God Will Make a Way, Will Us Block It?
April 2006 adalah pertama kali saya mendengar dua buah lagu yang sangat menyentuh hati sehingga acap kali saya menangis bila memutar dan meresapi lagu tersebut. Perkenalan dengan lagu tersebut sebenarnya adalah suatu kebetulan belaka karena lagu secara otomatis dimainkan ketika saya membuka CD interaktif SAAT yang saya dapat ketika mengikuti SAAT Preaching Coference. Karena begitu terpikatnya maka saya mencari informasi tentang lagu tersebut. Lagu pertama adalah ‘People Need the Lord’ yang juga pernah dinyanyikan oleh Ev. Ndaru pada sebuah acara GRII, sedangkan lagu kedua hanya berupa instrumental belaka yang berjudul ‘God Will Make a Way’.
Hari berganti dan bulan berganti, saya sudah melupakan lagu tersebut sampai suatu hari di akhir Desember 2007 atau satu setengah tahun kemudian barulah saya menemukan lagu ‘God Will Make a Way’ versi jazz yang dinyanyikan oleh Margie Segers. Penemuan ini berlanjut pada bulan berikutnya ketika saya mencoba mencari lagu tsb di internet, ternyata lagu ini di compose oleh Don Moen, seorang penyanyi yang saya sudah beberapa kali saya dengar tapi saya hindari karena ‘rasanya terlalu rame musiknya’. Akhirnya minggu lalu saya membeli 2 CD-nya “Thank You Lord” dan “The Best of Don Moen”. Saya dengar-dengarkan dan teliti musik dan syairnya dan saya harus jujur memang beberapa syair lagunya bisa dipertanyakan secara doktrinal, tetapi banyak juga yang OK bahkan dia juga menyertakan beberapa lagu hymne dengan aransemen modern yang menurut saya sangat bagus dan tidak menghilangkan nilai ke-agungannya. Secara keseluruhan, dua buah CD tsb bagus (dengan perkecualian beberapa lagu).
Saya membaca kisah di balik penulisan lagu ‘God Will Make a Way’ sbb:
Suatu sore Don Moen menerima telepon yang mengabarkan bahwa keluarga iparnya mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan: Craig dan Susan bersama empat anaknya berkendara dari Texas ke Colorado ketika van mereka ditabrak oleh 18-wheeler truck!!. Craig dan Susan menemukan anak-anak mereka berdasar jeritan mereka, seorang di selokan, seorang di sebuah tempat yang basah karena salju yang meleleh dan seorang yang mendarat di tiang telepon. Ketiga anak tersebut dalam keadaan luka parah, tetapi Craig, seorang medical doctor tidak dapat berbuat apa-apa ketika menemukan anak ke-empat, Jeremy yang terbaring pada sebuah pagar dengan leher yang patah.
Ketika menerima kabar tersebut Don berkata: ‘duniaku menjadi sunyi dan berhenti berputar, tetapi aku tak dapat membatalkan acara rekaman yang telah di jadwalkan beberapa minggu yang lalu. Aku tak dapat mendampingi mereka sampai satu hari sebelum pemakaman’.
Dalam pesawat, sehari setelah kecelakaan itu Tuhan memberi lagu untuk mereka yang di dasarkan pada Isaiah 43:19, ‘God Will Make a Way’. Lagu ini memberi penghiburan kepada mereka ketika semua harapan seakan musnah.
Suatu hari Don menerima surat dari Susan: ‘kami melihat kebenaran Alkitab ketika teman-teman Jeremy menyadari bahwa Jeremy telah menerima Yesus sebelum kematiannya dan banyak teman-temannya yang menanyakan kepada ortunya tentang how could be assured of going to heaven when they died. Accident tersebut juga membawa Craig dan Susan kepada pengenalan yang lebih mendalam akan Yesus dan membawa mereka aktif dalam pelayanan.
Susan berkata bahwa pada saat kecelakaan: ‘aku tahu aku mempunyai pilihan untuk menjadi bitter and angry or I could totally accept God and whatever He had for us, aku telah melihat hasilnya dan if I had to, I’d do it again.’ (sampai disini saya ingat ucapan Fanny Crosby yang mirip dengan Susan akan kebutaannya)
Segera setalah lagu ini direkam, banyak sekali telpon dan surat datang dari seluruh dunia menyaksikan bagaimana mereka mengalami kejadian yang mirip dan God had carried them through shattering situation and by His Grace, they were emerging with stronger faith, renewed hope hope and God had made a way for them while all hope seemed to be lost.
“A new version of It Is Well With My Soul”, ‘God Will Make a Way’
‘God Will Make a Way’
God will make a way/where there seems to be no way
He works in ways we can not see/He will make a way for me
He will be my guide/hold me closely to His side
With love and strength for new each day
He will make a way/He will make a way
By a roadway in the wilderness/He’ll lead me
And rivers in the desert will I see
Heaven and earth will fade/but His Word will still remain
He will do something new today
Hendra, 150108
Tuesday, January 15, 2008
Sunday, January 13, 2008
'From Alcatraz to White House'
(Genesis 37; 39-41, The Story of Joseph)
Suatu hari seorang pelatih sepak bola dengan sangat marah berkata, ‘kalah tiga kali berturut-turut sudah cukup buruk, tetapi yang paling buruk adalah kita membuat kesalahan yang sama berulang kali. Ternyata kita tidak belajar dari kesalahan kita’. Seseorang pernah berkata bahwa ada tiga jenis manusia di dunia yaitu pertama: manusia yang bodoh, yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya; kedua: manusia biasa, yang mau dan mampu belajar dari kesalahannya; dan ketiga: manusia pandai yaitu manusia yang mau dan mampu belajar dari kesalahan orang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Saya katakan ‘mau dan mampu’ karena kemauan tanpa kemampuan atau kemampuan tanpa kemauan adalah sia-sia.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang kristen adalah keluar dari comfort zone dan menjadikan pengalaman pahit, menyakitkan, dan penuh air mata sebagai guru kehidupan. Sikap yang paling mudah dilakukan ketika kesulitan dan penderitaan menimpa kita adalah mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain. Sikap yang benar tapi sulit dilakukan adalah melakukan evaluasi secara objektif dan menggunakan rasa kecewa, sakit hati, perasaan gagal menjadi sarana untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Di mana lagi tempat terbaik, guru terbaik untuk mempelajari kehidupan jika bukan berguru kepada Sang Pencipta kehidupan itu sendiri?. Sarana yang disediakan Tuhan adalah melalui Alkitab yang merupakan Wahyu Khusus yang diberikan Allah khusus hanya kepada orang kristen. Malam ini kita belajar kebenaran Firman Tuhan melalui jatuh bangun kehidupan seorang Yusuf. Bagaimana Tuhan memproses hidup Yusuf melalui keadaan-keadaan yang luar biasa sulit untuk mengatasi tantangan hidup. Saat ini marilah kita bersama-sama mohon belas kasihan dan kekuatan dari Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran-pelajaran penting dari hidup Yusuf. Mari kita berdoa.
Latar belakang keluarga Yusuf (Kej. 37)
Yakub mempunyai 4 orang istri dimana dua di antaranya adalah kakak beradik yaitu Lea dan Rahel. Dua orang lainnya adalah Zilpa dan Bilha, yang adalah pembantu Lea dan Rahel yang diberikan mereka kepada Yakub untuk dijadikan istrinya.
• Proses hidup Yusuf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita yaitu dimulai dari kesalahan demi kesalahan. Bagaimana bisa? Ada tiga ciri kurang baik yang kental dalam keluarga besar Yakub, yaitu 1. kebiasaan menggunakan dusta untuk menyelesaikan masalah (ingat bagaimana Yakub ‘mencuri’ hak kesulungan Esau?); 2. menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan (bagaimana Lea dan Rahel bersaing memperebutkan cinta Yakub sampai rela memberikan budaknya kepada Yakub untuk di nikahi); 3. Favoritisme (Yakub lebih cinta kepada Rahel dan Yusuf)
Dari mana datangnya kebencian dan iri hati?
Yakub mempunyai 12 orang anak dari istri-istrinya dan Yusuf adalah anak kesayangannya, yang ironisnya justru dibenci oleh saudara-saudaranya. Apa sebabnya?
Ayat 2: Yusuf suka melaporkan kejahatan (taf: kemalasan) saudaranya.
Ayat 3-4: Kita lihat kesalahan pertama dilakukan oleh Yakub sebagai seorang ayah adalah mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya dan memberikan jubah maha indah hanya kepada Yusuf. Sebuah tafsiran mengatakan bahwa jubah itu adalah simbol pengakuan hak anak sulung kepada Yusuf (anak sulung Yakub adalah Ruben).
Ayat 5 &8: Yusuf menceritakan dua kali mimpinya kepada saudara-saudaranya bahwa mereka akan menyembah Yusuf.
Ayat 11: Sebagai orang tua dan pemimpin Yakub gagal untuk bertindak adil terhadap keluarganya. Akibatnya timbul perpecahan dalam keluarga dimana saudara yang lain benci kepada Yusuf.
• Ayat 13-14: Yakub menyuruh Yusuf untuk mencari tahu kabar saudara-saudaranya yang menggembalakan domba di dekat Sikhem (~100km dari Hebron). Artinya mereka semua kerja, Yusuf tidak. Hal inilah yang menjadi pencetus ide bagi saudaranya untuk membunuh Yusuf tapi atas intervensi Tuhan akhirnya Yusuf hanya dijual ke saudagar Midian yang kemudian menjual Yusuf pada Potifar di Mesir sebagai budak. Saudara, proses hidup Yusuf “baru” saja dimulai.
Proses hidup Yusuf (Kej. 39-41)
• Ayat 2-5; 22-23 menyatakan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dalam setiap perkara. Hal ini juga disadari Potifar sehingga ia meng-kuasakan segala miliknya kepada Yusuf dan Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf. Bagaimana mungkin semua yang dikerjakan Yusuf berhasil jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?. Artinya Yusuf telah berubah dari seorang yang mengandalkan diri dan ayahnya menjadi seorang yang mengandalkan Allah.
• Ayat 6-12 mengatakan bahwa Yusuf manis sikapnya. Inilah transformasi karakter seorang anak manja, tidak tahu kerja menjadi seorang yang manis sikapnya dan berkomitmen tinggi. Sebagai seorang manusia dapat dikatakan bahwa hidup Yusuf telah berhasil, sukses besar. Seorang budak menjadi kuasa semua harta majikannya. Secara manusia kita mengatakan bahwa proses hidup Yusuf telah selesai. Saudara kata yang tepat adalah SATU proses hidup telah selesai dan Allah kembali memproses Yusuf lebih lanjut. Pada suatu hari Yusuf difitnah oleh istrinya Potifar karena menolak untuk berzinah dengan-nya sehingga Yusuf dijebloskan ke penjara. Ayat 7 menulis ‘ia memandang Yusuf dengan birahi’. Sesungguhnya istri Potifar bukan sosok asing dalam dunia modern bukan? Sebuah survey terhadap 60.000 wanita Amerika oleh sebuah majalah beberapa tahun yang lalu mengungkapkan: 47% menyetujui seks pra-nikah dan 27% menyetujui perselingkuhan. Ini survey mungkin sudah 10 tahun yang lalu dan khusus wanita. Bisa kita bayangkan hasilnya jika survey itu dilakukan hari ini dengan responden pria. Saudara, dalam kasus Yusuf kita melihat pemeliharaan Allah nyata karena pada jaman itu kesalahan yang dituduhkan kepada seorang budak seperti Yusuf pasti mendatangkan hukuman mati. Atas anugerah Allah, Yusuf hanya dipenjara dan kembali Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Inilah proses hidup Yusuf yang kedua.
• Kej 40-41 menyatakan di dalam penjara Yusuf menolong mengartikan arti mimpi juru minuman raja Mesir dan kemudian meminta tolong kepadanya untuk menceritakan persoalannya kepada firaun untuk mendapatkan keadilan. Saudara, ternyata Yusuf dilupakan oleh sang juru minuman sampai 2 tahun. Setelah lewat dua tahun, firaun bermimpi dimana tidak ada seorang manusiapun yang mampu meng-artikannya. Barulah sang juru minuman ingat kepada Yusuf dan menceritakannya kepada firaun yang segera memanggil Yusuf keluar dari penjara. Kemudian dengan tepat Yusuf meng-artikan mimpi firaun dan semua yang dikatakan Yusuf tepat terjadi di Mesir. Pasal 41:38-39 menyatakan bahwa firaun mengetahui bahwa Yusuf penuh dengan Roh Allah sehingga ia menjadikan Yusuf sebagai kuasa di Mesir (perdana menteri).
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari proses hidup Yusuf?
• Tiga ciri jelek keluarga Yakub di atas yang harus kita hindari dan sebenarnya poligami sudah dilarang Tuhan dalam kej 2:18.
• Sebenarnya apa sih maksud Tuhan dengan hidup Yusuf? Jawabannya ada pada ps 45: untuk memelihara kehidupan, untuk menjamin kelanjutan keturunan bangsa Israel. Dalam rangka ‘tugas suci’ inilah Yusuf disiapkan menjadi pemimpin, bukan sembarang pemimpin tapi seorang pemimpin yang berjiwa hamba, seorang pemimpin yang melayani bukan menuntut untuk dilayani. Berapa banyak pemimpin yang kita temui hari ini, termasuk pemimpin di gereja yang sangat berbeda dengan Yusuf bukan?. Tahukah saudara bahwa Mahatma Gandi setiap hari selalu membaca Alkitab?. Suatu hari dia mengambil keputusan untuk menjadi orang kristen. Dalam perjalanan ke gereja naik trem dia mendapat perlakuan rasialis dari seorang kulit putih. Hal itu mengecewakan hatinya sehingga dia batal menjadi kristen. Seorang misionaris pernah bertanya kepadanya: ‘bagaimana caranya agar rakyat India menerima Kristus. Jawabnya: jika kalian orang kristen berlaku seperti Yesus berlaku. Saya jamin semua rakyat India akan menjadi orang kristen’.
Yusuf dengan sabar dan sadar MAU memberi dirinya untuk diproses oleh Allah secara berkesinambungan dan bertahap-progresif. Pada tahap pertama Yusuf di jual oleh saudaranya sebagian karena “kesalahan” Yusuf sendiri, yaitu sikap sombong dan kemalasannya. Pada proses tahap kedua, di rumah Potifar, Yusuf tidak melakukan kesalahan apapun melainkan difitnah. Pada proses tahap berikutnya dengan juru minuman raja, bukan saja Yusuf tidak bersalah, melainkan Yusuf melakukan kebaikan dengan menolong sang juru minuman, tetapi Yusuf dilupakan oleh juru minuman. Di sini kita belajar bahwa seorang yang tidak bersalah bahkan melakukan kebaikan juga tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan hidup. Jadi jika ada orang yang sakit atau mengalami penderitaan, jangan kita dengan gampang mengatakan: dia berdosa sehingga di hukum Tuhan.
• Allah memilih Yusuf bukan karena ‘kebaikan diri’ Yusuf melainkan hanya semata-mata anugerah. Pada waktu proses Yusuf dimulai, ia hanyalah seorang anak berusia 17 tahun kesayangan ‘babe Yakub’ yang sombong dan naif. Dalam beberapa atau banyak segi Yusuf banyak kesamaan dengan kita bukan?. Yusuf mau hidup diproses Allah selangkah demi selangkah seperti sebuah kupu-kupu indah yang berasal dari ulat kepompong yang bentuknya aneh dan agak menjijikkan.
• Yusuf setia kepada Allah. Di tengah-tengah bangsa kafir, Yusuf tetap kokoh memegang kepercayaannya kepada Allah.
Kesimpulan:
1. Proses Allah terjadi untuk kebaikan kita seumur hidup kita. Jika kita menghadapi tantangan, itu berarti Allah sayang kepada kita karena berarti Allah masih memproses kita. Proses Yusuf dijual sampai menjadi penguasa Mesir terjadi selama kurun waktu 13 tahun dan kita lihat bahwa proses Allah masih berlanjut kepada Yusuf sampai ia mati. Abraham Lincoln adalah sebuah contoh klasik. Ia gagal dalam dua bisnisnya, mengalami gangguan syaraf, ditinggal mati kekasihnya, kalah dalam pemilihan untuk kedudukan dalam pemerintahan kira-kira 10 kali dalam kurun waktu 30 tahun, barulah ia terpilih sebagai presiden. Ketidak-adilan yang bertubi-tubi, kegagalan, penyakit dan tragedi pribadi tidak mengalahkan Lincoln, tetapi malah menguatkan karakter dan komitmennya. Hal yang sama terjadi pada Yusuf.
2. Hidup berserah kepada Allah adalah kunci keberhasilan seseorang. Untuk dapat berserah total, kita mau tidak mau harus mengalami proses demi proses seperti emas yang dimurnikan. Tuhan menginginkan kita menjadi emas yang murni bukan ‘gold plated’. Adakah yang tahu caranya memurnikan emas? Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat teman saya memurnikan emas dengan cara membakar emas batangan dengan sebuah alat seperti las sampai mencair. Nah setelah cairan emas itu menjadi mengkilap sampai kita dapat bercermin padanya, artinya emas itu telah murni. Jadi pembakaran tersebut dimaksudkan untuk membuang unsur-unsur logam lain yang bukan emas. Dalam kehidupan, Allah ingin “membakar” kelemahan-kelemahan kita untuk merubah karakter kita semakin mirip dengan-Nya. Tentu saja proses pembakaran itu rasanya menyakitkan karena kita ditarik keluar dari kenyamanan hidup kita dan proses itu adalah proses seumur hidup kita.
Renungan malam ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Charles Spurgeon tentang seorang anak berusia 7 tahun bernama Richard. Suatu hari ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka sampai di luar pintu gerbang kota yang dituju, ayahnya menyuruh Richard untuk menunggu karena ia tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu. Ternyata di sana sang ayah bertemu dengan teman-teman lamanya sampai ia lupa waktu dan lupa kalau ia meninggalkan Richard di pintu gerbang kota. Ketika dengan letih ia bermaksud untuk pulang, sang ayah menerima tawaran seorang temannya untuk menumpang kereta kudanya. Hari sudah malam ketika dia sampai di rumah, setelah mandi ia memangil anaknya: ‘Richard, kemari nak! Ayah akan menceritakan pengalaman ayah hari ini’. Ia tidak mendengar jawaban anaknya dan dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu gerbang kota. Saat itu juga ia cepat-cepat kembali ke tempat itu. Ia merasa sangat terharu mendapati Richard duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu gerbang kota. Ia memeluk anaknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih dan membawanya pulang.
Manusia bisa lupa, bisa melakukan banyak kesalahan. Bila seorang anak 7 tahun dapat begitu mempercayai ayahnya yang terbatas, yang penuh kelemahan, maukah kita meneladani sikapnya untuk tetap setia dan mempercayakan hidup kita bukan sekedar pada manusia, tetapi kepada Allah yang begitu mengasihi kita? Martin Luther pernah berkata bahwa Allah tidak pernah meminta maaf bukan karena kesombongan tetapi memang Dia Allah yang tidak pernah berbuat salah. Mari kita berdoa.
Hendra, 110108
Bibliografi:
1. David Wong, Meninggalkan Kenyamanan Meraih Kemenangan
2. Bill Crowder, Joseph: Overcoming Life’s Challenges
3. Jenny Wongka, Berkenan di Hati Allah
4. Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam PL
5. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1
Suatu hari seorang pelatih sepak bola dengan sangat marah berkata, ‘kalah tiga kali berturut-turut sudah cukup buruk, tetapi yang paling buruk adalah kita membuat kesalahan yang sama berulang kali. Ternyata kita tidak belajar dari kesalahan kita’. Seseorang pernah berkata bahwa ada tiga jenis manusia di dunia yaitu pertama: manusia yang bodoh, yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya; kedua: manusia biasa, yang mau dan mampu belajar dari kesalahannya; dan ketiga: manusia pandai yaitu manusia yang mau dan mampu belajar dari kesalahan orang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Saya katakan ‘mau dan mampu’ karena kemauan tanpa kemampuan atau kemampuan tanpa kemauan adalah sia-sia.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang kristen adalah keluar dari comfort zone dan menjadikan pengalaman pahit, menyakitkan, dan penuh air mata sebagai guru kehidupan. Sikap yang paling mudah dilakukan ketika kesulitan dan penderitaan menimpa kita adalah mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain. Sikap yang benar tapi sulit dilakukan adalah melakukan evaluasi secara objektif dan menggunakan rasa kecewa, sakit hati, perasaan gagal menjadi sarana untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Di mana lagi tempat terbaik, guru terbaik untuk mempelajari kehidupan jika bukan berguru kepada Sang Pencipta kehidupan itu sendiri?. Sarana yang disediakan Tuhan adalah melalui Alkitab yang merupakan Wahyu Khusus yang diberikan Allah khusus hanya kepada orang kristen. Malam ini kita belajar kebenaran Firman Tuhan melalui jatuh bangun kehidupan seorang Yusuf. Bagaimana Tuhan memproses hidup Yusuf melalui keadaan-keadaan yang luar biasa sulit untuk mengatasi tantangan hidup. Saat ini marilah kita bersama-sama mohon belas kasihan dan kekuatan dari Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran-pelajaran penting dari hidup Yusuf. Mari kita berdoa.
Latar belakang keluarga Yusuf (Kej. 37)
Yakub mempunyai 4 orang istri dimana dua di antaranya adalah kakak beradik yaitu Lea dan Rahel. Dua orang lainnya adalah Zilpa dan Bilha, yang adalah pembantu Lea dan Rahel yang diberikan mereka kepada Yakub untuk dijadikan istrinya.
• Proses hidup Yusuf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita yaitu dimulai dari kesalahan demi kesalahan. Bagaimana bisa? Ada tiga ciri kurang baik yang kental dalam keluarga besar Yakub, yaitu 1. kebiasaan menggunakan dusta untuk menyelesaikan masalah (ingat bagaimana Yakub ‘mencuri’ hak kesulungan Esau?); 2. menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan (bagaimana Lea dan Rahel bersaing memperebutkan cinta Yakub sampai rela memberikan budaknya kepada Yakub untuk di nikahi); 3. Favoritisme (Yakub lebih cinta kepada Rahel dan Yusuf)
Dari mana datangnya kebencian dan iri hati?
Yakub mempunyai 12 orang anak dari istri-istrinya dan Yusuf adalah anak kesayangannya, yang ironisnya justru dibenci oleh saudara-saudaranya. Apa sebabnya?
Ayat 2: Yusuf suka melaporkan kejahatan (taf: kemalasan) saudaranya.
Ayat 3-4: Kita lihat kesalahan pertama dilakukan oleh Yakub sebagai seorang ayah adalah mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya dan memberikan jubah maha indah hanya kepada Yusuf. Sebuah tafsiran mengatakan bahwa jubah itu adalah simbol pengakuan hak anak sulung kepada Yusuf (anak sulung Yakub adalah Ruben).
Ayat 5 &8: Yusuf menceritakan dua kali mimpinya kepada saudara-saudaranya bahwa mereka akan menyembah Yusuf.
Ayat 11: Sebagai orang tua dan pemimpin Yakub gagal untuk bertindak adil terhadap keluarganya. Akibatnya timbul perpecahan dalam keluarga dimana saudara yang lain benci kepada Yusuf.
• Ayat 13-14: Yakub menyuruh Yusuf untuk mencari tahu kabar saudara-saudaranya yang menggembalakan domba di dekat Sikhem (~100km dari Hebron). Artinya mereka semua kerja, Yusuf tidak. Hal inilah yang menjadi pencetus ide bagi saudaranya untuk membunuh Yusuf tapi atas intervensi Tuhan akhirnya Yusuf hanya dijual ke saudagar Midian yang kemudian menjual Yusuf pada Potifar di Mesir sebagai budak. Saudara, proses hidup Yusuf “baru” saja dimulai.
Proses hidup Yusuf (Kej. 39-41)
• Ayat 2-5; 22-23 menyatakan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dalam setiap perkara. Hal ini juga disadari Potifar sehingga ia meng-kuasakan segala miliknya kepada Yusuf dan Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf. Bagaimana mungkin semua yang dikerjakan Yusuf berhasil jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?. Artinya Yusuf telah berubah dari seorang yang mengandalkan diri dan ayahnya menjadi seorang yang mengandalkan Allah.
• Ayat 6-12 mengatakan bahwa Yusuf manis sikapnya. Inilah transformasi karakter seorang anak manja, tidak tahu kerja menjadi seorang yang manis sikapnya dan berkomitmen tinggi. Sebagai seorang manusia dapat dikatakan bahwa hidup Yusuf telah berhasil, sukses besar. Seorang budak menjadi kuasa semua harta majikannya. Secara manusia kita mengatakan bahwa proses hidup Yusuf telah selesai. Saudara kata yang tepat adalah SATU proses hidup telah selesai dan Allah kembali memproses Yusuf lebih lanjut. Pada suatu hari Yusuf difitnah oleh istrinya Potifar karena menolak untuk berzinah dengan-nya sehingga Yusuf dijebloskan ke penjara. Ayat 7 menulis ‘ia memandang Yusuf dengan birahi’. Sesungguhnya istri Potifar bukan sosok asing dalam dunia modern bukan? Sebuah survey terhadap 60.000 wanita Amerika oleh sebuah majalah beberapa tahun yang lalu mengungkapkan: 47% menyetujui seks pra-nikah dan 27% menyetujui perselingkuhan. Ini survey mungkin sudah 10 tahun yang lalu dan khusus wanita. Bisa kita bayangkan hasilnya jika survey itu dilakukan hari ini dengan responden pria. Saudara, dalam kasus Yusuf kita melihat pemeliharaan Allah nyata karena pada jaman itu kesalahan yang dituduhkan kepada seorang budak seperti Yusuf pasti mendatangkan hukuman mati. Atas anugerah Allah, Yusuf hanya dipenjara dan kembali Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Inilah proses hidup Yusuf yang kedua.
• Kej 40-41 menyatakan di dalam penjara Yusuf menolong mengartikan arti mimpi juru minuman raja Mesir dan kemudian meminta tolong kepadanya untuk menceritakan persoalannya kepada firaun untuk mendapatkan keadilan. Saudara, ternyata Yusuf dilupakan oleh sang juru minuman sampai 2 tahun. Setelah lewat dua tahun, firaun bermimpi dimana tidak ada seorang manusiapun yang mampu meng-artikannya. Barulah sang juru minuman ingat kepada Yusuf dan menceritakannya kepada firaun yang segera memanggil Yusuf keluar dari penjara. Kemudian dengan tepat Yusuf meng-artikan mimpi firaun dan semua yang dikatakan Yusuf tepat terjadi di Mesir. Pasal 41:38-39 menyatakan bahwa firaun mengetahui bahwa Yusuf penuh dengan Roh Allah sehingga ia menjadikan Yusuf sebagai kuasa di Mesir (perdana menteri).
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari proses hidup Yusuf?
• Tiga ciri jelek keluarga Yakub di atas yang harus kita hindari dan sebenarnya poligami sudah dilarang Tuhan dalam kej 2:18.
• Sebenarnya apa sih maksud Tuhan dengan hidup Yusuf? Jawabannya ada pada ps 45: untuk memelihara kehidupan, untuk menjamin kelanjutan keturunan bangsa Israel. Dalam rangka ‘tugas suci’ inilah Yusuf disiapkan menjadi pemimpin, bukan sembarang pemimpin tapi seorang pemimpin yang berjiwa hamba, seorang pemimpin yang melayani bukan menuntut untuk dilayani. Berapa banyak pemimpin yang kita temui hari ini, termasuk pemimpin di gereja yang sangat berbeda dengan Yusuf bukan?. Tahukah saudara bahwa Mahatma Gandi setiap hari selalu membaca Alkitab?. Suatu hari dia mengambil keputusan untuk menjadi orang kristen. Dalam perjalanan ke gereja naik trem dia mendapat perlakuan rasialis dari seorang kulit putih. Hal itu mengecewakan hatinya sehingga dia batal menjadi kristen. Seorang misionaris pernah bertanya kepadanya: ‘bagaimana caranya agar rakyat India menerima Kristus. Jawabnya: jika kalian orang kristen berlaku seperti Yesus berlaku. Saya jamin semua rakyat India akan menjadi orang kristen’.
Yusuf dengan sabar dan sadar MAU memberi dirinya untuk diproses oleh Allah secara berkesinambungan dan bertahap-progresif. Pada tahap pertama Yusuf di jual oleh saudaranya sebagian karena “kesalahan” Yusuf sendiri, yaitu sikap sombong dan kemalasannya. Pada proses tahap kedua, di rumah Potifar, Yusuf tidak melakukan kesalahan apapun melainkan difitnah. Pada proses tahap berikutnya dengan juru minuman raja, bukan saja Yusuf tidak bersalah, melainkan Yusuf melakukan kebaikan dengan menolong sang juru minuman, tetapi Yusuf dilupakan oleh juru minuman. Di sini kita belajar bahwa seorang yang tidak bersalah bahkan melakukan kebaikan juga tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan hidup. Jadi jika ada orang yang sakit atau mengalami penderitaan, jangan kita dengan gampang mengatakan: dia berdosa sehingga di hukum Tuhan.
• Allah memilih Yusuf bukan karena ‘kebaikan diri’ Yusuf melainkan hanya semata-mata anugerah. Pada waktu proses Yusuf dimulai, ia hanyalah seorang anak berusia 17 tahun kesayangan ‘babe Yakub’ yang sombong dan naif. Dalam beberapa atau banyak segi Yusuf banyak kesamaan dengan kita bukan?. Yusuf mau hidup diproses Allah selangkah demi selangkah seperti sebuah kupu-kupu indah yang berasal dari ulat kepompong yang bentuknya aneh dan agak menjijikkan.
• Yusuf setia kepada Allah. Di tengah-tengah bangsa kafir, Yusuf tetap kokoh memegang kepercayaannya kepada Allah.
Kesimpulan:
1. Proses Allah terjadi untuk kebaikan kita seumur hidup kita. Jika kita menghadapi tantangan, itu berarti Allah sayang kepada kita karena berarti Allah masih memproses kita. Proses Yusuf dijual sampai menjadi penguasa Mesir terjadi selama kurun waktu 13 tahun dan kita lihat bahwa proses Allah masih berlanjut kepada Yusuf sampai ia mati. Abraham Lincoln adalah sebuah contoh klasik. Ia gagal dalam dua bisnisnya, mengalami gangguan syaraf, ditinggal mati kekasihnya, kalah dalam pemilihan untuk kedudukan dalam pemerintahan kira-kira 10 kali dalam kurun waktu 30 tahun, barulah ia terpilih sebagai presiden. Ketidak-adilan yang bertubi-tubi, kegagalan, penyakit dan tragedi pribadi tidak mengalahkan Lincoln, tetapi malah menguatkan karakter dan komitmennya. Hal yang sama terjadi pada Yusuf.
2. Hidup berserah kepada Allah adalah kunci keberhasilan seseorang. Untuk dapat berserah total, kita mau tidak mau harus mengalami proses demi proses seperti emas yang dimurnikan. Tuhan menginginkan kita menjadi emas yang murni bukan ‘gold plated’. Adakah yang tahu caranya memurnikan emas? Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat teman saya memurnikan emas dengan cara membakar emas batangan dengan sebuah alat seperti las sampai mencair. Nah setelah cairan emas itu menjadi mengkilap sampai kita dapat bercermin padanya, artinya emas itu telah murni. Jadi pembakaran tersebut dimaksudkan untuk membuang unsur-unsur logam lain yang bukan emas. Dalam kehidupan, Allah ingin “membakar” kelemahan-kelemahan kita untuk merubah karakter kita semakin mirip dengan-Nya. Tentu saja proses pembakaran itu rasanya menyakitkan karena kita ditarik keluar dari kenyamanan hidup kita dan proses itu adalah proses seumur hidup kita.
Renungan malam ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Charles Spurgeon tentang seorang anak berusia 7 tahun bernama Richard. Suatu hari ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka sampai di luar pintu gerbang kota yang dituju, ayahnya menyuruh Richard untuk menunggu karena ia tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu. Ternyata di sana sang ayah bertemu dengan teman-teman lamanya sampai ia lupa waktu dan lupa kalau ia meninggalkan Richard di pintu gerbang kota. Ketika dengan letih ia bermaksud untuk pulang, sang ayah menerima tawaran seorang temannya untuk menumpang kereta kudanya. Hari sudah malam ketika dia sampai di rumah, setelah mandi ia memangil anaknya: ‘Richard, kemari nak! Ayah akan menceritakan pengalaman ayah hari ini’. Ia tidak mendengar jawaban anaknya dan dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu gerbang kota. Saat itu juga ia cepat-cepat kembali ke tempat itu. Ia merasa sangat terharu mendapati Richard duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu gerbang kota. Ia memeluk anaknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih dan membawanya pulang.
Manusia bisa lupa, bisa melakukan banyak kesalahan. Bila seorang anak 7 tahun dapat begitu mempercayai ayahnya yang terbatas, yang penuh kelemahan, maukah kita meneladani sikapnya untuk tetap setia dan mempercayakan hidup kita bukan sekedar pada manusia, tetapi kepada Allah yang begitu mengasihi kita? Martin Luther pernah berkata bahwa Allah tidak pernah meminta maaf bukan karena kesombongan tetapi memang Dia Allah yang tidak pernah berbuat salah. Mari kita berdoa.
Hendra, 110108
Bibliografi:
1. David Wong, Meninggalkan Kenyamanan Meraih Kemenangan
2. Bill Crowder, Joseph: Overcoming Life’s Challenges
3. Jenny Wongka, Berkenan di Hati Allah
4. Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam PL
5. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1
Wednesday, December 12, 2007
Ketika Penderitaan tak Tertanggung & Allah tak Terpahami
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
(Roma 8:28-29)
Ayat ke 28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Saudara, berdasarkan pernyataan tsb, perkenankanlah saya mengajukan dua buah pernyataan, tolong dijawab di dalam hati saja mana yang menurut saudara benar.
Pertama: ‘Karena Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup saya, maka berarti hidupku pastinya jadi mudah dan lancar’; atau yang kedua: ‘Sekalipun Allah mereka-rekakan yang baik dalam hidup saya, hal itu tidak berarti hidupku menjadi mudah dan lancar’. Mari kita berdoa.
Saudara, sepintas ayat 28 kelihatannya mudah dipahami, Penekanannya adalah ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu dalam hidup kita bagi kebaikan kita’. Ketika berada dalam keadaan yang baik dan lancar, kesehatan baik, anak-anak baik, bisnis lancar, o saudara sangat mudah untuk mengaminkan pernyataan Paulus tsb bukan?. Namun di sisi lain ketika hidup menjadi berat dan menekan, ketika semua rencana-rencana pecah berkeping-keping dan dunia rasa-rasanya terbalik menimpa kepala kita, bukankah dengan mudah pula kita mempertanyakan kebenaran ayat tersebut.
Berapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa orang kristen yang baik dan benar kebal terhadap penderitaan dan malapetaka dan orang yang mati karena penyakit atau kecelakaan, adalah orang yang berdosa besar sehingga dihukum Tuhan. Kira-kira satu bulan sebelum pesawat Adam Air jatuh dan menewaskan semua penumpangnya, yang termasuk di dalamnya ada sekeluarga pendeta, ada sebuah kotbah di radio kristen di Surabaya: saya yakin...orang benar tidak akan terbunuh, tidak akan mati dalam kecelakaan pesawat. Bukankah Matius 7:11 mengatakan ‘Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.’ Nah, bukankah asal kita meminta hal-hal yang baik kepada Allah pasti dikabulkan sesuai janji Allah sendiri?. Mari kita belajar apa sebenarnya yang dimaksud oleh Matius dengan kata “Baik” dalam perikop paralelnya dalam Lukas 11:13: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Jadi ternyata saudara, yang dimaksud dengan ‘baik’ oleh Matius di jelaskan dengan gamblang oleh Lukas sebagai Roh Kudus. Tuhan berjanji memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya, bukan hal lainnya. Untuk hal-hal lainnya Tuhan tidak pernah berjanji untuk selalu mengabulkannya, walau saya percaya Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita sepanjang hal itu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Amin saudara?. Tuhan tidak pernah berjanji langit selalu biru, hidup tanpa kesulitan dan penderitaan bagi orang kristen, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat terlepas dari yang namanya problem, masalah, kesulitan, sakit penyakit dan segala macam penderitaan yang lain. Ada seorang yang pernah berkata: hanya orang gila atau orang mati yang hidup tanpa pernah merasakan penderitaan. Jika demikian keadaannya muncul beberapa pertanyaan sbb: penderitaan orang kristen berasal dari mana? Apa maksud Tuhan dengan penderitaan, dan mengapa Allah kadang-kadang berdiam diri saja, seakan-akan tak perduli dengan penderitaan manusia?
Penderitaan hidup berasal dari mana?
Saudara, ternyata Alkitab banyak mencatat penderitaan yang dialami anak-anak Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan yang baik dan setia. Dengan mudah kita menemukan contoh seperti Yusuf yang dibuang ke dalam sumur, difitnah, masuk penjara, Stefanus yang mati dirajam karena memberitakan Firman Tuhan sampai Petrus yang mati syahid disalibkan secara terbalik. Nah, jika demikian faktanya, kita menjadi heran, sebenarnya penderitaan manusia berasal dari mana? Dalam menyikapi hal ini kita harus mengerti bahwa penderitaan yang kita alami berasal dari dua macam sumber, pertama adalah ujian dan yang kedua adalah pencobaan. Ujian berasal dari Tuhan dan kadang-kadang atau sering kali Dia memberikan berbagai ujian kepada manusia untuk membentuk karakter kita menjadi lebih baik. Pencobaan berasal dari iblis karena Tuhan tidak pernah mencobai manusia sedangkan iblis senantiasa mencobai manusia dengan maksud untuk menjatuhkan manusia. Contoh dalam Alkitab adalah ketika setan mencobai Yesus setelah Dia berpuasa 40 hari. Contoh pencobaan masa kini adalah narkoba dan seks bebas. Saudara, narkoba dan seks bebas adalah dosa yang menimbulkan efek kecanduan di mana setan cuma cukup menggoda kita sekali saja karena setelah itu kita jalan sendiri. Dosa ini seperti patung kucing yang tangan kanannya maju ke depan dan ke belakang. Saudara tahu itu kan? Untuk menggerakkan tangan itu, berapa kali yang dibutuhkan? Cuma sekali!! Setelah itu setan berkata: berikutnya udah nggak perlu di goda, tidak perlu dicobai lagi, dia sudah otomatis akan jalan sendiri!!.
Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan?
Ada banyak alasan mengapa Tuhan mengijinkan penderitan menimpa orang kristen, berikut tiga di antaranya:
· Membentuk karakter. Kesebelasan Indonesia baru saja gagal masuk babak semi final di Asian Games di Thailand. Kegagalan itu bukan sebuah kejutan bagi orang yang mengerti bagaimana melatih dengan benar. Kesebelasan Indonesia dipersiapkan hanya dalam beberapa bulan dan dari persiapan singkat tsb diharapkan sebuah keberhasilan. Dapatkah hal ini terjadi?. Demikian pula dengan karakter. Manusia yang tidak pernah melewati pergumulan apapun, yang tidak pernah menghadapi kemalangan dalam hidupnya, yang tidak pernah kehilangan apapun tidak akan pernah mempunyai sebuah karakter yang kuat.
Penderitaan melalui ujian diperlukan demi kebaikan kita untuk memproses, mentransformasi karakter kita agar semakin mirip dengan karakter Kristus. Max Lucado pernah menulis, "Tuhan mau menerima kita apa adanya, (tak perduli bagimana jahat, rusaknya diri kita) tapi Dia tak pernah mau membiarkan kita tetap seperti apa adanya; Artinya seperti yang dinyatakan pada ayat 29, Allah ingin kita makin bertumbuh menyerupai Yesus." Memang ujian bukanlah sesuatu yang enak untuk dijalani. Kita ingin dalam kehidupan sehari-hari tidak usah ada penderitaan, tidak usah ada ujian. Tetapi ingat saudara, seperti buah anggur yang tidak akan pernah menjadi minuman anggur kecuali digencet, diperas, seperti tanah liat yang akan pernah menjadi keramik yang indah tanpa dibentuk dan dibakar, demikian juga tanpa kesulitan karakter kita tidak akan pernah berkembang menjadi serupa dengan Kristus. Secara jujur kita tidak suka keluar dari comfort zone kita dan kita lebih suka kalau Tuhan berfungsi sebagai jin botol yang selalu memenuhi semua permintaan kita. Kesaksian pengemis. Dengan jujur saya mengaku kadang saya hanya mengejar berkat-Nya saja tanpa perduli pada Pribadi yang memberikan berkat tsb. Kadang kita berlaku seperti anak kecil yang menunggu hadiah yang dibawa ortunya tanpa perduli pada diri pemberinya sendiri. Itulah yang kadang kita lakukan, kita mendekati Tuhan untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya dan kita tidak mendekati-Nya karena Diri-Nya sendiri.
· Kadang-kadang penderitaan diperlukan untuk menegur kita. Penderitaan adalah salah satu sarana yang dipakai Allah ketika kita menulikan hati dan pikiran kita terhadap teguran Allah. Ketika jalan kita melenceng dan kita menutup hati kita terhadap panggilan Tuhan, kadang Tuhan memakai penderitaan untuk memanggil kita pulang. Ketika James Baker ditangkap karena penyelewengan dan penipuan sehingga masuk penjara, maka semua teman-temannya meninggalkan dia bahkan juga istrinya. Ketika Billy Graham ditanya komentarnya akan James Baker, dia hanya mengucapkan sebuah kalimat singkat: memang dia pantas masuk penjara. Selama satu tahun lebih Billy Graham diam tidak berkomentar lebih lanjut. Suatu hari saat James Baker sedang mengepel lantai, seorang sipir memanggilnya dan mengatakan: ada seorang pengunjung. Jawabnya, aku tidak mau ketemu siapa-siapa. ‘apa kamu yakin? orang ini berbeda’ akhirnya dengan malas-malasan sambil membanting pelnya dia keluar ke ruang tamu. Ternyata pengunjungnya adalah Billy Graham; tanpa berkata sepatah katapun Billy Graham mengulurkan tangannya dan memeluk erat James Baker dan mereka berdua menangis bersama. Momen itulah adalah momen pertobatan sejati seorang James Baker, dan dari dalam penjara ia menulis sebuah buku: Saya Menyesal. Saudara, melalui penderitaan, Tuhan menyelamatkan James Baker.
· Melalui penderitaan, nama Tuhan dimuliakan.
Mungkin saudara bertanya, apa hubungan penderitaan dan kemuliaan Tuhan.
Kesaksian penginjil di India. Berhenti sampai kematiannya.
Saudara reaksi si anak sangat wajar dan manusiawi. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hamba-Nya mati mengenaskan sedemikian rupa? Dia adalah orang yang taat yang bahkan meninggalkan kehidupan duniawinya yang nyaman di Amerika untuk menjadi misionaris. Lanjutan cerita.
Mengapa Allah seakan diam, tak perduli pada penderitaanku?
Ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada saudara:
· Matius 25: 40 mengatakan: ‘Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tetap hadir dalam penderitaan yang kita alami. Itulah sebabnya ketika Yesus menampakkan diri pada Saulus, Ia tidak berkata: Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya umat-Ku? Yesus berkata: Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Perkataan yang sama diulangi ketika Saulus bertanya: siapakah Engkau Tuhan? Yesus menjawab: ‘Akulah Yesus yang engkau aniaya’. Saudara, Yesus tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Dalam setiap pergumulan dan jerit tangis kita, Dia ada di situ. Darah yang dicurahkan-Nya di bukit Golgota masih tetap tercurah bagi saudara dan saya. Penderitaan yang ditanggung-Nya di Kayu Salib masih tetap menyertai kita. Seorang teolog yang bernama R.C Sproul berkata: tidak pernah ada manusia yang diminta Allah untuk menderita lebih berat daripada penderitaan yang Ia timpakan kepada anak tunggal-Nya sendiri. Teolog lain, John Piper menulis bahwa penderitaan Yesus tuntas karena Dia melewati setiap pencobaan dan penderitaan, di mana penderitaan itu datang dengan intensitas kekuatan yang semakin dahsyat sampai akhirnya datang dengan kekuatan yang maksimal. Penderitaan Yesus terus bertambah karena Dia tidak pernah menyerah. Jika saja Ia menyerah maka penderitaan dan cobaan itu tidak akan pernah mencapai tingkat yang tertinggi. Inilah perbedaan Yesus dengan kita karena tidak ada seorangpun yang pernah bertahan terhadap siksaan seperti yang diterima-Nya di Kayu Salib dan keluar sebagai pemenang.
· Ketika kita menderita, ketika kita disakiti orang lain, marilah kita mengingat bahwa sebenarnya kita melakukan hal yang sama bahkan lebih berat kepada Yesus, setiap kali kita melakukan dosa. Apa maksudnya? kira-kira satu tahun yang lalu saya pernah difitnah oleh sorang saudara seiman. Dengan kejam tak berperasaan dia memfitnah saya dan keluarga saya. Ketika saya klarifikasi, semua yang dituduhkan terbukti fitnah belaka, tapi dia tidak mau mengaku salah secara gentelman ‘face to face’ melainkan hanya mengirim SMS yang isinya minta maaf kalau perkataannya menyingung saya. Kata-kata ini luar biasa saudara, artinya apa? Artinya jika saya tersinggung karena kata-katanya, ya sorry, tapi dia sendiri tidak merasa bersalah. Wah...wah saudara berhari-hari hati saya mau meledak, saya marah-marah, rasanya ingin balas, belum balas belum puas. Kalo mau balas gampang sekali karena istri saya tahu banyak rahasia-rahasia kemunafikan dia. Sampai beberapa lama kemudian Tuhan tegur saya melalui kotbah seorang pendeta yang mengatakan bahwa jika kita ingin tahu betapa sakitnya hati Yesus, ingatlah sebuah peristiwa yang paling menyakitkan dalam hidupmu, kalikan 100 kali, itulah rasanya hati Yesus yang kita sakiti melalui perbuatan kita yang berdosa. Dari penderitaan itu, Tuhan mengajar saya untuk mengampuni dan menyatakan bahwa saya tidak sendiri dalam penderitaan dan melalui penderitaan itu saya belajar memperdalam pengenalan pribadi akan Allah.
Saya tidak tahu apa penderitaan yang saudara alami saat ini tetapi ingatlah bahwa Yesus hadir dan perduli, Ia ikut merasakan dan menyertai penderitaan anak-anak-Nya. Serahkanlah semua penderitaan saudara dengan penyerahan diri secara total dan biarkan Allah bekerja karena Allah kita adalah Allah yang perduli dan mengerti. Memang jalan Tuhan yang tak terbatas sering kali tidak kita pahami dengan otak kita yang terbatas. Seperti James Baker yang ketika di penjara merasa semua pintu telah tertutup baginya, ternyata Allah membuka sebuah jendela baginya. Saudara, hari natal sudah menjelang, mari kita review kehidupan kita. Jika saat ini kita sedang menghadapi penderitaan dan kesulitan, mari kita renungkan apakah penderitaan kita timbul dari pencobaan iblis atau ujian dari Tuhan. Bila penderitaan itu timbul dari pencobaan sehingga menghasilkan dosa, cepat-cepat bertobat saat ini juga dan Tuhan pasti mengampuni apapun dosamu. Bila kesulitan timbul dari ujian, bertekunlah dalam ujian itu karena ketekunanmu akan menghasilkan buahnya pada waktunya. “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”. (Yakobus 1 : 3-4).
Grace by grace,
Hendra, 101207
Bibliografi:
Yohan Candawasa, Menapaki Hari Bersama Allah & Dukaku Tempat Kudus-Mu
Yakub Susabda, Membawa Damai, Menjunjung Gelar
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, YKBK
Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru
Wahyu Pramudya (ed), Tribute to Dr. Jenny Wongka: Berjalan Bersama Allah
James M. Boice, Sure, I Believe, So What?
(Roma 8:28-29)
Ayat ke 28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Saudara, berdasarkan pernyataan tsb, perkenankanlah saya mengajukan dua buah pernyataan, tolong dijawab di dalam hati saja mana yang menurut saudara benar.
Pertama: ‘Karena Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup saya, maka berarti hidupku pastinya jadi mudah dan lancar’; atau yang kedua: ‘Sekalipun Allah mereka-rekakan yang baik dalam hidup saya, hal itu tidak berarti hidupku menjadi mudah dan lancar’. Mari kita berdoa.
Saudara, sepintas ayat 28 kelihatannya mudah dipahami, Penekanannya adalah ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu dalam hidup kita bagi kebaikan kita’. Ketika berada dalam keadaan yang baik dan lancar, kesehatan baik, anak-anak baik, bisnis lancar, o saudara sangat mudah untuk mengaminkan pernyataan Paulus tsb bukan?. Namun di sisi lain ketika hidup menjadi berat dan menekan, ketika semua rencana-rencana pecah berkeping-keping dan dunia rasa-rasanya terbalik menimpa kepala kita, bukankah dengan mudah pula kita mempertanyakan kebenaran ayat tersebut.
Berapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa orang kristen yang baik dan benar kebal terhadap penderitaan dan malapetaka dan orang yang mati karena penyakit atau kecelakaan, adalah orang yang berdosa besar sehingga dihukum Tuhan. Kira-kira satu bulan sebelum pesawat Adam Air jatuh dan menewaskan semua penumpangnya, yang termasuk di dalamnya ada sekeluarga pendeta, ada sebuah kotbah di radio kristen di Surabaya: saya yakin...orang benar tidak akan terbunuh, tidak akan mati dalam kecelakaan pesawat. Bukankah Matius 7:11 mengatakan ‘Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.’ Nah, bukankah asal kita meminta hal-hal yang baik kepada Allah pasti dikabulkan sesuai janji Allah sendiri?. Mari kita belajar apa sebenarnya yang dimaksud oleh Matius dengan kata “Baik” dalam perikop paralelnya dalam Lukas 11:13: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Jadi ternyata saudara, yang dimaksud dengan ‘baik’ oleh Matius di jelaskan dengan gamblang oleh Lukas sebagai Roh Kudus. Tuhan berjanji memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya, bukan hal lainnya. Untuk hal-hal lainnya Tuhan tidak pernah berjanji untuk selalu mengabulkannya, walau saya percaya Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita sepanjang hal itu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Amin saudara?. Tuhan tidak pernah berjanji langit selalu biru, hidup tanpa kesulitan dan penderitaan bagi orang kristen, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat terlepas dari yang namanya problem, masalah, kesulitan, sakit penyakit dan segala macam penderitaan yang lain. Ada seorang yang pernah berkata: hanya orang gila atau orang mati yang hidup tanpa pernah merasakan penderitaan. Jika demikian keadaannya muncul beberapa pertanyaan sbb: penderitaan orang kristen berasal dari mana? Apa maksud Tuhan dengan penderitaan, dan mengapa Allah kadang-kadang berdiam diri saja, seakan-akan tak perduli dengan penderitaan manusia?
Penderitaan hidup berasal dari mana?
Saudara, ternyata Alkitab banyak mencatat penderitaan yang dialami anak-anak Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan yang baik dan setia. Dengan mudah kita menemukan contoh seperti Yusuf yang dibuang ke dalam sumur, difitnah, masuk penjara, Stefanus yang mati dirajam karena memberitakan Firman Tuhan sampai Petrus yang mati syahid disalibkan secara terbalik. Nah, jika demikian faktanya, kita menjadi heran, sebenarnya penderitaan manusia berasal dari mana? Dalam menyikapi hal ini kita harus mengerti bahwa penderitaan yang kita alami berasal dari dua macam sumber, pertama adalah ujian dan yang kedua adalah pencobaan. Ujian berasal dari Tuhan dan kadang-kadang atau sering kali Dia memberikan berbagai ujian kepada manusia untuk membentuk karakter kita menjadi lebih baik. Pencobaan berasal dari iblis karena Tuhan tidak pernah mencobai manusia sedangkan iblis senantiasa mencobai manusia dengan maksud untuk menjatuhkan manusia. Contoh dalam Alkitab adalah ketika setan mencobai Yesus setelah Dia berpuasa 40 hari. Contoh pencobaan masa kini adalah narkoba dan seks bebas. Saudara, narkoba dan seks bebas adalah dosa yang menimbulkan efek kecanduan di mana setan cuma cukup menggoda kita sekali saja karena setelah itu kita jalan sendiri. Dosa ini seperti patung kucing yang tangan kanannya maju ke depan dan ke belakang. Saudara tahu itu kan? Untuk menggerakkan tangan itu, berapa kali yang dibutuhkan? Cuma sekali!! Setelah itu setan berkata: berikutnya udah nggak perlu di goda, tidak perlu dicobai lagi, dia sudah otomatis akan jalan sendiri!!.
Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan?
Ada banyak alasan mengapa Tuhan mengijinkan penderitan menimpa orang kristen, berikut tiga di antaranya:
· Membentuk karakter. Kesebelasan Indonesia baru saja gagal masuk babak semi final di Asian Games di Thailand. Kegagalan itu bukan sebuah kejutan bagi orang yang mengerti bagaimana melatih dengan benar. Kesebelasan Indonesia dipersiapkan hanya dalam beberapa bulan dan dari persiapan singkat tsb diharapkan sebuah keberhasilan. Dapatkah hal ini terjadi?. Demikian pula dengan karakter. Manusia yang tidak pernah melewati pergumulan apapun, yang tidak pernah menghadapi kemalangan dalam hidupnya, yang tidak pernah kehilangan apapun tidak akan pernah mempunyai sebuah karakter yang kuat.
Penderitaan melalui ujian diperlukan demi kebaikan kita untuk memproses, mentransformasi karakter kita agar semakin mirip dengan karakter Kristus. Max Lucado pernah menulis, "Tuhan mau menerima kita apa adanya, (tak perduli bagimana jahat, rusaknya diri kita) tapi Dia tak pernah mau membiarkan kita tetap seperti apa adanya; Artinya seperti yang dinyatakan pada ayat 29, Allah ingin kita makin bertumbuh menyerupai Yesus." Memang ujian bukanlah sesuatu yang enak untuk dijalani. Kita ingin dalam kehidupan sehari-hari tidak usah ada penderitaan, tidak usah ada ujian. Tetapi ingat saudara, seperti buah anggur yang tidak akan pernah menjadi minuman anggur kecuali digencet, diperas, seperti tanah liat yang akan pernah menjadi keramik yang indah tanpa dibentuk dan dibakar, demikian juga tanpa kesulitan karakter kita tidak akan pernah berkembang menjadi serupa dengan Kristus. Secara jujur kita tidak suka keluar dari comfort zone kita dan kita lebih suka kalau Tuhan berfungsi sebagai jin botol yang selalu memenuhi semua permintaan kita. Kesaksian pengemis. Dengan jujur saya mengaku kadang saya hanya mengejar berkat-Nya saja tanpa perduli pada Pribadi yang memberikan berkat tsb. Kadang kita berlaku seperti anak kecil yang menunggu hadiah yang dibawa ortunya tanpa perduli pada diri pemberinya sendiri. Itulah yang kadang kita lakukan, kita mendekati Tuhan untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya dan kita tidak mendekati-Nya karena Diri-Nya sendiri.
· Kadang-kadang penderitaan diperlukan untuk menegur kita. Penderitaan adalah salah satu sarana yang dipakai Allah ketika kita menulikan hati dan pikiran kita terhadap teguran Allah. Ketika jalan kita melenceng dan kita menutup hati kita terhadap panggilan Tuhan, kadang Tuhan memakai penderitaan untuk memanggil kita pulang. Ketika James Baker ditangkap karena penyelewengan dan penipuan sehingga masuk penjara, maka semua teman-temannya meninggalkan dia bahkan juga istrinya. Ketika Billy Graham ditanya komentarnya akan James Baker, dia hanya mengucapkan sebuah kalimat singkat: memang dia pantas masuk penjara. Selama satu tahun lebih Billy Graham diam tidak berkomentar lebih lanjut. Suatu hari saat James Baker sedang mengepel lantai, seorang sipir memanggilnya dan mengatakan: ada seorang pengunjung. Jawabnya, aku tidak mau ketemu siapa-siapa. ‘apa kamu yakin? orang ini berbeda’ akhirnya dengan malas-malasan sambil membanting pelnya dia keluar ke ruang tamu. Ternyata pengunjungnya adalah Billy Graham; tanpa berkata sepatah katapun Billy Graham mengulurkan tangannya dan memeluk erat James Baker dan mereka berdua menangis bersama. Momen itulah adalah momen pertobatan sejati seorang James Baker, dan dari dalam penjara ia menulis sebuah buku: Saya Menyesal. Saudara, melalui penderitaan, Tuhan menyelamatkan James Baker.
· Melalui penderitaan, nama Tuhan dimuliakan.
Mungkin saudara bertanya, apa hubungan penderitaan dan kemuliaan Tuhan.
Kesaksian penginjil di India. Berhenti sampai kematiannya.
Saudara reaksi si anak sangat wajar dan manusiawi. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hamba-Nya mati mengenaskan sedemikian rupa? Dia adalah orang yang taat yang bahkan meninggalkan kehidupan duniawinya yang nyaman di Amerika untuk menjadi misionaris. Lanjutan cerita.
Mengapa Allah seakan diam, tak perduli pada penderitaanku?
Ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada saudara:
· Matius 25: 40 mengatakan: ‘Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tetap hadir dalam penderitaan yang kita alami. Itulah sebabnya ketika Yesus menampakkan diri pada Saulus, Ia tidak berkata: Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya umat-Ku? Yesus berkata: Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Perkataan yang sama diulangi ketika Saulus bertanya: siapakah Engkau Tuhan? Yesus menjawab: ‘Akulah Yesus yang engkau aniaya’. Saudara, Yesus tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Dalam setiap pergumulan dan jerit tangis kita, Dia ada di situ. Darah yang dicurahkan-Nya di bukit Golgota masih tetap tercurah bagi saudara dan saya. Penderitaan yang ditanggung-Nya di Kayu Salib masih tetap menyertai kita. Seorang teolog yang bernama R.C Sproul berkata: tidak pernah ada manusia yang diminta Allah untuk menderita lebih berat daripada penderitaan yang Ia timpakan kepada anak tunggal-Nya sendiri. Teolog lain, John Piper menulis bahwa penderitaan Yesus tuntas karena Dia melewati setiap pencobaan dan penderitaan, di mana penderitaan itu datang dengan intensitas kekuatan yang semakin dahsyat sampai akhirnya datang dengan kekuatan yang maksimal. Penderitaan Yesus terus bertambah karena Dia tidak pernah menyerah. Jika saja Ia menyerah maka penderitaan dan cobaan itu tidak akan pernah mencapai tingkat yang tertinggi. Inilah perbedaan Yesus dengan kita karena tidak ada seorangpun yang pernah bertahan terhadap siksaan seperti yang diterima-Nya di Kayu Salib dan keluar sebagai pemenang.
· Ketika kita menderita, ketika kita disakiti orang lain, marilah kita mengingat bahwa sebenarnya kita melakukan hal yang sama bahkan lebih berat kepada Yesus, setiap kali kita melakukan dosa. Apa maksudnya? kira-kira satu tahun yang lalu saya pernah difitnah oleh sorang saudara seiman. Dengan kejam tak berperasaan dia memfitnah saya dan keluarga saya. Ketika saya klarifikasi, semua yang dituduhkan terbukti fitnah belaka, tapi dia tidak mau mengaku salah secara gentelman ‘face to face’ melainkan hanya mengirim SMS yang isinya minta maaf kalau perkataannya menyingung saya. Kata-kata ini luar biasa saudara, artinya apa? Artinya jika saya tersinggung karena kata-katanya, ya sorry, tapi dia sendiri tidak merasa bersalah. Wah...wah saudara berhari-hari hati saya mau meledak, saya marah-marah, rasanya ingin balas, belum balas belum puas. Kalo mau balas gampang sekali karena istri saya tahu banyak rahasia-rahasia kemunafikan dia. Sampai beberapa lama kemudian Tuhan tegur saya melalui kotbah seorang pendeta yang mengatakan bahwa jika kita ingin tahu betapa sakitnya hati Yesus, ingatlah sebuah peristiwa yang paling menyakitkan dalam hidupmu, kalikan 100 kali, itulah rasanya hati Yesus yang kita sakiti melalui perbuatan kita yang berdosa. Dari penderitaan itu, Tuhan mengajar saya untuk mengampuni dan menyatakan bahwa saya tidak sendiri dalam penderitaan dan melalui penderitaan itu saya belajar memperdalam pengenalan pribadi akan Allah.
Saya tidak tahu apa penderitaan yang saudara alami saat ini tetapi ingatlah bahwa Yesus hadir dan perduli, Ia ikut merasakan dan menyertai penderitaan anak-anak-Nya. Serahkanlah semua penderitaan saudara dengan penyerahan diri secara total dan biarkan Allah bekerja karena Allah kita adalah Allah yang perduli dan mengerti. Memang jalan Tuhan yang tak terbatas sering kali tidak kita pahami dengan otak kita yang terbatas. Seperti James Baker yang ketika di penjara merasa semua pintu telah tertutup baginya, ternyata Allah membuka sebuah jendela baginya. Saudara, hari natal sudah menjelang, mari kita review kehidupan kita. Jika saat ini kita sedang menghadapi penderitaan dan kesulitan, mari kita renungkan apakah penderitaan kita timbul dari pencobaan iblis atau ujian dari Tuhan. Bila penderitaan itu timbul dari pencobaan sehingga menghasilkan dosa, cepat-cepat bertobat saat ini juga dan Tuhan pasti mengampuni apapun dosamu. Bila kesulitan timbul dari ujian, bertekunlah dalam ujian itu karena ketekunanmu akan menghasilkan buahnya pada waktunya. “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”. (Yakobus 1 : 3-4).
Grace by grace,
Hendra, 101207
Bibliografi:
Yohan Candawasa, Menapaki Hari Bersama Allah & Dukaku Tempat Kudus-Mu
Yakub Susabda, Membawa Damai, Menjunjung Gelar
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, YKBK
Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru
Wahyu Pramudya (ed), Tribute to Dr. Jenny Wongka: Berjalan Bersama Allah
James M. Boice, Sure, I Believe, So What?
Sunday, October 28, 2007
Wenger, Zakat, and House, MD
Judul di atas pastilah terdengar aneh bagi saudara. Sejujurnya, bagi sayapun memang terdengar aneh, karena itu jangan terlalu diambil serius. Nikmati tulisan ringan ini sambil tersenyum, jangan sambil berkerut dahi.
Judul pertama yaitu “Wenger’ adalah Arsene Wenger, seorang berkebangsaan Perancis pelatih kesebelasan sepakbola Arsenal di Inggris sana. Sekitar sepuluh tahun yang lalu Wenger dikontrak Arsenal untuk meng-coach kesebelasan Arsenal yang ‘compang-camping’, lebih sering kalah daripada menang, yang lebih sering memalukan daripada membanggakan. Tantangan yang dihadapi Wenger jelas jauh dari mudah. Salah satu bintang impornya, Dennis Bergkamp pernah mengeluh kepada pers bahwa selama sesi latihan, mulut rekan-rekannya selalu ‘berbau naga’ (miras). Ya, dalam dunia olah raga profesional, bagaimana mungkin memenangkan sebuah trophy dengan pasukan drunken master?, bagaimana mungkin menyaingi Manchester United dengan Sir Alex dan the Theather of Dream-nya, Liverpool dengan Anfield-nya yang sangat angker (bisa buat shooting film Indo tuh) dengan puluhan ribu suporter yang super militan (ingat tragedy Heysel?) yang ‘extra joss’ selama 90 menit penuh meneriakkan dukungan dan menyanyikan lagu legendarisnya yang mendengar judulnya saja saya merinding: You’ll Never Walk Alone!!. Ruuuar biasa bukan? Apapun hasilnya, suporter selalu menyertai mereka dengan penerimaan tanpa syarat. Saya jadi berpikir mungkin composer lagu ini menyadur dari Amanat Agung kita? Who knows?
Dalam keadaan kejepit atau dengan sengaja menjepitkan diri, apa yang dilakukan Wenger? Alih-alih mengikuti tradisi, melatih sesuai text book, Wenger malah nekat ‘menulis’ text book-nya sendiri. Kenapa saya katakan nekat? Karena sebenarnya Wenger sendiri saat itu bukanlah pelatih yan top-top amat, CV-nya hanya melatih beberapa klub di Perancis dan team nasional Jepang yang prestasinya pas-pasan. Dengan perlahan tapi pasti Wenger mendobrak dan mengubah beberapa hal (sistem dan metode) yang fundamental dalam sepak bola Inggris secara khusus dan dunia secara umum al:
Sistem dan metode kepelatihan.
Wenger membawa beberapa orang-orangnya yang masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam team pelatih. Tiap-tiap pemain mempunyai program diet yang ketat, latihan berjalan secara sistematis dengan durasi yang pendek. Semua hal di atas adalah umum dilakukan hari ini, tetapi Wenger-lah sang pelopor.
Mengubah kultur sepakbola Inggris.
Wenger meninggalkan sistem Kick and Rush yang kuno menjadi permainan kolektif yang sarat dengan kreatifitas, kekuatan dan kecepatan. Citra Arsenal yang berantakan dengan permainan kasar ditransformasikan dengan permainan yang indah ditonton dan mematikan bagi lawan.
Berani untuk bertindak, membayar harga demi visinya.
Tentunya penjualan sang kapten nan-karismatis, Patrick Viera dan sang ‘magician’ Thiery Henry yang sampai membuatnya di cap ‘gila’ oleh para pengamat ahli sebenarnya menunjukkan kejeniusan visinya. Alih-alih bertopang pada pakem tradisi, dia berani melangkah keluar dari ‘rumah kura-kuranya’ dan mengambil resiko dengan mengandalkan sekumpulan young guns seperti Fabregas, Adebayor, Van Persie dll yang membuat mata dunia terbelalak dengan bibir mencibir dan ramalan akan doomsday-pun datang kepadanya. Sampai detik ini ternyata hasil yang di dapat Arsenal sangat di luar dugaan siapapun. Situs detik bahkan menulis dengan judul Arsenal berada dalam sorga langit ke tujuh.
Pemerhati sepakbola liga Inggris tentunya mahrum dengan kelihaian sang profesor, julukan bagi Wenger yang telah merubah Arsenal dari klub kelas dua di Inggris menjadi klub top dunia dalam waktu 10 tahun saja, dari klub mediocre di Inggris menjadi klub dengan keuntungan tertinggi di Inggris dan salah satu klub terkaya di dunia, dengan prestasi demi prestasi, trophy demi trophy, ....... Jasa Wenger bagi Arsenal dan dunia sepakbola mungkin dapat diilustrasikan sebagai jasa para reformator bagi kita.
Judul kedua sih umum sekali terutama di bulan Ramadan ini.
Pagi hari ini setelah mengantar anak ke sekolah, kami melihat banyak fakir miskin yang berkumpul di sebuah rumah menunggu jatah zakat. Yang menarik dari peristiwa ini adalah di tengah-tengah peminta zakat yang umumnya wanita dan anak-anak ada beberapa pedagang yang sangat luar biasa nalurinya!!. Ya, ada berbagai penjual seperti penjual es krim, bakso dan entah apa lagi. Mungkin pikiran mereka: para fakir miskin setelah mendapat uang zakat tentunya merupakan pasar potensial bagi dagangan mereka. Dan memang, siang hari sewaktu menjemput anak di sekolah, kami melihat sampah berserakan di halaman rumah yang memberikan zakat.
Para pedagang kecil itu secara tidak sadar telah melakukan suatu proses manajemen yang baik karena mereka mampu melihat peluang dan mengejarnya. Metode tunggu bola sontak berubah menjadi jemput bola, mereka mampu membaca perubahan jaman dan mereformasi ‘cara kerjanya’.
Judul yang ketiga tentunya asing tetapi bagi penggemar AXN tentunya paham bahwa dr. House adalah sebuah tokoh cerita serial TV. Dr. House adalah seorang dokter yang sangat pandai dan berani ‘mengekspolasi’ berbagai inovasi yang sering bertentangan dengan koleganya, berani mengambil resiko dalam metode pengobatannya yang jauh dari konvensional. Karakter dr. Gregory House sendiri digambarkan sebagai seorang yang egois, sinis, agak licik, pokoknya bukan karakter yang perlu dicontoh.
Dalam episode yang diputar kemarin malam, kami (saya dan istri) menonton bersama dan kebetulan sama-sama terkesan dengan sebuah kalimat. Ceritanya dr. House mepunyai pasien seorang anak kecil yang autis. Setiap kali mau diobati si anak selalu menjerit-jerit sehingga para asisten dr. House mengalami kesulitan. Dalam satu adegan digambarkan seorang asisten dokter akan membius si anak dengan cara memasang selang di mulutnya, si anak menolak dengan keras sampai menjerit-jerit. Semua bingung dan dr. House sebagai pemimpin maju mengambil alih dengan melakukan sebuah perbuatan yang sangat menarik: mula-mula dia memasang selang bius itu di mulutnya sendiri dan setelah itu memasangnya di mulut si anak. Setelah mengulanginya dua kali, ajaib!! Si anak berhenti menjerit dan mau memakai selang itu secara suka rela!!. Asistennya yang kagum bertanya mengapa begitu? Dr. House menjawab seenaknya: monyet makan stroberry. What??? Ya, seekor monyet tidak mau memakan stroberry sampai dia melihat monyet lainnya makan strobery itu!!.
Ok lah, cukup ngelanturnya, terus apa maksudnya menulis si Wenger, Zakat dan dr. House? Ya, Firman Tuhan berkata bahwa apa yang ada dalam hati manusia akan meluap keluar. Tak jarang kita mendapati para pemuka agama yang melakukan apa yang tidak dikotbahkannya dan tidak melakukan apa yang dikotbahkan dirinya sendiri. Bukannya sok suci karena memang saya jauh dari suci dan nama saya juga bukan suci. Pak Sucianto yang hamba Tuhan aja bukan orang suci kok apalagi saya!!. Setiap kisah di atas cukup mengesankan saya dan lagi-lagi saya memikirkannya dalam konteks pelayanan gerejawi.
Ada beberapa hal yang saya pikirkan:
Di balik kesuksesan Wenger, sebenarnya semua prinsip-prinsip yang benar (yang baik belum tentu benar, yang benar pasti baik walau harga yang harus dibayar mahal-bukan dari segi materi lho) sudah ada dalam Alkitab kita. Sayang masih ada gereja yang walau dari luar nampak seperti melayani Tuhan tetapi sebenarnya melayani dirinya sendiri, ada yang disetir oleh majelis, ada juga yang gembalanya menyetir majelis. Hierarki kepemimpinan yang dilakukan adalah semu karena ulah seorang manusia yang mengatur gereja seperti milik pribadinya. Ciri gereja seperti ini biasanya adalah: jumlah jemaat yang stagnan bahkan berkurang, SDM yang bermutu rendah, pelayanan yang dilakukan berjalan secara mekanis, tidak ada kegairahan dalam pelayanan dll. Menarik yang ditulis oleh Rick Warren dalam Purpose Driven Church: dalam ibadah minggu gereja Saddleback, lebih dari separonya adalah pengunjung yang berarti mereka ada di sana karena diundang oleh temannya yang merupakan jemaat. Di gereja kita jangan-jangan jumlah jemaat yang tercatat lebih dari 400 orang tapi hanya 100-an yang menghadiri ibadah?.
Berlindung dibalik seperangkat aturan dan tradisi. Mari kita intropeksi, apakah pelayanan kita benar sesuai dengan pinsip-prinsip Alkitab atau hanya melestarikan tradisi?. Gereja yang bertumpu pada tradisi akan mengalami status quo, tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas dan tidak rela membayar harga. Bila kondisi ini berkelanjutan, tidak heran bila Tuhan memakai gereja lain untuk menjangkau umatNya.
Dunia telah lama dan semakin cepat dan jelas menantang nilai-nilai kristiani. Mau tidak mau, siap tidak siap saat ini kita telah berada dalam era post Christian mind di mana generasi muda banyak yang tidak mengenal Injil, sebuah hal yang berbeda dengan generasi sebelumnya. George Barna menunjukkan dalam risetnya bahwa seorang hamba Tuhan bukan lagi merupakan figur yang dihormati dan dipercayai. Dalam dunia yang berubah kadang kita masih melakukan strategi, metode, gaya dan cara seperti yang diperkenalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tak heran bila kita ketinggalan kereta. Kita lupa bahwa cara dan metode yang kita pakai sekarang memang merupakan cara dan metode yang cocok dengan konteks jaman dulu. Hal yang perlu direnungkan: apakah masih relevan dengan dunia yang sudah berubah sekarang ini?
Bila mereka yang bekerja untuk kesementaraan dapat melakukan berbagai inovasi, bagaimana dengan kita yang bekerja di ladang Tuhan, yang mendapat kehormatan bekerja dalam kekekalan?. Saya sungguh merasa ngeri ketika seseorang berkata kepada saya bahwa kekristenan sudah berada dalam titik nadir dan rasanya sebuah reformasi baru akan segera dilakukan Tuhan. Hal ini selaras dengan apa yang dicetuskan oleh Larry Crabb dalam bukunya ‘Shattered Dreams’. Quo Vadis Gereja?
Hendra, 271007
Judul pertama yaitu “Wenger’ adalah Arsene Wenger, seorang berkebangsaan Perancis pelatih kesebelasan sepakbola Arsenal di Inggris sana. Sekitar sepuluh tahun yang lalu Wenger dikontrak Arsenal untuk meng-coach kesebelasan Arsenal yang ‘compang-camping’, lebih sering kalah daripada menang, yang lebih sering memalukan daripada membanggakan. Tantangan yang dihadapi Wenger jelas jauh dari mudah. Salah satu bintang impornya, Dennis Bergkamp pernah mengeluh kepada pers bahwa selama sesi latihan, mulut rekan-rekannya selalu ‘berbau naga’ (miras). Ya, dalam dunia olah raga profesional, bagaimana mungkin memenangkan sebuah trophy dengan pasukan drunken master?, bagaimana mungkin menyaingi Manchester United dengan Sir Alex dan the Theather of Dream-nya, Liverpool dengan Anfield-nya yang sangat angker (bisa buat shooting film Indo tuh) dengan puluhan ribu suporter yang super militan (ingat tragedy Heysel?) yang ‘extra joss’ selama 90 menit penuh meneriakkan dukungan dan menyanyikan lagu legendarisnya yang mendengar judulnya saja saya merinding: You’ll Never Walk Alone!!. Ruuuar biasa bukan? Apapun hasilnya, suporter selalu menyertai mereka dengan penerimaan tanpa syarat. Saya jadi berpikir mungkin composer lagu ini menyadur dari Amanat Agung kita? Who knows?
Dalam keadaan kejepit atau dengan sengaja menjepitkan diri, apa yang dilakukan Wenger? Alih-alih mengikuti tradisi, melatih sesuai text book, Wenger malah nekat ‘menulis’ text book-nya sendiri. Kenapa saya katakan nekat? Karena sebenarnya Wenger sendiri saat itu bukanlah pelatih yan top-top amat, CV-nya hanya melatih beberapa klub di Perancis dan team nasional Jepang yang prestasinya pas-pasan. Dengan perlahan tapi pasti Wenger mendobrak dan mengubah beberapa hal (sistem dan metode) yang fundamental dalam sepak bola Inggris secara khusus dan dunia secara umum al:
Sistem dan metode kepelatihan.
Wenger membawa beberapa orang-orangnya yang masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam team pelatih. Tiap-tiap pemain mempunyai program diet yang ketat, latihan berjalan secara sistematis dengan durasi yang pendek. Semua hal di atas adalah umum dilakukan hari ini, tetapi Wenger-lah sang pelopor.
Mengubah kultur sepakbola Inggris.
Wenger meninggalkan sistem Kick and Rush yang kuno menjadi permainan kolektif yang sarat dengan kreatifitas, kekuatan dan kecepatan. Citra Arsenal yang berantakan dengan permainan kasar ditransformasikan dengan permainan yang indah ditonton dan mematikan bagi lawan.
Berani untuk bertindak, membayar harga demi visinya.
Tentunya penjualan sang kapten nan-karismatis, Patrick Viera dan sang ‘magician’ Thiery Henry yang sampai membuatnya di cap ‘gila’ oleh para pengamat ahli sebenarnya menunjukkan kejeniusan visinya. Alih-alih bertopang pada pakem tradisi, dia berani melangkah keluar dari ‘rumah kura-kuranya’ dan mengambil resiko dengan mengandalkan sekumpulan young guns seperti Fabregas, Adebayor, Van Persie dll yang membuat mata dunia terbelalak dengan bibir mencibir dan ramalan akan doomsday-pun datang kepadanya. Sampai detik ini ternyata hasil yang di dapat Arsenal sangat di luar dugaan siapapun. Situs detik bahkan menulis dengan judul Arsenal berada dalam sorga langit ke tujuh.
Pemerhati sepakbola liga Inggris tentunya mahrum dengan kelihaian sang profesor, julukan bagi Wenger yang telah merubah Arsenal dari klub kelas dua di Inggris menjadi klub top dunia dalam waktu 10 tahun saja, dari klub mediocre di Inggris menjadi klub dengan keuntungan tertinggi di Inggris dan salah satu klub terkaya di dunia, dengan prestasi demi prestasi, trophy demi trophy, ....... Jasa Wenger bagi Arsenal dan dunia sepakbola mungkin dapat diilustrasikan sebagai jasa para reformator bagi kita.
Judul kedua sih umum sekali terutama di bulan Ramadan ini.
Pagi hari ini setelah mengantar anak ke sekolah, kami melihat banyak fakir miskin yang berkumpul di sebuah rumah menunggu jatah zakat. Yang menarik dari peristiwa ini adalah di tengah-tengah peminta zakat yang umumnya wanita dan anak-anak ada beberapa pedagang yang sangat luar biasa nalurinya!!. Ya, ada berbagai penjual seperti penjual es krim, bakso dan entah apa lagi. Mungkin pikiran mereka: para fakir miskin setelah mendapat uang zakat tentunya merupakan pasar potensial bagi dagangan mereka. Dan memang, siang hari sewaktu menjemput anak di sekolah, kami melihat sampah berserakan di halaman rumah yang memberikan zakat.
Para pedagang kecil itu secara tidak sadar telah melakukan suatu proses manajemen yang baik karena mereka mampu melihat peluang dan mengejarnya. Metode tunggu bola sontak berubah menjadi jemput bola, mereka mampu membaca perubahan jaman dan mereformasi ‘cara kerjanya’.
Judul yang ketiga tentunya asing tetapi bagi penggemar AXN tentunya paham bahwa dr. House adalah sebuah tokoh cerita serial TV. Dr. House adalah seorang dokter yang sangat pandai dan berani ‘mengekspolasi’ berbagai inovasi yang sering bertentangan dengan koleganya, berani mengambil resiko dalam metode pengobatannya yang jauh dari konvensional. Karakter dr. Gregory House sendiri digambarkan sebagai seorang yang egois, sinis, agak licik, pokoknya bukan karakter yang perlu dicontoh.
Dalam episode yang diputar kemarin malam, kami (saya dan istri) menonton bersama dan kebetulan sama-sama terkesan dengan sebuah kalimat. Ceritanya dr. House mepunyai pasien seorang anak kecil yang autis. Setiap kali mau diobati si anak selalu menjerit-jerit sehingga para asisten dr. House mengalami kesulitan. Dalam satu adegan digambarkan seorang asisten dokter akan membius si anak dengan cara memasang selang di mulutnya, si anak menolak dengan keras sampai menjerit-jerit. Semua bingung dan dr. House sebagai pemimpin maju mengambil alih dengan melakukan sebuah perbuatan yang sangat menarik: mula-mula dia memasang selang bius itu di mulutnya sendiri dan setelah itu memasangnya di mulut si anak. Setelah mengulanginya dua kali, ajaib!! Si anak berhenti menjerit dan mau memakai selang itu secara suka rela!!. Asistennya yang kagum bertanya mengapa begitu? Dr. House menjawab seenaknya: monyet makan stroberry. What??? Ya, seekor monyet tidak mau memakan stroberry sampai dia melihat monyet lainnya makan strobery itu!!.
Ok lah, cukup ngelanturnya, terus apa maksudnya menulis si Wenger, Zakat dan dr. House? Ya, Firman Tuhan berkata bahwa apa yang ada dalam hati manusia akan meluap keluar. Tak jarang kita mendapati para pemuka agama yang melakukan apa yang tidak dikotbahkannya dan tidak melakukan apa yang dikotbahkan dirinya sendiri. Bukannya sok suci karena memang saya jauh dari suci dan nama saya juga bukan suci. Pak Sucianto yang hamba Tuhan aja bukan orang suci kok apalagi saya!!. Setiap kisah di atas cukup mengesankan saya dan lagi-lagi saya memikirkannya dalam konteks pelayanan gerejawi.
Ada beberapa hal yang saya pikirkan:
Di balik kesuksesan Wenger, sebenarnya semua prinsip-prinsip yang benar (yang baik belum tentu benar, yang benar pasti baik walau harga yang harus dibayar mahal-bukan dari segi materi lho) sudah ada dalam Alkitab kita. Sayang masih ada gereja yang walau dari luar nampak seperti melayani Tuhan tetapi sebenarnya melayani dirinya sendiri, ada yang disetir oleh majelis, ada juga yang gembalanya menyetir majelis. Hierarki kepemimpinan yang dilakukan adalah semu karena ulah seorang manusia yang mengatur gereja seperti milik pribadinya. Ciri gereja seperti ini biasanya adalah: jumlah jemaat yang stagnan bahkan berkurang, SDM yang bermutu rendah, pelayanan yang dilakukan berjalan secara mekanis, tidak ada kegairahan dalam pelayanan dll. Menarik yang ditulis oleh Rick Warren dalam Purpose Driven Church: dalam ibadah minggu gereja Saddleback, lebih dari separonya adalah pengunjung yang berarti mereka ada di sana karena diundang oleh temannya yang merupakan jemaat. Di gereja kita jangan-jangan jumlah jemaat yang tercatat lebih dari 400 orang tapi hanya 100-an yang menghadiri ibadah?.
Berlindung dibalik seperangkat aturan dan tradisi. Mari kita intropeksi, apakah pelayanan kita benar sesuai dengan pinsip-prinsip Alkitab atau hanya melestarikan tradisi?. Gereja yang bertumpu pada tradisi akan mengalami status quo, tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas dan tidak rela membayar harga. Bila kondisi ini berkelanjutan, tidak heran bila Tuhan memakai gereja lain untuk menjangkau umatNya.
Dunia telah lama dan semakin cepat dan jelas menantang nilai-nilai kristiani. Mau tidak mau, siap tidak siap saat ini kita telah berada dalam era post Christian mind di mana generasi muda banyak yang tidak mengenal Injil, sebuah hal yang berbeda dengan generasi sebelumnya. George Barna menunjukkan dalam risetnya bahwa seorang hamba Tuhan bukan lagi merupakan figur yang dihormati dan dipercayai. Dalam dunia yang berubah kadang kita masih melakukan strategi, metode, gaya dan cara seperti yang diperkenalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tak heran bila kita ketinggalan kereta. Kita lupa bahwa cara dan metode yang kita pakai sekarang memang merupakan cara dan metode yang cocok dengan konteks jaman dulu. Hal yang perlu direnungkan: apakah masih relevan dengan dunia yang sudah berubah sekarang ini?
Bila mereka yang bekerja untuk kesementaraan dapat melakukan berbagai inovasi, bagaimana dengan kita yang bekerja di ladang Tuhan, yang mendapat kehormatan bekerja dalam kekekalan?. Saya sungguh merasa ngeri ketika seseorang berkata kepada saya bahwa kekristenan sudah berada dalam titik nadir dan rasanya sebuah reformasi baru akan segera dilakukan Tuhan. Hal ini selaras dengan apa yang dicetuskan oleh Larry Crabb dalam bukunya ‘Shattered Dreams’. Quo Vadis Gereja?
Hendra, 271007
Sunday, September 23, 2007
Pelajaran dari seorang pengemis
Siang hari tadi kami sekeluarga bermaksud makan pagi sekaligus makan siang di sebuah rumah makan sepulang dari menjemput putri kami di sekolah. Ketika menunggu pesanan datang, seorang pengemis yang kurus dan kotor mendekati kami untuk meminta uang. Istri saya menyodorkan uang Rp. 500 kepadanya dan dengan semerta-merta ditolaknya dan dia meminta lebih banyak!!. Saat itu juga kami menjadi kesal dan berkata: ‘dikasi uang kok ndak mau’. Kemudian kami memutuskan untuk tidak memberinya uang lagi dan pengemis itu datang kepada orang lain, yang tidak memperdulikannya sama sekali. Setelah merengek beberapa lama tanpa mendapat hasil, pengemis itu kembali kepada kami dan mengulangi permintaannya selama beberapa lama. Akhirnya dengan sedikit rasa belas kasihan dan didominasi perasaan yang terganggu, saya memberinya uang Rp. 1.000. Apa yang kemudian terjadi? Ya, pengemis itu segera menyambar uang seribu itu dan ngeloyor pergi tanpa mengucapkan satu patah kata apapun juga. Dengan hati yang mengkal, saya menyindirnya dengan mengatakan ‘terima kasih ya’. Di luar dugaan, pengemis itu menjawab sambil terus berjalan, tanpa menoleh: ‘ya’. Mendengar jawaban itu saya merasa jengkel tetapi dengan cepat kejengkelan itu berubah menjadi rasa geli ketika istri saya berkata ‘isih kalah edane’ (masih kalah gilanya).
Dari peristiwa di atas, kami mendapat beberapa pelajaran sbb:
Ternyata ‘world view’ kami berbeda dengan ‘world view’ sang pengemis. Pada mulanya kami beranggapan uang Rp. 500 sudah cukup memuaskannya, ternyata bagi dia jumlah itu tidak mencukupinya. Hal ini menyadarkan kami ternyata dalam hidup sehari-hari secara sadar maupun tidak kita tidak terlepas dari mempergunakan ilmu psikologi dalam bertindak.
Kami berpikir bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh sang pengemis secara tidak sadar kami lakukan juga dalam hubungan kami dengan Tuhan. Bukankah setiap hari Tuhan sudah memberikan berkat yang cukup bahkan berlebih kepada kami, tetapi sering kami merasa belum cukup sehingga doa kami setiap hari didominasi dengan permintaan-permintaan untuk memuaskan ego narcis kami?.
Mungkin setelah membaca tulisan di atas, ada di antara pembaca yang berkata: ‘setelah menyadari kesalahan kami, pasti Tuhan akan memberkati kami berlimpah’. Nah, pada kenyataannya, setelah peristiwa di atas, selama sehari penuh toko kami sepi sekali, memang orang keluar dan masuk tetapi tidak ada seorangpun yang beli; sungguh suatu hal yang sangat sangat jarang terjadi. Sore hari kami keluar naik mobil sambil memperbincangkan hal ini. Kami sungguh bersyukur karena sadar Tuhan memberikan peringatan kepada kami melalui peristiwa dengan pengemis tsb. Menjelang malam saya turun ke toko untuk menutup toko dan mendapati sebuah penjualan terjadi. Secara nilai memang bukan pejualan yang besar, hanya kira-kira sepertiga dari penjualan normal tetapi nilai pelajaran yang kami dapat jauh lebih tinggi dari nilai materinya. Sebuah nas terngiang dalam kepala saya ‘masakan kamu hanya mau menerima yang baik dari Tuhan tanpa mau menerima yang buruk?’, juga teringat sebuah kotbah dari pak Yohan dari Mat 15:21-28 yang mengatakan bahwa Tuhan lebih tertarik untuk membentuk kepribadian kita terlebih dahulu dari pada cepat-cepat menyelesaikan masalah kita dan akhirnya saya juga teringat bahan PA pak Robby Chandra tentang ‘dog and cat theology’ yang mengupas perbedaan karakter orang kristen yang diilustrasikan dari perbedaan sifat-sifat seekor anjing dan seekor kucing. Terima kasih Tuhan karena Kau masih mau memprosesku hari lepas hari. Soli Deo Gloria.....
Hendra, 150907 jameswidodo-heart.blogspot.com
Dari peristiwa di atas, kami mendapat beberapa pelajaran sbb:
Ternyata ‘world view’ kami berbeda dengan ‘world view’ sang pengemis. Pada mulanya kami beranggapan uang Rp. 500 sudah cukup memuaskannya, ternyata bagi dia jumlah itu tidak mencukupinya. Hal ini menyadarkan kami ternyata dalam hidup sehari-hari secara sadar maupun tidak kita tidak terlepas dari mempergunakan ilmu psikologi dalam bertindak.
Kami berpikir bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh sang pengemis secara tidak sadar kami lakukan juga dalam hubungan kami dengan Tuhan. Bukankah setiap hari Tuhan sudah memberikan berkat yang cukup bahkan berlebih kepada kami, tetapi sering kami merasa belum cukup sehingga doa kami setiap hari didominasi dengan permintaan-permintaan untuk memuaskan ego narcis kami?.
Mungkin setelah membaca tulisan di atas, ada di antara pembaca yang berkata: ‘setelah menyadari kesalahan kami, pasti Tuhan akan memberkati kami berlimpah’. Nah, pada kenyataannya, setelah peristiwa di atas, selama sehari penuh toko kami sepi sekali, memang orang keluar dan masuk tetapi tidak ada seorangpun yang beli; sungguh suatu hal yang sangat sangat jarang terjadi. Sore hari kami keluar naik mobil sambil memperbincangkan hal ini. Kami sungguh bersyukur karena sadar Tuhan memberikan peringatan kepada kami melalui peristiwa dengan pengemis tsb. Menjelang malam saya turun ke toko untuk menutup toko dan mendapati sebuah penjualan terjadi. Secara nilai memang bukan pejualan yang besar, hanya kira-kira sepertiga dari penjualan normal tetapi nilai pelajaran yang kami dapat jauh lebih tinggi dari nilai materinya. Sebuah nas terngiang dalam kepala saya ‘masakan kamu hanya mau menerima yang baik dari Tuhan tanpa mau menerima yang buruk?’, juga teringat sebuah kotbah dari pak Yohan dari Mat 15:21-28 yang mengatakan bahwa Tuhan lebih tertarik untuk membentuk kepribadian kita terlebih dahulu dari pada cepat-cepat menyelesaikan masalah kita dan akhirnya saya juga teringat bahan PA pak Robby Chandra tentang ‘dog and cat theology’ yang mengupas perbedaan karakter orang kristen yang diilustrasikan dari perbedaan sifat-sifat seekor anjing dan seekor kucing. Terima kasih Tuhan karena Kau masih mau memprosesku hari lepas hari. Soli Deo Gloria.....
Hendra, 150907 jameswidodo-heart.blogspot.com
Monday, August 20, 2007
Pelayanan konseling
Konseling Dalam Pelayanan Gereja Masa Kini
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20)
Injil Matius yang dimulai dengan catatan silsilah Yesus Kristus, ditutup dengan kalimat perintah yang agung seperti tertulis di atas. Secara umum, gereja yang berpegang pada doktrin Reformed mengimplementasikan AA (Amanat Agung) sebagai mandat penginjilan dan mandat budaya.
Amanat Agung memerintahkan kepada kita semua untuk memuridkan-mandat penginjilan (menjadikan semua suku bangsa murid Kristus). Kata kerja lain (pergi, baptis dan mengajar) menjelaskan bagaimana memuridkan itu dilaksanakan. Dengan demikian pemuridan mempunyai arti membawa seluruh pribadi dengan seluruh aspek hidupnya temasuk aktifitas sosial, seni dan intelektual kepada kehendak Allah-mandat budaya (Holmes, hal. 46-47).
Jadi Kristus menghendaki semua anak Tuhan untuk memahami dan melaksanakan mandat penginjilan dan mandat budaya AA berdasarkan kuasaNya.
Di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, terutama dalam zaman post-modern sekarang ini, gereja dituntut untuk memancarkan sinar kemuliaan Kristus dengan melaksanakan tugas mandat penginjilan dan mandat budaya secara proporsional secara bersama-sama. Sudah bukan waktunya lagi sebuah gereja hanya berkonsentrasi melaksanakan hanya salah satu mandat dalam AA.
Bagaimana melakukan mandat penginjilan rasanya sudah umum dilakukan oleh berbagai gereja; bagaimana melakukan mandat budaya juga sudah mulai banyak digali terutama oleh gereja Reformed dan Injili. Walaupun demikian, ada sebuah hal yang rasanya luput dari perhatian kita yaitu kalimat terakhir Matius 28:20 ‘Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’. Sebuah kalimat yang sangat indah dan menguatkan hati dan rasio karena Kristus sendirilah yang memberikan jaminan penyertaan seumur hidup kepada anak-anakNya. Pdt. Julianto Simanjuntak dengan lugas menterjemahkan kalimat di atas sebagai ‘sebuah ladang pelayanan konseling dalam AA’. Mengapa? Karena jaminan seumur hidup bagi kita telah diberikan sejak detik kita menerima anugerah keselamatan, hanya masalahnya Kristus sendiri sudah meninggalkan dunia fana dan bertahta di sorga. Jadi sudah menjadi tugas kita dengan kekuatan dari Roh Kudus untuk melaksanakan ‘mandat konseling’ bagi saudara-saudara kita. Tugas seorang konselor adalah seperti sebuah bengkel yang memperbaiki motor/mobil yang bermasalah kapanpun juga karena jaminan yang diberikan oleh Kristus kepada umatNya adalah jaminan seumur hidup. Jaminan ini adalah jaminan yang kekal bukan sekedar jaminan manusia atau institusi yang tidak bernilai kekal.
Berdasarkan tulisan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pelayanan konseling adalah bagian integral dari mandat budaya yang bahkan mendapatkan penekanan khusus dalam pelaksanaannya pada masa-masa ini.
Konseling
“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” (Ams 20:5)
Bahasa asli ‘rancangan’ adalah tebuna, yang artinya sesuatu yang sangat rahasia, yang terkadang ada dalam alam tak sadar.
Orang tidak menyadarinya, namun melalui percakapan konseling hal itu dapat muncul di alam sadar (Pdt. Yakub Susabda)
Penulis percaya Allah menyingkapkan maksudNya pada waktuNya dan percaya bahwa waktu-waktu sekarang adalah masa-masa yang penuh kesempatan bagi perkembangan pelayanan konseling karena sepanjang sejarah belum pernah manusia mengalami hidup yang sedemikian rusak dan menyedihkan seperti hari ini.
Pentingnya pelayanan konseling dicetuskan oleh seorang pendeta yang bernama Anton Boisen. Kisah hidup Boisen yang selama belasan tahun mengidap skizofrenia menjadi pencetus kesadaran gereja akan pentingnya pelayanan konseling. Setelah sembuh, Boisen mengkritisi gereja dengan mengatakan: Jika orang kristen patah kaki, semua rumah sakit dapat mengobatinya, bahkan dengan biaya gereja. Lain halnya bila orang kristen mengalami ‘patah/sakit hati’, maka dia akan dikirim ke rumah sakit jiwa dan dilupakan untuk selamanya.
Dalam realita kehidupan, bukankah seperti yang pernah dikatakan John Calvin bahwa gereja adalah sekumpulan orang lemah, yang dipimpin oleh orang yang lemah pula. Bukankah perkataan ini mencerminkan kebenaran doktrin yang paling fundamental dari kekristenan?. Di hadapan Allah, kita semua adalah manusia berdosa yang hanya karena anugerah-Nya mendapatkan keselamatan dan setelah natur dosa kita dipulihkan, kita masih dapat (dan pasti) berbuat dosa sehingga proses penyucian harus kita jalani bersama Roh Kudus seumur hidup kita. Bukankah bertolak dari kebenaran doktrin ini kita dapat melihat signifikansi pelayanan konseling?. Begitu banyak orang kristen yang bergumul dengan dosa dan problem kehidupan di tengah gencetan dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Bagi orang-orang kristen yang kita sebut sebagai saudara seiman, yang mengalami badai kehidupan, siapkah kita ber-empati dan menyingsingkan lengan baju?
Agar mendapatkan pandangan yang lebih jelas, pertama kita harus memahami perbedaan antara psikologi, psikiatri dan konseling. Menurut Pdt. Dr. Dwijo Saputro, psikologi adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang menyangkut perilaku dan otak. Ilmu psikologi yang berhubungan dengan konseling adalah yang berhubungan dengan kesehatan mental, di mana dipelajari dasar-dasar bagaimana seseorang berperilaku, berpikir, memiliki emosi, mampu berelasi, berkembang dan memecahkan masalah yang ia hadapi sehari-hari.
Ilmu psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pengobatan, penyembuhan, gangguan masalah, penyakit yang berkaitan dengan perilaku yang berkaitan dengan otak.
Hal ini perlu dipahami karena banyak orang mencampur-adukkan istilah-istilah di atas sehingga menimbulkan kerancuan. Jadi memang ilmu konseling tidak dapat terlepas dari ilmu psikologi. Dalam melakukan pelayanan konseling di gereja, seorang konselor haruslah mengintegrasikan semua ilmu psikologi dan konselingnya dengan teologi. Hal ini bukan berarti menjadi teologi plus karena teologi dengan Alkitab sebagai kebenaran yang sejatilah yang menjadi filter dari ilmu psikologi.
Ada banyak sekali kisah-kisah nyata yang sangat memalukan dan memilukan yang dialami dan dilakukan oleh orang kristen, bahkan para hamba Tuhan. Selain pengalaman pribadi ber-relasi dengan hamba Tuhan, melalui milis konseling, penulis mendapat informasi bahwa banyak sekali hamba Tuhan yang hidupnya rusak, yang bergelut dengan dosa-dosa, ingin lepas tapi gagal terus dll. Sering kita lupa bahwa para pemimpin, hamba Tuhan juga adalah manusia berdosa seperti diri kita di mana merekapun hidup dalam dunia yang up-side-down, sehingga setiap manusia pasti mempunyai luka-luka jiwa yang harus disembuhkan terlebih dahulu sehingga mereka dapat melayani jemaat dengan jauh lebih baik.
Siapakah yang membutuhkan konselor?
Terus terang, selama beberapa bulan terakhir ini penulis bergumul dengan beberapa pertanyaan: Sejauh mana kehendak bebas orang percaya dikaitkan dengan pandangan doktrin Calvinis, mengapa antar orang percaya, yang mempunyai Roh yang sama pada prakteknya sering terjadi pertengkaran?, apakah segala sesuatu yang kita lakukan baik dan buruk sudah ditentukan oleh Allah berdasar Rom 8:28?. Puji Tuhan setelah beberapa kali ‘konseling’ dengan beberapa teman yang hamba Tuhan dan aktivis, penulis akhirnya mendapatkan pencerahan. Contoh ini adalah sebuah masalah yang berakhir happy ending. Pertanyaan berikutnya: bila seorang jemaat menghadapi masalah kehidupan praktis yang lebih berat, ke mana mereka akan bertanya? Beranikah mereka bertanya ke hamba Tuhan, apakah hamba Tuhannya siap, mau dan mampu memberikan pembimbingan atau hanya memberikan ayat dan mendoakannya tanpa involve ke dalam?
Persoalan akan menjadi lebih pelik bila ternyata sang hamba Tuhan-lah yang mempunyai banyak luka jiwa yang belum dibereskan sehingga alih-alih berkarakter seperti gembala, ia malah lebih berperan sebagai serigalanya. Hal ini akan menjadi kontra produktif dalam pelayanan bukan?.
Apakah semua masalah dapat diselesaikan dengan memberikan Firman Tuhan saja tanpa ada ‘prolog dan epilognya?’. Penulis berpendapat bahwa dalam ke-beragaman karakter manusia dan faktor kebebasan manusia, ada orang-orang tertentu yang cukup mendengar Firman Tuhan secara langsung dapat langsung merubah rasio dan hatinya sehingga mampu menyelesaikan masalah kehidupannya karena memang Firman itu mampu menembus dan membelah roh kita. Di pihak lain, ada kelompok manusia lain yang dengan keunikan pribadinya membutuhkan pendampingan dan pembimbingan secara pribadi atau kelompok. Bukankah anggota keluarga kandung saja dapat mempunyai karakter dan kebutuhan emosi yang berbeda, yang membutuhkan pendekatan yang berbeda pula?. Mereka-mereka inilah yang membutuhkan pendampingan ‘prolog dan epilog’, di mana pelayanan konseling mampu untuk mengisi celah ini.
Oleh karena itu marilah kita semua jangan buru-buru menghakimi karena pada dasarnya semua manusia mempunyai belief system yang mempengaruhi word view kita terhadap suatu masalah.
Sebuah contoh menarik:
Martin Luther pernah mengalami depresi. Keadaan ini dibahas bertahun-tahun oleh para ahli untuk mencari jawaban mengapa Luther bisa depresi. Ada beberapa jawaban yang berbeda-beda:
Kondisi emosi Luther sangat berat dan mencekam.
Sejarah hidup Luther penuh dengan trauma.
Luther bekerja terlalu keras, kurang istirahat dan tanggung jawab yang besar.
Karena serangan iblis.
Perbedaan jawaban ini karena memang manusia mempunyai word view yang berbeda karena berbagai sebab misal pendidikan, culture, pengalaman dll.
Ada orang yang punya pengalaman kenal dengan seorang hamba Tuhan yang emosional dan meminta dihormati agak berlebihan (dari world viewnya), ternyata hal ini dikarenakan perbedaan culture. Si hamba Tuhan berasal dari daerah yang menganggap seorang hamba Tuhan seperti ‘1/2 dewa’ sehingga di daerah asalnya dia sangat dihormati secara tidak pada porsinya. Secara tidak sadar hal ini sudah mendarah daging dalam dirinya sehingga ketika dia berada dalam lingkungan culture yang berbeda terjadi benturan.
Pro Kontra Pelayanan Konseling
Dalam realita, bidang psikologi dan konseling mendapat banyak hambatan dan tantangan dari berbagai pihak termasuk dari kalangan gereja sendiri. Ada yang curiga psikologi hendak mengambil-alih peran Firman Allah dll.
Bagi penulis ada beberapa hal yang harus dimengerti dalam menyikapi pro dan kontra pelayanan konseling, yaitu:
Kitab Yesaya sendiri menyebut Kristus sebagai Great Counsellor.
Pdt. Yakub Susabda dalam National Conference and Healing Conference 1 berkata bahwa konseling adalah talenta (bagi kristen dan non-kristen) dan spiritual gift khusus bagi iman kristen. Karunia untuk memberikan nasehat ada dalam 1 Kor 12:7-11; Roma 12 dan Efesus 4 memuat daftar karunia rohani, walau tidak lengkap, yang mencantumkan karunia konseling. Bukankah tujuan hidup orang percaya adalah menjadi serupa dengan Kristus?. Dalam konteks pembangunan tubuh Kristus, maka semua kegiatan gerejawi seperti kotbah, PD, PA, pembesukan dll adalah sarana dalam pembangunan tubuh Kristus. Jika demikian, mengapa kita mencurigai pastoral konseling hendak memainkan role ‘playing God?’.
Harus di akui memang ada perbedaan mendasar antara psikologi dan konseling duniawi dengan psikologi dan konseling kristen. Ilmu duniawi berangkat dari satu asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya baik; sedangkan ke-kristenan berangkat dari suatu kepastian bahwa semua manusia dilahirkan dalam natur berdosa. Karena perbedaan ini maka tidak semua cara dan metode duniawi diterima oleh konselor kristen. Konselor kristen mempunyai sebuah tolok ukur yang sangat jelas, yaitu Alkitab (Wahyu Khusus, hanya dianugerahkan pada orang kristen). Filsuf kristen, Arthur Holmes dalam bukunya “Semua Kebenaran Adalah Kebenaran Allah” menjelaskan bahwa Allah memberikan wahyu umum kepada semua orang, kristen dan non-kristen. Dari wahyu umum, manusiapun dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak bersifat fundamental dan tidak dapat menyelamatkan diri, misalnya ilmu Aljabar yang ditemukan oleh non-kristen.
Dari argumen di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa ilmu psikologi dan konseling, juga semua ilmu-ilmu lain serta kebenaran-kebenaran dunia harus ditundukkan dan diperiksa oleh satu-satunya sumber otoritas, yaitu Alkitab. Penulis sangat percaya Alkitab tidak menulis semua kebenaran tetapi semua prinsip-prinsip kebenaran ada di dalam Alkitab. Psikologi yang ditundukkan dalam kebenaran prinsip-prinsip Firman Tuhan dapat menjadi helping tools yang sangat berguna bagi pelayanan gereja secara umum dan secara khusus bagi jemaat yang membutuhkan.
Pandangan yang keliru dalam pelayanan konseling
Beberapa pandangan yang salah dalam pelayanan konseling:
Semua hamba Tuhan pasti mempunyai talenta dan karunia konseling. Kadang kita lupa bahwa sebenarnya skill dasar dari hamba Tuhan dan konselor bertentangan dalam arti hamba Tuhan berbicara dan konselor mendengarkan, menganalisa dan membantu konseli menyadari kesalahannya sendiri dan kemudian mengambil keputusan yang benar.
Konselor hanya memberi nasihat dan mendoakan konseli. Hal ini sering dilakukan oleh beberapa hamba Tuhan yang sebenarnya belum pernah belajar konseling tanpa mau mengerti akar dari masalahnya.
Konselor hanyalah mencoba ‘mengobati’ masalah yang hanya bersifat kesementaraan. Konselor kristen haruslah selalu mengkaitkan pelayanannya dengan tujuan kekekalan.
Konselor mengajarkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh konseli. Konselor berperan sebagai tutor dan konseli sebagai muridnya. Konseling bukan ‘menggiring domba agar MAU masuk ke kandang, melainkan menuntun domba sedemikian rupa sehingga MASUK ke kandang dengan kesadarannya sendiri’.
Dari pengalaman pribadi saya mendapati bahwa masyarakat mengangap konseling hanya untuk manusia yang ‘agak gila’. Mungkin konseling adalah hal terakhir yang dipikirkan manusia ketika menghadapi suatu masalah pribadi. Ketika istri penulis berpikir untuk membawa anak kami ke seorang psikolog karena kami menganggap anak ini terlalu introvert, teman-teman dan gurunya kok memandang dengan pandangan yang agak aneh. Hal ini diperberat dengan lingkungan gereja yang juga ‘kurang celik arti penting konseling’. Rasanya kultur kita harus mengalami transformasi terlebih dahulu.
Keunikan pastoral konseling
Ada beberapa keunikan konseling pastoral dibanding sekuler sbb:
Konseling pastoral menempatkan orang dalam relasinya dengan Allah.
Menjadikan Allah sebagai realita. Dengan menyadari bahwa Allah adalah real, suatu kesadaran yang baru telah muncul dan siap dilanjutkan dalam tahap berikutnya.
Wilayah kerja dan kompetensi konselor pastoral adalah pertumbuhan spiritual. Membantu konseli menemukan keutuhan spiritual sebagai pusat pertumbuhan manusia secara utuh dengan bahasa yang eksplist dan tidak formal.
Menggunakan sumber-sumber agamis dalam konseling. Dalam hal ini pengetahuan akan teologi dan pengalaman hidup yang diubahkan dapat menjadi tools yang sangat berguna bila digunakan tepat guna dan tepat sasaran.
Membantu orang dalam belajar untuk hidup. Kata-kata yang sangat indah bagi saya. Memang manusia tidak ada yang ahli dalam semua bidang dan mempunyai kelemahan dibanyak bidang sehingga ini adalah proses seumur hidup. Hal ini selaras dengan proses penyucian diri bersama Roh Kudus.
Membantu orang dalam pengembangan kompetensi hubungan antar-pribadi. Inilah salah satu implementasi dari mandat budaya. Komunikasi adalah hal penting yang sering menentukan hubungan antar sesama.
Fungsi konseling pastoral
Sedangkan fungsi konseling pastoral adalah:
Penyembuhan.
Untuk mengatasi kerusakan dengan menuntun dan mengembalikan fungsi dan kondisi sebelumnya.
Penopangan.
Menolong konseli untuk bertahan dan melewati kesulitannya/problemnya.
Pembimbingan.
Membantu konseli untuk menentukan pilihan di antara berbagai alternatif.
Pendamaian.
Me-rekonstruksi ulang relasi manusia dengan sesama dan Allahnya. Hal ini di mulai dari pengakuan, pengampunan dan disiplin.
Kesimpulan
Diperlukan suatu integrasi ilmu psikologi, konseling dan teologi dengan teologi sebagai ‘ratunya’ yang menjadi dasar acuannya.
Integrasi adalah sinergi antara beberapa disiplin ilmu yang berlainan tanpa menghilangkan ciri ilmu masing-masing. Beberapa disiplin ilmu yang berlainan tersebut bersifat saling melengkapi untuk memberikan suatu world view yang lebih luas sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dalam melihat suatu fenomena.
Menurut penulis, Teologi adalah dasar atau jangkar yang paling esensial dalam memahami diri sendiri, orang lain dan Tuhan. Sedangkan psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pengobatan, penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan perilaku. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan hubungan antara otak dan perilaku manusia sehari-hari, sedangkan konseling adalah ilmu yang berkaitan dengan kesehatan mental. Penulis percaya, Teologi memberikan ‘rambu-rambu’ dan batasan-batasan dalam penggalian dan penerapan ilmu psikologi dan psikiatri misalnya dalam hal etika. Tanpa dasar Teologi yang benar dan kokoh, seseorang yang belajar psikologi dan psikiatri dapat tergelincir dalam pemikiran yang antroposentris dan menomor-duakan Tuhan.
Integrasi diperlukan dengan Teologi sebagai dasarnya. Memang psikologi dan psikiatri dapat memberikan pencerahan tentang perilaku manusia, tetapi kita harus ingat bahwa inilah bagian dari wahyu umum yang diberikan Allah kepada semua umat manusia tanpa terkecuali. Kita harus akan ingat prinsip bahwa wahyu umum haruslah diperiksa dalam terang wahyu khusus (Alkitab). Jadi bagian-bagian ilmu yang bertentangan dengan Firman Tuhan harus kita copot berdasarkan iluminasi dari Roh Kudus. Saya rasa hal ini bisa menjadi relatif karena perbedaan dasar pemahaman doktrin (Teologi) seorang dengan lainnya. Jadi Teologi menentukan dasar, alasan bahkan batasan integrasi-nya dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya termasuk psikologi dan integrasi yang sehat didasarkan atas pandangan teologi yang sehat pula.
Sudah sepantasnya sebuah gereja mempunyai paling tidak seorang konselor, idealnya seorang konselor yang belajar di seminari (misal M.K.). Pada nyatanya, sedikit sekali kesadaran akan hal ini di kalangan gereja.
*) Ditulis oleh Hendra, sebagai refleksi seorang awam pembelajar Alkitab dan pembelajar konseling, sekaligus sebagai tugas akhir semester 1 program KKJJ di IKPT. Tulisan ini jauh dari sempurna bahkan mungkin ada kesalahan-kesalahan yang semoga tidak fatal, karenanya masukan dari saudara dinantikan.
**) Tulisan ini sebenarnya satu bagian integral dari satu topik Pelayanan Gereja Masa Kini. Bagian lain adalah refleksi penulis terhadap peran Kepemimpinan dalam Gereja (belum selesai).
Bibliografi
Dasar-dasar Teori dan Praktek Konseling, sebuah diktat pembelajaran konseling jarak jauh oleh IKPT (Institute konseling & parenting terapan) oleh Pdt. Julianto Simanjuntak dkk.
Pastoral Konseling jilid 1 & 2 oleh Pdt. Yakub Susabda
Perlengkapan Seorang Konselor, Pdt. Julianto Simanjuntak
Kotbah Chinese Philosophy, Pdt. Stephen Tong
Psikologi Yang Sebenarnya, W. Stanley Heath
Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, Arthur F. Holmes
Masa Penuh Kesempatan, Paul David Tripp
Konseling Krisis & Terapi Singkat, Pdt. Hadi P. Saharjo
Konseling Yang Efektif & Alkitabiah, Larry Crabb
Pengantar Konseling Alkitabiah, John Mac Arthur JR & Wayne A. Mack
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20)
Injil Matius yang dimulai dengan catatan silsilah Yesus Kristus, ditutup dengan kalimat perintah yang agung seperti tertulis di atas. Secara umum, gereja yang berpegang pada doktrin Reformed mengimplementasikan AA (Amanat Agung) sebagai mandat penginjilan dan mandat budaya.
Amanat Agung memerintahkan kepada kita semua untuk memuridkan-mandat penginjilan (menjadikan semua suku bangsa murid Kristus). Kata kerja lain (pergi, baptis dan mengajar) menjelaskan bagaimana memuridkan itu dilaksanakan. Dengan demikian pemuridan mempunyai arti membawa seluruh pribadi dengan seluruh aspek hidupnya temasuk aktifitas sosial, seni dan intelektual kepada kehendak Allah-mandat budaya (Holmes, hal. 46-47).
Jadi Kristus menghendaki semua anak Tuhan untuk memahami dan melaksanakan mandat penginjilan dan mandat budaya AA berdasarkan kuasaNya.
Di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, terutama dalam zaman post-modern sekarang ini, gereja dituntut untuk memancarkan sinar kemuliaan Kristus dengan melaksanakan tugas mandat penginjilan dan mandat budaya secara proporsional secara bersama-sama. Sudah bukan waktunya lagi sebuah gereja hanya berkonsentrasi melaksanakan hanya salah satu mandat dalam AA.
Bagaimana melakukan mandat penginjilan rasanya sudah umum dilakukan oleh berbagai gereja; bagaimana melakukan mandat budaya juga sudah mulai banyak digali terutama oleh gereja Reformed dan Injili. Walaupun demikian, ada sebuah hal yang rasanya luput dari perhatian kita yaitu kalimat terakhir Matius 28:20 ‘Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’. Sebuah kalimat yang sangat indah dan menguatkan hati dan rasio karena Kristus sendirilah yang memberikan jaminan penyertaan seumur hidup kepada anak-anakNya. Pdt. Julianto Simanjuntak dengan lugas menterjemahkan kalimat di atas sebagai ‘sebuah ladang pelayanan konseling dalam AA’. Mengapa? Karena jaminan seumur hidup bagi kita telah diberikan sejak detik kita menerima anugerah keselamatan, hanya masalahnya Kristus sendiri sudah meninggalkan dunia fana dan bertahta di sorga. Jadi sudah menjadi tugas kita dengan kekuatan dari Roh Kudus untuk melaksanakan ‘mandat konseling’ bagi saudara-saudara kita. Tugas seorang konselor adalah seperti sebuah bengkel yang memperbaiki motor/mobil yang bermasalah kapanpun juga karena jaminan yang diberikan oleh Kristus kepada umatNya adalah jaminan seumur hidup. Jaminan ini adalah jaminan yang kekal bukan sekedar jaminan manusia atau institusi yang tidak bernilai kekal.
Berdasarkan tulisan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pelayanan konseling adalah bagian integral dari mandat budaya yang bahkan mendapatkan penekanan khusus dalam pelaksanaannya pada masa-masa ini.
Konseling
“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” (Ams 20:5)
Bahasa asli ‘rancangan’ adalah tebuna, yang artinya sesuatu yang sangat rahasia, yang terkadang ada dalam alam tak sadar.
Orang tidak menyadarinya, namun melalui percakapan konseling hal itu dapat muncul di alam sadar (Pdt. Yakub Susabda)
Penulis percaya Allah menyingkapkan maksudNya pada waktuNya dan percaya bahwa waktu-waktu sekarang adalah masa-masa yang penuh kesempatan bagi perkembangan pelayanan konseling karena sepanjang sejarah belum pernah manusia mengalami hidup yang sedemikian rusak dan menyedihkan seperti hari ini.
Pentingnya pelayanan konseling dicetuskan oleh seorang pendeta yang bernama Anton Boisen. Kisah hidup Boisen yang selama belasan tahun mengidap skizofrenia menjadi pencetus kesadaran gereja akan pentingnya pelayanan konseling. Setelah sembuh, Boisen mengkritisi gereja dengan mengatakan: Jika orang kristen patah kaki, semua rumah sakit dapat mengobatinya, bahkan dengan biaya gereja. Lain halnya bila orang kristen mengalami ‘patah/sakit hati’, maka dia akan dikirim ke rumah sakit jiwa dan dilupakan untuk selamanya.
Dalam realita kehidupan, bukankah seperti yang pernah dikatakan John Calvin bahwa gereja adalah sekumpulan orang lemah, yang dipimpin oleh orang yang lemah pula. Bukankah perkataan ini mencerminkan kebenaran doktrin yang paling fundamental dari kekristenan?. Di hadapan Allah, kita semua adalah manusia berdosa yang hanya karena anugerah-Nya mendapatkan keselamatan dan setelah natur dosa kita dipulihkan, kita masih dapat (dan pasti) berbuat dosa sehingga proses penyucian harus kita jalani bersama Roh Kudus seumur hidup kita. Bukankah bertolak dari kebenaran doktrin ini kita dapat melihat signifikansi pelayanan konseling?. Begitu banyak orang kristen yang bergumul dengan dosa dan problem kehidupan di tengah gencetan dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Bagi orang-orang kristen yang kita sebut sebagai saudara seiman, yang mengalami badai kehidupan, siapkah kita ber-empati dan menyingsingkan lengan baju?
Agar mendapatkan pandangan yang lebih jelas, pertama kita harus memahami perbedaan antara psikologi, psikiatri dan konseling. Menurut Pdt. Dr. Dwijo Saputro, psikologi adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang menyangkut perilaku dan otak. Ilmu psikologi yang berhubungan dengan konseling adalah yang berhubungan dengan kesehatan mental, di mana dipelajari dasar-dasar bagaimana seseorang berperilaku, berpikir, memiliki emosi, mampu berelasi, berkembang dan memecahkan masalah yang ia hadapi sehari-hari.
Ilmu psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pengobatan, penyembuhan, gangguan masalah, penyakit yang berkaitan dengan perilaku yang berkaitan dengan otak.
Hal ini perlu dipahami karena banyak orang mencampur-adukkan istilah-istilah di atas sehingga menimbulkan kerancuan. Jadi memang ilmu konseling tidak dapat terlepas dari ilmu psikologi. Dalam melakukan pelayanan konseling di gereja, seorang konselor haruslah mengintegrasikan semua ilmu psikologi dan konselingnya dengan teologi. Hal ini bukan berarti menjadi teologi plus karena teologi dengan Alkitab sebagai kebenaran yang sejatilah yang menjadi filter dari ilmu psikologi.
Ada banyak sekali kisah-kisah nyata yang sangat memalukan dan memilukan yang dialami dan dilakukan oleh orang kristen, bahkan para hamba Tuhan. Selain pengalaman pribadi ber-relasi dengan hamba Tuhan, melalui milis konseling, penulis mendapat informasi bahwa banyak sekali hamba Tuhan yang hidupnya rusak, yang bergelut dengan dosa-dosa, ingin lepas tapi gagal terus dll. Sering kita lupa bahwa para pemimpin, hamba Tuhan juga adalah manusia berdosa seperti diri kita di mana merekapun hidup dalam dunia yang up-side-down, sehingga setiap manusia pasti mempunyai luka-luka jiwa yang harus disembuhkan terlebih dahulu sehingga mereka dapat melayani jemaat dengan jauh lebih baik.
Siapakah yang membutuhkan konselor?
Terus terang, selama beberapa bulan terakhir ini penulis bergumul dengan beberapa pertanyaan: Sejauh mana kehendak bebas orang percaya dikaitkan dengan pandangan doktrin Calvinis, mengapa antar orang percaya, yang mempunyai Roh yang sama pada prakteknya sering terjadi pertengkaran?, apakah segala sesuatu yang kita lakukan baik dan buruk sudah ditentukan oleh Allah berdasar Rom 8:28?. Puji Tuhan setelah beberapa kali ‘konseling’ dengan beberapa teman yang hamba Tuhan dan aktivis, penulis akhirnya mendapatkan pencerahan. Contoh ini adalah sebuah masalah yang berakhir happy ending. Pertanyaan berikutnya: bila seorang jemaat menghadapi masalah kehidupan praktis yang lebih berat, ke mana mereka akan bertanya? Beranikah mereka bertanya ke hamba Tuhan, apakah hamba Tuhannya siap, mau dan mampu memberikan pembimbingan atau hanya memberikan ayat dan mendoakannya tanpa involve ke dalam?
Persoalan akan menjadi lebih pelik bila ternyata sang hamba Tuhan-lah yang mempunyai banyak luka jiwa yang belum dibereskan sehingga alih-alih berkarakter seperti gembala, ia malah lebih berperan sebagai serigalanya. Hal ini akan menjadi kontra produktif dalam pelayanan bukan?.
Apakah semua masalah dapat diselesaikan dengan memberikan Firman Tuhan saja tanpa ada ‘prolog dan epilognya?’. Penulis berpendapat bahwa dalam ke-beragaman karakter manusia dan faktor kebebasan manusia, ada orang-orang tertentu yang cukup mendengar Firman Tuhan secara langsung dapat langsung merubah rasio dan hatinya sehingga mampu menyelesaikan masalah kehidupannya karena memang Firman itu mampu menembus dan membelah roh kita. Di pihak lain, ada kelompok manusia lain yang dengan keunikan pribadinya membutuhkan pendampingan dan pembimbingan secara pribadi atau kelompok. Bukankah anggota keluarga kandung saja dapat mempunyai karakter dan kebutuhan emosi yang berbeda, yang membutuhkan pendekatan yang berbeda pula?. Mereka-mereka inilah yang membutuhkan pendampingan ‘prolog dan epilog’, di mana pelayanan konseling mampu untuk mengisi celah ini.
Oleh karena itu marilah kita semua jangan buru-buru menghakimi karena pada dasarnya semua manusia mempunyai belief system yang mempengaruhi word view kita terhadap suatu masalah.
Sebuah contoh menarik:
Martin Luther pernah mengalami depresi. Keadaan ini dibahas bertahun-tahun oleh para ahli untuk mencari jawaban mengapa Luther bisa depresi. Ada beberapa jawaban yang berbeda-beda:
Kondisi emosi Luther sangat berat dan mencekam.
Sejarah hidup Luther penuh dengan trauma.
Luther bekerja terlalu keras, kurang istirahat dan tanggung jawab yang besar.
Karena serangan iblis.
Perbedaan jawaban ini karena memang manusia mempunyai word view yang berbeda karena berbagai sebab misal pendidikan, culture, pengalaman dll.
Ada orang yang punya pengalaman kenal dengan seorang hamba Tuhan yang emosional dan meminta dihormati agak berlebihan (dari world viewnya), ternyata hal ini dikarenakan perbedaan culture. Si hamba Tuhan berasal dari daerah yang menganggap seorang hamba Tuhan seperti ‘1/2 dewa’ sehingga di daerah asalnya dia sangat dihormati secara tidak pada porsinya. Secara tidak sadar hal ini sudah mendarah daging dalam dirinya sehingga ketika dia berada dalam lingkungan culture yang berbeda terjadi benturan.
Pro Kontra Pelayanan Konseling
Dalam realita, bidang psikologi dan konseling mendapat banyak hambatan dan tantangan dari berbagai pihak termasuk dari kalangan gereja sendiri. Ada yang curiga psikologi hendak mengambil-alih peran Firman Allah dll.
Bagi penulis ada beberapa hal yang harus dimengerti dalam menyikapi pro dan kontra pelayanan konseling, yaitu:
Kitab Yesaya sendiri menyebut Kristus sebagai Great Counsellor.
Pdt. Yakub Susabda dalam National Conference and Healing Conference 1 berkata bahwa konseling adalah talenta (bagi kristen dan non-kristen) dan spiritual gift khusus bagi iman kristen. Karunia untuk memberikan nasehat ada dalam 1 Kor 12:7-11; Roma 12 dan Efesus 4 memuat daftar karunia rohani, walau tidak lengkap, yang mencantumkan karunia konseling. Bukankah tujuan hidup orang percaya adalah menjadi serupa dengan Kristus?. Dalam konteks pembangunan tubuh Kristus, maka semua kegiatan gerejawi seperti kotbah, PD, PA, pembesukan dll adalah sarana dalam pembangunan tubuh Kristus. Jika demikian, mengapa kita mencurigai pastoral konseling hendak memainkan role ‘playing God?’.
Harus di akui memang ada perbedaan mendasar antara psikologi dan konseling duniawi dengan psikologi dan konseling kristen. Ilmu duniawi berangkat dari satu asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya baik; sedangkan ke-kristenan berangkat dari suatu kepastian bahwa semua manusia dilahirkan dalam natur berdosa. Karena perbedaan ini maka tidak semua cara dan metode duniawi diterima oleh konselor kristen. Konselor kristen mempunyai sebuah tolok ukur yang sangat jelas, yaitu Alkitab (Wahyu Khusus, hanya dianugerahkan pada orang kristen). Filsuf kristen, Arthur Holmes dalam bukunya “Semua Kebenaran Adalah Kebenaran Allah” menjelaskan bahwa Allah memberikan wahyu umum kepada semua orang, kristen dan non-kristen. Dari wahyu umum, manusiapun dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak bersifat fundamental dan tidak dapat menyelamatkan diri, misalnya ilmu Aljabar yang ditemukan oleh non-kristen.
Dari argumen di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa ilmu psikologi dan konseling, juga semua ilmu-ilmu lain serta kebenaran-kebenaran dunia harus ditundukkan dan diperiksa oleh satu-satunya sumber otoritas, yaitu Alkitab. Penulis sangat percaya Alkitab tidak menulis semua kebenaran tetapi semua prinsip-prinsip kebenaran ada di dalam Alkitab. Psikologi yang ditundukkan dalam kebenaran prinsip-prinsip Firman Tuhan dapat menjadi helping tools yang sangat berguna bagi pelayanan gereja secara umum dan secara khusus bagi jemaat yang membutuhkan.
Pandangan yang keliru dalam pelayanan konseling
Beberapa pandangan yang salah dalam pelayanan konseling:
Semua hamba Tuhan pasti mempunyai talenta dan karunia konseling. Kadang kita lupa bahwa sebenarnya skill dasar dari hamba Tuhan dan konselor bertentangan dalam arti hamba Tuhan berbicara dan konselor mendengarkan, menganalisa dan membantu konseli menyadari kesalahannya sendiri dan kemudian mengambil keputusan yang benar.
Konselor hanya memberi nasihat dan mendoakan konseli. Hal ini sering dilakukan oleh beberapa hamba Tuhan yang sebenarnya belum pernah belajar konseling tanpa mau mengerti akar dari masalahnya.
Konselor hanyalah mencoba ‘mengobati’ masalah yang hanya bersifat kesementaraan. Konselor kristen haruslah selalu mengkaitkan pelayanannya dengan tujuan kekekalan.
Konselor mengajarkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh konseli. Konselor berperan sebagai tutor dan konseli sebagai muridnya. Konseling bukan ‘menggiring domba agar MAU masuk ke kandang, melainkan menuntun domba sedemikian rupa sehingga MASUK ke kandang dengan kesadarannya sendiri’.
Dari pengalaman pribadi saya mendapati bahwa masyarakat mengangap konseling hanya untuk manusia yang ‘agak gila’. Mungkin konseling adalah hal terakhir yang dipikirkan manusia ketika menghadapi suatu masalah pribadi. Ketika istri penulis berpikir untuk membawa anak kami ke seorang psikolog karena kami menganggap anak ini terlalu introvert, teman-teman dan gurunya kok memandang dengan pandangan yang agak aneh. Hal ini diperberat dengan lingkungan gereja yang juga ‘kurang celik arti penting konseling’. Rasanya kultur kita harus mengalami transformasi terlebih dahulu.
Keunikan pastoral konseling
Ada beberapa keunikan konseling pastoral dibanding sekuler sbb:
Konseling pastoral menempatkan orang dalam relasinya dengan Allah.
Menjadikan Allah sebagai realita. Dengan menyadari bahwa Allah adalah real, suatu kesadaran yang baru telah muncul dan siap dilanjutkan dalam tahap berikutnya.
Wilayah kerja dan kompetensi konselor pastoral adalah pertumbuhan spiritual. Membantu konseli menemukan keutuhan spiritual sebagai pusat pertumbuhan manusia secara utuh dengan bahasa yang eksplist dan tidak formal.
Menggunakan sumber-sumber agamis dalam konseling. Dalam hal ini pengetahuan akan teologi dan pengalaman hidup yang diubahkan dapat menjadi tools yang sangat berguna bila digunakan tepat guna dan tepat sasaran.
Membantu orang dalam belajar untuk hidup. Kata-kata yang sangat indah bagi saya. Memang manusia tidak ada yang ahli dalam semua bidang dan mempunyai kelemahan dibanyak bidang sehingga ini adalah proses seumur hidup. Hal ini selaras dengan proses penyucian diri bersama Roh Kudus.
Membantu orang dalam pengembangan kompetensi hubungan antar-pribadi. Inilah salah satu implementasi dari mandat budaya. Komunikasi adalah hal penting yang sering menentukan hubungan antar sesama.
Fungsi konseling pastoral
Sedangkan fungsi konseling pastoral adalah:
Penyembuhan.
Untuk mengatasi kerusakan dengan menuntun dan mengembalikan fungsi dan kondisi sebelumnya.
Penopangan.
Menolong konseli untuk bertahan dan melewati kesulitannya/problemnya.
Pembimbingan.
Membantu konseli untuk menentukan pilihan di antara berbagai alternatif.
Pendamaian.
Me-rekonstruksi ulang relasi manusia dengan sesama dan Allahnya. Hal ini di mulai dari pengakuan, pengampunan dan disiplin.
Kesimpulan
Diperlukan suatu integrasi ilmu psikologi, konseling dan teologi dengan teologi sebagai ‘ratunya’ yang menjadi dasar acuannya.
Integrasi adalah sinergi antara beberapa disiplin ilmu yang berlainan tanpa menghilangkan ciri ilmu masing-masing. Beberapa disiplin ilmu yang berlainan tersebut bersifat saling melengkapi untuk memberikan suatu world view yang lebih luas sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dalam melihat suatu fenomena.
Menurut penulis, Teologi adalah dasar atau jangkar yang paling esensial dalam memahami diri sendiri, orang lain dan Tuhan. Sedangkan psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pengobatan, penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan perilaku. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan hubungan antara otak dan perilaku manusia sehari-hari, sedangkan konseling adalah ilmu yang berkaitan dengan kesehatan mental. Penulis percaya, Teologi memberikan ‘rambu-rambu’ dan batasan-batasan dalam penggalian dan penerapan ilmu psikologi dan psikiatri misalnya dalam hal etika. Tanpa dasar Teologi yang benar dan kokoh, seseorang yang belajar psikologi dan psikiatri dapat tergelincir dalam pemikiran yang antroposentris dan menomor-duakan Tuhan.
Integrasi diperlukan dengan Teologi sebagai dasarnya. Memang psikologi dan psikiatri dapat memberikan pencerahan tentang perilaku manusia, tetapi kita harus ingat bahwa inilah bagian dari wahyu umum yang diberikan Allah kepada semua umat manusia tanpa terkecuali. Kita harus akan ingat prinsip bahwa wahyu umum haruslah diperiksa dalam terang wahyu khusus (Alkitab). Jadi bagian-bagian ilmu yang bertentangan dengan Firman Tuhan harus kita copot berdasarkan iluminasi dari Roh Kudus. Saya rasa hal ini bisa menjadi relatif karena perbedaan dasar pemahaman doktrin (Teologi) seorang dengan lainnya. Jadi Teologi menentukan dasar, alasan bahkan batasan integrasi-nya dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya termasuk psikologi dan integrasi yang sehat didasarkan atas pandangan teologi yang sehat pula.
Sudah sepantasnya sebuah gereja mempunyai paling tidak seorang konselor, idealnya seorang konselor yang belajar di seminari (misal M.K.). Pada nyatanya, sedikit sekali kesadaran akan hal ini di kalangan gereja.
*) Ditulis oleh Hendra, sebagai refleksi seorang awam pembelajar Alkitab dan pembelajar konseling, sekaligus sebagai tugas akhir semester 1 program KKJJ di IKPT. Tulisan ini jauh dari sempurna bahkan mungkin ada kesalahan-kesalahan yang semoga tidak fatal, karenanya masukan dari saudara dinantikan.
**) Tulisan ini sebenarnya satu bagian integral dari satu topik Pelayanan Gereja Masa Kini. Bagian lain adalah refleksi penulis terhadap peran Kepemimpinan dalam Gereja (belum selesai).
Bibliografi
Dasar-dasar Teori dan Praktek Konseling, sebuah diktat pembelajaran konseling jarak jauh oleh IKPT (Institute konseling & parenting terapan) oleh Pdt. Julianto Simanjuntak dkk.
Pastoral Konseling jilid 1 & 2 oleh Pdt. Yakub Susabda
Perlengkapan Seorang Konselor, Pdt. Julianto Simanjuntak
Kotbah Chinese Philosophy, Pdt. Stephen Tong
Psikologi Yang Sebenarnya, W. Stanley Heath
Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, Arthur F. Holmes
Masa Penuh Kesempatan, Paul David Tripp
Konseling Krisis & Terapi Singkat, Pdt. Hadi P. Saharjo
Konseling Yang Efektif & Alkitabiah, Larry Crabb
Pengantar Konseling Alkitabiah, John Mac Arthur JR & Wayne A. Mack
Friday, June 1, 2007
Reverend, Can I Study Abroad? (3)
Dalam beberapa minggu terakhir sebenarnya ada banyak sekali kejadian yang mengganggu pikiran dan hati saya. Berikut beberapa di antaranya:
Beberapa hari yang lalu saya mendapat telpon dari ibu saya. Dia meminta saya untuk mengkopikan beberapa VCD kotbah, yang menurutnya sangat bagus. Ternyata sang pengkotbah adalah seorang kristen yang nota bene adalah anak seorang majelis sebuah gereja ‘tradisional’ yang kemudian menjadi pemimpin sebuah kelenteng di Jakarta dan setelah 25 tahun kemudian bertobat dan sekarang menjadi seorang hamba Tuhan. Ibu saya sendiri lahir bukan dari keluarga kristen dan menerima anugerah keselamatan kira-kira 20 tahun yang lalu. Selama ini dia beribadah di sebuah gereja’ tradisional’ dan sempat menjabat sebagai majelis dalam beberapa periode. Setelah melihat VCD-nya saya jadi ingat bahwa VCD yang sama pernah dipinjamkan kepada saya oleh seorang pemuda di gereja tempat saya beribadah, beberapa bulan yang lalu. Didorong rasa penasaran, saya melihat dan mendengarkan kotbahnya. Ternyata memang tidak jauh dari perkiraan saya sebelumnya: pemaparan doktrinnya cukup ‘kacau’ dan mencomoti ayat-ayat bukan untuk didalami dan dipaparkan maksudnya, melainkan ayat-ayat tsb digunakan untuk mendukung apa yang dia katakan. Yang lebih ngeri adalah dia berkata: manusia yang tidak melakukan semua perintah Alkitab tempatnya di neraka. Wah...wah... keras sekali dan ngawur doktrinnya karena kita diselamatkan semata-mata anugerah dan bukannya atas jasa perbuatan kita. Perjanjian kerja semasa PL telah terbukti gagal ditaati manusia dan bahkan seorang Paulus-pun mempunyai kelemahan, seorang Petrus juga punya kekurangan. Jadi siapakah kita selain manusia berdosa pengejar kenikmatan hidup?. Berpikir flash back, saya juga pernah mengalami suatu masa yang penuh keraguan tentang keselamatan pribadi karena mendengar kotbah-kotbah semacam itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, kegiatan rohani di kota kami yang kecil sungguh booming. Secara latar belakang, kota kami adalah kota yang sangat terkenal dengan ‘kehijauannya’ dan seumur hidup saya, belum pernah terjadi ‘KKR dalam skala besar’ terjadi secara berurutan apalagi sampai empat kali. KKR yang pertama (kalo ndak salah ingat 2 bulan yang lalu) dibawakan oleh seorang hamba Tuhan dari Jakarta yang biasa mengisi acara di TV swasta dan suka sekali mengakhiri setiap kalimatnya dengan Haleluya. Selain acara KKR juga ada acara seminar tentang rumah tangga dengan membayar @ Rp. 50.000. Singkat cerita, ‘nama besar’ sang hamba Tuhan rupanya menjadi magnet bagi orang kristen dan bahkan katolik untuk hadir. Acara kedua adalah seminar tentang akhir jaman yang diadakan sebuah gereja. Tidak seperti biasanya, acara ini diselenggarakan selama beberapa hari pada pagi sampai siang hari yang tentunya sangat panas. Melihat dari jumlah mobil dan motor yang diparkir, rasanya secara kuantitas: sukses. Acara yang ketiga akan berlangung beberapa hari lagi, yaitu KKR kesembuhan yang akan dilayani oleh seorang hamba Tuhan dari Semarang (yang saya singgung pada tulisan ‘Reverend,... 1 dan 2). Satu hal: persiapan KKR ini bagus sekali karena dari akhir bulan lalu, posternya sudah terpasang di beberapa tempat umum. Acara yang ke-empat dilakukan oleh gereja katolik selang satu hari setelah acara ke-tiga!!. Saya bisa melihat bahwa rasanya persiapan untuk acara katolik ini terburu-buru dan reaktif. Kenapa? Karena selebaran yang ditempel kecil, tidak menarik dan black & white, yang kontras dengan poster besar yang full color dengan kalimat-kalimat bombastis yang secara ilmu marketing: excellent.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata bahwa pada krisis ekonomi 97-98, gereja-gereja di Jakarta mendadak menjadi penuh. Saya pikir beberapa orang disadarkan dan mencari kehendak Tuhan, beberapa lainnya mencari berkat dari Tuhan dan beberapa lainnya ‘memaksa’ Tuhan untuk memberikan berkat tanpa perduli pada Tuhan-nya. Dalam konteks KKR beruntun di kota saya, mungkin sekali fenomena 97-98 terjadi lagi karena kehidupan ekonomi sulit dan sulit. Bila pemikiran saya ada benarnya, maka masalahnya apa peran saya dan saudara dalam hal ini? Apa peran gereja-gereja Injili dalam menyikapi hal ini?. Bukankah ini adalah sebuah peluang bagus untuk melakukan penginjilan dan kesempatan untuk melakukan pengajaran doktrin yang sehat.
Kemarin malam, mertua saya dan seorang karyawan saya berkomentar bahwa membaca koran (kompas lho, bukan pos kota) sekarang ini kok penuh dengan hal-hal yang mengerikan. Saya berpikir sebenarnya sih kejadian-kejadian seperti ibu membunuh anak-anaknya, anak kelas tiga SD (SD kristen lho!!) menganiaya temannya sampai meninggal, majikan menganiaya pembantu sampai mati dsb sebenarnya di satu sisi sangat mengagetkan dan mengganggu pikiran dan hati saya, tetapi di sisi lain sebenarnya ketika hal ini direnungkan lebih dalam menjadi tidak mengagetkan sama sekali. Mengapa? Karena memang Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa di hari-hari terakhir akan terjadi hal-hal yang ‘mengerikan’ sehingga saya percaya saat ini kita memang hidup di jaman narcis di mana akal sehat sudah mati dan hati manusia telah menjadi sebuah monumen, sebuah fosil. Hal ini bukan terjadi hanya bagi orang non-kristen karena pada kenyataannya di dalam gerejapun terjadi hal yang sama. Saudara, dengan jujur saya katakan bahwa hal inipun terjadi pada diri pribadi saya. Melihat dan mendengar hal-hal ‘mengerikan’ memang mengganggu pikiran dan hati saya sehingga saya menulis ini, tetapi jujur belum pernah saya berbelas kasih sampai menangisi mereka, belum pernah saya menempatkan kaki saya dalam sepatu mereka yang sempit (kalo punya sepatu). Rasanya hanya sekali ketika tahun lalu saya masuk ke pedalaman Kalimantan dan hidup seperti mereka hidup selama beberapa hari. Kita hidup di mana rasio dan kebebasan telah menjadi ‘ilah’ sehingga akhirnya kebebasan tak terkendali akhirnya justru menjadi penjara bagi diri sendiri. Bukankah seorang yang mengandalkan rasio akan ‘kolaps’ ketika semua rasionya berlawanan dengan kenyataan hidup yang di alami?. Kita hidup dalam masa post-modern di mana standar moral adalah sekedar tidak saling ‘bergesekan’ satu sama lain sehingga sebuah nasehat tulus dan niat yang tulus akan dianggap sebagai serangan pada pribadi dan mengusik comfort zone. Kita hidup dalam masa di mana dibutuhkan banyak sekali pundak untuk menangis, telinga untuk mendengar, mulut untuk menghibur dan tangan untuk menolong. Saya percaya belum pernah konseling dibutuhkan lebih dari hari-hari ini dan belum pernah gereja (Kristus) dibutuhkan lebih dari saat ini. Pertanyaannya: siapkah, maukah kita berubah dan bayar harganya?
Hendra, 260507
Beberapa hari yang lalu saya mendapat telpon dari ibu saya. Dia meminta saya untuk mengkopikan beberapa VCD kotbah, yang menurutnya sangat bagus. Ternyata sang pengkotbah adalah seorang kristen yang nota bene adalah anak seorang majelis sebuah gereja ‘tradisional’ yang kemudian menjadi pemimpin sebuah kelenteng di Jakarta dan setelah 25 tahun kemudian bertobat dan sekarang menjadi seorang hamba Tuhan. Ibu saya sendiri lahir bukan dari keluarga kristen dan menerima anugerah keselamatan kira-kira 20 tahun yang lalu. Selama ini dia beribadah di sebuah gereja’ tradisional’ dan sempat menjabat sebagai majelis dalam beberapa periode. Setelah melihat VCD-nya saya jadi ingat bahwa VCD yang sama pernah dipinjamkan kepada saya oleh seorang pemuda di gereja tempat saya beribadah, beberapa bulan yang lalu. Didorong rasa penasaran, saya melihat dan mendengarkan kotbahnya. Ternyata memang tidak jauh dari perkiraan saya sebelumnya: pemaparan doktrinnya cukup ‘kacau’ dan mencomoti ayat-ayat bukan untuk didalami dan dipaparkan maksudnya, melainkan ayat-ayat tsb digunakan untuk mendukung apa yang dia katakan. Yang lebih ngeri adalah dia berkata: manusia yang tidak melakukan semua perintah Alkitab tempatnya di neraka. Wah...wah... keras sekali dan ngawur doktrinnya karena kita diselamatkan semata-mata anugerah dan bukannya atas jasa perbuatan kita. Perjanjian kerja semasa PL telah terbukti gagal ditaati manusia dan bahkan seorang Paulus-pun mempunyai kelemahan, seorang Petrus juga punya kekurangan. Jadi siapakah kita selain manusia berdosa pengejar kenikmatan hidup?. Berpikir flash back, saya juga pernah mengalami suatu masa yang penuh keraguan tentang keselamatan pribadi karena mendengar kotbah-kotbah semacam itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, kegiatan rohani di kota kami yang kecil sungguh booming. Secara latar belakang, kota kami adalah kota yang sangat terkenal dengan ‘kehijauannya’ dan seumur hidup saya, belum pernah terjadi ‘KKR dalam skala besar’ terjadi secara berurutan apalagi sampai empat kali. KKR yang pertama (kalo ndak salah ingat 2 bulan yang lalu) dibawakan oleh seorang hamba Tuhan dari Jakarta yang biasa mengisi acara di TV swasta dan suka sekali mengakhiri setiap kalimatnya dengan Haleluya. Selain acara KKR juga ada acara seminar tentang rumah tangga dengan membayar @ Rp. 50.000. Singkat cerita, ‘nama besar’ sang hamba Tuhan rupanya menjadi magnet bagi orang kristen dan bahkan katolik untuk hadir. Acara kedua adalah seminar tentang akhir jaman yang diadakan sebuah gereja. Tidak seperti biasanya, acara ini diselenggarakan selama beberapa hari pada pagi sampai siang hari yang tentunya sangat panas. Melihat dari jumlah mobil dan motor yang diparkir, rasanya secara kuantitas: sukses. Acara yang ketiga akan berlangung beberapa hari lagi, yaitu KKR kesembuhan yang akan dilayani oleh seorang hamba Tuhan dari Semarang (yang saya singgung pada tulisan ‘Reverend,... 1 dan 2). Satu hal: persiapan KKR ini bagus sekali karena dari akhir bulan lalu, posternya sudah terpasang di beberapa tempat umum. Acara yang ke-empat dilakukan oleh gereja katolik selang satu hari setelah acara ke-tiga!!. Saya bisa melihat bahwa rasanya persiapan untuk acara katolik ini terburu-buru dan reaktif. Kenapa? Karena selebaran yang ditempel kecil, tidak menarik dan black & white, yang kontras dengan poster besar yang full color dengan kalimat-kalimat bombastis yang secara ilmu marketing: excellent.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata bahwa pada krisis ekonomi 97-98, gereja-gereja di Jakarta mendadak menjadi penuh. Saya pikir beberapa orang disadarkan dan mencari kehendak Tuhan, beberapa lainnya mencari berkat dari Tuhan dan beberapa lainnya ‘memaksa’ Tuhan untuk memberikan berkat tanpa perduli pada Tuhan-nya. Dalam konteks KKR beruntun di kota saya, mungkin sekali fenomena 97-98 terjadi lagi karena kehidupan ekonomi sulit dan sulit. Bila pemikiran saya ada benarnya, maka masalahnya apa peran saya dan saudara dalam hal ini? Apa peran gereja-gereja Injili dalam menyikapi hal ini?. Bukankah ini adalah sebuah peluang bagus untuk melakukan penginjilan dan kesempatan untuk melakukan pengajaran doktrin yang sehat.
Kemarin malam, mertua saya dan seorang karyawan saya berkomentar bahwa membaca koran (kompas lho, bukan pos kota) sekarang ini kok penuh dengan hal-hal yang mengerikan. Saya berpikir sebenarnya sih kejadian-kejadian seperti ibu membunuh anak-anaknya, anak kelas tiga SD (SD kristen lho!!) menganiaya temannya sampai meninggal, majikan menganiaya pembantu sampai mati dsb sebenarnya di satu sisi sangat mengagetkan dan mengganggu pikiran dan hati saya, tetapi di sisi lain sebenarnya ketika hal ini direnungkan lebih dalam menjadi tidak mengagetkan sama sekali. Mengapa? Karena memang Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa di hari-hari terakhir akan terjadi hal-hal yang ‘mengerikan’ sehingga saya percaya saat ini kita memang hidup di jaman narcis di mana akal sehat sudah mati dan hati manusia telah menjadi sebuah monumen, sebuah fosil. Hal ini bukan terjadi hanya bagi orang non-kristen karena pada kenyataannya di dalam gerejapun terjadi hal yang sama. Saudara, dengan jujur saya katakan bahwa hal inipun terjadi pada diri pribadi saya. Melihat dan mendengar hal-hal ‘mengerikan’ memang mengganggu pikiran dan hati saya sehingga saya menulis ini, tetapi jujur belum pernah saya berbelas kasih sampai menangisi mereka, belum pernah saya menempatkan kaki saya dalam sepatu mereka yang sempit (kalo punya sepatu). Rasanya hanya sekali ketika tahun lalu saya masuk ke pedalaman Kalimantan dan hidup seperti mereka hidup selama beberapa hari. Kita hidup di mana rasio dan kebebasan telah menjadi ‘ilah’ sehingga akhirnya kebebasan tak terkendali akhirnya justru menjadi penjara bagi diri sendiri. Bukankah seorang yang mengandalkan rasio akan ‘kolaps’ ketika semua rasionya berlawanan dengan kenyataan hidup yang di alami?. Kita hidup dalam masa post-modern di mana standar moral adalah sekedar tidak saling ‘bergesekan’ satu sama lain sehingga sebuah nasehat tulus dan niat yang tulus akan dianggap sebagai serangan pada pribadi dan mengusik comfort zone. Kita hidup dalam masa di mana dibutuhkan banyak sekali pundak untuk menangis, telinga untuk mendengar, mulut untuk menghibur dan tangan untuk menolong. Saya percaya belum pernah konseling dibutuhkan lebih dari hari-hari ini dan belum pernah gereja (Kristus) dibutuhkan lebih dari saat ini. Pertanyaannya: siapkah, maukah kita berubah dan bayar harganya?
Hendra, 260507
Subscribe to:
Posts (Atom)