasi kristen. Hari berganti, minggu berganti sampai musim panas tiba. Aaron menghadapi kenyataan bahwa ia memerlukan pekerjaan apapun. Ia memeriksa lowongan kerja dan satu-satunya pekerjaan yang ia dapatkan adalah sebagai supir bus di kota Chicago.
Sekelompok anak nakal melihat supir muda ini dan mulai memanfaatkannya. Beberapa hari berturut-turut mereka naik bis tanpa membeli karcis dan selama perjalanan mengganggu dan mengejek Aaron dan penumpang yang lain. Suatu hari Aaron merasa tidak tahan lagi dan ketika dia melihat seorang polisi maka ia berhenti dan melaporkan kejadian tersebut. Polisi tersebut memerintahkan mereka untuk membayar atau turun dari bis. Mereka membayar........hanya sayangnya, polisi tsb turun dan bis dan mereka tidak. Setelah beberapa belokan.....mereka serentak menyerang Aaron. Ketika siuman, aaron mendapati bajunya penuh darah, dua giginya rontok, mukanya bengkak dan semua uangnya hilang. Malam itu Aaron terbaring terlentang dan rasa marah, bingung dan kecewa. Ia melewati malam yang panjang bergumul dengan Tuhan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Di manakah Tuhan? Dengan tulus saya mau melayani Dia dimanapun dan apapun pekerjaannya........dan inikah balasan yang saya dapat?
Hari senin pagi Aaron memutuskan untuk menuntut penjahat-penjahat tsb. Dengan bantuan polisi yang telah melihat mereka dan beberapa orang yang bersedia menjadi saksi maka penjahat-penjahat kejam tsb digiring ke penjara lokal. Dalam beberapa hari sidang dilaksanakan. Di dalam ruang pengadilan gerombolan penjahat tsb melotot penuh kemarahan pada Aaron, tiba-tiba saja Aaron diserang oleh suatu pemikiran baru. Bukan kepahitan tapi rasa kasih. Kuasa Roh Kudus membuatnya tidak lagi membenci melainkan mengasihani mereka. Mereka perlu pertolongan, bukan kebencian tapi apa yang harus saya lakukan atau katakan?
Setelah dakwaan selesai dibacakan, tiba-tiba Aaron mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia berdiri dan mohon izin untuk berbicara. ‘Yang mulia, tolong hitung berapa hari hukuman yang harus mereka jalankan-dan saya mohon engkau membiarkan saya masuk penjara untuk menggantikan mereka’.
Sang hakim terperanjat dan tidak tahu harus berbuat apa, demikian juga dua orang pengacara yang ada terbengong-bengong. Aaron memandang kepada gerombolan penjahat itu (yang matanya melotot dan mulutnya ternganga), ia tersenyum dan berkata dengan tenang: ‘itu karena saya mengampuni kalian’.
Sang hakim setelah menenangkan dirinya berkata dengan tegas: ‘anak muda, engkau tidak beres. Hal seperti ini tidak pernah terjadi’. Aaron menjawab dengan tenang: ‘Oh, ya, pernah, yang mulia.......ya, pernah. Hal itu terjadi kira-kira 20 abad yang lalu ketika seorang manusia dari Galilea membayar hukuman yang seharusnya ditanggung oleh umat manusia’. Selanjutnya selama 3-4 menit ia menjelaskan bagaiman Yesus mati bagi kita dan membuktikan cinta dan pengampunan-Nya.
Permohonan Aaron tidak dikabulkan, tetapi ia mengunjungi penjahat-penjahat tsb di penjara dan membawa sebagian besar dari mereka kepada Kristus.

Saudara, kasih yang ditunjukkan oleh Aaron adalah kasih yang tak bersyarat, kasih yang memberi dengan mengorbankan diri. Ketika menulis ini, saya melakukan internalisasi dan mendapati betapa kasih saya sungguh bersyarat dalam sebagian besar hubungan saya dengan sesama dan Tuhan. Ide kasih tak bersyarat terdengar mulia tapi jujur saya harus mengakui justru dari sepanjang hidup saya, orang yang paling sering saya merasa marah, jangkel sampai ada waktu-waktu tertentu rasanya sudah tidak tahan lagi, orang itu adalah.......seorang wanita dimana 14 tahun yang lalu saya bersumpah dihadapan Tuhan untuk mencintainya dalam suka dan duka. Saya sudah menjadi orang kristen hampir 20 tahun dan Yesus tidak banyak merubah karakter saya. Jujur, dalam 2 tahun terakhir ini saya bergumul dengan Tuhan karena ada kekecewaan dalam hidup saya seperti yang dialami oleh Aaron, padahal justru 2 tahun terakhir ini saya serius belajar teologi. Apa yang salah sehingga orang yang mengerti teologi, pohon dan buahnya tidak sinkron?. Melalui proses pergumulan yang panjang dan melelahkan Tuhan mulai singkapkan melalui sebuah buku yang ditulis oleh Rev. Peter Scazzero ‘Gereja Yang Sehat Secara Emosional’. Dia menulis bahwa kesehatan emosional dan kesehatan spiritual tidak terpisahkan sehingga tidak mungkin kita menjadi matang secara rohani, tanpa matang secara emosional.
Maksudnya apa?
Manusia yang dicipta dalam gambar Allah mempunyai berbagai aspek seperti fisik, sosial, emosional, intelektual dan spiritual. Untuk menjadi seorang yang matang secara spiritual haruslah kita menjadi matang secara emosional dan intelektual, tidak bisa hanya salah satunya saja. Hal ini membawa implikasi seseorang yang mempunyai pengetahuan teologi secara mendalam belum tentu matang secara emosional dan berubah karakternya.

Dunia Eksterior vs Interior
Rev. Peter Scazzero menulis 6 prinsip yang perlu digumuli agar kita bertumbuh menjadi sehat secara rohani dengan mengintegrasikan dan mengaplikasikan rasio dan emosi. Karena keterbatasan waktu saya membagikan 2 prinsip:

Melihat ke bawah permukaan.
Dunia eksterior adalah kehidupan kita ber-relasi dengan orang-orang di sekitar kita, sedang dunia interior adalah apa yang terjadi di dalam diri kita. Bila diibaratkan gunung es maka dunia eksterior hanyalah sebagian kecil sedangkan dunia interior yang tidak kelihatan sangatlah besar. Ingat bahwa Titanic-pun tenggelam setelah menabrak bagian gunung es yang tidak kelihatan itu. Kalau diilustrasikan dengan kue lapis maka saya yang saudara lihat sekarang ini adalah lapis pertama (eksternal). Jadi lapis pertama adalah apa yang saya tampilkan di luar, yang saya ingin saudara lihat pada diri saya. Apakah saudara pernah kenal dengan orang yang di luar lembut sekali tapi ternyata di rumah menjadi macan? Nah, itulah lapis kedua yang merupakan sebagian besar diri kita yang asli. Siapa yang bisa lihat? Biasanya orang rumah bukan? istri, anak, mertua, pembantu, supir. Lapis ketiga adalah dosa atau kelemahan yang sangat memalukan sehingga istripun tidak boleh tahu. Terus siapa yang tahu? Ya cuma diri sendiri, Tuhan dan setan. Lapis keempat kitapun kita tidak tahu atau mati-matian berusaha melupakannya sehingga hanya Tuhan dan setan yang tahu. Sebagai contoh trauma dan luka batin sejak kecil yang tidak disadari. Contoh YC
Saudara, kehidupan rumah tangga kira-kira berada pada lapis keberapa?
Pada suatu malam yang bersalju ada sepasang pastor dan suster yang tersesat dan kemalaman di jalan. Di tengah kebingungan mereka melihat sekilas cahaya dari sebuah motel. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di motel tsb tetapi malang ternyata hanya tersisa sebuah kamar dengan sebuah tempat tidur. Dengan jiwa besar pastor berkata: suster, silahkan tidur di ranjang, saya akan tidur di kantong tidur. Begitu merebahkan badannya sang suster berkata: pastor rasanya dingin sekali. Dengan penuh kasih pastor bangkit dan menyelimuti suster. Begitu pastor membalikkan badan, suster berkata: pastor rasanya masih dingin. Kembali pastor mengambil sebuah selimut dan menyelimuti suster. Kali ini sebelum pastor membalikkan badan suster memanggil: pastor...dengan menghela nafas pastor berkata: masih dingin kan? Sang suster tidak menjawab hanya mengangguk. Pastor berkata: suster, tempat ini jauh dari mana-mana dan tidak ada yang kita kenal dan mengenal kita. Maukah jika kita berlaku seperti suami-istri malam ini saja? Suster menjawab: ya.....kalau untuk malam ini saja saya setuju. Pastor berkata dengan nada marah: elu ya sekali lagi ngomong dingin, ambil sendiri tuh selimut. Bawel amat sih, lu nggak tau gua capek, besok masih banyak kerjaan. Saudara, inilah realita kehidupan suami-istri bukan? Kenapa kita bisa kasar pada pasangan kita? Kan orang sendiri sehingga kita merasa aman untuk menunjukkan diri kita yang asli. Inilah lapis kedua dari kue lapis hati kita.
2. Hancurkan kekuatan dari masa lalu.
Dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, setiap anak bertumbuh menjadi dewasa pasti mempunyai ‘riwayat’ luka batin. Luka batin yang tersimpan di bawah permukaan sering dilupakan karena dianggap setelah menerima Kristus hal ini akan beres dengan sendirinya. Tidak, tidak, saudara, the old nature is still inside. Justru kita harus mengenali dan meng-counternya dengan Firman Tuhan hari demi hari sehingga natur berdosa itu menjadi semakin lemah dan RK di dalam semakin kuat.
Biasanya untuk melihat ‘kekotoran’ diri adalah sebuah hal yang sangat sulit untuk dilakukan karena siapa sih yang suka mengorek dan melihat kekotoran diri sendiri?. Lalu siapa yang sanggup membersihkan kotoran dalam diri kita? C.S Lewis menggambarkan hal ini dengan indahnya dalam bukunya The Chronicles of Narnia: Eustace berubah menjadi seekor naga karena egois, keras kepala dan tidak percaya. Dia ingin berubah menjadi manusia lagi tapi tidak bisa. Akhirnya seekor singa (yang menggambarkan Yesus) membawanya ke mata air untuk membasuh diri, tetapi karena ia adalah seekor naga, ia tidak dapat melakukannya. Singa itu menyuruhnya untuk melepaskan kulitnya. Dengan kesakitan Eustace berhasil melepas satu lapis kulitnya tetapi segera ia menyadari tenyata masih ada lapisan kulit yang tersisa di dalam tubuhnya. Kembali ia berjuang melepaskan kulitnya dengan penuh kesakitan sampai akhirnya ia menyerah.
Singa itu kemudian berkata: ‘engkau harus mengizinkan aku untuk melepaskannya’. Eustace berkata: ‘aku takut terhadap cakarnya, tapi saya benar-benar putus asa, jadi saya membiarkan dia melakukannya’. Bukaan pertama yang dikerjakannya begitu dalam, begitu sakitnya, saya pikir cakarnya telah menembus jantung saya. Akhirnya kulit itu berhasil dilepaskan, kulit yang paling tebal dan gelap. Kemudian ia memegang dan melempar saya ke dalam air. Rasanya sakit sekali, tetapi hanya sebentar, setelah itu rasanya nikmat sekali dan saya mendapati diri saya kembali menjadi manusia.

Malam ini saya mengajak kita semua untuk merenungkan hidup kita. Adakah kita hidup dengan memakai topeng yang berlapis-lapis? siapakah manusia yang paling sering kita marahi, jengkeli, omeli? Apakah dia adalah istrimu? Izinkan saya berbagi dengan saudara: ketika saya merasa marah pada istri, cepat-cepat kaitkan itu pada Yesus. Maksudnya kami ini yang sama-sama manusia berdosa saja sulit untuk saling menerima kekurangan. Yesus yang tidak berdosa mau mencintai saya yang berdosa, yang kotor dan najis tanpa syarat, masakan saya tidak mau belajar untuk menerima kekurangan istri dan belajar untuk mencintainya tanpa syarat. Jelas ini adalah hal yang sangat sulit tapi inilah panggilan Tuhan pada kita, pria-pria pemimpin dalam rumah tangga untuk melayani istri kita terlebih dahulu. Untuk merubah lapisan kedua, ketiga dan keempat bukan masalah mudah dan hanya melalui pergumulan yang berat bersama Roh Kudus secara terus menerus yang dapat merubah karakter kita. Ini bukan sesuatu yang instan dan cepat. Ketika karakter kita sudah mengkristal dan membatu tidak ada jalan lain kecuali menggantinya dengan pohon yang baru yang dimulai dari benih, tumbuh kecil, terus disirami. Tidak bisa hari ini ditanam besok sudah besar. Mari kita berdoa.
Sola Gracia, ‘Pelayanan saya adalah perubahan dalam hidup yang dapat disaksikan orang lain, perubahan hidup itulah yang saya gunakan untuk melayani orang lain’ (Peter Scazzero)
On His Grace, Hendra, 300408
Bibliografi:
Charles Swindoll, Improving Your Serve
Peter Scazzero, Gereja yang Sehat Secara Emosional
Yohan Candawasa, kotbah
Buletin Parakaleo, Dep. Psikologi STTRII

Saturday, April 5, 2008

Timeless Calling and Grace

Hakim-hakim 17: 6; 21:25 ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”

Satu hal yang selalu menjadi kegentaran saya dalam menyampaikan renungan adalah: jangan sampai saya menyampaikan Firman Tuhan secara keliru karena jika keliru dan diterima saudara sebagai kebenaran, artinya saya adalah penyesat Firman dan itu sangat mengerikan, dosa saya dobel karena itu mari kita berdoa agar Roh Kudus sendiri yang mengiluminasikan kebenaran Firman Tuhan dalam hati kita masing-masing.

Sebagai seorang pengusaha kecil-kecilan, kadang saya mendapati bahwa beberapa karyawan suka bekerja sesuka hatinya sendiri misalnya berhenti bekerja ketika tidak ada yang mengawasi dan buru-buru bekerja ketika saya datang. Apakah saudara-saudara mempunyai pengalaman yang sama? Kalau tidak, coba saudara tes. Saudara bilang mau pergi ke luar kota tapi diam-diam menyelinap kembali dan memperhatikan mereka. Kita akan mendapati bahwa manusia sulit untuk mematuhi peraturan dan suka untuk bertindak menurut kemauannya sendiri.

Saudara-saudara, kalau kita melihat sejarah bangsa Israel maka kita mendapati bahwa dalam kitab Keluaran Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Kemudian dalam kitab Yosua kita melihat Yosua meneruskan kepemimpinan Musa dan memimpin bangsa Israel berperang dan merebut tanah Kanaan. Maka kitab Hakim-hakim mencatat kehidupan bangsa Israel di tanah perjanjian, tanah Kanaan. Pasal 2 mengatakan setelah kematian Yosua maka bangsa Israel mulai berpaling dari Tuhan dan menyembah Baal. Sebagai akibatnya Tuhan murka dan menyerahkan bangsa Israel ke dalam penjajahan bangsa kafir. Dalam penderitaan, mereka berteriak mohon pertolongan Tuhan dan Tuhan membangkitkan seorang hakim untuk memimpin bangsa Israel berperang serta memberikan kemenangan. Bangsa Israel berbuat baik sampai hakim tersebut mati, kemudian mereka kembali lagi pada ketidaksetiaan. Jadi setelah satu angkatan berlalu, muncul generasi baru dan mengulangi kesalahan yang sama dengan menyembah berhala. Akibatnya selama jaman hakim-hakim kita melihat suatu pola yang sama yaitu: menyembah berhala, dijajah, bertobat, pertolongan Tuhan datang melalui para hakim, generasi lama berganti generasi baru dan pola yang sama berulang kembali sehingga hukuman Tuhan tidak habis-habisnya menimpa Israel. Nah, setelah hakim terakhir yaitu Samson mati, Hak 17:6 dan ditegaskan lagi pada pasal dan ayat terakhir (21:25) bahwa orang Israel berbuat menurut apa yang dianggapnya baik oleh dirinya masing-masing. Ketika sebuah ayat tercatat dalam Alkitab dan ayat tsb diulangi lagi, maka kita tahu ini adalah suatu hal yang ditekankan oleh penulis. Perbuatan apakah yang dilakukan oleh bangsa Israel?
Pasal 17 mencatat bagaimana Mikha (suku Efraim) mencuri uang ibunya dan men-tahbiskan anaknya menjadi imam padahal jelas hanya suku Lewi-lah yang boleh menjadi imam. Pasal 18 menulis bagaimana suku Dan merebut/merampok Mikha. Pasal 19 mencatat perbuatan a moral yang dilakukan sekelompok orang dari suku Benyamin sehingga akhirnya terjadi perang saudara antara suku Benyamin yang dikeroyok orang Israel lainnya. Pasal 20 mencatat perang yang dahsyat luar biasa, 25.000 orang suku Benyamin dibunuh oleh bangsa Israel, setelah reda amarahnya ternyata hanya tersisa 600 pria tanpa seorangpun wanita dari suku Benyamin. Saudara, suku Benyamin terancam punah karena sebelum perang suku-suku Israel lainnya telah bersumpah untuk tidak menikahkan wanita-wanita mereka dengan pria-pria dari suku Benyamin. Bagaimana jalan keluarnya? Pasal 21: mereka menyuruh pria Benyamin untuk menculik perempuan Silo dan menjadikannya istri mereka. Begitu rusaknya moral bangsa Israel sehingga kitab hakim-hakim diakhiri dengan perkataan: setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.
Sekarang menurut saudara adakah kemiripan apa yang terjadi dalam jaman hakim-hakim dengan jaman kita hari ini. Bangsa Israel dikatakan hidup menurut apa yang benar menurut pandangannya sendiri artinya hukum dan perintah Allah Yahweh tidak diperdulikan lagi sehingga agama hanyalah menjadi suatu tradisi atau bahkan manusia memperalat agama untuk mendapatkan sesuatu. Chuck Colson yang melakukan pelayanan di penjara-penjara mengatakan Christianity is up, but morality is down. Sebuah survey mendapati bahwa di daerah-daerah kantong kristen di AS ternyata tingkat perceraian orang di luar kristen adalah 36% dan di antara orang kristen adalah 35%. 6 tahun yang lalu George Barna dalam bukunya ‘A Fish Out of Water’ sudah memperingatkan bahwa Amerika sedang menuju suatu jaman anarki moral dan rohani, di mana manusia akan kebal (tidak perduli) terhadap hukum, peraturan, nilai-nilai keluarga dan ajaran gereja, melainkan mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan, kapanpun mereka menginginkannya, demi alasan apapun yang mereka inginkan, telepas dari nilai-nilai yang berlaku (1). Kompas, 27-03-2008, hal 11 menulis seorang remaja Jepang berusia 18 th tiba-tiba mendorong seseorang yang sedang menunggu kereta api sampai mati karena terlindas kereta. Ketika ditanya polisi ia menjawab dengan enteng: ‘jika saya telah membunuh seseorang, ya silahkan tahan saya karena saya tak perduli siapa yang saya bunuh’. Saudara, kisah nyata seperti ini dapat dengan mudah ditambahkan kalo kita mau sedikit mencermati koran. Bukankah ada kemiripan antara hari ini dengan jaman Hakim-hakim yang ditulis kira-kira 3.000 tahun yang lalu?.
Rakyat Kacau, Pemimpin Ngaco
Saudara, kita kembali ke hakim-hakim: Di tengah kemerosotan moral bangsa Israel, celakanya para imam, para hamba Tuhan yang seharusnya berteriak melawan penyelewengan-penyelewengan umat justru hidup setali tiga uang. Eli adalah imam besar dan kedua anaknya (Hofni dan Pinehas) adalah imam-imam namun tragisnya mereka justru memakai jabatannya sebagai sarana untuk berbuat dosa.

1 Samuel 2: 12-13a ‘Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu’.
Dosa pertama: Hofni dan Pinehas adalah pencuri. Mereka mengkorupsi korban bakaran kepada Tuhan dengan mengambilnya sebagian untuk mereka sendiri.
1 Samuel 2: 22-24 ‘Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, berkatalah ia kepada mereka: "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran’.
Dosa kedua: Menurut hukum dalam Ul 21: 18-21 dosa Hofni dan Pinehas seharusnya dihukum rajam sampai mati, tetapi Eli hanya menegur mereka saja.
Dosa ketiga: Eli membiarkan konsep ibadah Baal berlaku di bait Suci. Dalam agama Baal dikenal adanya pelacur bakti yaitu para wanita dan pria yang ditempatkan di kuil dan disediakan untuk melayani kebutuhan biologis jemaatnya. Di sini kita melihat justru Hofni dan Pinehas yang berjinah dengan para pelacur itu. (2)
1 Samuel 2: 29 ‘Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?’.
Dosa keempat: dalam ayat 12 dan 13 di atas dikatakan yang mencuri korban bakaran adalah Hofni dan Pinehas, tetapi rupanya hal ini diketahui oleh Eli dan dimakan olehnya sampai dirinya gemuk. Juga dikatakan Eli menghormati anaknya lebih dari Tuhan sendiri.

Seperti Apa Para Pemimpinnya, Seperti Itu Gerejanya.
Peter Scazzero menulis dalam bukunya “Gereja Yang Sehat Secara Emosional’ bahwa seperti apa para pemimpinnya, seperti itu Gerejanya artinya pemimpin mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan kehidupan jemaat secara menyeluruh termasuk world-view dan karakter. (3)
Beberapa tahun yang lalu ada sebuah percakapan dua orang ibu-ibu di ruang tunggu seorang dokter:
‘Sus, jaman sekarang kalo pergi ke gereja jangan pakai perhiasan lho’
‘Iya benar, kan sekarang memang banyak rampok dan jambret’
‘Bukan itu maksud saya, minggu lalu di gereja pendetanya kotbah untuk mempersembahkan harta kita buat Tuhan. Lha kok saya merasa kaya dihipnotis, ndak sadar lalu kalung, gelang semua tak copot, tak masukkan ke kantong kolekte. Pulang dari gereja baru saya rasane gelo banget’

Saudara, Dave Hendrick, seorang dosen dari Dallas Teological seminary kemana-mana selalu mengantongi sebuah buku kecil yang berwarna hitam. Isinya lebih dari 100 nama-nama mahasiswa seminary, hamba-hamba Tuhan, gembala-gembala yang jatuh hanya dalam dosa seksual. Tujuannya adalah mengingatkan diri sendiri dan para mahasiswanya agar ‘jangan sampai namamu masuk dalam bukuku’.

Seakan belum cukup, ada banyak puluhan contoh-contoh yang lain tapi saya angkat beberapa saja:
James Baker, Marvin Gorman dan Jimmy Swaggart. 1986, Jimmy Swagart mengekspose penyelewengan James Baker dan Marvin Gorman. Sebagai balasan Gorman menyewa detektif untuk memfilmkan bagaimana Swaggart mengunjungi tempat prostitusi. Seakan-akan Swaggart menyesal dan bertobat tapi lima tahun kemudian dia ditangkap polisi ketika bersama seorang pelacur. (4)
Pdt. ‘B’ yang rumahnya berharga $10 jt, th 2006 meminta donasi untuk membeli pesawat jet seharga $ 36 juta, pada 1989 menubuatkan kedatangan Kristus dan kematian Fidel Castro; 1995 menubuatkan kehancuran komunitas gay Amerika; 2000 menubuatkan pergantian Paus yang akan berasal dari Italia pada 2002. Menubuatkan th 2007 lumpur Lapindo akan teratasi dan Indonesia akan mengalami transformasi di mulai dari Surabaya. Kabar terakhir yang saya baca dari milis, saat ini dia sedang dituntut oleh seorang anak buahnya yang berperan sebagai orang sakit yang disembuhkan dalam KKR-nya dan sedang diselidiki oleh kongres AS yang mempertanyakan pertanggung-jawabannya atas uang sumbangan sebesar $ 89 juta dalam satu tahun saja.
Seorang penginjil pernah dua kali menubuatkan kematian istrinya (yang kedua malah taruhan 100jt); mengadakan perkawinan ‘dalam Roh’ antara anaknya perempuan yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak dengan seorang pendeta sukses yang juga sudah berkeluarga dan punya anak. Tahun lalu ia mengalami kecelakaan ketika mengendarai mobil Mercy-nya sehingga menantunya meninggal. Yang menarik dalam minggu yang sama muncul pemberitaan kasus anaknya yang terlibat penggelapan dana 100M. Hal ini menyebabkan rumah mewah, beberapa sertifikat tanah, bangunan, RK, mobil mewahnya disita. (5)

Adakah Jalan Keluar Dari Tuhan?
Di tengah krisis multi dimensi yang melanda bangsa Israel masihkah ada harapan yang tersisa?
1 Samuel 3: 1-4 ‘Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah. Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya, bapa.’

Ketika imam Eli hatinya sudah membatu dan tidak mau bertobat, Tuhan membangkitkan seorang anak kecil yang bernama Samuel untuk menjadi nabi menggantikan Eli. Tuhan bukan seperti seorang kakek reot yang kebingungan menghadapi pemberontakan anak-anak-Nya. Dia adalah Allah yang berdaulat mutlak dan tahu kebutuhan anak-anak-Nya. (6)

Saudara-saudara yang saya kasihi, memang saat ini kita hidup dalam jaman yang ‘up-side down’ dimana kebenaran dikatakan salah dan kesalahan dikatakan benar. Di tengah dunia yang seperti inilah kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia. Ketika cukup banyak hamba Tuhan telah menyeleweng dari kebenaran yang sejati, ijikan saya bertanya apakah kita mau berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati?, maukah kita menjadi Samuel, Samuel jaman ini? Mari kita tundukkan kepala dan merenungkan panggilan Tuhan kepada kita semua sesuai dengan profesi masing-masing.

Suara Tuhan yang lembut ketika Ia memanggil Samuel, Samuel 3.000 tahun yang lalu malam ini masih terdengar bagi saudara dan saya. Suara yang sama, yang menyerahkan nyawa-Nya di Kalvari 2.000 tahun yang lalu, suara yang sama, yang dipuncak penderitaan-Nya berteriak Eli, Eli, lama sabakhtani? Suara itu rindu agar kita memperbaharui komitmen kita kepada-Nya malam ini. Berapapun besarnya kesalahan kita, dosa itu seharga tiap tetes darah Yesus yang dicurahkan di Kayu Salib. Mari kita berdoa.

Hendra, 280308
Bibliografi:
George Barna, A Fish Out of Water
Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam Perjanjian Lama
Peter Scazzero. Gereja Yang Sehat Secara Emosional
Christian Evangelist Scandals, Wikipedia
Nathanael B.S., Gereja Undercover
Benny Solichin, Application of the Message
Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama
Andrew E. Hill & John H. Walton, Survey Perjanjian Lama
Tafsiran Alkitab Masa Kini 1

Tuesday, January 15, 2008

‘God Will Make a Way’

God Will Make a Way, Will Us Block It?

April 2006 adalah pertama kali saya mendengar dua buah lagu yang sangat menyentuh hati sehingga acap kali saya menangis bila memutar dan meresapi lagu tersebut. Perkenalan dengan lagu tersebut sebenarnya adalah suatu kebetulan belaka karena lagu secara otomatis dimainkan ketika saya membuka CD interaktif SAAT yang saya dapat ketika mengikuti SAAT Preaching Coference. Karena begitu terpikatnya maka saya mencari informasi tentang lagu tersebut. Lagu pertama adalah ‘People Need the Lord’ yang juga pernah dinyanyikan oleh Ev. Ndaru pada sebuah acara GRII, sedangkan lagu kedua hanya berupa instrumental belaka yang berjudul ‘God Will Make a Way’.
Hari berganti dan bulan berganti, saya sudah melupakan lagu tersebut sampai suatu hari di akhir Desember 2007 atau satu setengah tahun kemudian barulah saya menemukan lagu ‘God Will Make a Way’ versi jazz yang dinyanyikan oleh Margie Segers. Penemuan ini berlanjut pada bulan berikutnya ketika saya mencoba mencari lagu tsb di internet, ternyata lagu ini di compose oleh Don Moen, seorang penyanyi yang saya sudah beberapa kali saya dengar tapi saya hindari karena ‘rasanya terlalu rame musiknya’. Akhirnya minggu lalu saya membeli 2 CD-nya “Thank You Lord” dan “The Best of Don Moen”. Saya dengar-dengarkan dan teliti musik dan syairnya dan saya harus jujur memang beberapa syair lagunya bisa dipertanyakan secara doktrinal, tetapi banyak juga yang OK bahkan dia juga menyertakan beberapa lagu hymne dengan aransemen modern yang menurut saya sangat bagus dan tidak menghilangkan nilai ke-agungannya. Secara keseluruhan, dua buah CD tsb bagus (dengan perkecualian beberapa lagu).

Saya membaca kisah di balik penulisan lagu ‘God Will Make a Way’ sbb:
Suatu sore Don Moen menerima telepon yang mengabarkan bahwa keluarga iparnya mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan: Craig dan Susan bersama empat anaknya berkendara dari Texas ke Colorado ketika van mereka ditabrak oleh 18-wheeler truck!!. Craig dan Susan menemukan anak-anak mereka berdasar jeritan mereka, seorang di selokan, seorang di sebuah tempat yang basah karena salju yang meleleh dan seorang yang mendarat di tiang telepon. Ketiga anak tersebut dalam keadaan luka parah, tetapi Craig, seorang medical doctor tidak dapat berbuat apa-apa ketika menemukan anak ke-empat, Jeremy yang terbaring pada sebuah pagar dengan leher yang patah.

Ketika menerima kabar tersebut Don berkata: ‘duniaku menjadi sunyi dan berhenti berputar, tetapi aku tak dapat membatalkan acara rekaman yang telah di jadwalkan beberapa minggu yang lalu. Aku tak dapat mendampingi mereka sampai satu hari sebelum pemakaman’.

Dalam pesawat, sehari setelah kecelakaan itu Tuhan memberi lagu untuk mereka yang di dasarkan pada Isaiah 43:19, ‘God Will Make a Way’. Lagu ini memberi penghiburan kepada mereka ketika semua harapan seakan musnah.
Suatu hari Don menerima surat dari Susan: ‘kami melihat kebenaran Alkitab ketika teman-teman Jeremy menyadari bahwa Jeremy telah menerima Yesus sebelum kematiannya dan banyak teman-temannya yang menanyakan kepada ortunya tentang how could be assured of going to heaven when they died. Accident tersebut juga membawa Craig dan Susan kepada pengenalan yang lebih mendalam akan Yesus dan membawa mereka aktif dalam pelayanan.

Susan berkata bahwa pada saat kecelakaan: ‘aku tahu aku mempunyai pilihan untuk menjadi bitter and angry or I could totally accept God and whatever He had for us, aku telah melihat hasilnya dan if I had to, I’d do it again.’ (sampai disini saya ingat ucapan Fanny Crosby yang mirip dengan Susan akan kebutaannya)

Segera setalah lagu ini direkam, banyak sekali telpon dan surat datang dari seluruh dunia menyaksikan bagaimana mereka mengalami kejadian yang mirip dan God had carried them through shattering situation and by His Grace, they were emerging with stronger faith, renewed hope hope and God had made a way for them while all hope seemed to be lost.

“A new version of It Is Well With My Soul”, ‘God Will Make a Way’


‘God Will Make a Way’

God will make a way/where there seems to be no way
He works in ways we can not see/He will make a way for me
He will be my guide/hold me closely to His side
With love and strength for new each day
He will make a way/He will make a way

By a roadway in the wilderness/He’ll lead me
And rivers in the desert will I see
Heaven and earth will fade/but His Word will still remain
He will do something new today


Hendra, 150108

Sunday, January 13, 2008

'From Alcatraz to White House'

(Genesis 37; 39-41, The Story of Joseph)


Suatu hari seorang pelatih sepak bola dengan sangat marah berkata, ‘kalah tiga kali berturut-turut sudah cukup buruk, tetapi yang paling buruk adalah kita membuat kesalahan yang sama berulang kali. Ternyata kita tidak belajar dari kesalahan kita’. Seseorang pernah berkata bahwa ada tiga jenis manusia di dunia yaitu pertama: manusia yang bodoh, yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya; kedua: manusia biasa, yang mau dan mampu belajar dari kesalahannya; dan ketiga: manusia pandai yaitu manusia yang mau dan mampu belajar dari kesalahan orang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Saya katakan ‘mau dan mampu’ karena kemauan tanpa kemampuan atau kemampuan tanpa kemauan adalah sia-sia.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang kristen adalah keluar dari comfort zone dan menjadikan pengalaman pahit, menyakitkan, dan penuh air mata sebagai guru kehidupan. Sikap yang paling mudah dilakukan ketika kesulitan dan penderitaan menimpa kita adalah mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain. Sikap yang benar tapi sulit dilakukan adalah melakukan evaluasi secara objektif dan menggunakan rasa kecewa, sakit hati, perasaan gagal menjadi sarana untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Di mana lagi tempat terbaik, guru terbaik untuk mempelajari kehidupan jika bukan berguru kepada Sang Pencipta kehidupan itu sendiri?. Sarana yang disediakan Tuhan adalah melalui Alkitab yang merupakan Wahyu Khusus yang diberikan Allah khusus hanya kepada orang kristen. Malam ini kita belajar kebenaran Firman Tuhan melalui jatuh bangun kehidupan seorang Yusuf. Bagaimana Tuhan memproses hidup Yusuf melalui keadaan-keadaan yang luar biasa sulit untuk mengatasi tantangan hidup. Saat ini marilah kita bersama-sama mohon belas kasihan dan kekuatan dari Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran-pelajaran penting dari hidup Yusuf. Mari kita berdoa.

Latar belakang keluarga Yusuf (Kej. 37)
Yakub mempunyai 4 orang istri dimana dua di antaranya adalah kakak beradik yaitu Lea dan Rahel. Dua orang lainnya adalah Zilpa dan Bilha, yang adalah pembantu Lea dan Rahel yang diberikan mereka kepada Yakub untuk dijadikan istrinya.
• Proses hidup Yusuf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita yaitu dimulai dari kesalahan demi kesalahan. Bagaimana bisa? Ada tiga ciri kurang baik yang kental dalam keluarga besar Yakub, yaitu 1. kebiasaan menggunakan dusta untuk menyelesaikan masalah (ingat bagaimana Yakub ‘mencuri’ hak kesulungan Esau?); 2. menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan (bagaimana Lea dan Rahel bersaing memperebutkan cinta Yakub sampai rela memberikan budaknya kepada Yakub untuk di nikahi); 3. Favoritisme (Yakub lebih cinta kepada Rahel dan Yusuf)

Dari mana datangnya kebencian dan iri hati?
Yakub mempunyai 12 orang anak dari istri-istrinya dan Yusuf adalah anak kesayangannya, yang ironisnya justru dibenci oleh saudara-saudaranya. Apa sebabnya?
Ayat 2: Yusuf suka melaporkan kejahatan (taf: kemalasan) saudaranya.
Ayat 3-4: Kita lihat kesalahan pertama dilakukan oleh Yakub sebagai seorang ayah adalah mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya dan memberikan jubah maha indah hanya kepada Yusuf. Sebuah tafsiran mengatakan bahwa jubah itu adalah simbol pengakuan hak anak sulung kepada Yusuf (anak sulung Yakub adalah Ruben).
Ayat 5 &8: Yusuf menceritakan dua kali mimpinya kepada saudara-saudaranya bahwa mereka akan menyembah Yusuf.
Ayat 11: Sebagai orang tua dan pemimpin Yakub gagal untuk bertindak adil terhadap keluarganya. Akibatnya timbul perpecahan dalam keluarga dimana saudara yang lain benci kepada Yusuf.
• Ayat 13-14: Yakub menyuruh Yusuf untuk mencari tahu kabar saudara-saudaranya yang menggembalakan domba di dekat Sikhem (~100km dari Hebron). Artinya mereka semua kerja, Yusuf tidak. Hal inilah yang menjadi pencetus ide bagi saudaranya untuk membunuh Yusuf tapi atas intervensi Tuhan akhirnya Yusuf hanya dijual ke saudagar Midian yang kemudian menjual Yusuf pada Potifar di Mesir sebagai budak. Saudara, proses hidup Yusuf “baru” saja dimulai.

Proses hidup Yusuf (Kej. 39-41)
• Ayat 2-5; 22-23 menyatakan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dalam setiap perkara. Hal ini juga disadari Potifar sehingga ia meng-kuasakan segala miliknya kepada Yusuf dan Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf. Bagaimana mungkin semua yang dikerjakan Yusuf berhasil jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?. Artinya Yusuf telah berubah dari seorang yang mengandalkan diri dan ayahnya menjadi seorang yang mengandalkan Allah.
• Ayat 6-12 mengatakan bahwa Yusuf manis sikapnya. Inilah transformasi karakter seorang anak manja, tidak tahu kerja menjadi seorang yang manis sikapnya dan berkomitmen tinggi. Sebagai seorang manusia dapat dikatakan bahwa hidup Yusuf telah berhasil, sukses besar. Seorang budak menjadi kuasa semua harta majikannya. Secara manusia kita mengatakan bahwa proses hidup Yusuf telah selesai. Saudara kata yang tepat adalah SATU proses hidup telah selesai dan Allah kembali memproses Yusuf lebih lanjut. Pada suatu hari Yusuf difitnah oleh istrinya Potifar karena menolak untuk berzinah dengan-nya sehingga Yusuf dijebloskan ke penjara. Ayat 7 menulis ‘ia memandang Yusuf dengan birahi’. Sesungguhnya istri Potifar bukan sosok asing dalam dunia modern bukan? Sebuah survey terhadap 60.000 wanita Amerika oleh sebuah majalah beberapa tahun yang lalu mengungkapkan: 47% menyetujui seks pra-nikah dan 27% menyetujui perselingkuhan. Ini survey mungkin sudah 10 tahun yang lalu dan khusus wanita. Bisa kita bayangkan hasilnya jika survey itu dilakukan hari ini dengan responden pria. Saudara, dalam kasus Yusuf kita melihat pemeliharaan Allah nyata karena pada jaman itu kesalahan yang dituduhkan kepada seorang budak seperti Yusuf pasti mendatangkan hukuman mati. Atas anugerah Allah, Yusuf hanya dipenjara dan kembali Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Inilah proses hidup Yusuf yang kedua.
• Kej 40-41 menyatakan di dalam penjara Yusuf menolong mengartikan arti mimpi juru minuman raja Mesir dan kemudian meminta tolong kepadanya untuk menceritakan persoalannya kepada firaun untuk mendapatkan keadilan. Saudara, ternyata Yusuf dilupakan oleh sang juru minuman sampai 2 tahun. Setelah lewat dua tahun, firaun bermimpi dimana tidak ada seorang manusiapun yang mampu meng-artikannya. Barulah sang juru minuman ingat kepada Yusuf dan menceritakannya kepada firaun yang segera memanggil Yusuf keluar dari penjara. Kemudian dengan tepat Yusuf meng-artikan mimpi firaun dan semua yang dikatakan Yusuf tepat terjadi di Mesir. Pasal 41:38-39 menyatakan bahwa firaun mengetahui bahwa Yusuf penuh dengan Roh Allah sehingga ia menjadikan Yusuf sebagai kuasa di Mesir (perdana menteri).


Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari proses hidup Yusuf?
• Tiga ciri jelek keluarga Yakub di atas yang harus kita hindari dan sebenarnya poligami sudah dilarang Tuhan dalam kej 2:18.
• Sebenarnya apa sih maksud Tuhan dengan hidup Yusuf? Jawabannya ada pada ps 45: untuk memelihara kehidupan, untuk menjamin kelanjutan keturunan bangsa Israel. Dalam rangka ‘tugas suci’ inilah Yusuf disiapkan menjadi pemimpin, bukan sembarang pemimpin tapi seorang pemimpin yang berjiwa hamba, seorang pemimpin yang melayani bukan menuntut untuk dilayani. Berapa banyak pemimpin yang kita temui hari ini, termasuk pemimpin di gereja yang sangat berbeda dengan Yusuf bukan?. Tahukah saudara bahwa Mahatma Gandi setiap hari selalu membaca Alkitab?. Suatu hari dia mengambil keputusan untuk menjadi orang kristen. Dalam perjalanan ke gereja naik trem dia mendapat perlakuan rasialis dari seorang kulit putih. Hal itu mengecewakan hatinya sehingga dia batal menjadi kristen. Seorang misionaris pernah bertanya kepadanya: ‘bagaimana caranya agar rakyat India menerima Kristus. Jawabnya: jika kalian orang kristen berlaku seperti Yesus berlaku. Saya jamin semua rakyat India akan menjadi orang kristen’.
Yusuf dengan sabar dan sadar MAU memberi dirinya untuk diproses oleh Allah secara berkesinambungan dan bertahap-progresif. Pada tahap pertama Yusuf di jual oleh saudaranya sebagian karena “kesalahan” Yusuf sendiri, yaitu sikap sombong dan kemalasannya. Pada proses tahap kedua, di rumah Potifar, Yusuf tidak melakukan kesalahan apapun melainkan difitnah. Pada proses tahap berikutnya dengan juru minuman raja, bukan saja Yusuf tidak bersalah, melainkan Yusuf melakukan kebaikan dengan menolong sang juru minuman, tetapi Yusuf dilupakan oleh juru minuman. Di sini kita belajar bahwa seorang yang tidak bersalah bahkan melakukan kebaikan juga tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan hidup. Jadi jika ada orang yang sakit atau mengalami penderitaan, jangan kita dengan gampang mengatakan: dia berdosa sehingga di hukum Tuhan.
• Allah memilih Yusuf bukan karena ‘kebaikan diri’ Yusuf melainkan hanya semata-mata anugerah. Pada waktu proses Yusuf dimulai, ia hanyalah seorang anak berusia 17 tahun kesayangan ‘babe Yakub’ yang sombong dan naif. Dalam beberapa atau banyak segi Yusuf banyak kesamaan dengan kita bukan?. Yusuf mau hidup diproses Allah selangkah demi selangkah seperti sebuah kupu-kupu indah yang berasal dari ulat kepompong yang bentuknya aneh dan agak menjijikkan.
• Yusuf setia kepada Allah. Di tengah-tengah bangsa kafir, Yusuf tetap kokoh memegang kepercayaannya kepada Allah.

Kesimpulan:
1. Proses Allah terjadi untuk kebaikan kita seumur hidup kita. Jika kita menghadapi tantangan, itu berarti Allah sayang kepada kita karena berarti Allah masih memproses kita. Proses Yusuf dijual sampai menjadi penguasa Mesir terjadi selama kurun waktu 13 tahun dan kita lihat bahwa proses Allah masih berlanjut kepada Yusuf sampai ia mati. Abraham Lincoln adalah sebuah contoh klasik. Ia gagal dalam dua bisnisnya, mengalami gangguan syaraf, ditinggal mati kekasihnya, kalah dalam pemilihan untuk kedudukan dalam pemerintahan kira-kira 10 kali dalam kurun waktu 30 tahun, barulah ia terpilih sebagai presiden. Ketidak-adilan yang bertubi-tubi, kegagalan, penyakit dan tragedi pribadi tidak mengalahkan Lincoln, tetapi malah menguatkan karakter dan komitmennya. Hal yang sama terjadi pada Yusuf.

2. Hidup berserah kepada Allah adalah kunci keberhasilan seseorang. Untuk dapat berserah total, kita mau tidak mau harus mengalami proses demi proses seperti emas yang dimurnikan. Tuhan menginginkan kita menjadi emas yang murni bukan ‘gold plated’. Adakah yang tahu caranya memurnikan emas? Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat teman saya memurnikan emas dengan cara membakar emas batangan dengan sebuah alat seperti las sampai mencair. Nah setelah cairan emas itu menjadi mengkilap sampai kita dapat bercermin padanya, artinya emas itu telah murni. Jadi pembakaran tersebut dimaksudkan untuk membuang unsur-unsur logam lain yang bukan emas. Dalam kehidupan, Allah ingin “membakar” kelemahan-kelemahan kita untuk merubah karakter kita semakin mirip dengan-Nya. Tentu saja proses pembakaran itu rasanya menyakitkan karena kita ditarik keluar dari kenyamanan hidup kita dan proses itu adalah proses seumur hidup kita.

Renungan malam ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Charles Spurgeon tentang seorang anak berusia 7 tahun bernama Richard. Suatu hari ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka sampai di luar pintu gerbang kota yang dituju, ayahnya menyuruh Richard untuk menunggu karena ia tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu. Ternyata di sana sang ayah bertemu dengan teman-teman lamanya sampai ia lupa waktu dan lupa kalau ia meninggalkan Richard di pintu gerbang kota. Ketika dengan letih ia bermaksud untuk pulang, sang ayah menerima tawaran seorang temannya untuk menumpang kereta kudanya. Hari sudah malam ketika dia sampai di rumah, setelah mandi ia memangil anaknya: ‘Richard, kemari nak! Ayah akan menceritakan pengalaman ayah hari ini’. Ia tidak mendengar jawaban anaknya dan dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu gerbang kota. Saat itu juga ia cepat-cepat kembali ke tempat itu. Ia merasa sangat terharu mendapati Richard duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu gerbang kota. Ia memeluk anaknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih dan membawanya pulang.
Manusia bisa lupa, bisa melakukan banyak kesalahan. Bila seorang anak 7 tahun dapat begitu mempercayai ayahnya yang terbatas, yang penuh kelemahan, maukah kita meneladani sikapnya untuk tetap setia dan mempercayakan hidup kita bukan sekedar pada manusia, tetapi kepada Allah yang begitu mengasihi kita? Martin Luther pernah berkata bahwa Allah tidak pernah meminta maaf bukan karena kesombongan tetapi memang Dia Allah yang tidak pernah berbuat salah. Mari kita berdoa.

Hendra, 110108

Bibliografi:
1. David Wong, Meninggalkan Kenyamanan Meraih Kemenangan
2. Bill Crowder, Joseph: Overcoming Life’s Challenges
3. Jenny Wongka, Berkenan di Hati Allah
4. Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam PL
5. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1

Wednesday, December 12, 2007

Ketika Penderitaan tak Tertanggung & Allah tak Terpahami

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
(Roma 8:28-29)

Ayat ke 28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Saudara, berdasarkan pernyataan tsb, perkenankanlah saya mengajukan dua buah pernyataan, tolong dijawab di dalam hati saja mana yang menurut saudara benar.
Pertama: ‘Karena Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup saya, maka berarti hidupku pastinya jadi mudah dan lancar’; atau yang kedua: ‘Sekalipun Allah mereka-rekakan yang baik dalam hidup saya, hal itu tidak berarti hidupku menjadi mudah dan lancar’. Mari kita berdoa.
Saudara, sepintas ayat 28 kelihatannya mudah dipahami, Penekanannya adalah ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu dalam hidup kita bagi kebaikan kita’. Ketika berada dalam keadaan yang baik dan lancar, kesehatan baik, anak-anak baik, bisnis lancar, o saudara sangat mudah untuk mengaminkan pernyataan Paulus tsb bukan?. Namun di sisi lain ketika hidup menjadi berat dan menekan, ketika semua rencana-rencana pecah berkeping-keping dan dunia rasa-rasanya terbalik menimpa kepala kita, bukankah dengan mudah pula kita mempertanyakan kebenaran ayat tersebut.
Berapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa orang kristen yang baik dan benar kebal terhadap penderitaan dan malapetaka dan orang yang mati karena penyakit atau kecelakaan, adalah orang yang berdosa besar sehingga dihukum Tuhan. Kira-kira satu bulan sebelum pesawat Adam Air jatuh dan menewaskan semua penumpangnya, yang termasuk di dalamnya ada sekeluarga pendeta, ada sebuah kotbah di radio kristen di Surabaya: saya yakin...orang benar tidak akan terbunuh, tidak akan mati dalam kecelakaan pesawat. Bukankah Matius 7:11 mengatakan ‘Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.’ Nah, bukankah asal kita meminta hal-hal yang baik kepada Allah pasti dikabulkan sesuai janji Allah sendiri?. Mari kita belajar apa sebenarnya yang dimaksud oleh Matius dengan kata “Baik” dalam perikop paralelnya dalam Lukas 11:13: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Jadi ternyata saudara, yang dimaksud dengan ‘baik’ oleh Matius di jelaskan dengan gamblang oleh Lukas sebagai Roh Kudus. Tuhan berjanji memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya, bukan hal lainnya. Untuk hal-hal lainnya Tuhan tidak pernah berjanji untuk selalu mengabulkannya, walau saya percaya Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita sepanjang hal itu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Amin saudara?. Tuhan tidak pernah berjanji langit selalu biru, hidup tanpa kesulitan dan penderitaan bagi orang kristen, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat terlepas dari yang namanya problem, masalah, kesulitan, sakit penyakit dan segala macam penderitaan yang lain. Ada seorang yang pernah berkata: hanya orang gila atau orang mati yang hidup tanpa pernah merasakan penderitaan. Jika demikian keadaannya muncul beberapa pertanyaan sbb: penderitaan orang kristen berasal dari mana? Apa maksud Tuhan dengan penderitaan, dan mengapa Allah kadang-kadang berdiam diri saja, seakan-akan tak perduli dengan penderitaan manusia?
Penderitaan hidup berasal dari mana?
Saudara, ternyata Alkitab banyak mencatat penderitaan yang dialami anak-anak Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan yang baik dan setia. Dengan mudah kita menemukan contoh seperti Yusuf yang dibuang ke dalam sumur, difitnah, masuk penjara, Stefanus yang mati dirajam karena memberitakan Firman Tuhan sampai Petrus yang mati syahid disalibkan secara terbalik. Nah, jika demikian faktanya, kita menjadi heran, sebenarnya penderitaan manusia berasal dari mana? Dalam menyikapi hal ini kita harus mengerti bahwa penderitaan yang kita alami berasal dari dua macam sumber, pertama adalah ujian dan yang kedua adalah pencobaan. Ujian berasal dari Tuhan dan kadang-kadang atau sering kali Dia memberikan berbagai ujian kepada manusia untuk membentuk karakter kita menjadi lebih baik. Pencobaan berasal dari iblis karena Tuhan tidak pernah mencobai manusia sedangkan iblis senantiasa mencobai manusia dengan maksud untuk menjatuhkan manusia. Contoh dalam Alkitab adalah ketika setan mencobai Yesus setelah Dia berpuasa 40 hari. Contoh pencobaan masa kini adalah narkoba dan seks bebas. Saudara, narkoba dan seks bebas adalah dosa yang menimbulkan efek kecanduan di mana setan cuma cukup menggoda kita sekali saja karena setelah itu kita jalan sendiri. Dosa ini seperti patung kucing yang tangan kanannya maju ke depan dan ke belakang. Saudara tahu itu kan? Untuk menggerakkan tangan itu, berapa kali yang dibutuhkan? Cuma sekali!! Setelah itu setan berkata: berikutnya udah nggak perlu di goda, tidak perlu dicobai lagi, dia sudah otomatis akan jalan sendiri!!.

Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan?
Ada banyak alasan mengapa Tuhan mengijinkan penderitan menimpa orang kristen, berikut tiga di antaranya:
· Membentuk karakter. Kesebelasan Indonesia baru saja gagal masuk babak semi final di Asian Games di Thailand. Kegagalan itu bukan sebuah kejutan bagi orang yang mengerti bagaimana melatih dengan benar. Kesebelasan Indonesia dipersiapkan hanya dalam beberapa bulan dan dari persiapan singkat tsb diharapkan sebuah keberhasilan. Dapatkah hal ini terjadi?. Demikian pula dengan karakter. Manusia yang tidak pernah melewati pergumulan apapun, yang tidak pernah menghadapi kemalangan dalam hidupnya, yang tidak pernah kehilangan apapun tidak akan pernah mempunyai sebuah karakter yang kuat.
Penderitaan melalui ujian diperlukan demi kebaikan kita untuk memproses, mentransformasi karakter kita agar semakin mirip dengan karakter Kristus. Max Lucado pernah menulis, "Tuhan mau menerima kita apa adanya, (tak perduli bagimana jahat, rusaknya diri kita) tapi Dia tak pernah mau membiarkan kita tetap seperti apa adanya; Artinya seperti yang dinyatakan pada ayat 29, Allah ingin kita makin bertumbuh menyerupai Yesus." Memang ujian bukanlah sesuatu yang enak untuk dijalani. Kita ingin dalam kehidupan sehari-hari tidak usah ada penderitaan, tidak usah ada ujian. Tetapi ingat saudara, seperti buah anggur yang tidak akan pernah menjadi minuman anggur kecuali digencet, diperas, seperti tanah liat yang akan pernah menjadi keramik yang indah tanpa dibentuk dan dibakar, demikian juga tanpa kesulitan karakter kita tidak akan pernah berkembang menjadi serupa dengan Kristus. Secara jujur kita tidak suka keluar dari comfort zone kita dan kita lebih suka kalau Tuhan berfungsi sebagai jin botol yang selalu memenuhi semua permintaan kita. Kesaksian pengemis. Dengan jujur saya mengaku kadang saya hanya mengejar berkat-Nya saja tanpa perduli pada Pribadi yang memberikan berkat tsb. Kadang kita berlaku seperti anak kecil yang menunggu hadiah yang dibawa ortunya tanpa perduli pada diri pemberinya sendiri. Itulah yang kadang kita lakukan, kita mendekati Tuhan untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya dan kita tidak mendekati-Nya karena Diri-Nya sendiri.
· Kadang-kadang penderitaan diperlukan untuk menegur kita. Penderitaan adalah salah satu sarana yang dipakai Allah ketika kita menulikan hati dan pikiran kita terhadap teguran Allah. Ketika jalan kita melenceng dan kita menutup hati kita terhadap panggilan Tuhan, kadang Tuhan memakai penderitaan untuk memanggil kita pulang. Ketika James Baker ditangkap karena penyelewengan dan penipuan sehingga masuk penjara, maka semua teman-temannya meninggalkan dia bahkan juga istrinya. Ketika Billy Graham ditanya komentarnya akan James Baker, dia hanya mengucapkan sebuah kalimat singkat: memang dia pantas masuk penjara. Selama satu tahun lebih Billy Graham diam tidak berkomentar lebih lanjut. Suatu hari saat James Baker sedang mengepel lantai, seorang sipir memanggilnya dan mengatakan: ada seorang pengunjung. Jawabnya, aku tidak mau ketemu siapa-siapa. ‘apa kamu yakin? orang ini berbeda’ akhirnya dengan malas-malasan sambil membanting pelnya dia keluar ke ruang tamu. Ternyata pengunjungnya adalah Billy Graham; tanpa berkata sepatah katapun Billy Graham mengulurkan tangannya dan memeluk erat James Baker dan mereka berdua menangis bersama. Momen itulah adalah momen pertobatan sejati seorang James Baker, dan dari dalam penjara ia menulis sebuah buku: Saya Menyesal. Saudara, melalui penderitaan, Tuhan menyelamatkan James Baker.
· Melalui penderitaan, nama Tuhan dimuliakan.
Mungkin saudara bertanya, apa hubungan penderitaan dan kemuliaan Tuhan.
Kesaksian penginjil di India. Berhenti sampai kematiannya.
Saudara reaksi si anak sangat wajar dan manusiawi. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hamba-Nya mati mengenaskan sedemikian rupa? Dia adalah orang yang taat yang bahkan meninggalkan kehidupan duniawinya yang nyaman di Amerika untuk menjadi misionaris. Lanjutan cerita.

Mengapa Allah seakan diam, tak perduli pada penderitaanku?
Ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada saudara:
· Matius 25: 40 mengatakan: ‘Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tetap hadir dalam penderitaan yang kita alami. Itulah sebabnya ketika Yesus menampakkan diri pada Saulus, Ia tidak berkata: Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya umat-Ku? Yesus berkata: Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Perkataan yang sama diulangi ketika Saulus bertanya: siapakah Engkau Tuhan? Yesus menjawab: ‘Akulah Yesus yang engkau aniaya’. Saudara, Yesus tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Dalam setiap pergumulan dan jerit tangis kita, Dia ada di situ. Darah yang dicurahkan-Nya di bukit Golgota masih tetap tercurah bagi saudara dan saya. Penderitaan yang ditanggung-Nya di Kayu Salib masih tetap menyertai kita. Seorang teolog yang bernama R.C Sproul berkata: tidak pernah ada manusia yang diminta Allah untuk menderita lebih berat daripada penderitaan yang Ia timpakan kepada anak tunggal-Nya sendiri. Teolog lain, John Piper menulis bahwa penderitaan Yesus tuntas karena Dia melewati setiap pencobaan dan penderitaan, di mana penderitaan itu datang dengan intensitas kekuatan yang semakin dahsyat sampai akhirnya datang dengan kekuatan yang maksimal. Penderitaan Yesus terus bertambah karena Dia tidak pernah menyerah. Jika saja Ia menyerah maka penderitaan dan cobaan itu tidak akan pernah mencapai tingkat yang tertinggi. Inilah perbedaan Yesus dengan kita karena tidak ada seorangpun yang pernah bertahan terhadap siksaan seperti yang diterima-Nya di Kayu Salib dan keluar sebagai pemenang.
· Ketika kita menderita, ketika kita disakiti orang lain, marilah kita mengingat bahwa sebenarnya kita melakukan hal yang sama bahkan lebih berat kepada Yesus, setiap kali kita melakukan dosa. Apa maksudnya? kira-kira satu tahun yang lalu saya pernah difitnah oleh sorang saudara seiman. Dengan kejam tak berperasaan dia memfitnah saya dan keluarga saya. Ketika saya klarifikasi, semua yang dituduhkan terbukti fitnah belaka, tapi dia tidak mau mengaku salah secara gentelman ‘face to face’ melainkan hanya mengirim SMS yang isinya minta maaf kalau perkataannya menyingung saya. Kata-kata ini luar biasa saudara, artinya apa? Artinya jika saya tersinggung karena kata-katanya, ya sorry, tapi dia sendiri tidak merasa bersalah. Wah...wah saudara berhari-hari hati saya mau meledak, saya marah-marah, rasanya ingin balas, belum balas belum puas. Kalo mau balas gampang sekali karena istri saya tahu banyak rahasia-rahasia kemunafikan dia. Sampai beberapa lama kemudian Tuhan tegur saya melalui kotbah seorang pendeta yang mengatakan bahwa jika kita ingin tahu betapa sakitnya hati Yesus, ingatlah sebuah peristiwa yang paling menyakitkan dalam hidupmu, kalikan 100 kali, itulah rasanya hati Yesus yang kita sakiti melalui perbuatan kita yang berdosa. Dari penderitaan itu, Tuhan mengajar saya untuk mengampuni dan menyatakan bahwa saya tidak sendiri dalam penderitaan dan melalui penderitaan itu saya belajar memperdalam pengenalan pribadi akan Allah.

Saya tidak tahu apa penderitaan yang saudara alami saat ini tetapi ingatlah bahwa Yesus hadir dan perduli, Ia ikut merasakan dan menyertai penderitaan anak-anak-Nya. Serahkanlah semua penderitaan saudara dengan penyerahan diri secara total dan biarkan Allah bekerja karena Allah kita adalah Allah yang perduli dan mengerti. Memang jalan Tuhan yang tak terbatas sering kali tidak kita pahami dengan otak kita yang terbatas. Seperti James Baker yang ketika di penjara merasa semua pintu telah tertutup baginya, ternyata Allah membuka sebuah jendela baginya. Saudara, hari natal sudah menjelang, mari kita review kehidupan kita. Jika saat ini kita sedang menghadapi penderitaan dan kesulitan, mari kita renungkan apakah penderitaan kita timbul dari pencobaan iblis atau ujian dari Tuhan. Bila penderitaan itu timbul dari pencobaan sehingga menghasilkan dosa, cepat-cepat bertobat saat ini juga dan Tuhan pasti mengampuni apapun dosamu. Bila kesulitan timbul dari ujian, bertekunlah dalam ujian itu karena ketekunanmu akan menghasilkan buahnya pada waktunya. “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”. (Yakobus 1 : 3-4).

Grace by grace,
Hendra, 101207

Bibliografi:
Yohan Candawasa, Menapaki Hari Bersama Allah & Dukaku Tempat Kudus-Mu
Yakub Susabda, Membawa Damai, Menjunjung Gelar
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, YKBK
Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru
Wahyu Pramudya (ed), Tribute to Dr. Jenny Wongka: Berjalan Bersama Allah
James M. Boice, Sure, I Believe, So What?

Sunday, October 28, 2007

Wenger, Zakat, and House, MD

Judul di atas pastilah terdengar aneh bagi saudara. Sejujurnya, bagi sayapun memang terdengar aneh, karena itu jangan terlalu diambil serius. Nikmati tulisan ringan ini sambil tersenyum, jangan sambil berkerut dahi.
Judul pertama yaitu “Wenger’ adalah Arsene Wenger, seorang berkebangsaan Perancis pelatih kesebelasan sepakbola Arsenal di Inggris sana. Sekitar sepuluh tahun yang lalu Wenger dikontrak Arsenal untuk meng-coach kesebelasan Arsenal yang ‘compang-camping’, lebih sering kalah daripada menang, yang lebih sering memalukan daripada membanggakan. Tantangan yang dihadapi Wenger jelas jauh dari mudah. Salah satu bintang impornya, Dennis Bergkamp pernah mengeluh kepada pers bahwa selama sesi latihan, mulut rekan-rekannya selalu ‘berbau naga’ (miras). Ya, dalam dunia olah raga profesional, bagaimana mungkin memenangkan sebuah trophy dengan pasukan drunken master?, bagaimana mungkin menyaingi Manchester United dengan Sir Alex dan the Theather of Dream-nya, Liverpool dengan Anfield-nya yang sangat angker (bisa buat shooting film Indo tuh) dengan puluhan ribu suporter yang super militan (ingat tragedy Heysel?) yang ‘extra joss’ selama 90 menit penuh meneriakkan dukungan dan menyanyikan lagu legendarisnya yang mendengar judulnya saja saya merinding: You’ll Never Walk Alone!!. Ruuuar biasa bukan? Apapun hasilnya, suporter selalu menyertai mereka dengan penerimaan tanpa syarat. Saya jadi berpikir mungkin composer lagu ini menyadur dari Amanat Agung kita? Who knows?
Dalam keadaan kejepit atau dengan sengaja menjepitkan diri, apa yang dilakukan Wenger? Alih-alih mengikuti tradisi, melatih sesuai text book, Wenger malah nekat ‘menulis’ text book-nya sendiri. Kenapa saya katakan nekat? Karena sebenarnya Wenger sendiri saat itu bukanlah pelatih yan top-top amat, CV-nya hanya melatih beberapa klub di Perancis dan team nasional Jepang yang prestasinya pas-pasan. Dengan perlahan tapi pasti Wenger mendobrak dan mengubah beberapa hal (sistem dan metode) yang fundamental dalam sepak bola Inggris secara khusus dan dunia secara umum al:
Sistem dan metode kepelatihan.
Wenger membawa beberapa orang-orangnya yang masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam team pelatih. Tiap-tiap pemain mempunyai program diet yang ketat, latihan berjalan secara sistematis dengan durasi yang pendek. Semua hal di atas adalah umum dilakukan hari ini, tetapi Wenger-lah sang pelopor.
Mengubah kultur sepakbola Inggris.
Wenger meninggalkan sistem Kick and Rush yang kuno menjadi permainan kolektif yang sarat dengan kreatifitas, kekuatan dan kecepatan. Citra Arsenal yang berantakan dengan permainan kasar ditransformasikan dengan permainan yang indah ditonton dan mematikan bagi lawan.
Berani untuk bertindak, membayar harga demi visinya.
Tentunya penjualan sang kapten nan-karismatis, Patrick Viera dan sang ‘magician’ Thiery Henry yang sampai membuatnya di cap ‘gila’ oleh para pengamat ahli sebenarnya menunjukkan kejeniusan visinya. Alih-alih bertopang pada pakem tradisi, dia berani melangkah keluar dari ‘rumah kura-kuranya’ dan mengambil resiko dengan mengandalkan sekumpulan young guns seperti Fabregas, Adebayor, Van Persie dll yang membuat mata dunia terbelalak dengan bibir mencibir dan ramalan akan doomsday-pun datang kepadanya. Sampai detik ini ternyata hasil yang di dapat Arsenal sangat di luar dugaan siapapun. Situs detik bahkan menulis dengan judul Arsenal berada dalam sorga langit ke tujuh.

Pemerhati sepakbola liga Inggris tentunya mahrum dengan kelihaian sang profesor, julukan bagi Wenger yang telah merubah Arsenal dari klub kelas dua di Inggris menjadi klub top dunia dalam waktu 10 tahun saja, dari klub mediocre di Inggris menjadi klub dengan keuntungan tertinggi di Inggris dan salah satu klub terkaya di dunia, dengan prestasi demi prestasi, trophy demi trophy, ....... Jasa Wenger bagi Arsenal dan dunia sepakbola mungkin dapat diilustrasikan sebagai jasa para reformator bagi kita.

Judul kedua sih umum sekali terutama di bulan Ramadan ini.
Pagi hari ini setelah mengantar anak ke sekolah, kami melihat banyak fakir miskin yang berkumpul di sebuah rumah menunggu jatah zakat. Yang menarik dari peristiwa ini adalah di tengah-tengah peminta zakat yang umumnya wanita dan anak-anak ada beberapa pedagang yang sangat luar biasa nalurinya!!. Ya, ada berbagai penjual seperti penjual es krim, bakso dan entah apa lagi. Mungkin pikiran mereka: para fakir miskin setelah mendapat uang zakat tentunya merupakan pasar potensial bagi dagangan mereka. Dan memang, siang hari sewaktu menjemput anak di sekolah, kami melihat sampah berserakan di halaman rumah yang memberikan zakat.
Para pedagang kecil itu secara tidak sadar telah melakukan suatu proses manajemen yang baik karena mereka mampu melihat peluang dan mengejarnya. Metode tunggu bola sontak berubah menjadi jemput bola, mereka mampu membaca perubahan jaman dan mereformasi ‘cara kerjanya’.

Judul yang ketiga tentunya asing tetapi bagi penggemar AXN tentunya paham bahwa dr. House adalah sebuah tokoh cerita serial TV. Dr. House adalah seorang dokter yang sangat pandai dan berani ‘mengekspolasi’ berbagai inovasi yang sering bertentangan dengan koleganya, berani mengambil resiko dalam metode pengobatannya yang jauh dari konvensional. Karakter dr. Gregory House sendiri digambarkan sebagai seorang yang egois, sinis, agak licik, pokoknya bukan karakter yang perlu dicontoh.
Dalam episode yang diputar kemarin malam, kami (saya dan istri) menonton bersama dan kebetulan sama-sama terkesan dengan sebuah kalimat. Ceritanya dr. House mepunyai pasien seorang anak kecil yang autis. Setiap kali mau diobati si anak selalu menjerit-jerit sehingga para asisten dr. House mengalami kesulitan. Dalam satu adegan digambarkan seorang asisten dokter akan membius si anak dengan cara memasang selang di mulutnya, si anak menolak dengan keras sampai menjerit-jerit. Semua bingung dan dr. House sebagai pemimpin maju mengambil alih dengan melakukan sebuah perbuatan yang sangat menarik: mula-mula dia memasang selang bius itu di mulutnya sendiri dan setelah itu memasangnya di mulut si anak. Setelah mengulanginya dua kali, ajaib!! Si anak berhenti menjerit dan mau memakai selang itu secara suka rela!!. Asistennya yang kagum bertanya mengapa begitu? Dr. House menjawab seenaknya: monyet makan stroberry. What??? Ya, seekor monyet tidak mau memakan stroberry sampai dia melihat monyet lainnya makan strobery itu!!.

Ok lah, cukup ngelanturnya, terus apa maksudnya menulis si Wenger, Zakat dan dr. House? Ya, Firman Tuhan berkata bahwa apa yang ada dalam hati manusia akan meluap keluar. Tak jarang kita mendapati para pemuka agama yang melakukan apa yang tidak dikotbahkannya dan tidak melakukan apa yang dikotbahkan dirinya sendiri. Bukannya sok suci karena memang saya jauh dari suci dan nama saya juga bukan suci. Pak Sucianto yang hamba Tuhan aja bukan orang suci kok apalagi saya!!. Setiap kisah di atas cukup mengesankan saya dan lagi-lagi saya memikirkannya dalam konteks pelayanan gerejawi.
Ada beberapa hal yang saya pikirkan:
Di balik kesuksesan Wenger, sebenarnya semua prinsip-prinsip yang benar (yang baik belum tentu benar, yang benar pasti baik walau harga yang harus dibayar mahal-bukan dari segi materi lho) sudah ada dalam Alkitab kita. Sayang masih ada gereja yang walau dari luar nampak seperti melayani Tuhan tetapi sebenarnya melayani dirinya sendiri, ada yang disetir oleh majelis, ada juga yang gembalanya menyetir majelis. Hierarki kepemimpinan yang dilakukan adalah semu karena ulah seorang manusia yang mengatur gereja seperti milik pribadinya. Ciri gereja seperti ini biasanya adalah: jumlah jemaat yang stagnan bahkan berkurang, SDM yang bermutu rendah, pelayanan yang dilakukan berjalan secara mekanis, tidak ada kegairahan dalam pelayanan dll. Menarik yang ditulis oleh Rick Warren dalam Purpose Driven Church: dalam ibadah minggu gereja Saddleback, lebih dari separonya adalah pengunjung yang berarti mereka ada di sana karena diundang oleh temannya yang merupakan jemaat. Di gereja kita jangan-jangan jumlah jemaat yang tercatat lebih dari 400 orang tapi hanya 100-an yang menghadiri ibadah?.
Berlindung dibalik seperangkat aturan dan tradisi. Mari kita intropeksi, apakah pelayanan kita benar sesuai dengan pinsip-prinsip Alkitab atau hanya melestarikan tradisi?. Gereja yang bertumpu pada tradisi akan mengalami status quo, tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas dan tidak rela membayar harga. Bila kondisi ini berkelanjutan, tidak heran bila Tuhan memakai gereja lain untuk menjangkau umatNya.
Dunia telah lama dan semakin cepat dan jelas menantang nilai-nilai kristiani. Mau tidak mau, siap tidak siap saat ini kita telah berada dalam era post Christian mind di mana generasi muda banyak yang tidak mengenal Injil, sebuah hal yang berbeda dengan generasi sebelumnya. George Barna menunjukkan dalam risetnya bahwa seorang hamba Tuhan bukan lagi merupakan figur yang dihormati dan dipercayai. Dalam dunia yang berubah kadang kita masih melakukan strategi, metode, gaya dan cara seperti yang diperkenalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tak heran bila kita ketinggalan kereta. Kita lupa bahwa cara dan metode yang kita pakai sekarang memang merupakan cara dan metode yang cocok dengan konteks jaman dulu. Hal yang perlu direnungkan: apakah masih relevan dengan dunia yang sudah berubah sekarang ini?
Bila mereka yang bekerja untuk kesementaraan dapat melakukan berbagai inovasi, bagaimana dengan kita yang bekerja di ladang Tuhan, yang mendapat kehormatan bekerja dalam kekekalan?. Saya sungguh merasa ngeri ketika seseorang berkata kepada saya bahwa kekristenan sudah berada dalam titik nadir dan rasanya sebuah reformasi baru akan segera dilakukan Tuhan. Hal ini selaras dengan apa yang dicetuskan oleh Larry Crabb dalam bukunya ‘Shattered Dreams’. Quo Vadis Gereja?
Hendra, 271007

Sunday, September 23, 2007

Pelajaran dari seorang pengemis

Siang hari tadi kami sekeluarga bermaksud makan pagi sekaligus makan siang di sebuah rumah makan sepulang dari menjemput putri kami di sekolah. Ketika menunggu pesanan datang, seorang pengemis yang kurus dan kotor mendekati kami untuk meminta uang. Istri saya menyodorkan uang Rp. 500 kepadanya dan dengan semerta-merta ditolaknya dan dia meminta lebih banyak!!. Saat itu juga kami menjadi kesal dan berkata: ‘dikasi uang kok ndak mau’. Kemudian kami memutuskan untuk tidak memberinya uang lagi dan pengemis itu datang kepada orang lain, yang tidak memperdulikannya sama sekali. Setelah merengek beberapa lama tanpa mendapat hasil, pengemis itu kembali kepada kami dan mengulangi permintaannya selama beberapa lama. Akhirnya dengan sedikit rasa belas kasihan dan didominasi perasaan yang terganggu, saya memberinya uang Rp. 1.000. Apa yang kemudian terjadi? Ya, pengemis itu segera menyambar uang seribu itu dan ngeloyor pergi tanpa mengucapkan satu patah kata apapun juga. Dengan hati yang mengkal, saya menyindirnya dengan mengatakan ‘terima kasih ya’. Di luar dugaan, pengemis itu menjawab sambil terus berjalan, tanpa menoleh: ‘ya’. Mendengar jawaban itu saya merasa jengkel tetapi dengan cepat kejengkelan itu berubah menjadi rasa geli ketika istri saya berkata ‘isih kalah edane’ (masih kalah gilanya).

Dari peristiwa di atas, kami mendapat beberapa pelajaran sbb:
Ternyata ‘world view’ kami berbeda dengan ‘world view’ sang pengemis. Pada mulanya kami beranggapan uang Rp. 500 sudah cukup memuaskannya, ternyata bagi dia jumlah itu tidak mencukupinya. Hal ini menyadarkan kami ternyata dalam hidup sehari-hari secara sadar maupun tidak kita tidak terlepas dari mempergunakan ilmu psikologi dalam bertindak.
Kami berpikir bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh sang pengemis secara tidak sadar kami lakukan juga dalam hubungan kami dengan Tuhan. Bukankah setiap hari Tuhan sudah memberikan berkat yang cukup bahkan berlebih kepada kami, tetapi sering kami merasa belum cukup sehingga doa kami setiap hari didominasi dengan permintaan-permintaan untuk memuaskan ego narcis kami?.
Mungkin setelah membaca tulisan di atas, ada di antara pembaca yang berkata: ‘setelah menyadari kesalahan kami, pasti Tuhan akan memberkati kami berlimpah’. Nah, pada kenyataannya, setelah peristiwa di atas, selama sehari penuh toko kami sepi sekali, memang orang keluar dan masuk tetapi tidak ada seorangpun yang beli; sungguh suatu hal yang sangat sangat jarang terjadi. Sore hari kami keluar naik mobil sambil memperbincangkan hal ini. Kami sungguh bersyukur karena sadar Tuhan memberikan peringatan kepada kami melalui peristiwa dengan pengemis tsb. Menjelang malam saya turun ke toko untuk menutup toko dan mendapati sebuah penjualan terjadi. Secara nilai memang bukan pejualan yang besar, hanya kira-kira sepertiga dari penjualan normal tetapi nilai pelajaran yang kami dapat jauh lebih tinggi dari nilai materinya. Sebuah nas terngiang dalam kepala saya ‘masakan kamu hanya mau menerima yang baik dari Tuhan tanpa mau menerima yang buruk?’, juga teringat sebuah kotbah dari pak Yohan dari Mat 15:21-28 yang mengatakan bahwa Tuhan lebih tertarik untuk membentuk kepribadian kita terlebih dahulu dari pada cepat-cepat menyelesaikan masalah kita dan akhirnya saya juga teringat bahan PA pak Robby Chandra tentang ‘dog and cat theology’ yang mengupas perbedaan karakter orang kristen yang diilustrasikan dari perbedaan sifat-sifat seekor anjing dan seekor kucing. Terima kasih Tuhan karena Kau masih mau memprosesku hari lepas hari. Soli Deo Gloria.....
Hendra, 150907 jameswidodo-heart.blogspot.com